Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Side Story 11 (Kecelakaan)


__ADS_3

Li Yongfan menceritakan tentang Bai Yuchen pada putrinya. Dia hanya menceritakan hal baik tentang papa kandung gadis itu. Jiao hanya diam mendengarkan dengan serius.


"Jadi papaku orang yang tegas dan disiplin ya. Mungkin karena Jiao selama ini tidak berilaku baik jadi Papa menghukum Jiao"


Li Yongfan melihat kesedihan di mata hitam gelap gadis kecilnya. Dia menarik gadis kecilnya ke dalam pelukannya dan membelai lembut rambut putrinya.


"Jangan mengingat hal itu lagi. Kau berjanji pada papa untuk tidak mengingat masa lalumu lagi kan?"


Jiao mengangguk. Dia perlahan memejamkan matanya dan tertidur di pelukan papanya. Li Yongfan tertidur disamping Jiao dan memeluk putrinya dengan erat.


***


Keesokan harinya, Mo An An bangun pagi-pagi dan menyiapkan bekal untuk putrinya.


"Mama, bisakah bekal untuk Li Huan Rui diganti sama sepertiku? Aku ingin memberikan pada temanku yang lain"


"Oh, pada siapa? Apa seorang anak laki-laki lain?"


"Ya"


"Oh, apa putri mama memiliki pacar baru? Apa dia lebih tampan dari Li Huan Rui ?"


Jiao hendak menanggapi tapi segera dipotong oleh papanya.


"Putriku masih terlalu muda untuk memiliki pacar. Sayang, ingat kau harus menolak para serangga serangga yang menganggumu "


"Tidak mama, ini untuk teman sebangku Jiao. Dia suka bekal yang mama buat dan ingin aku membawakan untuknya"


"Apakah dia anak laki-laki?"


"Benar"


"Apa? Anak laki-laki itu berusaha memanfaatkan putriku untuk mendapat makanan enak. Istri, kau tidak perlu menbuat bekal tambahan"


"Kau hanya perlu membuat bekal untuk Jiao"


"Tapi aku sudah menyiapkan bekal untuk Rui juga"


"Kalau begitu tidak apa-apa. Jiao jiao kau harus berada di dekat saudara laki-laki mu ok? Rui pasti akan menjagamu dari para serangga-seranga itu "


Jiao hanya mengangguk walaupun dia tidak yakin bahwa Li Huan Rui yang membenci nya akan melindungi nya dan mengijinkannya berada di dekatnya.


***


Li Huan Rui terburu-buru makan sarapannya, Dia harus berangkat lebih dulu sebelum papa Fannya menjemputnya.


"Paman Zhang"


Li Huan Rui berteriak memanggil supir keluarganya.


"Rui, kenapa kau memanggil supir Zhang? Bukankah Li Yongfan akan menjemputmu?"


"Mama, aku terburu-buru. Ada hal yang harus aku lakukan sebelum kelas dimulai"


"Maaf tuan muda, tuan Li sudah ada di depan menunggu tuan"


Li Huan Rui menghela nafas kesal. Dia ingin menghindari untuk agar dia tidak harus bersama gadis itu tapi papa Fan nya justru datang lebih awal. Dia tidak mungkin menolak papa Fan nya, bagaimana pun papa Fan yang merawat nya, dia tidak ingin papa fan kecewa.


"Papa mama, Rui berangkat"


"Hati-hati dijalan"


Li Huan Rui dengan enggan masuk ke dalam mobil BMW itu. Li Huan Rui menyapa papa fan nya tapi dia mengabaikan Jiao. Gadis kecil itu tidak mempermasalahkan hal itu. Kedua anak itu hanya diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing, jiao membaca buku sedangkan Li Huan Rui memandang jendela. Jiao mengambil kotak makan dari tasnya. Dia tahu akan memalukan jika dia memberikannya di dalam kelas dan menbuat hal kemarin terjadi lagi.


"Li Huanrui"


Jiao memanggilnya dengan ragu-ragu. Dia tahu pria itu tidak suka jika dia memanggil namanya tapi dia juga tidak bisa memanggilnya dengan sebutan tuan muda khusus di depan papanya.


Li Huan Rui dengan enggan menoleh ke arah gadis kecil itu.


"Ada apa?"


"Ini... Mama membuatkan kotak makan untuk mu"


Li Huan Rui menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Jiao tahu Li Huan Rui bersikap baik karena ada papanya tapi dia merasa senang mendengar pria itu berbicara padanya. Jiao tanpa sadar tersenyum. Li Huan Rui sedikit terkejut melihat senyuman yang terukir di bibir kecilnya itu. Li Huan Rui segera mengalihkan pandangan dari kecantikan disampingnya.


Mereka akhirnya sampai di depan sekolah. Li Huan Rui dan Jiao turun bersamaan lalu setelah mobil Li Yongfan pergi Li Huan Rui berjalan lebih dulu. Mereka tidak menyadari jika seorang gadis dari kelas mereka melihat saat mereka turun dari mobil yang sama.


'Kenapa pangeran Rui dan gadis itu berada di mobil yang sama?'


***


Jiao masuk ke kelas, Li Huan Rui sudah terlebih dahulu berada di kelas. Jiao melewatinya begitu saja dan langsung menuju ke bangkunya.


Jiao menyapa teman sebangkunya Bao bao.


"Selamat pagi, Bao bao"


Bao bao terlihat berbeda dari biasanya, gadis kecil itu menggunakan masker dan kaca mata.


"Bao bao, apa kau sakit?"


Bao bao menggeleng.


"Li Jiao, pindahlah tempat duduk"


Tubuh pria gemuk itu sedikit gemetar.


"Bao bao"


"Jangan mendekati ku. Kalau kau tidak mau pindah maka aku yang akan pindah"


Jiao mengerutkan kening, ketika Bao bao mengambil tasnya dan hendak pindah, Jiao menghentikannya.


"Baiklah, aku yang akan pindah"


Jiao lalu mengambil tasnya dan pindah ke bangku belakang yang kosong. Seorang anak laki-laki lain yang melihat Jiao duduk sendiri dia segera mengambil tas dan duduk disamping Jiao.


"Hallo, Li Jiao. Namaku Su Han. Bolehkah aku duduk disampingmu"


Jiao mengangguk.


Su Han merasa senang. Para anak laki-laki memandangnya dengan tatapan kesal. Su Han berbeda dengan Bao Bao yang gemuk. Su Han memiliki wajah yang cukup tampan dan berkaca mata. Dia selalu berada di urutan kedua.


Seorang pria yang sedang menguntip dari kaca jendela merasa kesal melihat ada pria lain yang mencoba mendekati malaikat nya.


"Sial, aku berhasil melumpuhkan satu nyamuk tapi masih saja ada nyamuk yang lain mencoba mendekati malaikatku. Aku tidak akan membiarkannya lepas"


Anak laki-laki itu langsung pergi dengan perasaan kesal diikuti oleh temannya yang setia berada di belakangnya.


Seorang gadis yang baru saja datang itu menyapa Li Huan Rui tapi diabaikan olehnya. Gadis itu lalu memandang ke arah Jiao. Gadis itu segera kembali ke bangkunya dan berbisik ke teman sebangkunya. Gadis itu sudah tidak tahan untuk memberitahu apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja. Aku melihatnya sendiri"


Teman sebangku gadis itu memandang ke arah Li Huan Rui yang sedang mengobrol dengan Helena lalu memandang ke arah Jiao yang sedang membaca buku. Ada pemikiran aneh yang melintas di kepalanya.


"Aku akan memberi tahu gadis-gadis lain nanti"


"Ya"


***


Pelajaran renang dimulai, pelatih memberikan intruksi tentang pelajaran hari ini. Seorang gadis memandang gadis yang lain lalu dia mengangguk. Gadis itu merentangkan tangan dan mendorong Jiao ke kolam.


"Jiao"


Jiao terkejut ketika dia tiba-tiba terjatuh. Namun gadis itu hanya mengulurkan tangan namun tidak berteriak apapun. Helena merasa bersalah karena tidak cepat mencegah gadis itu. Helena segera melompat dan menolong Jiao.


Li Huan Rui dengan cepat membantu Helena menolong Jiao. Gadis kecil itu terbatuk.


Pelatih itu mendekati Jiao dan menanyakan keadaannya.


"Jiao, ayo aku akan mengantarmu ke uks. Kau masih bisa berjalankan?"


Jiao mengangguk. Helena membantu Jiao dan memandang tajam ke arah dua orang gadis yang berpura-pura tidak melihatnya.


"Pelatih, gadis ini yang mendorong Jiao. Dia berhak di hukum"


"Helena, bagaimana mungkin kau menuduh kami. Apa kau memiliki bukti"


"Akulah yang melihatnya sendiri"


"Kalian berdua, ikut dengan ku"


"Siap-siap saja kalian akan segera di keluarkan"


Helena tersenyum licik. Jiao memandang mereka pandangannya mulai buram dan perlahan pingsan.


"Jiao"


Tubuh Jiao tentu terlalu sulit untuk di topang oleh Helena. Li Huan Rui segera mengambil alih dan mengendong Jiao.


"Aku akan membawanya"


Helena memandang Li Huan Rui. Li Huan Rui memiliki tubuh yang lebih tingi dari anak seusianya tentu saja dia dengan mudah dapat mengendong Jiao. Helena mengikuti nya dari belakang.


Helena dapat melihat tatapan mata Li Huan Rui yang sebelumnya dingin kini menunjukkan kecemasan.


"Henry, kau tidak perlu khawatir. Jiao akan baik-baik saja"


"Aku tidak khawatir padanya"


Li Huan Rui mengucapkannya dengan datar tapi terlihat jelas ke khawatir di matanya.


Saat tiba di klinik kesehatan, dokter jaga segera memeriksa Jjao.


"Bagaimana keadaannya?"


"Tidak perlu khawatir, gadis ini hanya kelelahan dan tubuhnya lemah sehingga dia pingsan"


Tubuh Jiao mengigil, Li Huan Rui tanpa sadar mengulurkan tangannya dan mengenggam tangannya.


Li Huan Rui segera melepaskan tangannya dari Jiao ketika mendengar panggilan Helena.


"Helena, gantilah pakaianmu, kau bisa sakit nanti "


"Ya, aku ganti pakaian dulu dan aku juga akan menbawa pakaian untuk Jiao. Bisakah kau menjaganya"


Li Huan Rui hendak mengangguk tapi segera mengelengkan kepalanya.


"Aku harus kembali. Aku tidak ingin ketinggalan pelajaran"


"Tapi..."


"Bukankah ada dokter yang menjaganya. Aku pergi"


Li Huan Rui tidak ingin dia menjadi lengah, dia membenci gadis itu tidak seharusnya baginya untuk khawatir padanya dan menjaganya.


Li Huan Rui pergi begitu saja kembali ke area kolam renang. Para gadis yang bergosip tentang perhatian Li Huan Rui dan hubungan nya pada Jiao tapi ketika melihat Li Huan Rui bersikap biasa saja dan datang ke kolam renang mereka mulai berpikir bahwa Li Huan Rui tidak peduli pada gadis itu. Mereka berpikir Li Huan Rui hanya membantu gadis itu karena Helena.


***


"Helena"


Jiao mengucapkannya dengan nada lemah.


"Jiao jiao, jangan bangun dulu. Kau harus istirahat"


"Tidak, aku harus mengikuti pelajaran lagi "


"Jangan keras kepala. Kau masih lemas, apa kau pikir kau bisa mengikuti pelajaran dengan baik huh?"


"Aku sudah lebih baik, sungguh"


"Jiao, kau benar-benar keras kepala ya"


Jiao bangun dari tempat tidur tiba-tiba saja dua orang gadis masuk.


"Jiao, kami minta maaf. Tolong bujuk kepala sekolah agat tidak menghukum kami"


"Kalian..."


Helena merasa kesal, dia hendak memarahi mereka tapi Jiao menghentikan nya.


"Apa kalian pikir aku akan melakukan keinginan kalian? Jika kalian di posisiku apa kalian akan memaafkan orang yang melukai kalian?"


Mereka berdua diam dan saling pandangan.


"Ayo, Helena"


Jiao dan Helena meninggalkan mereka berdua. Kedua orang itu merasa kesal karena Jiao mengucapkannya dengan nada sombong dan dingin.


***


Li Yongfan berada di ruang kepala sekolah. Kepala sekolah itu menghubunginya dan menjelaskan apa yang terjadi pada Jiao. Li Yongfan merasa marah.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa yang dilakukan guru hingga tidak memperhatikan hal buruk yang dilakukan muridnya"


"Maafkan kami tuan Li tapi kami sudah menghukum anak itu"


"Apa hukuman saja cukup? Katakan padaku siapa nama anak yang berani menyakiti putriku"

__ADS_1


Kepala sekolah itu merasa ragu tapi pada akhirnya dia memberi tahu pada Li Yongfan.


"Aku akan membawa putriku kembali"


***


Li Yongfan berada di kelas Jiao. Dia berjalan masuk dan menjadi pandangan setiap murid di kelas. Li Yongfan memandang kearah putrinya. Namun sebelum dia menuju ke arah putrinya, dia berhenti di samping Li Huan Rui.


"Li Huan Rui, aku ingin bicara denganmu"


Li Huan Rui tahu apa yang akan di bicarakan Papa fan nya, dia berjalan mengikuti Li Yongfan. Para gadis itu saling berbisik dan bertanya tanya apa yang dilakukan paman itu pada pangeran mereka. Helena merasa cemas, dia ingin menyusul tapi Jiao menahannya.


"Aku akan menghentikan papaku"


Jiao langsung pergi meninggalkan kelas. Dia khawatir apa yang akan dilakukan papanya pada Li Huan Rui khususnya karena Jiao melihat kemarahan di wajah papanya.


***


  Li Yongfan meminta Li Huan Rui untuk masuk ke mobil. Dia tidak ingin melihat keributan karena itulah dia berpikir berbicara di mobil adalah hal yang terbaik.


"Rui kecil, bukankah papa sudah bilang padamu untuk menjaga Jiao dengan baik? Tapi apa ini yang terjadi? Kenapa kau tidak bisa melakukan tugasmu dengan baik dan membuat putriku celala. Kau benar-benar tidak bisa diandalkan papa kecewa padamu"


Li Yongfan mengucapkannya dengan meninggikan suara nya. Li Huan Rui mengepalkan tangannya bahkan papanya yang selalu lembut padanya kini menbentaknya karena gadis rendahan yang bahkan tidak terkait darah dengan papanya.


"Papa, apa aku di sekolah hanya untuk mengawasinya? Aku bukan pengawal gadis rendahan itu. Kenapa papa begitu membelanya padahal gadis itu hanya orang luar rendahan seperti dia"


"Jaga bicaramu, Jiao adah putriku dia bukankah orang luar. Jangan pernah menyebut nya seperti itu"


Li Yongfan hampir memukul Rui ketika Rui menghina Jiao lagi.


"Papa ingin memukulku karena gadis itu? Baiklah lakukan saja"


Tangan Li Yongfan berhenti. Air mata hampir mengalir di mata Li Huan Rui tapi dia ingat seorang pria tidak seharusnya menangis.


"Li Huan Rui, papa...."


"Papa tidak menyayangiku lagi bukan? Aku benci papa fan"


Li Huan Rui segera keluar dari mobil. Jiao berdiri disamping mobil. Li Huan Rui menatap ke arahnya dengan tatapan tajam lalu pergi melewati gadis itu begitu saja. Li Yongfan hendak mengejarnya tapi ketika dia melihat Jiao, dia berhenti.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?"


"Jiao sudah lebih baik. Papa..."


"Jiao jiao, maaf Papa tidak bisa melindungi mu"


"Tidak apa papa"


"Ayo kita pulang.  Tapi papa, belum waktu nya pulang"


"Tidak apa-apa, papa sudah ijin pada gurumu"


Jiao ingin menolak tapi suasana hati papanya sedang buruk karena khawatir padanya. Jiao akhirnya menuruti keinginan papanya.


"Kalau begitu Jiao akan mengambil tas dulu"


"Papa akan ambilkan untuk mu"


"Tidak perlu papa, Jiao bisa ambil sendiri"


Jiao berbalik dan menuju ke kelasnya. Saat dia sampai di kelas dia melit Li Huan Rui yang murung dan Helena yang mencoba menghiburnya.  Tatapan mata cokelat madu Li Huan Rui bertemu dengan mata hitam Jiao yang memandangnya. Pria itu menatapnya penuh kebencian lalu mengalihkan pandangan darinya.


Jiao menuju ke tempat duduknya dan menganbil tasnya.


"Li Jiao, apa kau mau pulang duluan? Apa tubuhmu masih merasa tidak nyaman?"


"Ya"


Jiao hanya menanggapi teman sebangkunya dengan singkat lalu berjalan keluar ruangan. Helena keluar kelas mengejar Jiao.


"Jiao, kenapa kau pulang cepat? Apa kau masih merasa tidak nyaman"


"Ya, aku sedikit pusing. Helena aku pulang duluan ya"


Li Yongfan sudah menunggu Jiao, dia menggendong putri kecilnya walaupun Jiao memprotesnya. Helena merasa iri ketika melihat interaksi Jiao dan papanya.


***


Li Huan Rui makan malam sendiri seperti biasa.


"Tuan, makanannya tidak sesuai dengan selera anda?"


"Aku hanya tidak berselera makan. Aku akan kembali ke kamar"


Li Huan Rui berjalan menuju tangga.


"Rui"


"Mama papa"


Li YongSheng mendekati Li Huan Rui.


"Rui, papa dengar dari Li Yongfan terjadi sesuatu dengan Jiao, apa....?"


"Ya itu benar. Apa papa juga ingin menyalahkanku karena dia terluka? Aku tidak melukainya lalu kenapa aku yang menanggung kesalahan. Aku bukan penjaganya kenapa aku harus selalu mengawasinya dan disalahkan atas apa yang terjadi padanya "


Li Huan Rui melepaskan semua amarah dan apapun yang dia pikirkan. Li YongSheng menarik putranya dalam pelukannya. Dia dapat merasakan tekanan yang dialami putranya. Kakaknya sudah mengatakan apa yang terjadi, dia tahu kakaknya tidak bermaksud meninggikan suaranya pada putranya.


"Tidak apa- apa Rui. Kami tidak bermaksud menyalahkanmu. Bukankah ini kecelakaan?"


Li YongSheng menyadari bahwa hati putranya belakangan ini memang lebih sensitif. Dia tidak ingin menekan putranya dan membuatnya menjadi pembangkang lagi. Shen Fengyin mendorong kursi rodanya mendekati suami dan putranya. Shen Fengyin membelai lembut rambut putranya.


"Huanrui, mama membeli es krim untukmu"


Li Huan Rui menjauhkan tubuhnya dari pelukan papanya. Wajah cemberut nya berubah menjadi ceria ketika melihat es cream apalagi es cream ini di belikan oleh ibunya. Li Huan Rui merasa lega setelah meluapkan semua kemarahannya dan dia merasa lega karena mama dan papanya tidak membela gadis itu dan menyalahkannya. Li Huan Rui mengajak mama dan papanya makan es cream bersama.


***


Mo An An pulang ke rumah dan langsung menuju ke kamar putri nya. Dia merasa khawatir dengan putri nya. Saat Li Yongfan memberitahunya dia ingin langsung ke sekolah tapi dia tidak bisa meninggalkan pengambilan gambar. Mo An An membuka pintu kamar Jiao pelan-pelan karena takut putri nya sudah tidur. Ketika dia masuk yang dia lihat adalah saat Li Yongfan bersandar di samping Jiao membacakan buku cerita. Jiao menyadari keberadaan ibunya.


"Mama"


Mo An An mendekati putrinya dan langsung memeluknya.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih merasa tidak nyaman?"


"Tidak mama, Jiao baik-baik saja, jangan khawatir"


Mo An An mengusap rambut putrinya. Dia bersyukur karena putrinya baik-baik saja, dia takut jika dia harus kehilangan putrinya lagi.


Li Yongfan meninggalkan ibu dan anak itu, dia tidak ingin menganggu kebersamaan ibu dan anak itu

__ADS_1


__ADS_2