
Yimin dan Liu Yaoshan berhasil menampilkan lagu dengan baik. Walaupun saat latihan terakhir Yimin melakukan kesalahan tapi beruntung bahwa saat ujian dia bisa melakukan dengan baik tanpa melakukan kesalahan hingga bagian terakhir.
"Péng you bù céng gū dān guò
Yī shēng péng you nǐ huì dǒng
Hái yǒu shāng hái yǒu tòng
Hái yào zǒu hái yǒu wǒ"
(Friend, you've never been alone,Friend, you'll understand.
There are wounds, there are pains but we still go on, and I'll always be there)
Mereka berdua menyanyikan lirik lagu bait terakhir bersama dan saling berpandangan. Semua orang bertepuk tangan. Yimin mengulurkan tangan untuk mengajak high five, Liu Yaoshan tanpa sadar mengulurkan tangan dan melakukan high five. Yimin tersenyum.
"Kita berhasil"
"Ya"
Guru Chen memuji mereka berdua. Penampilan Liu Yaoshan dan Yimin menjadi penutup dalam ujian musik. Mereka kembali ke kalas.
"Liu Yaoshan"
Para gadis mulai mendekati Liu Yaoshan, pandangan mereka menjadi berbeda saat menyadari pesona dari suara Liu Yaoshan dan ekspresinya yang mendalami lagu. Mereka menuji Liu Yaoshan. Yimin tidak ingin menghalangi Lui Yaoshan untuk mendapat teman baru. Dia memilih untuk menjauh tapi Liu Yaoshan meraih tangannya. Yimin memandangnya dengan perasaan heran.
"Penampilan tadi tidak akan terlihat bagus tanpa alunan piano Li Yimin dan suara nyanyiannya"
Liu Yaoshan mengucapkannya tanpa menoleh ke arahnya. Dia terlalu malu harus berhadapan dengannya langsung saat memujinya.
"Itu benar, penampilan dewi kami memang selalu mengagumkan "
"Tentu saja dewi kami selalu yang terbaik" para siswa mulai bergabung dan memuji Li Yimin.
"Dewi kami terlihat sangat cantik dan anggun saat bermain piano"
Para pria memuji Yimin sedangkan para gadis memuji Liu Yaoshan. Mereka saling berdebat. Liu Yaoshan merasa kesal mendengar para pria itu juga memuji Yimin. Liu Yaoshan menutup telinga Yimin.
"Eh? Apa yang kau lakukan?"
"Jangan dengarkan mereka, ayo kita kembali ke kelas"
Liu Yaoshan mendorong Yimin dan meninggalkan para siswa itu. Guru Chen keluar karena mendengar suara keributan, dia memotong perdebatan murid-muridnya itu.
"Kembali ke kelas"
"Baik, guru Chen"
***
Yimin dan Liu Yaoshan sudah berada dikelas.
"Liu Yaoshan, kau harus bersikap ramah juga dengan yang lain. Kau akan memiliki banyak teman jika kau memperlakukan mereka dengan baik"
"Aku tidak butuh teman lain"
"Kau saja sudah cukup"
"Eh? Apa kau mengakuiku sebagai teman? "
Liu Yaoshan mengangangguk.
"Sepertinya berteman denganmu bukanlah hal yang buruk"
Yimin tersenyum.
Para murid yang lain sudah masuk ke kelas. Seorang gadis membawa tasnya dan mendekati Liu Yaoshan.
"Ketua kelas, bisakah kita bertukar tempat duduk?"
"Eh?"
Yimin menoleh ke arah Liu Yaoshan. Walaupun dia merasa senang diakui sebagai teman oleh Liu Yaoshan tapi dia tidak ingin menjadi penghalang untuk Liu Yaoshan mendaparkan teman yang lain, dia tidak ingin menjadi orang egois yang menguasai Liu Yaoshan untuk dirinya sendiri. Yimin berdiri dan hendak mengambil tasnya. Namun tangan Liu Yaoshan yang kasar meraih tangannya.
"Liu Yaoshan?"
"Aku sudah bilang bukan? Aku hanya membututkanmu. Aku tidak butuh teman yang lain"
Liu Yaoshan menoleh ke arah Yimin.
"Aku tidak ingin duduk dengan orang lain selain Li Yimin"
Liu Yaoshan lalu memandang dengan tajam ke arah gadis yang mendekatinya. Gadis itu gemetar ketakutan karena tatapan yang tajam itu.
"Maafkan aku, baiklah aku tidak akan menganggumu dan ketua kelas"
Gadis itu kembali ke tempat duduknya. Yimin juga kembali duduk tapi tangan Liu Yaoshan masih memegang tangan Yimin.
"Liu Yaoshan, bisakah kau melepaskan tanganku?"
Liu Yaoshan melepaskan tangannya. Dia merasa malu dengan tindakannya itu.
***
Sudah lebih dari dua hari, Li Huan Rui tidak melihat putrinya. Dia sangat merindukanmu putri kecilnya.
"Apa Yimin masih marah padaku?"
Li Huan Rui menghela nafas. Dia tidak bisa menahan keinginan untuk bertemu putri kecilnya. Walaupun dia tidak bisa mendekatinya, sepertinya melihatnya dari kejauhan tidak buruk.
***
"Permisi, nona. Tuan Luoist sudah menunggu anda di ruang tamu"
"Katakan padanya, aku sedang sakit"
"Apa kau benar-benar sakit atau hanya berpura-pura"
Tuan Si tiba-tiba masuk ke kamar Helena yang terbuka.
"Papa, aku sungguh benar-benar sakit"
Helena mengigil kedinginan. Tuan Si mendekatinya dan menyentuh keningnya.
"Bagaimana kau bisa demam saat musim panas?"
Helena tidak menjawab. Dia menutup matanya.
"Rawat nona dengan baik jika demamnya makin parah maka panggil dokter"
"Baik, tuan"
Helena diam-diam tersenyum.
__ADS_1
"Dengar, Helena. Aku tahu kau sengaja sakit bukan? Jika kau melakukan ini aku akan memajukan tanggal pernikahanmu dan Louist, kau mengerti?"
Helena tidak mengatakan apapun.
***
Li Yimin keluar dari gerbang, dia menunggu Bai Xiao menjemputnya dan Liu Yaoshan menemaninya.
"Yimin, bukankah itu mobil papamu?"
Yimin memandang ke arah yang ditunjuk oleh Liu Yaoshan. Dia melihat seorang pria dari kaca mobil yang sedang menelpon. Yimin tersenyum.
"Aku duluan ya"
"Hei, bagaimana jika mamamu menjemputmu"
Liu Yaoshan berteriak tapi Yimin tidak peduli. Gadis kecil itu langsung masuk ke dalam mobil.
"Mama,aku tidak mau berkencan atau menikahi wanita manapun yang mama pilih"
Li Huan Rui mematikan telpon.
"Papa"
"Eh? Yimin, kenapa kau disini dan sejak kapan?"
"Yimin rindu papa. Papa tidak pernah lagi memui Yimin. Aku kira papa tidak lagi ingin bertemu dengan Yimin dan sudah melupakan Yimin"
Gadis kecil itu menunjukkan ekspresi sadih.
"Bukan begitu, papa pikir kau masih marah pada papa"
"Jika Yimin marah harusnya papa berusaha membujuk Yimin, kenapa papa menyerah begitu mudah"
"Baiklah, papa salah. Sebagai gantinya, papa akan mengabulkan apapun keinginanmu?"
"Apapun?"
"Benar"
"Kalau begitu, papa....menikahlah dengan mama"
"Apa?"
Li Huan Rui terkejut dengan permintaan tiba-tiba.
"Sayang, pernikahan bukan permainan, permintaan ini...papa..."
Li Huan Rui tidak tahu bagaimana menjelaskan pada putrinya. Li Huan Rui tentu saja tidak keberatan tapi bagaimanapu dengan Li Jiao.
"Apa papa tidak menyukai mamaku? Apa mamaku kurang cantik atau papa tidak ingin tinggal bersamaku dan mama?"
"Bukan seperti itu"
"Lalu kenapa? Papa, papa sudah janji untuk mengabulkan keinginan Yimin, apa papa berbohong tentang janji papa"
"Tidak,tapi bisakah kau meminta hal lain"
"Hanya itu yang Yimin inginkan. Papa, apa papa ingin menikahi wanita lain lalu meninggalkan Yimin"
"Tidak"
"Kalau begitu menikahlah dengan mamaku dengan begitu papa bisa bersama Yimin"
Li Huan Rui menghela nafas.
"Baiklah"
"Papa akan membicarakan hal ini pada mamamu. Bisakah kau membantu papa untuk bertemu dengan mamamu"
"Baiklah"
Yimin mendekati Li Huan Rui dan memeluknya. Dia merindukan pelukan hangat papanya. Li Huan Rui tersenyum dan membelai lembut rambut panjang putri kecilnya.
***
Bai Xiao berada di mobil untuk menjemput Yimin. Dia merasa bersalah karena dia ketiduran dan terlambat untuk menjemput Yimin.
Dreet dreet
Bai Xiao mengambil ponselnya dalam tas, dia mengerutkan kemingnya melihat nomer asing. Bai Xiao dengan ragu menjawab telpon.
"Hallo"
"Mama, ini Yimin"
"Yimin, maaf mama terlambat menjemputmu. Mama akan segera sampai, tunggu sebentar"
"Mama, tidak perlu menjemput Yimin di sekolah. Saat ini Yimin sedang bersama papa"
"Papa?"
"Benar, mama bisa menjemputku di rumah papa. Yimin akan mengirim alamatnya"
Bai Xiao belum sempat menanggapi karena Yimin susah mengakhiri panggilan. Bai Xiao menghela nafas. Ponselnya bergetar lagi, Bai Xiao melihat deretan huruf yang mungkin adalah alamat tempat tinggal Li Huan Rui sekarang. Dia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Namun saat ini putrinya berada bersama dengan pria itu.
***
Li Huan Rui membawa Yimin ke kamarnya untuk istirahat.
"Yimin, papa harus kembali ke kantor"
"Papa, tidak bisakah papa menemani Yimin disini? Yimin ke sini karena ingin bersama papa jika papa pergi itu sama saja"
Yimin menunjukkan ekspresi cemberut.
"Baiklah, papa akan menemanimu. Papa akan menghubungi kantor dulu"
Li Huan Rui mengambil ponselnya dan keluar dari kamar. Yimin memandang kamar papanya. Kamar papanya lebih besar dan juga tempat tidurnya juga lebih besar. Yimin memandang meja di sebelahnya, ada bingkai foto kecil di atasnya. Yimin mengambilnya.
Yimin memandang foto itu. Dia mengenali salah satu diantara foto itu adalah foto mamanya saat masih kecil. Neneknya pernah memperlihatkannya foto mamanya sebelumnya. Mungkinkah foto anak laki-laki itu adalah papanya. Lalu wanita yang ada diantara mereka ini...dia terlihat tidak asing juga.
Yimin berpikir.
"Mungkinkah ini adalah bibi itu"
Yimin mulai berpikir, dia melupakan hal yang seharusnya dia tanyakan pada papanya di awal pertemuan mereka tadi. Yimin segera meletakkan foto itu saat mendengar suara pintu terbuka.
"Papa"
Li Huan Rui mendekati putrinya. Dia duduk disamping tempat tidur.
"Tidurlah, papa akan menemanimu"
__ADS_1
"Papa, bisakah papa berbaring disampingku"
"Baiklah"
Yimin bergeser untuk memberikan tampat agar papanya bisa berbaring. Li Huan Rui berbaring disamping putrinya. Dia merasa sedikit canggung.
"Papa, bolehkah Yimin bertanya sesuatu?"
"Tentu, apa itu? "
"Papa, apa yang terjadi antara papa dan mama di masa lalu?"
Li Huan Rui terdiam, dia ragu untuk menceritakan masa lalu mereka. Dia takut putrinya akan kecewa padanya.
"Kenapa Yimin betanya seperti itu?"
"Itu karena mama selalu marah jika itu berhubungan dengan papa"
"Papa, kenapa mama bisa semarah itu pada papa? Apa yang terjadi?"
"Papa melakukan kesalahan pada mamamu"
"Lalu, apa papa sudah minta maaf? Bukankah saat seseorang membuat kesalahan dia harus minta maaf dan juga mama mungkin tidak akan marah lagi pada papa"
"Itu tidak semudah itu. Mungkin kesalahan papa tidak bisa diampuni hanya dengan mengatakan permintaan maaf"
Li Huan Rui menyadari semua kesalahannya, dia telah menodainya secara paksa, dia meninggalkannya dan tidak melakukan apapun walau dia tahu Li Yongfan pasti memberikan hukuman berat dan dia membiarkannya mengalami kesulitan dengan kehamilan wanita itu diusia muda yang berisiko untuk kehidupannya. Dia juga merasa bersalah karna tidak merawat putrinya sejak awal. Dia tahu permintaan maaf tidak akan cukup untuk mendapatkan pengampunan dari Li Jiao.
"Kesalahan apa yang papa lakukan?"
"Papa tidak bisa mengatakannya sekarang, papa akan memberitahumu lain kali. Lebih baik kau tidur"
Yimin cemberut tapi dia tidak mencoba memaksa lagi.
"Papa, peluk Yimin"
Li Huan Rui dengan ragu memeluk putrinya dan dia mengusap lembut rambut panjang putrinya. Yimin perlahan merasa mengantuk dan mulai tertidur. Li Huan Rui memandang putrinya. Dia melepas dasinya lalu ikut tertidur disamping putrinya.
***
Bai Xiao mengalami kesulitan untuk menemukan mension yang cukup jauh. Dia menekan tombol tidak lama seseorang membuka pintu.
"Maaf, nyonya. Anda siapa? Ada perlu apa anda mencari tuan muda"
"Aku Bai Xiao, aku ingin menjemput anakku"
"Silahkan masuk,Ny. Bai"
Bai Xiao ragu-ragu untuk masuk. Pelayan itu memintanya duduk.
"Silahkan tunggu, saya akan memanggil tuan muda "
Pelayan itu meninggalkannya. Bai Xiao pikir Li Huan Rui sudah berada di kantor, dia tidak menyangka pria itu meninggalkam pekejaan dan menemani putrinya. Bai Xiao menghela nafas, dia masih selalu merasa gugup dan takut setiap kali dia harus berhadapan dengan Li Huan Rui.
***
Tok tok tok
Li Huan Rui membuka matanya ketika mendengar suara ketukan pintu. Dia selalu tidur ringan sehingga dia mudah bangun jika mendengar suara. Li Huan Rui tidak ingin putri kecilnya terbangun. Dia segera bangun dan membuka pintu.
"Ada apa?"
"Itu...tuan muda, nyonya Bai datang untuk menjemput putrinya"
"Nyonya Bai?"
"Aku akan menemuinya, kau bisa kembali"
"Baik, tuan muda"
Gadis itu segera pergi. Li Huan Rui hendak membangunkan putrinya tapi dia tidak tega melihat putrinya yang tertidur pulas. Li Huan Rui akhirnya mengurungkan niatnya dan juga mungkin ini waktu baginya untuk berbicara berdua dengan Li Jiao. Li Huan Rui menutup pintunya dengan hati-hati.
***
"Li Jiao"
Bai Xiao yang sebelumnya menunduk kini mengangkat kepalanya, dia memandang Li Huan Rui yang memiliki rambut yang berantakan, kancing kemeja atasnya terbuka dan memperlihatkan sedikit dadanya yang bidang. Bai Xiao menghela nafas, berusaha untuk tidak merubah ekspresinya.
"Tuan Li, dimana putriku?"
"Dia masih tidur. Biarkan dia tidur dulu. Li Jiao.."
"Tolong berhenti memanggilku dengan sebutan itu,saya bukan Li Jiao. Berapa kali saya harus mengatakan pada anda"
"Baiklah, xiao xiao"
"Kami tidak akrab, tidak seharusnya anda memanggil saya dengan panggilan akrab seperti itu"
Li Huan Rui menghela nafas.
"Kenapa kau begitu rumit hanya tentang bagaimana caraku memanggilmu. Jadi bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Panggil aku nyonya Bai seperti yang lain?"
"Nyonya Bai? Itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin aku memanggil wanita yang akan aku nikahi dengan panggilan formal seperti itu"
"Apa yang kau katakan? Siapa yang akan menikah denganmu"
Li Huan Rui berjalan mendekati Bai Xiao. Kini dia berdiri di depan Bai Xiao. Dia menunduk dan menatap lurus pada Bai Xiao.
"Jadi apa kau tidak mau menikah denganku?"
Bai Xiao mengalihkan pandangannya tapi Li Huan Rui mencengkram dagunya dan memaksanya untuk menatapnya.
"Kenapa kau mengalihkan pandanganmu? Kau takut terpesona padaku?"
Bai Xiao menepis tangan Li Huan Rui.
"Tuan Li, jangan main-main"
Bai Xiao menatap tajam ke arah Li Huan Rui.
"Xiao Xiao, aku tidak main-main tentang apa yang aku katakan tadi. Aku akan menikahimu"
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Maka aku akan memaksamu"
Li Huan Rui dengan cepat mencium Bai Xiao saat wanita itu membuka mulurnya untuk mengatakan sesuatu.
**N/A: kira-kira Bai Xiao (Li Jiao) akan memerima Li Huan Rui lagi ? jika kalian diposisi Bai Xiao seperti apa sikap kalian?
terima kasih untuk semua dukungan para pembaca**
__ADS_1