
"Hanya segini?" pria bertubuh tinggi itu memandang tajam kearah seorang gadis kecil.
"Maaf, papa"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu jika kau tidak bisa memenuhi tanggung jawabmu untuk memberikanku uang"
"Kenapa kau tidak mencuri saja seperti sebelumnya,kau bisa memberiku banyak uang lagi"
"Tidak, aku tidak akan mencuri lagi"
"Kau..jangan berlagak menjadi anak baik"
Dia mendorong anak itu dengan kasar hingga sesuatu terjatuh dari kantong. Bai Yuchen melihatnya dengan mata bersinar melihat sebuah jam tangan mahal.
Gadis kecil itu-Jiao segera mengambilnya dan mengenggamnya dengan kedua tangan kecilnya.
"Kau punya barang mahal ternyata. Cepat, berikan padaku. Aku akan menjualnya"
"Tidak"
"Kau berani melawanku? Cepat berikan padaku"
Gadis kecil itu mengenggam erat jam tangan itu. Jam tangan itu milik pangerannya. Dia tidak ingin berpisah dari jam tangan itu.
"Tidak"
Bai Yuchen marah, dia mengambil ikat pinggang dan memukulnya lebih keras. Jiao masih berusaha mempertahankan jam di tangannya. Tidak peduli seberapa sakit punggung nya, Jiao berusaha menahannya.
"Kau masih keras kepala? Haruskah aku memotong tangan mu itu?"
Jiao mengigit bibirnya berusaha untuk menahan air mata dan rasa takutnya. Bai Yuchen pergi lalu tidak lama kemudian dia datang membawa pisau. Dia harus mendapatkan jam itu untuk membayar hutangnya. Dia tidak segan untuk membunuh anak yang tidak berguna ini, lagipula dia merawatnya agar Mo An An kembali padanya tapi dia tidak akan pernah kembali padanya.
Pisau tajam itu mengores tangannya.
"Ah"
Rintihan keluar dari bibir gadis kecil. Pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar. Mo An An terkejut melihat seorang gadis kecil tergeletak tak berdaya. Dia melihat pisau yang digenggam Bai Yuchen telah ternoda warna merah darah. Rasa sakit memenuhi hati Mo An An.
"An, kau kembali"
Senyum cerah terukir di bibir Bai Yuchen. Dia mendekat ke arah Mo An An.
"Tangkap dia"
Mo An An memperintahkan tiga orang dibelakangnya. Bai Yuchen menjadi pucat, apa wanita itu memanggil polisi. Bai Yuchen mundur dan menarik gadis kecil.
"Jangan mendekat. Aku tidak segan untuk membunuhnya"
"Bai Yuchen, apa kau gila. Dia putrimu"
"Aku tidak peduli. An, kembalilah padaku maka aku akan melepaskannya"
"Tidak"
"Begitu, jadi kau menolakku. Tidak ada gunanya gadis kecil yang tidak berguna ini hidup"
Bai Yuchen menusuk perut gadis kecil itu. Mata gadis kecil itu melebar.
"Papa"
Gadis itu perlahan kehilangan kesadaran, air mata perlahan jatuh di pipinya. Dia tidak pernah menangis lagi tapi kali ini air mata untuk pertama kalinya jatuh.
Bai Yuchen tiba-tiba menjadi kaku mendengar panggilan papa dengan nada sendu dan juga air mata untuk pertama kali dilihatnya setelah sekian lama.
Polisi itu segera mendekatinya dan memborgol tangannya. Pandangannya masih kosong.
"Tuan Bai, anda ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan"
Mo An An segera mendekati putrinya.
"Bai Yuchen,aku tidak menyangka ada ayah sekejam dirimu yang membunuh darah dagingnya sendiri"
Mo An An segera menggendong putrinya. Dia tidak peduli dengan pakaiannya yang berlumuran darah. Dia segera memasukkan putrinya dalam mobil dan melaju mobilnya dengan kencang.
"Sayang, bertahanlah. Mama mohon padamu"
Dia tidak ingin kehilangan putrinya. Di masa lalu dia salah karena telah meninggalkan putrinya tapi dia tidak ingin kehilangannya lagi.
"Nyonya Li, anda harus tenang. Tolong tetap jaga keselamatan"
"Bagaimana aku bisa tenang jika putriku terluka parah seperti ini"
Mobil Mo An An berhenti di depan rumah sakit. Dia keluar dan meminta petugas untuk menangani putrinya.
Wanita yang bertugas menjadi mata-mata, kini menggendong gadis kecil. Gadis ini bukan putrinya tapi dia ikut sedih dengan keadaannya. Dia dapat mengerti kenapa clientnya begitu cemas.
***
Mo An An terdiam di kursinya. Air mata tidak lagi terbendung melihat ruang operasi.
Putrinya masih kecil. Dia masih berusia 6 tahun. Kenapa dia harus mengalami hal kejam ini. Mungkinkah ini karena dia di takdirkan menjadi putri dari wanita sepertinya yang bahkan tidak pantas menjadi seorang ibu. Dia telah gagal melindungi putrinya.
Mo An An berdua dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya, dia harap putrinya bisa di selamatkan.
Dia merasa waktu begitu lama, hingga akhirnya seorang dokter keluar. Mo An An mendekatinya dan menanyakan keadaan putrinya.
"Lukanya tidak terlalu dalam tapi kondisinya saat ini masih kritis. Anak anda juga mengalami kekurangan gizi dan infeksi pada luka-lukanya yang memperparah kondisi anak anda"
"Tolong selamarkan putriku. Aku akan memberi apapun"
"kami akan melakukan sebaik mungkin, tapi kita hanya bisa menunggu anak ibu melewati masa kritisnya"
***
Mo An An mengenggam tangan putrinya setelah dia di pindahkan.
"Maafkan ibu, sayang"
__ADS_1
Hatinya benar-benar hancur melihat putri nya berada diantara hidup dan mati. Mo An An mengenggam tangan putrinya.
Kenapa putrinya harus menanggung semua ini. Dialah yang berdosa. Dia telah mengabaikan keluarga untuk mengejar cintanya. Dialah yang pantas di hukum bukan putrinya. Jika dia bisa, lebih baik dia yang menanggung penderitaan putrinya.
"Jiao, maafkan mama. Mama tidak bisa menjagamu"
Kata maaf terus menerus terucap, dia tahu kata maafpun tidak akan sebanding dengan penderitaan putrinya. Andai saja saat itu dia masih bisa berpikir lebih baik dan membawa putrinya menjauh dari psikopat seperti Bai Yuchen, mungkin putrinya tidak akan mengalami hal seperti ini.
"Jiao, tolong bertahanlah. Mam tidak akan membiarkanmu mengalami penderitaan lagi. Mama akan menjagamu. Mama janji hiks"
Mo An An mulai menangis. Dia terus menangis bahkan tidak menghiraukan ponselnya yang terus berdering.
***
Li Yongfan merasa kesal karena Mo An An tidak menjawab telponnya. Hari sudah larut, tapi kemana perginya wanita itu.
Orang-orang yang dia minta untuk mengawasinya justru kehilangan jejakny. Dia merasa kesal, pikiran buruk mulai menghantuinya. Hubungannya dan Mo An An semakin lama semakin merenggang karena Mo An An terus saja berdebat tentang anak itu.
'Mungkinkah,dia mencari anak itu dan kembali pada Bai Yuchen "
Li Yongfan ingat pertengkarannya dengan Mo An An hari ini karena Wanita itu bersikeras untuk membawa anak itu kembali dan Li Yongfan dengan marah membiarkan dan memintanya untuk kembali pada mantan suaminya saja. Mungkinkah Mo An An benar-benar kembali pada keluarganya.
"Tidak, itu tidak mungkin"
Li Yongfan segera menghubungi seseorang dan memintanya mencari tahu keberadaan Mo An An dan membawa Mo An An padanya.
***
Dua hari telah berlalu, Mo An An masih setia mengenggam tangan kecil putrinya. Mo An An menceritakan dongeng yang biasanya diceritakan ibunya saat dia kecil. Dia tidak bisa melakukannya sebelumnya.
"Putri kecilku, ibu janji akan membacakan dongeng pengatar tidur. Ibu akan memperlakukanmu dengan baik"
Mo An An terlalu fokus pada putrinya hingga dia tidak menyadari seseorang membuka pintu. Shen Fengyin memandang sahabatnya itu.
Mo An An terlihat berbeda, dia biasanya selalu tampil modis dan elegan tapi saat ini rambut wanita itu dibiarkan diikat apa adanya, make up nya telah luntur dan lingkar hitam berada di bawah matanya dan mata yang selalu bersinar cerah kini terlihat sendu.
Shen Fengyin mengalihkan pandangan pada gadis kecil yang terbaring. Dia dapat mengerti perasaan Mo An An karena Shen Fengyin juga mengalami hal yang sama ketika Li Huan Rui mengalami kecelakaan.
Shen Fengyin mendorong kursi rodanya, dia memandang sayang dengan tatapan khawatir.
"An"
"Fengyin,bagaimana kau bisa tahu aku disini"
"Ditektif Hua yang memberitahuku"
Mo An An hanya mengangguk lalu kembali fokus memandang putrinya. Shen Fengyin mengulurkan sebuah tas pada Mo An An.
"Ganti pakaianmu, dressmu sudah kotor"
Dia melihat nona merah di dress Mo An An, ditektif Hua sudah memberi tahunya dan dia juga yang menyarankannya untuk membawa pakaian ganti untuk Mo An An.
"Aku tidak ingin meninggalkan putriku"
"Aku tahu perasaanmu, tapi lihat penampilanmu sekarang.putrimu akan jatuh pingsan jika dia bangun dan melihat penampilan burukmu"
"Aku akan menjaga putrimu"
Shen Fengyin memandang gadis kecil itu.Ditektif Hua yang dia minta untuk membantu Mo An An telah menceritakan padanya. Dia tidak menyangka gadis kecil ini akan begitu menderita.
Di masa lalu, dia merasa dialah seseorang yang paling menderita karena diperlakukan tidak adil tapi dia masih memiliki kakeknya yang membelanya jikapun orang tuanya melukainya kakeknya akan membelanya tapi gadis kecil ini tidak memiliki orang yang dapat melindunginya. Shen Fengyin yang biasanya berhati es merasa simpati dengan gadis itu. Apalagi gadis itu sangat mirip dengan Mo An An. Namun anak itu begitu kurus.
Mo An An masuk ke ruangan. Walaupun penampilannya lebih baik tapi wajahnya masih lesu.
Dia kembali duduk dan mengenggam tangan putrinya lagi.
"Kakak Fan, mencarimu. Dia menghubungiku dan terus bertanya keberadaanmu"
"Apa kau memberi tahunya?"
"Tidak"
Dia tahu masalah yang dihadapi Li Yongfan dan Mo An An khususnya tentang anak ini.
"Baguslah"
"Tapi, An. Kakak Fan terdengar putus asa saat menanyakan keberadaanmu. Tidakkah lebih baik kau pulang sebentar"
"Jika aku kembali, dia tidak akan membiarkanku menemui putriku dan juga jika dia tahu aku sudah menemukan putriku maka keadaan putriku juga akan dalam bahaya lagi. Aku tidak bisa bertemu dengannya lagi"
Mo An An berencana untuk membawa putrinya pergi jauh ketika putrinya sudah membaik.
"Apa kau berniat meninggalkan Li Yongfan. Apa kau sanggup melakukannya?"
Mo An An terdiam. Li Yongfan adalah pria yang sangat dicintainya, dialah tujuan dalam hidupnya tapi dia tidak ingin berpisah lagi dengan putrinya hanya karena masalah yang sama. Apalagi putrinya saat ini hanya memilikinya.
Pintu tiba-tiba terbuka.
"Permisi, Ny. Li"
"Kalian"
Mo An An mengenali dua pria itu sebagai anak buah Li Yongfan.
"Kami diperintahkan untuk membawa anda kembali"
"Tidak"
"Nyonya muda Li, jangan membuat kami bersikap kasar"
"Aku tidak akan pergi dari sini"
Kedua pria itu menarik paksa tangan Mo An An. Tapi satu tangannya masih mengenggam tangan putrinya.
"Apa yang kalian lakukan, jangan memaksa Mo An An"
"CEO Shen, anda tidak berhak ikut campur"
__ADS_1
Namun Shen Fengyin tidak bisa diam saja melihat kedua pria itu bersikap kasar.
Shen Fengyin menarik tangan pria itu dari Mo An An tapi dia justru di dorong dan membuatnya terjatuh.
Mo An An berteriak kesal. Dia masih berusaha mempertahankan genggamannya pada putrinya. Dia tidak ingin terpisah dari putrinya. Tangan kecil itu bergerak dan mengenggam tangan Mo An An.
"Mama"
Suaranya begitu lemah. Mo An An tersenyum melihat putrinya sudah sadar. Hal itu menberinya kekuatan untuk mendorong para pria itu hingga terjatuh.
"Apa yang terjadi?"
Li YongSheng yang mendengar keributan segera masuk.
"Suamiku, mereka mendorongku dan bersikap kasar padaku"
Shen Fengyin mengucapkan dengan nada manja. Li YongSheng menatap tajam mereka berdua. Li Yongfan membantu Shen Fengyin bangun.
Li YongSheng lalu mendekati mereka berdua dan meraih tangan mereka berdua dan memplintirnya.
"Tuan muda kedua, kami tidak berniat menyakiti istri anda. Kami hanya di tugaskan oleh direktur Li untuk meminta Ny. Li kembali tapi istri anda ikut jampur jadi..."
"Kau mendorong nya begitu? Apapun alasannya aku tidak akan membiarkan orang menyakiti istriku. Bilang pada kakakku, jika dia ingin wanita kembali padanya tidak perlu dengan bersikap kasar"
Li YongSheng menarik mereka berdua dan membawanya pergi. Mo An An memeluk putri nya.
"Mama, apa kau baik-baik saja?"
Gadis kecil itu khawatir. Mo An An mengangguk.
"Mama, jangan tinggalkan aku"
"Mama akan tetap bersama Jiao"
Shen Fengyin memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu. Mo An An membelai lembut rambut gadis kecil itu.
Mo An An melepas pelukan putrinya lalu memperkenalkan Shen Fengyin dan Li Yongsheng pada Mo An An.
"Jiao, ini sahabat mama, namanya Shen Fengyin "
"Hallo, gadis kecil. Kau bisa memanggilku bibi Yin"
Li YongSheng tersenyum memandang istrinya yang tiba-tiba menjadi lembut.
"Pangeran"
Jiao memandang ke arah Li YongSheng. Pria itu begitu mirip dengan pangerannya.
Mo An An dan Shen Fengyin menoleh ke arah Li YongSheng. Li YongSheng juga bingung dengan panggilan tiba-tiba itu saat gadis kecil itu memandangnya.
"Xiao Jiao, apa kau mengenal suami bibi Yin?"
Gadis kecil itu memandang pria dewasa di samping seorang wanita cantik yang dia kenali sebagai bibi Yin. Gadis kecil itu mengeleng.
"Tidak, tapi paman sangat tampan"
"Terima kasih, gadis kecil. Kau juga cantik"
Li YongSheng mengusap lembut ranbut Jiao.
"Tapi jangan memanggil paman seperti itu. Kau bisa memanggil dengan sebutan paman Sheng, ok?"
Gadis kecil itu mengangguk. Jiao lalu memandang kearah Shen Fengyin. Mata Wanita itu mirip dengan pangeran kecilnya, mata cokelat dingin yang misterius.
"Bibi Yin juga cantik"
"Terima kasih, gadis kecil tapi kau lebih cantik dariku seperti ibumu"
Shen Fengyin tersenyum. Mo An An menghela nafas mendengar putrinya yang bermulut manis.
***
Shen Fengyin dan Li YongSheng kembali ke rumah, selama perjalanan hanya ada suara musik.
"Sangat disayangkan gadis kecil yang manis di perlalukan dengan buruk"
Li YongSheng memecah keheningan. Shen Fengyin sempat memberi tahunya tentang apa yang terjadi.
"Ya"
"Tapi aku heran kenapa seorang ayah bisa memperlakukan putri kandungnya yang cantik dengan begitu kejam"
"Kau tahu, suamiku. Aku merasa bersyukur karena kau merawat Li Huan Rui dengan baik saat aku pergi. Aku bersyukur karena Rui memiliki ayah yang menyayanginya"
"Aku bahagia karena aku menikah denganmu"
Li YongSheng tersenyum.
"Aku juga beruntung memilikimu yang merawat putraku saat aku tidak bersama kalian"
Mereka berdua lalu saling terdiam.
"Suamiku, apa kau menginginkan anak perempuan?"
"Kenapa tiba-tiba menanyakannya?"
"Aku hanya ingin tahu. Kau terlihat begitu semangat dengan xiao jiao"
"Aku memang menginginkan anak perempuan saat melihat xiao jiao tapi memiliki Rui saja sudah cukup untuk ku"
Li YongSheng tahu keadaan Shen Fengyin, kandungan wanita itu terlalu lemah. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita yang dicintainya.
"Lagipula, dimasa depan kita akan memiliki anak perempuan juga saat Li Huan Rui menikah"
Li YongSheng menunjukkan senyumannya.
A/N : awalnya aku ingin membuat Chapter special Shen Fengyin Li YongSheng tapi aku tidak dapat ide jadi aku akan tetap masukin part Shen Fengyin Li YongSheng dalam cerita
__ADS_1
bagaimana pendapat para pembaca tentang cerita ini?
dan juga terima kasih sudah mengikuti cerita ini