
"Tuan muda, nyonya mencoba bunuh diri"
Li Yongfan terkejut ketika seorang mendatanginya ketika seorang pelayan mendatanginya. Li Yongfan langsung keluar dari ruang kerjanya dan datang ke kamar. Mo An An memegang sebuah pisau.
"An, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah kehilangan akal? Jauhkan pisau itu"
"Tidak. Aku akan bunuh diri jika kau tidak mengijinkanku bersama dengan putriku"
Li Yongfan menghela nafas. Dia akhirnya menuruti keinginan Mo An An. Dia tahu seperti apa Mo An An. Dia wanita yang nekat, jika dia tidak menurutinya mungkin dia akan benar-benar bunuh diri.
"Kau bisa membawa anak itu tinggal disini"
Mo An An tersenyum, sebenarnya dia tidak berniat bunuh diri tapi dia tahu cara ini akan berhasil untuk membujuk Li Yongfan. Mo An An menjatuhkan pisau itu dan memeluk Li Yongfan.
"Terima kasih suamiku. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan diriku"
Mo An An mengalungkan tangannya di leher Li Yongfan lalu menciumnya. Para pelayan itu segera pergi menyadari keintiman majikannya. Ciuman Mo An An dan Li Yongfan begitu bergairah, sudah sejak lama mereka tidak seintim ini. Li Yongfan tentu saja tidak mensia-siakan kesempatan ini.
***
Li Huan Rui masih mengurung diri di kamarnya. Dia bahkan melewatkan makan malam. Pria yang suka makan sepertinya tidak akan bisa menahan rasa laparnya lebih lama.
Li Huan Rui keluar dari kamar. Saat itu secara kebetulan Jiao juga keluar dari kamarnya karena dia tidak bisa tidur.
"Rui,aku..."
Jiao mengucapkan dengan ragu-ragu.
"Jangan memanggilku dengan akrab. Aku tidak suka namaku disebut dari seorang gadis pencuri seperti mu "
Jiao hanya diam. Dia merasa sedih walaupun ekspresinya masih terlihat datar tapi di matanya terlihat jelas kekecewaan.
"Maaf, aku..."
"Jangan mencoba berbicara denganku. Aku membencimu gadis pencuri"
Li Huan Rui lalu meninggalkannya dan turun ke bawah. Dia tidak mempedulikan gadis kecil yang masih berdiri di tempatnya.
Di dapur Li Huan Rui mengangkat kursi dan mengambil mie cup. Dia lalu menekan tombol air hangat di dispenser. Li Huan Rui menikmati makan mie instan sendirian.
"Kenapa kau makan mie instan? Kau bisa meminta papa memasak untukmu"
Li YongSheng tahu bahwa putra nya pasti tidak akan bisa menahan lapar dan tebakannya benar ketika dia melihat lampu dapur menyala. Li Huan Rui tidak mengatakan apapun dan fokus makan mie.
Li YongSheng menghela nafas.
"Kau masih marah?"
Li Huan Rui masih tidak memberikan respon.
"Rui, papa dan mama bukannya bermaksud untuk membentakmu tapi sikapmu terlalu kasar pada Jiao, dia..."
"Aku tidak peduli dan aku tidak mau membicarakan tentang gadis pencuri itu"
"Jangan memanggil xiao jiao dengan panggilan kasar seperti itu. Rui, jiao adalah anak bibi An . Bisakah kau bersikap baik padanya seperti seorang saudara? Bukankah kau ingin adik perempuan? Kau bisa anggap Jiao seperti adikmu"
"Adik? Gadis rendahan seperti dia mana pantas untuk menjadi saudara ku"
"Li Huan Rui, apa papa mengarkanmu bersikap kasar seperti itu? "
"Papa terus saja membela gadis itu kalau bagitu bela dan lindungi saja gadis itu. Jangan pedulikan aku, lagipula aku tidak berarti apapun untuk kalian bukan?"
"Rui, kau salah paham. Papa dan mama ...."
"Aku tidak mau mendengar apapun"
Li Huan Rui berdiri dan pergi. Dia melihat gadis itu berdiri di dekat dapur. Li Huan Rui melewatinya.
"Kau sudah puas sekarang? Kau berhasil merebut orang tuaku dariku"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan nada pelan sehingga hanya bisa didengar oleh dia dan Jiao. Li Huan Rui melangkah pergi setelah mengatakan hal itu.
"Jiao, maafkan sikap Rui. Dia sebenarnya anak yang baik"
"Iya, paman tidak apa-apa"
"Oh ya, kenapa kau turun? Apa kau butuh sesuatu?"
Jiao mengeleng.
"Aku hanya tidak bisa tidur"
"Begitu. Paman akan membuatkanmu susu untuk membantumu tidur"
"Tidak perlu paman. Aku tidak ingin merepotkan"
"Tidak apa-apa"
Li YongSheng meminta Jiao duduk dan menunggunya membuat susu.
"Paman, maaf"
"Aku sudah menganggu hubungan paman dan anak paman"
"Jangan berpikir seperti itu. Li Huan Rui memang mudah merajuk tapi dia tidak akan marah. Kau tenang saja"
Li YongSheng membawakan segelas susu pada Jiao. Gadis kecil itu ragu-ragu ketika mengambil gelas dari tangan Li YongSheng.
Li YongSheng memandang Li Jiao yang menikmati susu tanpa ekspresi. Dia merasa kasihan pada gadis itu yang tidak bisa menunjukkan ekspresinya. Melihat Jiao membuatnya teringat pada masa kecilnya yang kesepian. Tanpa sadar tangan Li YongSheng terulur untuk menyentuh kepala Jiao tapi gadis itu reflek menghindar.
Li YongSheng menarik kembali tangannya, dia tahu setelah hal yang terjadi mungkin sulit bagi Jiao menerima sentuhan.
"Paman, terima kasih. Aku akan mencucinya"
"Tidak perlu, biar paman saja"
"Tidak apa-apa paman. Jiao sudah merepotkan paman"
Gadis kecil itu mencuci gelas yang dia gunakan lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
***
Li Huan Rui turun ke bawah untuk sarapan tapi ketika melihat papa dan mamanya sedang mengobrol dengan gadis kecil itu dia menjadi malas untuk sarapan.
"Huanrui, selamat pagi"
Li Huan Rui mengabaikan sapaan ibunya.
"Paman Zhang"
__ADS_1
Li Huan Rui berteriak memanggil supirnya.
"Huanrui, kenapa kau berteriak seperti itu pagi-pagi"
Shen Fengyin menegur putranya.
"Ya, tuan muda"
"Kita berangkat sekarang"
"Huanrui, apa kau tidak sarapan dulu?"
Li Huan Rui masih mengabaikan Shen Fengyin. Hal itu membuat wanita itu kesal karena diabaikan putranya.
"LI HUAN RUI, DIMANA SOPAN SANTUNMU? JIKA MAMA BERTANYA MAKA JAWABLAH"
Li Huan Rui menoleh ke arah ibunya.
"Rui tidak ingin sarapan jika masih ada gadis itu"
"Huanrui, ada apa denganmu? Kenapa kau memperlakukan jiao seperti itu?"
"Aku berangkat"
Li Huan Rui tidak ingin berdebat lebih panjang dengan ibunya. Pria kecil itu melangkah pergi. Supir Zhang mengikuti tuan mudanya.
"Sudahlah, istri. Kau harus menjaga emosimu jika tidak itu akan berpengaruh dengan kesehatanmu"
Jiao menjadi semakin bersalah. Dia harap dia bisa pergi dari sini dan tidak menganggu kebahagiaan pangerannya.
***
Mo An An datang ke rumah Shen Fengyin. Ketika dia datang, dia bertemu dengan Li Huan Rui yang baru saja keluar.
"Selamat pagi Rui "
Mo An An menyapa dengan ramah. Li Huan Rui hanya melirik sekilas lalu pergi. Melihat wajah bibi An yang begitu mirip dengan gadis itu membuat Li Huan Rui menjadi kesal. Li Huan Rui tidak peduli jika bibi An mungkin akan melaporkan pada ibunya tentang ketidak sopanannya.
Mo An An merasa heran dengan sikap dingin Li Huan Rui. Tidak biasanya Li Huan Rui yang biasanya ceria menjadi dingin seperti itu.
"Nyonya Li"
Seorang pelayan menyapanya.
"Apa anda ingin bertemu Nyonya?"
"Ya"
"Silahkan masuk"
Mo An An mengikuti pelayan itu masuk. Pelayan itu pergi memanggil Shen Fengyin.
"Mama"
Jiao berlari ke arah ibunya ketika dia tahu ibunya datang.
"Jiao, jangan lari-lari. Kau belum sembuh total"
"An, kau datang lebih pagi"
Shen Fengyin datang mendekati Mo An An.
"Tidak perlu sungkan. Aku juga senang Jiao berada disini"
"Jiao, ayo kita pergi. Ibu akan membawamu ke rumah. Ucapkan selamat tinggal pada bibi Yin dan paman "
"Selamat tinggal bibi Yin, paman Sheng"
"Jiao, sering-seringlah main kesini "
"Kami pergi"
Mo An An meraih tangan putrinya dan melangkah pergi.
***
"Henry, kenapa kau terlihat kesal?"
"Tidak perlu ikut campur urusanku"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan nada dingin. Helena sudah terbiasa dengan sikap dingin Li Huan Rui tapi ini pertama kalinya Li Huan Rui berbicara lebih dingin dan datar padanya. Apa yang membuat pria itu begitu kesal.
"Henry, aku tahu kau memiliki masalah bukan? Kau bisa menceritakannya padaku"
"Aku sudah bilang bukan, jangan ikut campur"
Para gadis-gadis itu saling berbisik mengejek Helena karena Huan rui juga bersikap dingin padanya. Helena tentu saja tidak peduli.
"Baiklah, jika Henry tidak ingin mengatakannya padaku"
Helena menunjukkan wajah cemberut. Biasanya hal itu akan berpengaruh pada Li Huan Rui tapi kali ini pria itu hanya diam dan mengabaikannya. Tentu saja Li Huan Rui tidak akan memberitahu bahwa dia kesal karena cemburu dengan gadis yang merebut perhatian orang tuanya bahkan membuat orang tuanya mengabaikannya.
***
Mo An An dan Jiao disambut oleh para pelayan. Mo An An membawa Jiao ke kamar.
"Maaf ya, mama belum banyak melakukan perubahan "
"Tidak apa-apa mama"
"Lain kali mama akan merenovasi sesuai keinginan mu"
"Terima kasih mama"
"Sayang, bagaimana jika kita nanti pergi berbelanja? Kita membeli beberapa pakaian dan asesosir untukmu"
"Sekarang, kau istirahat dulu saja"
Jiao mengangguk. Mo An An hendak pergi tapi Jiao menahannya.
"Mama, bisakah mama menemani Jiao ?"
"Baiklah"
Mo An An duduk di pinggir tempat tidur. Jiao tidur di pangkuan ibunya, Mo An An tersenyum dan membelai lembut rambut putrinya. Jiao memejamkan matanya merasakan kehangatan dan kelembutan belaian ibunya. Dia selalu memimpikan saat-saat seperti ini.
***
Li Huan Rui pulang ke rumah dengan malas namun dia tidak memiliki tempat lain. Li Huan Rui disambut oleh para pelayan.
__ADS_1
Li Huan Rui mengabaikannya dan langsung pergi ke kamarnya. Ketika Li Huan Rui berada di depan pintun kamarnya, dia berhenti dan melihat kamar disebelahnya yang ditempati gadis itu. Li Huan Rui menggelengkan kepalanya lalu masuk ke kamarnya.
Tok tok tok
"Tuan muda, ada telpon dari nyonya untuk tuan muda"
"Apa itu benar-benar untukku? Kau mungkin salah, mama pasti ingin bicara pada gadis disebelah"
"Tuan muda, nona Jiao sudah pergi"
"Apa? Dia sudah pergi ?"
Li Huan Rui merasa senang, jadi gadis penganggu itu tidak ada disini lagi.
"Tolong katakan pada mama untuk menelpon di no ponselku saja"
Li Huan Rui sebelumnya menolak panggilan dari mama dan papanya karena dia masih merasa kesal namun saat ini suasana hatinya sedang baik dan juga jika dia terlalu lama mengabaikan orang tuanya mungkin orang tuanya akan mencari anak lain dan Li Huan Rui tidak ingin kehilangan kasih sayang orang tuanya.
Ponsel Li Huan Rui berdering. Dia segera menjawab telpon.
"Hallo, mama"
"Sepertinya kau tidak marah lagi ya"
"Mama, maafkan Rui ya sudah bersikap kasar"
"Lain kali jangan ulangi"
"Um"
"Rui, nanti malam mama akan menjemputmu untuk makan malam diluar"
"Apa hanya kita bertiga?"
"Tentu saja"
"Baiklah. Sampai jumpa nanti "
***
Mo An An menganti perban di tubuh putrinya dengan hati-hati. Ketika dia melihat luka di punggungnya membuatnya menjadi sedih. Dia tidak bisa membayangkan berapa sakit putrinya saat itu.
"Apa punggung mu masih sakit?"
Jiao mengeleng, baginya rasa sakit sudah menjadi temamnya menjalani hidup setiap hari. Dia tidak merasa apapun lagi.
"Lain kali, mama akan membelikan salep untuk menghilangkan bekas luka"
Jiao hanya mengangguk. Mo An An membantu putrinya mengganti pakaian.
"Ayo, kita turun untuk makan malam"
Mo An An menggendong putri kecilnya. Jiao tidak memolak. Dia merasa nyaman berada dipelukan ibunya yang terasa hangat.
Ketika mereka turun, Li Yongfan juga berada di meja makan.
"Suami,kau sudah pulang"
Li Yongfan menoleh ke arah Mo An An dan melihat seorang gadis kecil yang menatanya. Gadis itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Mo An An tapi gadis itu memiliki warna mata hitam gelap yang berbeda dengan Mo An An yang memiliki warna mata cokelat muda. Mata gadis kecil itu sepertinya di turunkan dari Bai Yuchen, mengingat tentang hal itu Li Yongfan kembali merasakan kemarahannya.
Mo An An meminta putri nya memanggil Li Yongfan dengan sebutan papa. Jiao ragu-ragu karena melihat tatapan tajam pria itu.
"Tidak perlu melakukan hal itu. Aku bukan papanya"
Li Yongfan berdiri dan hendak pergi.
"Suami, kau mau kemana? Kau belum makan malam bukan?"
"Aku tidak berselera makan "
Suara Li Yongfan terdengar dingin. Lalu meninggalkan ruang makan dan pergi ke ruang kerjanya. Mo An An menghela nafas melihat sikap dingin suaminya.
"Jiao, ayo kita makan duluan"
"Tapi, paman itu...."
"Tidak perlu khawatir. Ayo makan"
Mo An An mengambilkan sup dan meletakkan beberapa daging di piring putrinya.
"Kau sangat kurus. Kau harus makan banyak"
"Terima kasih, mama"
Jiao menikmati makanannya. Mo An an tersenyum, melihat putrinya. Dia meletakkan beberapa makanan lagi untuk putrinya.
***
Keluarga Shen Fengyin juga sedang menikmati makan malam di luar, mereka pergi ke restoran seafood yang berada di tengah laut. Restoran itu memang berada disebuah kapal.
Li YongSheng seperti biasa, dia akan mengupaskan udang untuk istri dan putra kesayangannya.
"Suami, kau juga harus makan. Jangan hanya melayani "
"Baiklah. Istriku, suapi aku ya"
Li YongSheng memberikan senyuman yang menawan. Shen Fengyin mengambil udang dan mensuapinya. Li Huan Rui tidak ingin kalah dengan ayahnya. Dia juga meminta mamanya mensuapinya.
Beberapa wanita muda memandang kearah Li YongSheng dan Shen Fengyin yang begitu manis dan serasi serta mereka memiliki anak yang tampan juga.
Diam-diam seorang wanita mud mengambil foto kebersamaan keluarga itu dan memposting di weibo. Ada banyak komentar yang berdatangan khususnya dari para penggemar pasangan Shen Fengyin dan Li YongSheng.
'Wakil presiden Li yang dingin selalu terlihat manis pada istrinya'
'Astaga, betapa serasinya mereka'
'Anak mereka begitu tampan. Aku akan menunggu hingga dewasa dan menikahinya'
'CEO Shen yang dingin ternyata penuh perhatian'
***
Mo An An menemani putrinya tidur. Dia berbaring disisi Jiao dan membacakan dongeng pengantar tidur. Jiao tidak banyak bicara, putrinya memang berbeda darinya dan juga anak-anak lain. Jiao perlahan mulai memejamkan mata dan tertidur.
Mo An An memandangi wajah polos putrinya yang tertidur. Dia memberikan kecupan di dahinya.
"Mimpi indah, putriku"
Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Aku harap para pembaca tidak bosan dengan cerita ini
__ADS_1