
Sikap Bai Xiao semakin dingin pada Li Huan Rui sejak perdebatan mereka malam itu. Li Huan Rui juga baru menyadari tatapan Bai Xiao yang penuh kebencian setiap kali melihatnya. Li Huan Rui tahu dia sudah meninggalkan luka yang begitu dalam untuknya, anda dia bisa kembali ke masa lalu dia akan mengubah keputusannya dan menahan keegoisannya saat itu. Namun dia tidak bisa kembali ke masa lalu, bagaimana caranya dia bisa menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan padanya.
Li Huan Rui masuk ke dalam kamar, dia memandang wanita yang sedang menyisir rambutnya. Bai Xiao memiliki rambut panjang berwarna hitam yang indah mirip seperti milik putri mereka. Li Huan Rui perlahan berjalan mendekatinya.
"Biarkan aku membantumu menyisir rambut"
"Tidak perlu"
Li Huan Rui merebut sisir dengan paksa.
"Tuan Li, kau..."
Li Huan Rui menyisir rambut Bai Xiao dengan hati-hati.
"Berhenti memanggilku dengan sapaan formal seperti itu. Kita suami dan istri yang sah, kenapa kau masih menggunakan panggilan formal padaku?"
"Apa ada aturan bahwa istri tidak boleh memanggil dengan panggilan formal"
"Tidak, tapi tidakkah kau merasa bahwa panggilan itu memperlihatkan ada jarak diantara kita? "
"Bukankah memang seperti itu? Tuan Li, kita hanyalah suami istri atas nama"
"Walaupun begitu kita masih tetaplah suami dan istri di mata hukum"
"Terserah kau saja"
Bai Xiao terlalu malas berdebat. Li Huan Rui tersenyum penuh kemenangan.
"Istriku, rambutmu sangat indah"
Bai Xiao tidak bereaksi apapun saat mendengar pujian Li Huan Rui. Li Huan Rui tahu tidak mudah untuk menyentuh hati wanita sedingin Bai Xiao hanya dengan pujian.
"Kau pasti sangat membenciku, apa aku benar?"
"Apa aku memiliki hak untuk membenci tuan muda Li yang terhormat"
"Ji..Istriku, kau tahu rasa benci bisa berubah jadi cinta"
Bai Xiao tersenyum pahit.
"Kenapa tuan Li tiba-tiba mengatakan omong kosong seperti ini"
"Itu bukan omong kosong"
"Aku pernah membenci seseorang, aku sangat membenci keberadaannya saat itu, namun karena aku membencinya aku justru selalu memikirkannya dan entah sejak kapan perasaan itu berusaha menjadi cinta tapi sangat disayangkan bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama padaku"
"Apa kau ingin tau siapa wanita itu?"
"Aku tidak peduli siapa wanita yang kau sukai. Aku lelah, aku ingin istirahat"
Bai Xiao mengambil sisir dari tangan Li Huan Rui dengan paksa lalu meletakkan di meja riasnya. Wanita itu lalu mengambil bantal dan berjalan ke sofa.
"Tempat tidur cukup luas , kenapa memilih tidur di sofa yang sempit"
Bai Xiao tidak peduli dan langsung berbaring di sofa. Dia memejamkan matanya dan berpura-pura tidak peduli pada Li Huan Rui.
Pria itu menghela nafas melihat wanita itu mengabaikannya. Dia berjalan mendekatinya dan menggendongnya. Bai Xiao panik.
"Tuan Li, apa yang kau lakukan, turunkan aku"
Li Huan Rui meletakkan Bai Xiao di tempat tidur lalu menyelimutiya.
"Istriku, tidakkah lebih nyaman untuk tidur di kasur daripada di sofa. Udara juga dingin jika kau tidur tanpa selimut kau bisa sakit. Tidurlah dengan nyaman. Aku tidak akan memaksamu untuk tidur denganku"
"Aku akan bermalam di ruang keja"
Li Huan Rui lalu meninggalkan ruangan. Sebelum menutup pintu dia menoleh ke arah Bai Xiao tapi wanita Itu segera memejamkan matanya. Li Huan Rui lalu pergi ke ruang kerjanya. Sebenarnya tidak banyak yang bisa dia kerjakan, dia hanya mengulang dokumen yang sebelumnya dia periksa.
***
"Mama, papa, hari ini Yimin akan menginap di rumah nenek"
"Kenapa ? Apa kau tidak suka tinggal di rumah ini? "
"Bukan begitu,papa. Yimin hanya ingin menemui Hua hua"
"Kenapa tidak meminta Xia Hua datang?"
"Apa boleh? "
"Tentu saja"
"Tapi Yimin sudah janji pada Hua hua untuk menemuinya di rumah nenek. Mungkin lain kali saja"
"Baiklah, papa akan mengantatmu"
"Tidak perlu, papa. Nanti ada paman Zhu yang datang menjemput"
"Paman Zhu? "
"Dia supir di keluarga kami"
Bai Xiao manjawab kebingungan Li Huan Rui.
"Katakakan pada paman Zhu itu untuk tidak menjemput. Kita akan datang ke rumah mereka"
"Tapi, papa bukankah kau sibuk"
"Tidak. Lagipula ada tradisi bagi wanita untuk pulang ke rumah orang tuanya setelah menikah jadi kenapa tidak sekalian saja. Benarkan istri?"
__ADS_1
"Ya"
Bai Xiao menjawab dengan ragu-ragu. Yimin terlihat tidak senang dengan usul papanya. Tujuannya pergi agar mamanya dan papanya bisa menghabiskan waktu berdua karena hubungan mereka terlihat kaku.
"Ada apa?"
"Papa, bukah hubunganmu dan kakek buruk? Yimin tidak ingin kalian bertengkar"
"Kalau begitu kau bisa pergi dengan mamamu"
Yimin semakin cemberut.
"Papa, apa papa tidak mengerti maksudku?"
Li Huan Rui mengerutkan keningnya.
"Papa, kenapa papa begitu lambat untuk mengerti. Yimin tidak jadi pergi"
Yimin berdiri.
"Yimin, kau belum menghabiskan makananmu"
"Yimin sudah kenyang"
Li Huan Rui menoleh ke arah Bai Xiao yang fokus dengan makanannya.
"Ada apa dengan Yimin"
Bai Xiao hanya mengangkat bahunya. Dia sebenarnya tahu apa maksud putrinya dia ingin agar Bai Xiao berdua dengan Li Huan Rui. Bai Xiao sempat mendengar Yimin menelpon Mo An An dan membahas tentang hal ini.
Dreet dreet
Li Huan Rui menganbil ponsel dari celananya. Dia mengeser tombol hijau.
"Hallo, mama"
Li Huan Rui menoleh ke arah Bai Xiao lalu dia berjalan pergi.
"Mama, aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin menghadiri kencan yang mama atur"
'Huanrui, cobalah bertemu dengannya terlebih dahulu. Dia dulu berada di universitas yang sama denganmu dan juga dia adalah putri dari wali kota di H city jika kau bisa bersamanya akan baik bagi perusahaan juga"
"Mama, aku..."
"Huanrui, setidaknya temui saja dia dulu. Mama sudah terlanjur mengatur pertemuan untuk kalian dan mama tidak mungkin membatalkan janji bukan? Huanrui, kau tidak akan mempermalukan mama bukan?'
Li Huan Rui menghela nafas.
"Baiklah tapi mama jangan memaksaku untuk berhubungan dengannya"
'Baiklah'
Li Huan Rui lalu mematikan telpon.
***
"Tidak bisakah kau mengganti pakaian di kamar mandi"
"Istri, kenapa kau begitu malu melihat suamimu melepas pakaian?"
"Istri tidak apa-apa jika kau ingin melihat..."
"Tidak, aku untuk apa aku ingin melihat tubuhmu"
Li Huan Rui mendekati Bai Xiao yang masih berdiri di depan pintu dan mengalahkan pandangannya.
"Benarkah begitu"
Li Huan Rui mencengkram dagu Bai Xiao dan memaksanya memandangnya. Bai Xiao memandang pria di depannya ini. Pipi Bai Xiao memerah melihat dada bidang pria itu dan juga perutnya yang six pag. Dia dengan segera menepis tangan Li Huan Rui dan mengalihkan pandangannya.
"Istriku, kau terlihat mengemaskan saat malu seperti ini"
"Berhentilah bercanda. Bai Xiao berbalik untuk membuka pintu tapi Li Huan Rui memeluknya dari belakang dan menahan tangannya.
"Tuan Li, apa yang kau lakukan. Lepaskan aku"
Bai Xiao meronta namun Li Huan Rui justru mempererat pelukannya.
"Istri, biarkan suamimu ini memelukmu sebentar"
"Tuan Li, lepas"
"Tidak"
Li Huan Rui masih belum puas menggoda istrinya. Bai Xiao akhirnya menggunakan jurus beladiri yang dipelajarinya dan merhasil menjatuhkan Li Huan Rui.
Li Huan Rui tidak menyangka kekuatan Bai Xiao begitu besar.
"Istri, kenapa menghancurkan momens manis kita"
"Tuan Li, aku peringatkan padamu jangan menggodaku seperti itu lagi dan untuk siapa kau berakting bersikap seperti pasangan yang saling menggoda. Tuan Li, jika kau melakukannya sekali lagi aku bisa melakukan lebih dari membantingmu"
Bai Xiao hendak keluar tapi ketika dia mendengar Li Huan Rui mengeluh kesakitan dia behenti.
"Aku tidak menyangka tuan Li begitu lemah"
Bai Xiao tidak menbantingnya dengan keras tentu saja dia tahu bahwa Li Huan Rui hanya pura-pura kesakitan. Li Huan Rui berhenti bersikap kesalitan dan berdiri seperti biasa. Istrinya memang tidak mudah untul ditipu. Bai Xiao lalu keluar meninggalkan kamar. Li Huan Rui tersenyum pahit kenapa begitu sulit untuk mendapat perhatian istrinya.
***
__ADS_1
Li Huan Rui berpamitan pada istrinya yang sedang berada di ruang keluarga.
"Istri, aku mau pergi keluar"
"Ya"
Bai Xiao hanya menanggapi singkat. Dia tidak perlu bersikap penuh kasih sayang karena tidak ada di ruang keluarga selain mereka.
"Apa papa mau pergi?"
Li Huan Rui berbalik ke arah putrinya. Dia senang putrinya berbicara padanya. Dia pikir putrinya masih marah tidak ingin bicara dengannya.
"Benar. Papa harus menemui seseorang. Papa pergi dulu"
Li Huan Rui mengusap lembut rambut putrinya lalu pergi meninggalkannya.
"Mama, tidakkah menurut mama, papa terlihat aneh?"
"Aneh? Apa yang aneh?"
"Papa menggunakan pakaian casual bukankah papa selalu menggunakan pakaian formal?"
"Jadi papa pasti pergi bukan untuk pekerjaan"
"Sayang, kau tidak perlu memikirkan itu dengan serius"
"Tapi mama, bagaimana jika papa bertemu wanita lain dan wanita itu berusaha merebut papa"
Bai Xiao tidak terlalu peduli dengan hal itu. Bagaimanapun mereka bukanlah pasangan suami istri sebenarnya yang penuh kasih sayang. Tentu saja dia tidak berhak untuk melarang Li Huan Rui bertemu atau berhubungan dengan siapapun. Namun dia tidak bisa menunjukkan hal ini pada putrinya.
"Tidak akan, papamu bukan orang seperti itu. Papamu tidak akan meninggalkan kita. Sayang, jangan berpikir buruk tentang papamu"
"Mama, apa kau mempercayai papa" .
"Ya, bukankah para pasangan suami dan istri harus saling perlahan"
Yimin tersenyum. Walaupun hubungan mama dan papanya terlihat kaku tapi mereka memiliki ikatan saling percaya. Yimin tidak sepenuhnya merasa buruk walau dia masih takut bagaimana jika seseorang merebut papanya.
***
Disisi lain Li Huan Rui bertemu dengan wanita yang diatur oleh mamanya. Wanita itu memiliki wajah yang cantik, kulit putih dan senyuman yang memikat bahkan suaranya begitu lembut. Namun pesona wanita itu tidak mempengaruhi seorang Li Huan Rui, bagaimanapun bagi Li Huan Rui hanya ada satu wanita yang ada di pandangannya- istrinya.
Gadis bernama He Mulan itu berusaha menarik perhatian Li Huan Rui. Dia memuji Li Huan Rui tentang kinerjanya sebagai presiden perusahaan Shen. Namun Li Huan Rui hanya menanggapinya singkat. He Mulan berusaha mencari bahan pembicaraan lain.
"Tuan Li, seperti apa tipe wanita yang anda sukai?"
Li Huan Rui terdiam sejenak. Dia ingin menjawab tipe yang disukainya seperti istrinya tapi dia tidak bisa mengungkap identitas istrinya.
"Aku tidak memilikinya"
"Benarkah? Tuan Li, lalu bisakah hubungan kita masih bisa berlanjut setelah pertemuan ini?"
He Mulam memandang dengan penuh harap. Dia sudah lama mengagumi pria di depannya ini. Wanita itu dengan ageresif memegang tangan Li Huan Rui tapi segera di tepis olehnya.
"Maafkan aku nona, tapi pertemuan kita cukup sampai disini"
Li Huan Rui lalu berdiri dan pergi. Dia tidak mempedulikan wanita yang terus memanggilnya. Li Huan Rui tidak menyukai ada wanita lain yang menyentuhnya dan dia juga tidak ingin berurusan terlalu lama dengan wanita lain. Li Huan Rui hanya ingin pulang dan menghabiskan waktu bersama istri dan putrinya. Namun wanita itu berusaha mengejar nya.
Bai Xiao dan Yimin berada di taksi. Mereka melihat adegan dimana gadis itu meraih tangan Li Huan Rui. Yimin memaksanya untuk pergi ke tempat ini, mungkinkah putrinya tahu tentang hal ini. Dia dapat melihat ekspresi sedih dan kecewa di wajah putrinya namun tiba-tiba ekspresinya berubah menunjukkan senyuman. Bai Xiao melihat arah pandangan putrinya, dia melihat wanita itu duduk di tanah dan Li Huan Rui meninggalkannya begitu saja dan masuk ke mobil.
"Mama, sepertinya kau benar. Papa pasti tidak akan meninggalkan kita. Tidak akan ada wanita yang dapat merayu papa ataupun merebut papa dari kita"
Senyuman Yimin semakin lebar, dia merasa senang papanya bersikap kasar pada wanita yang coba merayunya. Dia tahu seharusnya dia tidak perlu curiga. Dia sekarang tahu mengapa mamanya percaya pada papanya.
"Mama, ayo kita pulang"
"Tunggu, karena kita sedang diluar bagaimana jika kita sekalian pergi berbelanja"
"Baiklah"
Bai Xiao sengaja berbelanja agar dia bisa memiliki alasan saat Li Huan Rui tahu mereka keluar.
***
Ketika mereka kembali, Li Huan Rui ada di ruang tamu. Yimin langsung mendekat dan memeluk papanya.
"Yimin, kemana saja kalian?"
"Kami pergi berbelanja"
"Kenapa harus pergi berbelanja sendiri , kau bisa meminta pelayan untuk berbelanja"
"Mereka sudah memiliki banyak pekerjaan dan juga Yimin bosan di rumah jadi aku mengajaknya berbelanja untuk menghilang kebosanannya"
"Itu benar, papa berbelanja mengasikkan"
"Baguslah jika kau bersenang-senang"
Li Huan Rui memberi senyuman hangat pada putrinya. Dia lalu mendekati Bai Xiao dan mengambil alih plastik belanjaannya.
"Kau membeli cukup banyak. Aku akan membawa ke dapur"
"Tidak perlu, aku..."
"Istri, aku tidak mau kau kelelahan mengangkat barang berat"
"Ini tidak..."
Li Huan Rui terlebih dulu mengambil alih plastik itu.
__ADS_1
"Kalian pasti lelah bekeliling untuk berbelanja jadi beristirahatlah"
Li Huan Rui lalu pergi meninggalkan mereka. Yimin tersenyum cerah walau dia gagal untuk membuat mama dan papanya menghabiskan waktu berdua tapi dia cukup puas melihat perhatian papanya pada mamanya. Papanya memperlakukan mamanya dengan baik berbeda dengan sikap papanya pada wanita tadi, dia akan menceritakan pada nenek tentang betapa baik papanya.