Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Chapter 42


__ADS_3

Apa benar Lin Xue adalah sepupu Li Yongsheng? tapi, bagaimana bisa? Bukankah Lin hanya memiliki anak laki-laki atau mungkin ada sesuatu yang terjadi?’


Shen Fengyin menghela nafas, dia seharusnya tidak terlalu memikirkan hal ini apalagi Li Yongsheng sepertinya enggan untuk mengungkit masa lalu yang berhubungan dengan ibu kandungnya.  Dia tahu tidak seharusnya dia ikut campur dengan urusan pria itu apalagi suaminya juga tidak pernah mengusik masa lalunya tapi Shen Fengyin orang yang memiliki keingin tahuan tinggi dan juga mencari tahu tentang Li Yongsheng sudah menjadi kebiasaan untuknya saat dia masih tergila-gila padanya , walaupun saat ini dia berusaha agar tidak kembali tertarik dengannya.


“Apa yang istriku pikirkan”


Li Yongsheng memeluk pinggang wanita yang secara hukum menjadi istrinya.


“Tidak ada. Li Yongsheng, bukankah kau bilang tidak akan menyentuhku?”


“Ya, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk memeluk istriku.  Udara begitu dingin, tidakkah akan lebih baik jika kita saling menghangatkan dengan berpelukan”


“ Aku tidak akan melakukan lebih “


“Baiklah. Aku mengijinkanmu hanya memelukku tapi tidak ada hal yang lain termasuk ciuman”


“Aku tidak boleh menciummu?”


“Kau bilang tidak akan menyentuhku bukan? Jika kau menciumku, bisakah kau mengendalikan diri”


Li Yongsheng  cemberut.  Shen Fengyin membalikkan tubuhnya dan melihat wajah tampan suaminya.


“Tapi, aku tidak keberatan jika kau melanggar janjimu...”


Shen Fengyin sengaja merendahkan suaranya untuk menggoda suaminya ini. Li Yongsheng menggeleng pelan.


“Tidak, aku akan menepati janjiku”


Li Yongsheng membelai lembut rambut Shen Fengyin.


“Kau yakin, bahkan jika kau akan menjadi kasim seumur hidupmu?”


“Tidak mungkin, aku tahu kau pasti akan segera jatuh cinta padaku?”


“Apa kau lupa apa yang aku katakan sebelumnya?”


“Aku ingin melupakannya tapi aku justru mengingatnya dengan baik tapi aku yakin perasaanmu akan berubah seperti perasaanku padamu sebelumnya. Aku tidak akan menyerah”


“Baiklah terserah padamu”


“Kau tahu istriku, ada satu hal yang aku sesali”


“ Aku menyesal terbujuk rayuanmu dan akhirnya kita berpisah karena itulah aku ingin memliki dirimu seutuhnya”


“Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi dhidupku”


Shen Fengyin tidak mengatakan apapun, dia memejamkan matanya dan tertidur.


 


Li Yongsheng bangun pagi-pagi dan pergi ke dapur. Dia ingin membuat makanan khusus untuk ibu mertua, putra dan istrinya.


“Menantu, kau bangun pagi-pagi sekali”


“Iya, bibi.itu karena saya ingin menyiapkan sarapan”


“Kau tidak harus melakukan ini”


“Tidak apa-apa bibi, saya senang bisa melakukan ini”


“Kenapa masih memanggilku bibi? Kau seharusnya memanggilku ibu”


“Bolehkah saya memangil anda seperti itu”


Li Yongsheng sedikit ragu apalagi karena pernikahannya dengan Shen Fengyin mungkin terjadi tiba-tiba dan pada awalnya dia dapat melihat bahwa Ny. Nian terlihat tidak menyukainya.


“Tentu saja”


Li Yongsheng tersenyum.


“Apa ibu bisa membantumu?”


“Tidak perlu, ibu. Saya bisa melakukannya. Ibu hanya perlu menunggu”


“ Kau menantu yang baik, A-Sheng”


Ny. Nian awalnya tidak begitu puas dengan menantunya tapi dia harus menerimanya tapi sekarang melihat menantu yang perhatian, bahkan dia memasak untuk keluarganya.


 


Shen Fengyin terbangun, dia biasanya tidak tidur nyeyak tapi untuk pertama kalinya dia tidur dengan nyenyak, mungkinkah karena dia nyaman dengan pelukan Li Yongsheng. Shen Fengyin menggelengkan tangannya, dia berusaha menepis pemikiran itu. Shen Fengyin dengan pelan menuju ke kursi rodanya dan bersiap untuk ke kantor.


Saat Shen Fengyin menuju ke dapur, anggota keluarga yang lain sudah berada disana.


“Putriku, sepertinya kau tidur dengan baik atau apa kau kelelahan?”


Ny. Nian menggoda putrinya namun Shen Fengyin tidak menanggapinya. Li Yongsheng meletakkan makanan di atas piring milik Shen Fengyin.


“Kau tidak harus melakukan ini”


“Tidak apa-apa, aku ingin melayani istriku”


“Papa, Rui ingin tambah lagi”


“Baiklah, papa ambilkan untukmu”


Li Yongsheng meletakkan beberapa potong daging dipiring Li Huan Rui


“Rui kecil, jangan terlalu banyak makan. Kau bisa gemuk nanti”


Shen Fengyin mengomentari nafsu makan putranya.


“Tidak akan, jika Rui gemuk Rui hanya perlu olahraga dan saat ini Rui masih dalam masa pertumbuhan,jadi Rui butuh banyak makanan”


“Itu benar”


“Menantu, kau juga harus makan, kau terlihat kurus”


Ny. Nian meletakkan makanan di piring Li Yongsheng. pria itu mengucapkan terima kasih.  Shen Fengyin memandang interaksi antara Li Yongsheng dan ibunya. Dia tidak tahu sejak kapan ibunya menjadi perhatian pada Li Yongsheng.


 


Shen Fengyin membaca beberapa dokumen. Ada banyak project yang diajukan padanya. Dia memanggil manager yang bertanggung jawab dengan produk ponsel. Shen Fengyin ingin mengembangkan ponsel perusahaan Shen selama ini produk ponsel di perusahaan Shen tidak begitu berkembang.


“CEO Shen, bagaimana jika kita bekerja sama dengan LS Grup “


“LS Grup?”


“Benar”


Shen Fengyin merasa ragu LS grup milik Lin.  Shen Fengyin ragu-ragu , perusahaan Shen belum pernah bekerja sama lagi  dengan perusahaan Lin dan Lin menganggap Shen adalah saingan.  Mungkin karena Shen lebih memihak pada Li. Hubungan Lin dan Li buruk di masa lalu sehingga kakeknya  yang bersahabat dekat dengan kakek Li memutuskan kerja sama dengan Lin.


“Apa perusahaan itu  akan menerima kerja sama kita”


“Memang sulit untuk itu tapi saat ini LS masihlah menguasai  bidang elektronik dan teknologi serta perhiasan “


Shen Fengyin mengangguk.


“Baiklah, aku akan pertimbangkan. Kau bisa kembali “


Tok tok tok


“Permisi, CEO Shen”


Asisten Han masuk setelah manager keluar.


“CEO Shen, ada kiriman bunga untukmu”


Shen Fengyin hanya melihat sekilas buket bunga itu lalu fokus dengan dokumennya.


“Siapa yang mengirimkan bunga itu?”


“Tuan Li Yongsheng”


‘Pria itu, untuk apa dia mengirim bunga?’


“Dimana saya meletakkan bunga...”


“Itu untukmu saja?”


“Apa? tapi bunga mawar ini seharusnya special. Ini buket bunga mawar yang berisi 99 tangkai”


“Bunga itu tidak  berarti apapun untukku dan aku tidak memiliki tempat. Jika kau mau ambil saja atau kau bisa membagikannya. Aku tidak masalah”

__ADS_1


“tapi, CEO Shen...”


“Jangan mengangguku dengan hal yang tidak penting”


Asiaten Han pergi .  Shen Fengyin menghela nafas, dia tidak ingin berharap banyak dari hubungannya dan Li Yongsheng dan dia tidak ingin terlarut dalam perhatiannya.  Ponsel Shen Fengyin bergetar, dia melihat nama Li Yongsheng. Dia mengabaikannya.


Tok Tok Tok


“Istri, kenapa mengabaikan telponku”


“Kau, kenapa kau...?”


Shen Fengyin mengerutkan kening melihat Li Yongsheng yang muncul dari balik pintu.


“Kenapa kau kesini?”


Li Yongsheng berjalan mendekati Shen Fengyin.


“Istri, apa kau tidak menyukai bunga yang aku berikan?”


Li Yongsheng merasa kecewa ketika melihat asisten Han membawa bunga mawar yang seharusnya untuk Shen Fengyin dan dia justru membagikan bunga itu.


“ Ya, aku tidak suka”


Shen Fengyin mengucapkannya dengan dingin


“Kalau begitu aku akan mengirim sesuatu yang lain”


“Li Yongsheng, ada apa denganmu? Kenapa kau harus membuang uang untuk memberikanku sesuatu? Aku bisa membelinya sendiri”


“Fengyin, aku ingin mengejarmu tidak mungkin aku hanya diam saja dan tidak melakukan apapun”


Shen Fengyin ingin menanggapi tapi Li Yongsheng segera memotong ucapannya dengan mengajaknya makan siang. Shen Fengyin ingin menolak tapi pria itu tidak membiarkannya.


“Istri, ayolah. Jika kau menolakku aku tidak akan pergi”


“Li Yongsheng, apa kau tidak memiliki pekerjaan? Apa kau tidak takut dipecat karena terlalu fokus denganku?”


“Fengyin, ini jam makan siang jadi tidak masalah jika aku meninggalkan kantor dan jikapun aku dipecat bukankah ada istriku yang bisa aku andalkan. Istri, jadi bagaimana? Kau mau pergi makan siang denganku bukan?”


Shen Fengyin terdiam, dia memikirkan sesuatu lalu mengangguk.


 


Shen Fengyin tidak menyangka Li Yongsheng mengajaknya makan siang di sebuah restoran mewah.


“Bukankah ini terlalu berlebihan untuk sekedar makan siang”


“Tidak masalah. Fengyin, kau harus mencoba steak disini. Dagingnya terasa enak”


“Kau pernah kesini sebelumnya?”


“Ya”


“apa dengan Shen Fengyue? Atau ini tempat kencan kalian?”


“Tidak, aku biasanya datang sendirian”


“Jangan bercanda”


Ada iringan piano yang lembut di restoran ini, tidak mungkin Li Yongsheng datang sendirian


“Sungguh, kau orang pertama yang aku ajak kesini”


“Fengyin, kau dapat merasakannya alunan nada piano yang lembut. Ini bisa sedikit mengurangi rasa stres dan kelelahan setelah bekerja”


“Ya, kau benar”


“Istri, bagaimana jika aku memainkan piano dan bernyanyi untukmu”


“Tidak perlu,...”


Li Yongsheng berdiri dan mendekati pemain piano. Dia mengatakan sesuatu dengan suara pelan. Pemain piano itu mengangguk.  Pianist itu menjauh dari pianonya dan jari-jari Li Yongsheng yang besar dan panjang berada di tuts piano. Semua orang memandang ke arahnya.


“Saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk wanita saya, Nyonya Shen Fengyin”


Li Yongsheng memandang ke arah Shen Fengyin. Semua orang memandang ke arahnya. Shen Fengyin hanya memandang Li Yongsheng dengan ekspresi datar.  Jari-jari tangan Li Yongsheng mulai menari-nari di tut piano membentuk alunan nada yang indah. 


I love you more and more, your every eye contact touch my heart


Suara nyanyian Li Yongsheng terdengar selaras dengan alunan piano yang lembut.


I really want to treasure these future days


Love me, there will be pain, will be unfairness


Li Yongsheng menyanyikan dengan penuh penghayatan, tatapan matanya terarah pada Shen Fengyin.  Wanita itu masih menunjukkan wajah tanpa ekspresinya namun lagu itu menyentuh di dalam hatinya.  Membuatnya mengingat semua hal yang terjadi padanya.


I just want to spend all of my life to love you


From now on, you will be reason of my happinese


Love, is the  most beautiful fatherst journey


Shen Fengyin berusaha keras untuk  menahan perasaannya.  Dia tidak boleh tersentuh dan jatuh dalam cinta yang menjebaknya lagi. Dia tidak bisa kembali mencintai pria ini lagi.


Just let me say one more I love you


I just want to spend all of my life to love you


From now on , you will be the reason of all my happiness


Forever love forever love


Alunan piano perlahan berhenti menandakan nyanyian telah usai.  Tepukan tangan terdengar. Li Yongsheng tersenyum lalu kembali ke mejanya. Shen Fengyin masih menunjukkan ekspresi datar.


“Fengyin, bagaimana menurutmu? Apa kau suka...?”


“Lumayan” 


Li Yongsheng mengerutkan keningnya.


“hanya lumayan?”


“Lalu apa yang kau inginkan. Apa kau pikir aku akan seperti Shen Fengyue yang tersipu malu dan memujimu seperti saat kau menyanyikan lagu cinta untuknya di masa lalu”


"Sayangnya aku tidak akan melakukan hal itu"


"Aku tahu"


"Fengyin, kenapa begitu sulit mendapat kan hatimu"


"Begitukah? Tidakkah kau sama? Di masa lalu kau begitu sulit untuk di dapat dan kau bahkan mengabaikanku. Sekarang kau mengerti bukan betapa sulit mendapatkan hati seseorang khususnya saat kau sudah meninggalkan bekas luka"


"Fengyin"


Seorang waiters datang dan menyajikan makanannya. Shen Fengyin fokus dengan makanannya dan mengabaikan Li YongSheng.


"Fengyin, aku tidak akan menyerah dan..."


"Li YongSheng, jika rasa cintamu ini hanya untuk bertangung jawab atau merasa bersalah padaku,maka lupakan saja. Kita bisa melalui pernikahan seperti dulu pernikahan tanpa cinta bukanlah hal yang buruk setidaknya tidak akan ada yang terluka"


"Tidak. Fengyin, aku benar-benar serius dengan perasaanku. Aku sangat mencintaimu"


Li YongSheng mengenggam tangan Shen Fengyin tapi wanita itu melepaskan tangannya.


"Bisakah kita berhenti membicarakan omong kosong ini"


"Li YongSheng, ada yang ingin aku katakan padamu"


"Apa itu?"


"Li YongSheng, bergabunglah dengan perusahaan Shen"


 


"Henry, kenapa kau terlihat murung?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kesepian dan kesal"


"Kenapa?"


"Haruskah aku menceritakannya padamu?"

__ADS_1


"Tentu saja. Sebagai istri masa depan Henry aku harus tahu masalah suami masa depanku jadi aku bisa menghiburmu"


"Istri? Kau berpikir terlalu jauh. Siapa yang akan menikahimu"


"Baiklah, jadi apa masalahmu?"


Li Huan Rui tidak mengatakan apapun.


"Nona Helena"


Seorang pria mendekati Helena.


"Henry, ayo kita pulang"


"Kau duluan saja"


"Kau tidak jadi ikut pulang bersamaku?"


Li Huan Rui mengeleng.


"Baiklah, aku duluan"


Pria itu membukakan pintu untuk Helena. Helena melambaikan tangan pada Li Huan Rui.


  Pria kecil itu berjalan, dia harus menenangkan pikirannya. Dia tahu tidak seharusnya dia merasa kesal dan sedih hanya karena ayahnya lebih perhatian pada ibunya. Dia tahu tidak seharusnya dia menjadi kekanakan seperti ini. Dia seharusnya membantu papanya untuk mendapat kan hati mamanya.


Ketika Li Huan Rui berjalan, dia tanpa sengaja mengarahkan pandangan ke arah seorang gadis kecil dengan pakaian lusuh sedang berlari. Li Huan Rui mengerutkan keningnya melihat gadis kecil yang sebelumnya pernah di temuinya.


"Apa dia mencuri lagi?"


Li Huan Rui mengabaikannya dan terus berjalan.


Gadis kecil itu berlari menghindari petugas keamanan. Dia mengenggam tas erat-erat.


Kaki kecilnya itu tidak kuat berlari hingga akhirnya dia jatuh. Dia tidak peduli dengan darah yang mengalir di kakinya, dia harus mendapatkan barang ini untuk ayahnya. Dia harus mendapatkan uang untuk ayahnya.


Namun kaki kecilnya yang tertatih membuatnya kesulitan. Petugas keamanan itu berhasil menangkapnya.


"Kau tidak bisa lari lagi pencuri kecil"


Gadis kecil itu mengigit tangannya berusaha untuk lepas. Dia mendorong gadis kecil itu dengan kasar


"Kau..."


Gadis kecil itu berusaha berlari menahan rasa sakit di kakinya. Dia tidak boleh tertangkap. Dia tidak ingin ayahnya marah padanya. Gadis kecil itu bersembunyi di gang sempit.


Namun perugas itu sudah mengetahuinya.


"Jangan harap kau bisa sembunyi"


Petugas keamanan itu hendak mendekat.


"Tunggu"


Li Huan Rui menghalangi petugas keamanan itu.


"Kau, anak kecil jangan ikut campur"


"Paman, apa kau tidak malu melukai gadis kecil yang lemah"


"Apanya yang lemah, gadis kecil itu terlalu ganas"


"Apa yang dia ambil. Aku akan bertanggung jawab"


"Kau, pencuri kecil itu mencuri tas seseorang"


Li Huan Rui memandang gadis kecil yang hanya menatap kosong ke arahnya.


"Kembalikan tas itu"


"Tidak"


"Kembalikan itu. Jika tidak aku tidak akan segan memberikanmu pada paman ini"


"Tapi,..."


"Jika kau masih keras kepala terserah padamu. Aku tidak akan menahan paman untuk menangkapmu"


Gadis kecil itu akhirnya menyerahkan tas yang dibawanya.  Li Huan Rui mengambilnya dan memberikannya pada petugas keamanan.


"Paman ini tasnya. Jangan tangkap dia"


Petugas keamanan itu mengambil tasnya dan memeriksa isinya. Dia lalu memandang gadis lusuh itu, dia juga melihat darah di lututnya.


"Gadis kecil, lain kali jangan mencuri lagi"


Petugas keamanan itu pergi. Li Huan Rui memandang gadis itu, dia melihat luka di kakinya.


"Ayo ke rumah sakit. Kita obati lukamu"


Li Huan Rui mengucapkannya dengan nada datar.


"Tidak aku tidak mau ke rumah sakit itu mahal"


"Aku yang akan bayar"


"Bisakah kau memberiku uang saja?"


"Apa?"


"Aku tidak masalah dengan luka ini. Aku hanya butuh uang. Kau harus mengganti karenamu aku tidak bisa memberikan uang kepada ayahku"


"Kau, apa uang begitu penting?"


Gadis kecil itu mengangguk. Li Huan Rui mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang.


"Sayangnya aku tidak akan memberikannya. Kau harusnya bersyukur aku menolonmu agar tidak tertangkap"


Li Huan Rui mendekat dan membungkuk di depannya.


"Naiklah ke punggungku. Kita obati dulu lukamu itu"


"Tidak. Aku hanya butuh uang. Tuan muda, berikan saja aku uang"


"Obati dulu lukamu"


"Tidak"


"Terserah kau"


Li Huan Rui kesal dan meninggalkan gadis yang meringkuk di gang buntu itu.


 


Gadis kecil itu berjalan tertatih, dia harus siap mendapatkan amarah ayahnya. Dia berjalan dengan tertatih.


"Hei, kau..."


Li Huan Rui menghadang gadis itu.


"Tuan muda"


Li Huan Rui meraih tangan kecilnya dan menariknya dan membawanya ke bangku  taman.


"Aku akan obati lukamu"


"Tidak, aku..."


"Aku tidak suka dibantah"


Dia memaksa gadis kecil itu duduk. Tuan muda ini mengambil alkohol dan membersihkan lukanya. Li Huan Rui menekan lukanya, gadis kecil itu hanya diam mengigit bibirnya.


"Jika kau merasa sakit tidak perlu menahannya"


Namun gadis kecil itu tetap duduk tenang, dia bahkan tidak menangis hingga LiHuan Rui selesai mengobati lukanya. Dia memandang gadis yang menatap kosong ke arahnya.  Dia heran karena gadis itu tidak mengeluh kesakitan sama sekali, jika itu Helena atau gadis-gadis lain mereka akan menangis saat jatuh bahkan ketika kecil Li Huan Rui juga tapi gadis ini tidak bereaksi.


Li Huan Rui melepas jam tangannya. Dia memberikan pada gadis kecil itu.


"Aku tidak membawa banyak uang jadi sebagai gantinya kau bisa menjual jam ini. Walaupun hanya jam tapi ini Mungkin cukup mahal. Jangan mencuri lagi. Kau mengerti?"


Gadis kecil itu hanya diam menatapnya. Dia meraih tangan kecilnya lalu meletakkan di tangannya. Li Huan Rui meninggalkan gadis itu.


Gadis kecil itu memandang jam di tangannya. Wajah tanpa ekspresi itu perlahan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2