
Li Huan Rui masuk ke kamar, dia diam-diam mendekati istrinya yang sudah meringkuk di tempat tidur. Dia perlahan berbaring di sampingnya lalu memeluk pinggangnya. Bai Xiao belum sepenuhnya tidur. Dia meronta.
"Tuan Li, lepaskan aku"
Li Huan Rui justru memeluinya semakin erat.
"Istriku, biarkan aku memelukmu. Aku janji tidak akan melakukan hal yang lebih dari pelukan"
"Tuan Li, kenapa kau tidak mencari wanita lain yang bisa kau peluk. Aku yakin para wanita akan berbaris untukmu'"
"Istriku, aku tidak suka orang asing menyenuhku, aku juga tidak ingin menyenyuh wanita lain"
"Juga...aku sudah memiliki istriku, bagaimana mungkin aku bermain dengan wanita lain"
"Bukankah kau baru saja bertemu dengan wanita lain"
"Apa kau mengikutiku?"
"Aku hanya melihat saat kebetulan lewat saat berbelanja tadi"
"Aku memang bertemu dengan seseorang tapi mama yang telah mengatur tentang kencan itu"
"Mamaku ingin aku menemukan seorang wanita untuk aku nikahi. Namun kau tenang saja aku sudah meminta mamaku untuk tidak melakukannya lagi dan membiarkanku memilih pilihanku sendiri"
"...aku tidak akan mengkhianatimu istriku, aku janji padamu"
"Tuan Li untuk apa kau menjanjika sesuatu yang mungkin di masa depan akan kau ingkari"
"Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu. Istriku, aku memang buruk di masa lalu. Aku mempermainkanmu dan juga Helena, aku tidak bisa mengubah masa lalu tapi aku ingin memperbaikinya. Istriku, ayo kita memulai kehidupan baru kita sebagai pasangan yang sebenarnya"
"Aku tahu sulit bagimu untuk mencintaiku tapi setidaknya bisakah kau membuka sedikit hatimu untukku. Aku berjanji padamu tidak akan membuatmu terluka"
"Aku...sudah berjanji pada papa Fan, jika aku membuatmu terluka dan menkhianatimu aku rela memberikan nyawaku"
Bai Xiao terkejut mendengar apa yang Li Huan Rui katakan, mungkinkah karena hal itu papa tirinya yang sebelumnya menolak tapi di saat terakhir dia akhirnya menerima keputusannya untuk menikah dengan Li Huan Rui.
Bai Xiao berbalik dan menatap Li Huan Rui.
"Kenapa kau menjanjikan hal bodoh seperti itu?"
"Istriku, aku serius dengan janjiku dari lubuk hatiku"
Dia menbelai lembut wajah Bai Xiao.
"Aku sudah membuatmu banyak menderita di masa lalu, aku tahu kesalahanku begitu besar padamu karena itu aku tidak ingin membuatmu terluka lagi, aku tidak ingin membuatmu menderita lagi. Aku akan membayar semua penderitaanmu itu"
"Li Huan Rui, kau tidak perlu melakukan ini karena rasa bersalah..."
"Tidak , ini bukan rasa bersalah. Istriku, aku mencintaimu"
Bai Xiao memandang pria yang menatapnya dengan lembut.
"Bagiku melihatmu terluka sama dengan rasa sakit untukku, penderitaanmu sama seperti penderitaan bagiku, dan juga jika aku berkhianat padamu itu adalah dosa bagiku"
"Aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku tapi bukalah sedikit hatimu untuk merasakan ketulusanku dan menghapus luka di hatimu"
Bai Xiao merasakan ketulusan dari tatapan mata pria itu, dia juga tidak melihat kebohongan dari matanya hatinya mulai goyah. Namun masih ada keraguan baginya, haruskah dia membuka hatinya untuk pria itu? Apa dia bisa mempercayai pria itu lagi dan memberikan hatinya.
Li Huan Rui menyadari keraguan di mata Bai Xiao. Dia memberikan ciuman lembut di dahinya.
"Ini sudah malam, tidurlah"
Li Huan Rui melepaskan pelukannya dan bangun.
"Kau mau kemana?"
"Ke ruang kerja"
Li Huan Rui menjawab singkat lalu pergi meninggalkan ruang kerja. Bai Xiao mencoba untuk tidur tapi dia tidak bisa tidur, dia terus memikirkan apa yang dikatakan Li Huan Rui padanya
***
"Mama, ada lingkar hitam di bawah mata mama"
Li Huan Rui baru menyadari hal itu.
"Istri, maaf apa karena aku menganggu tidur mu kemarin malam"
"Tidak, bukan begitu"
"Papa, apa yang kau lakukan pada mama kemarin malam?"
Yimin mengucapkan dengan nada penasaran.
"Kami hanya saling mengobrol"
"Hanya mengobrol? Benarkah?"
"Benar"
"Papa harus berangkat kerja. Yimin, tidak apa-apakan jika kau diantar supir? Papa harus menghadiri pertemuan pagi"
"Tidak apa-apa, papa"
Li Huan Rui memberikan kecupan di dahi putrinya. Dia lalu berbalik pergi.
"Tunggu, papa. Kenapa papa tidak memberikan ciuman pada mama juga, bukankah tidak adil jika hanya Yimin yang mendapat ciuman, mama pasti sedih"
"Yimin, apa yang kau bicarakan"
Bai Xiao menjadi cangung ketika Li Huan Rui menoleh ke arahnya. Dia mendekatinya dan memberikan kecupan di dahi.
"Aku pergi dulu, istriku"
"Hati-hati di jalan....suamiku"
Li Huan Rui terdiam sejenak ketika mendengar kata terakhir yang istrinya ucapkan. Dia memanggilnya 'suamiku' . Li Huan Rui tidak tahu apa ini tanda bahwa istrinya mulai menerimanya atau ini hanya berakring pura-pura penuh kasih sayang demi putri mereka. Namun Li Huan Rui masih tetap merasa bahagia. Senyum terukir di bibirnya.
***
Suasana hati Li Huan Rui sedang baik, dia bahkan membalas sapaan dari para pegawainya.
"Apa kalian melihat? Presiden Li membalas sapaanku?"
Seorang pegawai wanita tersenyum kesenangan.
__ADS_1
"Hei, dia membalas sapaan semua orang"
Teman wanita itu menegurnya.
"Benarkah? "
Wanita itu memandang Li Huan Rui yang juga menbalas setiap orang yang menyapanya. Wanita itu akhirnya tersadar dari fantasinya.
"Namun bukankah aneh bahwa presiden Li yang biasanya dingin menjadi ramah?"
"Benar, mungkin dia sedang dalam suasana yang baik. Mungkin rapat kali ini tidak akan begitu menekan. Aku harap presiden Li terus dalam suasana baik seperti ini"
"Benar"
***
Mo An An dan Li Yongfan mengunjungi putri kesayangannya.
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" Li Yongfan bertanya pada putrinya.
"Ya, dia memperlakukanku dengan baik"
"Xiao xiao, apa kalian masih belum merencanakan bulan madu? Ada baiknya untuk kalian menghabiskan waktu berdua untuk menumbuhkan kasih sayang"
"Mama, kami pasangan yang sudah memiliki seorang putri untuk apa berbulan madu "
"Walau kalian sudah memiliki seorang anak tapi tidak ada salahnya bukan untuk menghabiskan waktu berdua"
"Xiao xiao, jika kau khawatir meninggalkan Yimin maka mama akan merawatnya. Kau bisa pergi bersenang-senang dengan Li Huan Rui dan menikmati masa mudamu"
"Mama, bagaimana mungkin aku bisa bersenang-senang jika pergi tanpa Yimin. Aku yakin Li Huan Rui pasti berpikir seperti itu lagipula dia juga sibuk belakangan ini"
"Xiao xiao..."
"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan tentang hal ini lagi"
"Xiao xiao, apa kau masih belum bisa menerima Li Huan Rui?"
"Mama awalnya juga merasa bahwa dia pria yang buruk tapi mendengar bahwa dia memperlakukanmu dengan baik dan dia juga terlihat menyayangi Yimin. Mama tahu dia tulus padamu. Putriku, masa lalu memang tidak bisa diubah tapi bukan berarti kau harus terpuruk karena masa lalu"
"Xiao xiao, bukankah kau mengubah namamu untuk menjalani hidup barumu dan melupakan masa lalu jadi kenapa kau tidak memulai kehidupan baru dengan Li Huan Rui"
"Mamamu benar, tidak ada baiknya untuk terpuruk dalam masa lalu"
Bai Xiao terdiam. Mama dan papanya memang benar. Dia tidak seharusnya terpuruk dalam masa lalu dan sikap Li Huan Rui juga lebih baik padanya, juga ketulusan yang diucapkan Li Huan Rui semalam mulai menyentuh hatinya tapi dia masih takut. Dia takut dengan kegilaan cinta di masa lalu. Dia jika perasaan pria itu ternyata hanyalah rasa kasihan yang disalah artikan menjadi perasaan cinta. Bai Xiao takut dia mungkin tidak bisa bangkit lagi jika dia terluka lagi.
Bai Xiao tidak mengatakan apapun pada mama dan papanya. Dia meminum tehnya untuk menenangkan perasaannya.
***
Li Huan Rui pulang terlambat karena harus menghadiri perilisan produk terbaru perusahaan. Li Huan Rui pergi ke kamar putrinya untuk mengecek putrinya. Li Huan Rui mendekat dan melihat buku yang masih terbuka dan lampu masih menyala, mungkin putrinya tertidur saat belajar. Li Huan Rui merapikan bukunya dan menyelimuti putrinya.
"Papa"
Yimin perlahan membuka matanya. Li Huan Rui tersenyum hangat.
"Apa papa membangunkanmu?"
Yimin mengeleng. Dia bangun dan memeluk papanya.
"Tidak apa-apa papa, Yimin mengerti bahwa papa pasti memiliki bayak pekerjaan"
Yimin melelaskan pelukannya.
"Papa pasti lelahkan. Papa lebih baik beristirahat"
Li Huan Rui mengangguk.
"Kau juga"
Yimin mengangguk.
***
Li Huan Rui pergi ke kamarnya.
"Kau belum tidur? Apa istriku sengaja menungguku"
Li Huan Rui sengaja menggodanya.
"Tidak, aku hanya tidak bisa tidur"
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang menganggumu?"
Hal yang menbuat Bai Xiao tidak bisa tidur karena khawatir suaminya pulang terlambat namun dia tidak mungkin mengatakan hal itu.
"Tidak ada. Aku hanya tidak bisa tidur"
Li Huan Rui tidak mengatakan apapun lagi. Dia mengambil piyamanya.
"Apa kau sudah makan malam"
"Belum"
Li Huan Rui bahkan belum sempat makan apapun di acara karena banyak orang yang mengajaknya bicara.
"Apa kau ingin makan sesuatu?"
"Apa kau akan memasak untukku?"
"Ya. Walaupun aku tidak yakin bisa masak makanan yang rumit tapi setidaknya aku bisa membuat mie"
"Itu tidak masalah. Apapun yang dimasak istriku akan menjadi makanan mewah dan paling enak"
Bai Xiao tidak mengatakan apapun. Dia langsung keluar kamar. Li Huan Rui segera masuk ke kamar mandi. Dia mandi dengan cepat karna takut masakan istrinya dingin.
***
Bai Xiao tidak tahu kenapa dia melakukan ini tapi melihat wajahnya yang kelelahan dan juga kesibukannya, dia tidak bisa mengabaikannya. Bai Xiao menolak untuk menerima pria tapi hatinya mulai tergerak oleh pria itu. Dia akhirnya memutuskan untuk menerima hubungan ini tapi dia berusaha untuk tidak terlarut dalam perasaan cinta.
Bai Xiao tersentak kaget ketika sepasang tangan memeluk nya dari belakang.
"Tuan Li"
"Istriku , kenapa panggilanmu berubah lagi. Aku suka mendengar mu memanggilku seperti tadi pagi"
__ADS_1
"Tunggulah di meja makan. Makanan sudah siap"
"Tapi aku masih ingin memelukmu"
Bai Xiao mematikan kompor.
"Kau bisa memelukku nanti. Bukankah kau lapar?"
Bai Xiao melepas pelukannya dengan paksa. Li Huan Rui dengan enggan menjauh dan pergi ke meja makan. Tidak lama Bai Xiao membawa sepiring mie untuknya.
"Terima kasih istriku. Apa kau tidak makan?"
"Aku sudah makan"
"Kalau begitu duduklah dan temani aku makan"
Bai Xiao hanya menurut dan duduk. Li Huan Rui mulai menikmati makanannya.
"Ini sangat enak, bagkan lebih baik daripada masakan kepala koki"
"Kau terlalu berlebihan"
"Aki serius. Masakan istriku adalah yang paling enak"
Bai Xiao tidak mengatakan apapun. Bai Xiao hanya memandang suaminya yang menikmati masakannya dengan gembira.
Setelah Li Huan Rui selesai makan, Bai Xiao mengambilnya piringnya untuk dicuci. Namun Li Huan Rui menghalanginya.
"Biar aku saja. Aku tidak ingin tangan istriku kasar karena sabun cuci"
"Kau berlebihan, lagipula aku sudah terbiasa melakukan ini"
"Kau sudah memsakkan makan malam untukku jadi biarkan aku yang mencucinya. Istri kembalilah ke kamar dan istirahat"
"Apa kau bisa mencuci piring?"
"Apa kau meremehkan suamimu ini? Tenang saja, suamimu ini dapat melakukan apapun"
"Tapi,..."
Li Huan Rui menggendongnya ala bridal style . Bai Xiao ingin berteriak tapi dia takut membangunkan semua orang.
"Tuan Li, apa yang kau lakukan "
"Aku akan membawamu ke kamar dan beristirahat"
Li Huan Rui meletakkannya di tempat tidur dengan pelan lalu menyelimutinya.
"Istirahatlah aku yang akan mencuci piring dan peralatan lainnya"
"Tapi,..."
"Tidurlah"
Li Huan Rui lalu meninggalkannya.
"Tuan Li"
"Hm"
Li Huan Rui berbalik.
"Setelah mencuci kembalilah untuk tidur di kamar jangan bermalam di ruang kerja"
Bai Xiao segera menutup matanya setelah mengatakan hal itu dia tidak menyadari senyuman yang terukir dibibirnya.
"Istri, apa ini undangan untukku?"
Bai Xiao tidak mengatakan apapun. Li Huan Rui menghela nafas melihat istrinya yang tertidur. Li Huan Rui segera meninggalkan kamar dan mencuci piring dan peralatan dengan penuh semangat dan cepat. Dia ingin segera masuk ke kamar dan tidur disamping istrinya.
Setelah selesai, Li Huan Rui dengan cepat kembali ke kamarnya. Dia berbaring di samping istrinya. Dia mendendar deru nafas yang beraturan menunjukkan istrinya sudah tetidur lelap. Dia memandang wajah polos istrinya. Dia mencium bibirnya dengan lembut lalu dia memeluk istri nya.
"Selamat malam istriku"
Li Huan Rui selalu memimpikan saat ini ketika wanita ini pergi dari hidupnya. Berada disamping wanita yang dia cintai seperti ini masih fantasi baginya. Dia tidak ingin mimpi seperti ini berakhir, dia tidak akan sanggup jika harus kehilangannya lagi. Li Huan Rui mulai memejamkan matanya dan tertidur. Dia biasa tidak bisa tidur dengam mudah tapi kini dia dengan cepat merasa mengantuk.
***
"Tuan Li...Tuan Li..."
Bai Xiao memanggil pria yang masih tertidur lelap.
"Li Huanrui... Li Huan Rui"
Bai Xiao memberanikan diri untuk memanggil namanya. Li Huan Rui perlahan membuka matanya.
"Bangunlah, bukankah kau harus pergi ke kantor. Kau bisa terlambat nanti"
"Tidak apa-apa, aku bosnya. Tidak apa-apa jika sesekali terlambat"
Li Huan Rui kembali memejamkan matanya dan memeluk erat istrinya.
Bai Xiao merasa heran biasanya istrinya selalu mementingkan pekerjaan.
"Tuan Li, Yimin pasti sudah menunggu kita di ruang makan"
"Berikan aku morning kiss lalu aku akan bangun"
Tok tok tok
"Mama, papa, saatnya sarapan"
"Yimin, Kami akan segera turun ke bawah"
"Tuan Li, cepat bangun"
"Beri aku ciuman"
"Tuan Li, jangan bersikap seperti kekanakan seperti ini. Ayolah, cepat bangun"
Li Huan Rui akhirnya menbuka matanya dan bangun lalu dia memberikan ciuman singkat dibibir istrinya dan langsung masuk ke kamar mandi. Bai Xiao hanya terpaku dengan kecupan tiba-tiba itu. Dia menghela nafas melihat kelakuan pewaris perusahaan Shen yang selalu dingin berubah menjadi pria berkulit tebal
A/N: seperti nya terlalu mudah ya untuk Li Huan Rui dapetin Bai Xiao (Li Jiao) tapi setidaknya di chapter ini aku membiarkan mereka bahagia dulu deh.
Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung novel ini
__ADS_1