
Bai Xiao dan Yimin sudah kembali ke H city. Li Huan Rui menetap di B city. Dia jarang kembali ke B city bahkan saat weekend. Sejak Li Huan Rui menggantikan Shen Fengyin di posisi CEO, pekerjaan Li Huan Rui menjadi lebih banyak.
"Mama, apa papa tidak akan pulang lagi weekend ini"
"Ya, sepertinya papamu sangat sibuk"
"Mama, bagaimana kalau kita tinggal di B city"
"Bukankah Yimin tidak ingin meninggalkan teman-temanmu"
"Benar, tapi Yimin juga tidak ingin papa sendirian dan juga siapa yang akan mengingatkan papa untuk makan atau beristirahat. Yimin tidak apa-apa jika harus berpisah dengan teman-teman yang lain"
"Baiklah,jika itu hal yang diinginkan Yimin. Mama akan mengurus kepindahanmu ke B city"
Yimin mengangguk.
***
"Ketua kelas, apa kau yakin akan pindah ke B city?"
"Ya"
"Kenapa? Apa ketua kelas tidak nyaman bersama kami"
"Bukan seperti itu. Kalian adalaj teman-teman yang baik tapi papaku berada di B city jadi aku akan tinggal bersamanya"
"Ketua kelas, apa kau yakin akan meninggalkan Liu Yaoshan?" Seorang siswi berbisik di telinga Yimin.
Yimin memandang ke arah Liu Yaoshan yang meletakkan kepalanya di meja. Walaupun para siswi yang lain berusaha mendekati Liu Yaoshan tapi hanya Yiminlah yang bisa dekat dengannya. Hal yang berat baginya meninggalkan tempat ini adalah Liu Yaoshan, karena hanya dialah satu-satunya teman yang dimiliki Liu Yaoshan.
***
"Liu Yaoshan, bisakah kita bicara berdua"
Saat ini hanya ada Liu Yaoshan dan Yimin yang berada di kelas.
"Aku tahu apa yang ingin kau bicarakan. Aku sudah mendengar apa yang kau katakan tadi di kelas"
Liu Yaoshan mengambil tasnya.
"Tidak perlu pedulikan aku. Kau bisa mencari teman lain di B city"
Liu Yaoshan hendak pergi tapi Yimin menahannya.
"Bagaimana mungkin aku tidak peduli padamu. Kau adalah sahabatku. Liu Yaoshan, walau aku menemukan teman baru di B city tapi kau tetaplah sahabat baikku"
Liu Yaoshan menepis tangannya.
"Kau mungkin bisa mengatakan itu sekarang tapi setelah berjalannya waktu kau juga akan mendapat sahabat baru lalu melupakanku"
"...dan juga aku tidak ingin hanya sekedar menjadi sahabat baik"
"Apa maksudmu?"
Liu Yaoshan tidak menjawab pertanyaan Yimin. Dia langsung melangkah pergi meninggalkan kelas. Yimin mengikutinya.
"Liu Yaoshan, aku bicara padamu"
Liu Yaoshan mengabaikannya dan mempercepat langkahnya. Yimin merasa heran karena Liu Yaoshan tiba-tiba marah.
***
"Apa kau yakin akan tinggal di B city? "
"Ya, mama. Li Huan Rui saat ini sedang sibuk dan sebagai seorang Istri bukankah aku seharusnya mendampinginya?"
"Tapi bukankah B city bagimu..."
"Ya, tapi aku ingin melupakan semua masa lalu yang menyakitkan itu dan memulai hidup baruku"
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Lalu apa kau sudah berdiskusi dengan Li Huan Rui tentang hal ini "
"Kami akan memberi kejutan pada Li Huan Rui"
***
Helena bosan berada di rumah. Walaupun nanny Yu baik padanya tapi tetap saja Nanny Yu tidak bisa menemaninya mengobrol sepanjang waktu jadi Helena memilih untuk pergi ke rumah utama keluarga Li. Ny. Wang menyambutnya dengan senang hati. Saat ini mereka sedang melihat foto -foto Wang Yufeng saat kecil. Bayi pria itu terlihat menggemaskan, dia berpikir mungkin saja bayi di dalam kandungannya mirip dengannya. Ny. Wang lalu menunjukkan foto ulang tahun Wang Yufeng, terdapat seorang gadis kecil di sampingnya. Helena tidak asing dengan gadis di foto itu. Seseorang terpikirkan di kepalanya.
"Song Heijin"
Helena mengucapkannya dengan perlahan.
"Ya. Kau benar bahwa ini adalah Song Hejin"
"Bagaimana kau mengenalnya?"
"Kami pernah berada di sekolah yang sama. Nona Song Hejin sangat populer "
"Apa kau tahu bahwa Hejin dan Wang Yufeng pernah menjalin hubungan"
"Ya, di masa lalu mereka disebut pasangan yang ditakdirkan"
"Ya, awalnya mama juga berpikir begitu. Kami pernah mengatur perjodohan antara Wang Yufeng dan Song Heijin tapi Wang Yufeng bukanlah tipe yang mudah diatur, dia tidak suka melakukan hal yang tidak dia inginkan jadi kami tidak memaksanya"
Helena mengangguk.
"Anak itu lebih memilih bertunangan dengan Li Jiao namun sayangnya berakhir begitu saja"
Helena membuka album foto dan melihat foto-foto Li Jiao yang mendampingi Wang Yufeng. Pria itu sudah terlibat dengan dua wanita dalam waktu yang lama, masihkah Wang Yufeng memiliki perasaan pada mereka. Li Jiao tidak mungkin memiliki peluang tapi Song Heijin yang berusaha keras untuk mengejar Wang Yufeng. Dia mungkin bisa saja memiliki arti khusus untuk Wang Yufeng. Helena tidak tahu kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman ketika memikirkan hal itu. Ny. Wang memandang menantunya.
"Kedua wanita itu hanyalah masa lalu Yufeng. Sekarang kaulah satu-satunya yang dicintai Wang Yufeng. Anak itu sangat mencintaimu jika tidak, Yufeng tidak mungkin berbuat nekat untuk mendekati wanita yang memiliki tunangan"
Helena hanya tersenyum. Ny. Wang salah paham dengan hubungan mereka. Tidak ada cinta diantara mereka dan bukan Wang Yufeng yang merebutnya tapi dialah yang menawarkan dirinya untuknya. Namun Helena tidak mungkin menceritakan hal ini pada Ny. Wang.
"Nyonya, makanan sudah siap"
"Baiklah. Helena, ayo kita makan"
__ADS_1
"Mama, aku tidak nafsu makan. Setiap aku makan rasanya mual"
"Walaupun mual tapi kau harus tetap memakannya"
Helena mengangguk.
***
"Kakak Zhiting"
Xia Hua mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban. Xia Hua lalu masuk ke kamar Li Zhiting.
"Kakak Zhiting bisakah kau..."
Xia Hua belum selesai bicara ketika melihat Zhiting tertidur. Xia Hua mendekatinya. Dia memandang wajah tampan pria yang lebih tua itu. Dia mengulurkan tangannya tapi ketika melihat cincin yang meningkar dijarinya. Dia mengurungkan niatnya. Walaupun pertunangan Li Zhiting dan nona muda itu belum di resmikan tapi mereka memiliki cincin yang sama. Xia Hua tidak mengganggu Li Zhiting. Dia berbalik tapi tangannya di tarik oleh Li Zhiting. Hingga dia terjatuh di tempat tidur.
"Kakak Zhiting"
"Apa kau tahu, datang ke kamar seorang pria puber sama seperti datang ke kandang singa"
Walaupun Li Zhiting tidak akan melakukan apapun. Bagaimanapun gadis ini masih terlalu kecil.
"Maaf, kakak Zhiting. Aku hanya ingin meminta bantuanmu mengerjakan tugas"
Xia Hua hanya memandang Li Zhiting dengan tatapan polos. Dia tidak menyangka bahwa gadis kecil ini begitu mengemaskan. Wang Yufeng melepaskan tangannya, apa yang dia pikirkan tadi.
"Aku lelah, bisakah kau meminta orang lain mengajarimu?"
Li Zhiting bangun. Xia Hua mengangguk. Dia bangun lalu pergi ke luar. Dia tidak mencoba untuk memaksa Li Zhiting.
"Xia Hua, kenapa kau berada di kamar Zhiting?"
Xia Hua menunjukkan bukunya.
"Xia Hua minta kakak Zhiting mengajatiku, tapi kakak Zhiting lelah"
"Begitu, saudara perempuanmu sebentar lagi datang.Kau bisa meminta Yimin mengajarimu"
Xia Hua mengangguk.
***
Seorang anak laki-laki memegang pistol. Pistol itu terarah tepat di buah apel yang ada di atas kepala seseorang. Anak laki-laki itu-Liu Yaoshan kenarik pelatuk dan
Bank
Peluru itu tepat mengenai apel. Orang yang dibawahnya menghela nafas lega.
"Wow. Kau cukup hebat, sesuai harapan sebagai calon penerus yakuza "
Seorang pria menepuk bahu Liu Yaoshan tapi dia menepisnya. Liu Yaoshan melemparkan pistol sembarang lalu berjalan melewati papanya begitu saja. Liu Yaoshan memandang tangannya yang hampir saja membunuh seseorang jika saja peluru itu tidak tepat mengenai apel. Liu Yaoshan mengangkat tangannya, dia memandang tangannya, ada garis pembunuh di darahnya. Ponsel Liu Yaoshan bergetar. Dia mengambilnya dan mematikan ponselnya tanpa perlu melihat dia sudah tahu bahwa orang yang menelponnya adalah Li Yimin. Wanita itu akan pergi. Dia tidak ingin berharap dan lebih baik bagi Li Yimin untuk menjauh dari seseorang seperti dirinya.
***
"Kakak Yimin, apa yang kau pikirkan?"
Xia Hua merasa heran melihat Yimin yang biasanya ceria menjadi pendiam.
"Soal no 4, aku tidak mengerti"
"Dengarkan penjelasanku baik-baik"
Xia Hua mendengarnya dengan serius. Yimin mengajarinya dengan hati-hati berbeda dengan cara Li Zhiting mengajarinya.
"Kau mengerti?"
"Ya, kakak Yimin. Terima kasih"
"Kakak Yimin, apa kau akan pergi meninggalkan kota?"
"Ya"
"Kita tidak bisa bertemu lagi?"
"Aku akan datang saat liburan. Tenang saja"
"Xia Hua, apa kau masih menyukai paman kecil?"
Xia Hua mengangguk.
"Xia Hua, jangan berharap pada paman kecil. Dia sudah bertunangan"
"Aku tahu. Kakak Yimin tidak perlu khawatir padaku, aku tidak akan menganggu kakak Zhiting dan tunangannya. Tunangan kakak Zhiting sangat cantik dan baik "
Xia Hua tersenyum. Yimin merasa lega karena Xia Hua bisa menerima hal ini.
"Kakak Yimin, sekarang giliranmu untuk bercerita padaku kenapa kau terlihat resah, apa ini berhubungan dengan Liu Yaoshan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena kakak Yimin selalu bercerita tentang Liu Yaoshan"
"Jadi, apa yang terjadi?"
"Liu Yaoshan marah padaku saat tahu bahwa aku akan pindah. Walaupun aku sudah menjelaskan padanya bahwa aku tidak akan melupakannya sebagai sahabatku tapi dia tidak percaya"
"Mungkin dia terlalu sedih karena kakak Yimin akan meninggalkannya"
"Kakak mungkin harus lebih meyakinkannya"
"Ya, kau benar. Aku akan mencoba berbicara lagi dengan Liu Yaoshan"
***
Helena menghubungi Wang Yufeng dengan ragu-ragu. Namun panggilannya hanya dijawab oleh operator.
'Sepertinya dia sedang sibuk, mungkin tidak seharusnya aku menganggunya hanya karena hal sepele'
__ADS_1
Helena merembahkan tubuhnya dan tidur. Entah kenapa dia lebih suka tidur. Helena tidak tahu berapa lama dia tidur, dia terbangun ketika mendengar ponselnya berdering. Helena mengambil ponselnya.
"Hallo"
"Kau baru bangun tidur?"
Helena membuka matanya mendengar suara pria itu.
"Um"
"Istri, kenapa kau menelponku?"
"Tidak, tiba-tiba terpencet"
Suara tawa kecil terdengar dari pria itu.
"Alasan aneh macam apa itu? Istri, mengakulah padaku, kau merindukanku bukan?"
"Ya"
Helena tidak mengelak.
"Aku juga merindukanmu"
Wang Yufeng mengatakan dengan santai tapi Helena berdebar mendengarnya. Dia tahu bahwa Wang Yufeng sudah sering mengatakan kata-kata ini pada para wanita lain.
"Helena, kenapa diam? Kau pasti sedang tersipu malu ya? Aku ingin lihat betapa merah pipimu"
"Tidak, kau berpikir berlebihan"
Wang Yufeng tertawa namun tiba-tiba dia menghentikan tawanya dan mengubah nadanya dengan serius.
"Baguslah jika kau tidak terpengaruh dengan rayuanku. Helena, kau tidak bisa jatuh cinta padaku dan aku juga tidak bisa menjanjikan bahwa aku hanya akan mencintaimu jadi jangan berharap banyak padaku"
"Aku mengerti"
"Ada apa dengan nada kecewamu itu?"
"Tidak. Aku tidak kecewa"
"Sudah malam, lebih baik kau tidur"
"Ya. Selamat malam"
Wang Yufeng mematikan telponnya. Helena mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang perasaan Wang Yufeng pada Song Heijin. Dia seharusnya tidak ikut campur dalam hubugan percintaan Wang Yufeng.
***
"Liu Yaoshan, kau masih marah padaku?"
"Tidak, aku tidak marah padamu. Lebih baik kau menjauh dariku dan jangan mengangguku lagi"
"Liu Yaoshan"
Liu Yaoshan mengambil tasnya untuk pindah tempat duduk. Helena menahan tangannya. Dia mengenggam tangan Liu Yaoshan.
"Liu Yaoshan, jangan seperti ini. Kau adalah seseorang yang berharga bagiku jangan bersikap dingin padaku seperti ini. Aku tahu kau marah karena aku tiba-tiba pergi. Jika aku bisa maka aku lebih memilih tidak pergi tapi aku ingin tinggal bersama papaku. Aku janji padamu dengan sepenuh hatiku, aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku tidak akan pernah melupakan seseorang yang berharga bagiku. Jangan marah lagi ya"
Liu Yaoshan menoleh ke arah Yimin yang menatapnya dengan wajah sedih. Liu Yaoshan menghela nafas lalu kembali duduk. Yimin tersenyum. Dia lalu memeluk Liu Yaoshan.
"Kau tidak marah lagi kan?,"
"Aku sudah bilang bahwa aku tidak marah padamu"
***
"Jadi, kau akan pergi besok?"
Liu Yaoshan dan Li Yimin berada di taman belakang sekolah.
"Ya"
"Liu Yaoshan, bagaimana kalau kita mengambil foto bersama?"
"Mengambil foto bersama?"
"Iya"
Yimin mengambil ponselnya.
"Jika kita memiliki foto maka kita bisa melihat foto jika kita merindukan satu sama lain"
"Ayo kita berpose"
Yimin meminta Liu Yaoshan lebih dekat dengannya. Liu Yaoshan mendekat. Yimin mulai menekan tombol dan Liu Yaoshan tiba-tiba mencium pipinya. Yimin terkejut.
"Liu Yaoshan?"
Pria itu tersenyum, senyum yang belum pernah dia tunjukkan pada orang lain selain Yimin.
"Aku menyukaimu, Yimin"
"Suka?"
"Aku hanya memberi tahu padamu hal itu. Selamat tinggal"
Liu Yaoshan melangkah pergi meninggalkan Yimin. Gadis kecil itu masih belum dapat memahami tentang apa yang dikatakan dan dilakukan anak laki-laki itu.
Yimin tersadar dari keterkejutannya dengan pernyataan tiba-tiba itu. Yimin mengejar Liu Yaoshan tapi dia sudah tertinggal jauh. Yimin mengambil ponselnya dan mengirim foto itu pada Liu Yaoshan lalu dia mengirimkan pesan.
'Liu Yaoshan kau adalah sahabat terbaiku kau adalah teman berhargaku. Aku harap kita masih akan menjadi teman'
Yimin lalu menekan tombol send.
***
Liu Yaoshan melihat pesan yang dikirim oleh Yimin. Dia tersenyum pahit.
__ADS_1
"Sahabat baik? Teman berharga? "
Liu Yaoshan mungkin harus menerima hal itu. Lagipula dia tahu gadis seperti Yimin tidak akan mengerti apa yang dia maksud