
"Ketua kelas, kenapa kau tidak pernah ikut berlari?"
"Itu...aku..."
"Dia itu gadis manja yang lemah tidak akan mampu berlari"
"Ketua kelas jangan dengarkan anak nakal itu"
"Jangan bicara hal buruk tentang ketua kelas"
"Apa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
"Aku tidak lemah. Bagaimana jika kita lomba lari "
"Baiklah, siapa takut"
"Ketua kelas, tidak perlu meladeni anak nakal itu"
"Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir"
Li Yimin dan anak laki-laki dengan penampilan berantakan itu-Liu Yaoshan.
"Siapa yang berhasil menyelesaikan 2 putaran dia adalah pemenangnya"
"Baiklah, siapa takut"
Mereka berdua memulai start. Liu Yaoshan menghitung.
"1,2,3"
Mereka berdua berlari. Liu Yaoshan adalah unggulan dalam olahraga. Tentu saja dia lebih cepat tapi Yimin tidak ingin kalah. Dia berusaha berlari sekuat tenaga hingga akhirnya dia berhasil mengungguli Yaoshan saat putaran pertama.
"Hosh hosh "
Keringat dingin mulai membasahinnya, jantungnya berdebar kencang ada rasa nyeri di dadanya. Yimin masih berusaha berlari hingga akhirnya saat 1/2 putaran dari putaran kedua. Dia terjatuh dan memegang dadanya.
"Ketua kelas"
Para siswi segera mendekatinya. Liu Yaoshan berhenti dan melihat Yimin di kerumuni para anak perempuan. Dia mendekati nya dan ingin mengejeknya tapi melihat dia yang kesakitan membuatnya terkejut. Gadis itu menutup matanya. Liu Yaoshan segera meminta para anak perempuan menyingkir. Dia memeriksa nadi nya-nadinya terlalu lemah.
"Anak nakal ini salahmu"
"Sudah diam. Cepat panggil guru"
Liu Yaoshan segera memompa dadanya.
"Hei, gadis sok hebat. Bertahanlah. Kau bukan gadis lemah bukan"
***
Li Huan Rui merasa perasaannya tidak enak bahkan cangkir di tangannya pecah.
"Saudara, ada apa?"
Jeremy Nian terkejut ketika mendengar suara pecahan gelas.
"Tidak"
"Saudara, jika kau sakit maka istirahat saja"
"Tidak aku tidak sakit. Minta orang membersihkan pecahan ini"
"Baiklah"
Jeremy Nian dengan enggan meninggalkan ruang Li Huan Rui. Pria itu terdiam memandang pecahan kaca. Dia merasa resah di dalam hatinya namun dia tidak tahu alasannya. Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi? Li Huan Rui menghubungi mamanya. Dia menanyakan keadaan mamanya dan mamanya mengatakan baik-baik saja, dari suaranya tidak tedengar buruk.
'Kenapa aku merasa khawatir? Apa yang membuatku seperti ini?'
***
Seorang wanita berlari dengan tergesa-gesa. Ekspresi wajahnya masih tetap datar tapi kekhawatiran terlihat jelas di matanya. Bahkan dia tidak bisa menahan air matanya.
"Aw"
Wanita itu-Bai Xiao tanpa sengaja menabrak seorang wanita
"Hei,hati-hati jika..."
Wanita itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika kerudung putih yang menutupi Bai Xiao terlepas.
"Maaf"
Bai Xiao langsung meninggalkan nya.
"Li Jiao"
Dia memanggilnya tapi Bai Xiao terus berlari.
"Apa ini hanya hayalanku? Tidak mungkin jika Li Jiao masih hidup"
'Helena...helena'
"Iya, Henry. Aku baik-baik saja"
***
"Jiao jiao"
"Mama, namaku Bai Xiao sekarang. Jangan menyebut nama itu lagi"
"Lalu bagaimana keadaan Yimin?"
"Dia masih belum sadarkan diri"
"Apa yang terjadi? Kenapa putriku jadi seperti ini?"
Bai Xiao terkejut saat seseorang yang dikirim oleh Mo An An mendatanginya di kuil dan mengatakan bahwa Yimin dirawat di rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Dia tidak bisa menyembunyikan ke khawatiran pada putrinya.
"Yimin nekat ikut olahraga lari "
"Apa? Apa gurunya tidak mengawasinya? "
"Itu saat gurunya belum datang"
Bai Xiao menghela nafas. Dia berdoa di dalam hati agar menyalamatkan putrinya. Putrinya memiliki jantung lemah sejak lahir karena itulah Bai Xiao tidak berani mengajak anaknya tinggal bersamanya dan membiarkan keluarga Li merawatnya sementara dia pergi ke kuil dan berdoa untuk kesembuhan putrinya tapi kenapa pada akhirnya putrinya tetap harus mengalami rasa sakit akibat penyakit nya.
Ruangan terbuka, dokter mengatakan kondisi Yimin dan karena di bawa tepat waktu sehingga nyawanya dapat tertolong. Mereka hanya perlu menunggunya sadar.
__ADS_1
Bai Xiao segera masuk ke dalam ruangan. Hatinya sakit saat melihat putri kecilnya terbaring lemah dengan alat medis di dadanya.
"Yimin"
Bai Xiao merasa bersalah. Andai saja dia lahir bukan dari wanita pendosa sepertinya maka anak ini tidak akan memiliki penyakit yang dapat membuat nya berada di ambang hidup dan mati. Kenapa anaknya harus menanggung hal ini kenapa bukan dia yang mendapatkan balasan.
"Yimin, kau harus bertahan. Jika kau pergi, mama tidak akan bisa bertahan untuk hidup. Kaulah alasan bagi mama untuk menjalani hidup dan menjadi kuat"
Bai Xiao mengenggam tangan kecil putrinya.
***
Di dalam mobil, Helena melamun. Dia masih mengingat wajah wanita itu yang begitu mirip dengan Li Jiao. Namun bukankah Li Jiao sudah meninggalkan 8 tahun lalu. Apa mereka hanyalah dua orang yang mirip tapi kenapa begitu mirip. Adakah orang yang benar-benar mirip? Namun jika dia memang Li Jiao lalu kenapa dia tidak reflek menoleh saat dia memanggil nya.
Helena menghela nafas, ketika memikirkan hal ini dia ingat kematian Li Jiao memang aneh. Keluarga paman Fan hanya mengumumkan kematian putrinya dan bahkan tidak ada kabar pembakaran ataupun pemakaman dan keluarga mereka tiba-tiba meninggalkan B city karena Li Yongfan kembali lagi di kemiliteran . Mungkinkah hal ini untuk menutupi keberadaan Li Jiao tapi jika Li Jiao masih hidup untuk apa mereka memalsukan kematiannya. Apa hal ini berkaitan dengan hubungan terlarang Li Jiao dan Li Huan Rui tapi kenapa harus memalsukan kematian padahal tidak ada yang menyebarkan tentang hal itu.
Helena menghela nafas sekali lagi. Dia benci memikirkan hal rumit yang membuat nya harus banyak berpikir tapi yang paling penting mungkinkah Li Huan Rui akan meninggalkannya setelah dia tahu bahwa Li Jiao masih hidup. Li Huan Rui tidak boleh tahu tentang hal ini. Bahkan jikapun gadis itu bukan Li Jiao tapi betapa miripnya mereka Li Huan Rui pasti akan tertipu olehnya dan dia akan jatuh cinta dengannya. Tidak, dia tidak ingin kehilangan Li Huan Rui, hanya pria itu lah yang dapat membantunya.
***
Li Huan Rui tidak bisa berkonsentrasi. Dia merasakan perasaan resah yang dia tidak ketahui penyebabnya. Dia sempat menghubungi Helena karena merasa khawatir jika perasaan tidak nyama ini terjadi karena Helena tapi wanita itu baik-baik saja.
"Apa yang terjadi sebenarnya"
***
"Ji..xiao xiao, kau harus makan. Jika tidak kau sakit"
"Aku tidak bisa makan mama, aku tidak memiliki nafsu makan"
"Sayang, mama tahu perasaanmu saat ini. Tapi bagaimana jika kau sakit? "
"Aku tidak apa-apa mama"
Bai Xiao tidak ingin meninggalkan putrinya bahkan sebentar. Tangannya masih mengenggam erat tangan kecil yang lemah itu.
"Kakak, jangan khawatir tentang Yimin, dia pasti bisa melalui hal ini. Dia bukanlah anak yang lemah"
"Aku tahu itu"
***
"Papa"
Li Huan Rui terkejut ketika melihat seorang gadis kecil menghampiri.
"Kau siapa?"
"Papa, aku putrimu"
"Putriku?"
Dia memandang gadis kecil yang memiliki wajah yang mirip dengan Li Jiao namun kornea matanya berwarna cokelat tua dan kecil seperti miliknya.
"Papa, aku harus pergi"
"Eh ? Kau mau pergi ke mana?"
"Selamat tinggal, papa"
**"
Li Huan Rui terbangun. Dia memandang kesekeliling. Saat ini dia ada di kamarnya. Dia menghela nafas memikirkan mimpinya tentang seorang anak perempuan yang mendatanginya. Anak itu terlihat mirip seperti Li Jiao. Mungkinkah dia putrinya tapi bagaimana mungkin. Setiap kali mereka melakukannya dia akan meminta Li Jiao minum obat karena dia tahu kehamilan di usia muda terlalu berisiko dan sulit untuknya memiliki seorang anak dengan situasi saat itu.
Walaupun dia akan merasa bahagia saat memiki anak perempuan yang cantik seperti Li Jiao. Li Huan Rui menggelengkan kepala. Mimpi itu pasti hanya mimpi. Li Jiao saat ini sudah pergi dan keinginannya untuk memiliki seorang anak bersamanya hanyalah sebuah harapan kosong. Li Huan Rui sudah menyerah dengan garis keturnan keluarga Shen karena dia tidak akan menikah atau menyentuh wanita lain. Li Huan Rui bangun lalu bersiap untuk bekerja.
***
Dua hari kemudian
Bai Xiao tidak tidur semalaman, dia takut ketika dia menup mata, dia mungkin akan kehilangannya dan juga sudah sejak lama dia melihat putrinya.
Setelah putrinya lahir Bai Xiao langsung pergi ke kuil. Dia harus meninggalkan putrinya untuk menepati janjinya pada tuhan. Setiap hari, dia berdoa di kuil selain untuk pebusan dosanya dia berharap untuk kesehatan putrinya. Dia berharap putrinya bisa hidup seperti anak-anak lain tapi jantung anak itu lemah.
Dia tahu kehamilannya memang memiliki resiko bahkan untuk janinnya. Dia mengabaikan semua hal itu dan bersikeras melahirkannya karena dia hanya ingin membiarkannya hidup, tapi sekarang setelah semua, dia bertanya-tanya apakah membiarkannya hidup dengan rasa sakit yang mungkin suatu saat akan merenggut nyawanya adalah keputusan yang tepat. Bai Xiao tidak tahu sejak kapan air mata yang berusaha dia tahan kini mulai keluar.
"Yimin, maafkan mama. Andai saja kau terlahir bukan dari mama sepertiku, kau pasti akan menjalani hidupmu dengan baik, kau tidak perlu mengalami rasa sakit seperti ini, kau bisa bebas melakukan apapun"
"Yimin, maaf....maaf"
Bai Xiao tidak bisa lagi menahan air matanya. Tangan kecil itu perlahan bergerak.
"Yimin"
Gadis kecil yang terbaring lemah itu memandang Bai Xiao cukup lama.
"Mama"
Tangan kecil itu bergerak menghapus air mata yang mengalir di pipi Bai Xiao.
"Mama kenapa nangis? "
"Tidak, Yimin. Mama hanya merindukanmu"
Bai Xiao memeluk gadis kecil itu dengan hati-hati, dia takut untuk menyakiti putrinya.
"Yimin jug rindu mama, sangat rindu mama"
Bai Xiao berusaha menahan air matanya. Dia melepas pelukannya dan memandang Yimin.
"Sayang, kau tahu bahwa kau tidak boleh terlalu kelelahan bukan? Kenapa kau masih bertekat untuk ikut olahraga?
Kau tahu betapa khawatirnya mama saat ini melihatmu seperti ini"
"Maaf, Mama. yimin tidak akan melakukan hal itu lagi"
"Baguslah"
Bai Xiao memberikan kecupan di dahi gadis kecil. Yimin tersenyum cerah.
"Sayang , minumlah air dulu"
Bai Xiao mengambilkan minum. Yimin bangun perlahan dan menerima gelas yang diberikan ibunya. Yimin meminumnya.
"Apa kau lapar? Mama akan mencari makanan untukmu dan menghubungi nenekmu"
Yemin mengenggam tangan ibunya.
__ADS_1
"Mama, jangan pergi"
Yemin takut jika yang dia lihat hanyalah mimpi, dia yakut jika dia membiarkan mamanya pergi maka dia tidak akan bisa melihat mamanya lagi. Yemin merindukan mamanya, dia ingin mamanya berada disampingnya dan menemaninya.
"Hanya sebentar, sayang"
Yemin mengeleng dengan lemah.
"Yemin ingin mama"
Bai Xiao akhirnya menyerah. Dia hanya akan menunggu sampai Mo An An dan Zhiting datang.
"Mama, Yimin ingin dipeluk mama lagi"
"Baiklah"
Bai Xiao memeluk gadis kecil sekali lagi dan membelai lembut rambut putrinya.
"Mama, Yimin sayang mama. Jangan pergi lagi ya"
"Mama juga sayang Yimin"
Bai Xiao melepas pelukannya karena takut jika tubuhnya terlalu berat.
Bai Xiao menekan tombol disamping tempat tidur Yemin untuk memberitahu dokter. Tidak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Yimin. Alat medis didadanya dilepas dan dipindahkan di bangsal lain. Tangan kecilnya terus mengenggam tangan mamanya.
"Yimin, sekarang kau istirahat ya"
"Jika Yimin tidur, mama tidak akan pergi jauh lagi kan?"
"Iya, sayang. Sekarang tidur"
Yimin perlahan mememejamkan tangannya. Ketika merasa Yimin sudah tidur lelap. Dia perlahan melepaskan tangan kecilnya dan pergi ke rumah. Dia harus memberi tahu ibu dan adiknya tentang Yimin.
***
Li Huan Rui berada di H city , dia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk salah satu temannya. Helena sudah menengonya tapi dia merasa tidak enak karena tidak mengunjunginya.
Li Huan Rui berhenti ketika melihat seseorang. Wanita itu dengan tidak sabar menunggu.
"Li Jiao"
Dia menepuk pundaknya pelan. Gadis itu menoleh. Wajah datar itu, tatapan dingin.
"Li Jiao"
Dia hendak memeluknya tapi Wanita itu mendorong nya.
"Tuan, apa yang kau lakukan?"
"Li Jiao, kau masih hidup?"
"Li Jiao? Tuan saya tidak bermarga Li dan nama saya bukan Jiao"
"Li Jiao, kau tidak perlu berbohong padaku. Aku tahu ini kau"
Suara Pria itu dingin dan penuh penegasan.
"Tuan, sudah ku bilang aku..."
"Li Jiao, hati seseorang tidak akan mengenali orang yang salah"
Li Huan Rui memandangnya dengan tatapan dalam dam lembut.
"Ny. Bai, kami sudah menghubungi orang tua anda tentang kondisi anak anda"
"Baiklah"
"Nyonya? Li Jiao, apa kau sudah menikah? Dan...seorang anak?"
"Maaf, Tuan. Anda tidak perlu bersikap akrab pada saya"
Wanita itu, Bai Xiao segera pergi. Li Huan Rui diam-diam mengikuti nya, dia tidak peduli apakah wanita itu sudah menikah. Dia adalah miliknya. Dia harus merebut wamita itu kembali.
Bai Xiao tahu bahwa Li Huan Rui mengikuti nya, dia tidak ingin pria itu tahu keberadaan putrinya. Dia merasa kesal kenapa pria itu masih memganggu kehidupannya dan tatapan mata itu....tidak sekarang dia adalah Bai Xiao. Dia tidak akan jatuh ke dalam harapan seperti Li Jiao. Bai Xiao mempercepat langkahnya dan memilih jalan memutar. Li Huan Rui kesulitan untuk mengikutinya. Dia bahkan kehilangan jejaknya. Li Huan Rui akhir nya memutuskan untuk pergi menjenguk temannya lebih dulu.
"Mama...mama"
Seorang gadis kecil berjalan sambil menangis. Li Huan Rui biasanya Tidak suka anak kecil tapi melihat wajah anak yang mirip dengan nya membuat nya menghampiri nya.
"Hallo, adik kecil. Kenapa kau menangis?"
"Apa kau mencari mamamu? Bisakah paman membantu mu?"
Gadis kecil itu-Yimin biasa nya selalu waspada tapi ketika pria itu menatapnya, dia merasa nyaman dan mengangguk. Li Huan Rui mengendongnya. Yemin merasa nyaman dengan kehangatan pria itu. Mungkinkah seperti ini juga kehangatan jika memiliki papa.
"Sayang, siapa namamu?"
"Yimin, Li Yimin"
"Li? Apa papamu bermarga Li? Siapa namanya?"
"Yimin tidak punya papa"
"Tidak punya ? "
"Iya, Yimin tidak pernah bertemu papa sejak lahir"
Li Huan Rui memandang gadis kecil itu. Suaranya terdengar sedih. Hatinya sakit merasakan kesedihannya.
"Yimin, nama paman juga Li. Bagaimana jika paman menjadi papamu?"
Yemin memandang ke arahnya. Paman ini sangat tampan, tinggi dan pelukannya hangat.
"Baiklah. Boleh Yimin memanggil paman dengan sebutan papa?"
"Tentu"
Li Huan Rui tersenyum.
"Papa....papa...papa"
Yimin mengulangi berulang kali.
"Iya, Yimin"
Li Huan Rui mengusap lembut rambut Gadis kecil. Dia teringat mimpinya mungkin itu tanda agar dia merawat gadis malang yang tidak memiliki ayah ini
__ADS_1