
Shen Fengyin mulai mengubah sikapnya. Dia menyapa putra dan suaminya dengan suara lembut. Li Huan Rui merasa bahagia dengan perubahan ibunya sedangkan Li YongSheng tidak bereaksi apapun. Dia tahu saat ini Shen Fengyin sedang berakting di depan putra mereka untuk menyenangkannya.
"Suami, bisakah kau mengambilkan sayuran itu untukku"
Li YongSheng mengangguk dan mengambilkannya. Shen Fengyin mengucapkannya terima kasih. Li YongSheng tidak menanggapinya.
Shen Fengyin menyadari jika reaksi Li YongSheng masih datar padanya. Bukankah pria itu seharusnya menunjukkan kasih sayangnya, apa perkataannya tentang dia mencintai Shen Fengyin yang dikatakan di depan Li Huan Rui hanyalah cara untuk menenangkannya dan menutupi masalah yang terjadi diantara mereka berdua. Mungkin pria itu juga tidak ingin bekerja sama berpura-pura menjadi pasangan di depan putranya karena dia memang sudah memiliki wanita lain dan merasa enggan untuk menunjukkan kasih sayang pada wanita lain.
Shen Fengyin tidak ingin putranya satu-satunya merasa kecewa.
"Suamiku, apa kau bisa mengantarku ke kantor?"
"Bukankah kau memiliki supir?"
"Ya, tapi aku ingin ke kantor bersama suamiku agar bisa lebih lama bersamamu"
Li YongSheng memandang Shen Fengyin.
'Andai saja hal ini bukanlah kepura-puraan'
"Baiklah"
"Papa, mama. Hari ini Rui berangkat bersama paman Zhang saja"
"Kenapa? Papa bisa..."
"Rui tidak ingin menganggu mama dan papa. Kalian mungkin butuh waktu berdua"
"Papa, mama. Rui pergi duluan ya"
Li Huan Rui meninggalkan kedua orang tuanya. Li YongSheng dan Shen Fengyin menjadi canggung.
"Kau masih mau ke kantor bersamaku?"
"Ya"
"Baiklah"
***
Li YongSheng menggunakan mobil milik Shen Fengyin. Li YongSheng fokus menyetir sedangkan Shen Fengyin hanya diam dan memandang ke kaca.
"Suamiku, ayo kita berdamai"
Li YongSheng melirik sekilas ke arah Shen Fengyin.
"Aku tidak ingin putra kita menjadi sedih karena orang tuanya bersikap berbeda dari pasangan lain. Aku akan melupakan masa lalu kita dan aku akan perlahan membuka hatiku untukmu. Aku tahu kau memiliki wanita lain , aku juga tidak akan memaksamu untuk mencintaiku tapi setidaknya dapatkah kita memulai kehidupan baru dan bersikap seperti pasangan yang diinginkan putra kita?"
Li YongSheng masih diam. Shen Fengyin menoleh ke arahnya.
"Li YongSheng, bisakah kau melakukannya? Untuk putra kita"
"Baiklah, tapi aku melakukan ini bukan karena terpaksa untuk menyenangkan putra kita"
"Maksudmu?"
Salah satu tangan Li YongSheng mengenggam tangan Shen Fengyin.
"Aku tidak pernah memiliki wanita lain selain dirimu. Hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai"
"Tapi, parfume wanita..."
"Kau menyadari hal itu juga? Sebenarnya aku sengaja menyemprotkan parfume wanita di tubuhku untuk melihat reaksimu tapi kau tidak bereaksi apapun. Kau bahkan hanya bersikap biasa saja"
"Aku ingin tahu bagaimana reaksi istriku saat cemburu"
Li YongSheng tertawa pelan.
"Trik murahan itu. Apa kau pikir bisa membuatku cemburu? Dan kau tahu bukan aku tidak akan melakukan hal bodoh untuk menunjukkan kecemburuan yang konyol itu"
"Tapi, kau sempat berpikir bahwa aku berselingkuh bukan?"
"Ya, tapi aku juga tidak ingin bertindak konyol hanya karena cemburu bagaimanapun juga aku sudah menolakmu saat itu jadi aku tidak berhak untuk melarangmu menyukai wanita lain. Bagaimanapun juga akulah yang mengusulkan agar kau tidak berharap padaku"
"Istriku, mulai hari ini aku berjanji untuk setia padamu dan jikapun aku berselingkuh, kau bisa menghukumku dan wanita itu. Walaupun aku tidak berniat berselingkuh dengan wanita lain tapi tidak apa-apa jika istriku marah karena cemburu"
Shen Fengyin tidak menanggapinya. Dia tidak ingin bertindak bodoh lagi hanya karena kecemburuan.
"Aku mencintaimu, Shen Fengyin"
Ucapan yang tiba-tiba itu membuat Shen Fengyin tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku harap aku bisa mendengarmu mengatakan balasan utuk cintaku. Aku akan menunggu untuk itu"
Li YongSheng akan membiarkan Shen Fengyin mencintainya perlahan. Walaupun awalnya ini karena untuk kebahagiaan putra mereka tapi Li YongSheng yakin suatu saat Shen Fengyin akan mencintainya setulus hati dan Li YongSheng akan bersabar menunggu hari itu tiba.
***
Li YongSheng mengambil kursi roda Shen Fengyin dan membantunya duduk.
"Aku akan menjemputmu untuk makan siang"
"Baiklah"
Li YongSheng membungkuk dan mencium bibir Shen Fengyin. Wanita itu terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu. Shen Fengyin mendorong dadanya.
"Li YongSheng, ada banyak orang"
Pipi Shen Fengyin memerah.
"Istriku, wajahmu memerah. Apa kau denam"
Li YongSheng hendak menyentuh dahi Shen Fengyin tapi di tahan oleh Shen Fengyin.
__ADS_1
"A..aku baik-baik saja. Cepatlah pergi ke kantor. Kau bisa terlambat nanti"
Shen Fengyin merasa gugup. Li YongSheng tertawa kecil, mungkinkah istri nya sedang malu, sungguh mengemaskan.
"Baiklah,aku akan pergi tapi biarkan aku menciummu sekali lagi"
"Li YongSheng, jangan melakukan hal yang memalukan"
Wajah Shen Fengyin menjadi tanpa ekspresi tapi terlihat jelas semburat warna merah yang lebih merah dari pada tomat. Li YongSheng tersenyum.
"Baiklah. Sampai jumpa istriku"
Li YongSheng lalu masuk ke dalam mobil dan dengan enggan melajukan mobilnya. Sebenarnya dia masih tidak rela berpisah dengan istrinya.
***
"Selamat pagi, CEO Shen"
Para karyawan nya menyapanya seperti biasanya. Shen Fengyin membalasnya. Mereka terlihat terkejut saat atasan mereka membalas sapaannya dengan tersenyum. Mereka merasa senang mungkin saja CEO mereka sedang dalam suasana hati yang baik. Dia mungkin tidak akan memarahi orang seperti sebelumnya.
Shen Fengyin menghadiri rapat dan mendengarkan laporan dari setiap pemimpin departemen. Para karyawannya merasa santai karena yakin Shen Fengyin tidak akan marah-marah hari ini tapi siapa sangka bosnya yang perfect dalam pekerjaan tetap saja bersikap tegas apalagi karena project berjalan tidak maksimal. Mereka salah karena merasa lega terlalu awal.
***
Li Huan Rui merasa bahagia karena rencananya untuk menyatukan kedua orang tuanya berjalan dengan baik. Dia harap papanya akan lebih menunjukkan kasih sayang pada mamanya.
Li Huan Rui mengirim pesan pada Mo An An untuk bertemu. Li Huan Rui ingin bertemu dengan sang pemberi ide dan mencetikannya secara lengkap.
"Henry, sepertinya suasanya hatimi sedang baik ya?"
"Ya, Begitulah"
"Apa ada sesuatu yang baik terjadi? Bisakah aku mendengar ceritamu?"
"Tidak"
Helena cemberut tapi Li Huan Rui tidak menanggapinya.
"Oh ya, Henry. Sebentar lagi malam natal bukan?"
"Apa Henry mau merayakan natal bersamaku. Kita bisa bertukar hadiah bersama"
Li Huan Rui terdiam.
"Aku akan merayakan bersama keluargaku"
Ini mungkin akan menjadi natal pertama yang dia rayakan bersama ayah YongSheng nya.
"Kalau begitu, kau bisa membawa keluarga mu ke rumah nenekku. Keluarga kita bisa bertemu dan membiarkan masa depan kita"
Li Huan Rui menghela nafas melihat Helena yang bepikir terlalu jauh.
"Kau berlebihan"
***
"CEO Shen"
"Ada apa?"
"wakil presiden Li menunggu anda di bawah"
"Apa hari ini ada jadwal pertemuan dengan wakil presiden Li?"
"Tidak ada"
Shen Fengyin mengerutkan kening.
'Untuk apa dia datang jika tidak ada pertemuan? '
Shen Fengyin menyadari sesuatu. Mungkinkah pria itu datang menjemputnya untuk makan siang bersama, tapi tidakkah ini terlalu awal.
"Aku akan keluar untuk makan siang"
"Baiklah, CEO Shen"
"CEO Shen, selamat berkencan"
Asisten Han menggoda Shen Fengyin sebelum pergi.
"Ini bukan kencan"
Sayangnya Asisten Han terlanjur pergi lebih dulu sebelum Shen Fengyin sempat menanggapinya
***
Li YongSheng menunggu Shen Fengyin dengan sabar, jam makan siang seharusnya setengah jam lagi tapi dia tidak sabar untuk bertemu dengan Shen Fengyin dan dia ingin menikmati waktu berdua bersama istrinya lebih lama.
"Wakil presiden Li"
"CEO Shen"
"Ayo pergi"
"Baiklah"
Li YongSheng mendorong kursi roda Shen Fengyin. Wanita itu memprotesnya tapi Li YongSheng bersikeras untuk mendorong kursi roda Shen Fengyin.
Tidak banyak karyawan yang berada di lantai bawah karena masih belum jam makan siang. Li YongSheng membukakan pintu mobil untuk Shen Fengyin dan menggendongnya untuk membantunya masuk ke mobil.
"Kau tidak perlu melakukan ini"
"Tidak apa-apa"
__ADS_1
Li YongSheng lalu memasukkan kursi roda Shen Fengyin setelah itu melajukan mobilnya.
"Tidakkah terlalu awal keluar untuk makan siang? Apa kau tidak takut ketahuan atasanmu?"
"Presiden saat ini adalah pamanku jadi tidak menjadi masalah dan juga sebelum ini aku juga ada pertemuan dengan client jadi tidak masalah bukan jika aku sekalian makan siang"
Shen Fengyin mengangguk. Dia sebenarnya penasaran bagaimana Li YongSheng bisa bergabung dengan perusahaan Lin. Shen Fengyin sempat meminta asistennya untuk mencari tahu hal yang terjadi di masa lalu. Dia terkejut ketika mengetahu hubungan rumit antara Li dan Lin.
Ayah Li YongSheng (Tuan Li) awalnya bertunangan dengan nona muda keluarga Lin tapi Tuan Li justru jatuh cinta pada sahabat dari nona muda Lin (Ny. Li). Tuan Li mengakhiri pertunangan mereka dan membuat kemarahan Lins hingga berimbas pada perusahaan jika bukan karena Shen yang membantunya mungkin perusahaan itu sudah bangkrut dan karena itulah Lin juga memiliki hubungan buruk dengan Shen. Nona muda Lin lalu dikirim ke luar negri saat tuan Li dan Ny. Li menikah. Namun siapa sangka 2 tahun kemudian nona muda Li kembali ke B city dan menjebak Tuan Li dan akhirnya mengandung Li YongSheng.
Nona Lin memiliki kesehatan yang buruk karena terlalu stres dan dia meninggal di usia muda. Tuan tua Lin tidak menyukai Li YongSheng khususnya sejak putrinya meninggal. Dia akhirnya mengirim Li YongSheng ke rumah keluarga Li.
"Apa tidak apa-apa bagimu terlibat dengan Lin?"
Shen Fengyin mengucapkannya dengan nada khawatir dan dengan suara yang cukup pelan.
"Apa yang kau katakan tadi?"
"Tidak ada"
"Fengyin, apa kau menyelidiki tentang Lin dan aku?"
Shen Fengyin terlihat terkejut.
"Aku tidak..."
"Tidak apa-apa jika kau melakukannya"
Li YongSheng tersenyum.
"Lin memang pernah membuangku dan sejujurnya aku membenci keluarga Lin dan juga...ibuku"
"Tapi pamanku menemuiku. Dia membujukku untuk bergabung dengan perusahaan Lin. Awalnya aku tidak ingin tapi paman menceritakan padaku bahwa ibuku bekerja keras untuk Lin dan memiliki saham yang dia tinggalkan untukku, disaat sakitnya ibuku masih bekerja dan pamanku sudah berjanji pada ibuku untuk membiarkanku terlibat dalam perusahaan. Dia juga menceritakan bahwa ibuku berjuang mempertahakanku dan melawan kakek agar aku masih bisa di terima di keluarga Lin. Walaupun aku masih kecip saat itu dan tidak banyak memiliki kenangan bersama ibuku karena ibuku sibuk bekerja tapi aku masih mengingat pelukannya terakhir kali"
"Awalnya aku membenci ibuku yang meninggalkanku tapi sekarang aku menyadari cintanya. Aku akhirnya menerima tawaran itu untuk ibuku"
Shen Fengyin hanya diam dan mendengar penjelasan Li YongSheng. Dia tahu Li YongSheng pasti mengalami masa-masa sulit.
"Oh ya, sebelum makan siang. Bagaimana jika kita ke makam ibuku. Apa kau mau?"
Shen Fengyin mengangguk.
***
Shen Fengyin dan Li YongSheng berada disebuah pemakaman elit. Mereka berada di depan sebuah batu nisan.
"Ibu, ini Yongsheng. Aku datang untuk mengunjungimu bersama istriku"
Li YongSheng memandang makam ibunya dengan tatapan penuh kerinduan. Li YongSheng berbicara banyak hal di depan makam ibunya khususnya tentang putra mereka. Melihat hal ini Shen Fengyin merasa bahwa pria itu seperti anak laki-laki yang mengadu pada ibunya. Shen Fengyin dapat merasakan kesedihannya.
***
"Bibi An"
Li Huan Rui berlari ke arah Mo An An yang baru saja keluar dari mobil untuk menjemputnya.
"Rui kecil, kau terlihat begitu bahagia"
"Tentu saja. Ini semua berkat saran bibi An akhirnya orang tuaku bisa bersama kembali"
Mo An An tersenyum.
"Aku juga senang mendengarnya"
"Bibi, bagaimana kalau kita membeli es cream untuk perayaan. Aku akan mentraktirmu"
"Benarkah? Apa ibumu memberimu banyak uang jajan"
"Tidak juga. Kalau begitu bibi saja yang mentraktirku"
"Itu sama saja"
Li Huan Rui tertawa begitu pula dengan Mo An An. Tidak jauh dari mereka seorang gadis kecil memandang interaksi mereka berdua.
"Mama"
Gadis kecil itu hendak berjalan mendekat tapi ketika melihat seorang pria menghampiri wanita itu dan pria kecil itu. Gadis kecil itu mengurungkan niatnya untuk mendekati mereka.
Mo An an merasa seseorang sedang memandang ke arahnya tapi ketika dia melihat tempat itu dia hanya melihat punggung gadis kecil yang berjalan pergi.
"Ada apa?"
Li Yongfan melihat mo An an yang mengerutkan keningnya.
"Tidak, tidak apa-apa"
"Bibi An, papa Fan ayo kita pergi beli es krim"
"Baiklah"
Mereka bertiga masuk dalam mobil. Sebelum masuk Mo An An melihat tempat dimana gadis kecil itu berdiri. Dia tidak dapat melihat gadis kecil itu dengan jelas tapi kenapa dia merasakan perasaan aneh.
Mo An An mengelengkan kepala, tidak mungkin itu adalah anaknya. Gadis kecil itu tidak terawat. Dia yakin walaupun dalam ekonomi sulit Bai Yuchen tidak akan membuat anaknya terabaikan bagaimana pun juga dia ayah kandungannya tapi ketika mengingat mimpi yang terus membayanginya tentang sikap kasar Bai Yuchen pada putrinya membuat Mo An An menjadi cemas.
"Istriku, apa yang kau pikirkan?"
Li Yongfan menjukkan ke khawatir an. Mo An An mengelengkan kepala.
"Tidak, tidak ada"
Mo An An menunjukkan senyuman berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya. Dia ingin bertemu dengan putrinya dan memastikan sendiri keadaan putrinya dan berharap mimpinya hanyalah mimpi
A/N konflik Shen Fengyin dan Li YongSheng sudah selesai nie. kasihan juga kalau aku buat Shen Fengyin menderita terus 😁
__ADS_1