
"Percuma aku membayar kalian"
Li Yongfan marah karena orang yang dikirimnya tidak berhasil membawa Mo An An.
"Ini...Tuan muda kedua menghalangi kami"
"Li YongSheng? Kenapa Li YongSheng ikut campur dalam urusanku"
Li Yongfan merasa kesal,tapi Li YongSheng bukanlah orang yang suka ikut campur urusan orang lain.
"Dimana Nyonya muda sekarang ?"
Mungkin dia harus bertindak sendiri untuk membawa istrinya kembali.
"Di rumah sakit S "
"Rumah sakit? Apa yang terjadi?"
"Nyonya muda menemani seorang anak perempuan"
Li Yongfan mengerutkan keningnya. Apakah wanita itu telah bertemu dengan anaknya. Li Yongfan mengeleng pelan,dia tidak boleh membiarkan hal ini.
Tok tok tok
"Direktur Li"
"Kalian bisa pergi"
Sekertarisnya masuk dan melaporkan jadwalnya. Dia menghela nafas, sepertinya dia akan sibuk dan harus menunda rencananya.
***
Mo An An memandang putrinya yang termenung. Sudah dua hari sejak putrinya terbangun. Dia menyadari putrinya terlihat berbeda dengan anak-anak lain seumurannya.
Mo An An memeluk putrinya. Jiao terkejut dengan tindakan tiba-tiba ibunya.
"Mama"
"Jiao, sekarang kau memiliki mama. Kau bisa membagi rasa sakit, kesedihan ataupun kebahagiaan pada mama"
Mo An An membelai lembut rambut panjang putri kecilnya. Jiao hanya diam merasakan kehangatan dan kasih sayang ibunya. Jiao tidak pernah mendapat kan kehangatan dan kasih sayang orang tuanya. Dia selalu merasa iri ketika melihat anak-anak yang diperlakukan dengan baik oleh orang tua mereka.
Mo An An melepaskan pelukannya dan memberikan kecupan di dahinya.
"Sekarang, saatnya makan"
Mo An An mengambil mangkuk lalu menyuapkan bubur itu pada putrinya. Gadis kecil itu tidak menolak dan memakan bubur dengan lahap.
"Jiao, apa makanan kesukaanmu? Ibu akan membawakan untukmu"
Jiao terdiam. Dia tidak tahu apa yang dia sukai.
"Roti kukus"
Hanya makanan itu yang sering dia makan dan juga makanan itu pemberian dari malaikatnya.
"Mama akan membelikanmu roti kukus lain kali. Mama akan mengajakmu membeli roti kukus paling enak"
Mo An An tersenyum lembut. Dia meletakkan piring kosong ke meja lalu mengambil sesuatu dari tasnya.
"Ini"
Mo An An memberikan jam tangan pada putrinya. Jam tangan ini sebelumnya terus digenggam putrinya dan dokter yang melakukan operasi memberikannya. Dia yakin jam tangan itu berharga untuk putrinya.
Jiao menggerakkan tangannya yang tertutup perban. Dia mengenggam erat jam tangan itu.
"Apa jam tangan inu berharga untukmu?"
Jiao dengan ragu-ragu mengangguk.
"Jam tangan ini mirip dengan jam tangan anak dari bibi Yin. Apa kau mengenalnya?"
Mo An An sering melihat Li Huan Rui menggunakan jam tangan itu dan jam tangan itu bukanlah jam tangan yang diperjual belikan dengan bebas. Jiao terdiam, apa pangerannya anak dari bibi Yin? Ketika melihat paman Sheng, dia menyadari wajahnya yang mirip dengan pangerannya. Namun apa mereka bisa disebut saling mengenal.
Mo An An melihat putrinya mengerutkan kening. Dia tersenyum melihat gadis kecilnya sedang berpikir keras.
Mo An An mengusap rambut putrinya dengan gemas.
"Lain kali,mama akan mengenalkanmu dengan Rui kecil setelah kau sembuh"
Jiao hanya diam sebagai tanggapan.
"Xiao Jiao"
Shen Fengyin membuka pintu.
"Fengyin"
Mo An An menyambut kedatangan Shen Fengyin. Lalu diikuti dengan Li YongSheng yang berada di belakang Shen Fengyin.
"Kau datang dengan Li YongSheng?"
"Dia tidak memperbolehkanku pergi sendirian"
Li YongSheng berubah menjadi begitu protektif padanya.
"Tentu saja. Aku ingin menjagamu"
"Aku bisa melindungi diriku sendiri "
Shen Fengyin merasa kesal dengan sikap berlebihan Li YongSheng. Pria itu bahkan sering datang ke kantornya untuk memeriksa keadaannya. Sejak dia pingsan karena terlalu banyak bekerja, Li YongSheng selalu khawatir berlebihan padanya.
Mo An An tersenyum melihat hubungan sahabatnya. Dia tidak menyangka Li YongSheng yang dingin sejak kecil begitu penuh kasih sayang pada istrinya.
"Xiao Jiao, bibi membelikan boneka untukmu"
Shen Fengyin mengulurkan boneka teddy bear pada Jiao.
"Terima kasih, bibi Yin"
Jiao memeluk boneka yang lebih besar darinya.
"Kau seharusnya tidak perlu repot-repot"
"Itu tidak merepotkan"
"Xiao Jiao apa kau menyukai bonekanya?"
Li YongSheng mengucapkannya dengan nada lembut. Jiao mengangguk.
"Baguslah"
"An, apa dokter sudah menberi tahu waktu kepulangan xiao jiao?"
"Ya. Lusa dia bisa pulang "
"Apa kau sudah menemukan tempat tinggal?"
Mo An An terdiam. Dia ragu untuk membawa Jiao ke mension keluarga Mo karena kakaknya tidak menyukai hubungannya dan Bai Yuchen, dia juga tidak bisa membawa putrinya ke mension Li Yongfan.
"Bagaimana jika kalian tinggal di rumah kami"
"Tidak, aku tidak ingin merepotkan kalian"
__ADS_1
"Sama sekali tidak merepotkan. Lagipula Xiao Jiao biasa menjadi teman bermain Huanrui. Huanrui sering sendirian di rumah jadi dia pasti akan senang jika memiliki teman.
" tapi, bagaimana jika Li Yongfan menemukanku"
"Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan kakakku berbuat buruk"
Mo An An mengangguk setuju. Mungkin berada di tempat tinggal Shen Fengyin lebih baik.
"Terima kasih"
"Tidak perlu sungkan"
***
Keesokan harinya, Shen Fengyin meminta seseorang untuk menghias kamar. Dia selalu ingin menghias kamar dengan suasana feminin tapi dia memiliki anak laki-laki, tidak mungkin baginya menghias kamar putranya dengan warna merah muda. Shen Fengyin juga memesan beberapa boneka.
Dia jadi ingin memiliki anak perempuan tapi terlalu berisiko untuk hamil. Li Huan Rui masuk ke kamar tamu dan melihat ibunya memberi pengarahan untuk memasang wall paper.
"Mama, apa yang mama lakukan?"
"Mama sedang mengatur dekorasi kamar ini untuk putri bibi An"
"Putri bibi An? "
"Benar. Bibi An menemukan putri kandungnya. Dia sangat imut dan cantik. Dia lebih muda darimu dan mama harap kau bisa menjaganya seperti saudaramu sendiri"
Li Huan Rui melihat mamanya begitu antusias dengan anak bibi An.
"Istri, aku sudah membeli boneka untuk xiao jiao"
Li Huan Rui juga melihat papanya begitu bahagia seperti mamanya. Li Huan Rui merasa kesal, anak itu belum tinggal disini tapi sudah merebut kasih sayang orang tuanya apalagi jika dia tinggal disini.
Li Huan Rui membenci anak perempuan bibi An walaupun dia belum bertemu dengannya.
"Papa, Rui lapar. Rui ingin makan masakan buatan papa"
"Baiklah. Papa akan membuat sesuatu. Papa akan membuat roti kukus"
"Roti kukus? Aku dengar dari Mo An An, Xiao jiao menyukai roti kukus. Kita bisa membawa beberapa ke rumah sakit"
"Ya, kau benar. Aku juga memikirkan itu"
Li Huan Rui menjadi semakin kesal. Ayahnya bahkan membuat kan makanan kesukaan anak itu.
"Aku tidak jadi lapar"
Li Huan Rui lalu berlari ke kamarnya yang berada di sebelah kamar tamu. Dia menutup pintu dengan kesal.
"Kenapa Rui kecil tiba-tiba marah?"
Shen Fengyin merasa heran dengan sikap kasar putranya. Li YongSheng menyadari sesuatu.
"Aku akan membujuknya"
***
Li YongSheng menyiapkan makan makan siang. Lalu dia membujuk putra nya untuk makan.
"Rui kecil, keluarlah. Makanan sudah siap. Bukankah kau tadi lapar?"
"Aku tidak lapar lagi dan aku tidak ingin makan kue kukus"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan nada datar.
"Tidak apa-apa jika kau tidak ingin makan kue kukus. Ayah sudah membuatkan udang tepung kesukaanmu. Apa kau masih tidak ingin makan?"
Li Huan Rui yang sebelumnya marah dan kesal akhirnya luluh karena ayahnya masih membuat kan makanan kesukaannya.
"Baiklah"
Li Huan Rui membuka pintu. Lalu mengikuti papanya ke meja makan. Disana sudah ada mamanya.
Li Huan Rui duduk disamping ibunya. Ibunya mengambilkannya nasi dan juga udang kesukaannya.
"Makan yang banyak"
"Terima kasih, mama"
Li Huan Rui tersenyum senang. Shen Fengyin merasa lega melihat senyum putra nya.
"Mama, papa. Rui sayang kalian"
Li YongSheng dan Shen Fengyin terkejut dengan ungkapan tiba-tiba putra kesayangan mereka.
"Kami juga menyayangimu,Rui kecil"
Li Huan Rui tersenyum puas dengan jawaban ayahnya.
'Aku tidak akan menyerahkan cinta orang tuaku pada anak itu'
***
Hari kepulangan jiao. Mo An An mengurus urusan adminitrasi.
"Mo An An, ikut aku pulang"
Mo An An terkejut karena tiba-tiba Li Yongfan menarik tangannya dengan kasar.
"Tidak, aku tidak akan pergi tanpa putriku"
"An, jangan membuatku marah. Ikut denganku"
Li Yongfan menariknya dengan kasar dan kencang, seberapa keraspun Mo An An memcoba melepaskannya dia tidak bisa.
"Li Yongfan, lepaskan aku. Saat ini putriku sendiri"
"Aku tidak peduli"
Li Yongfan memaksa Mo An An masuk ke dalam mobil. Dia dengan cepat masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
"Li Yongfan, aku tidak ingin pergi denganmu. Aku ingin bersama dengan putriku"
Mo An An terus saja protes. Li Yongfan menjadi semakin marah.
"Aku akan membunuh Bai Yuchen dan anak itu jika kau terus membantah"
"Aku tidak peduli Bai Yuchen tapi kau tidak bisa menyentuh putriku"
"Li Yongfan, aku mohon padamu. Biarkan aku bersama dengan putriku. Aku sudah meninggalkannya di masa lalu. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian lagi"
Li Yongfan masih tidak mempedulikannya.
"Li Yongfan"
"Diamlah. Aku sudah menyiapkan dua orang di rumah sakit. Hanya satu panggilan mereka bisa membunuh anak itu"
"Li Yongfan, aku tidak percaya kau sekejam itu"
Mo An An akhirnya menyerah. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Shen Fengyin. Hanya Shen Fengyin satu-satunya yang dia percaya untuk merawat putrinya.
***
Jiao hanya duduk diam di tempat tidurnya menunggu mamanya.
__ADS_1
"Jiao"
Gadis kecil itu memandang ke arah pintu.
"Bibi Yin, Paman Sheng"
"Xiao Jiao, ayo kita pulang"
Li YongSheng mengendong Jiao turun dari tempat tidur.
"Paman, aku bisa jalan sendiri"
"Apa kau yakin?"
Jiao mengangguk.
"Ayo"
Li YongSheng menggandeng tangan Jiao.
"Tunggu paman, mama masih belum datang"
"Mamamu harus menyelesaikan sesuatu lebih dulu. Kau pulang duluan bersama kami"
Jiao hanya mengangguk. Dia lalu pergi bersama Shen Fengyin dan Li YongSheng.
***
Li Huan Rui keluar dan menyambut orang tuanya ketika dia mendengar suara mobil ayahnya.
"Papa"
Senyum Li Huan Rui lenyap ketika dia melihat ayahnya menggandeng tangan seorang anak perempuan.
"KAU...GADIS PENCURI. Menjauh dari ayahku"
Li Huan Rui melangkah maju dan mendorong gadis kecil itu.
"Li Huan Rui, jangan bersikap kasar seperti itu"
Li YongSheng menegur putranya. Li YongSheng segera membantu Jiao berdiri.
"Huanrui, Minta maaf padanya"
Shen Fengyin yang melihat kelakuan kasar putra juga merasa marah apalagi saat ini Jiao sedang terluka.
"Tidak mau"
"Li Huan Rui"
Shen Fengyin meninggikan nada suaranya.
"Mama dan papa tidak peduli lagi pada Rui"
Li Huan Rui segera berlari naik ke lantai atas.
"Jiao, maafkan sikap Rui ya. Apa kau terluka?"
Shen Fengyin khawatir. Jiao menggelengkan kepalanya.
"Ayo, bibi akan mengantarmu ke kamarmu"
***
Jiao melihat dekorasi kamar yang dominan dengan warna pink bahkan ada beberapa boneka.
"Bibi harap kau akan merasa nyaman "
"Terima kasih bibi"
"Kau bisa beristirahat dulu"
Jiao mengangguk.
"Jika ada sesuatu yang kau perlukan mintalah pada pelayan atau pada bibi dan paman"
"Ya, Terima kasih bibi"
Shen Fengyin lalu meninggalkan kamar tamu. Jiao memandang ke sekitar, kamar ini lebih luas dari kamarnya bahkan rumahnya.
Jiao menuju ke tempat tidur dan secara perlahan merembahkan tubuhnya, sungguh begitu nyaman dan lembut. Jiao merasa nyaman tinggal di rumah ini namun tiba-tiba teringat dengan pria yang menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian.
Jiao sebenarnya merasa senang bisa melihat pangerannya lagi tapi ketika melihat pangerannya menatapnya dengan penuh kebencian dia merasa sedih dan tidak nyaman.
Apa pangerannya tidak menyukainya tinggal disini?
Kenapa pangerannya terlihat begitu membencinya?
Jiao perlahan menutup matanya dan tertidur.
***
Li Huan Rui merasa kesal, dia lebih kesal karena gadis yang merebut kasih sayang orang tuanya adalah gadis pencuri. Dia sudah berbaik hati menyelamatkannya tapi gadis itu justru mencuri perhatian orang tuanya. Li Huan Rui merasa kesal, apa hal yang baik dari gadis itu hingga mamanya yang biasanya dingin menjadi lembut pada gadis kecil itu bahkan begitu perhatian. Bahkan papanya yang biasanya tidak begitu ramah pada anak kecil justru begitu perhatian pada gadis itu.
Li Huan Rui semakin membenci gadis itu lebih dalam dari sebelum dia bertemu dengan gadis yang mendapat kan kasih sayang orang tuanya itu. Li Huan Rui menghela nafas kesal.
***
"Rui, saatnya makan siang"
Li Huan Rui tidak menjawab.
"Rui keluarlah. Kau tidak mungkin melewatkan makan siang bukan? Jika kau tidak keluar, makanan akan habis"
"Terserah. Rui tidak mau makan"
"Rui kecil, kau akan menjadi lebih kurus jika kau tidak..."
"Jangan pura-pura perhatian dan khawatir padaku. Papa manjakan saja anak perempuan itu"
"Li Huan rui , jangan berkata seperti itu. Papa..."
"Rui tidak mau mendengar apapun"
"Rui"
Tidak ada tanggapan dari Li Huan Rui. Li YongSheng menghela nafas, apa dia terlalu keras pada putranya tapi dia hanya tidak suka anaknya bersikap kasar. Li YongSheng berbalik dengan kecewa.
"Baiklah, jika kau tidak mau makan yasudah. Papa akan pergi"
Li YongSheng berbalik meninggalkan lantai dua. Didalam kamarnya Li Huan Rui semakin kesal karena papanya tidak bersikeras membujuknya.
Shen Fengyin dan Jiao sudah menunggu di meja makan.
"Dimana Huanrui?"
"Dia tidak mau keluar. Sepertinya dia masih marah"
Shen Fengyin menghela nafas. Putranya itu begitu cepat marah dan merajuk.Mungkinkah karena mereka terlalu memanjakannya.
"Sudahlah biarkan saja. Kita bisa meminta seorang pelayan mengantarkan makanan"
"Jiao, ayo makan. Kau harus makan yang banyak. Kau harus menambah berat badan"
__ADS_1
Shen Fengyin meletakkan makanan di piring Jiao. Gadis kecil itu termenung. Dia merasa bersalah karena memyebabkan masalah pada pangerannya