
"Jiao, kau tidak perlu masuk sekolah itu lagi. Papa akan mencari guru terbaik untuk mengajarimu di rumah"
Ketika sarapan Li Yongfan memberikan keputusan yang tiba-tiba.
"Tidak papa, Jiao tidak ingin sekolah di rumah. Jiao ingin ke sekolah dan bertemu dengan teman-teman Jiao"
"Jiao, di luar berbahaya. Papa tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Papa tidak ingin kau terluka"
"Papa, kemarin terjadi karena Jiao tidak waspada, kali ini Jiao akan berhati-hati"
"Tidak, papa sudah membuat keputusan "
Li Yongfan lalu berpamitan untuk berangkat bekerja. Jiao memandang ke arah Mo An An.
"Sayang, untuk hari ini turuti saja permintaan papamu. Mama akan membicarakan nanti setelah papamu pulang"
Jiao merasa kesal tapi dia tidak punya pilihan lain selain menurut.
***
"Rui, hari ini kau akan berangkat bersama kami"
"Bukankah papa fan yang biasanya mengantarku?"
"Kakak Fan ada pertemuan pagi dia tidak bisa mengantarmu"
Li Huan Rui tahu bahwa itu hanya alasan, papa fan nya pasti masih marah padanya karena itu dia tidak mau bertemu dengannya. Namun setidaknya dia tidak perlu berangkat bersama dengan gadis itu.
***
Helena memandang bangku di belakang nya. Pelajaran sudah di mulai tapi bangku Jiao masih kosong.
"Apa Jiao masih sakit?"
Helena berbicara pada Li Huan Rui. Pria itu mengangkat bahunya dengan acuh.
"Entahlah"
"Bukankah kau biasanya berangkat dengan Jiao, apa..."
"Bagaimana kau tahu jika aku berangkat bersama nya ? Apa dia menceritakan padamu?"
"Tidak, tapi gosip ini sudah beredar dan alasan dua gadis itu mendorong Jiao karena merasa cemburu , mereka pikir kau ada hubungan yang dekat dengan Jiao"
Li Huan Rui mengerutkan kening, dia tidak menyangka ada gosip seperti itu dan tidakkah tindakan 2 gadis yang membuat Jiao celaka itu benar-benar buruk hanya karena mereka menyukainya mereka melakukan hal buruk itu. Li Huan Rui tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Dia merasa bahwa para gadis itu menakutkan itulah alasan Li Huan Rui tidak ingin terlibat dengan gadis-gadis yang memujanya.
"Henry, tidakkah kau khawatir pada Jiao?"
"Tidak"
Bagi Li Huan Rui tidak ada alasan baginya untuk khawatir dengan gadis yang dia benci karena sudah merebut orang-orang yang menyanginya.
Helena memandang Li Huan Rui , bahkan walaupun pria itu mengelak tapi tatapan matanya terlihat resah. Helena tidak tahu kenapa Henry nya selalu menutupi perasaan yang dia rasakan.
"Henry, bagaimana jika kita mengunjungi Jiao ? Kau tahu alamat tempat tinggalnya bukan?"
"Aku tidak mau mengunjungi nya dan juga kau tidak perlu khawatir pada gadis itu dia pasti masih hidup"
"Tapi,...."
"Fokus saja dengan pelajaran"
Li Huan Rui merasa terganggu dengan Helena dan dia juga tidak mau dihukum jika dia tahu mereka berdua mengobrol saat guru sedang menjelaskan. Helena cemberut lalu memandang ke depan dan memperhatikan apa yang di jelaskan oleh guru tapi Helena tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Jiao yang sudah dia anggap sebagai saudaranya.
***
Dua hari berlalu, Jiao hanya belajar di rumah karena papanya masih belum mencabut keputusannya walau mamanya berusaha untuk membujuk papanya. Jiao sudah selesai belajar dari guru yang di sewa ayahnya. Guru itu cukup ketat dalam pelajaran dan bahkan memberinya banyak pr. Jiao bahkan melewatkan makan malam karena sibuk dengan PR yang diberikan.
Jiao merasa bosan, dia melihat ke arah ponselnya. Dia merindukannya, walaupun Li Huan Rui selalu dingin padanya tapi hanya dengan melihat nya itu sudah cukup untuk nya. Jiao mencari nama Li Huan Rui di kontak ponselnya, dia dengan ragu-ragu menekan tombol hijau.
***
Li Huan Rui memandang ponselnya dengan ragu. Dia melihat deretan angka yang dia kenali sebagai nama Jiao. Dia hampir menekan tombol hijau tapi dia urungkan. Dia tidak ingin berbicara dengan gadis itu. Namun ponselnya tidak berhenti bergetar dan membuat nya yang ingin tidur terganggu. Li Huan Rui dengan enggan menjawab panggilan itu.
"Hallo"
***
Jiao terkejut mendengar suara rendah milik Li Huan Rui. Dia tiba-tiba bingung apa yang harus dia katakan.
"Hei, kenapa kau menelponku? Bukankah aku sudah bilang aku tidak ingin terlibat denganmu"
"Maaf aku..."
"Jangan menelponku, aku sudah cukup senang tidak melihat wajahmu lagi di sekolah dan aku tidak ingin mendengar suaramu juga jadi jangan hubungi aku"
Li Huan Rui langsung mematikan ponselnya. Jiao merasa sedih dengan reaksi yang diberikan Li Huan Rui, apa Li Huan Rui sebegitu membencinya, hingga tidak ingin melihat nya juga. Apa seharusnya dia memang tidak menampakkan dirinya disekolah. Mungkinkah ketidakhadirannya membuat Li Huan Rui merasa bahagia.
"Jiao jiao"
"Papa, masuklah"
"Kenapa kau tidak turun untuk makan malam"
"Maaf papa, Jiao terlalu sibuk hingga lupa waktu dan melewatkan makan malam"
"Sayang, apa kau marah pada papa karena melarangmu pergi ke sekolah"
"Tidak papa"
Li Yongfan memandang Jiao, gadis itu memang selalu menjadi gadis yang penurut. Li Yongfan teringat dengan apa yang dikatakan Mo An An untuk membujuk nya agar dia mengijinkan Jiao sekolah.
'Suami, aku tahu kau khawatir tapi kau tidak bisa mengurung Jiao di dalam rumah selamanya. Dia butuh untuk bersosialisasi dan berteman. Apa kau ingin Jiao menjadi individual tanpa teman yang dimiliki disisinya"
"Suamiku, mungkin saja dengan memiliki teman sikap kekanan Jiao akan kembali"
"Jiao jiao, kau bisa kembali ke sekolah besok"
"Eh? Apa papa serius?"
Li Yongfan mengangguk. Jiao hanya diam. Jika dia ke sekolah bukankah dia akan menganggu kebahagiaan pangeran nya yang tidak ingin melihatnya.
***
Jiao masuk ke dalam ruang kelas dengan ragu-ragu. Helena yang melihat nya , tersenyum senang.
__ADS_1
"Jiao jiao"
Teriakan Helena menarik perhatian semua orang di kelas yang awalnya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Helena berjalan dan memeluk Jiao.
"Jiao, aku senang melihatmu lagi. Kau tahu kelas terasa berbeda tanpamu. Apa kau masih sakit? "
Jiao merasakan ketulusan Helena, walau dia hanya menunjukkan wajah datar tapi dia bahagia ada yang mengharapkannya. Mungkinkah ini rasanya memiliki teman.
"Tidak, aku baik-baik saja. Jangan khawatir"
Jiao berjalan ke bangkunya, tatapan matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata cokelat Li Huan Rui yang dingin. Jiao segera mengalihkan pandangannya.
Li Huan Rui berdiri dan membagikan undangan ulang tahun pada teman-temannya dengan bantuan Bao bao. Ada nama di setiap undangan itu dan hampir seluruh siswa mendapat undangan.
"Jiao jiao, apa kau mau pergi denganku?"
"Hei, Jiao akan datang denganku"
"Apa-apaan kalian berdua? Dia akan datang dengan pria tampan seperti ku"
Anak laki-laki membuat keributan berebut siapa yang akan datang bersama Jiao.
"Dia tidak akan datang ke pestaku. Aku tidak mengundang nya ataupun mengharapkan kedatangannya"
Li Huan Rui berteriak. Semua anak laki-laki terdiam sedangkan anak perempuan berteriak senang karena pangeran mereka sudah dengan jelas menolak gadis itu. Helena terkejut dengan pernyataan Rui.
"Henry, kenapa kau..."
"Itu keputusanku"
"Aku tidak akan datang tanpa malaikatku"
Anak laki-laki juga mengajukan keluhan dan protes tentang sikap diskriminasi Li Huan Rui pada Jiao.
"Tidak apa-apa jika kalian ingin datang lagipula aku juga tidak tertarik untuk datang di ulang tahun Li Huan Rui"
"Jiao jiao, ketika ulangtahunku aku akan mengundangmu dan menjadikanmu tamu kehormatan"
Para anak laki-laki berusaha menghibur Jiao. Li Huan Rui mengepalkan tangannya.
'Aku tidak tertarik untuk darang ke pesta Li Huan Rui'
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya, tanpa sadar tangannya mengepal, Li Huan Rui tidak tahu kenapa dia merasa kesal ketika mendengar hal itu. Helena melihat Jiao, dia merasa tak berdaya untuk membelanya, Helena tidak tahu mengapa Li Huan Rui memperlakukan Jiao dengan berbeda.
***
Ketika istirahat ,Helena menarik tangan Jiao dan membawanya ke kantin. Kebetulan hari ini dia tidak membawa bekal. Mereka memesan makanan dan makan bersama.
"Jiao, nanti ayo kita pulang bersama"
"Tapi, papa menjemputku"
"Katakan saja pada papamu bahwa kau pergi bersama ku"
Helena merasa ragu.
"Ayolah, temani aku memilih hadiah untuk Li Huan Rui ya"
Jiao masih ragu-ragu tapi Helena terus memohon padanya. Jiao akhirnya setuju.
Helena memeluk Jiao dengan gemas. Mereka tidak memperhatikan jika dua orang memperhatikan mereka.
"Dua hari tidak melihatnya dia semakin cantik"
"Aku akan menjadikan dia pacarku segera dan aku akan memeluk nya"
"Yufeng"
Seorang gadis mendekatinya dan duduk disampingnya. Tangannya merangkul tangan pria itu.
"Yufeng, ayo kita pulang bersama nanti"
"Aku sibuk, jangan mengangguku bukankah kita sudah putus. Ayo, Xiao yan"
Pria itu menepis tangannya dengan kesal.Gadis itu mendengus kesal melihat pria incarannya pergi.
"Bos tidakkah kau terlalu dingin? Song Hejin kan pacarmu"
"Aku sudah bosan padanya. Awalnya aku pikir dia gadis paling cantik tapi ada yang masih lebih indah darinya"
***
"Henry, aku akan pulang dengan Jiao dan juga bisakah belajar bersama kita hari ini libur?"
"Terserah kau saja"
Li Huan Rui menanggapinya dengan datar. Lalu dia meninggalkan kelas. Helena menarik tangan Jiao.
Mereka berdua naik ke dalam mobil SUV yang menunggu mereka. Jiao selalu gugup saat naik ke mobil mewah. Namun rasa gugup nya hilang karena Helena terus saja mengajaknya bicara.
Mereka berhenti di depan mall.
"Aku tidak tahu hadiah apa yang harus aku berikan pada Henry"
"Bagaimana dengan buku kaligrafi?"
Helena mengerutkan kening.
"Bukankah itu terlalu sederhana? Bagaimana jika sesuatu yang bagus dan mahal. Ah...aku tahu. Ayo"
Helena menarik tangan Jiao. Gadis kecil itu hanya mengikutinya tanpa tahu apa yang dipikirkan Helena. Mereka berdua melewati toko buku, Jiao ingin masuk tapi mengurungkan niatnya.
***
Li Huan Rui pulang belakangan, dia merasa malas untuk pulang, dia memutuskan untuk jalan-jalan. Dia tanpa sengaja melihat seseorang yang berjalan tertatih dengan wajah babak bekur. Tangannya terulur di setiap pohon yang di lewatinya. Li Huan Rui mengenali pria itu.
"Li Huan Rui"
Pria itu berjalan dengan tertatih ke arahnya. Li Huan Rui dengan enggan mendekati nya.
"Apa kau mau aku membawamu ke ruang kesehatan?"
"Bisakah?"
Li Huan Rui mengangguk. Dia memapah pria itu.
__ADS_1
"Li Huanrui, sepertinya pilihan mu tidak mengundang Li Jiao ke pesta adalah benar atau kau melakukannya karena kau tahu kakak kelas Yufeng akan mengacau pestamu jika Jiao datang "
"Apa yang kau katakan? Apa Yufeng yang melakukan ini?"
Li Huan Rui tidak menyukai kakak kelasnya itu. Dia pria sombong dan sok berkuasa. Dia juga tidak segan menggunakan kekerasan. Li Huan Rui tidak ingin berurusan dengannya walaupun pria itu pernah mentangnya tentang kepopuleran karena saat Li Huan Rui masuk ada banyak kakak kelas yang tertarik padanya. Mungkin Li Huan Rui akan terluka jika Helena tidak menolongnya.
"Benar. Kalak kelas Yufeng tahu bahwa aku mendekati Li Jiao dan dia mengancamku untuk tidak mendekati nya. Aku tidak lagi ingin mendekati Li Jiao jika seperti ini"
"Li Jiao? Jadi ini karena gadis itu?"
"Ya. Sepertinya kakak kelas menyukai Li Jiao"
"Bukankah dia sudah bersama Song Heijin?"
"Sepertinya mereka sudah putus"
Li Huan Rui tidak menyangka bahwa gadis itu akan menarik perhatian pria seperti Wang Yufeng.
"Apa yang bagus dari Li Jiao hingga menarik perhatian semua orang"
Li Huan Rui sebenarnya berbicara pada dirinya sendiri tapi teman nya itu mendengar nya.
"Dia cantik, seperti seorang malaikat yang jatuh dari bumi"
"Malaikat? Dia?"
Li Huan Rui tertawa meremehkan.
Pria itu mengerutkan keningnya merasa heran dengan respon yang diberikan Li Huan Rui.
"Kau tidak tertarik pada Li Jiao?"
"Tidak"
"Begitu. Tentu saja kau tidak tertarik karena sudah ada Helena disisimu. Papaku pernah bilang jika sudah memiliki wanita yang disukai dia hanya memandang wanita itulah yang paling cantik dan tidak ada yang bisa menandinginya walau ada kecantikan lainnya"
Li Huan Rui mengerutkan keningnya. Dia juga tidak beranggapan bahwa Helena adalah kecantikan. Namun Li Huan Rui tidak menanggapi apa yang dikatakan temannya itu.
***
Keesokan harinya, Jiao merasa heran karna para siswa di sekolah mengabaikannya saat Jiao menyapa mereka dan Jiao juga heran melihatnya teman sebangkunya sudah ganti tempat duduk dan menjauh darinya. Jiao harus kehilangan teman sebangkunya. Jiao tidak mengerti kenapa teman sebangkunya yang baru takut melihat nya seperti yang terjadi pada bao bao dan pria itu menutupi wajahnya dengan masker dan kaca mata seperti hal yang dilakukan Bao bao sebelumnya.
Tidak hanya Li Jiao yang menyadari keanehan yang terjadi tapi Helena juga. Bisa nya para anak laki-laki akan berisik saat Jiao datang tapi saat ini mereka justru bersikap dingin pada Jiao. Berbeda dari anak laki-laki , saat ini para siswi merasa senang karena para anak laki-laki tidak memperhatikan Jiao lagi.
"Sepertinya pesonanya tidak bertahan lama. Lihatlah, kemarin dia di tolak oleh pangeran dan sekarang dia di tolak oleh semua anak laki-laki"
Jiao hanya diam mengepalkan tangannya mendengar sindiran dan hinaan yang diarahkan padanya. Jiao tidak ingin membuat masalah jika dia melampiaskan kemarahannya dan membuat papanya dalam masalah. Jiao tidak mau menyusahkan papanya. Helena yang mendengar para gadis itu , dia berdiri dan mendekati perkumpulan gadis itu.
"Berani sekali kalian berbicara buruk tentang Jiao. Jika kalian masih berani berbicara buruk , maka aku tidak akan tinggal diam"
Jiao memandang helena yang membelanya. Selama ini tidak ada orang yang membelanya saat orang- orang memandang rendah ke arahnya.
"Kau akan apa? Mengadu pada guru dengan menggunakan statusmu? Helena kau tidak bisa mengancam kami. Kami tidak takut padamu. Jika bukan karena kau dekat dengan pangeran Rui kami tidak akan baik pada gadis bodoh yang hanya mengandalkan uang orang tuanya "
Helena merasa kesal, dia menampar gadis itu dengan keras.
"Kau, beraninya kau melukai wajahku yang cantik"
Gadis itu hendak menampar Helena tapi tangannya di hentikan oleh tangan kecil.
"Kau, beraninya kau menyentuh ku dengan tangan kotormu itu"
Gadis itu menepis tangan Jiao tapi Jiao justru memgenggam tangannya dengan kencang.
"Sia, kau..."
Jiao memandang nya dengan tatapan tajam.
"Jika kau berani menyentuhnya atau berbicara buruk tentang orang lain aku tidak hanya akan mematah tanganmu"
Jiao lalu melepaskan tangannya yang memerah. Gadis itu mulai menangis dan merengek seperti bayi.
"Helena, terima kasih"
Helena yang membeku ketika melihat wajah menyeramkan Jiao mulai pulih ketika mendengar suara Jiao yang sebelumnya dingin menjadi lenbut.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku tidak melakukan apapun. Kau justru yang telah membantuku, jiao aku akan membantumu juga lain kali"
Bel berbunyi, Jiao dan Helena kembali ke tempatnya. Sedangkan gadis yang diamcam Jiao tadi berusaha di tenangkan oleh siswi lain karena sebentar lagi guru yang mengajar adalah guru yang tidak suka melihat anak cengeng.
"Henry, kenapa kau tidak membelaku?"
"Apa aku harus? Lagipula aku tidak ingin berurusan dengan gadis-gadis itu"
Helena menghela nafas kesal menghadapi sikap dingin Li Huan Rui beruntung bahwa Jiao membelanya dan bahkan melindungi nya. Jiao sangat baik , dia tidak tahu kenapa Li Huan Rui membenci nya , tapi Li Huan Rui memang selalu membenci para gadis , setidaknya walau Li Huan Rui dingin dia masih menerima Helena untuk berada di dekatnya.
***
Li Yongfan dan Mo An An sudah bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun Li Huan Rui.
"Oh, dimana Jiao jiao"
"Aku akan memanggilnya"
Mo An An datang ke kamar Jiao. Gadis kecil itu sudah terlelap. Mo An An merasa ragu untuk membangunkannya. Namun bukankah putrinya akan sedih jika dia bangun setelah melewatkan pesta ulang tahun pria yang dia cintai.
"Jiao jiao bangun"
Mo An An menggoyangkan tubuh Jiao. Gadis itu muai perlahan membuka mata.
"Mama"
"Jiao jiao, ayo bersiap. Bukankah hari ini pesta ulangtahun Li Huan Rui"
"Mama, Jiao lelah dan mengantuk. Jiao ingin istirahat"
"Apa kau yakin?"
Jiao mengangguk.
"Baiklah. Istirahat lah. Mama akan mengatur ulang kursusmu agar kau tidak kelelahan"
Jiao mengangguk dengan lemah lalu kembali tidur. Mo An An memberikan kecupan di dahinya lalu mematikan lampu.
Ketika Mo An An keluar, Jiao membuka matanya sebenarnya dia hanya pura-pura tidur karena dia tidak mungkin memberitahu orang tuanya bahwa Li Huan Rui tidak mengundangnya dan tidak ingin dia datang. Dia tidak ingin menciptakan pertengkaran lagi antara papa dan Li Huan Rui. Jiao mengambil jam tangan Li Huan Rui yang dia letakkan di bawah bantal.
__ADS_1
"Li Huanrui, aku akan melakukan apapun agar kau bahagia termasuk untuk tidak melibatkan diriku denganmu