
Li Huan Rui merasa panas diseluruh tubuhnya, apa yang terjadi padanya. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Dia tidak minum banyak anggur tapi kenapa dia merasa hal ini.
"Henry, ada apa? Wajahmu merah?"
Li Huan Rui merasa dingin ketika Helena menyentuhnya. Ada perasaan aneh di dalam tubuhnya, tidak dia tidak boleh terlarut dalam perasaan ini. Dia menepis tangan Helena.
"Maafkan aku Helena, aku lelah. Aku tidur duluan"
Li Huan Rui hendak berdiri tapi Helena menahannya dan memeluknya.
"Henry, tidak apa-apa jika kau menyentuhku. Aku tunanganmu. Aku..."
"Helena, aku tidak ingin menghancurkan hidupmu. Kau adalah teman berhargaku"
Li Huan Rui mendorong pelukan Helena.
"Henry, apa aku tidak menarik sebagai seorang wanita. Aku tunanganmu kenapa kau tidak menginginkanku. Aku tidak masalah jika kau menjadikanku pelampiasan"
Li Huan Rui terdiam.
"Maaf, Helena"
Li Huan Rui menuju ke kamarnya. Dia segera pergi ke kamar mandi dan mandi air dingin untuk mengurangi rasa panas dan ketidak nyamanan di tubuhnya. Dia tahu lebih mudah baginya untuk mencari pelampiasan, dia bisa menerima permintaan Helena atau pergi keluar untuk mencari wanita lain sebagai pelampiasan tapi dia tidak ingin melakukannya. Dia tidak ingin menyentuh wanita lain selain Li Jiao.
***
Li Huan Rui mengalami demam tinggi karena terlalu lama mandi air dingin apalagi saat ini suhu udara cukup rendah.
Helena mengompres dahi Li Huan Rui. Dia merasa bersalah karena membuat Li Huan Rui sakit.
"Jiao...jiao"
Helena memandang Li Huan Rui dengan sedih.
"Helena"
Helena menoleh dan menyapa Shen Fengyin.
"Bibi"
Shen Fengyin mendorong kursi rodanya mendekati tempat tidur Li Huan Rui. Dia mendengar nama yang digumahkan Li Huan Rui dalam alam tidak sadarnya. Shen Fengyin menghela nafas. Dia menoleh ke arah Helena. Walaupun Shen Fengyin awalnya tidak menyukai menantunya ini karena berpikir bahwa dia hanya digunakan untuk kepentingan bisnis tapi dia juga merasa kasihan untuknya.
"Anak ini pasti dia bekerja terlalu keras hingga mengalami demam seperti ini"
Shen Fengyin memecah keheningan. Helena hanya diam, tidak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa Li Huan Rui demam karena mandi air dingin.
"Apa dokter sudah memeriksanya?" .
"Ya , bibi. Dokter sudah memberikan suntikan. Mungkin sebentar lagi Henry bangun"
"Begitu. Jagalah dia dan jangan biarkan dia bekerja sebelum sembuh. Aku harus kembali ke kantor"
"Baiklah bibi"
Shen Fengyin lalu meninggalkan kamar putranya. Dia ingin merawatnya tapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
***
"Li Jiao"
Li Huan Rui meraih tangan wanita cantik itu.
"Li Jiao, bawa aku bersamamu"
Wanita itu melepas tangannya. Wajah tanpa ekspresi itu memandang ke arahnya.
"Kau sudah bersama Helena untuk apa menahanku"
"Jiao"
"Aku sudah bahagia berada jauh darimu"
Li Jiao melangkah pergi.
"Li Jiao"
Dia ingin meraihnya tapi bayanganya terlalu jauh. Secara perlahan bayangan itu menghilang.
***
Li Huan Rui secara perlahan membuka matanya.
"Henry, kau sudah bangun"
Helena tersenyum cerah.
"Apa yang terjadi?"
"Kau demam. Aku sudah membuat bubur untukmu, makanlah lalu minum obat"
Li Huan Rui ingin menolaknya tapi melihat tatapan khawatir Helena dia dengan enggan membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapkan padanya.
"Sekarang minum obat"
"Tidak"
"Henry, kau harus minum obat untuk sembuh"
"Tidak. Jangan khawatir. Aku tidak selemah itu"
Li Huan Rui justru berharap bahwa penyakitnya semakin parah sehingga dia bisa menyusul Li Jiao dan bertemu dengannya di kehidupan kedua mereka.
"Aku harus kembali bekerja"
"Tidak, Henry. Kau masih sakit. Bibi Yin bilang kau harus istirahat sampai kau pulih"
"Tidak"
Li Huan Rui tidak peduli. Dia bangun dan menuju ke kamar mandi.
"Tunggu, aku akan siapkan air hangat"
"Tidak perlu"
Suara Li Huan Rui terdengar dingin. Dia lalu meninggalkan kamar dan pergi ke ruang kerjanya.
__ADS_1
***
Seorang wanita memandang seorang wanita yang terlihat seperti berusia 30 an. Wanita itu-Bai Xiao mendekati wanita itu yang sudah selesai berdoa.
"Hallo, nyonya"
Bai Xiao menyapanya, dia sering melihat wanita itu mengunjungi kuil. wanita itu menangis. Bai Xiao mendekatinya, Bai Xiao mengajaknya mengobrol dan wanita itu menceritakan masalahnya tentang anaknya yang memiliki penyakit leukimia. Wanita itu sering datang dan menceritakan hal yang diresahkannya.
"Bai Xiao, kau tahu. Putriku dia akhirnya mendapatkan sumsum tulang yang cocok untuknya. Hari ini dia melakukan operasi. Aku agak khawatir karena dia masih sangat muda"
"Saya yakin tuhan akan melindungi putrimu"
"Ya. Aku tahu itu. Lain kali aku akan membawa putriku untuk menemuimu "
Bai Xiao mengangguk.
"Semoga putrimu juga diberikan kesehatan"
Bai Xiao tidak mengatakan apapun.
"Aku harap juga begitu"
***
"Li Huan Rui"
Li Huan Rui terkejut ketika mamanya tiba-tiba masuk ke ruangannya. Namun Li Huan Rui mengabaikan ibunya.
"Apa yang kau lakukan? Bukankah seharusnya kau beristirahat? Bagaimana jika demammu bertambah parah?"
"Mama, aku baik-baik saja. Bukankah seorang pemimpin tidak boleh terlihat lemah"
Li Huan Rui hanya menanggapinya dengan dingin.
"Ya, tapi kau tidak harus menyiksa dirimu sendiri seperti ini"
"Mama, aku baik-baik saja"
"Wajah mu pucat seperti itu, kau kasih mengatakan bahwa kau baik-baik saja?"
"Huan rui, hanya kau satu-satunya putraku. Kesehatan mu lebih penting daripada bisnis. Mama bisa kehilangan perusahaan Shen tapi mama tidak ingin sesuatu terjadi padamu"
Shen Fengyin masih berusaha menyembunyikan ekspresi dan emosinya tapi nada suaranya terdengar kecemasan. Li Huan Rui menghela nafas saat melihat emosi yang tersenyum dari mata ibunya.
"Baiklah, aku akan istirahat"
"Baguslah"
Li Huan Rui menutup dokumennya.
"Mama akan mengambil alih pekerjaanmu sementara jadi Jangan khawatir"
"Ya, aku mengerti. Mama juga jangan terlalu berat bekerja"
"Ya"
Li Huan Rui melangkah pergi.
"Huanrui, Helena dia wanita yang baik. Lupakan Li Jiao. Jalani hidupmu..."
Li Huan Rui lalu menutup pintu. Shen Fengyin menghela nafas, dia tidak menyangka perasaan Li Huan Rui pada Li Jiao begitu dalam. Dia tidak ingin putranya menderita karena cinta yang bahkan tidak bisa dimilikinya. Dia ingin putranya bahagia dengan seseorang yang mencintainya lebih dari putranya mencintainya.
***
"Henry"
Helena yang baru saja hendak ke ruangan Li Huan Rui, dia terkejut karena bertemu pria itu. Li Huan Rui melewati Helena.
"Lain kali jangan memberi tahu ibuku"
Suara Li Huan Rui begitu dingin. Lalu dia meninggalkan Helena begitu saja.
***
Helena pergi ke PUB, dia ingin setidaknya sedikit melupakan masalahnya. Dia mungkin saja tidak akan mengalami kebebasan ini lagi jika Li Huan Rui membatalkan pertunangan ataupun ayahnya yang tidak sabar mungkin akan segera memaksa putusnya pertunangannya dan memaksanya menikah dengan orang lain. Andai jika dia bisa memilih, dia ingin hidup sebagai wanita biasa dan dapat memilih pilihannya sendiri.
Dia duduk sendirian ditemani sebotol anggur. Dia menghela nafas dan melihat sekeliling. Pandangannya terarah pada seorang pria tampan dengan postur tinggi dan tegas. Pria itu terlihat bosan dan mengalihkan padangan dari para wanita yang bergelayut di lengannya. tatapan matanya bertemu dengan mata cokelat madu milik Helena. Pria itu mengedipkan matanya pada Helena. Helena bergidik ngeri dan mengalihkan pandangannya.
Pria itu tersenyum melihat reaksi wanita cantik bersurai hitam yang duduk sendiri an.
"Maaf, tapi aku tidak akan menghabiskan malam dengan wanita yang sama"
Li Huan Rui berjalan mendekati wanita itu.
"Hallo, nona cantik. Bolehkah saya menemani anda"
Helena tertawa kecil. Pria itu mengerutkan keningnya, merasa heran kenapa wanita itu tertawa.
"Ini pertama kalinya kau bicara manis dan sopan padaku, kakak kelas Wang Yufeng"
Pria itu- Wang Yufeng terdiam. Dia kembali memandang gadis itu lagi.
"Oh, si pirang manja. Ada apa dengan rambutmu? Kemana rambut pirang mu itu?"
"Aku memawarnainya dan jangan memanggil ku si pirang manja lagi"
"Baiklah, harus kah aku memanggilmu Ny. Li"
"Aku belum menikah dengan Li Huan Rui dan bahkan aku tidak yakin apa aku akan menjadi nyonya Li"
Helena meminum wine untuk meredakan perasaan sedihnya.
"Kalian sudah bertunangan selama 8 tahun lebih dan bukankah hubunganmu dan Li Huan Rui baik-baik saja"
"Dimata publik memang seperti itu tapi hal yang sebenarnya berbeda"
Wang Yufeng terdiam ketika dia melihat mata Helena yang mulai berkaca-kaca tapi wanita itu segera menghapus air matanya. Dia harus manunjukkan sisi wanita yang kuat.
"Kakak kelas Wang..."
"Tidak perlu memanggil dengan sebutan kakak kelas. Kau bukan adik kelasku lagi"
"Ya, kau benar"
"Bagaimana jika aku menyebutmu brother Yufeng"
__ADS_1
Wang Yufeng terdiam mendengar panggilan itu. Helena menyadari sesuatu.
"Maaf, ini panggilan khusus yang hanya di lakukan Li Jiao bukan? Aku tidak akan menggunakannya"
"Tidak apa-apa, panggilan itu tidak terlalu special Adikku juga memanggilku seperti itu"
Wang Yufeng mengucapkannya dengan santai. Helena hanya mengangguk.
"Kau tahu, aku tidak menyangka pria seperti mu yang begitu keras mengejar Jiao bahkan memukul anak lelaki yang berusaha mendekati Jiao kini justru terlihat baik-baik saja dan bermain-main dengan para wanita dengan mudah"
"Bukankah penolakan cinta bukan akhir dari hidup. Aku tidak ingin menjadi laki-laki malang yang terlarut dalam kesedihan dan juga Li Jiao sudah tenang sekarang, jadi aku juga harus melanjutkan hidupku"
"Andai dia berpikir bergitu?"
"Dia ? Maksudmu Li Huan Rui?"
Helena meneguk wine lagi sebelum akhirnya mengangguk.
"Dia mencintai Li Jiao?"
"Ya, tidakkah kau tahu mereka menjalin hubungan sebelumnya?"
"Ya, tapi aku pikir Li Huan Rui hanya bermain-main"
"Li Huan Rui bukanlah tipe orang yang seperti itu"
Dia menghela nafas.
"Aku menyadari sejak awal dia diam-diam peduli pada Li Jiao. Walaupun Li Huan Rui terlihat membencinya tapi dia tidak benar-benar membencinya. Namun aku tidak pernah menyangka perasaannya lebih dalam dari apa yang aku kira"
Helena kembali meneguk wine. Dia menoleh ke arah Wang Yufeng.
"Brother Yufeng, kau tidak pesan minuman?"
"Apa kau akan mentraktirku?"
Dia tertawa kecil.
"Bahagaimana mungkin komandan Wang yang terhormat meminta nona muda yang memiliki sedikit uang untuk mentraktir nya"
"Apa yang salah dengan itu? Nona Helena, anggap saja ini konpensasi karena kau telah menyita waktu berharga komandan ini untuk mendengarkan keluh kesahmu"
"Kau yang mendekati ku lebih dulu, ingat? Tapi yasudahlah aku akan mentraktir mu tapi lain kali kau yang harus mentraktir ku?"
"Apa ada waktu lain kali? Apa kau yakin kau bisa bertemu denganku lagi? Apa kau tidak takut jika lain kali ada yang melihatmu bersamaku dan membuat kita terlibat dalam skandal. Aku tidak akan mendapat hal buruk karena aku akan berada di militer tapi kau yang akan mendapatkan dampaknya"
"Tidak perlu khawatir, aku bahkan tidak yakin ada yang mengenaliku lagipula kita adalah teman"
"Teman? Tidak ada hubungan pertemanan diantara pria dan Wanita khususnya untuk pria seperti ku nona. Bagaimana jika kau akan jatuh cinta padaku setelah bertemu lagi"
"Itu tidak akan. Apa mungkin kau yang takut bertemu lagi denganku dan jatuh cinta denganku seperti tadi karena pesonaku"
Wang Yufeng tidak mengatakan apapun. Helena merasa aneh karena Wang Yufeng tidak membantah.
"Ah sudahlah. Pesanlah mimuman yang kau inginkan"
"Bolehkah aku memesan yang paling mahal"
"Komandan Wang, kau ingin menguras uang wanita muda ini yang hanya memiliki sedikit uang"
"Jangan berakting menjadi gadis malang nona Si"
Wang Yufeng mengangkat tangannya.
"Ambilkan aku wine paling enak dan paling mahal"
"Hei"
"Bukankah kau yang menawariku? Jadi kau harus menerima apapun yang aku pesan"
"Ya, ya terserah kau saja"
Mereka lalu kembali mengobrol tentang hal-hal ringan. Tidak terasa bahwa waktu berlalu dengan cepat dan botol wine mereka telah kosong.
"Aku tidak percaya kau peminum yang baik"
"Tidak terlalu baik. Aku hanya mampu minum 1 botol"
"Oh, sudah larut malam. Aku harus bekerja besok"
Helena membayar tagihan tapi Wang Yufeng lebih dulu mengulurkan black card pada pelayan.
"Brother Yufeng, bukankah seharusnya...."
"Lain kali kau yang harus mentraktirku"
"Baiklah, tapi jangan pesan minuman yang mahal, ingat itu! "
"Baiklah, si rambut pirang manja"
"Kau memanggilku seperti itu lagi. Ramburku tidak pirang lagi"
"Tapi warna rambut aslimu pirang dan kau juga lebih cantik dengan rambut pirangmu itu. Tidak perlu meniru gaya Li Jiao. Itu tidak cocok untuk mu"
"Benarkah?"
"Ya. Oh ya bagaimana jika kita saling bertukar nomer telpon. Jadi mudah bagiku memberi tahu jika aku ada di kota atau mungkin saja nona manja yang kesepian menbutuhkan teman untuk mengobrol"
"Tapi, bukankah kau sibuk di ketentaraan?"
"Ya, tapi masih ada waktu istirahat juga"
Mereka bertukar nomer telpon lalu mereka berpisah setelah Helena menemukan taksi.
"Kau yakin tidak mau aku mengantarmu?"
"Tidak perlu. Rumah kita tidak serarah bukan"
"Baiklah"
"Berkendaralah dengan hati-hati"
"Kau juga. Sampai jumpa"
"Ya. Sampai jumpa"
__ADS_1
Helena lalu masuk ke dalam taksi. Perasaannya jauh lebih baik sekarang setelah mengobrol dengan Wang Yufeng. Pria itu ternyata cukup menyenangkan. Mungkin karena itu banyak gadis yang menyukainya.