
Ulang tahun Li Huan Rui diadakan disebuah gedung mewah. Sebenarnya ulang tahun Li Huan Rui tidak jauh berbeda dengan ulang tahun anak laki-laki lainnya yang dihiasi dengan balon. Li Huan Rui terlihat tampan dengan stelan kemeja putih dan dasi kupu-kupu serta jas hitam yang serasi dengan pakaiannya. Para gadis-gadis mengagumi betapa tampan pangeran mereka. Helena juga tidak terkecuali, dia mengagumi Li Huan Rui yang terlihat jauh lebih tampan. Helena berdiri disamping Li Huan Rui, wanita itu menggunakan dress berwarna merah yang serasi dengan Li Huan Rui. Para gadis merasa iri karena Helena lah yang dapat mendekati Li Huan Rui.
"Selamat ulang tahun, Rui kecil"
Kakek Li juga menyempatkan diri untuk datang ke ulang tahun cucunya, tidak hanya kakek Li tapi tuan Li dan istri nya juga ikut datang. Li YongSheng memang sudah memutuskan untuk keluar dari keluarga Li tapi tuan Li masih belum menghapus namanya secara resmi. Tuan Li juga mengucapkan selamat ulang tahun pada cucunya satu-satunya.
"Terima kasih kakek, kakek buyut"
Li YongSheng dengan terpaksa menyambut ayahnya dengan ramah. Dia tidak ingin hubungan nya yang buruk dengan keluarga Li khususnya ayahnya diketahui oleh putranya.
Li Yongfan juga datang bersama Mo An An. Li Yongfan mengucapkannya ulang tahun pada Li Huan Rui. Pria kecil itu merasa senang karena papa fannya tidak marah lagi padanya.
"A-Fan, dimana putrimu? "
Kakek Li pernah bertemu dengan Jiao saat dia berkunjung ke mension milik cucunya.
"Jiao jiao kelelahan karena harus melakukan banyak kursus"
"Bukankah itu hanya terdengar seperti alasan? Anak itu bahkan menolak datang ke ulang saudaranya...ah tidak bukan saudara. Anak itu bahkan tidak mewarisi darah keluarga Li"
"Papa, jangan memandang rendah putriku"
"Sudahlah, Li Yongfeng,berhenti bertengkar dengan A-Sheng"
Ayah dan anak itu akhirnya diam. Helena merasa kecewa karena tidak Jiao benar-benar tidak datang. Awalnya dia berharap bahwa Jiao akab datang bersama orang tuanya tapi dia tidak menyangka Jiao menggunakan alasan untuk tidak datang.
'Mungkin aku yang harus membantu nya melakukan hal ini'
***
Li Huan Rui merasa lelah, ketika dia sampai di rumah dia hanya ingin kembali ke kamar dan tidur.
Tok Tok Tok
"Tuan muda, saya membawa kado-kado anda"
"Masuklah"
Seorang pelayan masuk. Dia menanyakan dimana dia bisa meletakkannya.
"Letakkan saja dimanapun"
Li Huan Rui membalasnya dengan malas. Pelayan itu meletakkan hadiah di sofa kecil. Lalu mereka undur diri. Li Huan Rui melihat hadiah-hadiah yang memumpuk. Pandangan nya terarah pada sebuah kotak yang ada di tumpukan paling atas. Kotak itu berwarna biru dan dihiasi pita. Li Huan Rui ingat bahwa Helena memberikan kotak itu setelah pesta berakhir dan mengatakan padanya bahwa hadiah ini dari gadis bernama Jiao itu. Li Huan Rui bangun dan mengambil kotak itu lalu melemparnya ke tempat sampah. Dia tidak butuh hadiah dari Gadis itu. Li Huan Rui kembali ke kasurnya yang nyaman, dia memejamkan mata namun dia terbayang kotak yang dia buang itu. Li Huan Rui akhirnya mengambil nya, dia penasaran apa yang diberikan gadis itu padanya. Li Huan Rui sedikit takut mungkin saja gadis itu ingin balas dendam dan memberinya benda dengan darah atau mungkin tikus mati . Li Huan Rui membuka tutup kotak itu dengan hati-hati. Namunn ketika dibuka dia tidak melihat warna merah darah dia hanya melihat sebuah kertas yang digulung dengan rapi dan sebuah buku. Dia mengerutkan kening melihat buku tentang kaligrafi.
'Bagaimana gadis itu tahu tentang kesukaanku. Apa ini saran dari papa fan'
Li Huan Rui ingin membuangnya,tapi pada akhirnya dia hanya meletakkannya di meja lalu kembali ke tempat tidur nya yang nyaman lalu mulai menutup mata dan tertidur.
***
Jiao bangun pagi-pagi, dia keluar kamar dan melihat papanya menuruni tangga. Di mension setiap kamar ada di lantai 2 dan kamar Jiao ada didekat tangga . Jiao memanggil ayahnya.
"Papa, apa papa akan latihan pagi? Kenapa tidak membangunkanku?"
Biasanya Li Yongfan akan membangunkan Jiao untuk olahraga. Tubuh Jiao lemah karena itulah Li Yongfan mengajaknya untuk melakukan latihan.
"Papa kira kau masih lelah, papa Tidak tega membangunkanmu"
"Aku sudah cukup istirahat. Ayo, papa kita latihan"
Li Yongfan dan Jiao keluar rumah dan melakukan pemanasan lalu mereka akan lari mengelilingi komplek.
"Papa, apa papa sering melakukan latihan seperti ini di militer"
Li Yongfan mengangguk.
"Bahkan sebelum di militer kakek buyutmu sudah melatih ayah untuk bangun pagi dan olahraga"
Sejak Li Yongfan mengikuti jejak kakeknya untuk masuk ke kemiliteran dia mulai dilatih dengan keras.
"Apa kakek cukup ketat?"
"Begitulah"
Setelah berlatih Li Yongfan dan Jiao kembali ke rumah. Jiao bersiap untuk berangkat ke sekolah. Li Yongfan juga melakukan hal yang sama, dia masuk ke kamarnya. Dia melihat istri nya masih tertidur pulas. Li Yongfan mengalihkan pandangan jika dia terus menatap istrinya maka dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya melihat istri yang begitu memikat.
Jiao turun ke ruang makan namun hanya ada papanya, belakangan ini mamanya sering terlambat bangun.
"Papa, dimana mama?"
"Mamamu masih tidur, dia kelelalah jadi biarkan mamamu tidur lebih banyak"
Jiao hanya mengangguk, dia berpikir bahwa mamanya terlalu lelah dengan pekerjaannya. Mamanya pasti terlalu bekerja keras bahkan mamanya pernah tidak bisa keluar dari kamar karena 'kelelahan' .
***
Li Huan Rui masuk ke ruang kelas. Dia membawa kotak hadiah Jiao. Dia ingin mengembalikannya pada gadis itu. Namun ketika dia melihatnya gadis itu berada di bangkunya dan sedang membuka sebuah kotak.
'Apa itu? Apa seseorang memberi nya hadiah'
Li Huan Rui mengabaikannya pemikirannya dan fokus berjalan. Gadis itu sepertinya tidak menyadari keberadaannya karena sedang berbicara dengan Helena.
" Kenapa kakak kelas Wang Yunfeng memberimu hadiah? Apa kau berulang tahun?"
Li Huan Rui menghentikan langkahnya.
'Hadiah itu dari Wang Yufeng?'
"Tidak, aku tidak tahu tapi dari surat di kotak ini kakak kelas yufeng memintaku untuk bertemu"
"Ah, Jiao mungkin kakak kelas Yufeng menyukaimu dan dia meminta bertemu untuk mengatkan itu"
"Helena, apa memurutmu aku harus menemuinya?"
Helena hendak menjawab tapi terhenti ketika Li Huan Rui membanting kotak dan buku di depan Jiao.
"Li Huan Rui"
Helena menegur sikap kasar Li Huan Rui tapi pria itu tidak peduli.
"Aku tidak mengharapkan kedatanganmu dan aku juga tidak ingin menerima hadiah darimu. Ambil kembali hadiahmu, aku tidak butuh sampah seperti ini untuk hadiah"
"Henry, kau terlalu kasar pada jiao"
Li Huan Rui tentu saja tidak mempedulikan teguran Helena dan mengabaikannya. Dia kembali ke bangkunya.
__ADS_1
"Jiao, maafkan Henry ya"
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memikirkan itu"
***
Saat pulang sekolah, Jiao pergi ke atap. Ketika dia tiba, seorang pria sudah menunggunya. Pria itu memiliki tubuh tinggi dan juga wajah tampan dan rahang yang tegas. Ketampanan pria itu tidak kalah dari Li Huan Rui. Jika itu di masa lalu Jiao akan menatap pria tampan itu dengan kagum tapi setelah bertemu papanya, paman Sheng dan Li Huan Rui yang tampan dia sudah terbiasa melihat Pria tampan.
"Oh, my princess kau datang"
Jiao mendekati nya dan mengulurkan kotak yang di berikan pria itu.
"Maaf, aku tidak bisa menerima nya"
"Apa? Kenapa?"
"Itu karena aku menyukai orang lain"
Jiao menyukai Li Huan Rui walaupun pria itu membencinya tapi dia tetap menyukai.
"Siapa pria itu? Katakan padaku siapa orang itu yang membuat mu menolakku? Aku akan membuatnya tidak bisa mendekati mu seperti para pecundang lain yang telah aku buat babak belur"
Jiao menyadari sesuatu.
"Kau pria jahat. Aku tidak menyukai pria sepertimu"
Jiao melempar kan kotak itu. Dia hendak pergi tapi ditahan oleh Wang Yufeng.
"Tidak ada yang bisa menolakku. Aku ingin kamu menjadi pacarku dan aku harus mendapat kannya"
Jiao berusaha melepaskannya, namun tangan laki-laki itu terlalu kuat untuk tangan kecilnya.
"Lepaskan"
"Aku akan melepaskan mu jika kau mau menjadi pacarku"
"Tidak"
Jiao berusaha memplintir tangannya tapi tidak bisa. Dia berusaha menggunakan kakinya tapi hal itu juga membuat nya terjatuh dan membuat tubuhnya begitu dekat dengan laki-laki itu. Salah satu tangan laki-laki itu membelai wajahnya.
"Sungguh, kau benar-benar kecantikan"
Jiao menepis tangan laki -laki itu dengan salah satu tangannya yang bebas. Namun tangannya justru ditangkap dan menariknya untuk lebih dekat lagi dengannya. Namun seseorang dengan kuat menarik tubuh Jiao. Gadis kecil itu terkejut ketika merasakan kehangatan saat dia terjatuh dalam pelukan seseorang.
"Li Huanrui, lepaskan pacarku"
Jiao mengadahkan wajahnya dan memandang wajah tampan Li Huan Rui yang memiliki ekspresi dingin.
"Pacarmu? Bukankah dia sudah menolakmu? "
Li Huan Rui mengatakannya dengan nada merendahkan. Pria itu merasa kesal dengan nada bicara Li Huan Rui.
"Anak kecilmu berani sekali kau mengejekku"
Wang Yufeng mengepalkan tangannya dan mulai melayangkan tinju ke arah Li Huan Rui. Rui kecil segera mendorong Jiao menjauh. Helena yang baru saja datang segera mendekati Jiao.
"Jiao jiao"
"Helena"
Li Huan Rui menghindari serangan yang ditunjukkan padanya namun pada akhirnya tinju itu berhasil mengenai wajahnya. Li Huan Rui membalasnya tapi pukulannya hanyalah hal kecil bagi Wang Yufeng, dia dibesarkan di keluarga dengan latar belakang kemiliteran tentu saja dia bukan orang yang lemah. Wang Yufeng dapat membalas pukulan Li Huan Rui dua kali lipat lebih kuat dibandingkan pukulannya.
"Anak manja, kau terlalu lemah dan ingin menjadi sok pahlawan. Kau hanyalah anak kecil lemah..."
"Diam kau"
Li Huan Rui melayangkan pukulannya tapi dengan mudah di halau oleh Wang Yufeng. Helena dan Jiao khawatir.
"Hei, Wang Yufeng, hentikan. Aku akan melapor pada guru jika kau tidak berhenti"
"Laporkan saja. Maka temanmu ini juga akan dalam masalah"
Wang Yufeng tidak henti-hentinya melayangkan pukulan, seberapa keraspun Li Huan Rui berusaha dia tidak sebanding dengan kekuatan Wang Yufeng. Jiao khawatir, dia melihat Li Huan Rui yang sudah kehabisan tenaga. Tidak, dia tidak bisa membiarkannya lagi.
"Ini pukulan terakhir ku"
Wang Yufeng melayangkan tinjunya cukup keras. Pukulannya mengenai pipi yang putih dan halus, darah keluar dari mulutnya. Wang Yufeng terpaku.
"Li Jiao"
Li Huan Rui dan Helena juga merasa terkejut.
"Gadis bodoh, apa yang kau lakukan. Aku tidak memintamu untuk menjadi temeng untukku,apa kau ingin aku terkena marah..."
"Kenapa kau harus melindungiku? Kau bisa menutup mata untuk kejadian ini seperti yang terjadi saat aku tenggelam. Kenapa kau harus memperuhkan hidupmu untukku. Kau bilang kau tidak ingin terlibat denganku bukan? Lalu kenapa kau melindungi ku dan membuatku berhutang budi padamu"
Ini mungkun kalimat paling panjang yang diucapkan Jiao. Wanita itu hanya menatap dingin ke arah Li Huan Rui. Dia hanya menatapnya dengan tatapan datar menyembunyikan perasaan komplek dalam hatinya dia membenci karena dia lemah dan membuat Li Huan Rui melindungi nya dan terluka karenanya. Dia adalah seseorang yang penting untuknya, dia tidak ingin membuatnya terluka.
"Bagaimana aku bisa menutup mata, papa fan mempercayakanmu padaku, apa kau ingin aku kena masalah karena hal ini tapi kau dengan bodoh justru membuat dirimu terluka. Lalu bukankah papa fan akan memarahiku lagi karenamu?"
"Ayo, kita ke klinik kesehatan. Kau harus diperiksa"
Li Huan Rui mengendong nya dengan sisa tenaganya. Namun Jiao memaksa turun.
"Kakiku tidak terluka,turunkan aku"
"Diamlah"
Li Huan Rui berjalan secepat mungkin. Dia seharusnya sudah kehabisan banyak tenaga tapi hal yang mengejutkan dia seolah masih memiliki banyak tenaga. Helena mengikuti mereka dari belakang.
Mereka sampai di klinik kesehatan. Li Huan Rui meminta dokter jaga untuk memeriksa Jiao.
"Li Huan Rui lukamu juga harus di periksa"
Helena mengatakannya dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja. Dokter kau lebih baik tangani gadis itu dulu"
"Kau memiliki luka yang lebih parah. Aku akan menanganimu lebih dulu"
"Jangan urusi aku. Periksa saja gadis itu"
Li Huan Rui berteriak dengan marah. Li Huan Rui biasanya bisa mempertahankan ketenangannya di depan orang lain tapi kali ini dia tidak terlihat tenang sama sekali yang membuat Helena merasa heran. Dia tidak pernah melihat Li Huan Rui seperti ini sebelumnya.
Dokter itu memeriksa luka Jiao, dia melihat pipinya yang begitu merah. Dia dapat mengetahui sesuatu yang membentur pipi gadis itu begitu keras. Dia memintanya membuka mulutnya dan ada darah di gusinya. Sepertinya benturan itu membuat ada giginya yang terlepas paksa dan menimbulkan darah.
__ADS_1
"Apakah sakit?"
Dokter itu memoleskan obat untuk menghilangkan memar. Jiao hanya memunjukkan ekspresi datar dan menggeleng. Dia tidak merasa sakit, dibandingkan dengan luka yang dia alami di masa lalu ini tidak seberapa.
Helena meminta alkohol dan kapas lalu menerapkan di luka Li Huan Rui. Pria kecil itu berteriak kesakitan. Namun ketika melihat Jiao hanya diam tanpa mengeluh, Li Huan Rui menelan rasa sakitnya, dia tentu saja tidak ingin terlihat lemah di depan gadis itu.
***
Helena pulang lebih dulu, kini hanya ada Li Huan Rui dan Jiao yang berdiri di depan gerbang. Jiao melirik luka di wajah Rui. Dia mengepalkan tangannya apalagi ketika dia mengingat Li Huan Rui mencoba menahan rasa sakitnya. Jiao berjanji, dia tidak ingin lagi membuat pria yang berharga baginya terluka karnanya. Dia tidak ingin menjadi gadis lemah yang hanya bisa berada dibawah pembelaan Helena dan Li Huan Rui. Dia akan menjadi gadis yang kuat dan dapat melindungi dirinya sendiri.
"Jangan peduli padaku lagi"
"Apa?"
Li Huan Rui menoleh ke arah Li Jiao yang hanya memandang ke depan dengan tatapan datar.
"Aku tidak ingin dilindungi oleh pria lemah seperti mu"
Li Huan Rui mengepalkan tangannya. Dia tidak marah dengan apa yang dikatakan Jiao padanya, dia sudah memolongnya tapi ini balasannya. Gadis ini beranu bersikap sombong di depannya.
"Kau..."
"Li Huanrui, kau membenciku bukan? Kau tidak seharusnya menunjukkan kepedulianmu pada orang yang kau benci apapun alasannya"
Jiao mengatakannya dengan nada datar. Li Huan Rui menyadari sesuatu, itu benar dia membencinya tidak seharusnya dia peduli padanya tapi ketika dia tahu bahwa gadis ini menemui Wang Yufeng sendirian, dia tidak bisa menahan diru untuk khawatir padanya. Dia juga tidak tahu kenapa dia begitu peduli padanya walaupun dia membencinya. Mungkin karena dia sudah berjanji pada papa fan nya.
"Jiao jiao"
Li Yongfan turun dari mobil dan mendekati putranya. Li Yongfan menyadari warna kemerahan yang menjadi ungu.
"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini? "
"Maaf, papa fan. Aku tidak bisa melindungi Jiao"
Li Yongfan mengalihkan pandangan ke arah Li Huan Rui. Dia melihat luka di wajah Li Huan Rui.
"Papa, ini salah Jiao. Jiao dengan ceroboh menemui anak laki-laki yang tidak baik. Li Huan Rui sudah berusaha melindungi Jiao hingga Jiao tidak terluka parah"
"Jiao, kau tahu. Kau tidak seharusnya bersikap ceroboh untuk terlibat dengan anak laki-laki. Beruntung saudaramu Rui bisa melindungi mu. Jangan pernah terlihat dengan anak laki-laki kau harus berada di dekat saudara laki-laki mu"
Jiao mengangguk.
"Rui, ayo papa akan mengantar mu"
"Tidak perlu papa, aku akan menghubungi paman..."
Li Yongfan menggendong keponakannya ini dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Li Jiao duduk di samping Li Huan Rui.
"Papa akan menghukum orang yang melukai kalian"
"Papa fan, pria itu berasal dari keluarga wang. Dia adalah wang yufeng putra tertua dari keluarga wang"
Li Yongfan menghela nafas mendengar penjelasan Li Huan Rui. Memang sulit berurusan dengan keluarga Wang. Nanun dia tidak bisa tinggal diam karena seseorang berani menyakiti putri dan putranya.
"Tenang saja papa akan mengurusnya"
Li Jiao tidak mengatakan apapun.
***
Li Huan Rui tidak berani keluar dari kamar. Dia khawatir jika orang tuanya tahu hal ini akan merepotkan tapi Li Huan Rui tidak bisa menyembunyikan apapun dari Shen Fengyin karena mamanya tiba-tiba masuk ke kamarnya sebelum dia menyembunyikan kondisi wajah nya dengan selimut.
"Huanrui, ada apa dengan wajah mu? Siapa yang berani melukai wajah tampan putra mama. Ini pasti sakit bukan? Ayo kita ke rumah sakit"
"Mama, jangan berlebihan. Ini luka kecil, seorang pria dengan bekas luka bukan masalah besar"
"Tapi tetap saja..."
"Sudahlah mama. Rui ingin tidur"
"Baiklah tidur yang nyenyak"
Shen Fengyin memberikan kecupan di dahi putranya.
Disisi lain, Li Yongfan memoles salep di luka Jiao. Putrinya hanya diam dan tidak mengeluh. Justru Mo An An yang heboh mengarahkan Li Yongfan agar tidak terlalu keras menekan luka putrinya.
"Mama, jangan khawatir"
Jiao mencoba menenangkan ibunya.
"Papa, bisakah Jiao meminta sesuatu"
"Tentu saja, apa itu?"
"Papa, Jiao ingin belajar bela diri"
"Jiao, bela diri terlalu keras untuk Wanita , mama bisa menyewa seseorang..."
"Tidak mama, aku ingin melindungi diriku sendiri. Aku tidak ingin bergantung pada siapapun dan juga untuk menjadi seorang tentara bukankah harus menjadi kuat"
"Jiao, apa kau ingin bergabung dengan kemiliteran"
Jiao mengangguk.
"Jiao..."
"Baiklah, papa akan mendaftarkan mu di kelas bela diri"
"Suamiku..."
Mo An An ingin protes, sebagai seorang ibu tentu saja dia tidak ingin putrinya terlibat dengan sesuatu yang keras.
"Jiao jarang meminta sesuatu jadi kita harus menurutinya. Ada baiknya juga jika Jiao bisa melindungi dirinya sendiri"
Mo An An menghela nafas, dia tidak bisa menentang Li Yongfan jika pria itu sudah menentukan keputusan.
"Terima kasih papa"
Li Yongfan mengusap rambut putrinya.
"Papa akan mendukung apapun yang telah kau putuskan"
***A/N : Mungkin Chapter ini menjadi titik balik dari Li Jiao
Terima kasih untuk para pembaca atas dukungan kalian***
__ADS_1