
Bai Xiao membawakan makan siang untuk suaminya. Namun siapa sangka ketika dia masuk ke dalam ruang suaminya dia justru memergoki suaminya berciuman dengan wanita cantik dan sexy. Bai Xiao melangkah mendekati mereka.
"Apa yang kalian lakukan?"
Li Huan Rui segera mendorong wanita itu. Wanita itu bukannya takut saat ketahuan oleh Bai Xiao dia justru menantap Bai Xiao dengan berani.
"Istri, ini tidak seperti yang kau pikirkan..."
Bai Xiao mengangkat tangan dan meminta Li Huan Rui berhenti bicara. Dia memandang wanita itu.
"Aku tidak percaya suamiku berselingkuh dengan seorang wanita yang buruk"
"Apa? Nyonya, andalah yang buruk? Buktinya tuan menikmati bagaimana saya merayunya"
"Begitukah? Suamiku, kau menikmati rayuan buruk itu?"
"Tidak, aku...."
"Kau dengar bukan? Nona aku akan tunjukkan padamu bagaimana cara merayu yang baik"
Bai Xiao duduk di pangkuan Li Huan Rui. Pria itu terkejut, apa yang sedang dilakukan wanita ini.
"Kau perhatikan seberapa baiknya aku dapat merayu suamiku?"
Bai Xiao mengulurkan tangaya lalu mulai menciumnya. Bibirnya ********** dengan kasar dan penuh gairah. Li Huan Rui tidak bisa mengendalikan dirinya dia membalas ciuman itu. Bai Xiao menggoyangkan pinggulnya merangsang 'adik kecil' Li Huan Rui. Pria itu menjadi mengila. Wanita yang mencoba merayu Li Huan Rui tadi merasa kesal. Diapun memilih pergi.
Bai Xiao menjauhkan wajahnya dan berdiri.
"Istriku"
"Kembalilah bekerja, aku akan pulang "
Li Huan Rui menghela nafas kesal, dia menarik wanita ini kembali ke pangkuannya, setelah menyalakan api, bagaimana dia bisa bisa melepasnya begitu saja.
"Istri, bagaimana mungkin kau bisa pergi begitu saja setelah membuatku bergairah"
Li Huan Rui menguburkan kepalanya di leher Bai Xiao. Bai Xiao mendorongnya.
"Kau minta saja wanita yang tadi untuk melayanimu"
"Bagaimana mungkin? Istri, tidak ada yang sebaik dirimu"
"Benarkah? Jika tidak ada yang sebaik aku lalu kenapa kau berselingkuh denganya"
"Aku tidak pernah berselingkuh, dialah yang menciumku. Dia menekan titik akupunturku hingga aku tidak bisa mendorongnya"
"Begitukah?"
"Sungguh"
"Tapi wanita itu meninggalkan bekas di leher dan dadamu"
"Benarkah?"
Bai Xiao mencium bekas-bekas ciuman yang di tinggalkan wanita itu. Pria ini miliknya, tidak ada yang boleh memilikinya. Merasakan kelembutan bibir wanita itu membuat Li Huan Rui menjadi mengila, setiap sentuhan wanita itu berekasi pada 'adik kecilnya'.
Bai Xiao memandang Li Huan Rui. Dia dapat merasakan tatapan penuh nafsu di mata cokelat tua itu.
"Suami, apa kau menginginkanku?"
"Ya. Aku sangat menginginkanmu, Istriku"
"Tidak nyaman melakukannya disini. Aku akan menunggumu nanti malam"
Bai Xiao berdiri dan melangkah pergi tapi Li Huan Rui justru mengangkatnya.
"Istri, aku tidak bisa menunggu selama itu"
Li Huan Rui membawa Bai Xiao masuk ke dalam ruangannya.
***
Bai Xiao membuka matanya, dia merasa sangat lelah. Dia memandangi kamar asing ini lalu menoleh ke sampingnya, suaminya tidak ada, mungkin dia sudah kembali bekerja. Bai Xiao melihat pakaiannya yang sudah tidak berbentuk lagi. Bai Xiao merutuk kesal, pakaian yang baru saja dibelinya sekarang rusak, dia menyesali menggunakan pakaian itu saat datang kesini. Bagaimanapun Li Huan Rui selalu berubah menjadi buas saat sedang bercinta. Sekarang, bagaimana caranya dia keluar. Dia tidak mungkin hanya menggunakan dalaman bukan?.
Pintu terbuka, Li Huan Rui masuk ke dalam dan melihat istrinya bersandar di tempat tidur dengan dibalut selimut. Dia naik ke tempat tidur dan memeluk Istrinya. Tangannya mulai nakal dan masuk dalam selimut.
"Suamiku, aku masih lelah"
Bai Xiao menjauhkan tangan suaminya dari tubuhnya. Jika dia membiarkannya dia mungkin tidak akan bisa berjalan. Li Huan Rui mencium pipi.
"Aku mengerti"
"Suamiku, tidak bisakah kau tidak merusak pakaianku saat kita bercinta?"
"Maafkan aku, istriku. Aku akan menganti pakaian yang aku rusak. Kau tenang saja"
"Sekarang, bagaimana aku keluar? Apa aku perlu keluar hanya dengan balutan selimut"
"Tidak. Tunggu sebentar"
Li Huan Rui bangun. Dia melangkah mendekati almari dan mengambil sebuah dress.
"Ini milik mamaku, kau bisa menggunakannya"
"Benarkah ini miliki mama mertua? Bukan milik wanita simpananmu?"
"Istriku, aku tidak perlu wanita lain. Hanya kau saja cukup untukku"
"Tapi, kenapa pakaian mama mertua ada disini?"
"Karena ruangan ini sebelumnya milik mama. Mama lebih sering berada di kantor daripada di rumah"
"Cepat pakailah lalu kita pulang"
"Baiklah"
__ADS_1
Li Huan Rui masih berdiri diam.
"Kenapa kau masih disini? Aku ingin pakai pakaian. Keluarlah"
"Istri, kenapa kau begitu malu. Aku sudah melihat setiap tubuhmu "
"Cepat keluar"
Bai Xiao berteriak kesal. Li Huan Rui tidak lagi menggodanya, diapun keluar dari kamar.
***
Beberapa bulan telah berlalu, perut Helena semakin membesar. Wang Yufeng mengambil cuti 3 hari sebelum istrinya dijadwalkan melahirkan.
Malam itu, Helena merasa sakit di perutnya. Wang Yufeng segera membawa istrinya ke rumah sakit. Dia mengendarai mobilnya dengan cepat. Dia merasa khawatir melihat wajah kesakitan Istrinya, hal itu membuatnya merasa sakit juga.
Mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Keluarga Wang segera datang ketika Wang Yufeng memberi tahu mereka bahwa Helena akan segera melahirkan. Wang Yufeng tidak bisa tenang, dia merasa khawatir dengan istrinya apalagi dia tidak di perbolehkan masuk.
"Tenang saja, Yufeng semua akan baik-baik saja"
Tuan Wang mencoba menenangkannya. Putranya biasanya selalu tenang dan dia bisa menyembunyikan emosinya dengan baik tapi saat ini terlihat jelas kekhawatiran di wajah putranya. Dia dapat merasakan cinta putranya yang besar pada menantunya itu.
Wang Yufeng berusaha tenang tapi dia tidak bisa. Wanita itu takut merasa sakit, bagaimana bisa dia tenang saat ini. Cukup lama waktu persalinan hingga akhirnya seorang perawat mengendong seorang bayi.
"Selamat tuan, anda memiliki anak yang tampan"
Wang Yufeng memandang putranya yang digendong perawat itu.
"Biarkan aku mengendongnya"
Wang Yufeng memangendong bayi itu. Betapa kecil tubuh putranya ini.
"Lalu bagaimana dengan istriku?"
"Kondisi Istri anda sangat lemah apalagi istri anda bersikeras menolak operasi. Dia masih belum sadarkan diri tapi anda tenang saja tidak ada sesuatu yang serius terjadi"
***
Wang Yufeng memandang Istrinya yang masih tertidur. Wanita itu perlahan membuka matanya, kau akhirnya bangun.
"Suamiku, anak kita...."
Wang Yufeng meletakkan bayi itu disisi Istrinya.
"Anak kita selamat. Istriku, kau sudah berusaha keras. Terima kasih sudah memberiku seorang anak yang tampan"
Wang Yufeng mencium kening Helena.
***
Wang Yufeng menyadari tidak mudah memiliki seorang anak. Bayi itu selalu menangis setiap malam dan istrinya selalu bangun setiap kali bayi itu menangis. Dia dapat melihat lingkaran hitam di mata istrinya.
Wang Yufeng merasa kasihan pada Istrinya.
"Helena, biarkan aku yang menenangkan putra kita "
Helena membawa putranya keluar. Agar tidak menganggu tidur Wang Yufeng. Wang Yufeng justru mengikutinya.
"Istri, jangan memaksakan diri, kau tidak tidur nyenyak belakang ini"
"Tidak apa-apa, hal ini sudah tugasku sebagai seorang ibu"
Wang Yufeng tersenyum melihat ketulusan Helena namun Wang Yufeng masih memaksa untuk menggendong putra nya.
Putranya dengan mudah diam saat berada di gendongan Wang Yufeng.
"Sepertinya putra kita begitu menyukaimu"
"Kau bisa tidur sekarang, aku akan menjaga Hongli,"
"Apa tidak apa-apa bagimu?"
Wang Yufeng mengangguk. Helena akhirnya masuk ke kamar.
***
Wang Yufeng harus kembali ke kemiliteran tapi putranya justru menangis keras, Helena kesulitan untuk menenangkan putra kecilnya ini.
"Sayang, tenanglah"
Wang Yufeng mengambil alih putranya. Bayi kecil itu langsung berhenti menangis. Wang Yufeng memandangi putranya.
"Apa kau tidak mau papa meminggalkanmu?"
Wang Yufeng tidak tega meninggalkan putranya dan membiarkan istrinya merawat putranya sendirian. Putranya terlalu sulit didekati.
"Hongli, papa hanya pergi sebentar. Jangan menyusahkan mamamu, ok?"
"Kau harus menjadi anak laki-laki yang kuat dan jaga mamamu selama papa pergi, kau mengerti?"
Mata kecil yang perlahan terbuka itu menatap mata Wang Yufeng. Wang Yufeng tersenyum lalu memberikan putranya pada Helena. Bayi kecil itu seolah mengerti apa yang dikatakan papanya. Dia tidak lagi menangis. Bagitu mudah bagi suaminya menenangkan putra mereka. Wang Yufeng memang menghabiskan banyak waktu dengan putranya selama dia mengambil cuti.
"Aku pergi dulu, Helena"
"Jaga dirimu, suamiku"
"Kau juga"
***
Bai Xiao dan Yimin pergi mengunjungi Helena dan bayinya. Yimin memandang kagum melihat bayi itu. Bayi kecil itu menangis.
"Bibi Helena, kenapa dia tiba-tiba menangis? Apa bayi kecil membenci Yimin"
"Tidak, Honglin mungkin hanya terkejut"
__ADS_1
Helena mencoba menenangkan putra kecilnya. Bai Xiao memandang Helena yang merawat bayinya dengan penuh perhatian.
***
Li Huan Rui menyempatkan waktu makan malam bersama dengan keluarganya karena putri kecilnya sering memprotesnya jika dia tidak pulang saat makan malam.
"Papa, tadi kami mengunjungi bibi Helena dan bayinya. Bayinya sangat mengemaskan"
"Papa, Yimin ingin punya adik laki-laki yang tampan dan mengemaskan juga"
Bai Xiao dan Li Huan Rui tersedak mendengar permintaan putri kecilnya ini. Bai Xiao dan Li Huan Rui saling pandang. Senyum nakal terukir dibibirnya.
"Kau ingin punya adik"
"Iya"
"Aku sudah selesai makan. Yimin ke kamar dulu"
Yimin pergi meninggalkan ruang makan.
"Kau dengar, istriku. Putri kita menginginkan seorang adik"
***
Bai Xiao tidak bisa tidur nyengak karena Li Huan Rui menganggunya setiap malam dengan alasan mengabulkan keinginan Yimin. Bai Xiao akhirnya hamil, Li Huan Rui dan Yimin begitu antusias. Tidak hanya suami dan anaknya yang bahagia tapi juga mama dan papa mertuanya serta mama dan papanya. Kehamilan Bai Xiao tidak sesulit saat dia mengandung Yimin. Bayi di dalam kandungannya terlalu tenang. Namun Li Huan Rui tidak pernah berhenti mengkhawatirkannya. Bai Xiao justru merasa kesal dengan sikap Li Huan Rui yang berlebihan.
***
Sesuai yang diinginkan Yimin, bayi kedua dari tuan muda tertua adalah laki-laki. Li Huan Rui yang memberinya nama Li Lianyi. Nama Lian karna putranya begitu tenang.Yimin merasa puas mendapat adiknya yang tampan dan tenang. Lianyi lebih mewarisi figur Li Huan Rui daripada Bai Xiao.
Li Huan Rui jadi lebih sering pulang awal untuk melihat putranya. Dia senang bahwa putranya tidak terlalu berisik. Mungkin dia mewarisi ketenangan dari Istrinya.
***
Ketika tahun baru setelah berkumpul dengan keluarga, Bai Xiao mengundang Helena untuk datang makan malam bersama. Helena datang bersama suami dan putra mereka. Wang Yufeng awaknya terkejut melihat Bai Xiao yang begitu mirip dengan Li Jiao namun dia tidak mengatakan apapun dan menyapanya dengan sopan.
"Dia memang Li Jiao"
Helena berbisik di telinga Wang Yufeng.
"Benarkah?"
"Ya. Yufeng, kau tidak jatuh cinta lagi padanya kan?"
"Aku hanya mencintai Istriku"
Helena tersenyum.
"Kalian datang lebih awal"
"Ya, itu karna aku tidak sabar melihat bayimu"
Helena memandang bayi yang ada di gendongan Bai Xiao.
"Xiao xiao, anakmu begitu tenang ya? Berbeda dengan putraku Hongli, bagaimana dia bisa setenang ini?"
"Aku juga tidak tahu"
"Dia begitu mirip dengan Li Huan Rui"
Wang Yufeng memberi komentar.
"Tentu saja diakan anakku"
Li Huan Rui tiba-tiba batang ke ruang tamu. Diikuti oleh Yimin. Yimin menyapa Helena dan Wang Yufeng.
"Mama, Yimin ingin mengendong adik kecil"
"hati-hati"
Yimin tumbuh lebih tinggi walau dia berusia 10 tahun.
"Yimin menjadi lebih dewasa ya setelah memiliki adik"
"Benar, Yimin bahkan memjaga adiknya dengan baik"
Kedua Keluarga itu mengobrol dengan santai. Yimin sibuk bermain dengan adik kecilnya. Wang Hongli berada di pangkuan Wang Yufeng. Pria itu dengan bangga menceritakan perkembangan putranya. Li Huan Rui juga tidak mau kalah dia juga menceritakan tentang putra dan putrinya. Helena dan Bai Xiao memandangi suami mereka.
"Bukankah kita seperti bertukar pasangan?"
"Ya. Kau benar"
"Kehidupan begitu penuh kejutan, benar bukan?"
"Ya"
"Sepertinya kau begitu bahagia bersama tuan muda kedua Keluarga Wang? "
"Ya, aku sangat bahagia. Yufeng memperlakukanku dengan baik dan juga dia merawat putra kami dengan baik"
"Aku bahagia mendengar hal itu"
"Kau tahu, awalnya aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bersama pria lain selain Henry tapi keadaan berubah. Namun aku merasa bahagia karena pada akhirnya aku dan Henry mendapatkan kebahagiaan kami masing-masing. Mungkin jika Henry masih bersamaku mungkin kami tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan ini dan juga aku bersyukur karena kau berani mendekati Li Huan Rui waktu itu dan membatalkan pertunanganmu dengan Wang Yufeng"
Helena tertawa kecil.
"Jika tidak, aku mungkin tidak akan bisa lepas dari Henry dan pria kaku seperti Henry tidak akan pernah pernah menyadari perasaannya padamu "
Pelayan memanggil Bai Xiao dan memberi tahu bahwa makanan sudah siap.
"Nyonya muda, makanan telah siap"
"Baiklah, kami akan segera kesana"
Kedua Keluarga itu menikmati makan malam dengan penuh kehangatan. Setelah semua kesedihan yang dialami oleh kedua wanita itu dan kesulitan yang pernah mereka berdua hadapi. Mereka berdua akhirnya mendapatkan kebahagiaan mereka, mereka mendapat suami yang baik dan menyayangi mereka serta seorang anak yang semakin melengkapi kebahagiaan mereka.
__ADS_1
A/N : Terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung cerita ini sampai akhir. Maaf Jika Endingnya tidak sesuai dengan harapan kalian. Terima kasih untuk yang sudah memberikan like, vote serta komentar di cerita ini.