Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Side Story 7 (tahun baru)


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kini tahun baru akan tiba. Mo An An menolak semua jadwal di tahun baru karena dia ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mo An An kini sibuk di dapur menyiapkan kue tahun baru.


Tidak ada para pelayan di rumah mereka saat malam tahun baru karena Mo An An mengijinkan mereka untuk pulang.


Mo An An membuka resep di salah satu situs dan mengikuti cara membuatnya.


"Mama, apa jiao bisa membantu?"


"Tidak perlu Jiao. Kau hanya perlu menunggu saja"


"An, apa kau yakin kue tahun ini bisa di makan?"


Li Yongfan berniat menggodanya.


"Jangan meremehkanku. Aku sudah banyak berlatih"


"Papa, apa mama pernah membuat kue juga tahun lalu?"


"Ya, tapi pada akhirnya kue itu terbuang sia-sia"


"Rasanya sangat aneh bahkan mamamu juga tidak ingin memakannya" bisik Li Yongfan.


"Kali ini akan lebih baik. Aku yakin itu"


Mo An An mengucapkannya dengan penuh percaya diri.


***


Keluarga Li YongSheng juga mempersiapkan diri untuk tahun baru. Li YongSheng membuat kue tahun baru. Sedangkan Shen Fengyin menemaninya di dapur. Li YongSheng berkata padanya jika ada Shen Fengyin di dekatnya maka apapun yang dibuatnya akan terasa enak. Shen Fengyin menganggapnya hanya omong kosong tapi dia tetap saja mau menemani Li YongSheng di dapur.


Shen Fengyin memandang suaminya yang sibuk mengola adonan kue. Pria tampan yang menggunakan kemeja berwarna biru muda yang lengannya dia gulung sampai siku menperlitkan lengan nya. Shen Fengyin mengigit bibirnya, dia berpikir bahwa suaminya tidak hanya tampan tapi juga sexy. Shen Fengyin tidak tahu mengapa dia masih saja terpesona dengan suaminya walau dia sudah sering melihatnya.


"Aku tahu suamimu ini tampan tapi jika kau terus memandangku aku tidak bisa berkonsentrasi" goda Li YongSheng.


Shen Fengyin segera mengalihkan pandangannya. Li YongSheng tersenyum ketika melihatnya.


"Li YongSheng, apa kau tidak berkumpul dengan keluarga Lin? "


Li YongSheng terdiam lalu menggeleng.


"Aku bukan bagian dari keluarga Lin"


Lin memanglah keluarga milik ibu kandungnya tapi kepala keluarga Lin tidak menginginkan kehadirannya bahkan walaupun Li YongSheng bekerja keras untuk menunjang perusahaan Lin tapi kakek itu masih tidak ingin mengakuinya. Pada akhirnya dia keluar dari perusahaan Lin dan menjual sahamnya di perusahaan Lin dan pindah untuk membantu Shen Fengyin mengelola perusahaannya karena kondisi Shen Fengyin yang mulai lemah sejak kecelakan itu.


"Aku tidak ingin terhubung dengan keluarga yang bahkan tidak mengakuiku"


Shen Fengyin tahu perasaan pria itu. Apalagi keluarga lin lah yang membuangnya saat dia masih kecil. Dia merasa bahwa keluarga Lin begitu buruk.


"Istri, aku sudah memesan tiket ke A Country"


Ny. Nian tidak bisa datang karena tidak bisa meninggalkan James Nian dan Jenny Shen yang sedang hamil. Jadi mereka memilih untuk pergi ke A country untuk merayakan tahun baru.


"Suami, bisakah kau memundurkan jadwal keberangkatan menjadi lusa? Aku berencana mengundang keluarga kakak fan untuk makan bersama"


"Baiklah. Aku akan mengaturnya untukmu. Tapi apa keluarga kakak bisa datang? Keluarga Li juga mengadakan makan malam setiap tahun baru"


"Aku akan menanyakannya"


"Baiklah"


***


Li Yongfan dan Jiao saling memandang ketika melihat kue yang dibuat oleh Mo An An. Bentuknya bahkan terlihat aneh, mereka tidak tahu seperti apa rasanya.


"Hei, kenapa kalian hanya diam saja. Ayolah, aku yakin kali ini pasti enak "


"Baiklah, aku akan mencobanya"


Li Yongfan memotong kue itu menjadi potongan kecil lalu memasukkan dalam mulut. Mo An An dan Jiao memandang ke arah Li Yongfan untuk memperhatikan bagaimana reaksi pria itu. Li Yongfan menelannya dengan susah payah.


"Bagaimana?"


Li Yongfan tidak tega melihat tatapan penuh harap istrinya. Dia ragu-ragu untuk mengatakannya. Jiao ikut memakan potongan kue itu. Dia memandang ke arah papanya. Dia tahu sekarang kenapa ayahnya menyembunyikan reaksi anehnya. Mo An An ikut mencobanya. Dia hampir memuntahkan kue buatannya itu. Dia memang tidak berbakat.


"Lebih baik aku buang saja"


"Tidak, mama, biar Jiao yanghabiskannya"


"Tidak perlu, rasanya aneh bagaimana mungkin kau akan memakannya"


"Tidak apa-apa , mama. Lagipula akan sayang jika kuenya dibuang begitu saja"


"Tidak...tidak, bagaimana mama membiarkan putri mama makan kue yang gagal"


"Tapi, mama. Jika membuang kue akan sia-sia. Banyak orang yang kelaparan. Tidak seharusnya kita membuang-buang makanan"


Mo An An tersentuh. Li Yongfan akhirnya menawarkan diri untuk makan begitu pula dengan Mo An An. Beruntung bahwa tidak banyak kue yang dibuat Mo An An. Pasangan suami istri itu menelan kuenya dengan susah payah. Sedangkan Jiao hanya memakannya tanpa reaksi apapun. Dia bahkan tidak terlihat keberatan dengan rasanya. Mo An An dan Li Yongfan saling pandang melihat reaksi Jiao.


Dreet dreet


Mo An An mengambil ponselnya yang bergetar. Dia melihat nama Shen Fengyin di layar.


"Hallo,Fengyin"


"An, apa kau bisa datang makan malam besok?"


Mo An An menanyakan hal ini pada Li Yongfan. Dia tidak yakin harus menerima atau tidak karena mungkin saja Li Yongfan memiliki janji dengan keluarga Li.


"Aku tidak pergi ke keluarga Li jadi terima saja"


Mo An An menyetujui undangan Shen Fengyin. Lalu mengakhiri pangilan.


"Suami,apa kau yakin tidak datang ke keluarga Li besok malam?"


Li Yongfan menggeleng pelan.


"Mereka tidak ingin menerimamu jadi aku tidak ingin pergi dan Li YongSheng juga tidak akan datang ke keluarga Li bukan? Jadi untuk apa aku pergi ke sana"


"Tapi, apa tidak apa-apa kau mengakhiri hubungan dengan keluarga Li seperti ini? "


"Mereka tidak ingin menerima keputusanku jadi aku tidak memiliki pilihan lain"


Mo An An tidak mengatakan apapun lagi. Dia tidak mau mendesak Li Yongfan. Mo An An merasa bersalah dalam hatinya karena dia telah membuat Li Yongfan mengambil keputusan untuk meninggalkan keluarganya agar bisa bersamanya.


***


Keesokan harinya


Jiao terbangun karena sinar matahari yang menembus matanya yang menyilaukannya. Jiao segera bangun dan bersiap. Hari ini adalah awal di tahun yang baru. Jiao bersemangat untuk hari ini. jiao biasanya akan dibantu untuk mandi saat dia masih terluka tapu setelah sembuh Jiao menolak dan meminta untuk mandi sendiri. Jiao tidak terbiasa dilayani.


Jiao turun ke bawah. Saat itu mama dan papanya sudah berada di ruang makan. Jiao menyapanya dan mengucapkan selamat tahun baru.


"Selamat tahun baru, mama papa"


"Selamat tahun baru, putri kecilku. Duduklah"


Mo An An menyiapkan makanan lengkap. Biasanya dia hanya akan mensiapkan roti dan selai untuk sarapan tapi hari ini adalah tahun baru, tidak mungkin baginya hanya menyiapkan makanan simpel


Li Yongfan mengambilkan setiap memu dan meletakkannya di atas piring Jiao.


"Terima kasih, papa"


Jiao menikmati masakan yang dibuat ibunya. Walaupun masakan yang dibuat ibunya masih kalah dengan makanan buatan kepala koki yang biasanya di makannya tapi bagi Jiao masakan ibunya adalah yang terlezat.


Ini pertama kalinya bagi Jiao makan makanab lezat dan mendapatkan kehangatan sebagai keluarga yang selalu dia impikan dalam hidupnya. Jiao memandang papa dan mamanya yang sedang menikmati makanannya.


'Mungkinkah aku bisa menerima kehangatan ini selamanya'


"Jiao, kenapa hanya diam? Ayo , makan makananmu"


Jiao menuruti mamanya. Dia makan makanannya dengan lahap.


***

__ADS_1


"Aku akan pergi makan malam bersama keluarga Helena"


Mereka kini sedang berdiskusi tentang makan malam nanti.


"Kau lebih memilih makan malam bersama keluarga orang lain dibandingkan keluarga mu sendiri"


"Ya, lagipula bukankah yang mama harapkan adalah gadis rendahan itu"


"Li Huan Rui jangan menyebut xiao jiao dengan panggilan seperti itu"


"Kenapa? Gadis itu memang rendahan, dia seorang pencuru yang tidak memiliki status jadi aku benar bukan?"


"Tapi sekarang dia adalah anak bibi An dan papa Fan mu . Kau seharusnya menghormatinya sebagai saudaramu"


"Saudara? Dia bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan papa Fan. Wanita rendahan seperti dia tidak pantas untuk menjadi saudaraku"


Shen Fengyin mengepalkan tangannya. Li YongSheng berusaha untuk menenangkan kemarahan Shen Fengyin akibat putranya ini.


Li Huan Rui mendorong kursinya dengan kasar.


"Mama akan memberitahu keluarga Si untuk menolak undanganmu"


Li Huan Rui yang sebelumnya melangkah kini berhenti.


"Mama!"


"Kau harus ikut makan malam keluarga "


Li Huan Rui merasa kesal namun melihat wajah tegas mamanya membuat Li Huan Rui tidak punya pilihan lain selainp pasrah dengan apa yang diinginkan ibunya walau dia merasa enggan untuk bertemu dengan gadis menyebalkan itu"


***


Mo An An membawa sebuah kotak lalu pergi ke kamar putrinya.


Tok tok tok


"Jiao"


Mo An An masuk ke kamar. Pandangannya terarah pada Jiao yang sedang membaca buku. Mo An An tahu bahwa putrinya begitu rajin belajar bahkan kemampuan membaca meningkat, dia juga bisa berhitung. Mo An An merasa bangga dengan putrinya.


"Jiao jiao"


"Mama"


"Kau sangat serius ya hingga tidak mendengar mama"


"Maafkan aku, mama"


Jiao meletakkan bukunya.


"Mama punya hadiah untukmu"


Mo An An menyerahkan sebuah kotak. Jiao menerimanya.


"Bukalah"


Jiao dengan hati-hati membuka tutup kotak. Dia mengeluarkan sesuatu di dalamnya-sebuah pakaian cheongsam.


Jiao memandang pakaian dengan kerah tinggi yang berwarna merah dan dibawahnya berenda yang berbentuk seperti gaun.


"Mama harap kau mendapatkan keberuntungan untuk menarik perhatian Li Huan Rui dan juga kau pasti akan terlihat cantik dan menggemaskan "


"Terima kasih mama"


"Sama-sama"


Mo An An membelai rambut panjang putrinya.


***


Di malam hari


Li YongSheng memandang hasil masakannya yang tersaji di meja dengan tatapan puas. Shen Fengyin meminta suaminya untuk bersiap-siap.


Li YongSheng segera pergi ke kamarnya. Li Huan Rui turun ke bawah dengan enggan. Dia melihat ibunya yang sudah menggunakan qibao berwarna kuning emas. Dia merasa bahwa tradisi di keluarganya terlalu kuno.


Li Huan Rui menunju ke ruang makan dan mengambil kue.


"Rui, tunggu sampai tamu datang"


Shen Fengyin menegur putranya. Li Huan Rui menunjukkan ekspresi cemberut lalu dengan enggan meletakkan kue yang hampir dia ambil.


Ting tong


Shen Fengyin mendorong kursi rodanya. Li Huan Rui mengikuti Shen Fengyin untuk menyambut tamu dengan enggan. Li Huan Rui benar-benar malas untuk bertemu dengan gadis itu.


Shen Fengyin membuka pintu. Keluarga dengan tiga orang masuk. Mereka menggunakan pakaian dengan warna senada yaitu merah.


Li Yongfan dan Mo An An mengucapkan selamat tahun baru pada Shen Fengyin. Jiao juga melakukannya. Li Huan Rui hanya diam memandang gadis kecil berambut panjang yang menggunakan chongsam dengan renda di bagian bawah yang berbentuk seperti rok.


"Jiao kau benar-benar mengemaskan dengan cheongsam"


c



(ini pakaian yang dipakai Jiao)


"Terima kasih bibi, ibuku yang memilih ini untukku"


Shen Fengyin tidak meragukan pemilihan pakaian Mo An An. Shen Fengyin merasa iri, andai saja jika dia memiliki anak perempuan dia bisa membelikan gaun yang imut untuknya dan mendadanya.


"Huanrui....huan rui"


Shen Fengyin memanggil putranya yang mematung disampingnya.


"Ya, mama"


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau hanya diam dan tidak menyapa tamu kita"


"Maaf, mama"


"Tidak apa-apa , Fengyin. Rui pasti diam karena terpesona dengan kecantikan Jiao"


Mo An An menggoda pria kecil itu.


"Bibi An berpikir terlalu berlalu berlebihan"


Li Huan Rui menanggapi nya dengan dingin.


"Mama, aku akan memanggil papa"


"Baiklah"


Li Huan Rui segera pergi sedangkan Shen Fengyin mengantar tamunya ke ruang makan. Ada banyak makanan yang sudah disediakan bahkan ada kue yang gagal Mo An An buat. Melihat kue itu membuat Mo An An menjadi kesal, dia tidak ingin makan kue itu lagi.


"Maaf, aku terlambat menyapa kalian"


Li YongSheng yang menggunakan changsan berwarna senada dengan Shen Fengyin menyapa mereka.


"Paman Sheng sangat tampan"


Jiao tanpa sadar memuji Li YongSheng.


"Terima kasih, Jiao jiao. Kau juga sangat cantik dan menggemaskan"


"Apa kau hanya memuji paman Sheng? Apa papa tidak tampan?"


Li Yongsheng hampir tertawa melihat kakaknya yang cemberut karena Jiao memujinya.


"Papa juga tampan. Papa yang peling tampan"


Li Yongfan tersenyum penuh kemenangan dan menatap Li YongSheng.

__ADS_1


"Suami, Rui cepat duduk"


Li YongSheng duduk disamping Shen Fengyin begitu pula Rui. Jiao memandang Li Huan Rui yang bersikap dingin bahkan tidak memandangnya sama sekali.


Li Huan Rui sedang berkonfik di dalam hatinya karena dia merasa kesal Jiao memuju papanya dan papa fan tapi tidak memuju ketampannya bukankah dia lebih tampan dari papa dan juga papa Fan.


kedua pasang suami istri saling mengobrol sedangkan kedua anak mereka hanya saling diam dan fokus dengan makanannya. Mo An An menceritakan tentang perkembangan Jiao dan juga dia yang rajin belajar. Shen Fengyin dan Li YongSheng memujinya. Li Huan Rui merasa kesal karena ayah dan ibunya justru memuji anak yang mulai belajar membaca dan menghitung itu.Mamanya bahkan tidak pernah memujinya ketika dia mendapat nilai sempurna dalam kaligrafi.


"Apa kalian sudah memilih sekolah untuk Jiao? jika belum bagaimana jika mendaftarkannya di sekolah tempat Rui belajar"


Shen Fengyin menyarankan.


"itu ide yang bagus. Setidaknya Jiao memiliki Rui untuk melindunginya"


Li Yongfan setuju dengan ide Shen Fengyin.


"Tidak, kenapa aku harus melindungi orang asing"


"Rui, jangan berkata seperti itu. Tidak bisakah kau memperlakukan Jiao dengan baik sebagai saudaramu"


Shen Fengyin ingin Li Huan Rui dan Jiao bisa dekat sebagai saudara.


"Itu benar, Rui. Papa harap kau bisa melindungi adikmu. Hanya kau yang bisa papa andalkan untuk menjaganya"


Li Yongfan memberi tanggapan. Li Huan Rui menghela nafas, dia memandang ke arah Jiao yang juga memandangnya.


"Rui tidak ingin berurusan dengan sesuatu yang merepotkan"


Li Huan Rui mendorong kursinya dan berdiri.


"Rui ada janji dengan Helena. Rui harus pergi"


"Li Huan Rui"


Shen Fengyin berusaha menahan putranya tapi pria kecil itu sudah berjalan pergi


"Rui mulai bersikap kasar "


Li Yongfan menyadari sikap pria kecil yang sudah dirawatnya.


"Ya, aku tidak tahu dia tiba-tiba menjadi kasar seperti itu. Mungkin karena kami terlalu memanjakannya"


"Fengyin, apa Rui semakin dekat dengan Helena"


Mo An An ingin memastikan saingan putrinya.


"Ya. Mereka sering bermain bersama"


"Fengyin, apa kau merestui Helena sebagai menantu masa depan ?"


"Itu masih terlalu jauh, An. Mereka masih terlalu muda lagipula aku tahu seperti apa Rui. Dia hanya menganggap Helena teman dekatnya"


"Tapi Fengyin kau harus mengawasi hubungan mereka dan aku pikir lebih baik kau memilih menantu yang dekat denganmu dan gadis yang baik seperti putriku Jiao. Putriku akan cocok menjadi menantu keluarga mu"


Li Yongfan hampir tersedak karena ucapan istrinya.


"Apa yang kau katakan istriku? Rui dan Jiao lebih cocok sebagai sauadara daripada pasangan"


Li Huan Rui terlalu dingin dan kaku pada perempuan. Dia tidak ingin putrinya tinggal dengan Rui kecil. Shen Fengyin juga setuju dengan Li Yongfan. Shen Fengyin tidak ingin hubungannya dengan Jiao ataupun Mo An An merenggang jika Jiao dan Li Huan Rui memiliki masalah.


"Itu benar, putraku terlalu kaku untuk Jiao yang menggemaskan. Aku juga sudah menganggap Jiao seperti putriku bukan menantuku"


Mo An An menghela nafas. Mungkin akan sulit bagi putrinya mendapatkan Li Huan Rui tapi Mo An An berharap yang terbaik untuk putrinya. Sedangkan Jiao hanya fokus makan dan mengabaikan perdebatan para orang tua.


Mo An An tiba-tiba menyadari sesuatu. Dia melupakan hadiah untuk Shen Fengyin. Mo An An meminta kunci mobil dan hendak mengambilnya tapi Jiao menawarkan diri untuk mengambilnya.


***


"Helena"


Li Huan Rui mendekati seorang gadis yang menggunakan dress berwarna merah muda yang sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya.


"Kenapa kau kesini? bukankah aku sudah bilang akan ke rumahmu setelah makan malam"


"Aku Tidak sabar menunggu untuk bertemu Henry"


"Henry, kau sangat tampan dengan pakaian itu?"


'Bahkan Helena mengakui ketampananku saat ini berbeda dengan gadis itu. tunggu, untuk apa aku peduli dengan pendapat gadis rendahan itu '


"Oh ya, Henry. Apa memurutmu aku terlihat cantik?"


"ya"


Helena tersipu malu mendengar jawaban Rui yang mengakuinya.


.


"Henry, ayo pergi"


Helena menarik tangan Li Huan Rui. Li Huan Rui biasanya akan melepaskan tangan setiap gadis yang berusaha menyentuhnya tapi tidak dengan Helena. Li Huan Rui mengikuti gadis itu ke mobil.


Jiao memandang mereka. Dia melihat Helena yang tersipu malu, mungkinkah Rui memujinya. Jiao mengigit bibirnya ketika melihat Helena mengenggam tangan Li Huan Rui.


Jiao berusaha mengabaikan rasa sedihnya dan segera menuju ke mobil. Dia menekan kunci untuk membukanya.Dia sudah pernah mengamati bagaimana papanya melakukannya.


Jiao segera membawa peper bag itu ke dalam.


***


"An, kau seharusnya tidak perlu repot membelikanku"


"Tidak apa-apa.Kau juga selalu memberiku oleh-oleh saat kau pergi ke luar kota atau luar negeri"


Mo An An membelikan Shen Fengyin saat dia syuting di luar kota. Mereka telah selesai makan dan saling mengobrol.


"Sudah saatnya kami pulang, terima kasih undangannya"


"Tunggu, Jiao. Ini untukmu"


Shen Fengyin memberikan amplop merah pada Jiao.


"Terima kasih"


Jiao tidak menunjukkan ekspresinya namun di dalam hatinya dia merasa senang mendapat amplop merah pertamanya.


***


Li Huan Rui pulang larut malam dan disambut dengan tatapan tajam ibunya.


"Apa yang kau lakukan hingga pulang semalam ini ?"


"Aku hanya menemani Helena makan dan tempatnya cukup jauh"


"Bukankah seharusnya Helena makan bersama keluarganya?"


"Papa dan mamanya kembali ke A Country tiba-tiba. Aku hanya menemaninya agar tidak sendirian. Mama, aku mengantuk. Aku tidur duluan"


"Huanrui"


Li Huan Rui dengan enggan berhenti.


"Kau tahu sikapmu tadi tidak sopan.Beruntung bahwa tamu kita adalah kerabat. Jika orang lain. Sikapmu yang tiba-tiba pergi itu bisa dianggap kurang sopan. Kau tidak boleh mengulangi sikap kasarmu itu, kau mengerti?"


"Ya. Apa mama sudah selesai bicara? Aku ingin beristirahat"


"Ya"


Rui menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.


***


Jiao tidak bisa tidur. Dia mengambil jam tangan milik Li Huan Rui. Dia mengenggam jam tangan itu. Dia sudah lama memperhatikan Li Huan Rui dengan diam-diam pergi ke sekolah nya. Li Huan Rui selalu menepis tangan wanita yang memeganya. Walaupun Rui pernah mengenggam tangannya juga tapi Rui juga membiarkan Helena mengenggam tangan nya bahkan Li Huan Rui memujinya.

__ADS_1


Jiao mengalihkan pandangan ke arah bando berbentuk mahkota. Dia teringat kritikan buruk Li Huan Rui padanya. Jiao menghela nafas. Mungkin dia memang tidak pantas menjadi puntri ataupun ratu untuk pangerannya. Malaikatnya yang cantik lebih pantas untuk menjadi putri ataupun ratu untuk pangeran.


Jiao menyimpan jam tangan itu di laci. Jiao mengambil boneka kangguru miliknya. Dia memeluk nya lalu perlahan tertidur lelap.


__ADS_2