Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Side Story 9 (I'm Sorry mom)


__ADS_3

Li YongSheng dan Shen Fengyin memasukan buku dan juga sepatu di dalam sebuah box.


"Dia hanya lulus seleksi masuk sd, apa itu prestasi yang penting untuk di rayakan"


Li Huan Rui tidak senang dengan orang tuanya yang terlalu berlebihan saat mendapatkan kabar dari bibi An jika Jiao lulus ujian masuk. Li Huan Rui yang berhasil mendapatkan peringkat pertama saja tidak di perlakukan begitu special seperti ini.


Mama dan papanya hanya memberikan tanggapan 'seperti yang kami harapkan kau memang yang terbaik. Pertahankan peringkatmu'. Namun Li Huan Rui tidak mendapat hadiah apapun bahkan papa dan mamanya tidak mengadakan makan malam special seperti ini.


"Rui, jangan berkata yang seolah meremehkan seperti itu. Bukankah ini awal prestasi yang bagus untuk xiao jiao. Dia berhasil mendapat nilai sempurna dalam ujian masuk. Gadis kecil itu sudah berusaha keras jadi bukankah sudah sewajarnya jika kerja kerasnya mendapatkan hadiah"


"Aku juga sudah bekerja keras, tapi mama tidak pernah memperlakukanku dengan special"


Li Huan Rui mengucapkannya dengan pelan seperti gumahan.


"Apa yang kau katakan?"


Shen Fengyin tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan putranya itu.


"Tidak"


"Li Huanrui, kenapa kau belum bersiap. Kita harus segera berangkat"


"Aku tidak ikut, kalian saja yang merayakan keberhasilan anak itu"


"Kau harus ikut"


"Tidak. Bukankah keberadaanku tidak terlalu penting untuk kalian. Mama dan papa juga akan lebih memperhatikan gadis itu, begitu pula dengan papa Fan jadi untuk apa aku datang ke sana jika hanya menjadi seperti angin ah tidak angin bahkan masih bisa di rasakan. Bahkan keberadaanku lebih buruk dari angin"


"Li Huanrui, bagaimana kau berpikir seperti itu. Sudahlah, mama tidak ingin berdebat denganmu. Cepat bersiaplah"


"Aku sudah bilang bahwa aku tidak mau pergi menghadiri perayaan untuk gadis rendahan itu"


"Li Huanrui jangan menyebut Jiao dengan panggilan rendah seperti itu"


Shen Fengyin merasa kepalanya pusing. Li YongSheng memegang tubuhnya.


"Sayang, jaga emosimu"


Li YongSheng berusaha menenangkan Shen Fengyin. Li Huan Rui merasa khawatir pada ibunya tapi dia pura-pura tidak peduli.


"Aku akan pergi menginap di runah Helena"


"Kau tinggal saja di keluarga Si. Kau lebih sering bersama mereka daripada keluarga mu sendiri. Kenapa kau tidak tinggal seterusnya di keluarga Si"


Shen Fengyin tidak menyukai bagaimana keluarga Si mencoba mendekati putrinya. Selama libur pria kecil itu lebih sering menghabiskan waktu bersama Helena dan menginap di keluarga Si.


"Ya, jika aku bisa aku akan melakukannya. Keluarga Si bahkan lebih mengerti diriku daripada keluargaku sendiri yang bahkan lebih peduli dengan anak orang lain dibandingkan dengan anaknya sendiri"


Shen Fengyin mengepalkan tangannya menahan kemarahannya.


"Apa yang kau katakan? Kapan kami tidak peduli padamu?"


"Sejak gadis itu muncul kalian sering mengabaikanku. Setiap kita berkumpul kalian akan membicarakan betapa hebatnya gadis itu. Saat kalian bersamanya perhatian kalian selalu berfokus padanya dan bahkan sekarang kalian secara khusus mengadakan perayaan untuknya. Mama, saat aku berhasil mendapatkan nilai tertinggi untuk pertama kalinya pernahkah mama melakukan hal special seperti yang mama lakukan untuk dia? Mama begitu peduli padanya aku sempat berpikir mungkinkah dialah anak kandung mama dan bukan aku"


"Li Huanrui bagaimana kau berpikir seperti itu?"


Shen Fengyin memegang kepalanya. Rasanya kepalanya semakin sakit karena emosinya yang semakin meningkat.


"Sudahlah, Fengyin. Jangan berdebat dengan Rui. Lebih baik kau istirahat sekarang atau kondisi mu akan bertambah parah nanti"


Shen Fengyin sering mengalami sakit kepala sejak kecelakaan parah itu. Khususnya saat dia terlalu lelah dan juga stres. Dua hari ini dia memiliki banyak pekerjaan karena Shen Fengyin sempat mengambil cuti , ketika lelah, emosi Shen Fengyin sering meningkat. Dia bahkan pernah pingsan dan mengeluh sakit kepala.


"Aku baik-baik saja. Kita tidak boleh membuat tamu kita menunggu"


"Kakak dan Mo An An pasti akan mengerti. Lebih baik kau istirahat dulu. Aku akan menghubungi mereka "


Li YongSheng memanggil seorang pelayan dan memintanya mengantar Shen Fengyin ke kamarnya. Li YongSheng memandang ke arah putranya yang menunjukkan ekspresi acuh tak acuh walau tatapan matanya terlihat jelas bahwa dia khawatir melihat keadaan ibunya. Li YongSheng menghela nafas.


"Rui, kembali ke kamarmu"


"Tidak, aku akan tetap pergi"


Pria kecil itu melangkahkan kakinya.


"Li Huanrui, apa kau ingin membuat kondisi mamamu semakin buruk? Apa kau tidak peduli lagi dengan mamamu?"


"Untuk apa aku peduli dengan orang yang tidak peduli padaku"


"Li Huanrui, mamamu memang tidak banyak memperlihatkan perhatiannya padamu tapi bukan berarti mamamu tidak peduli padamu. Kau tahu mamamu selama seminggu kemarin meninggalkan pekerjaannya berharap dia bisa menghabiskan waktu menemanimu selama liburan tapi kau justru mengabaikannya dan memilih pergi dengan Helena. Kau tahu, saat kau tidak pulang dan memilih menginap di rumah keluarga Si saat itu ibumu sudah menyiapkan makan malam kesukaanmu untuk merayakan keberhasilanmu walau perayaan itu memang terlambat. Kau tahu betapa mamamu memikirkanmu? Tapi apa balasanmu untuk mamamu"


"Jika kau memang tidak peduli lagi pada ibumu maka pergilah "


Li YongSheng lalu meninggalkan putranya. Mungkin ini pertama kalinya dia menegur tindakan Li Huan Rui dengan dingin. Mungkin dia terlalu memanjakam putranya hingga putranya menjadi egois seperti ini. Li Huan Rui diam di tempatnya dan merenung. Dia lalu kembali ke kamarnya.


***


Keluarga Li Yongfan hendak berangkat ketika tiba-tiba dia mendapat panggilan telpon dari Li YongSheng. Li Yongfan menjawab telpon dari adiknya itu.


"Hallo, A-Sheng. Kami akan berangkat..."


"...."


"Apa?"


"...."


"Ya, aku mengerti. Tidak apa-apa . Kondisi Yinyin jauh lebih penting. Aku akan memberi tahu An dan Jiao"


Li Yongfan lalu memasukkan ponselnya di kantong jasnya.


"Suami, apa yang terjadi?"


"Sakir kepala Shen Fengyin kambuh lagi. Mereka tidak bisa datang. Namun mereka belum membatalkan pesanan, A-Sheng meminta kita menikmati makan malam tanpa mereka"


"Sangat disayangkan mereka tidak datang. Aku khawatir dengan keadaan Fengyin"


"Aku yakin dia akan baik-baik saja"


"Suami, lebih baik minta A-Sheng untuk membatalkan pesanan "


"Jiao, bagaimana denganmu? Apa kau keberatan?"


Mereka berencana merayakan keberhasilan Jiao, tentu Li Yongfan perlu meminta pendapat putrinya.


"Tidak apa-apa, papa. Bagaimanapun kita tidak mungkin bersenang-senang saat bibi Yin sakit"


"Baiklah, papa akan menghubungi A-Sheng"


"Papa, Jiao akan pergi ke kamar"


"Apa kau tidak mau makan dulu sebelum istirahat? Papa akan minta kepala koki memasak"


"Tidak perlu papa, Jiao tidak lapar"


Jiao lalu pergi ke kamarnya. Mo An An mengikuti putrinya.


***

__ADS_1


Li Huan Rui berada di kamarnya, dia mengambil ponselnya dan menekan nama Helena dalam daftar pencarian kontak.


"Hallo, Rui"


Suara Helena terdengar cerita. Li Huan Rui merasa bersalah ketika mendengar suara yang penuh semangat itu.


"Helena, aku minta maaf. Aku tidak bisa datang makan malam di rumahmu ataupun menginap"


"Kenapa?"


Li Huan Rui mendengar kekecewaan dari nada suaranya.


"Ada sesuatu yang terjadi di rumah. Aku tidak bisa pergi"


"Begitu ya, aku mengerti. Aku akan mengatakan hal ini pada orang tuaku agar tidak perlu menunggumu"


"Terima kasih atas pengertianmu"


"Tidak masalah"


"Bye"


"Bye"


Setelah saling mengucapkan selamat tinggal Li Huan Rui mematikan sambungan telpon. Li Huan Rui hendak meletakkan ponselnya ketika sebuah panggilan masuk. Li Huan Rui pernah melihat nomer tanpa nama itu sebelumnya. Li Huan Rui ragu-ragu untuk menggeser tombol hijau.


"Hallo, siapa ini?"


"Li Huanrui"


Suara di telpon terdengar datar tapi masih ada sedikit suara kekanak-kanakan.


"Ya, siapa ini?"


"Ini...Li Jiao"


"Li Jiao? Ah, kau bahkan merani menggunakan nama keluarga Li dan bahkan memanggilku?"


Li Huan Rui merasa kesal. Gadis yang memjadi sumber masalah dalam perdebatannya dan ibunya menghubunginya. Bahkan berani memperkenalkan diri menggunakan nama keluarga Li.


"Maafkan aku, tapi tuan muda Li. Aku tahu kau pasti merasa resah dengan keadaan bibi Yin tapi aku yakin bibi Yin akan baik-baik saja"


"Untuk apa kau membahas tentang ini? Kau mau terlihat bahwa kau lebih perhatian pada ibuku dibandingkan denganku"


"Bukan seperti itu, aku..."


"Sudahlah, aku tidak ingin mengobrol dengan orang yang membuatku dalam masalah"


"Tuan muda, apa maksud..."


Li Huan Rui segera mematikan panggilan dan juga menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin gadis itu mengaggunya.


***


"Sayang, minum obat dulu. Belakang ini kau jarang minum obat dan beristirahat bukan?"


Li YongSheng memberi obat kepada istrinya setelah mensuapi istrinya dengan bubur gandum. Shen Fengyin dengan enggan minum obat pahit itu. Shen Fengyin tidak menyukai rasa pahit obat sehingga dia hanya minum obat saat kepala nya benar-benar sakit.


"Istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir"


"Tapi, bagaimana dengan Rui, apa dia masih memutuskan untuk pergi?"


"Tidak, dia sudah kembali ke kamarnya"


Shen Fengyin menghela nafas.


"Jangsn terlalu dipikirkan ucapan Rui kecil. Dia mungkin sedang dalam masa pemberontakan saat ini "


"Lebih baik sekarang kau istirahat. Jangan pikirkan hal lain"


Shen Fengyin mulai mengantuk karena pengaruh obat. Dia perlahan memejamkan mata dan mulai tertidur. Li YongSheng memberikan kecupan di dahinya.


"Selamat tidur istriku"


Li YongSheng lalu berdiri dan keluar ruangan. Dia bertemu dengan Li Huan Rui yang berdiri di depan pintu.


"Papa, bagaimana keadaan mama? Bolehkah Rui menemui mama?"


"Kau tidak bisa betemu dengan mamamu?"


"Apa? Kenapa?"


"Apa kau sudah merenungkan dan mengerti kesalahanmu?"


Li Huan Rui terdiam. Dia masih merasa bahwa dia tidak melakukan kesalahan. Walaupun dia membuat mamanya sakit.


"Renungkan kesalahanmu dan setelah itu kau bisa masuk "


"Papa..."


"Kembali ke kamarmu, mamamu saat ini sedang beristirahat jangan menganggunya"


Li Huan Rui dengan enggan kembali ke kamarnya.


***


Shen Fengyin terbangun ketika merasakan sorot sinar matahari terbit yang mengenai matanya. Shen Fengyin melihat ke arah jam disamping tempat tidur.


"Eh? Ini sudah jam setengah 8. Aku harus bersiap-siap dengan cepat"


"Selamat pagi, istriku. Kau sudah bangun?"


"Suami, kenapa kau tidak membangunkanku? Aku harus segera bersiap"


Shen Fengyin dengan tergesa-gesa bangun dan meraih kursi rodanya.


"Kau perlu istirahat lebih banyak, istriku. Aku akan meminta asisten Han untuk menangani tugas"


"Tidak perlu, aku..."


"Fengyin, jangan memaksakan dirimu. Kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik. Menurutlah pada suamimu ini dan istirahat lebih banyak"


"Aku..."


"Tidak ada bantahan"


Shen Fengyin menghela nafas. Dia tahu dia tidak bisa membantah Li YongSheng jika tidak pria itu akan membuat keributan.


"Sayang, aku harus berangkat. Aku sudah menyewa seorang koki untuk membuat makanan untukmu. Pelayan akan nenbawakannya"


Shen Fengyin hanya mengangguk. Li YongSheng memberikan kecupan singkat di bibirnya.


"Aku pergi dulu"


"Hati-hati dan ingat, kau harus pulang tepat waktu"


"Tentu saja "

__ADS_1


Li YongSheng lalu meninggalkan kamar. Shen Fengyin merasa bosan. Dia mengambil ponselnya dan membuka situs berita ekonomi untuk mengetahui keadaan di dunia bisnis saat ini.


Tok tok tok


"Masuk"


Pintu perlahan terbuka. Seorang anak laki-laki yang menbawa baki mendekatinya. Shen Fengyin terkejut melihat putranya.


"Mama, Rui membawa bubur untuk mama"


"Kenapa kau yang mengantar bukankah ada pelayan ?"


"Ya, tapi Rui ingin secara pribadi membawanya untuk mama"


"Oh, terima kasih"


"Mama, Rui akan mensuapi mama"


"Tidak perlu, mama bisa makan sendiri"


Shen Fengyin menganbil mangkuk diatas baki. Dia mulai makan bubur itu. Li Huan Rui masih berdiri diam di tempatnya.


"Ada apa?"


Shen Fengyin mengerutkan keningnya melihat putranya hanya berdiri diam. Shen Fengyin dapat merasa tatapan mata putra nya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu-ragu.


"Mama, Rui minta maaf"


"Rui sudah bersikap kasar pada mama bahkan Rui tidak memperhatikan perhatian mama pada Rui. Rui tahu mama pasti masih marah pada Rui"


Shen Fengyin meletakkan mangkuk di atas nakas.


"Kemarilah, Huanrui"


Li Huan Rui melangkahkan kaki lebih dekat pada Shen Fengyin dengan ragu-ragu. Shen Fengyin merentangkan tangannya dan memeluk pria kecilnya. Shen Fengyin menyadari bahwa tanpa dia dasari putranya sekarang sudah mulai tumbuh. Li Huan Rui hanya diam berada di pelukannya, dia merasa nyaman dengan kehangatan pelukan mamanya.


"Mama tidak marah padamu. Mama memang sedikit kesal tapi mama tidak bisa marah terlalu lama pada putra kesayangan mama"


"Li Huanrui, mama juga minta maaf karena tidak bisa terang-terangan menunjukkan perhatian mama ataupun memanjakanmu dengan berlebihan. Kau akan menjadi penerus perusahaan Shen, mama tidak ingin kau menjadi lemah karena di manjakan"


"Ya, Rui mengerti "


"Baguslah"


Shen Fengyin membelai lembut rambut pendek putranya.


"Huan Rui, mama tidak tahu kenapa kau terlihat bermusuhan dengan Jiao ataupun bersikap dingin padamu tapi mama harap kau biaa bergaul dengannya sebagai seorang saudara dan merawatnya dengan baik"


"Mama..."


"Jiao memang bukan anak kandung dari papa Fan mu tapi papa Fanmu sudah mengakui Jiao dan juga bibi An sudah memperlakukanmu dengan baik bukan? Setidaknya kau bisa merawat Jiao seperti papa Fan merawatmu. Mama berharap kau bisa menjadi saudara yang baik dengan Jiao"


"Tidak, aku tidak akan mau menganggapnya sebagai saudara, walaupun dia sudah mendapatkan nama Li tapi gadis itu tidak akan pernah menjadi saudaraku. Aku tidak ingin kehilangan kasih sayang mama dan papa"


"Kenapa kau berpikir begitu? Kami akan selalu menyayangimu "


"Bohong, mama dan papa selalu menunjukkan kasih Sayang pada gadis itu. Kalian lebih menyayanginya di bandingkan denganku"


"Bukan seperti itu. Rui, bagi mama dan papa, kami paling menyayangimu lebih dari apapun"


Shen Fengyin sekarang mengerti alasan putranya bersikap buruk pada Jiao.


Tok tok tok


"Masuk"


"Nyonya muda, nyonya Li dan putrinya datang mengunjungi anda"


"Antar mereka ke kamarku"


"Baiklah, Nyonya muda"


Li Huan Rui merasa kesal ketika tahu bahwa gadis itu datang. Li Huan Rui hanya menatap tajam ke arah Jiao ketika gadis itu masuk.


"Bibi Yin, bagaimana keadaanmu"


'Berhenti bersikap pura-pura perhatian pada mama. Aku tahu kau ingin menarik perhatian mamaku. Dasar gadis licik'


"Kondisi bibi lebih baik dari sebelumnya"


"Mama, aku harus kembali ke kamarku. Aku harus mempersiapkan diri untuk tahun ajaran baru"


Li Huan Rui sebenarnya mengatakan itu hanya sebagai alasan saja.


"Rui, jika kau bekajar, kau bisa mengahari Jiao, kalian bisa..."


"Aku hanya ingin belajar sendiri"


Li Huan Rui meninggalkan ruangan.


***


Li Huan Rui merasakan seseorang mengikutinya. Dia tidak berada di tamannya tapi di taman belakang rumahnya.


"Berhenti mengikuti, gadis pencuri"


Jiao keluar dari persembunyian nya.


"Untuk apa kau mengikutiku? Jika kau berusaha mendekatiku karena berharap aku bisa menjadi saudaramu maka kau melakukan hal yang sia-sia"


"Kau memang menggunakan nama keluarga Li tapi kau hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau hanyalah gadis rendahan dan gadis pencuri"


Li Huan Rui mengucapkannya dengan tajam. Jiao mengigit bibrnya mendengar hinaan pria yang berharga untuknya. Sepertinya, kenencian pangerannya begutu besar padanya, apa karena dia teelahir bukan dalam lingkungan keluarga kaya sehingga pangerannya membencinya sebanyak itu.


"Li .... Maksudku Tuan muda, inu untukmu"


"Apa kau pikir aku mau menerima pemberianmu?"


Li Huan Rui mengabaikan Jiao yang mengulurkan sebuah kotak padanya.


"Ini...saya harap kau mau menerima ini sebagai pengganti jam tangan yang telah kau berikan"


"Jam tangan?"


Li Huan Rui mengepalkan tangannya. Dia teringat bahwa dia telah menjadi bodoh karena memberikan jam tangannya yang berharga dan menolong gadis itu.


"Jam tangan itu tidak akan tergantikan. Seberapa mahalpun jam tangan yang kau berikan tidak akan sebanding dengan jam tangan itu"


"Jam tangan itu hadiah ulang tahun dari ibuku. Kau membuat ku kehilangan jam tangan itu untuk membantumu tapi apa balasanmu padaku, kau merebut kasih sayang orang tuaku padamu"


"Tuan muda"


"Kau tahu, aku menyesal telah menyelamatkanmu. Seandainya aku tidak menyelamatkanmu mungkin aku tidak akan bertemu denganmu dan terikat denganmu"


"Jangan ikuti aku ataupun berusaha untuk terlibat denganku"


Li Huan Rui lalu meninggalkan Jiso yang hanya diam menandang punggung Li Huan Rui yang semakin menjauh darinya. Jiao selalu merasa bersyukur karena Li Huan Rui menyelamatkannya saat itu dan menyadarkannya dari perbuatan buruk dan dia tidak bermaksud untuk menganggu kehidupan pangerannya. Jiao menghela nafas, jika memang ketidak terlibatannya dengan Li Huan Rui akan membuatnya bahagia maka Jiao akan melakukannya

__ADS_1


__ADS_2