
"Aku akan memasukkan Jiao dalam akun keluarga kita"
"Tidak. Aku tidak setuju"
"Suamiku, kenapa kau tidak bisa menerima Jiao ? Dia adalah putriku. Kau bisa menerima Rui saat kau masih bersama Shen Fengyin walaupun Li Huan Rui adalah anak Li YongSheng"
"Itu berbeda, Rui masih memiliki darah keluarga Li dan bagaimanapun juga dia adalah keponakanku. Tapi gadis itu berbeda, dia tidak ada hubungannya denganku"
"Sudah cukup bagiku membiarkannya tinggal disini. Jangan memaksaku untuk menerimanya"
Li Yongfan berteriak marah lalu keluar dari kamar dengan perasaan kesal. Saat dia keluar Jiao juga berada disana, dia memandang gadis itu sekilas lalu melangkah pergi.
Jiao awalnya ingin memanggil ibunya untuk sarapan, tapi dia justru mendengar pertengkaran Mo An An dan Li Yongfan. Jiao merasa bersalah, sepertinya dimanapun dia berada , dia hanya mendatangkan masalah bagi orang-orang.
Mo An An membuka pintu, dia sedikit terkejut ketika melihat putrinya berada di depan pintu.
"Jiao, kenapa kau disini?"
"Aku ingin memanggil mama untuk sarapan"
"Ayo"
Mo An An dan Jiao menikmati sarapan dengan tenang.
"Mama,maafkan Jiao karena Jiao mama jadi bertengkar dengan paman"
"Tidak, Jiao. Jangan salahkan dirimu. Kami bertengkar bukan karenamu. Lebih baik jangan pikirkan tentang itu"
Mo An An mengusap lembut rambut putrinya dan menunjukkan senyuman.
"Jiao, mama sudah menyewa seorang guru untuk mengajarkanmu "
Mo An An awalnya ingin mendaftarkan Jiao masuk ke taman kanak-kanak tapi dia terhalang akun Jiao. Mo An An tidak rela jika Jiao menggunakan nama keluarga Bai, dia tidak ingin putrinya terikat dengan pria yang hampir membuatnya kehilangan nyawa walaupun Bai Yuchen adalah ayah kandungnya.
"Guru itu akan datang sebentar lagi. Belajarlah dengan baik"
Jiao mengangguk.
"Mama harus pergi pemotretan, jaga dirimu"
Mo An An memberikan kecupan di dahi sebelum pergi. Mo An An sebenarnya tidak ingin meninggalkan putrinya tapi dia harus bekerja, dia harus mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga jika misalnya saja Li Yongfan berubah pikiran dan mengusirnya dan putrinya. Setidaknya dia harus memiliki cadangan. Mo An An sebenarnya ingin mengajak Jiao tapi terlalu berbahaya jika orang tahu tentang putrinya.
***
Jiao mendengar penjelasan gurunya dengan serius. Jiao perlahan mulai menirukan bagaimana membaca dan menulis. Jiao melakukannya dengan sungguh-sungguh. Guru itu merasa kagum, biasanya sulit bagi seorang anak untuk bersikap tenang saat belajar bahkan melakukannya dengan serius.Jiao dapat membaca beberapa kata.
"Nona Jiao, kau belajar dengan baik "
"Terima kasih"
Guru Hou mengambil sesuatu dari tasnya. Dia mengeluarkan sebuah buku.
"Ini buku cerita untukmu. Kau bisa membacanya untuk belajar"
"Terima kasih, guru Hou"
"Baiklah. Pelajaran kita sampai disini"
Guru Hou permisi pergi diantar seorang pelayan. Jiao kembali ke kamarnya dan melihat buku cerita cinderella yang diberikan oleh gurunya. Jiao meletakkannya lalu mengambil sesuatu dari laci meja. Dia mengenggam erat jam tangan milik Li Huan Rui. Sudah dua hari sejak dia tidak melihat pangerannya. Apa pangerannya baik-baik saja sekarang ? Apa pangerannya akhirnya bahagia setelah dia tidak menganggunya.
Jiao merasa sedih setiap kali dia teringat dengan tatapan permusuhan pangerannya setiap kali dia melihatnya.
"Pangeran, kenapa kau membenciku?"
Jiao lalu meletakkan jam tangan itu dan beralih ke buku yang diberikan oleh gurunya dan mulai membacanya.
Jiao perlahan merasa mengantuk setelah membaca buku sampai selesai.
***
Seorang anak laki-laki berwajah tampan berjalan mendekatinya Jiao. Dia perlahan berlutut di hadapannya.
"Pangeran"
"Jiao jiao, maafkan aku karna sudah bersikap dingin padamu"
Anak laki-laki itu meraih tangannya. Jiao merasakan kehangatan tangannya yang membuatnya nyaman.
"Jiao jiao, maukah kau memaafkanku dan berada disampingku sebagai pasanganku"
Jiao mengangguk.
"Tentu, saja pangeran"
***
"Jiao...jiao"
Tidur Jiao terusik karna seseorang memanggilnya. Jiao dengan enggan membuka matanya.
"Pangeran"
"Apa yang kau katakan tadi?"
Mo An An tersenyum menggoda putrinya. Jiao tersadar bahwa wajah pangeran yang dia lihat itu hanyalah hayalan.
"Siapa pangeran itu hum?"
Jiao tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Bisakah dia memberitahu tentang ibunya ini.
"Apa pangeranmu itu Li Huan Rui?"
Jiao terkejut dengan tebakan ibunya yang tiba-tiba. Mo An An tertawa kecil melihat wajah terkejut putrinya yang menegaskan bahwa tebakannya benar.
"Kau tahu, putriku. Mama dan anak perempuannya bisa saling berbagi rahasia. Mama akan menjaga rahasia ini untuk kita berdua "
__ADS_1
Mo An An tersenyum. Dia duduk di samping tempat tidur putrinya.
"Jadi, apa yang kau sukai dari Rui? Apa karena dia tampan?"
Jiao mengagguk pelan.
"Jam itu milik Rui bukan ?"
Jiao kembali menjawab dengan anggukan .
"Dimana kau bertemu Rui? "
"Di jalan"
"Di jalan? Bisakah kau menceritakan pada mama?"
Jiao ragu-ragu untuk menceritakan pada ibunya. Jiao lalu mulai bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Li Huan Rui. Dia terpesona dengan ketampanannya sehingga tanpa sadar dia meraih tangannya untuk meminta bantuan saat dia dikejar oleh penjual kue kukus namun pria itu justru menyerahkannya pada pedagang itu.
Mo An an sempat salah fokus mendengar cerita putrinya. Bagaimana mungkin putrinya mencuri makanan, apa Bai Yuchen yang mengajarkan pada putrinya.
"Mama"
Jiao menyadari bahwa mamanya sedang melamun. Mo An An tersadar dari lamunannya.
"Sayang, kenapa kau mencuri kue kukus?"
"Saat itu Jiao lapar, jadi Jiao terpaksa melakukannya"
"Apa papamu tidak menyiapkan makanan untukmu?"
Jiao terdiam. Dia ragu-ragu untuk mengatakannya. Mo An An menyadari keragu-raguan Jiao.
"Baiklah, kita lanjurkan ke ceritamu. Jadi saat itu pertama kali kau menyukai Rui?"
Jiao mengeleng, dia sempat terpesona tapi ketika dia melepaskan tangannya dan menbuatnya hampir terkena hukuman.
"Lalu...kapan kau menyukai Rui?"
"Saat pangeran mengulurkan tangan untuk membantuku. Dia juga mengobati lukaku saat itu"
Jiao tersenyum. Mo An An sedikit terkejut melihat senyum yang terukir di bibir putrinya saat ini. Munkinkah Rui begitu penting untuk putrinya, apa ini bukan rasa cinta sesaat yang dialami putrinya. Mo An An khawatir jika suatu hari putrinya jatuh cinta lebih dalam pada Rui dan terluka. Mo An An mungkin saja bisa meminta bantuan Shen Fengyin untuk mengikat hubungan putrinya dan Li Huan Rui tapi Li Yongfan tidak akan setuju.
"Kau tahu sayang, tidak apa-apa untuk menyukai seseorang tapi jangan menyerahkan hatimu sepenuhnya padanya karena mungkin kau akan terluka"
Mo An An ingin berjaga-jaga untuk masa depan putrinya. Li Huan Rui begitu populer dikalangan wanita, dia takut putrinya akan terluka.
Jiao mengangguk. Mo An An tersenyum lega, walaupun dia tidak yakin putrinya mengerti tentang hal yang dia katakan ini.
"Mama....apa mama pernah menyukai seseorang?"
"Ya"
"Siapa? Apa papa?"
"Maaf mengecewakanmu tapi bukan"
"Aku mengerti. Apa itu paman?"
Mo An An mengangguk dengan ragu.
"Kau ingin mendengar kisah mama?"
"Bolehkah?"
"Tentu saja"
Mo An An mulai menceritakan kisah masa kecilnya.
"Pertama kali mama menyukainya saat mama berusia 8 tahun. Dia juga memiliki wajah tampan tapi dia memiliki ekspresi serius. Dia dapat melakukan segala hal dengan baik. Awalnya mama pikir sulit untuk mendekatinya tapi orang tua kami saling mengenal dan kami menjadi teman akrab bersama bibi Yin juga. Setelah berlalunya waktu kekaguman mama berubah secara perlahan apalagi karena pria itu memperlakukan mama dengan baik "
"Namun...dia menyukai orang lain"
"Mama sempat menyerah saat itu karena tidak mungkin mama menganggu hubungan dua orang yang berharga bagi mama "
"Apa saat mama menyerah akhirnya mama menikahi papa?"
"Ya"
"Apa mama pergi karena paman itu?"
Alasan kepergiaan mamanya, Jiao selalu ingin tahu. Dia tidak ingin mensia-siakan hal ini.
"Ya, karena mama pada akhirnya tidak bisa menyerah padanya"
"Jadi pria itu lebih penting ya"
Mamanya rela mengejar pria itu lagi dan meninggalkan keluarga nya bunkah berarti pria itu begitu penting untuknya.
Mo An An menghela nafas mendengar nada kekecewaan putri nya.
"Tapi sekarang,bagi mama hanya Jiao yang paling berharga untuk mama"
Mo An An memeluk putrinya satu-satunya. Jiao hanya diam di pelukan Mo An An.
"Jiao, mama menyayangimu"
"Jiao juga sayang mama"
Mo An An tersenyum.
"Kau tahu Jiao, ternyata menyanangkan saat ibu dan anak perempuan saling membagi kisah ya?"
Jiao mengangguk.
__ADS_1
"Jiao, kau bisa mengatakan apapun pada mama disaat kau membutuhkan seseorang untuk mendengarkan isi hatimu kau bisa menemui mama. Mama akan menjadi pendengar yang baik untukmu"
"Terima kasih mama"
***
"Perjodohan?"
Shen Fengyin terkejut ketika kepala keluarga Si mendatanginya dan menyarankan perjodohan putri mereka -Helena dengan Li Huan Rui. Tuan Si mengetahui kedekatan putrinya dengan Li Huan Rui dan dia berpikir bahwa mereka cocok apalagi dengan status Li Huan Rui saat ini.
"Kenapa tiba-tiba tuan Si membahas ini?"
"Ini karena aku ingin putriku bahagia dan aku tidak ingin putriku terluka di masa depan jika akhirnya Rui memiliki Wanita lain jadi aku ingin mengikatnya untuk putriku.
" aku tidak bisa memutuskan ini"
Shen Fengyin tahu tentang kedekatan putranya dan Helena dan gadis itu satu-satunya yang dekat dengan Li Huan Rui tapi dia tidak yakin apa Rui akan menyukai dan setuju dengan hal ini.
"Rui masih kecil saat ini. Pembicaraan tentang perjodohan belum tepat untuk saat ini"
"Tapi, CEO Shen ada banyak kolomerat yang menjodohkan anak-anak mereka saat mereka masih muda. Saya juga mengalaminya sendiri dan anda juga, jadi... "
"Aku tidak ingin memaksa putraku"
Shen Fengyin menginginkan putranya menjalani kehidupannya yang bebas tanapa terikat. Di masa lalu ketika tetua membicarakan perjodohannya dengan Li YongSheng dia jadi terikat dengannya dan juga Li YongSheng jadi terikat dengan Shen FengYue karena pertunangan yang telah diatur, juga Shen Fengyin tidak yakin jika motif Presiden Si ini murni karena putrinya atau karena bisnis.
"Kita mungkin bisa membahasnya setelah putraku cukup dewasa"
Tuan Si kecewa tapi akhirnya dia setuju.
"Apa ada yang ingin anda bicarakan lagi, Presiden Si?"
"Tidak ada. Saya permisi"
Tuan Si lalu meninggalkan ruangan.
***
Helena begitu bahagia mengingat ayahnya berjanji padanya untuk berbicara dengan Ny. Li agar dia bisa menikahi Li Huan Rui. Walaupun Helena tidak mengerti betapa dalam kehidupan pernikahan tapi gadis kecil ini hanya tahu dia akan berada disisi pria ini di masa depan hal itulah yang membuat nya sangat bahagia. Dia hanya ingin berada disisi Li Huan Rui.
Li Huan Rui menyadari tatapan aneh Helena padanya dan juga senyum yang terukir dibibir gadis itu.
"Ada apa?"
Li Huan Rui tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya membayangkan Rui menggunakan tuxedo dan mengenggam tanganku lalu kita..."
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Lebih baik kau fokus saja dengan pejaran. Nilaimu begitu buruk, sebagai temanmu itu memalukan untukku jadi lebih baik kau fokus"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan nada kesal tapi bagi Helena hal itu terdengar manis. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
***
Di malam hari, Shen Fengyin bersandar di rangkulan Li YongSheng yang sedang membaca buku.
"Suamiku, tadi ayah Helena mendatangiku"
"Benarkah? Apa dia membicarakan tentang perjodohan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Dia juga mendatangiku dan mengatakan itu. Lalu apa yang kau katakan?"
"Aku memintanya mengunggu sama Rui cukup dewasa. Bagaimana denganmu?"
"Aku mengatakan hal yang sama. Bukan saat yang tepat untuk mengikat Huanrui dalam perjodohan seperti ini"
"Ya, aku mengerti itu dan juga aku lebih suka Rui berasama Jiao"
"Jiao? Aku tidak setuju dengan itu melihat sikap kasar Huanrui padanya dan juga aku ingin Huanrui dan Jiao menjadi saudara bukan pasangan"
Shen Fengyin mengakui bahwa Jiao memiliki wajah yang cantik dan juga sikap yang tenang tapi sikap Rui padanya begitu buruk. Dia tidak ingin Li Huan Rui menjadi penambah rasa sakit yang dirasakan gadis malang itu dan juga Jiao adalah putri Mo An An, jika mereka menjadi sepasang kekasih dan berakhir dengan buruk hal itu akan berdampak pada Mo An An dan dia juga. Jiao mungkin juga tidak ingin menemui mereka. Shen Fengyin mulai menyukai anak itu, dia ingin melindunginya dan juga akan lebih baik jika dia memiliki Li Huan Rui sebagai saudara yang dapat menjaganya.
"Ya, mungkin kau benar"
Tok tok tok
"Mama...papa "
Li Huan Rui masuk ke ruangan.
"Rui, kenapa kau disini?"
Shen Fengyin sedikit terkejut dengan kedatangan putranya yang tiba-tiba. Beruntung pembicaraannya dan Li YongSheng selesai dan juga pintu kamarnya kedap suara jadi tidak mungkin Li Huan Rui mendengar pembicaraan mereka.
"Rui ingin tidur dengan mama dan papa, bolehkah?"
"Tentu saja"
Shen Fengyin bergeser dan memberikan tempat ditengah untuk putranya. Belakangan ini putranya menjadi semakin manja.
Li Huan Rui dengan cepat tidur di tengah.
"Selamat tidur"
"Selamat tidur, Rui"
Li YongSheng mematikan lampu lalu mereka bertiga tertidur. Li Huan Rui senarnya belum terlelap. Dia mendengar apa yang di bicarakan orang tuanya karna dia sempat membuka pintu sedikit.
Dia mendengar saat mereka membicarakannya dan gadis bernama Jiao itu.
'Apa-apaan itu, aku tidak ingin menjadi saudara dengannya ataupun menjadi pasangan gadis rendahan itu'
A/N: pernah tidak kalian curhat dengan ibu kalian tentang orang yang kalian sukai pada ibu kalian?
__ADS_1
aku sedikit kesulitan mengambarkan perasaan Jiao yang akhirnya bisa memiliki seseorang yang bisa dia bagi