Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Tak Bisa Memendam Sendiri


__ADS_3

Saran yang diberikan oleh Andre menurut Nara ada baiknya. Tapi ia juga malu jika menanyakan tentang Tara pada orang tuanya.


"Thanks ya, Ndrew. Kamu sudah memberikan sebuah solusi yang tepat untuk hubunganku dengan Tara. Nanti akan aku pertimbangkan lagi apakah memang seharusnya aku tanyakan pada orang tuanya ataukah tidak," ucap Nara tersenyum.


"Sama-sama, sudah jangan bersedih lagi. Nanti bisa mengganggu konsentrasimu dalam belajar bukan hanya di sekolah tapi di rumah juga," ucap Andre.


"Siap, aku tahu kok. Mana saat berpikir dan mana saat melamun," ucap Nara terkekeh.


"Nara, aku suka bila melihatmu tersenyum seperti ini. Aku nggak suka jika melihatmu sedih seperti tadi. Karena entah kenapa aku ikut sedih bila melihatmu bersedih juga," batin Andre.


Tak terasa sore menjelang, dan waktunya pulang sekolah. Selama Nara berada di sekolahan yang baru, dia bersekolah dengan mengendarai motor. Ayah Bimo sengaja memberikan Nara motor matic yang baru.


Nara berusaha untuk tidak terlalu memikirkan masalah pribadinya, ia ingin fokus dengan sekolah dan usaha cemilannya.


Ia selalu saja berusaha positif thinking pada Tara, hingga ia tak bertanya-tanya apa pun pada orang tua Tara. Menurutnya itu tidaklah penting.


"Nara, kamu sudah pulang?" sapa ibunya.


"Baru saja ini, Bu. Bagaimana usaha cemilan kita hari ini, apakah ada kemajuan?" tanya Nara.


"Alhamdulillah, ada Nara. Langganan kita bertambah banyak, dan sepertinya kita juga butuh orang untuk bantu ibu. Karena ibu tidak akan sanggup jika mengurus pesanan cemilan yang begitu membludak. Apa lagi sebentar lagi hari raya Idul Fitri," ucap Bu Resy.


"Serius, Bu. Masa secepat ini sudah banyak saja pelanggannya? Alhamdulillah ya Allah, aku senang dengarnya, Bu. Bagaimana kalau karyawan kita dari tetangga di kota B saja, Bu. Kita minta mereka tinggal di sini, dan pulangnya sebulan sekali," ucap Nara memberikan saran.


"Memangnya mereka mau, Nara?" Resy begitu ragu.


"Jelas mau, Bu. Karena mereka sendiri yang pernah bilang kalsu kita buka usaha, mereka mau kerja dengan kita saja," ucap Nara meyakinkan ibunya.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti biar ibu yang telpon mereka. Karena ini pesanan luar biasa banyaknya, Nara. Ibu juga sampai kaget, dan awalnya tak percaya pada saat pelanggan kita mengatakan orderannya di tambah. Dan ia juga mengenalkan pada ibu beberapa pelanggan baru," ucap Resy.


"Bu, aku masuk dulu ya. Ingin mandi dan makan, terus belajar sejenak. Setelah itu aku akan bantu pack cemilannya."


Nara masuk ke dalam rumah menuju ke arah kamarnya.


Di dalam kamar, ia ingin sekali menelpon Tara. Akan tetapi pada saat ia menyalakan ponselnya, ada nomor baru mengirimkan sebuah notifikasi chat pesan berupa video.


"Sebenarnya siapa orang yang kirim video ya, mau aku buka khawatir video tak senonoh. Nggak dibuka aku penasaran juga," batin Nara.


Namun pada akhirnya ia membuka video tersebut. Ternyata percakapan antara Tara dan Ara serta Laura. Diam-diam Ara merekam lewat video semua percakapan itu.


"Astaga, jadi Tara telah berkhianat padaku? pantas saja ia sudah sekali di hubungi, dan alasan macam-macam. Lantas siap sih orang yang telah mengirimkan video ini, karena ini nomor ponsel baru," batin Nara.


Dia mencoba untuk bersikap tenang dan tak menahan rasa emosinya terhadap Tara.


"Apa mentang-mentang wajahnya sudah kembali tampan, hingga ia begitu cepatnya berubah?"


"Entahlah, aku tak tahu seperti apa isi hati Tara. Hanya ia saja yang tahu, mungkin selama ini ia tak tulus cinta padaku."


Nara sampai berkali-kali melihat ulang video yang dikirimkan oleh nomor ponsel yang tak ia kenal.


"Apa yang harus aku putuskan setelah melihat video ini, apakah aku harus menegur Tara atau aku harus cerita pada ibu? apa aku kirim video ini pada Tante Hety?" batin Nara semakin resah dan gelisah.


Ia pun tidak ingin bertindak ceroboh hingga pada akhirnya ia ingin menunjukkan video tersebut pada ibunya terlebih dahulu dan ingin meminta pendapatnya.


Nara mencari keberadaan ibunya dengan tak lupa membawa ponselnya tersebut. Setelah dia berada di hadapan ibunya ia pun menunjukkan video yang dikirim oleh seseorang yang tak tahu siapa.

__ADS_1


"Setelah ibu melihat video tersebut menurut ibu aku harus bagaimana ya?" tanya Nara bingung.


"Aduh ibu juga ikut bingung. Memang kalian ini kan masih terlalu muda untuk merasakan jatuh cinta, ibaratnya kalian ini sedang mengalami cinta monyet jadi belum bisa benar-benar fokus dengan satu pasangan. Aduh gimana ya ibu jadi bingung cara ngomongnya ke kamu." Ucap Bu Resy seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Halah, ibu bagaimana sih? ibu kan pernah muda dan pastinya lebih berpengalaman dariku. Seharusnya bisa memberikan solusi yang tepat untuk anak gadisnya, masa iya ibu bingung seperti ini?" ejek Nara.


"Ya memang ibu benar-benar bingung, karena setiap manusia itu mempunyai watak dan sifat yang berbeda-beda. Ibu tidak pernah mengalami hal seperti yang kamu alami ini."


"Cerita masa muda seseorang itu tidak selalu sama dengan orang lain begitu pula dengan apa yang pernah ibu rasakan dulu tidak sama seperti yang kamu alami saat ini, Nara."


"Pada saat ibu muda seumuran dirimu juga berkenalan dengan ayahmu kami juga pernah mengalami yang namanya cinta jarak jauh tapi selama itu ayahmu tidak pernah melakukan hal yang seperti Tara lakukan dia setia hanya pada ibu."


"Begini saja, sebaiknya kamu bicarakan baik-baik dengan Tara. Tapi saran ibu, jangan kamu tunjukkan video itu pada, Tara terlebih dahulu."


"Kamu pasti tahu apa yang ibu maksud dari perkataan ibu."


Setelah cukup lama bercerita dengan ibunya, Nara pun kemudian menghubungi Tara. Dan kebetulan Tara merespon panggilan telepon dari Nara.


"Hy sayang, bagaimana kabar loe? maaf ya, gwe jarang menelpon loe.. Karena sejak duduk di kelas tiga, banyak sekali tugas di sekolah."


"Hem, jadi seperti itu ya. Tara, katakan sejujurnya saja jika loe sudah mulai bosan jalani hubungan jarak jauh dengan gwe. Gwe nggak akan memaksa."


"Loe ngomong apa sih, Nara? gwe happy kok pacaran sama loe ya walaupun jarak jauh seperti ini."


Hingga pada akhirnya Nara sudah tak bisa lagi menyembunyikan video tersebut. Pada saat panggilan via video, Nara menunjukkan video itu dengan ponsel lainnya.


Tara kaget pada saat melihat itu, dia pun sejenak diam tak bisa berkata apapun.

__ADS_1


__ADS_2