
Li Huan Rui membaca dokumen dengan wajah tanpa ekspresi.
"Rui"
Li Huan Rui terdiam, secara perlahan dia mengalihkan pandangan. Tatapan mata dingin itu perlahan berubah menjadi tatapan hangat penuh kerinduan ketika dia melihat wajah cantik tanpa ekspresi yang berjalan mendekatinya.
"Li Jiao"
Gadis itu berdiri disampingnya.
Li Huan Rui menariknya dan membiarkan gadis itu jatuh ke pangkuannya.
'Apa ini hanya hayalannya'
Dia menangkup pipi gadis itu.
"Li Jiao, kau kembali? "
Dia menciumnya, dia sangat merindukannya. Namun gadis itu tiba-tiba mendorong nya.
"Rui, kenapa kau meninggalkan ku? Kau tahu aku membencimu. Kaulah yang membuatku menderita. Aku membencimu. Aku sangat membencimu"
Li Huan Rui memeluknya, dia mencoba untuk menenangkannya.
"Ya...ya. Aku mengerti"
"Aku menbencimu, Rui. Aku membencimu"
"Bencilah aku sebanyak yang kau mau, tapi jangan pergi lagi dariku. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu"
"Tapi, aku tidak mencintaimu. Aku membencimu sangat membencimu"
Gadis itu berusaha mendorong Li Huan Rui dengan keras.
"Li Jiao, jangan pergi. Aku mohon. Tetaplah bersamaku"
"Aku tidak mau. Rui, tinggal disisimu adalah siksaan bagiku"
Dia mendorong Li Huan Rui yang tepaku. Dia lalu mendorong Li Huan Rui dan melangkah pergi.
"Li Jiao"
***
"Li Jiao ....Li Jiao"
"Rui...Rui"
Pria itu yang sebelumnya menutup matanya kini dia membuka mata dan memandang gadis bersurai hitam yang memanggil namanya.
"Li Jiao"
Dia segera berdiri dan memeluknya. Dia dapat menarasakan gadis itu menengang. Li Huan Rui mengerutkan keningnya merasa hal yang berbeda dari pelukannya. Dia perlahan melepas pelukannya dan memandang wanita yang sebelumnya dia peluk.
"Maaf, Helena"
Tatapan hangat dan penuh kerinduan kini perlahan mulai berubah menjadi tatapan dingin. Dia perlahan mundur.
"He...Rui, Jiao sudah pergi. Dia tidak ada lagi di dunia ini tapi...kau bisa menganggapku sebagai Li Jiao..."
"Tidak, kau tidak perlu melakukan itu"
Li Huan Rui duduk dan kembali menjukkan sikap tenang dan dingin.
"Rui..."
"Sudahlah tidak perlu membicarakan ini lagi. Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya kau pulang"
"Aku khawatir padamu karena kau harus lembur sendirian di kantor jadi aku ingin menemanimu dan kebetulan aku juga memiliki banyak pekerjaan"
"Lebih baik kau pulang dan beristirahat"
"Tapi,..."
"Ini sudah terlalu malam dan aku tidak bisa membiarkanmu pulang seorang diri tapi aku juga tidak bisa mengantarmu jadi lebih baik kau tidur di ruang istirahat"
Helena melihat ke arah sebuah ruangan.
"Apa kau yakin aku bisa beristirahat di ruanganmu?"
"Tentu tidurlah"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Tidak perlu memikirkanku. Aku masih memiliki banyak pekerjaan. Tidurlah"
"Tapi, kau juga perlu istirahat. Bagaimana jika..."
"Helena, masuk dan tidurlah"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan tegas. Helena akhirnya menyerah dan menuruti perintah Li Huan Rui. Sebenarnya dia merasa mengantuk dan lelah.
Helena memasuki ruang itu. Disana ada tempat tidur yang muat untuk dua orang. Helena segera merembahkan dirinya di kasur empuk dan nyaman ini. Ruangan ini tidak terlalu banyak perabotan. Hanya ada tempat tidur, meja disamping tempat tidur dan almari.
'Apa Henry juga tidur disini sebelumnya'
Helena mengamati ruangan sekali lagi dan melihat sebuah foto di meja. Dia mengambil bingkai foto itu. Foto itu adalah foto mereka bertiga saat merayakan ulang tahun Jiao dan Helena. Dia memaksa Henrynya untuk ikut berfoto. Dia bahkan meminta Jiao berdiri disamping Henry nya sedangkan Henrynya hanya menunjukkan ekspresi enggan.
Helena tersenyum pahit. Sebelumnya. Mereka berdua bersikap sebagai saingan yang saling membenci tapi sekarang Li Huan Rui bahkan tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Helena menghela nafas.
Li Jiao sudah tidak ada di dunia ini tentu saja Helena tidak seharusnya merasa kesal padanya. Dia lebih beruntung daripada Li Jiao yang harus pergi dengan menyedihkan. Helena juga merasa sedih saat tahu bahwa Li Jiao telah meninggalkan mereka dan tidak akan kembali. Dia masih ingat bahwa Li Huan Rui lebih hancur darinya ketika keluarga Li mengumunkan kepergian Jiao. Dia ingat bahwa Li Huan Rui langsung menganbil penerbangan dari A Country ke B city. Helena mengikuti nya saat itu dan dia terlihat begitu kacau. Saat dia datang ke mension milik paman Fan, kehadiran Li Huan Rui tidak diterima bahkan paman Fan merahasiakan dimana dia menyimpan abu Jiao. Dia dapat melihat wajah putus asa pria itu.
__ADS_1
Helena menghela nafas, sejak Helena pergi Li Huan Rui seperti mesin. Dia hanya memikirkan pekerjaan. Dia menjadi semakin dingin.Walaupun Li Huan Rui masih memperlakukan Helena dengan baik tapi dia tahu bahwa perlakuan Li Huan Rui pada Helena hanyalah bentuk tangung jawab sebagai tunangannya. Helena selalu berharap bahwa bentuk tangung jawab itu akan menjadi perasaan cinta tapi sudah 8 tahun mereka bertunangan tapi pandangan Li Huan Rui tidak pernah berubah padanya. Hatinya masihlah untuk Li Jiao. Helena mengubah penampilannya, mewarnai rambut pirangnya menjadi hitam, dia memakai soflen agar mengubah warna mata cokelat madunya sama seperti Li Jiao tapi pandangan Rui masih tetap sama. Apa yang disukai Li Huan Rui dari Li Jiao? Kenapa dia masih bertahan pada gadis yang telah menjadi abu. Mungkinkah karena ikatan fisik mereka? Apa dia harus merayu Li Huan Rui agar bisa mendapatkan hatinya dan memaksanya untuk menikahinya.
Helena menghela nafas, dia tidak yakin apa hal itu akan berhasil.
***
Helena perlahan mulai menbuka matanya.
"Kau bangun?"
Helena menoleh ke arah Li Huan Rui . Pipinya memerah ketika melihat Li Huan Rui mengancingkan kemenya. Dia dapat melihat dada bidangnya yang hampir tertutup kemeja. Dia tiba-tiba menjadi panik dan menununduk. Dia merasa lega ketika dia masih berpakaian lengkap. Semalam dia berpikir mencari cara merayu Henry-nya tapi sekarang dis justru panik jika terjadi sesuatu padanya.
"Tidak perlu khawatir, aku tidak melakukan apapun padamu"
"Aku tahu"
Entah kenapa Helena merasa kecewa. Walaupun di tahu Li Huan Rui bukanlah orang yang akan mengambil keuntungan dari seseorang yang tidak sadar. Helena mengambil kontak lensanya. Dia baru ingat bahwa dia melepasnya.
"Tidak perlu memakai kontak lensa. Lihat, matamu bahkan sudah merah karena terlalu lama memakainya"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja menggunakannya"
"Helena, aku sudah bilang bukan? Kau tidak perlu merubah dirimu menjadi Li Jiao. Jika kau masih melakukannya, aku akan marah padamu"
Helena akhirnya meletakkkan kembali lensa yang sebelumnya dia ambil.
"Sekarang bersiaplah. Sebentar lagi jam masuk kantor"
"Baiklah"
"Pakai ini. Ini milik mama "
"Terima kasih, Henry"
Helena segera pergi ke kamar mandi. Li Huan Rui merapikan tempat tidur. Dia mengambil bingkai foto yang ada di tempat tidur.
Li Huan Rui memandang foto gadis berusia 7 tahun yang memiliki wajah tanpa ekspresi. Foto ini satu-satunya yang dia miliki. Mereka tidak pernah mengambil foto bersama lagi setelah itu.
'Li Jiao, aku tahu, aku bersalah padamu karena membuatmu menderita karenaku. Kau pasti begitu membenci ku hingga kau pergi meninggalkanku seperti ini'
Ibu jari Li Huan Rui membelai lembut foto gadis kecil yang sagat dia rindukan. Li Huan Rui duduk dan memandang foto gadis itu.
'Li Jiao, apa kau sudah berenkarnasi sekarang. Li Jiao, aku bersalah karena telah meninggalkanmu tapi haruskah kau membuatku hidup dengan penyesalan dan kerinduan seperti ini'
Li Huan Rui menghela nafas. Dia menyimpan foto itu di meja lalu.
"Saudara Rui"
Li Huan Rui memandang orang yang memanggilnya dengan tatapan dingin.
"Jangan memanggilku seprti itu. Wakil Presiden Nian"
"Tetap saja"
"Baiklah...baiklah"
Jeremy Nian hanya mengangguk. Dia memandang ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.
"Kakak ipar"
"Oh"
Helena terkejut melihat Jeremy.
"Astaga, sau...ah maksudku presiden Li. Sepertinya aku menganggu kalian ya. Aku akan pergi"
Jeremy Nian menggoda sepupunya itu.
"Anak kecil, jangan berpikir yang tidak-tidak"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan nada dingin.
"Presiden Li, aku bukanlah anak kecil. Umurku sudah 18 tahun, tidakkah kau tahu itu"
"Hen...Presiden Li, saya permisi untuk kembali ke ruang kerja"
Helena segera meninggalkan ruangan Li Huan Rui.
"Presiden Li, apa kalian..."
"Sudah aku bilang jangan berpikir berlebihan"
"Sudahlah, tidak perlu mau..."
"Wakil presiden Nian "
Li Huan Rui memanggilnya dengan nada marah.
"Baiklah...baiklah"
Jeremy merasa takut melihat tatapan tajam Li Huan Rui dan suaranya yang semakin dingin.
***
Li Huan Rui memimpin rapat, Li Huan Rui mulai mengambil alih beberapa pekerjaan ibunya walau keputusan penting tetap berada di tangan ibunya. Li Huan Rui adalah orang yang detail pelatihannya yang keras dari ibunya membantu untuk lebih berhati-hati.
Li Huan Rui memandang masih muda tapi dia memiliki karisma yang mekan sehingga mereka merasa tertekan setiap ada rapat.
****
Hari ini adalah hari ayah, Guru Xia meminta murid-muridnya menceritakan tentang ayah mereka.
__ADS_1
"Ayahku adalah seorang tentara. Dia jarang pulang ke rumah tapi
Ketika dia pulang, ayah akan mengendong ku ataupun mengajakku olahraga bersama. Ayahku orang yang hebat"
"Ayahku adalah pemimpin perusahaan, dia tampan dan pekerja keras. Ayahku sering pergi melakukan perjalanan bisnis tapi dia akan membelikan mainan untukku"
Para murid bercerita dengan bangga tentang ayah mereka dan tiba giliran seorang gadis cantik -Li Yimin.
"Aku....aku tidak tahu orang seperti apa ayahku. Aku tidak tahu seperti apa wajah ayahku. Tidak ada yang memberi tahuku tentang ayahku tapi aku punya kakek yang menyangiku, kakekku adalah komandan hebat di kemiliteran, aku punya paman kecil, dia sangat pintar, paman kecil dapat diandalkan untuk setiap hal, aku juga punya nenek yang memelukku dan aku juga memiliki mama. Walaupun aku tidak pernah bertemu mama tapi aku selalu mendapatkan surat dan hadiah dari mama. Jadi walau aku tidak memiliki semua orang yang menyayangiku "
Li Yimin lalu kembali ke Bangkunya. Lalu dia duduk diam dan mendengarkan lagi. Lalu tiba giliran seorang anak laki-laki.
"Ayahku...tidak ada hal yang terbaik tentangnya. Dia hanya tahu bagaimana cara memukul dan berteriak, dia hanya tahu bagaimana melukai orang dia memiliki tangan yang kotor. Dia adalah orang yang buruk. Aku bahkan berharap jika aku tidak memiliki ayah"
Anak laki-laki itu berbicara dengan ringan. Dia tidak peduli bagaimana pandangan murid-murid lain.
Li Yimin menoleh ke arahnya yang kini justru meletakkan kepalanya di atas meja. Dia merasa heran apa ayahnya seburuk itu.
"Ketua kelas jangan pedulikan dia"
"Kenpa?"
"Dia berbahaya. Apa kau tidak tahu jika dia selalu dijemput oleh Pria-pria berotot dengan wajah yang menakutkan. Kata pengasuhku orang-orang seperti itu terlalu berbahaya"
Yimin hanya diam dan memandang pria yang duduk tidak jauh darinya, mungkinkah karena itu tidak ada yang berani dekat dengannya.
Yimin mengalihkan pandangan dan kembali fokus pada pelajaran.
***
Pulang sekolah
"Yimin, aku duluan ya"
"Ya, sampai jumpa besok"
Yimin menunggu sampai kelas sepi. Anak laki-laki itu juga melakukan hal yang sama. Ketiks kelas sepi, dia mengambil tasnya dan hendak pergi tapi dhentikan oleh Yimin.
"Tentang ceritamu itu, sebagai seorang anak tidak seharusnya kau membenci orang tuamu. Kau mungkin berpikir bahwa ayahmu buruk tapi dia mungkib saja tidak seburuk itu"
"Dia pasti juga memiliki sisi yang mengagunkan seperti teman-teman yang lain"
"Anak yang tidak memiliki ayah sepertimu beranu menasihatiku?"
Dia tersenyum merendahkan.
"Ya, aku memamg tidak memiliki ayah karena itu aku iri padamu ataupun teman-teman lain yang dapat mendiskripsikan seperti apa sosok ayah. Kau tahu, menurutku mungkin ayahmu tidak seburuk itu. Bukankah dia mengirim pria-pria besar untuk melindungi mu?"
"Kau tidak mengerti itu. Pergi, jangan halangi jalanku"
Anak laki-laki itu menepis tangannya lalu pergi meninggalkannya. Saat tiba di gerbang depan, orang-orang besar menunggunya.
"Tuan muda"
"Tidak perlu menarikku. Aku bisa pergi sendiri"
Yimin memperlakukan anak laki-laki itu.
***
"Helena, kapan Rui akan menikahimu"
Helena tahu bahwa alasan papanya tiba-tiba mengajaknya makan malam bersama adalah untuk membicarakan masalah ini.
"Papa, aku masih muda dan Rui juga...."
Helena mencoba memberi alasan tapi segera dipotong oleh tuan Si
"Omong kosong. Ini hanya alasan bukan? Helena, tidak bisakah kau manjadi berguna untuk perusahaan? "
"Jika memang Li Huan Rui tidak bisa menikahimu. Papa akan mengatur pria lain yang bisa menikahimu dan membantu perusahaan"
Tuan Si lalu berdiri dan pergi. Helena masih duduk diam di kursi sebuah restoran. Wajahnya menjadi pucat. Dia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dia cintai ataupun kenal. Dia tahu bahwa bagi papanya, pengaturan pertunangannya dan Li Huan Rui hanya untuk kepentingan bisnis. Helena menghela nafas. Dia harus memikirkan rencana agar Rui menikah dengannya. Jika perlu dia bisa memohon padanya. Hanya Li Huan Rui yang bisa membantunya untuk lepas dari rencana ayahnya.
***
Helena datang ke ruangan Li Huan Rui pagi-pagi. Dia tahu bahwa hal yang buruk membicarakan hal pribadi di kantor tapi Li Huan Rui tidak pulang ke mension dan Helena tidak bisa melupakan kekhawatirannya tentang apa yang dikatakan papanya.
Tok tok tok
"Masuk"
"Henry, bisakah kita bicara"
"Ya. Duduklah"
Helena duduk di kursi depan Li Huan Rui. Pria itu mengalihkan pandangan dari dokumen dan memansang ke arah Helena.
"Henry, ayo kita menikah"
Li Huan Rui terdiam cukup lama ketika mendengar hal yang tak terduga.
"Helena, aku mencintai Li Jiao. Helena, aku tahu papamu mendesakmu bukan? Tapi aku tidak ingin menyakitimu lagi. Aku akan menahanmu sebagai tunanganku sampai kau menemukan seorang pria yang mencintaimu dan kau cintai"
"Henry, hanya kau satu-satunya yang aku butuhkan. Aku tidak masalah bahwa hatimu bukanlah milikku. Henry, Jiao sudah pergi. Kau tidak bisa menikah dengannya kenapa kau tidak membiarkanku mendapatkan status istrimu "
"Helena, walau aku tidak terlalu mempedulikan siapa yang akan menjadi istri ku tapi kau adalah teman berhargaku. Aku tidak ingin membuatmu menderita karena aku tidak bisa menjanjikan cinta untukmu"
"Tolong mengerti lah"
Helena menghela nafas lalu akhirnya mengangguk dan meninggalkan ruang Li Huan Rui. Dia tahu bahwa rencana ini tidak akan berhasil. Dia harus melakukan hal lain.
__ADS_1