
Shen FengYue menjadi pembicaraan di setiap media. Keluarga Li yang mengetahui hal itu menjadi menyesal karena telah mempercayai menantunya itu dan mengusir putranya dari keluarga Li.
Tuan Li khawatir dengan keadaan Li YongSheng apalagi anak itu terluka parah karena perbuatan nekat menantunya itu.
Tuan Li berniat mengembalikan posisi Li YongSheng lagi. Setelah Li Yongfan menolak untuk meneruskan keluarga Li, tuan Li hanya memiliki Li YongSheng. Jika tidak maka saudara-saudaranya yang lain akan berusaha merebut perusahaan Li. Namun kakek Li menyarankan agar tuan Li datang setelah keadaan li Yongsheng membaik. Kakek Li juga berharap bahwa cucu keduanya itu akan kembali ke keluarga Li tapi mengingat betapa keras kepala cucu keduanya sepertinya akan sulit meyakinkannya bahkan tuan Li. Kakak Li pernah menemui Li YongSheng di mension milik Li Yongfan, kakek Li memberikan saham perusahaan li yang dia miliki pada Li YongSheng. Dia sudah merencanakan hal ini, cucu keduanya tidak pernah mendapat perhatian dari orang tuanya. Dia hanya takut bahwa anak dan menantunya tidak akan memberikan apapun pada cucu keduanya karena itu Kakek Li sengaja menyimpan sahamnya untuk Li YongSheng.
"Kakek, aku tidak berniat untuk kembali pada keluarga Li dan aku tidak bisa mengambil apapun dari Li"
"A-Sheng, kakek tahu perlakuan keluarga Li membuatmu kesal tapi kau tetaplah tuan muda dari keluarga Li dan kau tetap cucuku. Anggap saja saham ini sebagai hadiah dari kakek"
"Kakek, aku tidak bisa menerimanya. Hadiah ini terlalu berlebihan. Kakak aku tahu kau yang menyayangiku tapi aku tidak pantas mendapatkannya. Kakek, aku hanyalah anak haram keluarga Li. Kakek , aku ingin belajar mandiri tidak tergantung dengan keluarga Li jadu tolong hargai keputusanku"
Kakek Li tersenyum. Cucunya pasti sudah menghadapi banyak hal. Bagaimana cucunya ini tiba-tiba menjadi dewasa.
"Li YongSheng, kakek menghargai keputusanmu. A-Sheng, kakek tidak pernah membedakan antara Kau dan A-Fan. Kalian berdua adalah cucu kakek jadi jika kau butuh bantuan kakek jangan sungkan"
"Terima kasih, kakek "
Li Huan Rui merasa sedih. Sudah 2 hari sejak dia tidak bertemu paman li nya. Li Huan Rui terbiasa dimanja oleh Li Yongsheng tapi sekarang dia harus melakukannya semua hal sendiri.
Helena menyadari suasana Li Huan Rui yang buruk.
"Paman belum sembuh?"
Li Huan Rui menggeleng. Papa nya bilang paman Li nya terluka parah. Li Huan Rui kemarin pergi ke rumah sakit dan paman Li nya masih tidur.Li Huanrui tidak bisa berada di rumah sakit terlalu lama karena dia harus pergi kursus.
"Hei, Rui bagaimana jika kita pergi ke rumah sakit besok. Siapa tahu paman sudah bangun"
"Benar juga. Aku harap paman Li segera bangun"
"Baiklah"
Shen Fengyin tidak bisa menjaga Li YongSheng setiap waktu. Dia harus kembali ke kantor karena dia harus memulihkan kondisi perusahaan Shen setelah tekanan perusahaan Chen.
Shen Fengyin berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Walaupun dia tidak begitu fokus bekerja karena memikirkan kondisi Li YongSheng.
Li Yongfan juga sibuk. Awalnya dia bergantian bersama Shen Fengyin untuk menjaga Li YongSheng tapi pekerjaannya dikantor lebih banyak apalagi perusahaannya mulai melebarkan sayap di dunia hiburan khususnya dalam produksi film.
Shen Fengyin pergi ke ruang rawat Li YongSheng. Ketika dia membuka pintu Chen Xixi ada di dalam. Chen Xixi adalah orang yang ceria dan ramah, berbeda dengan citranya sebagak seorang pengusaha yang hampir mirip dengan Shen Fengyin, tegas dan dingin tapi wanita itu tahu bagaimana berbicara dengan menyenangkan.
Chen Xixi menenggam tangan Li YongSheng. Dia berbicara tentang masa-masa kuliah mereka. Shen Fengyin tidak berada di fakultas yang sama dengan Li YongSheng dan juga ketika mereka berada di fakultas yang sama mereka mengambil jurusan yang berbeda. Dia tidak memiliki banyak interaksi dengan Li YongSheng di bangku kuliah.
Shen Fengyin perlahan menutup pintunya. Dia tidak ingin menganggu mereka walaupun hatinya sakit tapi dia tidak ingin bersikap egois. Mungkin dengan Chen Xixi mengajak Li YongSheng berbicara, pria itu mungkin akan segera bangun.
Shen Fengyin hendak pergi ketika pintu ruang rawat terbuka. Chen Xixi keluar , dia tidak terlihat terkejut melihat Shen Fengyin.
"Shen Fengyin"
"Chen Xixi"
"Kau mau menunjungi Li YongSheng? Masuklah, kebetulan aku mau pulang"
"Ya"
"Sampai jumpa"
Shen Fengyin masuk ke dalam ruangan. Dia hanya berdiri diam disamping Li YongSheng. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Dia bukanlah orang yang banyak bicara seperti Chen Xixi.
"Hei, kau masih ingin tidur? Kau tahu, setiap aku pulang Rui selalu bertanya tentangmu. Rui sepertinya begitu dekat denganmu ya..."
"A-Sheng, shen FengYue sudah penjara. Aku akan memastikan agar dia mendapat hukuman berat"
Shen Fengyin tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan. Dia akhirnya duduk disamping ranjang dan mengenggam tangan Li YongSheng dengan ragu.
"A-Sheng, aku mencintaimu"
Shen Fengyin perlahan menciumnya.
Li Yongfan datang ke rumah sakit. Dia membuka pintu perlahan.
"A-Sheng, aku mencintaimu"
Tangan Li Yongfan mengepal kuat saat melihat Shen Fengyin mencium Li YongSheng. Li Yongfan segera menutup pintu.
Dia tahu sejak awal perasaan Shen Fengyin hanya untuk Li YongSheng. Walaupun Shen Fengyin bersikap kejam dan menunjukkan kebenciannya pada Li YongSheng tapi hal itu tidak mengubah perasaannya pada pria tahun. Mungkin 6 tahun yang dia lakukan bersama Shen Fengyin tidak berarti apapun. Mungkin sudah saatnya dia membiarkan mereka bersama. Haruskah dia meninggalkan Shen Fengyin dan berusaha melupakannya. Li Yongfan melangkah kakinya dengan lesu meninggalkan rumah sakit.
"Fengyin, aku hanya ingin kau merasa bahagia. Bahkan jika itu bersama Li YongSheng aku akan mencoba melepasmu secara perlahan"
Li Yongfan mengepalkan tangannya dan melajukan mobilnya.
Li Huan Rui tidak bisa menunggu untuk bertemu dengan paman Li nya. Dia meminta seorang supir mengantarnya ke rumah sakit.
Ketika Lu Huan Rui tiba di rumah sakit, dia melihat ibunya yang duduk di sofa dan mengetik sesuatu.
Shen Fengyin terkejut melihat Li Huan Rui.
"Rui, kau disini? Siapa yang mengantarmu?"
"Supir Zhang"
"Bukankah kau seharusnya pergi kursus?"
"Mama, bisakah Rui membolos hari ini saja. Rui ingin menjaga paman Li"
"Tidak, kau harus kursus. Jangan khawatir paman Li, mama akan menjaganya. Mama akan memberi tahumu jika paman Li sudah bangun"
"Rui tidak ingin menunggu"
Li Huan Rui berjalan mendekati Li YongSheng.
"Paman Li, kapan paman bangun? Tidak ada yang menemani Rui bermain, tidak ada yang membantu rui berpakaian dan tidak ada yang memeluk Rui saat tidur dan membacakan cerita. Paman Li,bangun. Apa paman Li tidak ingin bermain dengan Rui lagi"
Shen Fengyin hanya mendengarkan putranya. Dia tidak menyangka bahwa Li YongSheng begitu memanjakan putra mereka. Dia sekarang mengerti kenapa Li YongSheng dapat mengambil hati putranya. Namun bagaimana Li YongSheng melakukan hal itu. Bukankah Li YongSheng selalu kaku di hadapan anak-anak dan tidak menyukai anak-anak. Shen Fengyin masih ingat saat Shen FengYue membawa anak dari paman Shen . Saat itu Li YongSheng berada di mension keluarga Shen dan ketika keponakan itu meraih tangannya dan meminta Li YongSheng bermain dengannya dia justru marah dan beranggapan anak itu penganggu. Dia meminta Shen FengYue menjauhkan nya. Mungkin kah karena hubungan darah sehingga Li YongSheng memperlakukan Li Huan Rui dengan baik.
Shen Fengyin membiarkan putranya berbicara dengan Li YongSheng sementara Shen Fengyin melakukan pekerjaannya. Ada banyak dokumen yang harus dia periksa.
Shen Fengyin tidak menyadari waktu telah berlalu. Dia tidak mendengar suara putranya. Shen Fengyin mengalihkan pandangan nya dan melihat Li Huan Rui tertidur disamping Li YongSheng.
Shen Fengyin melangkah. Dia menggendong putranya tapi tangan pria kecil itu mengenggam erat tangan Li YongSheng. Shen Fengyin menghela nafas.
Secara perlahan dia melepaskan genggaman tangan Rui dari Li YongSheng. Berada di rumah sakit terlalu lama tidak akan baik untuk putranya.
Namun Li Huan Rui membuka matanya.
"Mama, Rui tidak ingin pulang. Rui ingin bersama paman Li malam ini"
"Rui, kita akan kesini besok"
"Tidak mau"
Li Huan Rui turun dari gendongan Shen Fengyin dan berbaring di samping Li YongSheng dan memeluknya.
"Rui, jangan terlalu keras. Kau bisa menyentuh lukanya"
__ADS_1
"Rui tidak akan"
Desahan terdengar memenuhi sebuah kamar.
"Yin yin"
Wanita dibawahnya mencengkram selimut dengan erat. Rasa sakit didalam hatinya semakin menekannya. Bahkan tubuhnya yang sakit saat ini tidak setara dengan rasa sakit di hatinya. Ini bukan pertama kalinya dia mendengar pria itu memanggil nama itu. Tidak hanya rasa sakit di dalam hatinya karena Pria itu memikirkan wanita lain tapi juga perasaan bersalah karena bagaimana pun pria yang kini menyentuhnya dan membuat nya gila adalah suami sahabatnya.
Wanita itu-mo anan tahu seharusnya dia tidak melakukan ini tapi dia ingin disisinya. Dia menginginkan pria yang sudah lama dicintainya tapi pria itu hanya memandang ke arah sahabatnya. Mo An an perlahan tertidur karna rasa lelah yang dia rasakan.
Li Yongfan perlahan mulai terbangun. Pandangannya terarah pada Mo An an yang tertidur disamping nya.
Li Yongfan memegang kepalanya yang sedikit pusing karena terlalu banyak minum. Rasa bersalah memenuhi hatinya.
"An"
"Um"
"Maaf, semalam aku ...."
"Tidak apa-apa ini bukan pertama kalinya bukan?"
Mo An an menanggapinya dengan santai.
"Tapi, An..."
"Jika direktur Li merasa bersalah bisakah direktur Li membantu ku untuk menjadi pemeran di drama. Aku rasa hal ini impas"
"Um. Aku akan melakukan nya. Apa tubuhmu baik-baik saja?"
"Tidak perlu khawatir"
Li Yongfan menghela nafas. Mo An an menanggapi nya dengan dingin. Biasa wanita itu akan memandang dengan cerah dan berbicara dengan ceria tapi sejak malam itu, hubungan mereka telah berubah.
"Aku akan mengatur penandatanganan kontrak untukmu"
"Um"
Li Yongfan lalu bangun dan menggunakan pakaiannya. Mo An an tidak bisa berpura-pura lagi. Air mata mulai jatuh di pipinya. Dia sama hal nya murahan tapi dia harus puas dengan hal itu. Dia hanyalah alat untuk meredakan emosinya tidak lebih dari itu. Pria itu tidak mencintainya dan hanya satu Wanita yang dicintainya yaitu sahabatnya.
Mo An an menghapus air matanya. Dia tidak pantas untuk menangis. Mo An an mengambil pakaiannya, dress yang digunakannya telah rusak. Mo An an menghubungi Asisten nya dan meminta nya membawakan dress baru untuknya.
Li Huan Rui terbangun ketika merasakan seseorang membelai rambut nya. Li Huan Rui memandang ke arah Li YongSheng yang membuka matanya.
"Paman Li"
"Sst, jangan berisik. Mamamu sedang tidur"
Li YongSheng mengalihkan pandangan ke arah Shen Fengyin. Wanita itu bersandar di sofa dengan memangku beberapa dokumen. Li Huan Rui mengangguk.
"Paman Li, Rui rindu bermain dengan paman Li"
"Paman juga"
"Paman. Apa masih sakit?"
"Sedikit"
"Huanrui"
Shen Fengyin terbangun. Dia melihat ke arah Li Huan Rui.
"Mama, paman sudah bangun"
Shen Fengyin awalnya tidak menyadari nya. Dia berjalan ke arah Li YongSheng.
Shen Fengyin tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba menetes.
"Mama, kau menangis?"
Shen Fengyin segera menghapus air matanya.
"Tidak, ada sesuatu yang masuk di mata mama"
"Rui, bukankah kau harus sekolah?"
"Rui ingin menemani paman"
"Rui, paman tidak apa-apa. Pergilah ke sekolah. Kau bisa datang setelah pulangYongSheng mama akan mengantarmu"
"Tidak perlu mama. Jika mama pergi siapa yang akan menjaga paman? Rui akan menelpon supir Zhang"
"Kau harus menunggu lama nanti. Mama akan menelpon papa"
Shen Fengyin menghubungi Li Yongfan. Namun hanya operator yang menjawab nya. Shen Fengyin merasa heran, tidak biasanya Li Yongfan tidak bisa dihubungi.
Li Huan Rui menelpon supir Zhang dan meminta nya menjemputnya.
Hanya ada Li YongSheng dan Shen Fengyin didalam ruanga. Suasana menjadi sunyi. Shen Fengyin adalah orang yang canggung , dia tidak banyak bicara.
"Apa kau lapar?"
Supir Zhang membawakan bubur untuk Li YongSheng saat menjemput Rui.
Li YongSheng mengangguk. Shen Fengyin mengambil bubur dan menyuapinya. Li YongSheng merasa tersentuh, jarang bagi Shen Fengyin memberi kan perhatian padanya seperti ini.
Namun Li YongSheng berpikir bahwa Shen Fengyin memberikan perhatiannya karena perasaan bersalah. Dia masih ingat apa yang dikatakan wanita itu dan memenuhi pikirannya.
"Perasaan seseorang bisa berubah.Li Yongsheng, jangan berharap padaku lagi"
"Shen Fengyin,aku akan makan sendiri"
Shen Fengyin meletakkan mangkuk itu dan membantu Li YongSheng berdandar tapi Li YongSheng menghentikan nya.
"Aku bisa sendiri"
Shen Fengyin menjauh. Dia tahu Li YongSheng tidak suka dibantu dalam hal kecil. Li YongSheng bersandar dan mengambil makanannya. Dia makam dengan tenang.
Shen Fengyin hanya memandang nya. Li YongSheng menoleh ke arah nya.
"Kau sudah sarapan?"
"Aku belum lapar. Aku akan makan di kantor saja"
Li YongSheng mengambil buah disamping nya. Dia memberikan apel pada Shen Fengyin.
"Setidaknya kau harus makan sesuatu"
Shen Fengyin tidak membantah dan mengambil nya.
"Terima kasih"
Li YongSheng sedikit terkejut. Shen Fengyin mengucapkannya Terima kasih padanya dengan lembut. Mungkin kah Shen Fengyin telah membuka hati padanya. Namu. Li YongSheng segera menepis pikiran itu.
"Aku harus ke kantor. Aku akan menghubungi Chen Xixi untuk menjagamu"
__ADS_1
"Tidak perlu. Chen Xixi pasti sibuk. Tidak perlu khawatir padaku. Aku baik-baik saja sendiri"
"Baiklah. Aku pergi dulu"
"Ya"
Shen Fengyin sebenarnya merasa enggan meninggalkan Li YongSheng sendiri an tapi masih banyak hal yang harus dua kerjakan. Dia tidak mungkin menbebani Jenny Shen apalagi sepupunya itu juga harus ke A Country untuk mengurus SY.
Beberapa hari telah berlalu, kondisi li YongSheng semakin membaik. Li Huan Rui sering mengunjungi Li YongSheng dan menginap di rumah sakit. Tentu saja Pria kecil itu harus berdebat dengan mamanya agar bisa menginap di rumah sakit.
"Fengyin, aku akan menjaga Li Huan Rui. Lebih baik kau pulang. Kau terlihat lelah"
"TIdak, aku tidak lelah. Aku juga sudah terbiasa tidur di sofa"
"Baiklah, terserah kau saja"
Shen Fengyin orang yang keras kepala,Li Yongsheng tidak ingin berdebat dengan nya. Li Huan Rui mulai tertidur ketika dia merasakan pelukan paman Linya. Li YongSheng juga perlahan mulai memejamkan matanya.
Hanya Shen Fengyin yang masih terjaga dan sibuk dengan dokumen nya. Shen Fengyin merasa lelah. Dia memiki banyak pekerjaan Tapi dia masih harus bolak balik ke rumah sakit. Shen Fengyin ingin mendekatkan jaraknya dengan Li YongSheng tapi pria itu menjaga jarak darinya.
***
Shen Fengyin makan siang bersama dengan Li Yongfan. Shen Fengyin awal nya merasa enggan untuk pergi karena dia harus menjaga Li YongSheng tapi saat itu Li YongSheng memaksanya untuk pergi.
"Tidak perlu khawatir denganku. Bersenang-senanglaj dengan kakakku. Chen Xixi bisa menjagaku"
Chen Xixi saat itu sedang mengunjungi Li YongSheng. Shen Fengyin merasa kesal dia berpikir karena Li YongSheng lebih suka bersama dengan Chen Xixi daripada bersama nya. Shen Fengyin akhirnya memilih setuju dengan ajakan Li Yongfan.
"Ada apa? Sepertinya suasana hatimu sedang buruk? Apa ada yang menganggumu di kantor?"
Shen Fengyin mengeleng. Tentu saja bukan itu alasannya . bagaimana pun suasana hatinya tidak pernah seburuk ini hanya karena pekerjaan. Nanun dia ragu untuk memberitahu kannya pads Li Yongfan.
"Aku tahu pasti karena A-Sheng bukan"
Shen Fengyin hampir tersedak mendengar ucapan L i Yongfan
"Dari reaksimu seperti nya memang benar. Shen Fengyin, jika kau mau kita bisa mengakhiri perjanjian kita. Kita sudah melalui 6tahun dan aku masih belum bisa memiliki hatimu. Jadi aku tidak ingin memaksamu"
Shen Fengyin merasa bersalah.
"Kakak Fan, maafkan aku"
"Tidak perlu merada bersalah"
Li Yongfan dan Shen Fengyin menikmati makan siang dan mengobrol santai
"Bukankah yang disana itu artis Mo ? Bukankah pria itu lawan main aktrIs Mo. Apa mereka berkencan? "
"wanita itu selalu bergant pria"
Shen Fengyin menghentikan makannya dan melihat ke arah yang dilihat oleh dua orang disampingnya.
"Mo An an"
Li Yongfan juga memandang ke arah yang dilihat Shen Fengyin . Tangannya mengepal ketika melihat pria dan Wanita yang sedang berjalan masuk.
Tangan pria itu diletakkan di pinggang Mo An an.
Li Yongfan semakin mempererat kepalan tangannya ketika melihat tangan pria itu yang mulai membelai lebut pipi Mo an an . Li Yongfan ingin mematahkan tangan pria itu. Li Yongfan tidak pernah mengalami kemarahan ii sebelumnya.
Shen Fengyin menghela nafas. Dia tahu kelakuan Sahabatnya yang memang sering berganti pacar.
Mo An an terkejut melihat Shen Fengyin yang menatanya. Shen Fengyi melambaikan tangan ke arahnya. Mo An an tidak mungkin mengabaikannya sahabatnyberbisik ke arah pria itu lalu menghampiri Shen Fengyin.
Mo An an menyapa Shen Fengyin dan Li Yongfan seperti biasa. Mo An an bahkan hanya meliriknya sekilas.
"Siapa dia? Pacar baru?"
Shen Fengyin mengucapkannya dengan nada sinis. Dia tidak menyukai pria ini termasuk pacar-pacar mo An an yang lain. Tidak ada diantara mereka yang benar-benar serius dengan sahabatnya.
"Dia teman kencanku"
"Hallo, CEO Shen. Saya Ji Yan"
Shen Fengyin tidak menanggapi. Shen Fengyin tidak akan berpura-pura jika dia tidak suka. Ji Yan mengabaikannya ketidaksukan Shen Fengyin padanya dan menyapa Li Yongfan.
"Hallo, Direktur Fan"
Li Yongfan menyambut tangan Ji Yan dan menekan tangannya dengan kencang. Li Yongfan adalah tentara tentu saja tenaganya begitu besar. Ji Yan berusaha menahan rasa sakitnya. Li Yongfan melepaskan tangannya dan berpura-pura tidak terjadi apapun.
"Jiyan, ada apa?"
"Tidak, bukan apa-apa"
Mo An an memandang ke arah Li Yongfan yang menatap tajam ke arahnya. Mo An an mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu kenapa Li Yongfan menatap nya. Mungkin kah dia tidak senang karena dia datang menganggu kebersamaannya dengan Shen Fengyin.
"An, duduklah. Berhubunganlah bersama kami"
Mo An am segera menolak.
"Tidak, aku tidak ingin menganggu makan siang mu dan kakak Fan"
Mo An an sadar diri. Jika tidak dia tidak bisa menanggung kemarahan Li Yongfan.
"Ayo, sayang. Kita duduk disana saja"
"Mo An an,duduk"
Suara Li Yongfan tajam.
Shen Fengyin menyadari kemarahan Li Yongfan. Dia merasa heran tidak pernah dia melihat Li Yongfan semarah ini.
Mo An an mengerutkan keningnya. Dia sedikit takut dengan kemarahan Li Yongfan. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan pria itu.
Mo An an tidak punya pilihan selain duduk.
"An. Aku tidak bisa menemanimu makan. Aku ada janji dengan sutradara"
Ji Yan tidak tahan dengan tekanan dari tatapan Li Yongfan yang seakan ingin membunuhnya.
"Baiklah, kalaugitu kita kembali saja. Ayo"
"Fengyin ...kakak Fan, aku pergi dulu ya"
Ji Yan menarik tangan Mo An an . Dia ingin segera melarikam diri dari Li Yongfan. Dia tidak menyangka Direktur Li yang ramah ternyata bisa begitu menyeramkan.
Shen Fengyin memandang Li Yongfan, wajahnya semakin gelap melihat Mo An an pergi bersama pria itu.
"Kakak Fan, ada apa denganmu? "
"Yinyin, ayo kita kembali"
Shen Fengyin mengangguk. Dia tidak ingin membantah karena takut dengan kemarahan Li Yongfan. Shen Fengyin tidak tahu apa yang dilakukan pria itu untuk menyinggung Li Yongfan dan membuat nya semarah ini.
Shen Fengyin ingin bertanya tapi tekanan hawa dingin membuat nya takut. Ternyata kakak Fan nya yang ramah dan baik saat marah benar-benar menakutkan.
Suasana hati Li Yongfan benar-benar buruk apalagi memikirkan bahwa mo An an sekarang senang bersama pria lain. Kemaran semakin membakar di dalam hatinya.
'Mo An an, kau benar-benar berani bermain-main dengan pria lain'
__ADS_1
Li Yongfan mencengkram strir mobil lebih erat.