Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Side Story part 19 Tiga tahun kemudian ( Kegelisahan)


__ADS_3

 "An, bukankah lebih baik kita pergi ke rumah sakit? Atau biarkan aku memanggil dokter untuk memeriksamu"


Li Yongfan merasa khawatir karena melihat  isrtrinya yang lemas dan sering mual.


"Aku hanya sakit karena kelelahan, jangan khawatir, mungkin dengan tidur aku merasa lebih baik"


Li Yongfan menghela nafas.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan"


"Aku harus berangkat ke kantor, jika  terjadi sesuatu kau bisa menghubungi ku"


Mo An An mengangguk, Li Yongfan mendekatinya untuk mencium nya tapi Mo An An menghindar karena merasa mual, wanita itu segera bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Li Yongfan menghela nafas.  Dia sedikit kesal, sebenarnya sakit apa yang dialami istrinya hingga dia selalu saja mual saat dia mendakat, sungguh penyakit yang aneh. Li Yongfan lalu pergi meninggalkan ruangan.


***


Li Yongfan sedang mengadakan rapat, ketika ponselnya berbunyi. Li Yongfan biasanya selalu mematikan ponselnya saat rapat tapi karna istrinya sedang sakit, dia khawatir terjadi sesuatu jadi dia sengaja menyalakan ponselnya. Li Yongfan menunda rapat dan menjawab telpon. Kerutan terbentuk di dahinya. Li Yongfan segera menyudahi rapat dan meminta wakil direktur menangani urusannya. 


Li Yongfan segera pulang ke rumah. Dia segera pergi ke kamar , saat itu dokter sedang meriksanya.


"Dokter, bagaimana kondisinya? "


"Direktur Li, kondisi istri anda terlalu lemah karena kekurangan nutrisi dan juga terlalu banyak yang dipikirkan. Saya harap anda lebih memperhatikan istri anda agar tidak terjadi sesuatu dengan bayi di janinnya"


"Bayi? Apa istri saya hamil"


"Menurut pemeriksaan saya seperti itu, jika anda belum yakin pada saya maka anda bisa pergi ke dokter kandungan"


Dokter itu lalu memberikan resep yang berisi vitamin. Dokter itu lalu permisi pergi. Li Yongfan masih berdiri diam.


"Istri, apa kau benar-benar hamil? Apa kita akan memiliki anak?"


Mo An An mengangguk dengan ragu.


"Tapi, bukankah kau bilang kau sulit untuk hamil. Istri, aku akan mengatur jadwal dengan dokter. Kita akan memperiksa kandungmu"


Wajah antusias Li Yongfan berubah menjadi kekhawatiran. Dia takut jika kehamilan ini akan berbahaya untuk istrinya.


***


Li Yongfan dan Mo An An berada di klinik bagian kandungan. Dokter itu memeriksa Mo An An.


"Dokter, bukankah istri saya sulit hamil. Apakah kehamilan ini akan berdampak pada kesehatannya"


"Sebenarnya ini cukup berisiko tapi jika anda menjaganya dengan baik tidak akan terjadi apapun"


Dokter itu memberi beberapa saran, Li Yongfan mendengarnya dengan baik.


***


"Jiao jiao, mama punya kabar baik untukmu, kau akan memiliki seorang adik"


"Seorang adik?"


"Benar, ada bayi di perut mamamu"


Li Jiao terdiam. Dia hanya memunjukkan ekspresi datar seperti biasa sehingga Mo An An dan Li Yongfan tidak bisa membaca apa yang putri mereka pikirkan.


"Jiao, papa harap kau bisa membantu papa merawat mamamu"


Jiao mengangguk.


"Baik papa"


***


"Li Jiao...Li jiao"


Li Jiao tersadar dari lamunamnya ketika guru han meminggikan nada suaranya.


"Ya, Guru Huang"


"Jiao, kau adalah siswi yang aku banggakan tapi bukan berarti kau bisa mengabaikan pelajaranku dan melamun"


"Baik bu , maaf"


"Tutup buku kalian. Kita akan mulai ulangan"


Guru Huang membagikan soal ulangan, Li Jiao tidak mendengar apa yang di jelaskan guru Han tadi. Namun dia berusaha mengingat penjelasan sebelum dia melamun.


***


"Jiao, apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit?"


Helena meletakkan tangannya di dahi Jiao dengan khawatir. Li Jiao mengeleng pelan.


"Tidak, aku tidak apa-apa"


"Li Jiao , Guru Huang memintamu datang ke kantor nya"


Seorang siswi memberi tahu  Li Jiao.


"Helena, aku pergi dulu"


Li Jiao meninggalkan kelas dan menuju ke ruang guru Huang. Dia menghela nafas sebelum mengetuk pintu ruang guru Huang.


"Permisi guru Huang"


Guru Huang saat ini sedang menilai ulangan para siswanya. Dia lalu berhenti dan meminta Jiao duduk.


"Li Jiao, apa terjadi sesuatu?"


"Tidak bu?"


"Benarkah? Lalu kenapa nilaimu menurun drastis"


Jiao terdiam.


"Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya tapi tolong fokus mulai sekarang. Bagaimanapun ujian kelulusan sudah dekat"


"Saya mengerti"


"Kau bisa kembali"


Li Jiao keluar dari ruang guru Han. Li Jiao tidak kembali ke kelas, dan memilih pergi ke taman belakang sekolah. Taman ini memberikan kesejukan karena ada banyak pepohonan. Walau taman ini indah tapi jarang dikunjungi. Li Jiao menghela nafas.


  Li Jiao mengingat wajah bahagia papanya saat memberi tahu kepadanya bahwa Jiao akan memiliki seorang adik. Semua orang antusias untuk menyambut adik baru yang belum lahir bahkan kakek dan neneknya yang selalu bersikap dingin padanya dan ibunya justru jadi perhatian dengan mamanya. Mungkin kah papa dan mamanya masih memperhatikan nya saat adiknya lahir, apa dia masih bisa menerima fasilitas yang dia dapatkan saat ini atau papanya akan memarik semua fasilitasnya dan mengabaikannya karena mereka tidak terhubung darah sekarang anak yang berhubungan darah dengan papanya akan lahir.Haruskah dia mulai mencari pekerjaan tapi pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh seorang gadis kecil untuk nya. Jiao tiba-tiba memikirkan sesuatu karena dia sudah bisa membaca maka dia bisa menjadi pengantar koran itu.


"Aku tidak menyangka anak rajin seperti mu akan membolos pelajaran"


Li Jiao meragukan suara rendah dan dingin yang dia dengar. Dia menoleh dengan ragu, pandangan nya terarah pada Li Huan Rui yang bersandar di pohon.


"Sepertinya kau tidak hanya tiba-tiba menjadi gadis bodoh tapi juga menjadi gadis nakal ya "

__ADS_1


Li Huan Rui memberikan senyum mengejek.  Jiao menghela nafas, dia tidak ingin Li Huan Rui melihat hal buruk  tentangnya. Li Jiao berdiri.


"Kau mau kemana?"


"Kembali ke kelas. Aku bukan gadis nakal seperti apa yang kau katakan"


"Guru yang mengajar saat ini adalah Guru Bao. Apa kau pikir dia akan mengijinkanmu masuk begitu saja"


Li Huan Rui duduk di tempat duduk yang digunakan Jiao tadi.


"Sepertinya membolos sesekali tidak masalah. Duduklah"


Li Jiao kembali duduk dengan canggung. Li Jiao tidak berani menoleh ke arah Li Huan Rui yang berada disampingnya. Walaupun dia sering melihat Li Huan Rui tapi dia tidak pernah sedekat ini.


"Tentang nilaimu...."


"Kau pasti sengaja mendapat nilai rendah karen kau ingin mengalah padaku bukan? Jangan memandang rendah padaku. Selisih poin kita hanya sedikit . Aku bisa mengejar nilaimu tanpa harus mengalah"


"Itu...tidak seperti itu"


"Lalu apa alasan nya?"


"Aku tidak bisa memberi tahumu"


Li Jiao tidak mungkin mengatakan bahwa karena dia tidak konsentrasi belajar disebabkan sibuk untuk berpikir tentang nasibnya setelah adik tirinya lahir.


"Bahkan walau kau tidak memberi tahuku, aku tahu apa yang kau pikirkan?"


"Huh?"


Li Jiao tanpa sadar menoleh ke arah Li Huan Rui, tatapan mata mereka bertemu. Li Jiao terpaku melihat mata cokelat Li Huan Rui yang tajam dan dalam, dia tidak menyangka bahwa mata itu begitu indah saat dia melihat nya sedekat ini.


"Aku tahu bahwa aku tampan tapi kau tidak perlu memandangku seperti itu"


Li Jiao segera mengalihkan pandangannya, dia merasa pipinya saat ini memjadi panas, apa pipinya memerah sekarang.


Li Huan Rui tertawa kecil.


"Gadis tanpa ekspresi seperti mu bisa juga tesipu malu. Kau ternyata memiliki sisi imut juga"


Li Huan Rui mencubit pipi Li Jiao. Gadis itu berusaha bersikap tenang, tidak dia tidak boleh terbawa suasana. Li Huan Rui milik Helena. Li Jiao menepis tangan Li Huan Rui.  Ekspresinya kembali datar. Li Huan Rui merasa kecewa dengan kembalinya ekspresi yang menyebalkan itu, walau dia masih terlihat cantik.


Andai saja dia bukan saingannya, Li Huan Rui akan menyukainya tapi Li Jiao adalah saingannya, dia menjadi ancaman baginya.


"Aku tahu kau khawatir karena kau akan mendapat seorang adik bukan?"


Li Jiao tidak mengatakan apapun.


"Kau pasti khawatir karena kau tidak memiliki hubungan darah dengan papa Fan dan juga keluarga besar Li bahkan tidak menerimamu bukan? Kau merasa terancam untuk mendapatkan status sebagai pewaris. Bukan begitu? Kau pasti tidak ingin lagi menjadi unggulan karena hal itu hanya akan berakhir dengan sia-sia"


Li Jiao masih diam.


"Hei, apa kau bisu? "


Li Huan Rui merasa kesal karena gadis itu tidak menanggapinya. Gadis ini memang selalu menyebalkan.


"Aku tidak pernah berpikir untuk menjadi pewaris"


Li Jiao tidak menginginkan hal itu. Dia belajar keras hanya karena tidak ingin membuat malu papa yang telah membantu nya.


"Bohong. Bagaimana mungkin kau belajar keras untuk manjadi unggul tapi tidak ingin mewarisi bisnis papa Fan atau jangan-jangan kau mengincar bisnis keluarga Shen"


Suara Li Huan Rui menjadi dingin. Li Jiao menyadari suasana dingin yang menekannya.  Mungkinkah pria ini berpikir dia adalah ancaman yang mengincar perusahaan Shen.


"Kemiliteran? Kau? Gadis lemah seperti mu"


Li Huan Rui tersenyum merendahkan.


"Aku tidak selemah itu"


"Begitukah? Bagaimana jika kau melawanku?"


"Eh? "


Li Huan Rui berdiri.


"Aku tidak belajar bela diri tradisional..."


"Kau bisa menggunakan teknik karatemu itu. Aku juga belajar karate"


"Benarkah? Tapi apa kau tidak takut aku melukai wajah tampanmu itu"


Li Jiao sengaja mengubah nadanya dengan mengejek Berusaha menyembunyikan keraguannya.


"Jangan memandang rendah padaku. Bilang saja kau takut bukan?"


"Tidak"


Li Huan Rui berdiri dia mulai memposisikan kakinya. Li Jiao juga melakukan hal yang sama. Li Huan Rui meminta Li Jiao menyerangnya lebih dulu. Li Jiao menggerakkan tangannya, Li Huan Rui berhasil melepis gerakan tangannya. Li Jiao kesulitan untuk melakukan seragan dengan gerakan kaki karena dia menggunakan rok.


Li Huan Rui mulai menyerangnya tapi Jiao bisa menepis setiap gerakannya hingga Li Jiao menemukan celah dia mengarahkan tangannya ke wajah Li Huan Rui tapi dia berhenti. Melihat wajah tampan Li Huan Rui bagaimana dia tega melukainya. Li Huan Rui memberikan serangan balasan dia berhasil menahan gerakan Li Jiao dan menjatuhkannya.


"Li Jiao, kau memang lemah. Lihatlah, aku bisa mengalahkanmu dengan mudah. Ternyata Li Jiao tidak sehebat itu"


Li Jiao terdiam. Dia tidak mencoba membela diri dengan hinaan yang diberikan Li Huan Rui.


"Apa kau bisa masuk ke akademi kemiliteran dengan tubuh lemahmu itu tanpa mengandalkan pengaruh dari papa Fan. Atau kau akan menggantungkan diri pada si Wang Yufeng itu? "


"Li Jiao, lain kali ayo kita bertarung lagi. Aku ingin tahu apa wanita seperti mu bisa menjadi lebih kuat"


Li  Huan Rui lalu meninggalkan Li Jiao dengan perasaan puas, akhirnya dia bisa mengalahkan  Li Jiao.  Sedangkan Li Jiao hanya diam memandang Li Huan Rui yang menjauh.


"Ternyata Li Huan Rui memang kelemahanmu ya"


"Kakak kelas Wang Yufeng, apa yang kau lakukan? "


"Jangan memanggilku dengan kakak kelas lagi, aku sudah lulus SD sekarang panggil saja Brother Yufeng"


"Tidakkah panggilan itu terlalu akrab. Sudahlah, apa yang kau lakukan disini"


"Aku mencemaskanmu. Kau bersikap aneh jadi aku pergi untuk menemuimu"


"Bersikap aneh apa? Siapa yang memberitahumu"


"Si pirang yang manja dan bodoh"


"Si pirang? Helena?"


"Ya, dia. Dia memintaku datang menghiburmu tapi sepertinya aku kalah cepat dari pria impianmu"


Wang Yufeng bermaksud menggodanya tapi Li Jiao tidak beraksi apapun.


"Li Jiao, aku tahu apa yang kau cemaskan"

__ADS_1


"Apa kakak juga berpikir bahwa aku mencemaskan karena tidak menjadi pewaris?"


"Tidak, bukan itu. Bukankah kau ingin masuk ke kemiliteran bukan? Aku tahu kau tidak serakah untuk merebut bisnis keluargamu. Kau pasti khawatir takut kehilangan perhatian orang tuamu bukan? Kau takut papamu menarik fasilitas yang telah di berikan dan mengabaikanmu bukan?"


"Brother Yufeng, apa kau pembaca pikiran orang"


Li Jiao sedikit takut karena Wang Yufeng tahu apa yang dia rasakan. Wang Yufeng tertawa.


"Aku hanya menebak apa yang kau pikirkan. Kau pasti mengkhawatirkan hal yang tidak perlu karena kau tidak memiliki hubungan darah dengan paman Fan"


"Kau tahu, sebelum rumor tentang mu terungkap, aku tidak pernah berpikir bahwa paman Fan dan kau bukan ayah dan anak kandung. Paman Fan menyayangimu. Aku rasa dia tidak akan mengabaikanmu walaupun kau memiliki seorang adik. Aku dulu juga berpikir seperti itu saat adikku lahir dan kakakku juga berusaha menenangkanku"


"Jadi, jangan khawatir"


Li Jiao mengangguk. Dia kekhawatirannya sedikit berkurang setelah mendengar apa yang dikatakan Wang Yufeng padanya.


"Terima kasih brother Yufeng"


"Sama-sama, Jiao jiao jika kau ada masalah kau bisa menghubungiku. Aku akan mendengar apapun keluhanmu"


Wang Yufeng mengusap rambut Jiao dengan penuh kasih sayang.


***


"Jiao, bisakah kita bicara?"


Li Jiao membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan papanya masuk.


"Li Jiao, ada apa? Apa ada sesuatu yang menganggumu? Guru Han memberi tahu papa bahwa nilaimu menurun drastis dan kau sering tidak konsentrasi. Kau bisa ceritakan pada papa apa masalah yang menganggumu?"


Li Jiao merasa ragu.


"Itu...Jiao hanya mengkhawatirkan papa tidak akan menyayangi Jiao lagi dan mengabaikan Jiao. Lalu mengusir Jiao"


Li Yongfan berjongkok agar tinggi nya sesuai dengan Jiao.


"Jiao, selamanya kau adalah putri papa. Papa menyayangimu bahkan walaupun adikmu lahir papa akan tetap menyayangimu jadi kau tidak perlu khawatir"


Li Yongfan memeluk Li Jiao untuk menenangkan putrinya.


"Papa,Jiao jiao janji akan menjadi kakak yang baik untuk adik "


"Ya, papa tahu kau akan bisa melakukannya"


Li Yongfan melepaskan pelukannya.


"Malam ini, apa kau ingin papa bacakan dongeng pengantar tidur? Papa mempunyai buku yang bagus. Kau akan suka cerita ini"


"Tapi papa, Jiao sudah besar. Dongeng hanya untuk anak kecil"


"Jiao, selalu jadi putri kecil papa"


Li Yongfan mengendong putri kesayangannya dan membaringkannya. Dia lalu membacakan cerita sampai Li Jiao tertidur. Li Yongfan memberikan kecupan di dahi.


"Selamat tidur putri kecilku. Mimpi indah"


Li Yongfan mematikan lampu lalu menutup pintu secara perlahan.


***


Waktu berlalu dengan cepat beberapa bulan berlalu dan akhirnya tiba hari disaat Mo An An melahirkan. Li Yongfan tidak bisa tenang , dia terus mondar mandir menunggu istrinya.Li Jiao juga menemani papanya, dia juga merasakan rasa cemas yang dirasakan papanya menunggu kelahiran adik kecilnya.


"Sudahlah, kalian berdua duduk saja dengan tenang"


Shen Fengyin memperingatkan mereka. Li Yongfan dan Jiao akhirnya duduk tapi kaki mereka terus bergerak karena cemas. Li YongSheng tersenyum melihat ayah dan anak perempuan itu yang memiliki gaya yang sama saat cemas. Mungkin orang tidak akan sadar bahwa mereka tidak terhubung darah.


Proses persalinan selesai,Suster menggendong seorang bayi kecil , tubuhnya masih merah menandakan bahwa dia baru saja lahir. Li Jiao memandang adiknya yang begitu kecil dan rapuh.


"Papa, bolehkah Jiao memberi adik kecil nama?"


"Hei, kau hanyalah orang luar nama pilihan mu pasti buruk tidak akan pantas untuk cucuku"


"Menantu jaga ucapanmu. Li Jiao adalah anggota keluarga kita"


"Ibu,Jiao adalah putriku. Apa salahnya jika seorang adik diberi nama oleh kakaknya. Jiao, nama apa yang kau pilih untuk adikmu?"


"Zhuting ,Li Zuting yang artinya orang yang memiliki posisi penting"


"Li Zhuting, nama yang bagus"


"Putraku, kau menyukai nama yang diberikan kakakmu bukan?"


Bayi kecil itu mengeliat. Li Yongfan tersenyum melihat putra kecilnya.


'Li Zhiting, sebagai kau akan tumbuh sebagai harta berharga keluarga Li. Kau adalah pewaris yang sebenarnya. Kakak akan menjagamu sebagai harta berharga keluarga Li"


Li Jiao merasa bahagia melihat adik kecilnya lahir.


***


Kedatangan tuan muda kedua di keluarga Li menjadi bagian bahagia bagi keluarga Li. Namun setelah kebahagiaan datang, ada sebuah kesedihan, penyakit kakek Li bertembah parah. Kakek Li meminta untuk bertemu dengan jiao.


"Hallo, kakek buyut"


"Xiao Jiao....kakek dengar...kau ingin menjadi tentara kan?"


Li Jiao mengangguk.


"Kakek berterima kasih...karena kau...menjadi penerus keluarga Li di kemiliteran"


Kakek Li tersenyum. Dia mengambil buku di nakas dan memberikan pada Li Jiao.


"Ini buku...taktik kemiliteran. Anggap saja ini hadiah dari kakek. Kau akan menjadi prajurit yang hebat dan....kau harus menjadi wanita yang kuat "


Li Jiao mengangguk.


Setelah mengatakan semuanya pada Li Jiao, kakek Li meminta Jiao memanggil semua keluarga.


"Yongsheng, selamanya kau akan menjadi cucuku bagian dari keluarga Li. Kakek ingin kau tetap menjadi keluarga Li"


"Ya, kakek"


"A-Fan, kau dan A-Sheng, aku harap kalian bisa mengelola perusahaan Li bersama"


"Cucuku Rui, kau adalah cucu tertua ku. Aku harap kau bisa melindungi saudara mu Jiao dan Zhiting"


"Kakek, Gadis itu bukan saudaraku"


"Li Huan Rui"


Shen Fengyin menegur putranya.


Setelah mengatakan beberapa kata. Kakek Li menghembuskan nafas terakhir

__ADS_1


__ADS_2