
Mo An an berusaha untuk berbicara dengan Li Yongfan tapi pria itu tidak mempedulikaannya. Bahkan sekarang dia tidak diperbolehkan untuk masuk ke ruangannya. Mo An an tahu hubungannya dengan Li Yongfan sejak awal memang tidak ada harapan untuk bersama lebih lama namun da tidak berharap hubungan mereka akan kacau seperti ini bahkan pria ini tidak mau menemuinya. Haruskah dia menyerah sekarang, setelah semua yang telah dia korbankan untuk bersama dengannya.
“Tolong, biarkan aku bertemu dengannya”
“Maafkan saya, nona Mo, tapi direktur Li sedang sibuk dan memesan pada saya untuk tidak membiarkan anda menganggu”
“Tolong,hanya sebentar”
“maafkan saya, nona Mo.Saya tidak bisa melawan perintah”
Mo An an menghela nafas. Mungkin dia harus mencari cara lain untuk berbicara dengannya
LI Yongfan berusaha keras untuk menghindari mo An an, dia sudah memberi tahu sekertarisnya untuk menghadangi mo An An masuk. Dia juga sudah memberi tahu penjaga keamanan di mensionnya untuk menghadanginya. Li Yongfan berusaha fokus dengan pekerjaannya. Ada banyak hal yang harus dilakukan khususnya beberapa pertemuan yang harus dia hadiri khususnya pesta malam.
Ponsel Li Yongfan berdering ketika dia sedang mengobrol dengan beberapa pengusaha yang menghadiri pesta.
“Hallo”
“Direktur Li...itu...Nona Mo tidak mau pergi walaupun kami sudah memintanya. Dia tetap berada di depan gerbang sejak siang”
“Apa? Kenapa kau hanya melapor. Cepat buat dia pergi”
Li Yongfan mengucapkannya dengan dingin namun sebenarnya dia merasa khawatir, musim dingin telah datang dan wanita itu masih berada diluar.
“Kami sudah melakukannya, tapi nona An bersikeras ingin menunggu anda”
Li Yongfan menghela nafas.
“Katakan padanya aku tidak akan kembali”
Li Yongfan lalu mematikan ponselnya. Dia yakin dengan begini Mo An an pasti pergi namun Li Yongfan masih merasa tidak nyaman. Dia akhirnya memilih untuk kembali ke rumah. Ketika dia sampai di rumah, dia melihat penjaga keamanan masih membujuk Mo An an tapi wanita itu masih berdiri di depan gerbang.
Wanita itu menggunakan pakaian minim. Dia hanya menggunakan gaun tipis. Li Yongfan keluar dalam mobil. Mo An an melihat ke arah mobil itu.
“Direktur Li”
“Apa yang kau lakukan? “
“Direktur Li, aku ingin mengobrol denganmu”
“Aku sibuk, pulanglah”
Li Yongfan kembali masuk dalam mobil dan melajukan mobil tap Mo An an menghadangnya.
“Mo An an menyingkirlah”
“Tidak, aku tidak akan menyingkir”
“Terserah, jika kau tidak menyayangi nyawamu”
Li Yongfan melajukan mobilnya tapi Mo tidak bergerak sama sekali. Dia tahu dia gila tapi dia tidak punya cara lain. Li Yongfan menghentikan mobilnya tepat di depannya.
“Mo An an”
“Li Yongfan, berikan aku kesempatan untuk bicara setelah aku tidak akan muncul dalam kehidupanmu lagi dan aku juga akan meninggalkan kantor”
“Jangan mengatakan omong kosong”
“Aku serius. Jika kau tidak mau maka aku tidak akan pergi dari rumahmu”
Li Yongfan menghela nafas.
“Baiklah”
Mo An an tersenyum senang, dia akhirnya menyingkir dan membiarkan mobil itu lewat. Mo An an menunggu Li Yongfan di depan pintu.
“ Li Yongfan aku...”
“Kita bisa bicara di dalam, sangat dingin diluar”
Mo An an mengangguk. Li Yongfan memasukkan kata sandi lalu mereka masuk.
“ Katakan, apa yang ingin kau katakan”
“Li Yongfan, aku memang menikah dengan Bai Yuchen tapi aku tidak pernah mencintainya”
Li Yongfan hanya diam ekspresinya masih datar.
“ Aku menikahinya hanya karena aku merasa putus asa saat kau akhirnya bersama Shen Fengyin”
“Bukankah kau juga mendukung hubunganku dan Shen Fengyin”
“Itu benar, tapi bukan berarti aku tidak terluka. Aku tahu aku tidak akan pernah memilikimu. Awalnya aku hanya ingin berkencan dengannya tapi ketika aku pergi ke A country dan melihatmu menjadi keluarga bahagia dengan Shen Fengyin aku akhirnya memutuskan untuk menikah dengannya karena aku pikir tidak ada kesempatan untukku bersamamu”
“Lalu, kenapa Bai Yuchen?”
“Karena saat itu dia melamarku jadi aku menerimanya, tapi sungguh aku tidak pernah bisa melupakanmu. Bai Yuchen selalu saja marah padaku bahkan tidak segan bersikap kasar setiap kali aku menyebut namamu dan aku tidak tahan dengan itu, dia berulang kali mengancamku agar aku melupakanmu tapi aku tidak bisa. walaupun dia memukulku ataupun mengancam akan membunuhku tapi aku tidak ingin melupakan perasaanku padamu”
“Kau ingat saat malam itu? Malam dimana aku menyerahkan diri padamu?”
Li Yongfan mengangguk.
“Saat itu, aku masihlah istri Bai Yuchen tapi aku justru melemparkan diriku padamu dan merayumu. Dia tahu bahwa aku berselingkuh, dia sangat marah dan kau tahu dia menghancurkan rahimku dan membuatku sulit untuk memiliki anak. Aku kesakitan setiap hari dan kau tahu apa yang ku pikirkan, aku hanya memikirkanmu”
“Aku mengajukan perceraian padanya tapi Bai Yuchen menolak jadi aku meninggalkannya . Aku meninggalkannya dan mengikutimu. Tidakkah kau pikir aku begitu tergila-gila padamu? Tidakkah kau pikir aku wanita yang menakutkan?”
Li Yongfan tidak menanggapi apapun.
“Wanita sepertiku ini mana pantas untuk menjadi Ny. Li itulah alasanku kenapa aku menolak menikahimu sejak awal”
Mo An an menghela nafas.
“Itulah yang ingin aku katakan padamu. Aku tidak akan menganggumu lagi dan aku tidak akan muncul dalam kehidupanmu lagi”
Mo An an meletakkan amplop cokelat di meja.
“Ini uang konpensasiku”
“darimana kau mendapatkan uang ini? An, apa kau berhubungan dengan pria lain untuk mendapatkan uang ini?”
“Untuk apa kau peduli? Wanita sepertiku tidak pantas untuk kau khawatirkan”
Mo An an berbalik pergi, namun sebelum dia sempat keluar, dia berhenti sejenak.
“Tuan Li, aku sudah menghabiskan sepanjang hidupku dengan cinta yang gila ini untukmu. Aku tahu kau pasti terganggu dengan ini jadi aku sudah memutuskan aku akan mulai melupakanmu dan menjalani hidupku tanpamu”
“Aku juga....tidak akan menganggu kehidupan keluargamu saat kau akhirnya menemukan wanita lain. Selamat tinggal, kakak Fan”
Mo An an sudah merenungkan hal ini, tentang kecerobohannya di masa lalu dan akhirnya menghancurkan kehidupannya sendiri. Mo An an perlahan melangkah keluar. Li Yongfan masih diam, tangannya mengepal, kata-kata terakhir yang diucapkan Mo An an terngiang di telinganya.
‘Tidak, aku tidak bisa kehilangannya’
Li Yongfan keluar dan mencari mo An An, dia tidak menyangka bahwa Mo An an sudah meninggalkan mensionnya. Li Yongfan berlari dan ketika dia melihat seorang wanita berjalan dengan kepala tertunduk, dia segera berlari ke arahnya dan menarik tangannya lalu menjatuhkannya dalam pelukannya.
“Li Yongfan”
“An, jangan pergi. Kau sudah melakukan banyak hal untuk berada disisiku lalu kenapa kau menyerah begitu mudah”
Li Yongfan tidak peduli lagi walaupun Mo An an pernah menikah dengan pria lain dan pria itu adalah Bai Yuchen tapi sekarang dia akan menjadikan Mo An an miliknya dan Mo An an akan selalu menjadi miliknya.
“Ayo,kita mendaftarkan pernikahan kita sesegera mungkin”
Mo An an terkejut.
“Li Yongfan, kau sudah mendengar masa laluku bukan? Apa kau tidak takut padaku? Wanita yang mengerikan ini? Aku tidak segan untuk bersikap posesif jika kau mengikatku”
“Ya, kau bisa melakukannya”
Li Yongfan menunduk dan mencium Mo An an.
“Aku tidak akan terhubung dengan wanita lain selain kau di masa depan dan kau juga harus janji padaku, semarah apapun kau padaku, jangan pernah terlibat dengan pria lain”
“Baiklah, aku mengerti”
Mo An an bertemu dengan Shen Fengyin dan mengembalikan uang yang dia pinjam. Saat ini mereka berada di cafe tidak jauh dari perusahaan Shen.
“Apa masalahmu dengan kakak Fan sudah selesai?”
Mo An an mengangguk.
“Aku sudah menjelaskan padanya dan dia masih tetap akan menikahiku”
“Lalu, apa kau sudah memberi tahunya tentang putrimu?”
__ADS_1
Mo An an mengenggam gelasnya dengan erat ketika mendengar pertanyaan Shen Fengyin. Dia meletakkan gelasnya. Lalu menggeleng.
“Aku belum siap untuk memberi tahunya”
“An, tapi kakak Fan seharusnya tahu tentang ini. Apa kau tidak ingin membawa putrimu?”
“Apa kau tidak khawatir padanya?”
Mo An an terdiam, dia tidak pernah memikirkan putrinya sebelum ini tapi setiap dia melihat Rui dan dekat dengan Rui, dia mulai memikirkan putrinya. Putri yang dia tinggalkan karena obesinya pada cinta, apakah putrinya masih mau mengakuinya jika dia menemukan apa yang telah dilakukan ibunya. Sebenarnya jika Li Yongfan tidak menahannya disisinya, dia akan mencari putrinya dan membawanya pergi meninggalkan Bai Yuchen, tapi dia tidak yakin mungkinkah putrinya mau berada disisi ibu yang telah meninggalkannya dan tidak peduli padanya.
“Aku khawatir, tapi aku tidak yakin apa dia akan menerima ibu sepertiku dan mungkin saja dia lebih memilih Bai Yuchen, dialah yang merawatnya sejak kecil”
“tapi, An. Kau tetaplah ibunya, dia pasti merindukanmu. Kau tidak ingin menemuinya?”
Shen Fengyin teringat tentang masa lalu, Li Huan Rui selalu berusaha mencari perhatian dan dia tahu seorang anak membutuhkan kasih sayang ibunya.
“Aku ingin tapi aku masih belum siap jika dia menolakku. Aku butuh waktu ”
Shen Fengyin hanya menghela nafas. Ponsel Shen Fengyin bergetar. Dia melihat nama yang tertera di layar, dia tiba-tiba ingat bahwa dia memiliki janji dengan Li Yongsheng dan Li Huan Rui.
“Hallo”
“Istriku, kau dimana?”
“Aku di cafe dekat perusahaan Shen. Aku akan segera pergi ke bioskop”
“Baiklah, aku dan Rui menunggumu”
Shen Fengyin lalu mematikan sambungan telpon.
“Kau ada janji dengan Li Yongsheng? Apa kau berkencan dengannya?”
Mo An an masih dapat mendengar percakapan mereka di telpon.
“Ya. Aku harus pergi. Aku akan mengantarmu”
“Tidak perlu, kau duluan saja”
“Baiklah, sampai jumpa”
Li Huan Rui dan Li Yongsheng menunggu di depan ruangan, Li Huan Rui begitu bersemangat.
“Rui kecil, kau terlihat bersemangat. Apa ini pertama kali untukmu?”
“Tidak, papa Fan pernah membawaku menonton juga “
“Oh”
Li Yongsheng sebenarnya masih tidak nyaman ketika Li Huan Rui memanggil kakaknya dengan sebutan papa tapi bagaimanapun Li Huan Rui sudah terbiasa dengan panggilan itu pada Li Yongfan jadi dia tidak akan memaksa putranya.
“Papa, tidakkah itu mama”
Shen Fengyin terlihat kesulitan melewati orang-orang dengan kursi rodanya.
“Rui kecil, tunggu disini sebentar”
Li Yongsheng mendekati Shen Fengyin.
“ Istriku, ayo Rui sudah menunggu kita”
Li Yongsheng mendorong kursi roda.
“Kau tidak harus melakukan ini. Aku bisa sendiri”
“Tidak apa-apa, aku ingin melakukannya untukmu”
Li Yongsheng membawa Shen Fengyin ke ruangan. Li Huan Rui tersenyum dan menyapa ibunya.
“Mama, akhirnya mama datang. Ayo, kita masuk”
Mereka bertiga masuk tapi tidak ada orang selain mereka. Li Yongsheng dan Li Huan Rui kebingunan.
“Kalian bisa memilih tempat duduk manapun. Aku sudah menyewa tempat ini?”
“Kau menyewa tempat ini?”
Shen Fengyin mengangguk. Li Huan Rui berlari memilih tempat duduk. Li Yongsheng membantu Shen Fengyin duduk di kursi walaupun Shen Fengyin menolak bantuannya, tapi Li Yongsheng tetap saja keras kepala. Lampu dimatikan, mereka bertiga telah menggunakan kaca mata tiga dimensi. Li Huan Rui menikmati film yang mereka tonton.
“Istri, tidakkah kau menghabiskan banyak uang untuk ini?”
Ruang tempat mereka menonton sepertinya ruang khusus dan juga Shen Fengyin menyewa tempat ini di hari weekend bukankah harganya pasti tinggi.
Shen Fengyin tidak ingin Li Huan Rui terganggu dengan suara berisik orang lain jadi dia sengaja menyewa ruangan dan dia juga tidak ingin orang lain memperhatikannya. Li Yongsheng tersenyum mendengarkan jawaban Shen Fengyin. Dia tiba-tiba mencium pipi Shen Fengyin. Wanita itu terkejut.
“Istriku sangat baik”
Li Yongsheng berbisik tepat di telinga Shen Fengyin dan membuat Shen Fengyin merasa tidak nyaman. Dia berusaha mengabaikannya dan fokus menonton film.
Setelah menonton mereka jalan-jalan di mall. Li Huan Rui ingin pergi ke zona permainan jadi Shen Fengyin hanya mengikutinya. Li Huan Rui mencoba hampir semua permainan dan Li Yongsheng menemaninya bermain.
“Rui, bagaimana jika kita bertaruh. Siapa yang bisa mendapatkan boneka untuk mama”
“Baiklah”
“Tidak perlu melakukan itu, aku...”
“Tidak apa-apa mama. Rui akan mengambilkan boneka paling imut untuk mama”
Li Huan Rui memasukkan koin dia mulai menarik kuas dan menekan tombol tapi gagal. Dia berulang kali gagal dan membuat Li Huan Rui menyerahkan hal ini pada ayahnya.
“Papa, sekarang giliran papa”
“Baiklah”
Li Yongsheng terlihat serius dan dengan hati-hati menarik kuas lalu menekan tombol. Dia bisa melakukannya hanya dengan satu kali percobaan. Li Huan Rui bertepuk tangan. Li Yongsheng mengambil boneka teddy kecil dengan gambar hati di dada. Li Yongsheng berlututut.
“Istri, ini untukmu”
Shen Fengyin dengan ragu-ragu mengambilnya.
“Papa, bagaimana papa melakukannya?”
“Entahlah, papa hanya membayangkan wajah mamamu dan itu berhasil. Sepertinya ini keberuntungan dari dewi cinta”
“Apakah memang seperti itu?”
“Li Yongsheng, jangan bicara omong kosong pada putramu. Sayang, ayo kita main game yang lain”
Li Huan Rui mengangguk, dia berlari dan main sebuah game tembak-tembakan. Dia juga bertemu seorang anak laki-laki dan mereka bermain bersama. Li Yongsheng dan Shen Fengyin hanya mengawasinya dari belakang.
“Istri, apa seseorang pernah memberikan boneka seperti yang aku lakukan”
“Ya, pernah”
“Oh, siapa itu?”
Li Yongsheng masih berusaha bersikap tenang. Walaupun terdengar jelas nada kecemburuan.
“Kakek shen. Ketika aku kecil kakek mencoba permainan ini untukku tapi dia gagal bahkan menghabiskan banyak koin lalu kakek marah dan berkata
‘tidak perlu untuk menggunakan permainan ini, kakek akan membelikanmu boneka yang lebih bagus dan kakek mengajakku ke toko boneka dan membeli semua boneka di toko untukku”
Shen Fengyin tertawa kecil ketika mengingat hal itu.
“Keluarga Shen terlalu banyak membuang uang”
“Aku tahu, tapi bagaimana lagi uang keluarga Shen terlalu banyak”
Shen Fengyin tersenyum tapi perlahan senyum Shen Fengyin redup, ketika memikirkan kakeknya dia menjadi merindukannya.
“Apa kau merindukan kakek Shen? Bagaimana jika setelah ini kita pergi ke makan kakek Shen”
Shen Fengyin mengangguk, sudah sejak lama dia tidak pergi ke makam kakeknya. Dia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Kita juga akan ke makan papaku juga?”
“Papa?”
Shen Fengyin mengangguk.
“Ya, papa kandungku. Tuan muda pertama Shen”
Shen Fengyin belum pernah ke makan ayahnya tapi kakeknya sering pergi ke makam ayahnya dan nenek tapi saat itu dia belum tahu bahwa makan itu adalah ayahnya. Mungkin jika dia tidak bertemu dengan ibunya, dia tidak akan tahu bahwa ayahnya sudah meninggal
Shen Fengyin, Li Huan Rui dan Li Yongsheng pergi ke makam. Tidak sulit untuk menemukan makam keluarga Shen, dan disebelah makam kakakeknya tertulis nama Shen Xichu. Dia yakin bahwa ini adalah ayahnya. Shen Fengyin memperkenalkan putranya.
“Kakek Shen, nenek Shen dan ayah mertua, perkenalkan aku Li Yongsheng mantan suami Shen Fengyin tapi kami akan kembali bersama lagi. Kakek, nenek, dan ayah mertua, aku berjanji pada kalian aku akan menjaga dan merawat Shen Fengyin dan cucu kalian”
__ADS_1
Li Yongsheng membungkukkan badan dan mengucapkannya dengan tulus.
“Hei, apa yang kau lakukan?”
“Aku meminta ijin. Di masa lalu, kita langsung menikah begitu saja jadi kali ini aku akan meminta ijin”
Shen Fengyin dapat melihat ketulusan dari apa yang dikatakan Li Yongsheng. Mungkinkah pria ini tulus padanya, bisakah dia percaya padanya kali ini.
Shen Fengyin awalnya hanya berniat mengantar mereka pulang tapi Li Huan Rui merengek memintanya untuk makan malam dan menginap. Shen Fengyin menuruti keinginan putranya. Li Huan Rui merasa senang.
“Papa, gunakan kesempatan ini ok”
Li Huan Rui berbisik pada ayahnya. Li Yongsheng hanya tersenyum dengan ide putranya. Shen Fengyin meminta supirnya untuk mengirimkan pakaian untuknya. Li Yongsheng mendorong kursi roda Shen Fengyin dan menuju ke ruangan.
“Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian. Rui kecil bisa bawa mama isirahat”
“Baik papa”
Li Huan Rui kecil membantu ibunya ke kamar. Di apartemen ini hanya ada dua kamar karena itulah Shen Fengyin awalnya ragu-ragu untuk menginap.
“Apa ini kamar papamu”
Li Huan Rui mengangguk. Kamar Li Yongsheng tidak banyak terdapat perabotan bahkan tidak ada tambahan apapun selain yang dia siapkan – kasur, almari .
“Bagaimana dengan kamar ke tiga?”
“Kamar ke 3 tempat papa menyimpan buku”
“Oh”
“Mama, kau bisa istirahat disini. Rui akan panggil mama saat papa sudah selesai”
Shen Fengyin mengangguk. Ketika Li Huan Rui keluar Shen Fengyin menjalankan kursi rodanya mendekat ke tempat tidur Li Yongsheng. Shen Feng melihat sebuah bingkai foto, itu adalah foto mereka bertiga saat kecil – Li Yongsheng, Shen Fengyue dan Shen Fengyin. Awalnya foto itu hanya Li Yongsheng dan Shen Fengyue tapi Shen Fengyin menanggu dan ikut berfoto. Dia bahkan tidak segan merangkul tangan Li Yongsheng, mengingat foto itu membuatnya merasa malu. Shen Fengyin melihat boneka yang dibawanya, mungkinkah Li Yongsheng juga memberikan boneka seperti yang dia dapatkan. Shen Fengyin menghela nafas, dia menepis pikiran itu karena dia tidak ingin mengingat masa lalu Li Yongsheng dan Shen Fengyue.
Shen Fengyin naik ke tempat tidur dengan perlahan, dia bahkan dapat mencium aroma manly dari bantal,mungkinkah bantal ini yang digunakan Li Yongsheng. Shen Fengyin merasa nyaman dan perlahan memejamkan matanya.
Shen Fengyin tidak tahu berapa lama dia tidur, ketika dia mendengar Li Yongsheng memanggil namanya. Shen Fengyin selalu tidur ringan sehingga tidak sulit untuk membangunkannya.
“Istri, makanan sudah siap”
Li Yongsheng mengatakan dengan lembut.
“Baiklah”
Shen Fengyin turun dari tempat tidur dan meraih kursi rodanya. Dia menolak bantuan Li Yongsheng yang ingin membantunya. Li Yongsheng membuka pintu dan mereka menuju ke meja makan. Pria kecil terlihat tidak sabar untuk makan.
“Kau yang membuatnya?”
Shen Fengyin terkejut melihat masakan lengkap yang tersaji di meja. Li Yongsheng mengangguk.
“Walau tidak semewah makanan direstoran tapi aku yakin rasanya enak karena suamimu ini memasak dengan penuh cinta untuk istri”
“ Kau jadi mulai sering berbicara omong kosong”
Li Yongsheng tersenyum, sepertinya istrinya bukan tipe wanita yang suka di rayu.
“Baiklah, ayo makan”
Li Yongsheng meletakkan makanan di mangkuk Li Huan Rui dan Shen Fengyin sebelum mengisi miliknya.
Li Yongsheng berada di ruang tamu , dia mengerjakan sesuatu di laptopnya.
“Kau belum tidur?”
Shen Fengyin yang tidak bisa tidur keluar dari kamar dan melihat lampu ruang tamu masih menyala. Li Yongsheng mengalihkan pandangan dari laptop dan melihat Shen Fengyin mendekat. Pria itu dengan cepat kembali memandang ke arah laptop.
‘Sial, apa yang pikirkan wanita itu menggunakan piyama tipis di depannya’
“Apa kau sibuk?”
Li Yongsheng mengangguk.
“Apa yang sedang kau kerjakan”
“Sebuah software”
Shen Fengyin kini sudah berada di sampingnya. Li Yongsheng dapat menghirup aroma lemon, mungkin karena Shen Fengyin menggunakan sabun yang sama dengannya tapi kenapa ini menganggunya. Li Yongsheng tidak pernah terganggu sebelumnya saat dia serius bahkan saat Chen Xixi ada disampingnya saat itu dia masih bisa berkonsentrasi tapi kali ini dia tidak bisa konsentrasi, dia bahkan tidak berani melihat ke samping.
Shen Fengyin sebenarnya ingin mengajak Li Yongsheng mengobrol tapi pria itu sepertinya sedang sibuk bahkan menanggapinya dengan acuh.
“Apa aku menganggumu?”
Li Yongsheng tidak mengatakan apapun tapi dalam hatinya berteriak, dia seorang pria normal dan saat ini wanita yang dia cintai menggunakan piyama dan berada disebelahnya, bagaimana dia tidak terganggu.
Shen Fengyin merasa diabaikan, dia sedikit kesal.
“ Hei, bisakah kau mengerjakan pekerjaanmu di ruang kerja. Aku tidak bisa tidur dan ingin menonton tv”
“Ok”
Li Yongsheng mengambil laptopnya dan pindah ke ruang kerja. Shen Fengyin duduk di sofa dengan hati-hati lalu menyalakan Tv. Sebenarnya Shen Fengyin jarang menonton tv, biasanya dia sibuk memeriksa dokumen atau tidur tapi tidak ada lagi dokumen yang perlu dia periksa dan dia tidak bisa tidur karena sudah tidur sebelumnya. Shen Fengyin hanya menonton berita tengah malam. Shen Fengyin perlahan mulai mengantuk, dia perlahan memejamkan matanya.
Li Yongsheng mulai mengantuk, dia kembali ke ruang tamu untuk tidur tapi siapa sangka Shen Fengyin tertidur pulas di sofa. Pria itu menghela nafas. Matanya yang mengantuk kini tidak lagi mengantuk. Pria itu berusaha keras menahan diri saat dia menggendong Shen Fengyin dan membawanya ke kamar.
Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Shen Fengyin. Dia hendak kembali ketika tangan yang halus meraih tangannya.
“Kau mau kemana?”
“Kembali ke ruang tamu”
Li Yongsheng tidak memandang ke arah Shen Fengyin sama sekali. Hal itu membuat Shen Fengyin tersenyum.
“Kau butuh istirahat, tidurlah di sebelahku”
“Shen Fengyin, aku seorang pria. Apa kau tidak memikirkan resiko saat menawarkan hal ini”
Li Yongsheng berusaha bersikap tenang.
“Jika aku wanita pada umumnya tentu saja aku akan waspada tapi saat ini aku hanyalah wanita cacat, Tidak mungkin jika kau akan terpikat padaku”
“Kau terlalu meremehkan dirimu sendiri”
“Tidakkah itu yang sebenarnya. Kau bahkan sedari tadi tidak memandangku dan mengabaikanku”
Li Yongsheng menghela nafas.
“Shen Fengyin, kau tahu kenapa aku mengabaikanmu?”
“Karena aku tidak menarik, bukankah begitu”
“Justru sebaliknya. Shen Fengyin, aku seorang pria normal. Aku mungkin tidak bisa mengendalikan diriku jika aku memperhatikanmu. Kau tahu bahkan aku tidak bisa berkonsentrasi karenamu”
Shen Fengyin terdiam.
“Fengyin, jangan merayuku seperti ini ,ok? Aku tidak ingin memaksamu sebelum aku mendapatkan hatimu tapi aku mungkin tidak bisa menahan diri jika....”
“Tidak perlu menahan diri. Tuan Li, aku bukanlah seorang gadis yang perlu kau perlakukan dengan hati-hati dan juga bukankah kita pernah melakukan sebelumnya lalu untuk apa menahan diri pada kekasihmu ini”
Li Yongsheng memandang ke arah Shen Fengyin dan tersenyum nakal.
“Baiklah, jadi kekasihku juga menginginkanku. Jadi aku tidak perlu menahan diri”
Li Yongsheng naik ke tempat tidur dan mencium Shen Fengyin.
“Kau gugup?”
“Tidak, ini bukan pertama kali jadi untuk apa aku gugup”
Namun Li Yongsheng dapat merasakan tubuhnya gemetar, dia tahu bahwa dia selalu bersika kasar saat bercinta dengannya di masa lalu. Dia membelai rambut panjang kecokelatan Shen Fengyin. Dia berbaring di samping Shen Fengyin dan memeluknya.
“Li Yongsheng”
“Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah. Fengyin, aku tidak hanya menginginkan tubuhmu tapi aku juga menginginkan cintamu dan aku masih bisa untuk menahan diri”
Shen Fengyin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Li Yongsheng. Sudah sejak lama dia tidak merasakan kehangantan ini.
“ Li Yongsheng, jika wanita lain merayumu apa kau akan memperlakukannya seperti ini juga? Saat kau dengan Chen Xixi pernahkah kau menyentuhnya atau memeluknya seperti ini?”
“Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menyentuh wanita lain selain kau”
“Benarkah? Lalu bagaimana shen Fengyue?”
“Aku tidak pernah menyentuhnya. Bisakah kita tidak membicarakan mereka berdua?”
“Kenapa? Mereka berdua adalah dua wanita yang kau andalkan...”
“istriku, hal yang terjadi adalah masa lalu dan jangan membahasnya lagi. Saat ini aku hanya akan mengandalkan istriku”
__ADS_1
“Tidurlah”
Li Yongsheng mengecup kening Shen Fengyin lalu mematikan lampu.