
"Jiao...jiao"
Gadis kecil membuka matanya dengan ragu. Dia takut jika kehangatan yang di tunjukkan papa barunya menghilang. Namun suara papa barunya terus terdengar memanggil namanya. Jiao perlahan membuka matanya.
"Papa"
Jiao menyebut kata itu dengan ragu-ragu. Li Yongfan tersenyum.
"Ini sudah mulai siang. Kau melewatkan sarapan bukan? Kau pasti sudah lapar kan? Cuci wajahmu lalu turun ke bawah"
Jiao mengangguk. Li Yongfan lalu meninggalkan kamarnya. Jiao masih diam di tempatnya. Gadis kecil itu mulai menyadari bahwa hal itu bukanlah mimpi.
***
Li Yongfan meletakkan beberapa potong daging di piring putrinya. Para pelayan yang melihatnya merasa meragukan penglihatan mereka. Mereka tidak menyangka tuan mereka yang bersikap dingin justru menjadi begitu lembut pada nona muda. Namun mereka juga bahagia untuk nona muda mereka.
"Papa, sudah cukup. Ini terlalu banyak"
"Papa akan membuat mu menambah berat badan. Makan yang banyak"
Jiao mengambil sumpit dan menyuapi Li Yongfan.
"Papa juga makan"
Li Yongfan menerima suapan putrinya. Dia mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Jiao jiao, setelah ini bagaimana kalau kita pergi keluar?"
"Tapi apa papa tidak sibuk?"
"Ya, pekerjaan papa sudah selesai. Jadi kau mau bukan?"
Jiao mengangguk.
***
Li Yongfan mengajak Jiao ke sebuah mall. Li Yongfan mengenggam tangan Jiao dengan erat karena gadis kecil tidak mau dia gendong.
Li Yongfan mengajaknya ke toko boneka. Kamar Jiao tidak banyak memiliki mainan jadi dia ingin membelikannya mainan dan dia pikir anak perempuan pasti menyukai boneka.
Jiao melihat ada banyak boneka. Li Yongfan memintanya memilih boneka yang dia inginkan. Jiao memandang ke sekeliling. Dia kebingungan untuk memilih.
Jiao melihat boneka kangguru yang memiliki kangguru kecil di kantongnya. Dia teringat tentang pelakaran yang diajarkan gurunya. Dia mengambil boneka kangguru itu.
"Kau menyukai ini?"
Jiao mengangguk.
"Apa kau ingin membeli boneka lagi? Tidak apa-apa membeli banyak"
Jiao menggeleng. Dia tidak ingin bersikap boros.
"Baiklah"
Li Yongfan meminta karyawan itu membungkusnya lalu dia membayarnya.
Li Yongfan dan Jiao melanjutkan berjalan-jalan. Mereka pergi ke toko asesoris. Li Yongfan menemani putrinya memilih. Jiao memamdang di bando berbentuk mahkota. Li Yongfan memperhatikannya lalu dia mengambil bando itu dan memakaikannya.
"Putri papa sangat cantik"
"Bagaimana jika kita membeli gaun yang sesuai dengan mahkota ini?"
"Tidak perlu papa. Mahkota dan gaun indah hanya cocok untuk putri"
"Jiao jiao, kau bahkan lebih cantik dari setiap putri yang lain. Papa bisa membuatmu menjadi putri jika kau mau"
"Apa itu benar, papa?"
Li Yongfan mengangguk. Jiao akhirnya setuju untuk membelinya. Li Yongfan lalu mengajak Jiao pergi ke toko pakaian anak-anak. Dia meminta seorang karyawan untuk menunjukkan gaun-gaun indah untuk putrinya.
Jiao melihat gaun-gaun indah yang ditunjukkan di depannya.
"Pilih dan cobalah"
"Papa, apa tidak apa-apa jika Jiao memakai gaun ini?"
"Tentu saja"
Li Yongfan meminta karyawan itu menemani putrinya berganti pakaian. Jiao mengikuti karyawan itu.
"Paman Fan?"
Suara seorang kekanakan dengan aksen yang berbeda dari orang B city memanggilnya. Li Yongfan melihat gadis berambut pirang itu bersama seorang anak laki- laki.
"Helena,Rui kecil"
"Papa Fan, apa yang papa lakukan disini?"
"Aku menemani..."
"Papa"
Li Yongfan belum sempat menyelesaikan ucapannya karen panggilan Jiao. Gadis kecil yang kini menggunakan gaun berwarna merah muda berdiri di depan mereka.
Li Yongfan, Helena dan Li Huan Rui memandangnya.
"Jiao jiao kau sangat cantik"
Jiao-jiao yang sebelumnya menundukkan kepala kini memandang ke depan. Dia baru menyadari bahwa tidak hanya papanya saat ini yang melihatnya tapi juga malaikatnya dan pangerannya.
"Nona"
__ADS_1
Jiao mengucapkannya tanpa sadar saat melihat Helena.
"Eh? Apa kau gadis kecil itu?"
Helena mengenali suara dan panggilan itu.
"Helena, kau mengenal putriku?"
"Jadi gadis kecil ini adalah putri paman ya?"
"Iya benar"
"Oh ya, kau dipanggil Jiao kan? Jiao kau sangat cantik seperti seorang putri"
"Benarkan Henry"
Li Huan Rui yang sebelumnya memandang Jiao kini mengalihkan pandangannya.
"Biasa saja"
Jiao merasa kecewa. Li Yongfan merasa tidak senang dengan tanggapan keponakannya ini.
"Jiao jiao jangan dengarkan dia. Rui kecil memiliki penilaian yang buruk tentang keindahan"
"Papa, apa maksudnya itu? Penilaianku selalu akurat. Dia tidak cocok dengan gaun itu"
Li Huan Rui merasa kesal. Sepertinya wanita ini mulai mendapat kan kasih sayang papa fan nya juga hingga papa Fan lebih membela gadis pencuri itu. Bahkan walaupun gadis itu memang terlihat cantik tetap saja seorang gadis rendahan seperti dia tidak cocok dengan gaun yang indah dan mahal itu.
"Rui, jangan bersikap seperti itu pada saudaramu"
Li Yongfan menegur Li Huan Rui.
"Saudara? Dia bukan saudaraku. Ayo, Helena "
Li Huan Rui menarik tangan Helena dan membawanya pergi tanpa sempat berpamitan pada Li Yongfan.
"Jiao, jangan sedih. Rui kecil memang selalu berbicara seenaknya "
"Tidak apa-apa papa. Aku mengerti"
Li Yongfan meminta untuk membungkus semua gaun. Jiao pergi mengganti pakaiannya walaupun Li Yongfan memintanya memakai gaun itu saja tapi Jiao memolak.
***
Jiao dan Li Yongfan pergi ke foodcort untuk beristirahat dan Li Yongfan mentraktir Jiao es cream.
"Papa"
"Ya"
"Kenapa tuan Li Huan Rui memanggilmu papa?"
" itu karena papa yang merawat Li Huan Rui sejak kecil. Mungkin karena kebiasaan dia sering memanggil papa dengan sebutan papa"
"Rui memang selalu bersikap dingin pada perempuan bahkan walaupun dia dekat dengan Helena tapi dia juga kadang masih bersikap dingin. Dia tidak bisa memahami perempuan jadi jangan terlalu di pikirkan"
"Lain kali papa akan menegurnya agar tidak bersikap kasar padamu. Mungkin akan lebih baik jika kalian akrab dan menjadi saudara"
Jiao ingin menanggapinya tapi dia mengurungkan niatnya. Li Yongfan mengusap pinggiran bibir putrinya yang belepotan.
Li Yongfan tersenyum, dia merasa memiliki anak perempuan memang menyenangkan dan juga putrinya sangat mengemaskan. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu hingga memperlakukan putrinya dengan buruk.
"Setelah ini, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
Jiao mengeleng.
"Baiklah, putriku pasti lelah bukan? Kita akan pulang"
***
Li Huan Rui dan Helena berada di mobil milik keluarga Helena. Li Huan Rui mengabaikan Helena yang terus saja berbicara tentang gadis kecil bernama Jiao itu.
"Oh ya, Henry kenapa kau bersikap dingin padanya? Aku tahu kau pasti berpendapat bahwa dia cantik bukan? "
"Aku melihat mu bahkan tidak berkedip saat memandangnya"
"Jangan bicara omong kosong. Seorang bebek tidak akan berubah menjadi angsa hanya karena pakaian bagus"
Helena mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Rui.
"Bukankah perumpamaan katamu salah? Bukankah seharusnya...."
"Sudahlah, berhenti membicarakan gadis kecil itu di depanku"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan nada dingin. Helena merasa aneh degan sikap Li Huan Rui, walaupun pria itu biasanya selalu bersikap dingin tapi dia tidak pernah bersikap kasar. Helena akhirnya memilih tidak membicarakan tentang Jiao lagi.
Helena awalnya sempat merasa khawatir saat melihat tatapan mata Henry-nya yang terlihat terpesona melihat kecantikan Jiao. Helena awalnya berpikir bahwa Jiao akan menjadi saingannya. Namun melihat sikap Henry-nya dan juga reaksi nya saat dia membicarakan tentang Jiao untuk memamcingnya. Helena tidak tahu haruskah dia merasa lega karena gadis yang bahkan lebih cantik darinya tidak dapat menarik perhatian Henry-nya. Helena tersenyum memikirkan hal itu.
***
Jiao tidak tahu kenapa tubuhnya menjadi lebih cepat lelah bahkan dia menjadi mudah mengantuk saat lelah. Jiao tertidur dalam mobil.
Li Yongfan sesekali melirik putrinya. Jiao memang pendiam, berbeda dengan Mo An An saat kecil yang tidak berhenti untuk bicara saat bersama dengannya.
Li Yongfan menyadari mungkin putri nya memiliki trauma yang mendalam hingga mengubah karakter seorang gadis kecil yang kekanakan menjadi lebih penyendiri. Li Yongfan ingin membuatnya melupakan rasa sakitnya itu dan mulai memberinya kebahagiaan.
Li Yongfan menghentikan mobilnya di depan rumah. Dia menggendong putri kecilnya dengan perlahan.
Ketika Li Yongfan masuk dia disambut oleh Mo An An.
"Suami, apa yang kau lakukan pada putriku?"
__ADS_1
"Sst, dia sedang tidur"
"Biar aku yang memindahkannya"
"Biar aku saja. Kau baru saja pulang bukan? Kau pasti lelah"
Li Yongfan membawa Jiao ke kamarnya. Mo An An yang di tinggalkan merasa heran melihat perubahan sikap Li Yongfan pada putrinya.
***
Li Yongfan masuk ke kamarnya, Mo An An juga berada di sana.
"An, aku setuju untuk memasukkan Jiao dalam daftar"
"Apa kau serius? Kenapa tiba-tiba?"
"Aku sudah tahu apa yang terjadi padanya dan juga bagaimanapun dia juga putrimu bukan ? Jadi aku akan menanggapnya putriku juga"
Mo An An tersenyum. Dia memeluk Li Yongfan.
"Terima kasih, suami"
"Tidak perlu mengatakan itu. Aku bahagia memiliki putri yang cantik seperti Jiao sebagai putriku"
***
Keluarga tuan muda Li makan malam bersama.
"Sayang, mama dengar dari papa kalian pergi ke mall. Apa yang kau beli?"
"Boneka kangguru, lalu papa juga membelikan jiao bando mahkota dan gaun"
"Mama ingin lihat putriku menggunakan gaun dan mahkota. Bagaimana jika setelah makan malam kau tunjukkan pada mama"
Jiao ragu tapi akhirnya dia mengangguk karena tidak mau melihat mamanya kecewa.
***
Mo An An memuji kecantikan putri kecilnya yang menggunakan gaun dan bando mahkota.
"Sayang, kau sangat cantik "
"Terima kasih mama"
"Bagaimana kalau mama memotretmu?"
Jiao mengangguk. Mo An An mengambil foto putrinya. Dia meminta putrinya tersenyum tapi terlalu sulit bagi Jiao yang telah menekan emosinya untuk tersenyum dengan mudah.
Mo An An sedikit kecewa tapi dia tidak ingin memaksa putrinya. Dia menunjukkan foto itu pada Jiao. Mo An An ingin mengunggahnya di akun weibo tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia takut kebenaran tentang putrinya diketahui. Dia bukan hanya takut kehilangan karirnya tapi dia juga tidak ingin mereka menganggu putrinya. Namun Mo An An mungkin akan memperkenalkannya di depan publik pada waktu yang tepat.
Ponsel Mo An An berdering. Dia mengambil ponselnya dan melihat deretan angka. Dia menjawab.
"Hallo"
"...."
"Apa? Bai Yuchen bunuh diri?"
Mo An An terlalu terkejut hingga dia tidak bisa mengendalikan nada bicaranya. Dia memandang ke arah putrinya yang hanya menunjukkan ekspresi datar seperti biasa.
"..."
"Kami akan datang besok"
Mo An An lalu mematikan telpon.
"Mama, apa papa...meninggal"
Mo An An mengangguk pelan. Dia lalu memeluk putrinya. Dia tidak tahu apa yang di rasakan putrinya saat ini karena putrinya tidak banyak menunjukkan ekspresi. Namun Mo An An tahu bagaimanapun juga Bai Yuchen adalah ayah kandungnya, putrinya dan pria itu masih terikat darah. Putrinya pasti sedih dan terpukul dengan kematian ayahnya yang tiba-tiba walaupun ayahnya sudah bersikap buruk padanya tapi Bai Yuchen yang lebih lama bersama dengan putrinya hal ini pasti mempengaruhi suasana hati putrinya.
Jiao hanya diam di pelukan Mo An An. Dia tidak menujukkan kesedihan atau apapun, tatapannya hanya memandang kosong ke depan.
***
Li Yongfan menemani istri dan putrinya ke peristirahatan terakhir Bai Yuchen. Li Yongfan telah mengurus pemakamannya. Walaupun dia membencinya tapi bagaimanapun juga dia adalah ayah kandung putrinya.
Pemakaman itu tidak dihadiri banyak orang. Walaupun Mo An An sudah menghubungi keluarga Bai tapi tidak ada yang peduli dengan putra mereka yang telah mereka campakkan. Li Yongfan merasa bersimpati pada Bai Yuchen.
Li Yongfan menoleh ke arah putrinya yang hanya memandang dengan kosong foto Bai Yuchen. Tidak ada yang tahu apa yang dirasakan gadis itu sekarang.
'Bai Yuchen, apa kau melihatnya? Putrimu bahkan tidak bisa mengeluarkan setetespun air mata. Kau sudah membuatnya mengubur semua emosinya hingga dia tidak bisa menunjukkan kesedihannya'
Li Yongfan merasa marah pada pria itu tapi pria itu sekarang telah menjadi abu.
Shen Fengyin, Li YongSheng dan juga Li Huan Rui menghadiri pemakaman itu. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan dengan Bai Yuchen tapi bagaimanapun Bai Yuchen adalah mantan suami Mo An An dan ayah dari gadis kecil yang mulai mengambil perhatian mereka. Li Huan Rui sebenarnya enggan untuk datang tapi ibunya memaksa agar dia ikut. Li Huan Rui memandang ke arah gadis kecil itu. Dia dengar bahwa pria yang dimakamkan adalah ayah kandung gadis itu tapi gadis itu bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia bahkan tidak menangis melihat ayahnya di makamkan. Li Huan Rui mengerutkan keningnya melihat sikap gadis itu. Apa gadis itu memang tidak memiliki perasaan bahkan dia masih menunjukkan ekspresi datarnya walaupun ayah kandungnya meninggal.
Para pelayat pergi. Mo An An mengajak putrinya untuk pergi. Dia berusaha menghibur putrinya tapi dia tidak mendapat tanggapan apapun. Hanya ada ekspresi datar dan tatapan mata kosong yang diperlihatkan oleh putrinya.Mo An An menjadi sedih karena dia tidak tahu cara menghubur putrinya.
***
"Aku merasa kasihan pada xiao jiao. Dia pasti tertekan saat ini"
"Ya"
Li YongSheng fokus menyetir dan sesekali menanggapi istrinya.
"Gadis dingin seperti dia bagaimana mungkin merasa sedih. Jika seseorang sedih dia pasti akan menangis tapi dia tidak menangis. Gadis itu tidak memiliki perasaan bahkan pada ayahnya sendiri"
"Li Huan Rui jaga bicaramu. Jangan berpikir buruk tentang Jiao"
Shen Fengyin menegur putranya.
__ADS_1
"Kalian selalu saja membelanya. Menyebalkan