Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Side Story 10 (Kehidupan di Sekolah)


__ADS_3

Li Huan Rui merasa kesal ketika dia harus duduk di bangku belakang bersama dengan gadis kecil yang dibencinya. Li Huan Rui tidak ingin membuat  mamanya marah lagi jadi dia terpaksa untuk menurut ketika ibunya memintanya berangkat diantar oleh papa Fan. Li Huan Rui hanya fokus memandang ke luar dan mengabaikan keberadaan gadis kecil itu. Dia merasa bahwa perjalanan ke sekolah begitu lama.  Jiao juga tidak banyak bicara, gadis kecil itu hanya membaca bukunya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri  tidak akan membuat pangerannya merasa kesal.


Mobil BMW milik Li Yongfan berhenti di sebuah sekolah mewah dengan gaya eropa.


"Sayang, hati ini hari pertamamu sekolah bersenang-senanglah dan lakukan yang terbaik"


"Ya, papa"


"Rui kecil, kau juga lakukam yang terbaik dan tolong jaga putriku"


Rui "...."


"Rui"


"Ya"


Li Huan Rui terpaksa menanggapinya. Jiao tidak tahu apa dia benar-benar setuju untuk menjaganya atau ini hanya tanggapan tanpa arti apapun.


Li Huan Rui dan Li Jiao turun dari mobil. Ketika mobil BMW itu melaju meninggalkan sekolah, Li Huan Rui memberi peringatan pada Jiao.


"Jangan pernah mencoba membuatku terlibat denganmu"


Jiao mengangguk dengan yakin. Li Huan Rui meninggalkan Jiao begitu saja. Gadis kecil itu memiliki wajah yang cantik kulit putih dan rambut hitam lebat. Jiao menarik perhatian, khususnya karena sebelumnya dia berada di dekat Li Huan Rui.


Jiao berjalan seorang diri menyusuri koridor sekolah. Beruntung, bahwa sebelumnya dia sudah berkeliling dan tahu tempat kepala sekolah. Jiao melewati dua orang anak laki-laki yang kedatangannya disambut dengan teriakan para gadis.


Anak laki-laki itu menoleh merasakan aroma yang memikat, dia melihat seorang gadis kecil melewatinya begitu saja bahkan dengan tatapan datar.


"Siapa gadis itu?"


Dia bertanya pada temannya.


"Entahlah, mungkin anak kelas 1. Apa kau menyukainya? Bukankah dia seorang anak kecil, tidak cocok untuk mu"


"Apa itu? Tentu saja hanya aku yang pantas menentukan cocok atau tidak denganku"


***


   Di kelas Li Huan Rui para gadis sedang bergosip, Helena juga ikut diantara mereka.


"Apa itu benar? Akan ada siswa baru yang masuk ke kelas kita bahkan tanpa melalui kelas dasar?"


Helena menanggapi, dia tidak percaya ada seseorang yang luar biasa.


"Itu benar"


"Gadis itu pasti sangat pintar dan aku yakin dia itu kutu buku dengan kacamata tebal "


"Ya, setidaknya walaupun dia pintar tapi aku yakin dia tidak cantik dan menarik perhatian pangeran Hunrui"


Li Huan Rui tidak tahu mengapa perasaannya merasa buruk. Dia berharap siswi pintar yang akan masuk ke kelas mereka bukan gadis rendahan itu.


Bel masuk berbunyi. Para siswa segera duduk ke tempat masing-masing.  Waki kelas mereka yang sudah mendampingi mereka sejak kelas dasar datang bersama dengan seorang gadis kecil.


Para anak laki-laki kecuali Li Huan Rui terpesona dengan kecantikan Jiao dan sikap tenang yang dia tunjukkan. Li Huan Rui merasa kesal ketika yang dia takutkan terjadi sedangkan Helena tersenyum senang melihat gadis yang di kenalnya.


"Henry, bukankah dia Jiao, saudaramu"


"Dia bukan saudaraku"


Li Huan Rui tidak suka jika Jiao disebut sebagai saudaranya. Ketua kelas meminta berdiri dan memberi salam pada guru. Li Huan Rui melakukannya dengan malas.


"Hallo, namaku Li Jiao"


Guru Gu meminta Jiao duduk di bangku yang kosong. Bangku itu secara kebetulan di belakang Helena dan Li Huan Rui.


"Jiao jiao, kita bertemu lagi"


"Ya. Nona Helena"


"Jangan memanggilku seperti itu. Kau cukup memanggilku dengan sebutan Helena"


Jiao mengangguk. Helena lalu kembali memandang ke depan. 


"Hei, gadis cantik. Aku Bao Yishen"


Pria gemuk itu mengajak Jiao berkenalan. Jiao hanya menanggapinya secara singkat, Jiao tidak terlalu menyukai berinteraksi dengan orang asing. Para anak laki-laki itu memandang kesal ketika melihat si gendut berusaha mendekati malaikat mereka. Sedangkan para gadis lain menatap Jiao dengan kesal karena dia memiliki wajah cantik bahkan dekat dengan Helena yang menjadi kunci untuk dekat dengan pangeran mereka.


  Guru itu mulai menerangkan. Jiao memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan mencatatnya. Jiao bukanlah orang yang jenius tapi dia orang yang bersungguh sungguh saat belajar. Guru Gu meminta Jiao untuk mengerjakan soal. Jiao maju dengan percaya diri dan menulis jawaban di papan tulis. Guru Gu menyatakan bahwa jawaban Jiao benar.


Jiao kembali ke tempat duduknya. Helena menoleh ke arah Jiao dan memuji betapa pintarnya dia. Guru Gu melihat Helena yang sedang mengobrol.


"Helena, bawa bukumu dan jawab pertanyaan di nomer 3"


Helena gelagapan. Dia bahkan belum mengerjakan satupun. Dia benci matematika karena itulah dia sedari tadi sibuk menggambar. Jiao memperhatikan tingkah Helena, dia tidak ingin melihat malaikatnya dalam masalah, Jiao memikirkan cara untuk memberikan jawaban pada Helena tapi Li Huan Rui lebih dulu membantunya. Dia menukar bukunya dan Helena.


Gadis itu maju dengan percaya diri. Dia menyalin jawaban ke papan tulis. Jiao memandang ke arah Li Huan Rui yang memperhatikan Helena saat menulis. Jiao mengepalkan tangan menahan kesedihan dan rasa marahnya. Seharusnya dia tahu bahwa perhatian Li Huan Rui hanya untuk Helena bukan dia.


***


  Saat jam istirahat, Jiao mengambil bekal yang disiapkan ibunya. Ada dua bekal di dalam tasnya, yang satu berwarna merah muda dan yang lain berwarna biru. Jiao teringat bahwa mamanya memintanya memberikan kotak bekal berwarna biru pada Li Huan Rui.  Jiao memandang Li Huan Rui yang mengobrol bersama Helena. Pria itu tidak akan mau menerima kotak makan yang dia berikan.


"Jiao, kau membawa bekal"


Bao bao yang sebangku dengan Jiao awalnya ingin mengajaknya ke kantin tapi ternyata teman sebangkunya sudah memiliki kotak makan.


"Seperti nya makanannya enak"


Bao bao melihat bekal di depan Jiao dengan tatapan berbinar.


"Apa kau mau?"


"Bolehkah?"


"Ya. Ambil saja"


Jiao memberi kan kotak bekal itu.


"Terima kasih"


Jiao membuka kotak bekal berwarna biru. Dia ragu-ragu ketika melihat nya karena isi kotak bekal itu berbeda.


"Wow, udang tepung. Jiao, apa kau menyukai udang tepung juga sama seperti Rui?"


Jiao terkejut melihat Helena yang memutar badan menghadap ke arahnya.


"Itu...aku alergi udang"


Jiao pernah makan udang sebelumnya dan seluruh tubuhnya menjadi berbintik merah dan dia juga mengalami sesak nafas. .


"Lalu, kenapa ada udang di bekalmu"


"Ini...Helena, apa kau mau? Kau bisa memakannya"


Jiao memberikan kotak makan itu dan sumpit.

__ADS_1


"Terima kasih. Henry, ini makanan kesukaanmu. Cobalah"


Helena mengulurkan sumpit. Li Huan Rui ingin menolak tapi dia tahu jika dia menolak Helena akan terus memaksanya. Li Huan Rui dengan enggan memasukkan udang ke dalam mulutnya, rasanya tidak asing. Dia jadi teringat bibi An sering membuat makanan kesukaannya. Li Huan Rui melihat kotak bekal yang dibawa Helena. Isi kotak makan itu semua kesukaannya.


"Jiao jiao , apa bekal ini sengaja dibuat untuk Rui?"


Helena memandang Jiao dengan tatapan curiga. Para gadis yang berada di keras mendengar apa yang dikatakan Helena mereka menjadi kesal karena gadis itu memang sengaja untuk mendekati dan merayu pangeran mereka dengan makanan. Sedangkan para pria cemburu karena malaikat mereka juga memperhatikan Li Huan Rui. Mereka merasa kesal karena setiap wanita meyukai Li Huan Rui.


   Li Huan Rui juga menoleh kearah Jiao yang membuat gadis itu terkejut saat mata gelap nya bertemu dengan mata cokelat Li Huan Rui.


"Ini...mamaku yang mensiapkannya. Ini memang untuk tu...Li Huan Rui"


"Bibi An menyiapkannya untukku?"


Li Huan Rui merasa senang setidaknya bibi An masih memikirkannya. Li Huan Rui langsung merebut kotak makan siang itu dari tangan Helena dan memakannya dengan lahap.


"Rui, bolehkah aku mencoba nya juga"


"Tidak, ini dibuat khusus untukku dari bibi An"


Para gadis itu semakin kesal karena berpikir bekal itu begitu special bagi Li Huan Rui karena Helena yang dekat dengannya tidak boleh memakannya.


"Apa mamamu dekat dengan Li Huan Rui?"


Bao bao penasaran karena melihat Li Huan Rui makan dengan lahap.


"Sepertinya begitu"


Jiao pernah melihat Li Huan Rui  dijemput oleh Mo An An beberapa kali sebelum Jiao bersama dengan mamanya. Namun Jiao tidak tahu sedekat apa Li Huan Rui dengan mamanya.


***


Saat pulang sekolah, hampir semua anak laki-laki di kelas kecuali Li Huan Rui mendekati Jiao. Mereka menanyakan rumah Jiao dan mengajaknya pulang bersama, Jiao ingin menolaknya tapi ragu-ragu. Para gadis yang melihat menyindir Li Jiao sebagai gadis penggoda.


Li Huan Rui juga melihat Jiao yang di kerumuni para siswa, namun Li Huan Rui hanya bersikap acuh. Berbeda dengan Helena yang menerobos kerumunan dan berdiri disisi Jiao.


"Jangan menganggu Jiao jiao. Kalian semua tidak memenuhi syarat untuk mendekati Jiao"


Helena menarik Jiao keluar dari kerumunan. Para anak laki-laki itu hendak mengutuk Helena namun ketika menyadari Li Huan Rui yang menatap tajam pada mereka, para anak laki-laki itu hanya bisa menelan ludah dan pergi.


Jiao menghela nafas lega karena bebas dari anak laki-laki itu.


"Terima kasih, Helena"


"Jiao, jangan takut untuk menolak jika kau memang tidak menyukainya, kau mengerti?"


"Ya, aku mengerti"


"Helena, ayo kita pulang"


"Jiao, apa kau mau pergi ke rumahku? Hari ini aku dan Henry akan mengerjakan tugas bersama"


Jiao memandang Rui yang tidak memandang ke arahnya.


"Maafkan aku, Helena, ayahku akan menjemputku"


"Begitu ya. Baiklah, aku duluan. Ayo Henry "


Helena mengenggam tangan Li Huan Rui dan menarik tangannya.


"Apa kau memperhatikannya? Apa menurumu mereka berkencan?"


Bao bao berdiri di dekat Jiao.


"Li Huanrui selalu memperlakukan Helena dengan berbeda.  Biasanya Rui tidak akan membiarkan seorang gadis manapun menyentuhnya tapi Helena bisa dengan bebas melakukannya. Sepertinya kau juga berteman dekat dengan Helena bukan? Jangan sampai kau menjadi tegila-gila pada Li Huan Rui dan menjadi bodoh serta menghancurkan pertemanmu dengan Helena"


"Baguslah. Kau tahu walau aku tidak setampan atau sepopuler Li Huan Rui tapi aku cukup imut. Kau bisa mulai bersamaku dan melupakan Li Huan Rui"


Jiao menoleh ke arah pria gemuk itu yang kini menunjukkan pose imutnya dengan mengelembungkan pipinya. Jiao secara perlahan tanpa sadar mencubit pipi tembemnya itu.


"Ya, bao bao memang imut"


Bao bao diam membeku ketika tangan kecil yang lembut menyentuh pipinya.


"Sampai jumpa Bao bao"


Dari kejauhan dua orang anak laki-laki  melihatnya.


"Sial, anak gemuk itu berani menggodanya. Awas saja, apa yang bisa aku lakukan "


***


Mobil BMW milik Li Yongfan sudah menunggu di depan gerbang. Jiao langsung masuk ke dalam mobil.


"Diamana Rui kecil?"


"Li Huanrui mengerjakan tugas bersama dengan Helena"


"Begitu ya. Bagaimana hari pertama sekolahmu? Apa kau kesulitan?"


"Tidak papa, sekolah sangat menyenangkan "


"Baguslah"


"Papa, bisakah kita makan hot pot lagi?"


"Tapi jika papa masih sibuk..."


"Tidak apa-apa. Jika Jiao ingin maka kita bisa pergi. Dimana kau ingin makan? Apa di tempat waktu itu?"


Jiao mengangguk.


"Baiklah, tapi jangan makan terlalu banyak jika tidak kau akan sakit perut"


"Iya, papa"


Li Yongfan melajukan mobilnya menuju ke restoran masakan cina yang tidak jauh dari sekolah.  Ketika mereka baru saja keluar dari mobil, seseorang memanggil Li Yongfan.


"Komandan Li"


Li Yongfan menoleh dan melihat ke arah tiga orang pria tinggi berhubuh gagah dan seorang wanita.


"Komandan Li, sudah lama tidak bertemu"


"Xia Yun, jangan memanggilku seperti itu. Aku bukan lagi di ketentaran"


"Bagi kami, kau tetaplah komandan"


"Apa yang kalian lakukan disini? Bukankah kalian seharusnya di ketentaraan?"


"Kami pensiun dari ketentaraan setelah komandan keluar. Kami tidak bisa menerima komandan lain hanya anda yang lebih baik jika saja Bai..."


"Sudahlah, tidak perlu membicakan hal di masa lalu. Kalian mau makan bukan? "


"Komandan, apa kau akan mentraktir kami?"

__ADS_1


"Tentu saja, komandan kau memang baik"


***


Teman -teman Li Yongfan dari ketentaraan tidak henti-hentinya menceritakan tentang kehidupan ketentaraan mereka pada putri kecil komandannya itu.


Jiao mendengarkan cerita mereka dengan serius sedangkan Li Yongfan sibuk menyuapi putrinya yang antusias dengan cerita teman-temannya.


"Ternyata komandan bisa bersikap menjadi ayah yang lembut dan penyayang. Sungguh suami idaman" satu-satunya wanita diantara teman Li Yongfan memberi komentar.


"Song yi, kau masih saja memandang komandan dengan mata berbinarmu itu. Hei, komandan sudah menikah dengan nyonya An"


"Ya...ya aku tahu"


"Bibi Song yi, kenapa bibi memilih menjadi tentara?"


"Itu karena aku ingin menjadi kuat dan melindungi semua orang"


"Hei...hei, bukankah kau masuk ketentaraan karena kau patah hati karena pacarmu memutuskanmu dan kau ingin terlihat keren walau sudah putus jadi kau melarikan diri dengan mendaftar akademi"


"Jangan katakan itu. Kau menghancurkan imej ku yang bangga di depan putri komandan"


Song yi dan Xia Yun berdebat.


"Sudahlah berhenti berdebat. Kalian terlalu saja berdebat"


Li Yongfan memberikan komentar. Mereka berdua berhenti berdebat dan menikmati makanan. Mereka lalu mulai mengobrol lagi tentang komandan mereka. Jiao mengagumi bagaimana papanya di ketentaraan.


"Paman, apa kau mengenal seseorang bernama Bai Yuchen"


Jiao tiba-tiba mengingat sesuatu. Dia pernah melihat foto papa kandungnya di ketentaraan. Teman-teman Li Yongfan saling memandang. Xia Yun hendak mengatakannya tapi Li Yongfan lebih dahulu memotongnya.


"Jiao jiao, papa harus kembali ke kantor"


"Baiklah"


Li Yongfan membayar makanan dan mengucapkannya selamat tinggal pada teman-temannya.


Di dalam mobil, Jiao merasa papanya betingkah aneh.


"Papa, seperti apa papa kandungku di ketentaraan?"


"Bisakah kau tidak membahas pria itu lagi dan memanggilnya papa"


"Tapi, papa, papaku kan..."


"Kau adalah putiku. Akulah papamu tidak perlu membahas pria itu lagi"


Li Yongfan selalu sensitif jika itu berhubungan dengan Bai Yuchen. Bukan hanya karena Bai Yuchen menjebaknya tapi dia merasa kesal karena putrinya masih mengingat pria itu yang sudah menberikan rasa sakit padanya.


"Maaf papa. Jiao sudah membuat papa marah "


Mendengar nada sedih putri membuat Li Yongfan merasa bersalah.


"Maafkan papa sayang. Papa akan mmenceritakan nya nanti"


***


Saat malam hari, Li Huan Rui baru saja pulang. Dia disambut oleh mamanya.


"Selamat datang, Huanrui"


"Mama, kau sudah pulang? Tidak biasanya kau pulang lebih awal"


"Mama ingin menemanimu makan malam, sudah lama sejak kita makan malam bersama"


"Apa Papa juga sudah pulang?"


"Ya, dia dikamar. Cepat ganti pakaian dan pergi ke ruang makan"


"Baiklah"


***


Ketika Li Huan Rui turun Shen Fengyin dan Li YongSheng sudah berada di ruang makan. Li Huan Rui dengan cepat duduk dan Mereka mulai makan.


"Apa papa yang memasak?"


Rasa makanannya berbeda dari biasanya dan Li Huan Rui hafal dengan rasa masakan papa.


"Ya. Rui bagaimana hari pertamamu di kelas 3?"


"Biasa saja"


"Oh ya. Mama dengar Jiao sekelas denganmu bukan?"


"Apa mama dan papa mengajakku makan malam hanya untuk membahas tentang gadis itu?"


Li Huan Rui sudah dapat mendebak tentang hal itu.


"Tidak, bukan seperti itu. Rui, sebentar lagi ulang tahunmu bukan? Kau ingin konsep seperti apa?"


"Apa mama ingin membuatkanku pesta ulang tahun?"


"Tentu saja. Mama akan menbuat pesta paling mewah untukmu"


"Kenapa tiba-tiba? Biasanya mama tidak pernah merayakan ulang tahunku?"


Di ulang tahun kemarin dia hanya merayakan dengan papanya dan juga di masa lalu ibunya juga tidak repot-repot datang dan hanya memberikan hadiah tapi kenapa tiba-tiba.


"Apa salahnya mama membuat pesta untuk ulang tahun putra kesayangan mama? Kau bisa memilih konsep yang kau inginkan dan mengundang setiap orang yang kau inginkan"


Shen Fengyin ingin menujukkan kasih sayang untuk putranya agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi diantara mereka.


"Bisakah aku tidak mengung gadis bernama Jiao ke pesta ulangtahunku?"


"Kau begitu membenci Jiao?"


"Aku sangat membencinya"


Shen Fengyin menghela nafas, dia tidak ingin berdebat dengan putranya lagi.


"Kau bisa melakukan apa yang kau inginkan tentang ulang tahunmu"


"Baiklah, aku setuju dengan mengadakan perayaan"


"Baguslah. Mama dan papa akan membantumu mempersiapkan pesta"


"Apa kalian tidak sibuk?"


"Kami akan menyempatkan waktu untuk putra kesayangannya kami"


Li Huan Rui tersenyum mendengar apa yang dikatakan papanya. Dia merasa bahagia karena mendapat kan perhatian dan kasih sayang mama dan papanya lagi.


"Terima kasih, papa mama"

__ADS_1


Li YongSheng tersenyum, dia merasa bahagia melihat senyum putranya lagi. Dia mengusap lembut rambut putranya dengan penuh kasih sayang


__ADS_2