Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Chapter 45 (Kemarahan Li Huan Rui)


__ADS_3

  Li YongSheng, Shen Fengyin dan Li Huan Rui makan malam bersama. Li Huan Rui menceritakan rencana malam natal Helena. Dia juga ingin keluarganya berkumpul bersama di malam natal.


"Maaf, Rui. Papa tidak bisa merayakan natal bersama kalian"


"Apa? Kenapa?"


"Papa harus melakukan perjalanan bisnis ke jepang"


"Apa kau tidak bisa menundanya?"


Shen Fengyin tidak ingin melihat putranya kecewa.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa"


Li Huan Rui merasa kesal. Dia menyudahi makannya dan langsung pergi ke kamarnya.


"Rui kecil"


Li YongSheng mengejar putra kesayangannya itu tapi Li Huan Rui justru menutup pintu dengan kencang dan mengusir Li YongSheng.


"Rui kecil, dengarkan papa dulu. Papa minta maaf karena tidak bisa merayakannya. Bagaimana jika papa memberi hadiah lebih awal"


"Tidak mau. Papa pergi saja. Rui tidak ingin bicara dengan papa"


Li YongSheng akhirnya turun ke bawah dengan lesu.


"Li Huan Rui memang sulit ditangani saat sedang merajuk, mungkin saja besok dia sudah lebih baik"


Shen Fengyin mencoba menghibur suaminya walaupun nada suaranya masih datar seperti biasanya tapi Li YongSheng dapat merasakan perhatian istrinya. Dia tersenyum ke arah Shen Fengyin.


"Aku harap begitu"


"Suamiku, apa tidak bisa meminta seseorang menggantikanmu untuk perjalanan bisnis?"


"Aku tidak yakin tapi paman memberiku tanggung jawab. Aku tidak mungkin melepaskan tangung jawab ini begitu saja. Walaupun aku juga ingin merayakan natal bersama kalian tapi aku tidak bisa"


"Aku mengerti"


***


Li Huan Rui seperti nya benar-benar kecewa dengan ayahnya. Bagaimana tidak, dia sudah menunggu lama saat-saat bisa merayakan natal bersama keluarganya. Namun ayahnya justru lebih mementingkan pekerjaannya dibanding dengan berkumpul bersama keluarganya.


  Li Huan Rui bahkan mengabaikan ayahnya walaupun ayahnya membujuknya dengan makanan manis tapi Li Huan Rui berusaha keras untuk tidak terpengaruh dan mengabaikan ayahnya. Bahkan ketika makan malam, Li Huan Rui juga masih mengabaikan Li YongSheng.


  Li YongSheng tidur dengan gelisah. Shen Fengyin dapat merasakan kegelisahan suaminya.


"Jika kau terus bergerak, aku tidak bisa tidur. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?"


Shen Fengyin masih menjaga harga dirinya. Dia tidak ingin menujukkan perhatian nya dengan terus terang.


   "Maafkan aku istriku"


Li YongSheng berbalik dan memandang ke arah Shen Fengyin yang juga menghadap ke arahnya.


"Aku hanya khawatir, Rui kecil akan membenciku"


"Dia tidak akan membencimu. Bagaimanapun Huanrui sangat menyayangi ayahnya apalagi kedekatan kalian begitu erat. Dia hanya merasa kecewa sesaat dan aku yakin dia akan segera kembali ke dirinya yang dulu"


Li YongSheng terdiam tapi wajahnya masih menunjukkan keraguan.


"Mungkin aku harus membatalkan perjalanan bisnis"


"Apa kau yakin? Bukankah perjalanan bisnis ini untuk menemui client penting dan juga bukankah kau ingin menunjukkan kemampuanmu pada CEO Lin?"


Li YongSheng sudah mengatakan padanya tentang semua hal yang berhubungan dengan Lin dan juga CEO Lin, kakek Li YongSheng yang masih meragukan kemampuannya.


"Suamiku, dalam bisnis memang harus ada yang dikorbankan bukan?"


Shen Fengyin mengerti tentang hal itu.


"Jangan terlalu berpikir serius tentang Li Huan Rui. Lebih baik kau tidur dan jangan terus bergerak. Jika kau tetap melakukannya maka tidurlah di luar"


Shen Fengyin lalu membalikkan badan dan menutup matanya. Li YongSheng terdiam memandang punggung istrinya. Dia tersenyum lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Suamiku"


"Kau tahu istriku, keluarga ku tidak akan pernah aku korbankan walaupun aku berhasil dalam bisnis tapi tidak berarti apapun jika aku harus mengorbankan keluargaku. Kau dan Li Huan Rui lebih penting daripada apapun"


Li YongSheng memeluk tubuh istrinya dengan erat. Kehangatan dan kenyamanan saat memeluk tubuh istrinya dan mencium aromanya dapat meredakan kegelisahannya.


Shen Fengyin membiarkan Li YongSheng memeluknya. Wanita itu perlahan memejamkan matanya. Dia merasa nyaman dan hangat berada di pelukan suaminya.


"Aku mencintaimu, istriku"


Shen Fengyin masih dapat mendengarnya. Dia ingin membalasnya tapi Shen Fengyin masih belum yakin dengan perasaannya pada Li YongSheng. Dia tidak mengatakan apapun dan menutup matanya, perlahan dia mulai tertidur.


***


  Li YongSheng menemui pamannya.


"Maafkan aku, presiden Lin. Saya tidak bisa melakukan perjalanan bisnis di malam natal"


"Aku mengerti. Kau pasti ingin berkumpul dengan istri dan putramu bukan? Dan juga kebetulan sekali client kita juga tidak bisa bertemu saat hari natal"


"A-Sheng, aku hanya percaya padamu untuk project-project penting. Setelah natal kau bisa berangkat"


"Aku mengerti"


***


Shen Fengyin datang menjemput Li Huan Rui. Pria kecil itu terkejut ketika melihat ibunya datang menjemputnya.


"Mama"


"Huanrui"


"Kenapa mama yang menjemputku?"


"Apa mama tidak boleh menjemput anak mama?"


"Tentu saja boleh,tapi mama jarang menjemputku"

__ADS_1


"Hari ini mama khusus menjemputmu untuk mengajakmu berbelanja dan kita juga akan menghias pohon natal bersama"


"Apa? Tapi percuma saja merayakan natal jika tanpa papa"


"Jadi Huanrui tidak ingin merayakan natal dengan mama?"


Shen Fengyin menunjukkan ekspresi sedih. Li Huan Rui dengan cepat berusaha menenangkan ibunya.


"Tidak. Bukan seperti itu. Rui juga ingin merayakan natal bersama mama"


"Bagus, ayo kita membeli hiasan natal"


Ini natal pertama mereka di B city jadi Shen Fengyin tidak memiliki banyak hiasan natal dan juga pohon natal.


***


Li Huan Rui dan Shen Fengyin memilih beberapa hiasan natal.


"Mama, apa mama sudah menyiapkan hadiah untukku?"


"Tentu saja. Mama sudah menyiapkannya kemarin"


"Kalau begitu Rui akan membeli hadiah untuk mama juga. Mama, bolehkah Rui meminjam uang? Rui tidak memiliki banyak uang"


"Huanrui, kau tidak perlu memberi hadiah natal untuk mama"


"Tidak. Rui ingin memberikan hadiah untuk mama juga "


"Baiklah terserah kau"


Shen Fengyin mengambil dompetnya, dia awalnya ingin memberikan black card tapi Shen Fengyin berpikir itu terlalu berlebihan jadi dia memberikan gold card pada putranya.


"Pakai kartu ini"


"Rui tidak bisa menggunakan kartu untuk membeli hadiah mama. Bukankah nanti ada pemberitahuan di ponsel mama tentang apa yang Rui beli. Ini tidak akan menjadi kejutan"


"Ini kartu milik papamu. Dia memberikan pada mama untuk membeli keperluan natal"


"Rui tidak ingin menggunakan uang papa"


"Kenapa? Apa kau masih marah dengannya?"


"Huanrui, anggap saja uang di kartu ini kompensasi dari ayahmu"


"Apa uang saja cukup? "


Li Huan Rui cemberut. Shen Fengyin menyepuk bahu Li Huan Rui.


"Huanrui, papamu pasti ingin bersama dengan kita merayakan natal tapi papamu memiliki tangung jawab. Kau mungkin tidak mengerti sekarang tapi orang dewasa memiliki tangung jawab yang berat dalam pekerjaannya jadi cobalah untuk mengerti papamu dan juga papamu memberikan kartu ini untuk keperluan natal juga karena merasa bersalah pada kita jadi hargailah niat papamu"


Li Huan Rui terdiam lalu mengangguk.


"Baiklah"


"Kalau begitu, Rui akan pergi mencari hadiah"


"Biarkan supir Zhang menemanimu"


Li Huan Rui segera pergi dari toko itu dan memasuki toko lain yang menjual tas. Li Huan Rui tidak memiliki ide lain sebagai hadiah untuk ibunya. Ibunya memiliki banyak tas tapi Li Huan Rui berharap ibunya akan menggunakan tas yang dibelinya.


Li Huan Rui disambut oleh seorang pelayan. Pelayan itu memberikan banyak pilihan tas. Li Huan Rui tidak begitu mengerti tentang kesukaan wanita.


"Bisakah memunjukkanku tas edisi terbatas?"


"Tentu saja"


Li Huan Rui memilih tas dengan warna pastel yang cocok untuk di padukan dengan apapun dan juga model tas yang mewah itu pasti cocok untuk ibunya.


Li Huan Rui menyerahkan kartu untuk membeli tas itu. Li Huan Rui tidak terlalu memikirkan harganya walaupun dia yakin harganya pasti lebih dari ribuan yuan.  Lagipula ini juga hukuman yang harus dibayar ayahnya.


Disisi lain, Li YongSheng memeriksa pemberitahuan dari kartunya. Dia terkejut ketika pemberitahuan terakhir , betapa banyak uangnya berkurang untuk sebuah tas, tapi ini hadiah yang dipilih putranya. Sebelumnya Shen Fengyin mengirimkannya pesan padanya bahwa Rui akan menggunakan kartunya untuk membelikannya hadiah. Namun Li YongSheng tidak menyangka putranya memilih hadiah yang mahal tapi Li YongSheng juga tidak merasa keberatan bagaimanapun juga istrinya harus mendapatkan hadiah yang terbaik dan juga selama ini dia tidak pernah membelikan hadiah natal ataupun merayakan natal bersama Shen Fengyin.


***


"Mama, bagaimana jika kita membelikan hadiah untuk papa juga?"


"Kau tidak marah lagi pada papamu?"


"Walaupun Rui masih merasa kecewa tapi Rui tidak marah pada papa. Jadi mama, ayo kita cari hadiah yang bagus untuk papa"


"Baiklah. Apa yang akan kita beli?"


Li Huan Rui terdiam. Memikirkan sesuatu.


"Di masa lalu, mama memberikan hadiah apa untuk papa?"


Shen Fengyin terkejut dengan pertanyaan putranya. Dia belum pernah merayakan natal dan bertukar kado bersama Li YongSheng. Di masa lalu saat remaja, Shen Fengyin pernah membuat syal untuk hadiah natal . Namun Li YongSheng menolak hadiahnya dan lebih memilih hadiah dari Shen FengYue. Sejak saat itu, Shen Fengyin tidak pernah memberinya hadiah lagi dan bahkan syal itu dia buang karena dia merasa kesal.


"Mama, kenapa diam? Apa mama dan papa belum pernah bertukar kado?"


.


"Ya, kami belum pernah merayakan natal bersama"


Shen Fengyin tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan putranya.


"Bagaimana dengan jam tangan?"


Shen Fengyin sering melihat Li YongSheng berganti jam tangan yang berbeda. Li Huan Rui mengangguk setuju dengan ide ibunya. Mereka lalu pergi ke sebuah toko jam tangan. Melihat jam tangan membuat Li Huan Rui tiba-tiba teringat dengan gadis kecil itu.


'Apa gadis itu sudah menjual jam tangan yang aku berikan ya?'


"Huanrui, apa yang kau pikirkan?"


Shen Fengyin sebelumnya menanyakan pendapat putranya tapi dia justru menyadari bahwa putranya sedang melamun.


"Tidak ada"


"Bagaimana pendapatmu tentang jam tangan ini"


"Itu bagus. Papa pasti suka"

__ADS_1


"Mama harap juga begitu"


***


Setelah pulang Shen Fengyin dan Li Huan Rui menghias pohon natal bersama. Li Huan Rui biasanya merayakan natal dengan papa Fan dan juga perawatnya. Dia senang bisa merayakan natal dan menghias pohon natal bersama mamanya.


Mereka menghias dan saling mengobrol hingga tidak menyadari matahari telah tenggelam. Li YongSheng sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan pulang ke rumah lebih awal.


***


"Papa, selamat datang"


Li YongSheng terkejut karena putranya menyapanya.


"Rui, kau sudah tidak marah lagi dengan papa?"


"Tidak. Lagipula papa sudah berperan untuk membayar persiapan natal jadi Rui tidak marah lagi"


Li YongSheng tersenyum.


"Papa, ayo makan"


"Papa akan menyusul setelah mandi"


"Baiklah"


Li Huan Rui lalu kembali ke ruang makan dan memberi tahu mamanya. Shen Fengyin dan Li Huan Rui saling mengobrol untuk menunggu Li YongSheng.


Tidak lama Li YongSheng datang ke ruang makan. Mereka bertiga menikmati makanannya.


"Rui, papa akan tinggal untuk merayakan natal bersama kalian"


"Eh? Apa papa serius?"


Li YongSheng mengangguk. Li Huan Rui tersenyum senang sedangkan Shen Fengyin mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan keputusan tiba-tiba yang dilakukan Li YongSheng. Namun Shen Fengyin tidak berkomentar apapun, dia bahagia melihat putranya yang kembali bersemangat dan ceria seperti sebelumnya.


Shen Fengyin dan Li YongSheng berada di kamar mereka. Shen Fengyin saat ini sedang membersihkan wajah,sesekali dia melirik ke arah Li YongSheng yang sedang membaca buku.


"Kau yakin membatalkan perjalanan bisnismu?"


"Bukan dibatalkan tapi di tunda. Aku akan berangkat sehari setelah natal"


Shen Fengyin mengangguk sebagai tanggapan.


"Ini pertama kalinya kita merayakan natal bersama"


"Ya"


"Apa kau menyiapkan kado khusus untukku?"


"Kau bukan anak-anak, kenapa aku harus memberikan hadiah dan juga kita bukan pasangan remaja kan?"


Li YongSheng kecewa.


"Itu benar, tapi kita belum pernah bertukar kado sebelumnya dan juga satu-satunya hadiah yang aku dapat darimu adalah sebuah syal"


Li YongSheng menuju ke lemarinya dan mengambil sebuah syal. Shen Fengyin terkejut ketika melihatnya, seingatnya Li YongSheng tidak menyukai hadiahnya dan karena itulah dia (she) membuang hadiahnya.


"Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Bukankah kau menolak hadiahku?"


"Ya, awalnya aku menolak karena merasa kesal,sebelumnya kau memberikan hadiah pada kakakku tapi aku berubah pikiran dan saat aku mengejarmu aku melihatmu membuang kado ini jadi aku mengambilnya"


Shen Fengyin terdiam. Dia tidak tahu harus berkomentar apa. Li YongSheng berjalan mendekatinya.


"Istri, kau tahu. Aku selalu mengharapkan kado natal darimu?"


"Begitukah? Apa tidak cukup dengan hadiah Shen FengYue? "


"Ya, kau tahu hadiah Shen FengYue memang mahal tapi tidak berarti apapun untukku. Kau tahu istriku, aku bodoh saat itu karena berada di sisi Shen FengYue untuk menutupi perasaanku padamu"


"Namun saat itu Shen FengYue juga adalah tunanganku, aku tidak bisa mengabaikannya"


"Aku mengerti"


Shen Fengyin masih menjawabnya dengan tenang.


"Aku merasa bahagia akhirnya bisa bersama dengan istriku yang cantik"


Li YongSheng mencium pipi Shen Fengyin. Wanita itu terkejut dengan senyuman tiba-tiba itu.


"Istriku sangat imut"


"Apa pantas kau menyebut imut untuk wanita yang akan berusia 30 ? Aku bahkan sudah memiliki sedikit kerutan"


"Istriku masih terlihat imut dan muda dan juga cantik. Tidak ada yang lebih cantik dari istriku"


Pipi Shen Fengyin tanpa sadar memerah.


"Istri, apa kau demam?"


Li YongSheng meletakkan tangannya di dahi Shen Fengyin tapi tangannya di tahan.


"Aku baik-baik saja"


Shen Fengyin memutar kursi rodanya menuju ke tempat tidur. Dia tidak ingin Li YongSheng tahu bahwa dia merasa malu dengan kata-kata manis suaminya yang tampan.


Li YongSheng mengendongnya ketika Shen Fengyin berdiri dan meraih pegangan.


"Li YongSheng"


Pria itu meletakkan dengan hati-hati.


"Shen Fengyin, aku menginginkanmu"


Shen Fengyin terkejut dengan permintaan tiba-tiba itu.


"Bukankah kau akan menunggu sampai aku memberikan hatiku untukmu?"


"Aku tidak bisa menuggu lebih lama lagi"


Li YongSheng mencium bibir Shen Fengyin.

__ADS_1


__ADS_2