
Bai Xiao mengigit bibir Li Huan Rui dengan kasar saat dia lengah, Bai Xiao segera mendorongnya dan menamparnya.
Li Huan Rui menghapus darah di bibirnya dan memegang pipi yang ditampar. Bai Xiao menatap tajam ke arah Li Huan Rui.
"Tuan Li, apa kau sudah gila? Kau tidak bisa memperlakukanku sebagai pelampiasanmu setelah pertunanganmu dan nona Si berakhir. Kau bahkan memaksa gadis yang telah kau buang untuk menikahimu, kenapa kau tidak mencari wanita lain? Apa mungkin tidak ada lagi wanita pasti banyak wanita yang mengantri untuk menikahimu"
"Xiao xiao, apa kau pikir aku, Li Huan Rui akan memilih sembarang wanita untuk aku nikahi?"
"Lalu katakan padaku, kenapa aku, wanita yang telah kau tinggalkan justru kau pilih untuk menikah denganmu"
'Itu karena aku mencintaimu'
Li Huan Rui ingin mengatakan kata itu tapi hal itu tidak tepat untuk saat ini. Wanita itu pasti tidak akan percaya padanya.
"Apa Yimin yang memintamu?"
"Ya"
Bai Xiao tersenyum pahit.
"Sudah aku duga"
Bai Xiao tahu dia memang tidak seharusnya berharap banyak, pria ini tidak pernah mencintainya tentu saja penikahan yang dia ajukan karena sebuah paksaan.
" Tuan Li, kau tidak perlu melakukan semua hal yang diinginkan Yimin jika itu permintaan yang tidak masuk akal"
"Tapi,aku sudah berjanji pada Yimin dan aku tidak ingin membuatnya kecewa"
"Kenapa kau harus menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin. Tuan Li, tidak mungkin bagiku untuk menikah denganmu"
"Kau masih menolak walau untuk kebahagiaan Yimin"
"Apa kau pikir Yimin akan bahagia dengan penikahan ini? Tuan Li, apa kau tidak memikirkan Yimin jika statusnya terungkap? Dan juga apa kau tidak memikirkan citramu jika menikahi seorang wanita yang sudah memiliki seorang anak apa kau pikir keluargamu akan menerima hal ini"
"Tapi, Yimin adalah anak kandungku aku yakin keluargaku akan menerimanya dan juga tentang penilaian publik aku tidak peduli dengan hal itu"
"Tetapi jika kau memang khawatir tentang hal itu aku bisa merahasiakan pernikahan kita dari publik untuk melindungimu dan Yimin"
Li Huan Rui mengulurkan tangan dan mengusap wajah Bai Xiao.
"Xiao xiao, Yimin menginginkan keluarga yang lengkap. Bagaimana jika kita saling melupakan keegoisan kita untuk kebahagiaan putri kita"
Bai Xiao terdiam. Dia tidak ingin terjatuh dalam masa lalu lagi tapi dia tahu bahwa Yimin pasti merindukan papanya. Bai Xiao menghela nafas.
"Papa"
"Yimin, kau sudah bangun?"
Yimin mendekati Li Huan Rui dan merentangkan tangan minta di peluk. Li Huan Rui mengendong gadis kecil itu.
"Yimin, ayo kita pulang"
"Mama, kau disini"
Yimin baru menyadari keberadaan mamanya.
"Yimin, Ayo pulang"
"Tidak mau, Yimin ingin tinggal bersama papa"
"Mama, tidak bisakah kita menginap disini malam ini?"
"Yimin, kau tidak bawa pakaian ganti bukan? Kenapa kita tidak pulang dulu dan mengemas pakaianmu?"
"Tidak. Jika Yimin pulang mama pasti tidak akan membiarkan Yimin menemui papa"
"Yimin,lebih baik kau pulang demgan mamamu dulu"
"Papa, apa papa tidak suka Yimin disini"
"Bukan seperti itu. Papa masih memiliki pekerjaan papa tidak bisa menemani Yimin. Besok papa akan menjemputmu"
"Kali ini papa tidak akan mengingkari janjikan?"
"Iya"
Yimin mengagkat jari kelingking.
"Papa janji"
"Ya"
Li Huan Rui mengaitkan jari kelingking.
"Baiklah"
Li Huan Rui lalu menurunkan Yimin dalam gendongannya.
"Papa, Yimin akan menelpon papa nanti. Papa harus menjawab mengerti?"
"Baiklah"
Bai Xiao memperhatikan ekspresi Yimin. Putrinya terlihat begitu bahagia bersama Li Huan Rui. Haruskah dia membuang semua egonya untuk kebahagiaan putrinya.
"Mama, Yimin mau ambil tas dulu"
"Papa akan ambilkan untukmu. Kau tunggu saja disini"
Yimin mengangguk. Li Huan Rui segera pergi.
"Mama, papa sangat baik pada Yimin. Kenapa mama tidak memafaakan papa dan menikah dengan papa lalu kita akan tinggal bersama di rumah ini"
Bai Xiao tidak mengatakan apapun. Dia ragu untuk menjawab karena ekspresi ceria yang ditunjukkan putri kecilnya.
Li Huan Rui kembali dan membawa tas milik Yimin.
"Terima kasih, papa"
"Ayo mama, kita pulang"
Yimin berjalan lebih dulu.
"Li Huanrui, aku setuju untuk memikah denganmu tapi ini hanya untuk Yimin "
Bai Xiao mengucapkannya dengan nada datar lalu pergi begitu saja. Otak Li Huan Rui tiba-tiba menjadi lambat untuk memahami apa yang dikatakan Bai Xiao.
__ADS_1
'Apa dia berubah pikiran"
Li Huan Rui tersenyum. Perubahan ini cukup baik sehingga dia tidak perlu cara ekstrim untuk menculiknya dan memaksanya menikah dengannya.
***
Keesokan harinya,
Li Huan Rui memenuhi janjinya unttuk datang ke mension milik Li Yongfan. Biasanya dia akan dilarang masuk tapi kali ini dia bisa masuk dengan mudah.
"Tuan muda tertua, nona muda sudah menunggu anda"
"Baiklah"
Sepertinya Yimin memperingatkan para penjaga ini untuk membiarkannya masuk. Li Huan Rui keluar dari mobil dan menekan bel. Pintu terbuka dan yang membuka adalah Li Yongfan.
"Ayah"
"Masuklah, sebelum kau membawa cucuku, ada yang ingin aku bicarakan padamu"
"Baiklah"
Li Huan Rui masuk dengan ragu-ragu. Li Huan Rui berjalan mengikuti Li Yongfan.
"Papa"
Yimin yang melihat papanya dengan segera menuruni tangga.
"Yimin, hati-hati"
Li Huan Rui memegang tangan Yimin yang terulur ke arahnya.
"Papa, apa kita akan pergi sekarang? "
"Papa harus bicara dulu dengan kakekmu baru setelah itu kita pergi "
"Baiklah, kakek. Jangan lukai papa lagi ya"
Li Yongfan tidak menjawab dan langsung pergi. Li Huan Rui mengusap rambut Yimin sebelum pergi mengikuti Li Yongfan.
Mereka berada di ruang kerja Li Yongfan.
"Bai Xiao sudah mengatakan tentang rencana pernikahan kalian. Aku kau mencintai Bai Xiao?"
"Apa hal ini penting?"
"Tentu saja, pasangan harus saling mencintai untuk menikah"
Li Huan Rui tersenyum pahit, dia memang mencintainya tapi wanita itu tidak pernah mencintainya.
"Papa, pernikahan bukan hanya tentang cinta. Bukankah papa Fan dan mamaku juga pernah menikah walaupun tidak ada cinta diantara kalian"
"Li Huanrui, hubunganku dan mamamu tidak..."
"Papa Fan tenang saja, aku tidak akan meninggalkannya, aku tidak akan mengkhianatinya seperti yang papa fan lakukan pada mama. Walaupun pernikahan kami tidak berlandaskan cinta"
Li Yongfan dapat melihat keseriusan dimata Li Huan Rui. Dia memang dapat mempercayai Li Huan Rui bagaimanapun Li Huan Rui bagitu mirip dengan Li Yongsheng. Mereka juga bukanlah orang yang suka bermain-main dengan wanita.
"Ya, aku percaya padamu tapi bagaimana jika kau melanggar janjimu dan memberikan rasa sakit pada Xiao "
Li Yongfan terkejut dengan apa yang dikatakan Li Huan Rui. Dia tidak menyangka Li Huan Rui akan serius seperti ini.
"Baiklah, aku percaya padamu. Kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan?"
"Kami hanya akan mendaftarkan surat nikah. Tidak ada pesta"
"Apa kau ingin merahasiakan hubungan kalian dari publik dan juga keluargamu"
"Aku rasa lebih baik begitu untuk saat ini. Aku masih belum memiliki kekuatan jika ada orang yang menyerang mereka saat tahu status mereka"
"Aku mengerti. Kau bisa pergi"
Li Huan Rui lalu meninggalkan ruang kerja.
***
"Kakak, apa kau benar-benar akan pergi?"
Gadis kecil itu- Xia Hua merasa sedih. Dia hanya memiliki Yimin yang paling dekat dengannya. Yimin tidak tega melihat gadis kecil yang sudah dia anggap sebagai adiknya sedih. Yimin memeluknya.
"Jangan sedih. Kau sudah bisa membaca dan menulis buka.Kita masih bisa berkirim pesan?"
Yimin membawa tasnya dan keluar dari kamarnya. Mamanya sudah berada di depan kamarnya. Dia mengambil alih tas yang dibawa Yimin.
"Biar papa yang membawanya"
"Terima kasih, mama"
"Xiao Yi, jaga dirimu"
"Terima kasih, paman kecil"
Yimin menberikan ciuman di pipi paman kecilnya. Li Zhiting menarik Yimin dalam pelukannya.
"Aku akan merindukanmu"
"Paman kecil, aku masih di H city. Kau masih bisa mengunjungiku"
Yimin melepaskan pelukan paman kecilnya.
"Paman, jaga Xiao Hua ya selama aku pergi"
"Kenapa aku harus menjaganya?"
"Paman, Xiao Hua sudah seperti saudara perempuanku. Dia juga sudah menjadi keponakanmu jadi paman harus baik padanya"
"Ya, aku mengerti. Aku akan melakukan apapun untuk Xiao Yi tersayang"
Yimin lalu turun ke bawah. Di sana sudah ada nenek, kakek, mama dan papanya. Yimin berpamitan pada kakek dan neneknya. Lalu pergi ke luar bersama mama dan papanya.
***
Li Huan Rui melajukan mobil menuju ke arah biro urusan sipil di H city.
"Yimin, apa kau ingin ikut masuk?" Li Huan Rui bertanya pada putri nya.
__ADS_1
"Tidak"
"Baiklah, tunggu disini"
"Papa, bolehkah Yimin meminjam ponseo untuk bermain game"
Li Huan Rui memberikan ponselnya pada Yimin. Dia lalu mengajak Bai Xiao untuk keluar dari mobil. Pria itu meraih tangannya dan mengenggamnya.
Bai Xiao tersentak kaget dengan kehangatan di tangannya.
"Kita harus menununjukkan sikap sebagai pasangan bukan?"
Bai Xiao melepaskan genggaman Li Huan Rui dengan kasar.
"Tidak perlu melakukan ini lagipula untuk siapa kita bertindak sebagai pasangan"
Li Huan Rui menghela nafas saat tangan lembut itu berpisah dari tangannya. Gadis ini sudah berubah begitu banyak, di masa lalu saat kencan pertama mereka, dia tidak menolak saat dia mengenggam tangannya tapi sekarang dia dengan kasar melepaskan genggaman tangannya.
Li Huan Rui dan Bai Xiao mengurus surat-surat pernikahan mereka lalu mengambil foto. Li Huan Rui menoleh ke arah Bai Xiao, dia mendekatkan bibirnya di telinganya.
"Aku tahu kau tidak menerima pernikahan ini tapi setidaknya bisakah kau berpura-pura bahagia dan tersenyum di foto pernikan kita yang hanya satu kali seumur hidup"
Li Huan Rui merasa tidak puas. Dia tidak ingin foto yang terpasang di buku merah mereka adalah wajah Bai Xiao yang memiliki ekspresi terpaksa. Hatinya akan sakit jika melihat foto yang menunjukka keengganan wanita itu untuk menerimanya hingga dia harus memaksanya dengan mengatas namakan keinginan putri mereka. Dia juga tidak ingin rasa diingatkan dengan rasa bersalahnya karena memaksa agar dia terikat padanya.
"Kenapa kau begitu meributkan foto yang akan di pasang untuk buku nikah sementara yang hanya bertahan beberapa tahun saja"
"Apa yang kau katakan? Buku merah itu bukti pernikahan seumur hidup. Kau akan tetap menjadi istriku seumur hidupku"
"Begitukah, bukankahkah pada akhirnya kita akan bercerai"
"Bai Xiao, kita baru saja mengurus surat nikah dan kau sudah berpikir untuk menggantinya dengan akta cerai? Jangan berpikir tentang perceraian tidak akan pernah ada kata perceraian"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan tenang walau di dalam hatinya dia merasa kesal. Li Huan Rui tidak berniat bermain-main dalam perceraian yang mungkin akan berpengaruh bagi hubungan yang buruk antara mereka berdua dan juga berdampak pada putri mereka juga. Sudah 8 tahun Yimin berpisah darinya, dan itu akan menjadi tekanan untuknya jika harus melihat ayah dan mamanya berpisah. Dia sudah pernah mengalaminya di masa lalu dan dia tidak ingin putrinya harus tertekan untuk memilih mamanya atau papanya.
Bai Xiao tidak tahu apa Li Huan Rui akan menepati apa yang dia katakan. Walaupun dia bersyukur jika dia tidak akan menceraikannya walau tidak ada cinta dalam penikahan mereka. Ketika dia masih Li Jiao, dia sudah mengalami dampak dari perpisahan orang tuanya di masa lalu. Bahkan jikapun mereka akan berpisah, Bai Xiao akan memaksa Li Huan Rui untuk masih memberikan perhatian dan waktu untuk putranya sebagai syarat dari pernikahan. Bai Xiao tidak mengharapkan cintanya yang dia ingin hanyalah kebahagiaan putrinya.
"Maaf,tuan dan nyonya. Bisakah kita mengambil foto sekarang?"
Fotografer itu merasa sedikit kesal karena keduanya justru saling berbisik-bisik.
"Ya, lakukan"
"Ingatlah untuk menunjukkan wajah bahagiamu"
Li Huan Rui berbisik sebelum akhirnya dia menghadap ke kamera. Fotografer itu mulai menganbil gambar.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapatkan buku merah. Li Huan Rui tersenyum puas dengan fotonya. Sepertinya wanita ini sudah berusaha keras untuk tersenyum.
Mereka kembali ke mobil. Ketika meraka masuk Yimin sudah tertidur. Mungkin dia merasa bosan dan akhirnya tidur. Li Huan Rui mengendarai mobilnya menuju ke mension.
Ketika tiba dia menggendong Yimin ke kamarnya. Dia sudah meminta pelayan untuk menyiapkan kamar. Bai Xiao mengikutunya dan membawa tas Yimin.
"Kau tidak harus membawanya sendiri, ada pelayan bukan?"
"Tidak apa-apa. Aku lebih suka melakukan hal yang bisa aku lakukan sendiri"
Li Huan Rui dan Bai Xiao keluar dari kamar Yimin.
"Aku akan mengantarmu ke kamar"
"Aku akan mengambil barangku"
"Permisi, nona. Kami sudah membawa barang anda ke kamar utama"
Kedua pelayan itu melaporkan padanya.
"Apa aku akan tidur di kamar utama?"
Li Huan Rui meminta kedua pelayan itu pergi. Pelayan itu melangkah pergi.
"Apa kita akan tidur di kamar yang sama?"
"Tentu saja. Kita sekarang suami dan istri sudah seharusnya kita tidur di kamar yang sama. Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar kita"
Bai Xiao ragu-ragu untuk mengikutinya. Dia pikir mereka akan tidur di kamar terpisah. Mereka kini berada di kamar yang luas.
"Aku sudah menata pakaianku agar kau bisa meletakkan pakaianmu atau jika tidak cukup maka aku akan menyediakan almari baru"
"Baiklah"
Li Huan Rui mengambil dompetnya dan memberikan black card padanya.
"Sebagai nyonya maka aku akan memberikan tangung jawab pengaturan keuangan padamu. Kau bisa membeli apapun dan setiap hal yang berhubungan dengan rumah ini aku percayakan padamu"
"Apa tidak apa-apa wanita sepertiku diberi tangung jawab ini?"
"Kau adalah nyonya rumah ini tentu saja ini sudah kewajibanmu. Terimalah"
Bai Xiao dengan ragu-ragu menerimanya.
tok tok tok
"permisi tuan"
"masuk"
Seorang wanita masuk ke dalam rumah. Wanita itu terlihat berusia 40-an.
"Dia kepala pelayan Su, kau bisa berdiskusi dengannya untuk pengaturan kebutuhan rumah. Kepala pelayan Su, dia adalah nyonya rumah ini jadi kau harus memuruti peruntahnya"
"Baik, tuan"
"Aku harus pergi ke kantor"
"Ini hari libur kau kasih pergi bekerja"
"Ya, aku akan pergi sebelum makan malam"
Li Huan Rui lalu meninggalkannya.
"Nyonya, apa ada sesuatu yang anda pelukan?"
" Tolong berikan aku laporan pengeluaran rumah ini"
"Baik Nyonya"
__ADS_1
Bai Xiao tidak menyangka Li Huan Rui akan memberikan tangung jawab ini dan mrnjadikannya nyonya rumah ini yang seharusnya menjadi milik Helena.