Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
chapter 33


__ADS_3

Shen Fengyin kembali ke bangsal. Dia mendengar suara tawa dari dalam Shen Fengyin secara perlahan memnuka pintu.


  Chen Xixi dan Li YongSheng sedang mengobrol tentang sesuatu dan Li YongSheng tertawa. Tangan Shen Fengyin mengepal.


"Fengyin"


Shen Fengyin berjalan masuk


"Sepertinya aku menganggu pembicaraan kalian yang menyenangkan ya. Tapi sekarang tuan Li anda harus beritirahat dan Presiden Chen, tidakkah anda punya urusan diperusahaan"


  Chen Xixi tersenyum, dia menyadari ketidaksukaan Shen Fengyin padanya karena dia mengobrol dengan Li YongSheng. Walaupun Wanita itu masih menunjukkan ekspresi tenang.


"Oh, CEO Shen benar. A-Sheng, lebih baik kau istirahat"


'A-Sheng'


Tangan Shen Fengyin mengepal semakin erat. Seberapa dekat mereka hingga Chen Xixi berani memanggil dengan namanya.


Chen Xixi keluar dari ruangan.


"Fengyin, kau tidak pergi ke kantor"


"Aku..."


"Aku harus istirahat. Kau bisa tinggalkan aku"


'Pria ini, apa dia berusaha menolaknya'


"Baiklah, Tuan Li. Istirahat lah dengan nyaman"


Shen Fengyin keluar dari bangsal. Shen Fengyin kembali ke kantor lagipula tidak ada tempat yang bisa dia datangi karena dirumah juga tidak ada Li Huan Rui karena pria kecil itu sedang mengikuti kemah musim panas. Li Yongfan juga tidak ada dirumah. Jikapun pria itu di rumah, dia juga tidak ingin bertemu karena dia tidak yakin apa suasana hati Li Yongfan sudah lebih baik atau semakin buruk. Membayangkan ekspresi Li Yongfan membuat nya takut.


  Shen Fengyin menguburkan dirinya dalam pekerjaan,tapi dia tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Bayangan Li YongSheng yang tertawa saat bersama Chen Xixi memenuhi pikirannya.


Shen Fengyin menghela nafas.  Shen Fengyin membenci kecemburuan ini. Dia bukanlah seorang remaja tidak seharusnya dia cemburu hanya karena hal kecil.


Shen Fengyin berusaha fokus dan menyelesaikan pekerjaan nya. Shen Fengyin mengambil ponselnya. Waktu berlalu dengan cepat saat dia bekerja.


Shen Fengyin  pergi ke ruang ganti di kantor nya. Ruang CEO memiliki sebuah kamar yang berisi tampat tidur, lemari dan juga kamar mandi. Shen Fengyin berendam.pikirannya menjadi lebih santai.


  Shen Fengyin lalu memilih pakaiannya, Shen Fengyin tidak memiliki pakaian lain selain kemeja dan hanya beberapa dress malam.


   Shen Fengyin mengambil kemeja secara acak. Dia mengambil bedak dan melihat cermin kecil ditasnya. Dia memandang wajahnya. Sekarang dia berusia 27 tahun. Tentu saja usianya tidak muda lagi.


Shen Fengyin menghapus make up. Lagipula tidak dia terlalu sering menggunakan make up. Shen Fengyin lalu meninggalkan kantor dan menuju ke rumah sakit. Walaupun pria itu sebelumnya mengusirnya tapi dia tidak mungkin membiarkan nya sendiri.


  Shen Fengyin membuka pintu bangasal. Namun yang dilihatnya membuat nya menyesal untuk datang.


  "Fengyin"


Li YongSheng melihat ke arah Shen Fengyin yang berdiri di depan pintu. Chen Xixi menoleh h ke arah Shen Fengyin.


"Oh, sudah ada nona Chen. Baiklah, aku akan pergi. Nikmati waktu kalian"


Shen Fengyin hendak keluar tapi Chen Xixi memanggilnya.


"Shen Fengyin. Aku hanya mengobrol sebentar aku tidak bermaksud untuk menginap"


"A-Sheng, aku pergi dulu"


"Ok"


"Besok pagi aku akan membuatkan bubuk untukmu. Aku akan membuatnya lebih enak dari pada yang kau makan disini"


"Tidak perlu repot"


   Chen Xixi pamit pergi. Setelah Chen Xixi pergi suasana menjadi cangung. Li YongSheng yang sebelumnya bersandar kini berbaring di tempat tidur.


"Kau ingin istirahat bukan? Aku akan keluar"


Shen Fengyin tahu jika dia akan diusir jadi lebih baik dia meninggalkan ruang dengan kesadarannya sendiri.


"Fengyin"


"Um"


"Apa kau akan pulang?"


"Tidak, aku akan kembali ke kantor"


"Sebaiknya kau pulang, kakak Fan sendiri bukan? Tidak baik bagi seorang istri mengabaikan suami nya"


"Oh. Aku sedang tidak ingin bertemu kakak Fan. Dia sedang marah"


Shen Fengyin masih takut melihat ekspresi kemarahan diwajahnya.


"Kalian bertengkar? Apa yang terjadi?"


Shen Fengyin mengeleng.


"Tidak, kami tidak pernah bertengkar"


Mereka tidak pernah bertengkar mungkin hanya berdebat tapi Li Yongfan biasanya akan mengalah padanya.


"Oh, lalu kenapa kakakku marah"


"Aku tidak tahu"


  "Ini sudah malam. Lebih baik kau tidur, aku tidak akan menganggu mu"


"Fengyin"


"Um"


" Kau lebih cantik tanpa make up"


  Shen  Fengyin tidak mengatakan apapun.  Walaupun dalam hatinya dia merasa senang dengan pujian Li YongSheng. Ternyata pria itu memperhatikannya.


Perasaan kesalnya sedikit hilang. Shen Fengyin membuka pintu dan berjalan pergi. Li YongSheng tersenyum memperhatikan nya.


Sudah sejak lama dia tidak melihat Shen Fengyin tanpa make up. Mungkin terakhir kali saat dia mengandung Rui.


 


Shen Fengyin tidak berniat untuk kembali ke kantor. Dia biasanya suka bekerja tapi dia sudah menyelesaikan semua dokumen.


Shen Fengyin sudah lama tidak minum. Shen Fengyin menghubungi mo An an.


  "Hallo"


"Mo An an. Hei apa kau punya waktu aku...."


"Sebentar Yinyin"


  Brak


Shen Fengyin terkejut mendengar suara benturan.


"Direktur Li, apa yang kau lakukan"


'Direktur Li?'


Suara desahan Mo An an terdengar. Shen Fengyin hampir menutup telpon ketika dia mendengar suara yang dikenalnya.


"Mo An an. Dimana pria itu menyentuhmu ? Aku tidak suka itu"


  Shen Fengyin terkejut . Dia yakin ini adalah suara Li Yongfan tapi apa yang pria itu lakukan.


"Li Yongfan berhenti, ada apa denganmu"


"Mo An an...aku tidak suka kau bersama pria lain. kau milikku. Tidak ada yang boleh menyentuh mu kecuali aku"


"Milikmu? Ha ha...mungkin saat ini kau masih menganggapku milikmu karena kau masih membutuhkanku sebagai alat pemuas mu  tapi setelah kau bosan padaku apa kau masih akan menganggapku milikmu? Bukankah aku sama seperti para wanita murahan yang sebelumnya menghabiskan malam bersama mu di masa lalu? Setelah kau bosan maka kau bisa membuangku kapan saja"


"Direktur Li, kau tidak berhak melarang dengan siapa aku berhubungan. Hubungan diantara kita hanya sebatas di tempat tidur tidak lebih"


"Tolong pergi. Aku sangat lelah. Aku tidak ingin bertengkar denganmu"


"Mo An an"


"AKU BILANG PERGI"


   Mo An an mulai menangis.


"An...an.."


Mo An an tidak menanggapinya. Shen Fengyin merasa khawatir dan juga marah. Dia bukan marah karena Li Yongfan berselingkuh darinya atau menghabiskan malam bersama Wanita lain tapi dia marah karena mendengar  tangisan Mo An an yang tidak berdaya. Dia marah pada Li Yongfan yang menjadikan mo An an sebagai mainannya. Dia tahu di masa lalu  Li  Yongfan sering bermain-main dan dia tidak peduli karena dia tidak memiliki perasaan apapun dengan Li Yongfan dan mereka juga menghormati privasi masing-masing tapi kenapa harus  mo An an. Kenapa Li Yongfan harus mempermainkan sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudara perempuannya. Dia tahu perasaan mo An an pada Li Yongfan karena itulah dia awalnya ragu untuk menerima lamaran Li Yongfan. Namun kenapa keadaan menjadi seperti ini.


Tidak...Shen Fengyin tidak ingin melihat sahabatnya terluka. Mo An an sudah menghadapi situasi yang sulit sejak keluarga Mo jatuh bagaimana mungkin Shen Fengyin akan membiarkannya menderita  lagi.


 


Di apartemen nya Mo An an menangis. Mo An an bahkan tidak menghiraukan suara yang memanggilnya dan juga dia tidak menyadari jika seseorang masuk ke apartemen nya.


"An"


Mo An an dengan ragu mengangkat kepala nya. Shen Fengyin menjadi semakin marah melihat keadaan sahabatnya sekarang. Wanita itu duduk di lantai, Piyama yang digunakannya robek dan tanda merah dilehernya ,mata Mo An an yang sebab memandang ke arahnya.


Dia mengutuk Li Yongfan. Dia pasti begitu kasar.


"Fengyin"


Shen Fengyin memeluk sahabatnya itu.


"An, aku sudah tahu semuanya"


"Fengyin, maafkan aku. Aku tahu kau pasti marah padaku"


"Tidak, An. Aku tidak marah padanmu tapi An, lebih baik kau tidak bertemu lagi dengan Li Yongfan"

__ADS_1


"Aku tidak bisa"


" mo An an"


"Fengyin. Aku mencintainya"


"Aku tahu"


"Maaf"


"Tidak perlu minta maaf"


 


   Li YongSheng sudah diperbolehkan pulang. Shen Fengyin merasa senang setidaknya dia bisa merawat Li YongSheng tanpa gangguan dari Chen Xixi.


Namun dia salah, Chen Xixi justru datang ke mension. Shen Fengyin merasa kesal wanita itu beranggapan seolah rumah ini adalah rumahnya.


  Chen Xixi juga mencoba menarik perhatian Li Huan Rui dengan memberikan mainan. Mungkin kah wanita itu tahu bahwa Li Huan Rui adalah anak Li YongSheng.


Shen Fengyin datang ke kamar Li YongSheng. Dia mengetuk pintu Tapi tidak ada jawaban. Shen Fengyin membuka pintu.


Kamar Li YongSheng masih menyala. Shen Fengyin melihat li Yongsheng tertidur , tangannya masih memegang buku.


'Mungkin dia ketiduran saat membaca'


  Shen Fengyin mengambil buku itu pelan, melihat buku itu membuat nya teringat bahwa buku itu pemberian Chen Xixi, buku itu buku tentang teknik Komputer.  Shen Fengyin meletakkan buku dan menyelimutinya.


Tangan Shen Fengyin tiba-tiba ditarik dan membuat nya jatuh di tempat dan di rangkulan li YongSheng.


"Kakak ipar, apa yang kau lakukan di kamar adik iparmu ini? Apa karena kakakku sedang pergi keluar kota kau memanfaatkan kesempatan ini"


Shen Fengyin tidak berani bergerak banyak. Dia takut akan menyentuh luka Li YongSheng.


"Adik ipar.... kakak ipar? Bukankah kau tidak mengakuiku?"


"Ya, awalnya. Tapi kau sudah menikah dengan kakakku dan menjadi kakak iparku"


"Bodoh"


Shen Fengyin hendak bangun tapi Li YongSheng justru memeluknya. Shen Fengyin dapat mendengar detak jantung  li Yongsheng.


"Adik ipar, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak takut kakak mu marah?"


"Kakak ku tidak ada di rumah. Dia tidak akan tahu bukan? lagipula kakak ipar sendiri yang menyerah kan diri padaku jadi kenapa aku harus mensia-siakan kesempatan ini"


Li YongSheng memeluk nya erat.


"Li YongSheng, aku kesini hanya ingin melihat keadaanmu"


"Benarkah? Tapi kenapa malam-malam seperti ini?"


"Chen Xixi datang setiap waktu jika tidak malam. Tidak mungkin bagiku bisa dekat denganmu tanpa gangguan"


"Li YongSheng, apa kau akan menikahi Chen Xixi?"


"Kenapa?"


"Hanya ingin tahu saja. Chen Xixi mulai mendekati Huanrui, sepertinya dia sudah persiapan untuk menjadi ibu tirinya"


Li YongSheng tertawa pelan.


"Kau berpikir berlebihan"


"Chen Xixi selalu ramah dengan setiap orang. Mungkin karena Chen Xixi berpikir Rui imut dia jadi ingin menarik perhatian nya lagipula hubungan ku dan Chen Xixi hanya teman. Aku masih belum berpikir untuk menikah inya"


"Belum , bukan kah masih ada kemungkinan"


"Cemburu?"


"Tidak"


"Aku memang ingin menikahi seseorang tapi bukan Chen Xixi"


"Siapa?"


"Kau"


Jantung shen Fengyin berdebar kencang.


"Aku kakak iparmu. Bagaimana Mungkin kau ingin menikah dengan ku"


"Tidak perlu berpura-pura lagi. Kakaku sudah memberitahuku. Kalian tidak benar-benar menikah bukan? "


"Ya, itu memang tapi belum tentu aku menerima mu "


Li YongSheng melepaskan pelukannya.


"Ya. Kau benar. Bagaimana mungkin CEO Shen yang sukses dan memiliki banyak uang mau menerima pria yang tidak memiliki status, pekerjaan,uang bahkan rumah. Aku hanyalah pria miskin. Tidak ada hal yang dapat membuat CEO Shen tertarik padaku" 


Shen Fengyin membalikkan tubuhnya dan memandang Li YongSheng. Pria yang sebelumnya sombong , dingin dan percaya diri kini berbicara dengan merendahkan diri.


"Ya, itu benar. Tapi kau punya wajah tampan. Mungkin aku masih bisa mempertimbangkanmu"


"Ya, lagipula aku tidak peduli dengan status, uang, pekerjaan karena aku sudah memilikinya dan itu lebih dari cukup untuk membesarkan putra ku yang tampan dan suamiku yang tampan.


Li YongSheng tersenyum. Dia memeluk Shen Fengyin namun w


Shen Fengyin mencium bibir Li YongSheng. Li YongSheng terkejut  Ketika li YongSheng hendak membalas ciumannya Shen Fengyin segera mundur.


"Wanita, kau mencoba merayuku?"


Li YongSheng menciumnya. Ciuman lembut perlahan menjadi liar. Tangannya mulai liar tapi Shen Fengyin menghentikan nya.


Dia mendorong pria itu pelan.


"Kau masih terluka. Jangan sampai lukamu terbuka"


Li YongSheng menghela nafas kecewa.


"Baiklah, tunggu sampai lukaku pilih. Kau  tidak akan bisa lari"


Li YongSheng kembali mencim bibirnya dengan singkat. 


"Aku harus kembali ke kamar ku"


"Tidurlah disini,"


"Aku tidak ingin menyentuh lukamu"


Shen Fengyin bangun dan segera keluar dari kamar.


"fengyin, aku mencintaimu"


Fengyin berhenti sejenak.


"Aku juga mencintaimu"


Shen Fengyin segera keluar. Li YongSheng tersenyum setelah shock karena akhirnya dia mendapat balasan cinta dari shen fengyin.


 


  Li Yongfan menghabiskan bir dalam satu tegukan.


Seorang wanita datang. Dia menyapa Li Yongfan  dengan suara centil. Li Yongfan tidak peduli.


"Direktur Li, sudah lama kau tidak datang. Aku selalu memumggumu datang"


Wanita itu duduk di pangkuan Li Yongfan dengan berani. Wanita di pangkuannya itu mengalungkan tangan di lehernya.  Dia mencoba mencium Li Yongfan. Tapi Li Yongfan mendorong nya dengan kasar.


Li Yongfan bahkan tidak peduli saat Wanita itu jatuh.  Wanita itu kesal dan meninggalkan li Yongfan.


"Direktur Li"


Seorang wanita datang mendekati nya. Wanita itu menggunakan dress tanpa lengan.


"Sepertinya kau sudah bosan denganku? Mencari penghangat tempat tidur yang baru?"


Bagaimana mungkin Li Yongfan bosan dengannya dia selalu mengharapkan dimimpinya


"Bagaimana dengan mu? Mencari pria lain? "


"Tidak. Aku hanya ingin minum dan kebetulan melihat mu"


"Oh"


"Lagipula tidak ada yang lebih memuaskanku daripada direktur Li"


"Merayuku?"


Mo An an tersenyum. Li Yongfan berdiri di depan mo An an.  Tangan nya membelai wajahnya lembut.  Li Yongfan menundukkan wajahnya dan mencium mo An an.  Mo An an membalas ciumannya. Bibir mereka saling *******.


Li Yongfan menjauhkan wajahnya.


"An, ayo kita menjalin hubungan, sama seperti pasangan lain"


Mo An an terkejut. 


"An, aku mencintaimu"


"Aku..."


"Tidak perlu menjawab. Aku tahu perasaanmu padaku"


Pria itu menciumnya lagi


Mo An an terbangun dari tidur nya. Dia merasa kecewa bahwa yang dialaminya adalah mimpi. Tentu saja mimpi itu tidak akan mungkin menjadi kenyataannya. Perasaan Li Yongfan hanya untuk Shen Fengyin. Hubungan mereka hanya sebatas ditempat tidur dan sekarang pria itu sudah bosan dengannya.


Mo An an kembali memejamkan matanya dan tertidur

__ADS_1


 


   Mo An an tidak menyangka dia akan bertemu dengan pria itu dilokasi syuting. Li Yongfan menyapa para staf dengan ramah.


  Mo An an tidak bisa berkonsentrasi hingga dia tidak menghindari  pukulan  tongkat.


"Aw"


"Mo An an. Dimana pandangan mu? Konsentrasi"


Guru yang mengajari  mo An an memarahinya.


"Maaf"


Mo An an kembali berlatih. Pelatihnya cukup tegas, dia tidak segan memukulnya  jika posturnya atau gerakannya tidak sesuai arahan. Ini film action pertamanya. Mo An an berusaha keras berlatih.


Li Yongfan memandang kearah Mo An an. Wajah wanita itu terlihat lelah. Li Yongfan tidak suka melihat pelatih itu terlalu keras pada Mo an an. Ketika Wanita itu hendak memukul Mo An an lagi, Li Yongfan segera menahan rotan itu.


"Direktur Li"


"Apa seperti itu cara mu mengajar?"


Li Yongfan melihat memar di tangan Mo An an.


"Maafkan saya, tapi nona Mo"


Direktur Li memanggil sutradara. Dia meminta sutradara itu mengganti pelatih. Pelatih itu memprotesnya .Namun melihat tatapan tajam Li Yongfan dia menelan ludahnya.


Li Yongfan merangkul bahu mo An an dan membawanya pergi.  Mo An an tidak nyaman melihat orang -orang menatapnya.


Li Yongfan meminta asistennya membawakan salep.


"Direktur Li, anda tidak perlu melakukan ini. Saya tidak pantas mendapat kan perhatian anda"


Li Yongfan tidak menanggapi. Asisten nya datang membawa salep. Li Yongfan mengoleskan salep dengan hati-hati.


"Apa sakit?"


"Sedikit"


"Harus kah ke rumah sakit?"


"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil"


"Aku harus kembali berlatih"


"Jangan terlalu keras"


"Um"


Mo An an kembali untuk berlatih dengan pelatih lain.


"Bukankah menyenangkan punya wajah cantik bisa merayu investor"


"Benar, aku yakin dia mendapat kan peran dengan mengandalkan tubuh dan wajahnya "


Mo An an tidak peduli. Dia sudah terbiasa dengan pandangan rendah kepada dirinya dan juga mereka tidak salah. Dia mendapat peran ini dengan memberi kan tubuhnya pada direktur Li. Nanun dia tidak pernah merayu pria lain selain direktur Li


 


  Jadwal hari ini tidak terlalu padat. Selain latihan mereka juga melakukan pemotretan.


Mo An an merasa tidak nyaman ketika Li Yongfan terus memandang ke arahnya yang membuat mo An an tidak bisa berkonsentrasi. Li Yongfan tersenyum melihat mo An an salah tingkah.


  Mo An an berada di ruang make up membersihkan make upnya. Mo An an bermain dengan ponsel nya menjelajah weibo. Mo An an tidak menyadari jjka seseorang berjalan masuk.


Sepasang tangan melingkar dipingganya.


"An an"


Suara berat seorang pria yang terdengar lembut dan sexy meragsang telinganya.


"Direktur Li"


"An, aku merindukanmu. Apa kau merindukanku?"


Tentu saja, tentu saja mo An an merindukanya, dia selalu merindukannya. Namun bisakah dia mengatakannya.


"Direktur Li, bisakah kau melepaskan pelukanmu. Orang akan salah paham dan istri anda..."


"Aku akan berpisah dengan Shen Fengyin"


"Kenapa?"


"Dia ingin bersama pria lain"


"Oh"


Sekarang Mo An an tahu kenapa pria itu datang padaya.


"An, setelah selesai syuting datanglah ke kamarku"


Pria itu berbisik tepat di telinganya yang membuat jantung mo An an berdebar.


 


Mo An an berada di depan kamar Li Yongfan. Saat ini mereka berada di hotel di Z city. Mo An an membuka kunci dengan kartu yang diberikan oleh asisten Li Yongfan.


Mo An an masuk, kamar ini cukup luas bahkan ada suit room.


   Mo An an duduk di sofa, asisten Li Yongfan meminta nya memunggu karena saat ini bosnya harus menyelesaikan urusannya.


  Mo An an mengambil ponselnya dan menjelajah weibo. Dia melihat komentar-komentar dari foto yang dia ambil dari lokasi syuting.


Ada banyak komentar negatif yang menenuhi halaman komentar. Mo An an mulai bosan. Dia juga mengantuk. Dia sangat lelah hari ini. Dia harus melakukan penerbangan pagi lalu langsung melakukan latihan dan pemotretan.


Pintu kamar terbuka. Li Yongfan masih mengenakan kemeja. Dia memandang ke arah mo An an yang tertidur.  Sepertinya Wanita itu kelelahan.


Li Yongfan mengendong Wanita itu dengan hati hati dan  meletakkannya dengan lembut.


Li Yongfan pergi ke kamar mandi membersihkan diri.  Mo An an mendengar suara air, dia perlahan membuka matanya.


Pintu kamar mandi terbuka, Li Yongfan keluar dengan menggunakan jubah mamdi yang memperlihatkan dada bidang nya.


  "Bangun?"


  "Apa kau lapar?"


Mo An an menggeleng. Dia tidak ingin makan di malam hari takut untuk gemuk.


  "Takut gemuk?"


  "Direktur Li bisa membaca pikiran orang?"


"Hanya menebak"


  Li Yongfan duduk di sebelah mo An an.


"Itu...haruskah kita minum?"


  Biasa mereka akan melakukannya saat mabuk tapi kini mereka dalam keadaan sadar.


"Gugup?"


"Tidak.  Hanya saja, apa tidak apa-apa bagimu?"


"Aku tidak masalah dengan itu"


Mo An an merasa gugup. Li Yongfan menariknya dalam rangkulannya.


"Jangan gugup. Aku tidak akan memaksamu jika...."


Mo An an mengambil inisiatif lebih dulu. Li Yongfan membiarkan mo An an memimpin.  Li Yongfan akui Wanita ini memang pandai berciuman. Entah sudah berapa banyak pria yang berciuman dengannya. Ciuman wanita itu membangkitkan gairahnya.


Li Yongfan memiliki pengalaman  dengan banyak Wanita tapi hanya mo An an yang membangkitkan gairahnya hanya dengan ciuman.


Tangan mo An an menjelajah dada bidang nya. Tangannya begitu membut dan hangat. Li Yongfan meraih tangan Wanita itu.


Dia mendorong nya dan mengankat tangannya di atas . li Yongfan mulai mengendalikan permainan. Dia ******* bibir Wanita itu lalu turun ke lehernya yang putih.


"Jangan membuat tanda"


"Kenapa? "


"Aku harus mengambil adegan"


Baiklah. Aku akan membuat tanda di tempat yang tak telihat.


Tangan Li Yongfan merobek ligine yang menurutnya mengmhalangi. Tamgannya mulai bermain di tempat tempat sensitifnya.


"Mo An an"


Mo An an terkejut. Ini pertama kalinya dia mendengar namanya saat mereka bercinta.


  Ada banyak orang yang memanggil namanya tapi ketika keluar dari bibir pria itu nama nya terdengar sangat indah.


"An....an"


"A-Fan, aku mencintai mu"


Li Yongfan membeku.


"Apa yang kau katakan?"


Pikiran mo An An yang kacau kini mulai kembali. Dia menyadari dia tidak seharusnya mengatakannya.


"Tidak ada"


Mo An an melingkar kan tangannya di lehernya. Dia menciumnya  berusaha menghidupkan permainan yang tiba-tiba berhenti. Li Yongfan tidak bisa menahan gairahnya.

__ADS_1


  Mo An an tahu seharusnya dia tidak megatakannya kata kata cinta. Dia hampir saja kehilangannya.


Mo An an hanya bisa memengucapkan kata cinta didalam hatinya tanpa diketahui oleh pria itu.


__ADS_2