Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Spin off Arrogant Wife Forced Marriage Chapter 5 (S2)


__ADS_3

Li Huan Rui dan CEO Yoon makan malam bersama di restoran yang dijanjikan sebelumnya. Mereka hanya membicarakan tentang bisnis dan sesekali makan.


"Presiden Li, kami senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Shen"


"Suatu kehormatan juga bagi perusahaan Shen untuk bekerja sama dengan perusahaan anda"


Mereka menandatangani surat perjanjian dan saling berjabat tangan. Setelah itu mereka saling mengangkat gelas wine dan membenturkannya lalu meminumnya.


"Oh, Li Huan Rui. Bolehkah aku memanggilmu seperti itu"


"Maaf, tapi kita tidak terlalu akrab untuk memanggil nama"


"Tuan Li memang kaku ya"


Li Huan Rui tidak mengatakan apapun dan fokus dengan makanannya. CEO Yoon merasa bosan, dia awalnya tertarik dengannya tapi sikapnya yang kaku dan dingin membuatnya kehilangan minatnya untuk pria ini.


"Awalnya aku tertarik padamu tapi pria kaku tidak lagi menarik"


Li Huan Rui tidak menanggapi apapun. CEO Yoon merasa sedikit kesal karena dia merasa diabaikan. Dia memilih untuk fokus dengan makanannya.


"Terima kasih untuk makan malamnya"


"Ya"


Mereka berdua berpisah. Li Huan Rui menghela nafas, dia sebenarnya merasa malas untuk terlibat dengan wanita beruntung CEO Yoon tidak membicarakan hal lain selain bisnis.


   Li Huan Rui kembali ke mension. Ketika dia masuk, dia melihat Helena yang tertidur di sofa. Sepertinya wanita ini menunggunya.  Helena adalah tunangan yang baik tapi hatinya tidak bisa bergerak ke arahnya. Li Huan Rui mengendong Helena, memindahkannya ke kamarnya.


Li Huan Rui meletakkan Helena dengan hati-hati tapi tiba-tiba saja tangan Helena terulur dan memeluk leher nya lalu mencium Li Huan Rui. Pria itu terkejut, Helena mengigit bibir Li Huan Rui berusaha untuk masuk ke mulutnya. Namun Li Huan Rui justru mendorongnya.


"Helena, apa yang kau lakukan?"


"Henry, kenapa kau terlihat marah? Ini hanya ciuman. Ciuman di A Country adalah hal biasa"


"Apa kau pikir ciuman pranciss adalah hal bisa? "


"Henry, aku tunanganmu bukan? Apa aku salah bersikap intim dengan tunanganku?"


Helena bangun dan memeluk Li Huan Rui.


"Rui, aku tidak lebih buruk dari Li Jiao sebagai penghangat ranjang" 


"Helena,  jangan lakukan ini"


Li Huan Rui mendorongnya.


" Aku akan membencimu jika kau melakukan hal murahan seperti ini lagi"


Li Huan Rui lalu meninggalkan Helena dengan perasaan kesal. Helena tersenyum pahit, sungguh sulit untuk merayu tunangannya sendiri.


***


Suasana di ruang makan terasa canggung, Li Huan Rui makan dengan tenang, sesekali Helena meliriknya. Dia tidak nyaman dengan sikap dingin Li Huan Rui padanya.


"Henry, maafkan aku. Aku tahu aku berlebihan kemarin"


"Hm"


"Jangan marah lagi ya"


"Jangan ulangi lagi apa yang kau lakukan kemarin"


"Baiklah"


"Oh ya, Henry. Kau akan menghadiri pesta malam yang diadakan paman James kan?"


"Ya"


"Apa kita akan pergi bersama?"


"Tentu saja"


Helena tersenyum, mungkin lebih baik dia melakukan peran tunangan sebagai formalitas.


***


  Bai Xiao sudah membereskan pakaian Yimin. Gadis itu ingin pulang pagi-pagi dan pergi ke sekolah tapi Bai Xiao memintanya untuk beristirahat satu hari lagi. Namun gadis kecil begitu keras kepala pada akhirnya dia langsung pergi ke sekolah setelah pulang dari rumah sakit.


"Ketua kelas, bagaimana keadaanmu?"


"Ketua kelas, aku mencatatkan pelajaran untukmu"


"Ketua kelas apa kau sudah sembuh?"


"Ketua kelas, aku akan membantumu untuk melakukan tugasmu"


"Terima kasih semua, atas perhatian kalian. Aku sudah lebih baik sekarang"


"Hei, Li Yimin"


Seorang anak laki-laki memanggil dengan nada sombong.

__ADS_1


"Kau anak nakal, jangan ganggu ketua kelas kami"


Seorang gadis berdiri di depan Li Yimin dan merentangkan tangannya mencoba menghalangi Liu Yaoshan.  Namun Liu Yaoshan mendorongnya. Dia berdiri di depan Yimin.


"Aku minta maaf, aku seharusnya tidak menantangmu waktu itu"


Semua orang terkejut melihat anak laki-laki sombong dan nakal seperti Liu Yaoshan menunduk dan meminta maaf pada ketua kelas mereka.


"Tidak perlu minta maaf. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga salah karena menerima tantanganmu. Kau memang benar bahwa aku gadis lemah"


"Tidak, aku rasa kau hebat. Di putaran pertama kau berhasil menyamailku"


"Terima kasih untuk pujianmu, Liu Yaoshan"


Li Yimin tersenyum. Liu Yaoshan tidak tahu kenapa perasaannya menjadi aneh mendengar Li Yimin memanggil namanya. Tidak ada siswa lain yang memaggil namanya sebelum ini. Liu Yaoshan segera pergi, dia tidak ingin perubahan hatinya diketahui oleh orang lain.  Dia kembali ke bangkunya dan memandang Yimin yang di kelilingi para anak laki-laki.  Dia mengalihkan pandangannya.


***


  Saat jam istirahat, seperti biasa Liu Yaoshan lebih memilih pergi ke belakang sekolah menghabiskan waktu sendiri. Latar belakang keluarganya membuat orang-orang takut untuk mendekatinya. Dia juga sudah terbiasa untuk sendirian.


"Udara di sini sangat nyaman ya"


"Kau"


Liu Yaoshan terkejut melihat Yimin yang berjalan mendekatinya.


"Kenapa kau disini?"


"Apa aku harus memiliki alasan untuk datang kesini? Tempat ini masih dilingkungan sekolah bukan?"


Yimin mengucapkannya dengan santai. Dia duduk disamping Liu Yaoshan begitu saja.


"Apa kau tidak takut padaku?"


"Apa kau seorang moster atau hantu?"


"Mungkin aku lebih buruk dari mostes atau hantu?"


"Benarkah? Tapi kau terlihat Seperti anak laki-laki biasa bagiku"


"Apa kau mau?"


Yimin menawarkan roti yang dibawanya. Liu Yaoshan mengeleng.


"Yasudah jika tidak mau"


Liu Yaoshan memandangnya, bagaimana gadis ini bisa berbicara santai padanya.


"Kau... Liu Yaoshan bukan?"


"Bukan namaku maksdutku tentang keluargaku"


"Apa aku harus tahu?"


"Tidak, tapi..."


"Aku tidak terlalu mempermasalahkan latar belakang keluarga seseorang"


Yimin tersenyum pada Liu Yaoshan.


"Hei, Liu Yaoshan .Ayo kita berteman"


Yimin mengulurkan tangannya. Liu Yaoshan memandangnya dengan heran. Dia ingin mengulurkan tangan tapi dia mengurungkan tangannya. Dia berdiri dan berjalan pergi.


"Hei, kau mau kemana?"


"Jangan ikuti aku"


"Tapi, bukankah kita teman?"


"Cari saja orang lain untuk menjadi temanmu"


Liu Yaoshan mempercepat langkahnya hingga Yimin kesulitan untuk mengejarnya. Yimin menyerah dan kembali ke tempat duduk dan menikmati rotinya sendiri. Dia merasa aneh. Apa yang salah dengannya? Kenapa pria itu tidak mau menjadi temannya?.


***


Malam hari,


Li Huan Rui dan Helena menjadi pusat perhatian saat menghadiri pesta. Li Huan Rui tampil menggunakan stelan formal sedangkan Helena menggunakan gaun malam berwarna merah yang memancarkan kecantikannya. Kamera tertuju ke arah mereka.


Helena tersenyum sedangkan Li Huan Rui hanya menunjukkan ekspresi datar seperti biasa dan mengabaikan setiap kamera. Hal yang tidak disukainya saat menghadiri pesta adalah adanya kamera yang menyorotnya tapi setidaknya mereka hanya berada di luar tidak masuk dan meliput didalam pesta. Jika bukan karena sebagai seorang pimpinan dia harus membentuk relasi, dia mungkin tidak akan datang ke pesta dan menunjukkan sikap palsu di depan para pengusaha.


Berbeda dari Henry, Helena suka bersosialisasi dan mengobrol dengan para nyonya nyonya muda walaupun dia tahu bahwa sikap mereka hanyalah sm formalitas belaka. Tidak ada seseorang yang benar-benar baik di bisnis.


***


  "Papa"


Yimin memandang layar Tv yang menunjukkan wajah Li Huan Rui.


"Siapa wanita yang disamping papa itu?"

__ADS_1


Bai Xiao yang mendekati Yimin mendengar apa yang dia katakan. Dia melihat ke layar Tv. Li Huan Rui dan Helena berjalan dengan tangan Helena merangkul lengan Li Huan Rui, mereka terlihat serasi untuk bersama.


"Wanita itu seseorang yang akan dinikahinya"


"Mama"


"Bukankah mama sudah bilang padamu untuk tidak memanggil orang asing dengan sebutan papa? Pria itu akan segera menikah dengan bibi itu. Jika bibi itu tahu ada anak yang memanggil pasangannya papa, dia mungkin akan salah paham tentang itu"


Yimin menatap layar Tv dengan sedih. Dia sudah menemukan seseorang yang bisa dianggapnya papa dan bahkan memberikan pelukan padanya tapi dia tidak bisa menganggapnya papanya. Mamanya mungkin benar, seharusnya dia tidak menganggap orang asing sebagai papanya.


Bai Xiao melihat kesedihan di mata putrinya. Dia sudah menjauhkan mereka tapi sepertinya ada ikatan yang kuat antara ayah dan anaknya. Namun dia tidak ingin putrinya terlibat dengan masa lalunya dan menganggu hubungan Li Huan Rui dan Helena. Bai Xiao mendekati putrinya dan memeluknya.


"Yimin, tidak perlu sedih. Walaupun Yimin tidak memiliki paman itu sebagai papamu bukankah Yimin punya mama sekarang?"


"Ya, mama benar. Yimin tidak butuh papa. Keberadaan mama sudah cukup"


Yimin tersenyum, dia tidak ingin membuat mamanya merasa sedih.


"Mama, Yimin mengantuk"


"Baiklah, ayo tidur"


Bai Xiao menggendong Yimin dan membawanya ke kamar.


"Mama, Yimin ingin dibacakan cerita sebelum tidur"


"Baiklah, dimana bukunya?"


Yimin mengambil buku yang ada di meja belajarnya dan memberikannya pada Bai Xiao. Yimin merembahkan tubuhnya di kasur. Bai Xiao mulai membaca cerita untuk Yimin. Dia selalu ingin melakukan hal ini untuk putrinya. Yimin perlahan memejamkan matanya. Bai Xiao meletakkan bukunya, dia memberikan kecupan di dahinya. Dia hendak pergi namun tangan kecil itu mengenggam tangannya.


"Mama, jangan pergi"


Yimin kembali membuka matanya.


"Mama tidur dengan Yimin ya? Yimin ingin dipeluk mama"


Yimin memandangnya dengan penuh harap.


"Baiklah"


Bai Xiao memeluk putrinya, salah satu tangannya mengusap lembut rambutnya.


"Mama, mama tidak akan pergikan?"


"Hm"


Yimin mulai mengantuk karena merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan mamanya.  Yimin perlahan mulai memejamkan matanya. Bai Xiao memandang wajah tertidur putrinya.


***


Li Huan Rui mengecek hasil tes DNA secara online. Dia membaca hasil tes dengan teliti. Pandangannya fokus pada kesimpulan hasil tes yang menunjukkan kecocokan DNA 98%. Li Huan Rui terdiam. Walaupun dia tahu bahwa Yimin memang seharusnya putrinya. Dia menghela nafas, jadi memang benar bahwa Li Jiao tidak minum obat yang dia berikan padanya.


Dia bersandar di kursi. Wanita itu pasti mengalami masa-masa berat untuk mengandung anak di usia muda dan dia justru meninggalkannya saat itu. Dia merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan padanya.  Setelah apa yang dia lakukan dapatkah dia menerimanya. Walaupun dia menunjukkan hasil tes DNA itu apakah dia akan menyerahkan Yimin padanya.


Li Huan Rui ingin membuat Li Jiao kembali padanya tapi gadis itu membencinya dan dia dapat memahami hal itu. Apa yang dia alami selama ini, kerinduan dan rasa sakit yang dia rasakan ketika wanita itu meninggalkannya tidak sebanding dengan penderitaan yang dia alami.


Li Huan Rui menghela nafas, pemikiran sempitnya telah membuat gadis itu dalam kesulitan tapi dia masih mempertahankan anak mereka walaupun dia tahu bahwa kehamilan muda bisa merenggut nyawanya. Namun kenapa dia tidak mengatakan padanya dan pergi begitu saja. Kenapa dia harus menyembunyikan hal ini dan menderita seorang diri, tapi ini juga salahnya andai saja dia tidak egois saat itu, andai saja dia bisa berani resiko untuk membuang statusnya sebagai pewaris dan membawanya.


***


Bai Xiao tidak memiliki banyak pekerjaan, dia memilih menyiram bunga di halaman depan. Bai Xiao berhenti ketika mendengar suara gerbang dibuka dan sebuah mobil BMW masuk. Seseorang pria keluar dari mobil. Bai Xiao menjadi cangung saat bertemu dengan ayah tirinya. Sejak perdebatan yang terjadi diantara mereka dan keputusan Bai Xiao melepas nama keluarga Li dan menganti dengan nama keluarga ayahnya. Pada akhirnya kekersan kepala Bai Xiao menang dan Li Yongfan juga setuju untuk memalsukan kematian Li Jiao.


"Hallo, tuan Li"


Li Yongfan menatap Bai Xiao dengan sedih ketika mendengar sapaan formal dari putrinya.


"Ini sudah 8 tahun dan kau masih menganggapku orang asing"


"Tuan Li"


Li Yongfan mendekati Bai Xiao. Li Yongfan hendak memeluk Bai Xiao tapi wanita itu memberi jarak padanya.


Li Yongfan merindukan putrinya, dia memutuskan untuk mengambil cuti saat tahu bahwa putrinya telah kembali ke rumah tapi putrinya masih menganggapnya sebagai orang asing.


"Jiao, kau adalah putriku. Walaupun kau memilih untuk melepaskan nama keluarga Li. Aku tahu aku terlalu keras padamu dan membebanimu tapi kau tetaplah putriku. Bisakah kau menjadi putriku dan memanggilku papa lagi"


"Tuan Li, saya tidak pantas untuk itu. Saya Bai sekarang"


"Jiao"


"Tuan Li, saya Bai Xiao bukan Li Jiao"


Dia ingin membuang masa lalu tentang Li Jiao. Jika dia bisa dia tidak ingin terlibat dengan keluarga Li lagi tapi putrinya masih membutuhkan dukungan dari keluarga Li untuk pengobatannya.


"Li Jiao sudah tidak ada lagi sekarang"


Li Yongfan memandang dengan tatapan sedih. Dia tahu seharusnya dia tidak sekeras itu pada putrinya hingga membuat putrinya seperti ini.


"Tuan Li, anda pasti lelah bukan? Lebih baik anda masuk dan beristirahat"


"Ya, kau benar"

__ADS_1


Li Yongfan lalu meninggalkan Bai Xiao. Bai Xiao dapat melihat kesedihan Li Yongfan tapi dia berusaha untuk mengabaikannya. Dia tidak bisa lagi menjadi Li Jiao , nona muda dari keluarga Li yang dibanggakan oleh Li Yongfan. Bai Xiao menghela nafas. Dia hanya fokus menyiram bunga-bunga dan tidak memikirkan apapun


__ADS_2