
Bai Xiao membaca laporan keuangan pengeluaran. Bai Xiao tidak mempelajari keuangan sebelumnya dan juga karena impiannya masuk kentaraan dia tidak memiliki waktu mempelajari hal-hal yang dilakukan para nyonya rumah dan juga dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan menjadi nyonya rumah dan masuk di keluarga kelas atas. Saat dia menjalin hubungannya bersama Li Huan Rui saat itu, dia juga tidak mengharapkan untuk menjadi pendampingnya seberapa intim hal yang mereka lakukan posisi nyonya masa depan yang akan menjadi istri Li Huan Rui tetaplah Helena. Bai Xiao tidak pernah mengharapkan untuk menjadi nyonya dalam keluarga kelas atas khususnya setelah kehidupannya hancur dia kehilangan harta berharga seorang wanita, dia juga memiliki anak dari hubungan terlarang jadi sudah tidak ada harapan untuk menjadi nyonya rumah tapi setelah dia kembalinya, mamanya memaksanya untuk membantu melakukan tugas sebagai nyonya rumah jadi dia tahu beberapa hal yang harus dilakukan.
Bai Xiao lalu menutup buku laporan itu. Dia melupakan sesuatu yang penting.
"Kepala pelayan, bisakah aku berkeliling"
"Tentu, nyonya"
Kepala pelayan Su memandu Bai Xiao ke setiap tempat. Kepala pelayan menjelaskan dengan detail. Mereka lalu berada di dapur. Hanya ada beberapa pelayan yang ada di rumah ini. Para pelayan itu menyapa Bai Xiao dengan hormat. Bai Xiao mendekati seorang pria berpakaian koki.
"Apa kau kepala koki?"
"Benar, nyonya"
"Apa kau memiliki buku catatan"
"Ya, Nyonya muda"
Kepala koki itu segera mengambil buku catatannya.
"Tolong tulis apa yang aku katakan. Kau harus memperhatikan ini untuk makanan putriku"
"Baik, Nyonya muda"
Bai Xiao mengatakan makanan yang tidak boleh di sajikan di piring putrinya. Dia juga menjelaskan makanan seperti apa yang harus disiapkan. Kepala koki mencatat dengan detail.
"Apa kau mengerti?"
"Ya, nyonya muda"
"Mulai makan siang kau harus membuat makanan nona muda sesuai dengan apa yang aku beritahu padamu"
"Baik, nyonya"
"Kalian bisa kembali bekerja"
"Baik, nyonya"
Para pelayan dan kepala koki membubarkan diri dan mengerjakan pekerjaannya. Ketua pelayan dan Bai Xiao meninggalkan dapur. Mereka pergi ke taman belakang terdapat bunga Krisan yang memenuhi taman.
"Bunga Krisan?"
"Ya, Nyonya muda. Bunga ini adalah bunga kesukaan nyonya besar. Apa anda ingin mengantinya?"
Kepala pelayan itu ragu-ragu. Bai Xiao mengeleng. Bunga ini pilihan dari nyonya Shen Fengyin bagaimana mungkin dia berani menggantinya.
"Tidak perlu. Rawat bunga ini dengan baik"
"Ya, nyonya"
Bai Xiao dan kepala pelayan selesai berkeliling. Mereka kembali ke ruang utama.
"Mama"
Yimin berjalan ke arahnya.
"Kau sudah bangun?"
"Mama, dimana papa?"
"Dia kembali ke kantor"
"Tidak bisakah papa mengambil cuti?"
"Dia memiliki banyak pekerjaan"
Yimin cemberut.
__ADS_1
"Sayang, apa kau lapar? Ayo kita makan"
"Nyonya, saya akan mengecek ke dapur"
"Baiklah"
Kepala pelayan itu pergi ke dapur untuk meminta mempersiapkan makanan. Kepala pelayan Su lalu meminta Bai Xiao dan Yimin untuk ke ruang makan. Para pelayan melayani mereka dan memberikan makanan khusus untuk Yimin.
"Yimin tidak berselera makan jika tidak ada papa"
Dia ingin makan bersama papanya, alasan dia ingin tinggal bersamanya agar dia bisa menikmati keluarga yang utuh tapi sekarang yang makan siang hanya mama dan dia.
"Yimin, jika kau tidak makan maka kau tidak bisa minum obat dan kau harus dirawat di rumah sakit jika kau melewatkan obatmu. Apa kau ingin di rawat di rumah sakit lagi?"
Yimin mengeleng.
"Kalau begitu kau harus menurut dan makan lalu minum obat"
Yimin dengan enggan menurut. Dia tidak ingin di rawat di rumah sakit lagi.
***
Li Huan Rui memiliki banyak pekerjaan. Dia memiki pertemuan dengan para perwakilan devisi dan dia juga memiliki banyak dokumen untuk di periksa. Li Huan Rui berusaha menyelesaikan pekerjaannya dan pulang tepat waktu agar dia bisa makan malam bersama istri dan putrinya yang menunggunya. Ketika dia mengingat ada orang yang menunggunya, ada kehangatan di dalam hatinya.
Dreet dreet dreet
Li Huan Rui mengalihkan pandandan ke arah ponselnya. Dia menggeser tombol hijau.
"Hallo"
"Hallo, papa. Papa, kenapa papa pergi begitu saja dan tidak datang untuk makan siang bersama Yimin dan mama"
"Maafkan papa, tapi papa masih harus bekerja. Papa janji nanti akan pulang sebelum makan malam"
"Papa janjikan?"
"Kalau begitu sampai jumpa nanti, papa"
***
Saat malam hari. Helena pergi makan malam bersama dengan keluarga Lee. Dia tidak terlalu menyukai pergi makan malam dengan keluarga asing apalagi dia harus duduk disamping pria asing. Tuan Si membicarakan tenang keunggulan putrinya pada keluarga Lee. Ny. Lee juga memuji Helena. Dia merasa senang mendapat menantu yang cantik dan berpendidikan walaupun calon menantunya ini adalah tunangan dari seseorang. Tuan Si lalu beralih membicarakan bisnis dan menanyakan tentang invesrasi yang akan diberikan oleh perusahaan Lee. Helena hanya diam mendengar, dia merasa kesal karena ayahnya memberikannya pada tuan muda ketiga yang lemah hanya untuk kepentingan perusahaan, sepertinya dia tidak lebih penting dari perusahaan.
Makanan malam selesai, tuan Lee meminta Louist untuk mengajak Helena jalan-jalan berdua untuk saling mengenal. Louist mengangguk dan berbicara pada Helena.
"Helena, apa kau mau jalan-jalam denganku?"
"Baiklah"
Helena dan Louist lalu pergi ke taman belakang. Taman belakang di mension keluarga Lee lebih luas dengan bunga-bunga yang indah.
"Nona Helena, saya ingin jujur kepada anda. Saya pernah menikah sebelumnya tanpa di ketahui publik"
"Benarkah?"
"Ya. Tapi pernikahan itu hanya bertahan satu tahun karena saya tidak bisa memuaskannya dan kami juga tidak memiliki anak"
"Anda mungkin juga akan mengalaminya saat menikah dengan saya. Kita mungkin juga tidak akan memiliki anak"
Helena diam, mungkinkah dia harus bersyukur atau senang bahwa suaminya tidak kompeten. Betapa tega ayahnya menikahkannya dengan seorang kasim.
"Tapi, itu tidak penting bukan? Selama perusahaan keluarga anda mendapatkan dukungan dari perusahaan kami, anda akan tetap berada disisi saya bahkan ketika saya sakit anda harus berada disisi saya dan merawat saya..."
"...juga,saat saya sudah tidak adapun anda akan terikat dengan keluarga Lee. Keluarga Lee kami pasti tidak akan membiarkanmu menikah lagi tapi setidaknya anda memiliki banyak uang dari yang saya tinggalkan jadi setidaknya itu cukup untuk menjadi kompensasi untuk menjalani kehidupan yang menyedihkan bersama saya"
Louist memandang Helena dengan tatapan merendahkan dan nada suaranya juga teedengar sedang merendahkannya. Helena hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan Louist. Dia terlalu malas untuk membalas penghinaan Loist padanya.
Setelah berjalan-jalan mereka kembali msuk ke mension. Tuan Si dan Helena lalu pamit.
__ADS_1
Didalam mobil, setelah Helena mengetahui semuanya tentang Louist dia memprotes papanya.
"Papa, apa kau bermaksud memutus garik keturunanku dengan menikahkanku dengan tuan Louist yang tidak akan bisa memberikan keturunan"
"Helena, bukankah hal itu sama saja jika kau tetap bersama dengan Li Huan Rui? Pria itu juga tidak akan menikahimu bukan? Louist Lee lebih baik walau dia seorang kasim setidaknya dia mau menikahimu dan memberikan keuntungan bagi perusahaan"
"Ayah, apa kau merawatku hanya untuk menjualku dan mendapat keuntungan?"
"Kasar sekali bahasamu, kau adalah nona muda di keluarga Si sudah seharusnya kau mengorbankan dirimu untuk kepentingan keluarga, jika kau tidak menyukai ini maka kau bisa tinggalkan keluarga Si"
Helena mengepalkan tangannya menahan kemarahannya. Dia membenci dirinya yang tidak mampu untuk melawan keinginan ayahnya walau dia hanya menjadi pion untuk keuntungan keluarganya. Helena meratapi nasipnya yang begitu buruk terlahir untuk digunakan sebagai umpan untuk mendatkan keuntungan, tunangannya memiliki wanita lain di hatinya dan sekarang dia harus menikahi seorang kasim. Semua orang yang tidak tahu tentang hal yang dialami Helena pasti berpikir begitu menyenangkan menjadi dirinya yang hidup penuh dengan kemewahaan dan kenyamanan tapi kemewahan dan kenyamanan itu harus dibayar dengan melepas kebasannya. Dia tidak bisa memilih apa yang diinginkannya. Jika dia bisa maka dia akan lebih memilih untuk melepas kemewahannya yang dia miliki untuk mendapatkan kebebasan.
***
Li Huan Rui menepati janjinya untuk pulang saat makan malam. Yimin sangat senang saat papanya datang. Keluarga dengan tiga orang itu makan bersama dengan suasana hangat.
"Papa, besok golden week bukan?"
"Ya"
"Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan? Kita belum pernah pergi jalan-jalan sebelumnya. Papa, ayo kita pergi ke kebun binatang besok? Teman-temanku bercerita mereka pergi ke kebun binatang bersama orang tua mereka, Yimin ingin juga melakukannya"
"Baiklah, kita akan pergi kesana besok"
Yimin tersenyum senang. Dia turun dari kursi dan memeluk ayahnya.
"Terima kasih, papa"
Li Huan Rui mengusap lembut rambut Yimin. Bai Xiao memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Dia merasa senang melihat putrinya yang selalu tersenyum bahagia saat bersama Li Huan Rui dan perlakuan lembut Li Huan Rui pada putrinya. Awalnya dia mengira bahwa Li Huan Rui akan memperlakukan putrinya dengan kasar seperti yang dilakukan papanya. Apalagi Li Huan Rui selalu dingin, namun dia tidak menyangka pria itu akan memperlakukan putrinya dengan penuh kehangatan walaupun dia pasti tidak mengharapkan kehadiran Yimin yang lahir dari hubungan terlarang mereka yang hanya untuk kesenangan baginya.
***
Bai Xiao merasa gugup,saat ini dia duduk di tepi tempat tidur. Suara aliran air dari kamar mandi berhenti. Bai Xiao menghela nafas, dia berusaha menenangkan dirinya. Malam ini seharusnya menjadi malam pengantin mereka, apa pria itu akan memaksanya untuk melakukan hal itu. Bai Xiao segera mengeleng, pria itu pasti sudah tidak tertarik lagi, dia tidak sebanding dengan Helena yang memiliki tubuh sexy dan dia juga tidak menginginkan pria yang telah meninggalkannya dan menghancurkan hidupnya untuk menyentuhnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Li Huan Rui sudah merubah pakaiannya menggunakan piyama. Bai Xiao merasa gugup, dia dengan cepat berdiri dan mengambil piyama di almari. Dia lalu melewati Li Huan Rui begitu saja dan masuk ke kamar mandi.
Bai Xiao masih berada di kamar mandi walau dia sudah selesai mengganti pakaiannya. Dia berusaha untuk bersikap tenang. Ketika dia membuka pintu, Li Huan Rui sudah bersandar di tempat tidur membaca sebuah buku.
"Aku akan tidur di kamar Yimin"
"Baiklah"
Li Huan Rui menjawabnya dengan santai dan masih fokus dengan buku yang dia baca. Bai Xiao merasa lega dengan tanggapan Li Huan Rui. Saat dia membuka pintu, dia terkejut saat melihat Yimin berada di depan pintu.
"Yimin, apa yang kau lakukan disini?"
"Mama, Yimin ingin tidur dengan mama dan papa, bolehkan?"
Bai Xiao merasa ragu.
"Biarkan papamu tidur sendiri dengan nyaman, mama akan menemanimu tidur"
"Tidak mau"
Yimin menerobos masuk. Dia langsung mendekati papanya.
"Papa, bolehkah Yimin tidur disini bersama mama dan papa?"
Li Huan Rui meletakkan bukunya di nakas dan memandang putrinya.
"Tentu saja. Tidurlah disini dengan nyaman"
Yimin langsung naik ke tempat tidur dan berbaring disamping papanya.
"Mama, kenapa masih berdiri disana. Apa mama tidak mau tidur?"
"Ah..ya"
__ADS_1
Bai Xiao denga ragu-ragu berjalan mendekati tempat tidur dan tidur disamping putrinya. Yimin tersenyum senang melihat dia berada ditengah antara ibu dan papanya. Bai Xiao meraih salah satu lengan ayah dan ibunya dan meletakkannya di berutnya seperti memeluknya. Yimin memejamkan matanya dan mulai tertidur. Li Huan Rui meraih menyentuh tangan Bai Xiao. Wanita yang hampir tertidur itu tersentak kaget saat merasakan tangan yang hangat itu. Dia mencoba menjauh tapi dia takut untuk membangunkan Yimin. Dia mencoba tidur. Li Huan Rui masih belum tidur, dia terbangun dan mencium kening putrinya lalu memandang istrinya yang sudah terlelap. Walapun cahaya samar-samar tap dia masih bisa melihat kecantikan istrinya. Tidak cukup baginya untuk hanya merasakan tangannya yang lembut. Dia ingin memeluknya, menciumnya dan menyentuhnya tapi dia tidak ingin menbangkitkan rasa sakit akibat kejadian masa lalu. Li Huan Rui tidak ingin memberikan luka pada istrinya yang akan membuat istrinya semakin memnencinya. Li Huan Rui menghela nafas berusaha untuk membuang pikiran tentang seberapa menggoda istrinya. Dia memaksakan diri untuk tidur dan hanya bisa puas dengan menyentuh tangan istrinya. Walaupun dia harus menahan kesulitan untuk menahan tubuhnya