Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Ungkapan Rasa Cinta Willdan Pada Nara


__ADS_3

Tak berapa lama Nara telah kembali ke ruang tamu dengan kondisi yang sudah wangi tidak seperti tadi telah bau bumbu dapur.


"Mas Wildan, ayo kita makan bersama sekalian mencicipi masakanku hehehe.." ajak Nara seraya terkekeh.


Tanpa ada rasa sungkan, Wildan pun bangkit dari duduknya mengikuti langkah kaki Bu Resy dan Nara menuju ke ruang makan untuk makan bersama.


Acara makan bersama tersebut sangat hangat, di sertai canda tawa keluarga Nara.


"Nak Wildan, bagaimana menurutmu masakan anak gadis tante?" tanya Bu Resy.


"Luar biasa tante, rasanya nikmat sekali tak kalah dengan olahan masakan yang ada di cafe-cafe ataupun di restoran-restoran yang sering aku singgahi," puji Wildan seraya melirik ke arah Nara.


Nara yang mendengar pujian dari Wildan hanya bisa tersipu malu, perlahan terlihat sangat jelas rona merah yang ada di pipinya karena rasa malunya tersebut.


tak berapa lama acara makan bersama tersebut telah selesai Wildan dan Nara kembali ke ruang tamu.


"Mas Wildan, aku minta tolong bisa nggak ya?" tanya Nara ragu.


"Katakan saja Nara tak usah sungkan, jika aku bisa menolongmu pasti akan aku bantu," ucap Wildan seraya tersenyum manis semanis gula.


"Mas, ada satu materi pelajaran di kampus yang kebetulan aku masih kurang paham. Apakah sekiranya Mas Wildan mau bantu aku menjelaskannya supaya aku lekas paham dan tidak bingung lagi?" ucap Nara ragu.


"Baiklah Nara, akan aku bantu kamu. Tetapi maukah sekiranya kita duduk di teras halaman saja supaya lebih nyaman dan rileks serta tidak gerah?" pinta Wildan.


"Baiklah Mas, aku ambil bukunya dulu. Silakan mas Wildan ke teras halaman dulu nanti aku menyusul."


Nara bangkit dari duduknya, ia melangkah masuk menuju ke kamarnya. Sementara Wildan juga ikut bangkit dari duduknya, ia melangkah ke teras halaman.


Dan pada saat ia duduk di teras halaman itulah, Tya bisa melihat dengan jelas keberadaan Wildan.

__ADS_1


"Astaga, lama sekali Wildan ada di rumah itu. Sebenarnya sedang apa ia ada di sana dan ada keperluan apa sih?" gumam Tya merasa tak suka dengan apa yang di lakukan oleh Willdan.


Tak berapa lama Nara keluar ke teras halaman dengan membawa beberapa buku dan alat tulis. Ia pun duduk di samping Willdan tanpa ada rasa sungkan.


Nara memperlihatkan beberapa materi pelajaran di kampus yang ia rasa belum paham, ia menunjukkannya pada Willdan. Sejenak Willdan membacanya dan tak lama kemudian dengan cekatan Willdan menjelaskan secara perlahan-lahan materi pelajaran tersebut kepada Nara.


Setelah beberapa kali Wildan mengulang dalam menjelaskan materi pelajaram tersebut pada Nara, hingga pada akhirnya Nara menjadi mengerti dan paham.


"Terima kasih ya mas Wildan atas bantuannya. Dengan penjelasan dari Mas Wildan barusan, aku benar-benar sudah paham dan tidak bingung lagi," ucapnya seraya menyunggingkan senyuman.


Cukup lama mereka bercengkrama di teras halaman rumah dan pada akhirnya kini Wildan akan mengungkapkan isi hatinya kepadanya karena ia tak ingin menunggu waktu lama lagi.


Terlebih dahulu Wildan menghela napas panjang pada saat ia akan mengatakan hal penting itu terhadap Nara.


"Nara, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu tolong kamu dengarkan baik-baik ya," ucapnya mulai mengontrol rasa gugupnya.


"Iya Mas Wildan katakan saja, aku akan mendengarkannya dengan seksama," ucap Nara dengan sangat yakinnya.


"Jujur aku akui, sejak saat itu hingga sampai sekarang aku telah jatuh cinta padamu."


"Aku minta maaf karena baru bisa mengatakannya sekarang karena jika aku mengatakannya pada waktu itu juga aku khawatir kamu berpikir kalau aku ini pria yang mudah jatuh cinta karena masa iya baru pertama kali bertemu langsung mengungkapkan isi hati ini."


"Makanya aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan tentang isi hatiku padamu. Hingga aku rasa malam ini waktu yang tepat untuk aku mengatakan bahwa aku cinta padamu dan maukah kamu menjadi kekasihku?"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Wildan sebenarnya hati Nara merasa sangat senang dan bersukacita. Karena tak dipungkiri jika beberapa hari ini Nara juga merasakan hal yang sama terhadap Wildan.


"Nara, jika kamu tak bisa menjawabnya sekarang aku tidak akan memaksanya. Aku akan memberikan waktu untukmu untuk berfikir tentang apa yang harus kamu jawab. Syukur sih, kamu langsung jawab sekarang juga supaya hatiku tenang dan tak gelisah," canda Willdan terkekeh.


"Nara, aku sudah siap dengan konsekuensinya. Seburuk apapun jawaban dirimu aku akan terima dengan lapang dada," ucap Wildan kembali.

__ADS_1


"Waduh jadi Mas Willdan menginginkan aku menjawab tidak baik ya," godanya terkekeh.


"Baiklah Mas Wildan, aku akan menjawabnya sekarang juga karena aku juga bukan tripikal wanita yang plin-plan atau bertele-tele. Aku tak ingin membuat Mas Wildan menjadi gelisah karena suatu jawaban yang tak kunjung keluar dari mulutku ini."


"Aku tak ingin membuat Mas Willdan makan tak enak, tidur tak nyenyak, kerja pun tak nyaman. Saat ini juga aku akan menjawab."


"Mas Wildan, aku mau menjadi kekasihmu. Karena kebetulan apa yang selama ini Mas rasakan padaku, aku juga merasakannya."


Mendengar jawaban dari Nara, hati Wildan berbunga-bunga ia pun tak sadar berjingkrak seraya mengucap rasa syukur.


"Yeeeeehhh....alhamdulillah terima kasih ya Allah." Ucapnya kegirangan hingga orang tua Nara sempat kaget dan keluar rumah.


"Sepertinya ada yang sedang bahagia? Nak Wildan habis menang undiankah?" tanya Ayah Bimo.


"Wah selamat ya Nak Wildan, undian apa itu?" tanya Bu Resy ingin tahu.


"Hhee... nggak kok Tante-om."


Willdan celingukan malu karena ia baru sadar akan tingkahnya tadi.


"Oalah...ya sudah yuk ayah kita masuk saja. Pasti ini urusan anak muda." Bu Resy menggandeng suaminya untuk melangkah masuk ke dalam rumah.


"Astaga... Nara...Aku minta maaf ya, jika tingkahku barusan sangat norak. Aku tak sadar melakukan hal itu karena aku begitu sangat bahagia." Willdan menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Nggak apa-apa kok, Mas Willdan. Asal jangan sering saja seperti itu apa lagi di muka umum," canda Nara terkekeh.


"Hhee seperti inilah aku Nara. Kadang suka lepas kontrol jika sedang berbahagia. Sekali lagi aku minta maaf ya," raut wajah Willdan berubah malu.


"Ya mas nggak apa-apa."

__ADS_1


"Oh ya, Nara. Kita kan sudah jadian lantas bagaimana jika kita bertemu di kampus, masa iya aku harus bersikap cuek pada kekasih hatiku ini?" tanya Willdan ragu.


"Ya itu terserah Mas Wildan saja. Apa nggak malu punya pacar seorang mahasiswi?" tanya Nara ragu pula.


__ADS_2