Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Side Story 5 (Step Father)


__ADS_3

Mo An An memandang putrinya dengan tatapan khawatir.


"Sayang, apa kau yakin tidak ingin tinggal di rumah bibi Yin?"


Mo An An harus melakukan syuting di luar kota. Dia khawatir harus meninggalkan putrinya sendirian.


"Tidak apa-apa, mama"


Jiao tidak mungkin pergi ke rumah bibi Yin, dia tidak ingin membuat pangerannya semakin membencinya.


"Bukankah ada banyak maid? Mama tidak perlu khawatir"


"Baiklah. Jaga dirimu"


Mo An An memberikan kecupan.


"Jika sesuatu terjadi hubungi mama dan ingat untuk minum obat dan juga kau harus makan lebih banyak dan..."


"Baiklah...baiklah. Mama, bibi asisten sudah menunggumu "


"Baiklah"


Mo An An merasa enggan untuk meninggalkan putrinya yang manis apalagi mereka semakin dekat.


***


   Li Yongfan merasa malas untuk pulang ke rumah karna istrinya pergi ke luar kota tapi Li Yongfan bukanlah tipe orang yang suka menghabiskan waktu di kantor.


  


   Li Yongfan  disambut oleh para pelayannnya. Dia berjalan menuju ke ruang kerjanya.


"Tuan, makan malamnya sudah siap. Apa anda tidak makan malam dulu?"


"Apa anak itu ada?"


"Ya. Nona Jiao menunggu anda untuk makan malam"


"Aku tidak makan. Aku tidak ingin makan bersamanya"


Jiao yang saat itu keluar dari dapur mendengar pembicaraan mereka. Jiao merasa sedih.


"Paman, anda tidak perlu melewatkan makan malam karena Jiao "


Jiao yang biasanya memiliki bahasa kasar berusaha untuk berbicara dengan sopan. Li Yongfan yang melihat Jiao tiba-tiba muncul , dia hanya menanggapinya dengan dingin. Dia masuk ke ruang kerjanya begitu saja.


"Nona Jiao, silahkan anda makan. Saya akan membawakan tuan makan malam nanti "


Ketua Pelayan itu mencoba menghibur nona mudanya. Dia mengerti perasaan tuannya, tidak mudah untuk menerima anak yang memiliki darah pria lain yang mengalir di tubuhnya. Para pelayan juga awalnya tidak suka dengan nona muda ini dan mengkritik Mo An An. Mereka juga berpikir bahwa nona muda itu menjadi sombong dan semena-mena tapi nona muda ini justru memiliki sikap tenang, dia bahkan mencuci piringnya sendiri jika dia sedang makan sendirian dan juga saat pelayan yang memandikannya melihat luka di punggung nona kecil ini dan menceritakannya membuat mereka merasa iba mungkin karena itu nona muda yang masih kecil ini bersikap begitu tenang.


Tiga orang melayani Jiao dan meletakkan makanan lengkap di piringnya. Nona mereka memiliki tubuh yang kurus dan terlihat begitu rapuh.


"Nona, apa anda tidak menyukai makanannya?"


Jiao terdiam. Dia bukannya tidak suka, bagaimana pun makanan yang di sajikan terasa enak dan mewah tapi jika dia memakannya paman itu tidak akan makan dan koki harus membuat makanan baru sebagai gantinya bukankah dia menjadi memberatkan pekerjaan koki.


"Maaf, Jiao harus pergi mengerjakan tugas. Terima kasih makanannya"


Para pelayan itu saling memandang.


"Maaf nona, apa anda tidak suka makanannya?"


Kepala koki mendekati nya.


"Bukan begitu. Makanan buatan koki selalu enak hanya saja aku sedang tidak berselera makan"


"Begitu"


"Kepala koki, anda tidak perlu memasak ulang. Katakan saja pada paman bahwa saya tidak memakan makanan ini"


Jiao langsung pergi ke kamarnya. Para pelayan menatapnya dengan sedih begitu pula dengan kepala koki. Kepala koki teringat saat nona mudanya berulang kali minta maaf karena dia pekerjaan kepala koki jadi bertambah. Jiao juga minta maaf pada pelayan yang dimarahi Li Yongfan karenanya. Mereka merasa kasihan pada nona mereka yang terlalu baik.


***


Li Yongfan sibuk membaca dokumen-dokumennya. Biasanya dia jarang membawa dokumen ke rumah karena dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan istrinya.


Tok tok tok


"Tuan, saya membawa makanan"


"Masuklah"


Pelayan itu masuk dengan ragu-ragu.


"Apa anak ini juga makan makanan ini?"


"Tidak tuan"


Li Yongfan memandang pelayan itu dan mencari tahu apa ucapannya jujur atau tidak. Dia tidak melihat kebohongan.


"Itu...nona muda bahkan tidak sempat memyentuh makanan. Dia tidak makan apapun"


"Begitukah? Kenapa apa dia tidak suka?"


"Saya ....tidak tahu"


Li Yongfan akan bermasalah jika Mo An An tahu bahwa anaknya tidak makan.


"Buat makanan yang disukainya dan antarkan padanya. Nyonya muda akan marah jika  anaknya mati kelaparan "


"Baiklah, tuan"

__ADS_1


Pelayan itu keluar dan tersenyum. Sepertinya kebencian tuannya tidak terlalu dalam pada nona muda. Pelayan itu berencana untuk mendekatkan nona muda dengan ayah tirinya.


***


Keesokanharinya, hari weekend Li Yongfan menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Dia merentangkan tangannya merasa lelah. Dia keluar dari ruangannya. Saat itu kepala pelayan mendekatinya.


"Tuan muda, makan siang sudah siap"


"Bukankah aku sudah bilang tidak ingin makan dengan anak itu?"


"Itu..nona Jiao tidak keluar dari kamarnya. Dia juga tidak mau turun untuk makan sejak tadi pagi"


"Apa anak itu sedang mencari perhatian dengan bersikap manja?"


"Maaf tuan muda, tapi saya pikir bukan seperti itu. Nona Jiao peduli pada anda. Dia tidak ingin turun untuk makan karena nona tahu tuan tidak ingin makan jika ada nona dan nona tahu anda mungkin merasa tidak nyaman makan di ruang kerja. Jadi nona memilih untuk tidak makan"


"Apa dia yang mengatakan alasan itu?"


Kepala pelayan mengangguk.


"Dia juga yang memintamu memberi tahu alasannya padaku? Apa dia melakukam itu untuk menarik simpatiku? apapun yang dia lakukan aku tidak peduli dan jangan harap aku akan bersimpati padanya hanya karena hal ini"


"Tapi tuan..."


"Jika dia masih memolak untuk makan maka biarkan saja dia. Jika Mo An An bertanya katakan saja sikap kekeras kepalaan putrinya sendiri"


Li Yongfan lalu pergi ke ruang makan karena anak itu tidak ada dan tidak mau makan jadi dia akan menikmati makan siangnya dengan tenang setelah itu dia akan kembali bekerja.


  Di dalam kamarnya, Jiao meringkuk di tempat tidur. Dia lapar tapi dia berusaha menahannya, lagipula dia hanya tidak makan 2x dalam sehari. Dia sudah sering menahan rasa laparanya sehingga tidak terlalu sulit untuknya.


***


  Jiao turun ke bawah, dia merasa haus. Dia mendengar suara telpon berdering. Hari sudah larut dan sepertinya sudah banyak pelayan yang tidur. Jiao ingin menjawab telpon ketika kepala pelayan mendekatinya.


"Nona, biarkan saya saja"


"Baiklah"


"Nona, bisakah anda membantu saya mengantarkan teh pada tuan"


"Oh, baiklah"


Jiao dengan ragu-ragu menerima baki yang dibawa kepala pelayan itu.


Jiao berjalan dengan ragu ke ruang kerja Li Yongfan. Jiao mengetuk pintu ruangan.


Tok tok tok


"Masuklah"


Suara tegas dan dingin terdengar. Jiao masuk ke dalam ruangan yang dikelilingi oleh rak buku. Dia berjalan pelan menuju ke arah Li Yongfan.


Pria itu melihat ke arahnya, tatapannya berubah menjadi dingin.


"Paman, Jiao membawa paman kopi"


"Bawa pergi. Aku tidak mau minum apa yang sudah anak seperti mu sentuh"


"Tapi, ini..."


"Jangan menguji kesabaranku. Jangan pernah menujukkan diri di hadapanku"


Li Yongfan menyampar gelas itu dan mengenai tangan Jiao. Kopi itu masih cukup panas karena Li Yongfan biasanya memesan untuk dibawa kopi panas agar suhunya tidak terlalu dingin ketika dia abaikan.


Jiao reflek melepaskan baki itu dan gelas itu jatuh. Li Yongfan juga terkejut dengan apa yang dia lakukan. Dia yakin gadis itu akan menangis saat ini tapi gadis itu tidak menunjukkan emosi apapun lagi bahkan tidak berteriak.Gadis itu justru memunguti pecahan keramik dari gelas itu"


"Maaf"


Gadis itu segera pergi. Li Yongfan memandang pintu yanh tertutup itu. Dia merasa aneh dengan reaksi gadis kecil itu, untuk gadis seusianya biasanya mereka akan menangis tapi kenapa anak itu bersikap seolah tidak merasakan apapun.


***


"Nona muda"


"Kepala pelayan, maafkan aku karena aku kopi ini terbuang sia-sia"


Kepala pelayan itu melihat pecahan keramik. 


"Nona, apa kau terluka?"


"Aku tidak apa-apa"


Jiao lalu membuang pecahan keramik itu sedangkan kepala pelayan membuat kopi baru untuk Li Yongfan.


***


Di dalam kamarnya, Jiao merenung mungkin seharusnya dia tidak berada disini. Dia seharusnya tidak menganggu kebahagiaan mamanya yang telah memiliki keluarga baru.


 


'Mungkin, aku harus pergi '


Jiao membuka almarinya, ada banyak pakaian di almari. Dia ingin mengambil salah satu tapi akhirnya dia mengurungkan niatnya. Pakaian-pakaian ini dibeli oleh ibunya, tidak sepantasnya dia membawanya.


Disisi lain pelayan mengantarkan kopi kepada Li Yongfan. Li Yongfan ingin bertanya sesuatu pada kepala pelayan tapi dia ragu-ragu justru yang keluar dari mulutnya berbeda dengan yang dia inginkan.


"Kepala pelayan, apa kau yang menyuruh anak itu membawa kopi ? Kau seharusnya melakukan tugasmu dengan baik,jika kau tidak bisa membawakan kopi maka kau bisa minta pelayan yang lain. Jangan pernah biarkan anak itu masuk ke ruanganku, kau mengerti"


"Maafkan saya, tuan. Saya akan memperhatikan ini lain kali"


"Baguslah. Aku tidak lagi membutuhkan bantuanmu. Kau bisa pergi dan istirahat"

__ADS_1


"Baiklah, tuan"


Kepala pelayan itu menundukkan kepalanya. Dia merasa sedih dan kecewa karena rencananya untuk mendekatkan tuan dan nona muda gagal.


"Kepala pelayan"


"Ya, tuan"


"Ada yang ingin aku tanyakan"


***


Jiao pergi meninggalkan rumah pagi-pagi. Saat dia keluar udara dingin menyambutnya. Bulan januari masih memiliki suhu yang cukup dingin khususnya di pagi hari. Jiao keluar lewat pintu belakang. Dia berusaha menaiki pagar.  Bagi gadis kecil yang harus sering melarikan diri saat ketahuan mencuri dia sudah belajar bagaimana memanjat rembok dengan tubuh kecilnya. Namun tembok itu cukup tinggi, gadis kecil itu bahkan terjatuh.


"Apa yang kau lakukan?"


Suara rendah seorang pria terdengar. Jiao menoleh dengan ragu.


"Paman"


Li Yongfan menatap tajam ke arahnya. Anak-anak lain mungkin akan menangis melihat tatapan tajam yang menakutkan.


"Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini?"


Jiao gugup. Haruskah dia mengatakan bahwa dia ingin melarikan diri.


"Apa kau ingin kabur dari rumah?"


Jiao hanya diam.


"Apa kau tidak bisa bicara huh? Kau ingin pergi dan melaporkan pada mamamu tentang apa yang aku lakukan? Kau ingin kami bertengkar lagi dan lagi?"


Li Yongfan menaikan nada suaranya. Jiao hanya diam memandang Li Yongfan. Biasanya anak kecil akan nangis saat dimarahi tapi Jiao hanya menatap kosong ke arahnya.


"Maafkan, saya. Saya tidak bermaksud membuat paman dalam masalah. Saya akan kembali ke rumah saya dan saya tidak akan menganggu keluarga paman lagi. Saya tahu disini saya hanya menyusahkan paman dan membuat paman kesal. Saya benar-benar minta maaf"


Jiao membungkukkan badan.  Li Yongfan menghela nafas.


"Sudahlah, kembali masuk"


"Tapi, saya..."


"Jika kau tidak ingin aku terlibat dalam masalah maka masuklah"


Jiao akhirnya menuruti Li Yongfan. Gadis kecil itu mengikutinya dari belakang.


"Kenapa di belakangku. Majulah"


Gadis kecil itu memurutinya. Li Yongfan diam-diam tersenyum melihat anak yang penurut itu. Jika seperti ini dia benar-benar mirip Mo An An saat kecil.


Mereka masuk ke rumah. Li Yongfan meminta nya duduk dan menunggunya di ruang tamu. Gadis kecil itu ingin mengatakan sesuatu tapi akhirnya menurut.


Li Yongfan meninggalkannya. Lalu tidak lama dia datang dan membawa salep.


"Ulurkan tanganmu"


Jiao tidak bereaksi apapun. Li Yongfan dengan pelan meraih tangannya. Dia mengoleskan salep dengan penuh hati-hati.


"Teriak saja jika sakit"


Jiao hanya diam. Li Yongfan memperhatikannya, gadis kecil itu tidak menunjukkan perubahan pada ekspresi dararnya seolah tidak merasakan apapun.


Li Yongfan sudah meminta seseorang menyelindi Bai Yuchen dan dia mendapatkan laporan semalam tentang Bai Yuchen yang ditangkap karena menyiksa anaknya.


"Kau akan tumbuh menjadi wanita di masa depan. Seorang wanita seharusnya tidak memiliki bekas luka"


Li Yongfan mengubah nadanya menjadi lebih lembut.


"Terima kasih, paman"


Dia mengusap lembut rambut anak itu. Dia tahu rasa sakit yang dialami gadis itu cukup besar hingga dia tidak bereaksi bahkan saat sakit. Di masa lalu, Li Yongfan yang merawat Li Huan Rui, dia mengerti kebiasaan anak-anak. Dia merasa bersalah karena bersikap kasar pada anak ini.


"Panggil aku papa mulai sekarang"


"Tapi, papa jiao adalah..."


"Mulai sekarang aku adalah papamu"


Setelah mengetahui hal yang dilakukan Bai Yuchen dia tidak pantas mendapatkan status seorang ayah. Dia juga tidak ingin gadis kecil itu teringat dengan masa lalunya khususnya ayah kandungnya yang hanya memberinya masa sakit.


Li Yongfan sekarang tidak keberatan menganggap anak Mo An An sebagai anaknya lagipula dia begitu mirip Mo An An tapi dengan karakter berbeda. Mata Mo An An biasanya cerah tapi selain warna matanya yang berbeda tatapan matanya juga terlihat penuh kesedihan dan juga warna mata gelap anak ini juga mirip miliknya.


"Tidak apa-apa jika kau butuh waktu"


Li Yongfan memeluk tubuh gadis kecil itu. Jiao tidak pernah merasakan pelukan hangat ayahnya. Paman ini bukan ayah kandungnya tapi Jiao dapat merasakan kehangatan yang selalu ingin dia rasakan. Bisakah paman ini menjadi papanya yang sesungguhnya.


"Papa"


Li Yongfan melepas pelukannya. Dia ragu dengan apa yang dia dengar.


"Ulangi apa yang kau katakan"


"Papa"


Li Yongfan tersenyum.


"Jiao mulai sekarang kau adalah Li Jiao"


Jiao tidak pernah memiliki marga. Ayahnya tidak pernah memperbolehkannya menggunakan nama marga Bai.


"Kau pasti masih mengantuk bukan? Ini masih terlalu pagi. Kau bisa kembali tidur"

__ADS_1


Li Yongfan mengendong gadis kecil itu. Jiao bersandar di dadanya dan perlahan tertidur


A/N : Awalnya mau buat lebih menyedihkan tapi kasihan Jiao


__ADS_2