
n Rui pergi ke ruangan Shen Fengyin. Dia mengetuk dan membukanya perlahan.
"Apa kau yakin akan berhenti? Apa kau sudah memilih penggantimu sebagai pimpinan di cabang H city"
"Ya, tapi..."
"Permisi, CEO Shen"
Shen Fengyin dan Pria itu memandang ke arah Li Huan Rui.
"Li...presiden Li, ada apa?"
"Maaf, saya mendengar pembicaraan kalian tapi beri saya kesempatan untuk mengelola kantor cabang di H city"
"Presiden Li, kau adalah presiden. Kau masih memiliki pekerjaan penting di kantor pusat, bagaimana mungkin kau..."
"Saya mohon, mama"
"Kau bisa keluar dulu"
Pria itu mengangguk lalu keluar.
"Ada apa? Huanrui? Kenapa kau tiba-tiba ingin pindah ke perusahaan cabang?"
"Mama, bukankah jika aku dapat mengelola kantor cabang dengan baik maka akan membuktikan kualifikasiku bukan?"
Shen Fengyin memandang putranya cukup lama dan akhirnya mengangguk.
"Baiklah, aku serahkan kantor cabang padamu"
"Baik, CEO Shen"
"Aku akan pindahkan Helena juga ..."
"Tidak perlu, bukankah akan ada masalah jika keluarga Si jika Helena di kirim ke perusahaan cabang"
"Ya, kau benar"
"Persiakan dirimu untuk ke H city besok "
"Baiklah"
Li Huan Rui masih menunjukkan sikap tenang walau dalam hatinya dia berteriak penuh kegembiraan.
"Kau bisa kembali"
Li Huan Rui lalu berbalik dan meninggalkan ruangan. Berada di H city akan membuatnya lebih mudah untuk mendekati Li Jiao dan putrinya lagi.
***
"Silahkan kalian membentuk kelompok dengan tiga orang"
Para siswi berebut untuk satu kelompok dengan Li Yimin. Guru hou berusaha menenangkan murid-muridnya. Yimin menoleh ke arah Liu Yaoshan yang hanya duduk sendirian. Dia bertindak tak peduli tentang memcari kelompok. Yimin mendekatinya.
"Liu Yaoshan, bolehkah aku satu kelompok denganmu?"
"Nona pintar, cari saja teman kelompok yang lain"
Para siswi menyadari bahwa Yimin tidak ada. Mereka mengedarkan pandangan dan memandang Yimin yang meminta Liu Yaoshan untuk satu kelompok dengannya. Mereka merasa aneh melihat ketua kelas justru mendekati anak laki-laki nakal.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, pergilah ada banyak yang ingin satu kelompok denganmu"
Yimin tidak peduli dengan penulakannya. Dia langsung duduk di samping Liu Yaoshan.
"Kau..."
"Aku akan tetap memilihmu sebagai anggota kelompok"
Liu Yaoshan menghela nafas, dia tidak mengerti apa yang ada di pikirkan gadis ini.
"Terserah kau saja,"
Para siswi saling pandangan dan mencari kelompok lain, tidak ada yang mau menerima Liu Yaoshan sebagai bagian dari kelompok mereka. Jadi hanya ada mereka berdua sebagai kelompok. Saat guru memberikan soal untuk disiskusikan, Liu Yaoshan bersikap tidak peduli pada soal. Dia mengabaikan Yimin yang mengajaknya berdiskusi tentang soal.
"Terserah jawaban seperti apa yang kau inginkan"
Liu Yaoshan menanggapinya dengan dingin. Yimin merasa kesal tapi dia berusaha menenangkan diri karena kemarahan yang berlebihan dapat berpengaruh pada jantungnya. Dia tidak ingin di rawat di rumah sakit lagi.
"Baiklah"
Yimin menjawab dengan santai. Dia mulai memulis jawaban di kertas. Liu Yaoshan meliriknya, dia melihat bentuk tulisan tangan Yimin yang rapi dan indah.
"Jika jawabanku salah, kita berdua yang tangung jawab"
"Tentu"
Liu Yaoshan menanggapi dengan santai.
***
"Henry, kau yakin akan pindah ke kantor cabang"
"Ya"
"Tapi, kau presiden dan calon CEO kenapa kau justru mengelola kantor cabang"
"Helena, kantor cabang adalah bagian dari kantor pusat tentu aku harus menelolanya"
"Bolehkah aku ikut?"
"Kau masih ada pekerjaan disini bukan? Bekeejalah dengan baik di kantor pusat"
"Baiklah"
"Aku pergi"
Helena tahu alasan Li Huan Rui memilih untuk berada di H city tentu saja hal itu karena wanita itu. Kenapa Li Huan Rui harus melakukan hal sejauh ini untuk wanita itu. Dia ingin melarangnya pergi tapi dia tidak mau Li Huan Rui membencinya karena sikap posesif yang dia miliki.
***
"Yimin, kau belum tidur"
Bai Xiao masuk ke kamar Yimin dan memdekati Yimin yang bersansar di tempat tidur.
"Ada apa?"
Dia membelai rambut panjang putrinya dengan lembut.
"Mama, Yimin punya seorang teman. Namun dia tidak mau berteman dengan Yimin walaupun Yimin berusaha untuk bersikap baik padanya tapi dia justru bersikap dingin pada Yimin. Yimin kasihan padanya karena dia selalu sendirian Yimin ingin menjadi temannya tapi dia selalu menolak Yimin"
Bai Xiao mendengarkan ungkapan isi hati putrinya.
"Mama, apa menurut mama lebih baik Yimin tidak mempedulikannya saja?"
"Lebih baik kau berusaha lagi mendekatinya. Mungkin dia sebenarnya ingin berteman dengan Yimin tapi karena dia tidak memiliki teman sebelumnya, mungkin itu menbuatnya tidak mempercayaimu bahwa kau tulus padanya"
Yimin hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan ibunya. Dia senang memiliki mama yang mau mendengar curhatannya.
"Ini sudah malam, lebih baik Yimin tidur"
"Mama, Yimin ingin tidur dengan mam lagi, boleh ya?"
"Baiklah"
Bai Xiao naik ke tempat tidur Yimin. Gadis kecil itu segera memeluknya, merasakan kehangatan dan kenyamanan di pelukan ibunya.
__ADS_1
***
Perjalanan ke H city membutuhkan waktu yang panjang jika di tempuh dengan mobil. Shen Fengyin tidak memperbolehkan Li Huan Rui menyetir sendiri di malam hari dan menyediakan supir untuknya. Li Huan Rui bersandar di kursi mobil. Dia menghubungi seseorang.
"Hallo, apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku minta"
"..."
"Apa? Bahkan tidak ada informasi apapun? Bukankah kau hebat. Bagaimana bisa kau tidak berhasil mendapat informasi apapun"
"...."
"Baiklah"
Li Huan Rui merasa kesal, bagaimana mungkin detektif handal tidak berguna. Informasi tentang keluarga Li Yongfan tidak dapat diakses bahkam di B city ataupun H city. Li Huan Rui tidak menyangka bahwa pengaruh Li Yongfan begitu dalam. Namun Li Huan Rui tidak akan menyerah untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
***
Li Huan Rui hanya memiliki sedikit waktu untuk tidur sebelum akhirnya dia harus bekerja di kantor cabang. Mantan direktur memperkenalkannya sebagai pimpinan sementara di kantor cabang. Li Huan Rui masih menggunakan title presiden untuk membantu mengelola perusahaan cabang dan juga mengawasi kerja direktur baru. Para karyawan wanita merasa senang melihat presiden mereka yang tampan bisa mereka lihat setiap hari.
Li Huan Rui lalu segera berdiskusi dengan perwakilan departemen dan direktur baru tentang project di kantor cabang. Li Huan Rui membahas tentang omset kantor cabang H city yang lebih rendah dibandingkan cabang yang lain. Padahal produk di H city adalah yang lebih unggul. Li Huan Rui memberikan strategi tentang pemasaran dan promosi. Para ketua departemen awalnya meragukan Li Huan Rui karena pria itu masih muda dan mereka berpikir bahwa dia berada di posisinya sekarang hanya mengandalkan nama orang tuanya tapi siapa sangka bahwa dia bisa memberikan masukan yang bagus.
Dreet dreet
"Sebentar"
Li Huan Rui keluar dari ruang rapat.
"Hallo"
"..."
"Kau sudah menemukan alamatnya? Baguslah, aku akan mengirimkan bonus. Kirim padaku alamatnya"
"...."
Li Huan Rui lalu mematikan telpon.
***
Yimin duduk disamping Liu Yaoshan. Pria itu merasa kesal pada awalnya dan memintanya untuk pindah tapi Yimin tidak mau dan bersikeras untuk duduk disampingnya.
"Kenapa kau selalu mengangguku, sungguh gadis yang menyebalkan"
Dia ingin menarik gadis itu agar menjauh tapi gadis itu terlalu lemah, dia takut untuk menyakitinya. Yimin tidak mengatakan apapun dan sikapnya masih tenang.
Liu Yaoshan mengambil tasnya dan meminta seseorang bertukar tempat duduk dengannya. Anak itu takut pada Liu Yaoshan jadi dia hanya menurut. Liu Yaoshan duduk disamping anak perempuan. Anak perempuan itu dengan tangan gemetar mengambil tasnya dan pindah ke tempat lain. Sedangkan Yimin menuju ke tempat disamping Liu Yaoshan.
"Kau.."
"Jika kau ingin pindah lagi maka hal yang terjadi tadi akan berulang-ulang"
Liu Yaoshan merasa kesal. Dia akhirnya menyerah dan membiarkan gadis itu duduk di samping. Yimin tersenyum penuh kemenangan.
Yimin adalah orang yang serius. Dia memperhatikan pelajaran dengan baik, berbeda dengan Liu Yaoshan, dia tidak terlalu tertarik dengan pelajaran walaupun dia salah satu siswa dengan nilai 10 terbaik. Liu Yaoshan meletakkan kepala di meja dengan bosan, dia memandang Yimin yang memiliki wajah serius. Dia memandang wajah cantik wanita di sebelahnya, kulitnya yang putih, bulu matanya yang panjang.
Yimin mengerutkan keningnya lalu menoleh ke arah Lui Yaoshan. Mata cokelat tua milik Yimin bertemu dengan mata biru milik Liu Yaoshan. Yimin baru menyadari mata biru yang dingin terlihat indah.
"Liu Yaoshan, kau memiliki mata biru yang indah"
"Eh?"
Liu Yaoshan mengalihkan pandangannya setelah mendengar pujian dari Yimin tentang matanya.
"Apa kau malu? Liu Yaoshan lihat aku, aku ingin melihat wajah malumu"
"Diamlah"
"Liu Yaoshan"
Liu Yaoshan masih tidak berani memandang ke arah Yimin. Gadis kecil itu tertawa kecil.
"Liu Yaoshan sungguh imut"
"Diamlah"
***
Saat jam istirahat, Liu Yaoshan langsung pergi ke luar, Yimin mengikutinya pergi. Para gadis mulai bergosip tentang keanehan ketua kelas mereka.
"Apa yang terjadi dengan ketua kelas? Kenapa dia sering bersama anak nakal itu?"
"Mungkinkah ketua kelas menyukainya?"
"Tidak mungkin, ketua kelas kita yang cantik menyukai anak nakal itu"
"Tapi anak nakal itu cukup tampan mungkin ketua kelas terpesona dengan ketampannya?"
"Hei, dia tidak jauh lebih tampan dari kakak kelas Chen. Ketua kelas kita bahkan menolak kakak kelas chen"
"Ya, kau benar? Lalu kenapa ketua kelas kita menyukainya"
"Entahlah"
***
"Berhentilah mengikutiku? "
"Aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin bersama dengan temanku. Apa aku salah?"
"Aku bukan temanmu. Carilah teman yang lain"
"Kenapa kau tidak ingin berteman denganku?"
Yimin cemberut.
"Ketua kelas, kenapa kau ingin berteman denganku? Apa karena kau merasa kasihan padaku?"
Yimin terdiam. Liu Yaoshan tersenyum pahit.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu. Orang seperti ku tidak cocok untuk menerima rasa kasihan"
Hal ini tentu melukai harga diri Liu Yaoshan yang bangga.
"Jangan mengikuti ku lagi"
Liu Yaoshan meninggalkan Yimin.
"Aku suka bersamamu, Liu Yaoshan"
Yimin mengucapkan dengan keras. Semua siswa yang ada di koridor melihat ke arah Yimin.
"Oh, apa gadis itu sedang menyatakan cinta"
"Bukankah dia anak kelas 3?"
Yimin tidak mempedulikan bisikan dari para siswi yang kebanyakan adalah kakak kelas.
"Liu Yaoshan"
Pria itu masih diam. Yimin menepuk bahunya.
"Bisakah kita berteman? Aku ingin menjadi teman Liu Yaoshan"
Liu Yaoshan memandang gadis cantik itu. Dia dapat melihat ketulusan di mata cokelat tua itu. Ini pertama kalinya ada yang ingin berteman dengannya. Namun gadis polos dan lemah seperti dia tidak akan cocok berteman dengan seseorang seperti dia yang mungkin akan menyeretnya dalam bahaya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak suka bersamamu"
Liu Yaoshan lalu meninggalkan Yimin begitu saja.
"Wow, apa gadis cantik itu baru saja ditolak?"
"Sungguh menyedihkan"
Yimin tidak mempedulikan apa yang mereka katakan. Jantungnya terasa nyeri lagi. Dia berusaha memahannya dan kembali ke kelas untuk minum obatnya. Dia tahu dia tidak boleh memiliki perasaan berlebihan. Mungkin Yimin harus menyerah membujuknya.
***
Malam harinya,
Li Yongfan dan keluarganya makan malam bersamanya. Keluarga mereka makan malam dengan suasana yang hangat.
"Permisi, tuan Li. Maaf menganggu anda"
Seorang penjaga keamanan mendekati Li Yongfan.
"Ada apa?"
"Ada seseorang yang mengatakan ingin betemu dengan orang bernama Li Jiao"
"Siapa orang yang mencarinya?"
"Tuan muda tertua, tuan"
"Li Huan Rui?"
"Usir saja pria itu"
Li Zhiting mengucapkannya dengan nada dingin. Li Zhiting terlihat menahan kekesalannya. Dia tidak menyukai pria itu walau pria itu saudaranya tapi dia sudah menyakiti saudara perempuannya yang berharga.
"Aku akan menemuinya"
"Baik, tuan"
"Papa, untuk apa membuang waktu menemui pria seperti dia"
"Li Zhiting"
Li Zhiting terdiam. Li Yongfan memandang Bai Xiao yang masih makan dengan tenang. Yimin merasa heran, kenapa paman kecilnya terlihat marah pada orang yang bernama Li Huan Rui itu. Yimin tiba-tiba ingat bahwa dia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
***
Li Huan Rui menunggu di luar pagar, para petugas keamanan itu tidak membiarkannya masuk.
"Papa"
Penjaga keamanan itu membuka gerbang.
"Li Huan Rui, apa yang kau lakukan disini?"
"Papa, aku ingin bertemu Li Jiao dan putriku"
"Li Huan Rui, kau tahu bukan bahwa Li Jiao sudah pergi dan siapa anakmu? Untuk apa kau mencarinya disini"
"Papa, aku tidak bodoh. Aku tahu kematian Li Jiao hanyalah berita palsu. Papa, aku ingin menemui Li Jiao dan putriku"
"Sudah ku bilang, Li Jiao sudah pergi"
"Tidak, papa kenapa kau menyembunyikannya dariku. Aku tahu dia di dalam bukan"
Li Huan Rui memaksa masuk tapi dihalangi oleh petugas keamanan.
"Li Huan Rui, aku tidak ingin menyakitimu tapi jika kau berani melangkah, maka orang-orangku tidak akan segan menyakitimu"
Li Huan Rui menyeringai. Di masa lalu dia mungkin akan takut tapi tidak sekarang. Bahkan jikapun dia terluka dia tidak akan menyerah dan melarikan diri lagi.
"Paman Li Yongfan, aku tidak akan memyerah dengan ancamau itu"
Para petugas keamaman itu mulai menyerang Li Huan Rui. Mereka adalah orang-orang tangguh tapi Li Huan Rui dapat menahan pukulan mereka dan memyerang balik. Wajahnya sudah penuh luka tapi tidak sebanding dengan lawannya. Dia hampir saja memasuki rumah tapi Li Yongfan entah sejak kapan kini berdiri di depannya. Dia mengeluarkan pistol.
"Li Huanrui, aku salah telah meremehkanmu tapi aku tidak akan pernah mengijinkanmu menganganggu ketenangan keluargaku"
Li Yongfan menodongkan pistol.
"Apa papa yakin akan menembakku?"
"Jika kau berani maka aku tidak akan segan"
Li Yongfan menatapnya dengan tajam. Li Huan Rui menyadari bahwa Li Yongfan serius tapi dia tidak ingin menyerah, dia harus menemui Li Jiao dan putrinya.
"Bahkan jikapun aku mati, aku tidak akan menyerah"
"Jangan, kakek"
Seorang gadis kecil berlari dan memeluk kaki Li Huan Rui.
"Yimin"
Li Huan Rui terkejut melihat Yimin yang berlari ke arahnya.
"Jangan sakiti papa"
"Li Yimin, kakek minta kau untuk menjauh darinya"
"Tidak, kakek. Jangan lukai papa"
Yimin mulai menangis, dia tidak ingin pria baik yang memberikan pelukan hangat padanya terluka.
"Li Yimin"
Bai Xiao tidak punya pilihan lain selain menunjukkan diri.
"Li Jiao"
"Yimin, ayo kita masuk"
"Tidak mama, Yimin ingin melindungi papa wu wu"
"Sudah berapa kali mama bilang, jangan memanggilnya papa"
Yimin semakin mempererat kaki Li Huan Rui. Dia masih terus menangis dan tiba-tiba dadanya sakit. Li Yimin melepaskan tangannya dan merintih kesakitan.
"Yimin, ada apa?"
Li Huan Rui bejongkok.
"Sakit"
Semua orang ikut khawatir melihat Yimin yang kesakitan. Li Huan Rui segera mengendong Yimin.
"Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit"
Li Huan Rui segera memasukkan Yimin kedalam mobil.
"Li Jiao ikutlah denganku"
Bai Xiao dengan cepat masuk ke bangku belakang. Dia menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Yimin.
"Sayang, bertahanlah"
__ADS_1
Keluarga Li Yongfan yang lain mengikuti mobil mereka dari belakang.