
Jiao jiao mengerutkan keningnya ketika dia melihat papanya berada di dapur. Hari masih siang, apa yang dilakukan papanya di dapur? Bukankah seharusnya papanya berada di kantor saat ini. Jiao memandang Li Yongfan yang memiliki wajah serius saat sedang mengaduk sesuatu.
"Papa"
Jiao ragu-ragu memanggilnya. Li Yongfan mengalihkan pandangan, menoleh ke arah gadis kecil.
"Papa? Kenapa papa disini?"
"Bukankah papa seharusnya berada di kantor?"
"Papa mengambil cuti"
"Lalu, apa yang papa lakukan di dapur?"
"Papa membuat cokelat"
"Papa cuti hanya untuk membuatcokelat?"
Jiao merasa heran.
"Ya, memang terlihat konyol bukan? Tapi hari ini hari special dan papa ingin memberikan hadiah special untuk mamamu"
"Hadiah special? Apa hari ini hari ulang tahun mama?"
"Tidak, bukan hadiah untuk hari ulang tahun tapi hari sebagai pasangan untuk hari kasih sayang"
"Hari kasih sayang?"
"Ya, mungkin Jiao masih belum mengerti tapi di hari kasih sayang biasanya pasangan saling memberikan hadiah untuk menunjukkan cinta mereka"
"Begitu, jadi papa memberikan cokelat yang papa buat sebagai hadiah untuk mama?"
Li Yongfan mengangguk.
"Jiao juga ingin menunjukkan kasih sayang Jiao pada mama. Haruskah Jiao membuat cokelat juga?"
"Jiao bisa memnantu papa"
"Apa yang bisa Jiao lakukan ujtyk membantu papa?"
"Bisakah Jiao menyiapkan cetakan?"
"Baiklah"
Jiao mengambil cetakan di paper bag sesuai dengan intruksi papanya.
"Sepertinya lezat, papa apa cokelat ini sudah bisa di makan? Bolehkah Jiao mencobanya?"
"Kau harus menunggu keras dulu baru bisa memakannya. Setelah keras papa akan menberikan pada Jiao juga"
"Apa kita harus memunggu? Berapa lama untuk menunggu?"
"Sepertinya akan lama untuk menunggu. Bagaimana jika kita jalan - jalan dan mencari hadiah lain dulu"
"Baiklah"
Jiao kembali ke kamar untuk bersiap. Li Yongfan menyimpan cokelat itu ke lemari pendingin.
***
Li Huan Rui menbuka lokernya. Dia menghela nafas kesal ketika dia melihat banyak cokelat yang memuhi lokernya. Seharusnya dia mengunci lokernya dengan rapat agar tidak ada yang meletakkan sesuatu di lokernya. Dulu dia menyukai cokelat tapi sejak dia mendapatkan banyak
"Wow, Rui. Kau memiliki begitu banyak cokelat. Sungguh, kau beruntung karena memiliki wajah tampan dan populer"
Seorang anak laki-laki gemuk berkomentar. Dia memandang iri kenarah Li Huan Rui. Li Huan Rui mengambil beberapa kotak yang ada di lokernya dan memberikannya padanya.
"Jika kau mau ambil saja"
Li Huan Rui menberikan pada pria itu. Pria itu menerimanya dengan senang hati.
"Henry, aku mencarimu ternyata kau disini. Henry, aku..."
"Jika kau ingin memberiku cokelat maka aku tidak akan menerima nya"
Helena juga salah satu dari para gadis yang sering memberinya cokelat. Helena memang teman baiknya tapi dia tidak akan memaksakan diri jika dia memberinya cokelat.
"Tenang saja. Aku akan memberikanmu hadiah yang lebih baik dari cokelat"
Li Huan Rui mengerutkan keningnya. Dia berpikir apa yang akan Helena berikan padanya?. Li Huan Rui sibuk berbikir hingga sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh pipinya.
"Itu hadiahku. Sampai jumpa nanti, Henry"
Helena yang pipinya memerah segera berlari pergi. Dia merasa malu dengan tindakannya dan dia juga takut dengan reaksi Rui. Li Huan Rui masih diam membeku dengan ciuman yang tiba-tiba di pipinya. Anak laki-laki gemuk itu masih ada disana.
"Rui, apa Helena pacarmu?"
"Pacar?"
Li Huan Rui tidak terlalu mengerti hal seperti itu.
"Iya, apa kau dan Helena pasangan?"
"Tidak. Kami hanya berteman. Aku pergi duluan"
Li Huan Rui memegangi pipinya.
"Gadis itu, apa maksudnya ini?"
***
***
Li Yongfan dan Jiao berada di toko bunga. Jiao melihat setiap bunga-bunga indah itu. Jiao mendapat buku tentang bunga dari gurunya dan sekarang dia bisa melihatnya
"Jiao, apa kau menyukai bunga? Jika kau mau kau bisa mendapatkannya"
"Tidak papa, bukankah kita kesini untuk membeli bunga sebagai hadiah untuk mama"
"Benar, tapi tidak apa-apa jika kau ingin dan kau bisa anggap sebagai hadiah dari papa"
Jiao tidak terlalu menyukai bunga. Walaupun bunga itu indah tapi bunga mudah layu setelah dipetik. Jiao melihat sebuah kaktus kecil. Ada bunga kecil yang mulai tumbuh.
"Papa,bisakah aku membeli ini?"
Li Yongfan mengerutkan kening melihat pilihan tidak terduga putrinya. Dia tertawa kecil.
"Ya.Kau bisa mengambilnya"
Jiao melihat ke arah papanya yang megang buket dengan banyak bunga merah. Sepertinya bunga mawar merah itu memang populer karena saat ini selain papanya ada beberapa pris yang memegang buket bunga yang sama seperti papanya.
"Papa, kenapa semua orang membeli bunga mawar?"
"Mungkin mereka membeli untuk orang yang dicintai"
Jiao ingat buku yang diberikan oleh gurunya. Mawar memang memiliki arti sebagai ungkapan cinta. Jiao tidak mengerti kenapa mawar yang digunakan untuk ungkapan cinta, bukankah walaupun indah tapi bunga itu berduri dan dia juga sama seperti bunga-bunga lain yang akan cepat layu. Bukankah kaktus ini lebih baik dari mawar karena masih bisa bertahan hidup walaupun dia tidak secantik mawar.
Li Yongfan membayar bunga ysng dia beli lalu mengajak Jiao makan siang di luar sebelum pulang.
***
Helena menghela nafas, dia merasa kesal karena supirnya belum datang juga. Dia takut Rui akan segera datang ke sini. Helena masih merasa malu dengan tindakan yang dia lakukan.
Helena mecari tempat persembunyian saat dia melihat Rui berjalan ke luar, beruntung Rui mungkin tidak memperhatikannya. Dia segera berlari dan bersembunyi di balik pohon.
"Apa kau sedang bersembunyi dariku?"
Helena terkejut melihat Rui yang sudah berdiri disampingnya.
"Henry"
Helena menjadi gugup. Dia mengalihkan pandangannya.
"Henry sampau jumpa besok"
Helena segera melarikan diri tapi Huan Rui menahannya.
__ADS_1
"Helena, jangan melakukan hal seperti itu lagi. Orang bisa salah paham dan berpikir jika kau pasanganku"
"Apa Henry tidak ingin menjadi pasanganku? "
Helena merasa sedih. Dia ingin Henry nya yang akan menjadi pasangannya di masa depan.
"Helena, kau adalah teman dekatku. Aku menghargaimu sebagai teman yang bisa menghadapi sikap dinginku. Sepertinya tidak masalah juga jika kita bersama di masa depan hanya saja aku tidak ingin keributan. Kau tahu bukan aku tidak suka menjadi bahan gosip"
Li Huan Rui tidak ingin melihat Helena merasa sedih. Dia adalah temannya dan dialah yang selalu berada disampingnya selama ini.
Helena memeluk Li Huan Rui. Pria itu terkejut.
"Henry, aku menyukaimu"
"Helena"
"Aku bahagia karena kau mempertimbangkanku menjadi pasanganmu dan juga Henry tidak perlu khawatir tentang gosip itu. Aku bisa menghentikannya untuk Henry"
Li Huan Rui hanya diam membiarkan Helena memeluknya. Jika ini bisa membuat Helena tidak merasa sedih lagi.
Di dalam mobil BMW, seorang gadis memandang adegan itu. Tangan kecilnya mengepal, dia megigit bibir bawahnya berusaha untuk menekan emosinya.
"Sebentar lagi kita akan sampai di makanan restoran cina yang paling enak. Kau pasti suka"
Li Yongfan menoleh ke arah putrinya. Dia melihat darah yang mengalir di bibirnya.
"Astaga, bibirmu berdarah"
Jiao segera mengusap darah di bibirnya. Mungkin karena dia mengigit bibirnya terlalu keras.
Li Yongfan meminggirkan mobilnya.
"Kita obati dulu lukamu"
"Tidak perlu papa. Ini akan mengering"
"Tidak, bagaimana jika infeksi? Kenapa bibirmu bisa berdarah seperti ini? "
"Sugguh, papa. Jiao baik-baik saja. Papa, Jiao sudah sangat lapar"
"Baiklah"
Li Yongfan menghela nafas. Dia tahu gadis kecil ini keras kepala sama seperti dengan Mo An An.
"Jiao jiao, kau tidak seharusnya terus menekan perasaanmu. Tidak apa-apa untuk menunjukkan emosimu"
Li Yongfan tahu kebiasaan Jiao yang mengigit bibirnya ketika dia sedih ataupun saat dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Dia ingin tahu apa yang menekan putrinya hingga gadis kecil itu mengigit bibirnya begitu keras hingga terluka.
***
"CEO Shen, bisakah aku tidak lembur malam ini saja"
Asisten Han selalu di bebani banyak pekerjaan bahkan dia harus lembur walaupun dia mendapatkan tambahan bonus sebagai hasil lemburnya tapi malam ini uang bonus tidak lagi penting untuknya.
"Kenapa?"
"Itu...aku tidak ingin melewatkan kencan di hari kasih sayang ini. CEO Shen, aku tidak ingin putus seperti tahun tahun sebelumnya saat bersama mantan kekasihku karena aku tidak meluangkan waktu untuknya di hari kasih sayang ini"
"Jika pasanganmu tidak bisa mengerti pekerjaanmu bukankah lebih baik kau putus dengannya dan juga apa kau pikir alasanmu itu akan membuatku membebaskanmu dari tugas"
"Aku mohon CEO Shen, kali ini aku memintamu sebagai teman. Aku tidak ingin gagal lagi kali ini jika tidak sampai kapanpun aku tidak akan bisa menci pendamping untuk menekahiku"
Shen Fengyin menghela nafas.
"Baiklah...kau bisa pergi"
"Terima kasih, CEO Shen dan juga aku ingin mengajukan cuti 2 hari"
"Apa ini untuk bersama kekasihmu juga?"
Asisten Han mengangguk. Shen Fengyin kembali menghela nafas lalu mengangguk.
"Baiklah, aku akan menangani pekerjaanmu selama kau pergi"
"Oh ya, CEO Shen, apa hari ini anda tidak berkencan dengan manager li?"
"Tidak, kenapa aku harus melakukan hal kekanakan itu. Lagipula Li YongSheng tidak seperti pacarmu yang tidak mengerti pekerjaan kekasihnya"
"Ya, aku tahu itu tapi CEO Shen ada kalanya kau juga harus pergi bersama. Apa kau tahu banyak karyawan wanita yang memberikan manager Li hadiah bahkan ada pula yang mengaku padanya. Kau tahu, banyak karyawan baru yang bukan dari B city. Apa kau tidak takut manager Li akan tergoda?"
"Li YongSheng bukan orang seperti itu bahkan jikapun dia tergoda dengan wanita lain dia tidak akan lepas dariku. Kami adalah pasangan yang sudah menikah bahkan bersumpah di depan tuhan dia tidak akan mengkhianatiku dengan muda"
***
Li Yongfan memandang putrinya dengan tatapan terkejut melihat betapa lahapnya putrinya makah hot pot. Li Yongfan awalnya ingin memesan makanan yang lebih ringan untuk Jiao tapi siapa sangka putrinya memilih makanan pedas. Sepertinya seleranya sama seperti ibunya.
"Jiao jiao, jangan makan terlalu banyak. Kau bisa sakit perut nanti"
"Tidak apa-apa. Jiao pernah makan hot pot juga dengan mama dan Jiao tidak sakit perut"
Jiao merasa perasaannya menjadi lebih baik saat makan makanan pedas. Ini adalah strategi yang di berikan oleh ibunya jika dia merasa sedih atau marah dan tidak bisa mengatakan pada siapapun dia bisa melampiaskan dengan makanan pedas.
Dreet dreet dreet
Li Yongfan mengambil ponselnya. Dia melihat nama Mo An An tertera di layar ponselnya.
"Hallo, An"
"Suami, Apa kau pergi dengan Jiao?"
"Kami sedang makan hot pot saat ini. Apa kau ingin bergabung?"
"Aku ingin tapi suami, kau tahu bukan bagaimana situasiku saat ini bukan? "
"Aku mengerti. Kami akan pulang sebentar lagi"
"Tidak perlu buru-buru. Kalian bisa bersenang-senang. Aku hanya menelpon untuk memastikan Jiao aman bersamamu dan juga kalian sudah makan siang"
Mo An An lalu mematikan sambungan.
"Papa,lebih baik ayo kita pulang"
"Apa kau sudah selesai makan?"
Jiao mengangguk.
***
Mo An An memandang cokelat yang dia temukan di kulkas. Dia mengambil satu potong. Dia pikir rasanya akan sangat manis tapi siapa sangka rasanya sesuai dengan seleranya.
"Kau sudah memakannya sebelum aku memberikannya padamu?"
Li Yongfan terkejut melihat cokekat yang dia simpan di pendingin yang bahkan belum dia masukkan ke dalam kotak kini sudah ada di depan Mo An An.
"Ah, suami. Kau mengagetkanku. Tunggu, apa cokelat ini kau buat untukku"
"Benar, apa kau suka?"
"Ya, rasanya sesuai dengan seleraku. Terima kasih"
"Aku juga membawa hadiah lain untukmu?"
"Apa itu?"
Li Yongfan menarik tangannya yang sebelumnya dia sembunyikan di belakang. Dia memberikan bunga itu pada Mo An An.
"Apa ini buket bunga berisi 99 bunga mawar?"
"Bebar"
Mo An An menerima bunga itu.
"Terima kasih. Aku tidak tahu suamiku begitu romantis tapi maaf aku tidak mensiapkan hadiah untukmu"
"Tidak apa-apa. Di masa lalu kau sudah sering memberiku hadiah"
__ADS_1
Mo An An mengalungkan tangannya di leher Li Yongfan lalu menciumnya.
"Anggap saja diriku sebagai hadiah" bisik Mo An An.
Mo An An kembali menciumnya, Li Yongfan membalas ciumannya. Lidahnya menelusuri dalam mulutnya. Ciuman mereka begitu dalam dan bergairah.
"Mama...papa"
Mo An An segera melepaskan ciumannya dan menjauhkan tubuhnya ketika mendengar suara putrinya.
"Oh, Jiao"
"Mama, apa mama menyukai cokelat nya?"
"Ya. Apa Jiao membantu papa membuatnya?"
"Jiao hanya bantu mencetak saja"
Mo An An mengambil cokelat itu lalu menyuapinya pada Jiao.
"Cobalah"
Jiao merasakan cokelat yang meleleh di lidahnya.
"Jiao, mama punya hadiah untukmu"
"Apa itu?"
"Ayo ke kamar. Mama menaruhnya di sana"
Mo An An memandang Li Yongfan.
"Kita akan lanjutkan ini nanti"
Mo An An berbisik dengan suara rendah.
***
Jiao melihat ponsel yang diberikan mamanya.
"Mama, apa ini benar untuk Jiao?"
"Ya"
"Terima kasih mama"
"Oh ya, lihat di dalam kontak. Mama sudah memasukkan beberapa nomer"
Mo An An membuka bagian kontak dan memperlihatkan pada Jiao. Dia melihat nama ibu, papa, bibi Yin, dan Li Huan Rui.
"Ibu sudah memasukkan nomer Rui. Kau bisa menghubunginya jika kau merindukannya"
Mo An An menggoda putrinya tapi seperti biasa, Jiao tidak bereaksi apapun.
***
Shen Fengyin memiki banyak pekerjaan dia harus lembur lagi malam ini. Namun Li YongSheng masih setia menunggunya walau Shen Fengyin meminta nya untuk pulang duluan. Pria itu masih diam duduk di kursi dan mengetik sesuatu.
"Li YongSheng, ayo pulang"
"Baiklah"
Pria itu memasukkan laptopnya ke dalam tas. Lalu dia keluar bersama Shen Fengyin ke parkiran. Shen Fengyin memperhatikan bag paper yang dibawa Li YongSheng. Mungkinkah itu hadiah dari para wanita yang mencoba menggodanya. Shen Fengyin merasa pahit di dalam hatinya.
Li YongSheng membantunya masuk ke mobil seperti biasa. Melihat pria tampan ini begitu dekat membuatnya berdebar. Shen Fengyin mengagumi suaminya yang semakin lama semakin tampan. Walaupun saat ini dia sudah berusia 30 lebih.
Shen Fengyin mengalihkan pandangannya. Sepanjang perjalanan Shen Fengyin hanya diam dan melihat ke arah luar.
"Aku dengar ada yang mengaku padamu hari ini bahkan kau juga dapat banyak hadiah. Aku tidak tahu suamiku begitu populer"
Shen Fengyin mengatakannya dengan nada dingin tanpa memandang ke arah Li YongSheng.
"Apa kau cemburu?"
"Cemburu? Tidak mungkin"
"Benar. Kau seharusnya tidak cemburu bukan? Karena aku tahu istriku percaya padaku"
Li YongSheng tersenyum. Tangan kirinya mengenggam tangan Shen Fengyin. Wanita cantik disampingnya menoleh.
"Aku hanya mencintai istriku. Aku tahu kau tahu hal itu bukan, istri"
"Aku tahu. Bagaimana pun juga tidak ada Wanita yang lebih baik dariku bukan? "
"Ya, kau benar. Tidak ada yang lebih baik dari istriku"
Li YongSheng tersenyum. Li YongSheng sudah puas memiliki Shen Fengyin sebagai istri dan pasagannya, sulit baginya untuk mendapatkan istrinya, tidak mungkin baginya meninggalkan istrinya dan berpaling ke wanita lain.
"Tapi, apa kenapa kau menerima hadiah mereka?"
"Awalnya aku ingin menolak tapi akan buruk jika dia tersinggung dan akan berpengaruh pada pekerjaan juga bukan? Lagipula aku juga sudah menjelaskan pada mereka bahwa aku sudah menikah "
Shen Fengyin mengangguk mengerti. Tindakan Li YongSheng memang benar, dia tidak tahu bahwa suaminya lebih berpikir dewasa dibandingkan dengannya.
"Kau tidak marah bukan?"
"Tidak. Kau melakukan hal yang tepat"
Li YongSheng tersenyum. Dia kembali fokus menyetir. Li YongSheng merasakan sesuatu di jarinya. Dia menoleh dan melihat cincin di jarinya.
"Ini..."
Li YongSheng menepikan mobilnya dan menghentikan mobilnya.
"Fengyin, kau..."
"Anggap saja ini hadiah dariku"
Shen Fengyin juga menunjukkan cincin yang sama di jarinya. Li YongSheng tersenyum.
"Aku belum menyiapkan hadiah untukmu"
"Tidak apa-apa. Aku...."
Ucapan Shen Fengyin berhenti ketika Li YongSheng tiba-tiba mencium bibirnya. Ciumannya begitu lembut, Shen Fengyin memejamkan mata merasakan ciumannya.
"Aku mencintaimu istriku. Aku akan membalas hadiahmu saat white day"
"Terserah kau saja. Cepat lajukan mobil. Aku ingin sampai di rumah. Aku sudah lelah"
"Baiklah"
Li YongSheng segera melajukan mobilnya.
***
Jiao tidak bisa tidur. Dia biasanya akan pergi ke kamar mama dan papanya saat dia tidak bisa tidur. Namun Jiao tidak ingin menganggu waktu berdua mama dan papanya. Jiao mengambil ponselnya, dia melihat nama Li Huan Rui di kontaknya.
Jiao teringat saat Li Huan Rui bersama dengan Helena. Dia menghela nafas, tidak mungkin baginya terhubung dengan pangerannya.
"Hallo"
Jiao terkejut mendengar suara dari ponselnya. Dia tadi melamun hingga tidak sadar menekan nomer Li Huan Rui.
"Hallo, siapa ini"
"Li Huan Rui"
Li Huan Rui terdiam. Jiao segera mematikan telpon karena tidak ada suara dari Li Huan Rui.
"Mungkinkah dia mengenaliku. Dia pasti membenciku"
Di lain sisi Li Huan Rui masih memandang ponselnya. Dia melihat layar ponsel yang menunjukkan panggilan berakhir. Dia merasa suara itu tidak asing untuknya. Dia memikirkan setiap orang tapi dia tidak yakin.
Li Huan Rui meletakkan ponselnya dan kembali tidur
__ADS_1