
Salju mulai turun, udara di B city semakin dingin tapi seorang gadis kecil dengan kaos pendek masih berdiri di luar. Dia meletakkan tangan kecilnya di perutnya yang terus berbunyi.
Gadis kecil itu berjalan menyusuri jalanan. Dia berhenti ketika berada di sebuah kedai dimana para keluarga menikmati makan mereka.
Gandis kecil itu mengambil uang dari saku celananya, hanya ada beberapa koin dan uang kertas. Dia mengelengkan kepalanya lalu memasukkan kembali uang dalam sakunya.
Dia menghampiri orang-orang yang lewat dan meminta belas kasihan mereka untuk memberinya uang, gadis kecil itu tentu saja banyak menarik simpati dari orang-orang, mereka berbaik hati membagi uang mereka karena hari ini adalah hari natal. Namun ada juga orang yang justru bersikap dingin dan memandang rendah padanya. Gadis kecil itu tidak peduli, walau yang didapat tidak serapa tapi hal itu lebih baik daripada mencuri. Setelah ditolong pangerannya dia tidak ingin lagi mencuri dia bahkan rela di pukuli ayahnya karena tidak mendapat banyak uang.
"Hei"
Suara seorang gadis dengan aksen yang berbeda dengan orang-orang B city menyapa gadis kecil itu.
Gadis kecil itu memandang ke arah gadis berkulit putih berambut pirang yang tersenyum padanya.
"Hei, kau gadis kue kukus itu ya? Ah...kita bertemu lagi"
Gadis kecil itu hanya diam memandang gadis yang pernah menolongnya. Gadis itu membuka jaketnya dan memberikannya pada gadis kecil itu.
"Diluar dingin"
Dia memakaikan jaket itu. Gadis kecil itu hendak memolak tapi Helena memaksanya.
"Jangan menolak bantuanku. Kau tahu, hari ini malam natal, aku ingin melakukan hal baik di hari baik"
Helena juga memberikan tas kecil berisi kue.
"Nenekku memberiku terlalu banyak kue kukus. Aku tidak menyukainya jadi ambillah"
"Tapi, aku..."
Dia meraih tangan gadis kecil.
"Ambil saja. Oh ya, namaku Helena, namamu siapa?"
"Helena"
Gadis kecil itu belum sempat menjawab ketika ponsel Helena berdering. Dia tahu siapa penelpon itu tanpa harus mengambil ponselnya.
"Aku harus kembali , bye bye"
Helena melambaikan tangan. Gadis kecil itu memandangnya. Ini sudah kedua kalinya malaikat penolongnya membantunya.
"Terima kasih, nona Helena"
Dia tahu malaikat penolongnya tidak akan mendengar tapi dia masih ingin mengucapkan terima kasih.
***
Disisi lain, sebuah villa dua pasang suami istri dan seorang anak laki-laki makan malam bersama dengan suasana hangat. Mereka menikmati makanan mewah dan sesekali saling mengobrol. Pria kecil juga sesekali menanggapi pembicaraan kedua ayahnya. Namun seorang wanita hanya diam, matanya menunjukkan kecemasan. Namun dia masih menunjukkan senyuman dan bersikap baik-baik saja.
Setelah makan malam, dua orang wanita mengobrol di taman belakang.
"Apa kau mencemaskan sesuatu?"
Shen Fengyin memecah keheningan diantara mereka.
"Tidak"
"An, aku sudah mengenalmu sejak kecil dan kita dekat seperti saudara. Kau tidak bisa menutupi apapun dariku"
Mo An An menghela nafas, dia tahu dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya.
"Aku mengkhatirkan putriku. Setiap hari aku selalu memiliki mimpi buruk tentang putriku. Walaupun aku berusaha meyakinkan diriku bahwa semua hanya mimpi dan Bai Yuchen adalah ayah kandungnya bagaimanapun dia pasti akan merawat putrinya dengan baik hanya saja ada perasaan gelisah dalam hatiku"
"Aku mencoba meminta seseorang untuk melacak keberadaan Bai Yuchen dan putraku tapi tidak ada hasil apapun. Sepertinya Li Yongfan berusaha menghalangi pencarianku. Dia tidak ingin aku terlibat lagi dengan Bai Yuchen ataupun putriku"
Shen Fengyin hanya diam mendengar masalah yang dihadapi sahabatnya.
"Fengyin, bisakah kau membantuku? Bantu aku menemukan putriku"
Mo An An mengenggam tangan sahabatnya dan memohon bantuan. Shen Fengyin tahu bagaimana perasaannya.
"Aku akan membantumu. Aku akan mencari orang terbaik untuk mencari putrimu"
"Terima kasih"
"Siapa nama putrimu?"
"Istriku"
Li Yongfan datang dan menganggu pembicaraan kedua wanita itu. Wajah Mo An An menjadi pucat,dia takut Li Yongfan mendengar pembicaraannya dan Shen Fengyin tentang putrinya.
"Istriku, hari sudah larut. Ayo kita pulang"
"Baiklah"
Mo An An berjalan di samping Li Yongfan. Shen Fengyin dapat melihat ekspresi berbeda yang ditunjukkan oleh Li Yongfan.
Li Huan Rui memberikan pelukan pada papa Fan nya sebelum pria itu pergi.
"Papa Fan, tidak bisakah papa fan menginap"
"Maaf,Rui kecil. Papa tidak bisa. Nikmati hari natalmu bersama ayah kandungmu"
Li Yongfan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Li Huan Rui menujukkan ekspresi cemburu.
"Sudahlah, putra kecilku. Bukankah sekarang ada papa yang menemamimu. Apa kau lebih suka papa Fan dibandingkan papamu ini"
"Bukan seperti itu papa. Tentu saja papa yang paling Rui sayangi"
Li YongSheng menggendong putranya lalu membawanya masuk.
***
Di dalam mobil Li Yongfan dan Mo An An berdebat.
"Tidak perlu berusaha keras mencari anak itu lagi dan lebih baik kau tidak memikirkan tentangnya"
"Jika kau ingin memiliki anak kita bisa mengadopsi seorang anak dari panti asuhan"
"Aku memiliki anak kandungku kenapa aku harus merawat anak orang lain. Li Yongfan, kita bisa membawa putriku dan merawatnya..."
"Tidak. Lebih baik aku merawat anak dari panti asuhan daripada anak dari hasil pengkhianatanmu "
"Li Yongfan"
"Aku tidak ingin berdebat. Jika kau masih bersikeras aku bisa saja melenyapkan anak itu dan Bai Yuchen"
Mo An An terdiam. Li Yongfan bukanlah orang hanya dengan kata saja. Dia tidak peduli dengan Bai Yuchen tapi dia khawatir dengan keselamatan putrinya.
***
Setelah sarapan, Li Huan Rui membuka kado natal. Li Huan Rui mengeluarkan sepatu dari kotak. Sepatu itu adalah pengeluaran terbaru.
"Apa kau menyukai hadiah dari mama?"
"Ya. Terima kasih mama"
Li Huan Rui lalu beralih ke hadiah yang diberikan papanya. Dia membuka nya. Dia terkejut melihat dvd game series yang bahkan belum di rilis.
"Papa, bagaimana papa bisa mendapatkannya? Game ini bahkan baru di rilis bulan depan"
"Papa memgenal pembuatnya jadi tidak sulit untuk mendapatkannya"
"Terima kasih, papa"
Li Huan Rui lalu mengambil kotak kado berukuran kecil dan memberikannya pada Li YongSheng.
"Papa, ini hadiah dari mama dan Rui"
__ADS_1
Li YongSheng membukanya. Dia mengeluarkan jam tangan dari kotak.
"Papa, apa papa suka?"
"Ya, papa suka. Terima kasih"
"Oh ya, papa. Jam itu dipilih oleh mama spesial untuk papa"
"Terima kasih istriku"
Li YongSheng tersenyum ke arah Shen Fengyin.
"Ruilah yang memilihnya bukan aku"
"Sudahlah mama. Tidak perlu malu"
"Sudahlah"
Li Huan Rui berhenti menggoda Shen Fengyin saat mendengar nada suara Shen Fengyin yang berubah menjadi dingin.
"Baiklah, mama jangan marah. Mama, ini hadiah untuk mama"
Li Huan Rui memberikan kado natalnya. Shen Fengyin membukanya. Shen Fengyin mengenali bahwa tas itu berharga mahal, dia juga tahu bahwa tas itu persediaannya terbaras. Dia tidak menyangka mendapatkan tas mahal ini dari putranya dan tas ini dibayar dengan kartu Li YongSheng.
"Terima kasih"
Shen Fengyin tersenyum pada putranya.
"Istriku, aku juga memiliki hadiah untukmu"
"Kau tidak perlu menyiapkan hadiah khusus untukku"
"Aku sudah berencana memberikan hadiah natal sebelumnya. Tolong terima ini"
Li YongSheng mengulurkan kotak kecil. Shen Fengyin dengan ragu menerimanya. Shen Fengyin membukanya-sebuah kalung dengan batu rubi yang menghiasinya. Dia tahu kalung ini di disain. Dia merasa suami dan anaknya memberikan hadiah yang terlalu berlebihan untuknya.
"Terima kasih"
"Aku akan memakaikannya"
Li YongSheng mengambil kalung itu dari tangan Shen Fengyin dan memasangkannya di lehernya yang putih.
"Kalungnya terlihat cocok untukmu, istriku"
Li YongSheng berbisik di telinga Shen Fengyin. Wanita itu tidak mengatakan apapun.
"Ayah, sekarang saatnya makan kue kan?"
"Ya, kau benar. Ayah akan bawa kuenya"
Li YongSheng pergi ke dapur, tidak lama dia kembali ke ruang keluarga dan membawakan kue tart yang dihiasi strawberry. Li Huan Rui tersenyum senang, dia bahkan tidak bisa menahan diri untuk mengambil kue.
"Sangat enak"
Li Huan Rui tidak menyadari bibirnya yang belepotan karena krim. Li YongSheng mengambil tisu dan membersihkannya. Li Huan Rui tersenyum malu.
"Terima kasih, papa"
"Istri, cobalah"
"Aku tidak suka manis?"
Li YongSheng tidak peduli dengan penolakan istrinya. Dia mengulurkan sepotong kue itu di di depan bibir wanita itu.
"Tidak, aku..."
"Haruskah aku menggunakan bibirku untuk membuatmu membuka mulut dan memakannya?"
Li YongSheng berbisik di telinga Shen Fengyin.
"Jangan menggodaku"
Shen Fengyin membuka mulutnya dan membiarkan Li YongSheng memasukkan kue.
Shen Fengyin mengangguk pelan.
"Akan lebih baik jika ada ice cream"
"Rui, hari ini sangat dingin dan kau masih ingin makan es cream?"
"Biasanya aku juga seperti itu"
"Tidak ada ice cream"
"Apa? Papa, Rui ingin ice cream"
"Kau bisa sakit jika makan terlalu banyak ice cream"
Ayah dan anak saling berdebat dan tentu saja setelah debat berkepanjangan Li YongSheng akan berakhir dengan mengalah. Pria itu akhirnya membawa ice cream dan Li Huan Rui lansung melahap ice creamnya dan memaksa Li YongSheng ikut makan. Walaupun pria itu menolak namun pada akhirnya ikut makan. Li YongSheng tidak pernah bisa menolak permintaan putranya. Shen Fengyin tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu. Dia melihat senyum lebar Li Huan Rui, terlihat jelas bahwa pria kecil itu sangat bahagia. Shen Fengyin merasakan kehangatan keluarga. Dia harap keluarga nya akan bahagia seperti ini seterusnya. Namun dia tidak tahu selain dia merasa kecemasan saat ini.
***
"Kau akan pergi besok?"
Li YongSheng mengangguk.
"Kenapa? Apa istriku tidak ingin aku pergi? Apa kau tidak akan bisa menahan diri untuk merindukan suamimu ini?"
Li YongSheng menggoda Shen Fengyin. Wanita itu hanya diam menatapnya lalu mengalihkan pandangannya.
"Bukan seperti itu. Rui pasti akan sedih"
"Aku sudah bicara dengan Rui kecil. Dia sudah mengerti. Tidak perlu khawatir"
Li YongSheng melengkarkan tangannya di pinggang Shen Fengyin, sepertinya memeluk tubuh istrinya sudah menjadi kebiasaan untuknya begitu pula dengan Shen Fengyin.
"Tidurlah istriku. Aku mencintaimu"
Shen Fengyin hanya diam. Lalu perlahan menutup matanya.
'Aku juga mencintaimu'
Dia hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Dia masih ragu untuk mengungkapkan secara langsung.
Keesokan harinya, Shen Fengyin dan Li Huan Rui mengantar Li YongSheng ke Bandara. Li YongSheng memberikan pelukan pada putra kecilnya dan mencium keningnya.
"Papa akan membelikan oleh-oleh. Jangan sedih, papa tidak akan lama"
Li Huan Rui mengangguk. Li YongSheng berdiri di depan Shen Fengyin. Dia meraih tangan wanita itu.
"Jaga dirimu"
Shen Fengyin mengangguk. Li YongSheng membungkuk lalu menciun kening Shen Fengyin.
"Sampai jumpa"
Li YongSheng lalu berjalan menjauh dari mereka. Shen Fengyin mengajak Li Huan Rui pulang. Pria kecil yang masih menunjukkan kesedihan hanya mengangguk sebagai jawaban.
***
Pesawat A A jurusan penerbangan ke jepang jatuh ke lautan. Shen Fengyin yang melihat berita tentang itu menjadi linglung. Pesawat itu adalah pesawat yang digunakan Li YongSheng.
"Mama, papa baik-baik saja bukan?"
Li Huan Rui memanggil-manggil mamanya yang tidak segera menjawab nya. Shen Fengyin memandang putranya. Dia mengangguk pelan.
"Ya"
Shen Fengyin berusaha meyakinkan putranya dan juga dirinya.
__ADS_1
"Papamu pasti selamat"
Saat ini petugas sedang melakukan pencarian korban dan melakukan penyelidikan. Hanya ada beberapa nama yang berhasil diidentifikasi namun tidak ada nama Li YongSheng. Shen Fengyin berharap pria itu tidak menjadi salah satu korban, jikapun terjadi walau mungkin kondisi tubuhnya tidak baik, asalkan dia masih hidup, itu lebih baik.
2 hari telah berlalu, Shen Fengyin pergi ke bandara untuk mencari tahu hasil dari pencarian. Disana juga sudah ada banyak orang. Beberapa korban yang meninggal masih sulit diidentifikasi karena luka parah disebabkan oleh ledakan. Shen Fengyin melihat putranya yang memaksa untuk ikut.
"Sayang tenang saja, tidak ada yang diidentifikasi sebagai papamu. Papamu pasti selamat"
"Ya. Rui akan percaya itu"
Shen Fengyin berusaha bersikap tegar di depan putra nya. Walaupun kekhawatiran melanda hatinya.
Hari ke 3 setelah kecelakaan, Shen Fengyin masih mengikuti berita tentang kecelakaan pesawat. Dia membaca artikel berita dan melihat data korban.
"Li YongSheng, dimanapun kau. Aku harap kau selamat. Bukankah kau berjanji akan kembali jadi tepati janjimu"
"Aku...aku belum mengatakan perasanku padamu, tidakkah kau ingin tahu apa kau berhasil mendapat kan hatiku?"
Shen Fengyin masih berusaha menahan air matanya. Dia menyusuri daftar para korban meminggal, dan ketika matanya tertuju pada sebuah nama, dia merasa kosong.
Panggilan telpon tiba-tiba masuk, dengan linglung Shen Fengyin menjawab telpon yang memintanya untuk ke rumah sakit.
Shen Fengyin pergi ke rumah sakit tanpa putranya. Dia sengaja menitipkan putranya pada Mo An An dan Li Yongfan. Shen Fengyin tiba di ruang otopsi, seseorang yang ditugaskannya mendekatinya dan memintanya mengikutinya. Shen Fengyin terkejut melihat sosok yang terbaring di tempat tidur, wajah tampan pria itu menjadi pucat.
"Tidak...ini tidak mungkin"
Air mata yang selama 3 hari dia tahan perlahan tumpah. Tubuhnya gemtar.
"Suamiku, bangunlah. Rui menunggumu dan aku juga"
"Suamiku, aku mencintaimu. Jadi buka matamu dan peluk aku. Aku merindukanmu, aku merindukan saat kau memelukku setiap malam"
Shen Fengyin tidak ingin dia pergi, dia tidak ingin kehilangannya. Sudah cukup dia kehilangan kakek yang menyayanginya. Dia tidak ingin kehilangan pria yang dicintainya juga. Apalagi dia belum mengatakan perasaannya yang sesungguhnya.
"Suamiku, aku mohon jangan tinggalkan aku dan Rui. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu"
Dia sangat mencintainya, bahkam ketika dia berusaha keras untuk tidak mencintainya. Dia tidak pernah membayangkan hal ini akan teradi. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia tidak akan ada dalam kehidupannya.
Kesedihan yang mendalam membuat kepalanya pusing dan akhirnya semuanya gelap.
***
"Fengyin...Fengyin"
Shen Fengyin membuka matanya. Pandangan pertama yang dia lihat saat membuka matanya adalah wajah seorang pria yang menatapnya dengan tatapan khawatir.
Shen Fengyin langsung memeluk pria itu. Pria itu terkejut seseaat tapi akhirnya membalas pelukannya.
"Apa kau memiliki minpi buruk? "
"Li YongSheng, jangan tinggalkan aku"
"Aku tidak ingin kehilanganmu"
Li YongSheng mengerutkan keningnya lalu tersenyum.
"Istriku, aku hanya pergi selama sehari dan kau sudah merindukanku seperti ini?"
"Pergi sehari?"
Shen Fengyin mencoba mencernanya. Dia melepaskan pelukannya.
"Bukankah kau melakukan penerbangan ke jepang?"
"Ya, tapi aku membatalkannya karena pihak perusahaan justru datang ke B city"
Shen Fengyin terdiam, wajahnya masih pucat dan berkeringat. Dia memandang ke sekitar, saat ini dia berada di meja ruang kerjanya.
'Mungkinkah semua hanya mimpi?'
Li YongSheng memperhatikan wajah istrinya yang pucat dan penuh keringat. Dia juga melihat istrinya menanis dalam tidurnya.
"Istri, ada apa? Apa kau mimpi buruk?"
Shen Fengyin mengangguk.
"Tidak usah terlalu di pikirkan. Aku ada disini"
Li YongSheng menarik Shen Fengyin dalam pelukannya. Shen Fengyin merasa tenang berada di pelukan hangat suaminya.
"Aku mencintaimu, Li YongSheng"
Li YongSheng terkejut dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba ini.
"Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Fengyin"
Li YongSheng tersenyum dan mempererat pelukannya.
***
"Apa perlu melakukan hal itu? Bagaimana pun kita susah menikah"
"Tentu saja, tapi aku ingin mewujudkan impianmu. Bukankah kau ingin menggunakan gaun pengantin yang indah dan berjalan bersamaku di altar mengucapkan janji suci pernikahan"
"Itu hanya impian masa kecilku. Aku tidak peduli dengan hal itu lagi"
"Tapi, aku ingin mewujudkan mimpimu itu dan ini juga impianku. Aku ingin kita mengucapkan sumpah dan berjalan di altar bersamamu"
"Tapi, keadaanku yang seperti ini. Apa kau tidak malu?"
"Kenapa harus malu? Istriku cantik. Semua orang pasti akan iri padaku "
"Tapi, aku..."
"Sudahlah, Fengyin. Kenapa seorang Shen Fengyin menjadi tidak percaya diri seperti ini? Sekarang, kau hanya perlu mengukur pakaian ok"
Li YongSheng menemui seorang disainer. Asisten disainer itu meminta Shen Fengyin mengikutinya dan memilih beberapa gaun.
***
Shen Fengyin tidak menginginka n pernikahan mewah. Bagaimanapun ini bukan pernikahan pertamanya. Li YongSheng dengan enggan menurut. Waktu persiapan mereka tidak terlalu lama walaupun seharusnya pembutan gaun mewah membutuhkan waktu lama tapi entah bagaimana dalam sebulan gaun mewah itu telah selesai. Ny. Nian dan James Nian juga sudah kembali ke B city. Namun James Nian juga membawa seorang wanita yang diperkenalkannya sebagai istri. Siapa sangka bahwa istru James Nian adalah Jenny Shen yang kini sedang hamil. Shen Fengyin tidak tahu bagaimana mereka bisa dekat. Namun dia cukup senang untuk sepupu nya walau dia tidak menceritakan pernikahannya dengan James Nian
Hari pernikahan tiba, James Nian menjadi pengiringnya. Ny. Nian tersenyum melihat kecantikan putrinya. Li YongSheng juga tersenyum ketika James Nian menyerahkan Shen Fengyin padanya.
"Kau sangat cantik, Fengyin"
Shen Fengyin menyembunyukan senyuman dibalik tudung pengantin. Mereka berdua berhadapan dengan pendeta. Li YongSheng mengucapkan janji dengan penuh keyakinan dan memandang ke arah Shen Fengyin. Shen Fengyin juga mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Dia tidak menyangka pada akhirnya impian masa kecilnya bisa terwujud. Mereka mengakhiri upacara pernikahan dengan berbagi ciuman.
Li Huan Rui memutup matanya dengan satu tangan dan tangan yang lain menutup mata Helena.
"Henry, kenapa kau memutup mataku"
"Anak kecil tidak boleh melihat, mengerti?"
Helena cemberut lalu memcium pipi Li Huan Rui.
"Aku tidak sabar menunggu ketika kita dewasa lalu aku akan menjadi wanita paling cantik dan mengucap janji suci pernikahan bersama Henry. Lalu kita akan menjadi pasangan"
"Jangan terlalu banyak berhayal. Siapa juga yang mau menikahimu"
"Tentu saja, Henry"
"Tidak akan"
Helena hanya tertawa kecil melihat Henry-nya yang menunjukkan mode cool
**End?
__ADS_1
A/N : kisahnya Shen Fengyin-Li YongSheng udah berakhir bahagia. Berikutnya mungkin akan fokus dengan
kisah pasangan Mo An An Li Yongfan dan juga kisahnya gadis kecil. Mungkinkah ada yang sudah menebak bahwa gadis kecil yang di tolong Li Huan Rui sama dengan gadis yang dipukuli oleh ayahnya dan juga apakah penderitaan gadis kecil itu akan berakhir jika Mungkin bertemu dengan ibunya? Lalu bagaimana hubungan Li Yongfan dan Mo An An nanti jika Mo An An akhirnya bertemu dengan putrinya dan juga Mungkin kah di masa depan Li Huan Rui dan Helena akan bersama**?