
"Tuan Li"
"Um"
Li Huan Rui yang sedang memilih pakaian hanya menanggapinya tanpa memandangnya.
"Aku berencana menambahkan anggaran untuk kebutuhan Yimin "
"Tidak masalah. Kau bisa juga menambahkan untuk dirimu juga"
"Tidak diperlukan. Walaupun uangku tidak banyak tapi aku masih memiliki uang tabungan"
"Simpan saja uang tabunganmu itu. Kau bisa menggunakan uangku untuk menbeli apapun yang kau mau. Anggap saja ini kompensasi dariku karena memaksamu untuk menikah denganku"
"Aku tidak perlu kompensasi. Aku melakukan ini hanya untuk kebahagiaan putriku"
"Terserah kau saja. Semua hal yang berhubungan dengan keungan di rumah ataupun pribadi semua bisa kau atur sesukamu"
Li Huan Rui menanggapinya dengan dingin. Li Huan Rui mengambil pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi. Bai Xiao meninggalkan kamar itu dan pergi duluan untuk sarapan.
"Mama, dimana papa"
Yimin lebih dulu berada di ruang makan. Gadis kecil itu menggunakan sweeter merah muda dengan rok panjang.
"Dia sedang bersiap-siap"
Setelah menunggu beberapa menit, Li Huan Rui turun. Dia menggunakan sebuah kemeja berwarna hitam yang dilapisi jaket. Mereka akhirnya sarapan bersama. Lalu setelah selesai mereka segera menuju ke mobil. Bai Xiao dengan canggung duduk di kursi penumpang depan. Susana manjadi sunyi. Yimin tidak suka kesunyian, jadi dia terus berbicara mecah kesunyian dengan menceritakan banyak hal atau kadang bernyanyi.
Butuh waktu lama untuk menempuh perjalanan ke kebun binatang. Yimin merasa lelah lalu tertidur. Suasana menjadi cangung diantara dua orang yang duduk di depan. Li Huan Rui bukanlah orang yang banyak bicara, biasanya Helenalah yang sering memecah keheningan diantara mereka. Bai Xiao juga bukan orang yang banyak bicara, mungkin jika Yimin tidak dibesarkan dalam perawatan Mo An An yang ceria , putrinya akan menjadi sepertinya yang pendiam dan tertutup. Li Huan Rui tidak tahan dengan kecangu gan dan kesunyian. Akhirnya dia memutuskan menyalakan radio di mobil. Dia sedikit mengecilkan volume agar tidak menganggu tidur putrinya. Alunan musik lembut terdengar , lagu yang diputar adalah lagu milik GEM Love Finds Away
Xiàng zuì tiānzhēn de háizi yīyàng céng yǐwéi bào jǐn wǒ nà shuāng jiānbǎng huì yǒngyuǎn zài shēn páng
(Seperti anak yang paling naif
Saya pikir saya memegang bahu saya erat-erat
Akan selalu berada di sisiku)
Shíjiān xiàng zuì xiōngyǒng de jù làng wǒmen zài xuányá shàng cùnbù yě jiānnán dàn ài shì bù huítóu de liúlàng shuāngyǎn ruò kū gàn jiù shuì yī chǎng
(Waktu seperti gelombang raksasa yang paling bergejolak
Kami juga berjuang di tebing
Tapi cinta tidak berkeliaran
Jika Anda menangis, Anda akan tidur)
Yánshí lǐ de huā huì kāi líkāi de nǐ huì huílái hēiyè zài màncháng yǎnlèi zài liútǎng jǐn wò nǐ de shuāngshǒu jué bù fàng yánshí lǐ de huā huì kāi juéjiàng de wǒ huì děngdài wú huǐ de děngdài shì wǒ duì nǐ wúshēng de gàobái
(Bunga-bunga di batu akan mekar
Anda pergi, akan kembali
Malam panjang, air mata mengalir lagi
Pegang tangan Anda erat-erat
Bunga-bunga di batu akan mekar
Keras kepala aku akan menunggu
Tunggu tanpa penyesalan
Ini pengakuan diam saya kepada anda)
Awúguān Xiàng chén rù bù jiàn dǐ dì hǎiyáng fán nào shìjiè lǐ de cháo luòcháo zhǎng yǔ wǒ tòngyǎng wúguān
(Seperti tenggelam ke lautan tanpa dasar
Pasang surut di dunia yang sibuk
Tidak ada hubungannya dengan saya)
Juéjiàng shì bù bèi lǐjiě de yǒnggǎn dāng shìjiè yībiàn biàn quàn wǒ tóuxiáng wǒ què bùcéng juéwàng
(Keras kepala adalah keberanian yang tidak dimengerti
Ketika dunia membujuk saya untuk menyerah berulang-ulang
Saya tidak pernah putus asa)
Sīniàn xiàng bèi zhéduàn de chìbǎng liúluò huíyì lùshàng fēi bù chū guòwǎng yǐ bǎ nǐ làoyìn zài wǒ xīn shàng jīnyè yīgè rén yě bù
(Hilang seperti sayap yang patah
Saya tidak bisa terbang melewati jalan kenangan
Telah menanamkan Anda di hati saya
Malam ini saja tidak sendirian)
Yánshí lǐ de huā huì kāi líkāi de nǐ huì huílái hēiyè zài màncháng yǎnlèi zài liútǎng jǐn wò nǐ de shuāngshǒu jué bù fàng yánshí lǐ de huā huì kāi juéjiàng de wǒ huì děngdài wú huǐ de děngdài shì wǒ duì nǐ zuì fēngkuáng de ài
(Bunga-bunga di batu akan mekar
Anda pergi akan kembali
Malam panjang, air mata mengalir lagi
Pegang tangan Anda erat-erat
Bunga-bunga di batu akan mekar
Keras kepala aku akan menunggu
Tunggu tanpa penyesalan
Apakah cintaku yang paling gila untukmu)
Li Huan Rui mencengkram erat stir kemudi, perasaan bergejolak memenuhi hati Li Huan Rui ketika mendengar lagu ini. Kenangan tentang kehidupannya saat Li Jiao meninggalkannya. Ketika dia harus menunggu dengan penuh keyakinan walaupun orang-orang memintanya untuk menyerah, mengatakan tentang dia yang tidak akan pernah kembali. Namun dia yakin dia akan kembali padanya. Bahkan walau kini dia telah berada disisinya tapi dia masih harus menunggunya. Dia harap hatinya yang sekeras batu akan ada cinta untuknya suatu saat nanti. Seperti bunga-bunga yang akan bermerkaran di batu. Dia tahu bahwa dia tidak bisa mengubah kenangan buruk yang akan terjadi pada mereka. Li Huan Rui melirik ke arah Bai Xiao yang menunjukkan sikap tenang. Dia akan menunggunya sampai dia membuka hatinya kembali padanya. Dia akan dengan sabar menunggu hingga hari itu tiba.
***
__ADS_1
Mobil Audi milik Li Huan Rui terparkir di dekat kebun binatang. Yimin sudah bangun dan dia turun dari mobil dengan penuh semangat. Dia mengandeng mama dan papanya lalu mereka masuk ke kebun binatang.
"Apa itu panda, sangat mengemaskan"
Yimin tersenyum senang melihat panda kecil dan panda besar. Yimin terlalu bersemangat hingga dia tidak sadar melepaskan tangan orang tuanya dan berlari. Li Huan Rui mengejar gadis kecil itu dan menggendong nya.
"Papa"
"Papa tahu kau bermangat tapi kau tahu bukan bahwa kau tidak boleh kelelahan"
"Maaf, papa"
Bai Xiao mengikuti mereka dengan susah payah. Bai Xiao tidak pendek, dia cukup tinggi dengan tinggi 168 cm tapi kaki langkah kaki Li Huan Rui terlalu panjang membuatnya sulit untuk mengikuti langkahnya. Li Huan Rui menyadari bahwa Bai Xiao masih tertinggal di belakang. Dia berhenti dan menunggunya. Ketika Bai Xiao sudah berada di sampingnya, Li Huan Rui meraih tangannya dan mengenggamnya. Bai Xiao terkejut, dia berusaha untuk melepaskan tanganya namun Li Huan Rui menahannya.
"Kita harus bertindak seperti pasangan"
Dia berbisik di telinga Bai Xiao.
"Papa, apa yang kau katakan pada mama?"
"Tidak, bukan apa-apa"
Li Huan Rui mengenggam erat tangan Bai Xiao dan gadis itu tidak melepaskan tangannya lagi. Li Huan Rui diam-diam tersenyum. Dia jadi teringat saat kencan pertama mereka.
"Papa, apa itu singa?"
"Ya"
Yimin merasa senang bisa melihat binatang-binatang yang sebelumnya hanya bisa dilihatnya di buku ataupun film dokumenter kini ada di depan matanya. Dia akan menceritakan hal ini dengan bangga pada teman-temannya.
Setelah puas untuk melihat-lihat binatang. Mereka pergi makan siang. Bai Xiao membawakan makanan dari rumah karena Bai Xiao khawatir jika Yimin makan makanan sembarangan.
Mereka pergi ke taman untuk menikmati makan siang mereka. Bai Xiao membuka termos yang berisi sup. Musim gugur yang dingin bukankah lebih baik untuk makan makanan yang hangat. Mereka menikmati makan siang mereka dan memandang daun-daun yang berubah warna di sepanjang taman.
Bai Xiao tidak lupa untuk mengingatkan Yimin minum obatnya. Yimin tidak menyukai setiap kali dia harus minum obat yang pahit. Namun dia tidak punya pilihan lain selain minum obat.
"Permisi, Biarawati Bai?"
Seorang wanita datang mendekatinya.
"Ah, ternyata benar ini anda. Saya mencari anda di kuil tapi saya kata biarawan lain anda tidak datang lagi ke sana"
"Iya. Saya ingin merawat putriku"
Wanita itu memandang ke arah gadis kecil yang duduk disamping Bai Xiao.
"Oh, putrimu sangat cantik seperti dirimu"
"Yimin katakan hallo pada bibi"
"Hallo, bibi. Saya Li Yemin"
"Hallo. Biarawati Bai, ini adalah putriku. Sesuai janji saya, saya ingin mempertemukan putri saya pada anda setelah dia sembuh"
"Hallo, bibi"
Gadis kecil itu menyapa Bai Xiao. Kedua wanita itu saling mengobrol. Li Huan Rui hanya diam mendengarkan. Dia merasa heran ketika mendengar wanita itu memanggil Bai Xiao dengan sebutan 'Biarawan Bai' , apa Bai Xiao pernah menjadi seorang biarawan? Apa dia tinggal di kuil.
Li Huan Rui ingin menanyakan hal itu tapi dia ragu-ragu. Wanita yang mengobrol bersama Bai Xiao lalu memandang ke arah Li Huan Rui.
Bai Xiao ragu-ragu untuk menjawab.
"Saya suaminya"
"Eh? Biarawan Bai, anda sudah menikah? Mungkinkah karena itu anda keluar dari kuil? Anda benar-benar diberkati dewa dengan suami yang tampan dan muda"
Bai Xiao tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Memiliki suami yang tampan dan berasal dari keluarga kelas atas memang hal yang patut di syukuri untuk setiap wanita tapi haruskah dia bersyukur juga karena dipersatukan dengan pria yang menikahinya tanpa cinta dan hanya membuatnya mengingat masa lalu yang menyakitinya. Jika dia bisa, dia berharap menikah dengan pria yang biasa saja dan hidup dengan sederhana.
Wanita itu lalu berpamitan untuk pergi.
***
Li Huan Rui mengendarai mobil pulang ke rumah, sesekali dia melirik ke arah Bai Xiao ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu. Dia akhirnya memandang putrinya lewat kaca.
"Yimin, apa kau ingin pergi ke suatu tempat sebelum kita pulang"
"Tidak papa"
Yimin menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Saat ini gadis kecil itu sedang asik bermain game terbaru di ponsel papanya. Li Huan Rui tidak mengatakan apapun lagi.
Mereka akhirnya tiba di rumah, Yimin mengembalikan ponsel papanya lalu pergi ke kamarnya. Bai Xiao juga langsung pergi ke kamarnya, Li Huan Rui ingin mengikuti Bai Xiao tapi dia mengurungkan niatnya karena dia masih memiliki pekerjaan. Dia langsung pergi ke ruang kerjanya yang berada di lantai 3.
Di dalam kamarnya Yimin menghubungi Liu Yaoshan.
"Hallo, Liu Yaoshan"
"Ada apa?"
Yimin menceritakan jalan-jalannya tadi di kebun binatang. Liu Yaoshan hanya diam tanpa menyela ceritanya.
"Hei, Liu Yaoshan kenapa kau tidak ajak ayahmu untuk pergi liburan sama sepertiku mungkin hubunganmu dan papamu akan lebih baik"
"Itu tidak mungkin. Kami tidak bisa pergi keluar dengan bebas"
"Kenapa?"
"Kau tidak akan mengerti jika aku ceritakan padaku"
Bank bank (suara tembakan)
"Bunyi apa itu?"
"Aku harus menutup telpon"
Liu Yaoshan lalu mematikan telpon. Yimin merasa heran dengan suara yang dia dengar bahkan Liu Yaoshan menutup telpon dengan terburu-buru. Anak laki-laki itu memang misterius. Bai Xiao hendak meletakkan ponselnya ketika ponselnya bergetar. Dia tersenyum melihat Xia Hua menelponnya.
"Hallo, Hua hua"
Yimin mengobrol banyak hal dengan Xia Hua. Xia Hua mengeluh padanya tentang soal sulit yang diberikan padanya.
"Kenapa kau tidak minta bantuan paman kecil"
"Brother Li terlihat sibuk, aku tidak ingin menganggunya. Aku takut dia marah"
__ADS_1
"Hei, jika dia marah maka kau bisa menunjukkan wajah imut untuk menbujuknya"
"Apa itu akan berhasil?"
"Tentu saja. Aku selalu melakukan hal itu"
"Tapi, bagaimana cara membuat wajah imut"
"Kau hanya perlu menatapnya dengan memohon. Cobalah cobalah"
Tok tok tok
'Brother Zhiting, aku...'
'Aku sibuk, jangan mengangguku'
Yimin dapat mendengar suara teriakan paman kecilnya.
"Aku belum melakukan wajah imut tapi dia sudah marah"
"Aku akan membujuk paman kecil. Aku akan menelponnya"
Yimin menghubungi paman kecilnya. Tidak butuh waktu lama telponnya di jawab.
"Hallo"
"Paman kecil, apa kau sibuk?"
"Tidak, ada apa?"
"Paman kecil, kenapa kau menolak untuk mengajari hua hua"
"Dia terlalu bodoh. Dia tidak juga paham penjelasanku. Dia hanya menatapku dengan ekspresi bodohnya, dia tidak paham juga"
"Paman kecil, kemampuan seseorang berbeda-beda, hua hua memang lambat dalam menyerap tapi dia pasti juga berusaha keras untuk memahami penjelasanmu. Paman kecil, tolong bantu dia ya"
"Baiklah, karena keponakan kesayanganku yang memintanya maka aku akan melakukannya"
"Terima kasih paman kecil. Yimin menyayangimu"
"Aku juga"
Yimin lalu beralih untuk menghubungi Xia Hua.
"Aku sudah memberi tahu paman kecil, Xia Hua, semangat"
"Terima kasih, kakak"
Yimin lalu mematikan telpon. Dia merembahkan tubuhnya dan tidur.
***
Li Huan Rui menyelesaikan pekerjaannya. Dia pergi ke kamar dan melihat Bai Xiao serius menulis sesuatu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Membuat anggaran"
Li Huan Rui duduk di sebelahnya. Dia melihat apa yang di tulis Bai Xiao. Dia menulisnya dengan detail.
"Istriku"
Bai Xiao tidak bereaksi selama beberapa detik.
"Um"
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau menjadi biarawati dan tinggal di kuil"
"Ya"
"Berapa lama kau tinggal disana?"
"8 tahun"
"Apa kau meninggalkan Yimin?"
"Ya, tapi aku terpaksa melakukannya"
"Kenapa?"
"Aku harus menebus dosaku "
"Penebusan dosa? "
"Ya"
Li Huan Rui menghela nafas.
"Lalu apa pemalsuan kematianmu juga bagian dari penebusan dosa"
"Benar, wanita seperti Li Jiao yang terobsesi dengan tunangan kekasihnya dan melakukan hal rendahan untuk merayu tunangan temannya bukankah gadis seperti itu tidak pantas hidup? "
"Jiao"
"Jangan sebut nama wanita itu lagi. Dia sudah mati tidak akan pernah ada wanita pendosa seperti Li Jiao lagi"
Li Huan Rui merasa bersalah. Dia telah menbuat wanita ini menyalahkan dirinya sendiri dan menanggung dosa akibat hubungan terlarang mereka.
"Maaf"
Bai Xiao menoleh ke arahnya. Mata hitamnya yang dingin bertemu dengan tatapan mata cokelat tua yang diliputi perasaan bersalah. Bai Xiao mengalihkan pandangannya.
"Li Jiao"
"Aku bukan Li Jiao. Aku Bai Xiao"
"Li Jiao...Li Jiao, maaf"
"TUAN LI, SUDAH AKU BILANG BAHWA AKU BUKANLAH LI JIAO. SESEORANG BERNAMA LI JIAO SUDAH TIDAK ADA LAGI DI DUNIA INI. TIDAK ADA GUNANYA KAU MEMANGGILKU LI JIAO DAN MINTA MAAF PADAKU"
Bai Xiao membenci nama itu khususnya saat pria didepannya ini yang mengucapkannya. Dia benci setiap kali dia mengingat nama Li Jiao yang menbuatnya teringat tentang opsesinya pada pria itu, tentang kesalahan yang dia lakukan yang justru membuat tuhan memberikan hukuman melalui putrinya. Dia membenci nama itu. Dia tidak ingin berada dalam banyangan Li Jiao lagi.
A/N: Lirik lagu aku ambil dari ini http://googleweblight.com/i?u\=http://sapolyrics.blogspot.com/2018/12/lirik\-lagu\-love\-finds\-way\-gem.html?m%3D1&hl\=id\-ID
__ADS_1
walau di web itu ada terjemahan indo dan inggris tapi aku ambil huruf cina nya dan aku terjemahin dengan google translate. jika kalian tertarik dengan lagunya bisa melihat di blog itu ada videonya juga. lagunya sedih.
Terima kasih semuanya