
Operasi Yimin berjalan dengan lancar. Gadis kecil itu harus meninginap di rumah sakit selama beberapa hari untuk memulihkan kondisinya.
"Bukankah kau memiliki banyak pekerjaan? Kembalilah, aku akan menjaga Yimin"
"Tidak apa-apa, aku bisa mengambil cuti untuk beberapa hari"
"Kau tidak perlu melakukan hal itu, jangan sampai hal pribadi mempengaruhi pekerjaanmu. Aku akan menjahaga Yimin"
"Papa, mama benar. Walaupun Yimin senang karena papa menemani Yimin tapi Yimin tidak ingin menganggu pekerjaan papa"
Li Huan Rui akhirnya dengan enggan pulang lebih dulu.
"Baiklah, papa akan pulang. Jika kalian butuh seseuatu minta saja pada Su Han"
"Ya, papa"
Li Huan Rui mencium kening Yimin.
"Papa pergi dulu"
Yimin mengangguk. Dia lalu menoleh ke arah Istrinya.
"Jaga dirimu dan Yimin"
"Ya"
Bai Xiao hanya menjawab singkat lalu dia melangkah pergi. Dia meminta Su Han untuk menjaga Yimin dan Bai Xiao.
"Apa kau akan kembali ke tiongkok?"
"Ya, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku harus kembali ke Tiongkok"
"Kau tidak berubah masih saja selalu memikirkan pekerjaan"
"Aku harus pergi"
"Aku akan memesankan pewat untukmu"
"Aku bisa melakukannya sendiri"
***
Li Huan Rui yang sedang dalam perjalanan ke bandara, dia menyalakan ponselnya yang dia matikan saat dia bertemu dengan Yimin. Dia tidak ingin ada yang menganggunya. Dia melihat pesan yang dikirim ibunya.
'Jika kau sudah kembali ke tionkok maka pergilah ke B city. Ada yang perlu mama bicarakan denganmu'
Li Huan Rui tahu pasti mamanya sudah tahu bahwa dia mengambil cuti dan pergi ke A Country. Li Huan Rui segera mengubah tiket penerbangannya.
***
"Paman Su, apa kau dekat dengan papaku"
"Begitulah"
Su Han saat ini berada di ruang rawat Yimin, Bai Xiao sedang menghubungi keluarganya.
"Paman, sejak kapan kau mengenal papaku?"
"Sejak SD. Kami dulu saingan dan sekarang juga masih begitu"
"Saingan?"
"Ya, saingan untuk mendapat peringkat. Li Huan Rui selalu di peringkat pertama dan aku berada di peringkat ke 2. Aku berusaha mengalahkannya tapi dia selalu unggul. Namun ternyata dia bisa juga dikalahkan oleh seorang wanita"
"Papa kalah dengan seorang wanita?"
"Benar. Kau tahu walaupun aku dan Rui adalah rival tapi Rui dan wanita itulah yang sebenarnya adalah rival, nilai mereka hanya selisih 2 poin dan juga mereka berdua terlihat seperti dua orang yang saling membenci "
"...tapi setelah wanita itu pergi Li Huan Rui benar-benar kacau saat itu. Aku tidak pernah melihatnya sekacau itu dia bahkan sering minun setiap hari bahkan nilai mata kuliahnya menjadi yang terburuk. Mungkin hubungan mereka tidak hanya hubungan saling beci tapi di kebencian Li Huan Rui pada wanita itu dia mencintainya "
Yimin terdiam mendengar apa yang diceritakan oleh paman Su. Dia merasa tidak suka karena papanya mencintai wanita lain.
"Namun...Rui tidak akan bisa bersama dengan wanita itu, mereka mungkin dalam kesulitan bagaimanapun mereka adalah saudara sepupu"
"Saudara sepupu?"
"Ya. Wanita itu anak dari paman Li Huan Rui, walau dia memang tidak mewarisi darah keluarga Li tapi mereka masihlah saudara sepupu. Di keluarga Li bagaimana mungkin dua orang sepupu bersama"
Yimin terdiam. Dia tidak tahu mengapa dia merasa senang karena papanya tidak akan bisa bersama wanita itu. Namun dia takut bagaimana jika wanita itu kembali dan merebut hati papanya serta membuatnya jauh dari papanya. Yimin harus memastikan bahwa papanya hanya boleh mencintai mamanya.
"Tapi...sekarang Rui sudah menemukan cinta yang lain. Aku bisa merasakan bahwa dia mencintai mamamu dan juga menyayangimu seperti anak kandungnya sendiri"
Bai Xiao masuk ke dalam kamar Yimin.
"Tuan Su, terima kasih sudah menjaga Yimin"
"Ya, tidak perlu sungkan, nyonya. Aku harus kembali ke kantor"
"Tunggu, Tuan Su. Ini terimalah sandwitch ini. Anda belum makan bukan?"
"Terima kasih, nyonya"
Su Han menerimanya dan tersenyum.
"Yimin, paman pergi dulu"
"Ya, sampai jumpa paman"
Ketika Li Huan Rui sampai di B city, dia langsung pergi ke rumah. Dia disambut oleh para pelayan.
"Rui"
Li YongSheng menyambutnya.
"Papa"
"Li Huan Rui, mama ingin bicara denganmu"
Li Huan Rui mengangguk.
__ADS_1
"Rui, apa yang kau lakukan hingga ibumu terlihat semarah itu?"
Li Huan Rui hanya mengangkat bahunya.
"Jangan membuat masalah lagi dan membuat ibumu semakin marah"
"Ya, papa. Aku mengerti"
Li Huan Rui lalu meninggalkan Li YongSheng dan pergi ke ruang kerja Shen Fengyin. Dia mengetuk pintu lalu masuk.
"Duduklah"
Li Huan Rui duduk di depan Shen Fengyin.
"Li Huanrui, apa yang kau lakukan di A Country bahkan mengambil cuti lebih dari 3 hari?"
"Mama, bukankah kau pernah memintaku untuk tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja jadi aku mengambil cuti untuk berlibur dan menenangkan diri"
Li Huan Rui menjawabnya dengan tenang dan tanpa ekspresi seperti biasanya. Dia sudah mempersiapkan jawaban ini karena dia tahu bahwa mamanya pasti akan menanyakan hal ini.
Shen Fengyin menatap lurus ke arah putranya.
"Tapi kenapa tiba-tiba mengambil cuti dan kenapa harus di A Country? Bahkan kau menggunakan pesawat pribadi?"
"Karena Su Han menyarankanku untuk berlibur disana dan alasan aku menggunakan pesawat pribadi karena aku ketinggalan pesawat"
"Kau pergi ke A country untuk berlibur bersama Su Han. Kau dan Su Han berlibur bersama? Hanya kalian berdua?"
Li Huan Rui mengangguk tanpa tahu apa yang sedang dipikirkan Li Huan Rui. Shen Fengyin memegang kepalanya, dia merasa pusing. Mungkinkah alasan putranya menolak para wanita yang dia kenalkan karena dia tidak lagi tertarik dengan wanita. Jadi, apa pada akhirnya garis keturunannya hanya akan berakhir di putranya.
"Mama, ada apa? Apa mama sakit?"
Shen Fengyin menggeleng.
"Li Huan Rui segera selesaikan tugasmu di kantor cabang H city dan kembali mengurus kantor pusat"
"Mama, bisakah aku memperpanjang pekerjaan di H city "
"Tidak, Li Huan Rui kau harus fokus untuk mengurus kantor pusat. Kau akan menjadi pimpinan selanjutnya "
"Aku mengerti"
Shen Fengyin merasakan kekecewaan dari nada bicara putranya.
"Kenapa kau kecewa untuk meninggalkan H city. Apa ada sesesuatu yang penting disana?"
Shen Fengyin menatap putranya dengan tatapan curiga. Li Huan Rui masih berusaha untuk tenang. Dia tidak bisa memberi tahu Shen Fengyin tentang istri dan putri nya karena Bai Xiao memilih merahasiakan hubungan mereka dan juga belum saatnya bagi mamanya untuk tahu tentang hal ini.
"Tidak mama. Aku akan segera pindah ke B city"
"Baguslah. Kau bisa pergi dan untuk hari ini kau bisa bermalam disini besok pagi saja baru kembali ke H city"
Li Huan Rui mengangguk lalu meninggalkan ruang mamanya. Shen Fengyin menghela nafas, dia curiga jangan-jangan Li Huan Rui membawa Su Han ke H city. Shen Fengyin tidak menyangka putranya akan memiliki perasaan terlarang seperti itu. Dia harus memaksa Huanrui untuk datang ke kencan buta dan membuatnya untuk tertarik pada wanita lagi.
***
Bai Xiao merasa heran melihat putrinya melamun.
"Tidak mama"
"Mama, apa mama punya seseorang yang mama sukai saa sekolah?"
"Kenapa menanyakan hal itu?"
"Tidak apa-apa. Yimin hanya ingin tahu. Jadi mama, bisakah mama menjawab pertanyaanku?"
"Tidak ada. Tidak ada yang mama sukai"
Bai Xiao tidak mau mengingat semua kenangan dirinya sebagai Li Jiao. Lagipula sebagai Bai Xiao dia tidak pernah memiliki perasaan asmara.
"Lalu mama....bagaimana dengan papa kandungku? Apa mama juga tidak mencintainya"
"Apa kau harus menanyakan hal itu?"
Bai Xiao terlihat terganggu. Namun Yimin masih penasaran.
"Yimin hanya ingin tahu. Mama, bagaimana jika papa kandungku datang pada kita. Apa papa akan meninggalkan papa ?"
"Ada apa denganmu? Kenapa bertanya hal aneh seperti itu"
Bai Xiao merasa heran dengan pertanyaan putrinya itu.
"Yimin hanya ingin tahu. Mama, tidak bisakah mama menjawab? Mama, kau tidak akan meninggalkan papa bukan? "
"Ya"
Yimin tersenyum.
"Baguslah. Mama, Yimin lebih suka papa yang sekarang. Yimin tidak ingin papa kandung Yimin yang sudah meninggalkannya Yimin dan mama"
Bai Xiao ingin mengatakan sesuatu tapi dia mengurungkan niatnya. Jika dia mengatakan pada putrinya bahwa papanya yang sekarang-Li Huan Rui adalah papa kandungnya yang meninggalkan mereka, apa Yimin masih akan menerimanya.
***
Setelah beberapa hari Yimin dan Bai Xiao akhirnya bisa kembali ke H city. Yimin yang awalnya tersenyum senang menjadi kecewa ketika supirnya yang menjemput mereka bukan papanya.
"Paman, dimana papa?"
"Tuan ada di kantor, mari nona. Saya akan mengantar ke rumah"
***
Li Huan Rui saat ini berada di B city. Dia memiliki banyak pekerjaan setelah kembali ke kantor pusat dan dia bahkan tidak bisa kembali ke H city yang membutuhkan perjalanan panjang. Ponsel Li Huan Rui berdering. Pria itu melihat nomer yang tertera. Li Huan Rui meninggalkan meja kerjanya dan pergi ke kamar yang ada di ruangannya.
"Hallo"
"Papa, kenapa papa tidak menjemput kami?"
"Maaf, Yimin. Papa sedang berada di luar kota. Apa kau sudah tiba di H city? "
__ADS_1
"Ya, papa. Ini kami sedang perjalanan ke rumah. Kapan papa pulang?"
Li Huan Rui diam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Mungkin besok"
Secara kebetulan besok adalah weekend sehingga Li Huan Rui tidak harus bekerja.
"Baiklah, Yimin akan menunggu papa, sampai jumpa papa "
"Sampai jumpa, Yimin"
***
Keesokan harinya, Li Huan Rui langsung pergi ke H city pagi-pagi. Dia tidak sabar untuk bertemu anak dan istrinya. Waktu yang ditempuh untuk sampai di H city cukup lama dan semakin lama karena Li Huan Rui sudah tidak sabar ingin sampai di rumah. Walaupun dia punya tempat tinggal di B city yang lebih besar tapi rumahnya di H city lebih bisa disebut rumah setidaknya ada orang yang menunggunya pulang.
Mobil mewah Li Huan Rui terparkir di depan rumahnya. Li Huan Rui menekan bel dan tidak lama seorang gadis kecil menbuka pintu.
"Papa"
"Yimin"
Pria itu langsung menggendong putri kecilnya.
"Apa kau menunggu papa?"
"Ya, papa apa kau sudah sarapan?"
Li Huan Rui mengangguk.
"Dimana mamamu?"
"Mama sedang di kamar. Papa ayo kita pergi keluar. Yimin sudah sehat sekarang"
"Yimin, jangan ganggu papamu. Biarkan dia istirahat dulu"
Bai Xiao turun dari tangga dan megur putrinya.
"Maaf papa"
"Tidak apa-apa. Cepat ganti pakaianmu lalu kita pergi jalan-jalan. Bagaimana jika kita piknik di taman dekat sini?"
"Udara cukup dingin berada di luar tidak cocok untuk Yimin yang baru sembuh"
"Mama, Yimin sudah baik-baik saja. Lagipula Yimin bisa pakai pakaian hangat. Mama, bolehkan ya?"
"Istriku, Yimin benar lagipula mengurung diri terus di dalan rumah juga tidak bagus"
Bai Xiao menghela nafas karena di desak oleh suami dan anaknya.
"Baiklah, Yimin kau harus ingat untuk menggunakan pakaian yang tebal"
"Baiklah, mama"
Yimin dan Li Huan Rui melakukan high five karena bisa membujuk Bai Xiao.
"Yimin, kau ingin pergi ke mana?"
"Danau Xi Hu. Temanku pergi kesana jadi aku juga ingin pergi dan juga ada tempat pembutan teh juga disana. Papa, kita kesan ya?"
"Danau Xi Hu cukup jauh tapi karena putri papa menginginkannya maka kita bisa pergi"
"Mama, apa kau ikut bersama kami ya"
Yimin lagi-lagi menggunakan trik poppy eyesnya untuk membujuk mamanya.
"Baiklah"
Yimin tersenyum senang.
***
Perjalanan menuju ke danau xi hu cukup jauh karena tempatnya berada disebelah utara H city. Yimin tertidur dibelakang kursi belakang.
"Apa kau kembali tinggal di B city"
"Bagaimana kau tahu?"
"Kepala pelayan memberi tahuku"
Li Huan Rui hanya mengangguk.
"Ya, itu benar. Mama memintaku kembali ke kantor pusat. Istriku, bagaimana jika kau dan Yimin ikut denganku kembali ke B city"
"Kembali ke B city?"
"Benar"
"Tidak. B city terlalu berbahaya, ada banyak paparazi yang mengawasmu. Aku tidak ingin mereka mengetahui keberadaanku dan Yimin lalu mereka akan mencari tahu tentang masa laluku dan aku tidak ingin Yimin merasakan hal yang aku rasakan"
Li Huan Rui meraih tangan Bai Xiao.
"Aku akan melindungi kalian. Kau tahu, pengaruhku cukup besar di B city walau masih kalah dari keluarga Wang"
"Bahkan walau kau punya pengaruh tapi belum tentu hal itu tidak akan bocor dan juga kau mungkin bisa mempengaruhi paparazi tapi kau tidak akan bisa mempengaruhi pandangan orang lain. Aku tidak ingin Yimin mendengar tentang hal yang terjadi di masa lalu.
Bai Xiao masih ingat bagaimana para siswi memandang rendah dirinya saat tahu masa lalu mamanya. Dia tidak ingin putrinya merasakan hal yang sama. Li Huan Rui mengerti apa yang dirasakan Bai Xiao. Dia tidak lagi memaksanya.
***
Mereka akhirnya tiba di danau Xi Hu. Mereka harus memarkir mobil dan berjalan kaki untuk sampai di danau itu. Danau itu cukup luas dan ada pagoda.
" Papa, mama, ayo kita naik perahu"
Yimin mengenggam tangan kedua orang tuanya. Li Huan Rui mengenggam tangan putrinya untuk membantunya naik ke perahu. Dia juga melakukan hal yang sama pada putrinya. Mereka berdua menikmati pemandangan di danau itu. Li Huan Rui tersenyum melihat senyum yang terukir di bibir putri kecilnya.
A/N : Terima kasih sudah mendukung cerita ini
__ADS_1