
"Tuan muda kedua, kenapa kau tidak percaya bahwa di dalam janin ini adalah anakmu? Apa kau melupakan malam bergairah yang kita miliki "
Helena mengigit bibirnya mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Merlin. Wang Yufeng menyadari ketidak nyamanan istrinya. Dia menggenggam tangan Helena.
"Malam bergairah? Kau terlalu melebih-lebihkan"
"Hou Merlin, kau mungkin lupa satu hal bahwa aku menggunakan pengaman saat berhubungan denganmu"
"Itu...aku melubangi pengamanmu"
"Begitukah, lalu bukankah kau meminum obat kontrasepsi dan aku bahkan mengawasimu untuk meminumnya"
Wanita itu mulai gugup.
"...dan juga, bukankah kau memiliki kekasih. Kau sering melakukan dengannya bukan?"
"...juga jika dilihat dari usia kehamilanmu aku tidak berhubungan denganmu saat itu. Sejak aku menemukan bahwa istriku lebih memuaskan dari wanita manapun aku tidak pernah menyentuh wanita lain lagi"
Wang Yufeng langsung pergi ke ketentaraan saat itu. Dia merasa bersalah karena pertama kali dia menodai seorang wanita terhormat yang murni seperti Helena.
"Jika kau masih bertekat berbohong padaku. Kau harus melihat apa yang terjadi pada kekasihmu"
Wang Yufeng mengambil ponselnya dan memperlihatkan video dimana pacarnya itu babak belur dan diikat. Tubuhnya sudah lemas.
"Aku sudah membayar penembak jitu. Hanya sekali tembak kekasihmu itu akan mati"
Merlin tidak ingin kekasihnya mati sia-sia walau dia memanfaatkannya dan memeras uangnya tapi dia mencintai pria itu. Merlin berlutut.
"Tuan muda kedua tolong selamatkan kekasihku"
"Menyelamatkannya? Apa kau pikir aku selunak itu? Kau sudah berani berbohong padaku dan menyakiti hati istriku, apa kau pikir aku akan melepaskannya dengan mudah"
Merlin tahu bahwa Wang Yufeng terlalu tangguh. Merlin beralih ke Helena.
"Nyonya muda kedua, aku minta maaf karena telah berbohong padanu. Nyonya muda kedua anak ini membutuhkan ayahnya dan aku sangat mencintai kekasihku. Aku tidak ingin kehilangannya. Nyonya, aku mohon padamu"
"Jangan mendesak istriku"
Wang Yufeng menarik Helena dalam dekapannya.
"Yufeng,lepaskan dia"
"Helena"
"Tolong lepaskan dia"
Helena mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Wang Yufeng menghela nafas, dia tidak bisa menolak istrinya.
"Helena, kau terlalu baik"
"Baiklah, karena istriku yang memintaku maka aku akan melepaskannya"
Wang Yufeng menganbil ponselnya dan menghubungi anak buahnya. Dia meminta mereka melepaskan pria itu. Wang Yufeng meminta Merlin pergi dan memberi tahu tampat dimana kekasihnya berada.
"Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di depanku"
"Baiklah. Nyonya muda kedua terima kasih"
Merlin lalu keluar dari rumah itu.
"Syukurlah semua sudah selesai, Yufeng, jangan sampai hal ini terjadi lagi"
Ny. Wang memberi pendapatnya.
"Tenang saja mama, aku tidak akan bermain lagi diluar. Istriku saja sudah cukup untukku"
Wang Yufeng mencium telapak tangan Helena yang digenggamnya. Helena tersipu malu.
"Aku harus kembali ke kemiliteran"
"Kau akan kembali begitu saja? Tidak bisakah kau menemani istrimu? Wanita hamil perlu perhatian suaminya. Kembalilah besok, temani istrimu hari ini. Aku akan pulang"
"Bersenang-senanglah kalian berdua"
Ny. Wang segera pergi.
"Jadi Istriku, apa yang akan kita lakukan?"
***
Wang Yufeng menemani Helena jalan-jalan ke taman. Pria itu mengenggam tangannya dengan erat.
"Yufeng, apa aku boleh bertanya tentang Song Heijin?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu? Apa kau siap dengan jawabaku saat kau menanyakan pertanyaan tentang mantan kekasihku?"
"Ya. Aku ingin mendengar apapun jawabannya"
"Apa yang ingin kau tahu tentang dia ?"
"Apa kau masih berhubungan dengan Song Heijin?"
"Tidak, tapi aku sempat bertemu dengannya belum lama ini"
"Apa kau masih mencintainya?"
"Apa pantas bagi seorang istri menanyakan tentang perasaan suaminya pada mantan kekasihnya"
"Apa tidak boleh?"
Helena menunjukkan wajah cemberut. Wang Yufeng menarik Helena dan mencium bibirnya, kenapa istrinya begitu menggemaskan.
"Wang Yufeng"
Helena berusaha mendorongnya. Terlalu banyak orang ditaman.
"Ada banyak orang"
__ADS_1
"Maaf, kau terlalu menggemaskan. Aku tidak bisa menahan diri untuk menciummu"
"Wang Yufeng, tolong jawab pertanyaanku. Apa kau masih mencintainya?"
"Aku tidak mencintainya"
"Benarkah?"
Helena tersenyum senang.
"Helena, diantara aku dan Li Huan Rui siapa yang lebih kau cintai?"
"Apa? Aku tidak tahu"
"Jadi walau kau mengatakan bahwa kau mencintaiku tapi kau masih tetap mencintai Li Huan Rui?"
"Mulai sekarang kau hanya boleh mencintaiku. Tidak boleh ada pria lain bahkan Li Huan Rui sekalipun, kau mengerti?"
"Baiklah"
"Baguslah. Mulai sekarang aku juga hanya akan mencintaimu. Aku janji padamu"
Wang Yufeng merangkul bahu Helena dan menariknya dalam dekapannya.
"Apa kau pernah berkencan seperti ini dengan Li Huan Rui?"
"Tidak"
"Jadi, ini yang pertama. Aku merasa beruntung karena menjadi yang pertama untukmu"
"Yufeng, aku lelah"
"Baiklah. Ayo kita duduk disana"
Mereka berdua duduk di sebuah kursi taman. Helena menyandarkan kepalanya di bahu Wang Yufeng. Selama 26 tahun hidupnya ini pertama kalinya dia merasa kencan seperti para pasangan lain.
"Yufeng, apa kau ingin anak laki-laki atau perempuan?"
"Apapun itu aku akan menyukainya"
"Kalau aku, aku berharap anak kita laki-laki, lebih baik jika dia kuat dan pintar sepertimu. Aku harap dia tidak sepertiku yang bodoh"
"Helena kau tidak bodoh, kau hanya lambat dalam menyerap"
"Bukankah sama saja"
Wang Yufeng tertawa kecil.
"Tapi kau tidak sebodoh itu. Buktinya kau berhasil menyelesaikan studi sarjana di universitas ternama A Country"
"Aku berusaha keras untuk bisa menyelesaikannya"
"Aku mengerti"
"Walaupun kuliah jurusan bisnis bukanlah yang aku inginkan namun aku tidak memiliki pilihan lain"
"Aku ingin menjadi seorang model"
"Aku bersyukur karena kau tidak jadi menjadi model jika tidak mungkin orang lain mungkin sudah memilikimu"
"Itu tidak mungkin. Bahkan jikapun aku menjadi model masih tetap akan berada di sisi Henry dan pada akhirnya takdirku tidak akan banyak berubah lalu aku masih akan tetap bertemu denganmu"
"Tapi jika aku menikahi seorang model, aku tetap saja akan memintanya untuk melepas karirnya khususnya jika kau yang menjadi model. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat pesona dari istriku"
Helena tertawa kecil.
"Aku tidak tahu bahwa Wang Yufeng pria yang posesif seperti ini. Aku pikir kau tidak peduli dengan apa yang dilakukan kekasihmu"
"Aku biasanya seperti itu tapi kau adalah istriku jadi hal wajar jika aku bertindak posesif pada istriku"
"Yufeng, bisakah kau pensiun dari kemiliteran dan meneruskan bisnis papa?"
"Aku bukanlah seorang pebisnis dan aku lebih suka berada di medan perang daripada berada di belakang meja berurusan dengan dokumen-dokumen"
"Kenapa? Apa kau tidak suka memiliki suami seorang tentara"
"Bukan tidak suka hanya saja aku merasa kesepian saat jauh darimu dan aku juga merasa takut saat kau berada di medan perang, aku takut jika kau akan terluka"
"Aku akan hati-hati, Helena doakan saja agar suamimu ini selamat "
"Ya, aku selalu berdoa untukmu"
"Terima kasih, Helena"
Wang Yufeng mengusap lembut rambut Helena. Wang Yufeng tidak pernah takut menghadapi perang bagaimanapun seorang tentara hasil siap menghadapi kematian ataupun berani terluka hal itu merupakan kebanggaan tapi setelah dia memiliki istrinya yang menunggunya di rumah dan anaknya yang belum lahir ada kalanya dia merasa takut jika dia tidak bisa melihat mereka lagi ataupun jika dia terluka parah siapa yang akan melindungi mereka karena itulah dia menghargai kebersamaannya dan Helena dan dia akan berhati-hati.
***
Wang Yufeng mengusap lembut perut istrinya yang mulai membesar. Dia dapat merasakan pergerakan janin di dalam perutnya dengan tangannya.
"Helena, apa kau masih merasa sering mual"
"Ya, tapi tidak separah sebelumnya"
Wang Yufeng mengusap lembut perut yang mulai membesar itu.
"Bayi kecil, jangan membuat susah mamamu ya. Jadilah bayi kecil yang baik dan menurutlah"
Helena tersenyum melihat Wang Yufeng berbicara dengan bayi di dalam perutnya. Setelah berbicara dengan bayi di dalam perutnya, Wang Yufeng merembahkan tubuhnya di samping Helena.
"Kau tahu, beberapa hari lalu aku pergi chek up bersama mama"
"Lalu bagaimana hasilnya?"
"Janinnya sehat"
"Baguslah"
__ADS_1
Wang Yufeng memeluk tubuh Istri nya.
"Sekarang saatnya tidur"
Helena mengangguk.
"Selamat malam suamiku"
"Selamat malam, Istriku"
Wang Yufeng memberi kecupan dibibirnya.
***
"Suamiku, kau baru pulang"
"Bau alkohol, apa kau minum?"
"Ya. Seorang client mengajakku minum. Aku tidak bisa menolalnya"
Li Huan Rui lalu melepaskan kemejanya dan membuangnya.
"Apa seseorang mencoba merayumu?"
"Ya, seorang wanita mencoba memelukku"
Bai Xiao sudah hafal kebiasaan suaminya itu.
"Jangan dibuang, aku akan meminta pelayan mencucinya"
"Baiklah"
Li Huan Rui lalu pergi ke kamar mandi. Bai Xiao mengambil kemeja itu dan memasukkannya di keranjang kotor. Walau hubungan Li Huan Rui dan dia tidak lagi ditutupi tapi para wanita masih saja berusaha merayu suaminya, walau suaminya pasti tidak terpancing rapi memikirkan seseorang memeluk suaminya membuatnya merasa kesal. Bai Xiao keluar dari kamar lalu pergi ke dapur.
Li Huan Rui selesai mandi, dia mengerutkan keningnya karena tidak melihat istrinya, dimana wanita itu.
"Kau sudah selesai?"
Bai Xiao masuk ke kamar membawa sebuah mangkuk.
"Minumlah sup ini untuk mengurangi efek alkohol"
Li Huan Rui menerimanya. Dia menghabiskan semua sup sedangkan Bai Xiao menemaninya di sampingnya.
"Aku sudah selesai"
"Aku akan mencucinya"
"Tidak perlu, biarkan disini dulu"
Li Huan Rui meletakkan mangkuk itu di atas meja lalu dia menarik tubuh istrinya agar lebih dekat padanya lalu menciumnya.
"Istriku, aku mencintaimu"
"Aku juga, aku juga mencintaimu"
Li Huan Rui terkejut dengan apa yang dikatakan istrinya. Namun senyum segera terukir di bibirnya. Li Huan Rui mengangkat tubuh istrinya dan menciumnya. Dia merembahkannya.
"Istri, aku menginginkanmu. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi"
Li Huan Rui mengalihkan ciumannya, dia turun ke leher putihnya itu. Dia dapat mencium aromanya yang memabukkan itu. Li Huan Rui memberikan gigitan kecil dan memberi tanda. Dia dapat merasakan tubuh istrinya yang gemetar.
"Apa kau takut?"
Bai Xiao mengangguk, dia takut. Sentuhan Li Huan Rui mengingatkan tentang kejadian di masa lalu mereka dan juga tatapan kemarahan dan juga sikap kasar Li Huan Rui membayangi pikirannya. Li Huan Rui memberikan ciuman lagi.
"Aku akan bersikap lembut kali ini. Aku janji jadi tolong rileks"
Li Huan Rui tidak bisa berhenti. Nafsu besar telah berkobar di dalam dirinya, dia begitu menginginkannya hingga dia tidak bisa menahan diri lagi.
***
"Kau akan pergi lagi?"
Helena mengantar Wang Yufeng Keluar.
"Ya. Aku akan datang saat anak kita lahir. Tolong jaga dirimu dengan baik"
"Ya. Kau juga"
Wang Yufeng memberikan ciuman dibibir Istri nya. Dia mengigit bibirnya, lidahnya berusaha masuk. Helena mengalungkan tangan di lehernya. Wang Yufeng berhenti ketika merasakan pergerakan di perut istrinya.
Wang Yufeng beralih ke perut Helena. Dia mengusapnya dengan lembut.
"Bayi kecil papa, papa pergi dulu. Ingat apa yang papa katakan padamu. Jangan menyusahkan mamamu. Jadilah anak yang baik"
Wang Yufeng mencium perut buncit itu.
"Aku pergi dulu"
Helena mengangguk. Wang Yufeng masuk ke dalam mobil mewahnya lalu melajukannya meninggalkan pekaranga mension. Helena hanya diam memandang mobil yang sudah menjauh. Walaupun dia masih belum puas dengan moment singkat mereka. Dia ingin suaminya berada disisinya tapi itu tidaklah mungkin, suaminya adalah tentara yang melindungi negara, dia tidak ingin menjadu penghalang dalam pekerjaan baiknya, dia harus menerima bahwa tidak banyak waktu yang bisa dia habis kan bersama dengan suaminya.
***
Bai Xiao terbangun, dia masih merasa sakit di bagian bawahnya. Namun dia tidak merasa lengket, mungkinkah Li Huan Rui yang membersihkannya, pipi Bai Xiao memerah. Bai Xiao melihat ke arah jam dan terkejut bahwa hari sudah siang, dia tidak pernah bangun siang mungkin karena semalam dia begitu lelah melayani suaminya yang memiliki stamina yang baik, pria itu tidak membiarkannya tidur sampai subuh. Bai Xiao tertatih dan menuju ke kamar mandi.
***
Li Huan Rui dalam suasana yang baik saat ini setelah mendapat energi dari memakan istrinys semalam. Sudah 8 tahun sejak terakhir dia menyentuhnya. Li Huan Rui tersenyum mengigat tentang istrinya. Dia ingin segera kembali ke rumah dan menenggelamkam diri dalam tubuh lembut Istrinya. Dia merindukan istrinya, dia ingin tahu apa istrinya sudah bangun sekarang.
***
Helena pergi ke kuil di kawasan B city. Helena berdoa dengan sepenuh hati untuk keselakatan suaminya. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh. Helena lalu pergi meninggalkan kuil dan kembali ke rumah.
***
Setelah berendam dengan air hangat rasa sakitnya merasa lebih baik. Dia memandang pantulan dirinya di cermin. Kulit putihnya terpenuhi dengan tanda merah yang ditinggalkan oleh suaminya, tanda merah yang menunnukkan malam bergairah semalam. Bai Xiao menghela nafas, dia harus menutupi tanda merah di lehernya
__ADS_1