
Sudah berapa lama hubungan ini terjadi?
Hubungan yang hanya terhubung secara fisik. Hubungan rahasia yang tidak seharusnya ada. Dia bertanya- tanya sampai kapan hubungan seperti ini akan berlangsung. Dia adalah mainan yang akan segers di buang ketika dia bosan. Dia ingin tahu kapan hari itu tiba? Kapan dia akan kehilangan tatapan mata yang menginginkannya?
"Jiao, ada apa? Kau tidak merespon ciumanku?"
Li Huan Rui mengerutkan keningnya. Li Jiao hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Lalu tangannya terulur di lehernya dan menciumnya. Li Huan Rui tersenyum lalu membalas ciumannya.
'Hubungan ini akan berakhir cepat atau lambat'
Li Huan Rui melepaskan ciumannya ketika dia merasa sesuatu yang menetes.
"Jiao, kau menangis? Kenapa?"
"Menangis? Aku?"
Li Jiao mengulurkan tangannya menyentuh sudut matanya. Seberapa keras Li Jiao menekan perasaannya sejak muda bagaimana mungkin dia menangis sekarang.
"Jangan pedulikan itu"
"Li Jiao"
Li Jiao menciumnya, dia tidak ingin dia tahu kelemahannya. Dia berusaha menekan perasaannya.
Wanita seperti dia tidak pantas untuk menangis. Dia tidak ingin di kasihani olehnya. Dia mendorong wanita itu.
"Jiao, ada apa? Kenapa kau menangis?"
Selain Helena, dia tidak pernah merasa tertekan melihat seseorang menangis.
Dia tertawa, tawa yang dipaksakan.
"Jangan menatapku dengan tatapan menyedihkan seperti itu? Aku bahkan tidak tahu kenapa aku menangis"
"Li Jiao"
"Rui, aku sudah mengantuk. Bisakah kau keluar. Aku ingin tidur"
Li Huan Rui ingin memeluknya tapi Li Jiao mendorong tubuhnya.
"Rui, aku ingin tidur"
"Baiklah...baiklah"
Li Huan Rui dengan enggan meninggalkan kamar Li Jiao. Li Jiao merembahkan tubuhnya dan tertidur.
Dia bertanya-tanya, kapan mimpi ini akan berakhir? Harus kah dia menangis seperti wanita lainnya setelah dia dibuang. Tidak, dialah yang membuat permainan ini , dia tahu kosekuensinya tidak seharusnya ada rasa sakit bukan? Wanita jahat seperti bahkan tidak pantas untuk menangis. Pada akhirnya hari itu ,tiba lebih cepat dari yang dia kira.
***
Helena meminta bertemu Li Jiao disebuah cafe.
"Aku mencintai Henry, dia orang yang berharga bagiku"
"Ya"
"Jiao, kau sudah seperti saudaraku. Aku tidak bisa membenci mu walaupun kau bermain dengan Henry dibelakangku"
Jiao terkejut tapi dia masih menjaga ekspresinya. Dia masih menunjukkan sikap tenang.
"Jiao, tolong akhiri hubungan kalian itu. Henry adalah tunanganku hanya dialah yang berada disisiku"
"Jiao, kau memiliki keluarga yang mencintaimu, kau memiliki tunangan yang baik padamu dan juga orang tua Rui menyayangimu tapi aku hanya memiliki Henry disisiku. Hanya dialah yang menerima diriku jadi Jiao, aku tidak ingin kehilangannya. Aku tidak ingin kehilangan Henry"
Jiao masih diam, Helena memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Jiao mengalihkan pandangan nya. Tatapan mata itu membuatnya tertekan. Dia tidak ingin kehilangan ketenangannya.
Tangan lembut Helena mengenggam tangannya.
"Aku tahu kau mencintai Henry tapi Jiao, Rui tunanganku. Dia adalah bagian terpenting dalam hidupku"
"Jiao, aku mohon padamu. Jika perlu aku akan berlutut jika itu bisa membuatmu melepas Henry"
Helena berdiri, dia berjalan di depan Jiao, dia mulai menekuk kaki panjangnya. Li Jiao mengepalkan tangannya.
"Kau adalah istri masa depan dari tuan muda tertua keluarga Li bagaimana mungkin kau berlutut di depanku. Helena jaga harga dirimu sebagai seorang gadis kelss atas"
Li Jiao mengangkat tubuh Helena.
"Aku akan berhenti bermain. Aku akan akhiri hubunganku dengan Li Huan Rui tapi kau harus janji satu hal padaku"
"Apa itu?"
"Jadilah nyonya muda Li yang kuat. Jangan tunduk pada siapapun dan...tolong lindungi Rui"
Helena mengangguk. Li Jiao menghela nafas. Pada akhirnya ini akan berakhir.
"Dan...percepat peremian pertunanganmu dan Rui"
"Aku mengerti, Jiao aku sangat berterima kasih padamu"
Helena tersenyum lalu meninggalkan Li Jiao. Li Jiao hanya bisa tersenyum pahit. Bukankah dia terlalu mudah dibujuk tapi ketika Helena berlutut di depannya, membuang martabat dan harga demi Li Huan Rui bagaimana dia bisa membiarkannya dan juga pada akhirnya Helenalah yang menjadi nyonya Li di masa depan. Li Jiao menghela nafas.
***
Li Jiao menghela nafas menenangkan diri sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar Li Huan Rui.
"Masuk"
Li Jiao melangkah dengan ragu-ragu. Li Huan Rui yang sebelumnya membaca buku kini memandang ke arahnya. Dia tersenyum.
"Tidak biasanya kau datang ke kamarku. Kau tidak sabar menungguku menemuimu?"
Li Huan Rui mendekatinya dan meluknya tapi Li Jiao mendorong nya.
__ADS_1
"Permainan selesai. Pernjian kita berakhir"
"Apa? Apa maksudmu?"
"Rui, aku ingin mengakhiri permainan kita. Hubungan ini tidak bisa berlanjut"
Li Huan Rui merasa otaknya kosong sulit untuk memberi apa yang di katakan kekasihnya ini.
"Apa maksudmu? Mengakhirinya? Permainan?"
"Ya. Hubungan diantara kita hanyalah permainan. Aku sudah bosan dengan permainan ini. akhiri dan kau bisa mencari wanita lain"
"Tidak"
"Kau tidak berhak mengambil keputusan. Akulah yang memulai perjanjian ini secara sepihak jadi aku bisa mengakhirinya secara sepihak. Selamat tinggal"
Li Jiao meninggalkan kamar Li Huan Rui. Dia sudah mengemas semua pakaiannya dan siap untuk pergi.
'Pada akhirnya ini berakhir'
Li Jiao berbohong jika dia tidak terluka. Dia mencintainya setelah apa yang terjadi perasaannyas semakin kuat tapi permainan telah selesai. Li Jiao menekan kopernya dengan erat berusaha menahan perasaannya menekan rass sakit dan emosi yang meluap di dalam hatinya. Dia menarik kopernya namun tangan besar menahannya.
"Begitu mudah bagimu untuk pergi setelah apa yang terjadi? Li Jiao, apa hubungan kita hanya permainan untukmu? Apa kau pikir aku adalah mainan yang bisa kau buang setelah kau bosan"
"Ya"
Hanya satu kalian itu saja yang bisa Jiao berikan untuk menjawab pertanyaannya. Li Huan Rui mengepalkan tangannya. Dia marah karena hubungan mereka hanya permainan baginya. Tapi itu memang benar. Hubungan mereka hanyalah permainan sejak awal. Li Huan Rui juga menganggapnya sebagai mainannya yang melepas kebosanannya tapi kenapa hatinya terasa kosong ketika dia mengucapkan selamat tinggal.
"Baiklah, permainan lama telah selesai. Kau suka permainan bukan? Aku memiliki permainan baru yang lebih menarik. Mau memcobanya? "
"Tidak. Aku tidak ingin bermain dengan orang yang sama. Kau bisa mainkan dengan tunanganmu. Selamat tinggal"
Li Jiao menarik kopernya dan pergi tapi tiba-tiba tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia memandang Li Huan Rui yang tersenyum.
"Tapi, tunanganku terlalu lembut untuk permainan ini dan aku menyukai bermain denganmu. Li Jiao, permainan baru akan dimulai jangan berharap bahwa kau bisa menarikan diri lagi"
"Tidak, Li Huan Rui kau akan menyesal"
"Menyesal? Aku? Kaulah yang akan meyesalinya karena kau berani melarikan diri setelah bermain. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dengan mudah"
"Li Jiao, nikmatilah permainan baru ini"
***
Bagaimana bisa?
Kenapa pria ini?
Bagaimana bisa Li Jiao diperlakukan seperti ini. Dia ingin mengakhirinya. Dia tidak ingin dihantui perasaan bersalah, dia ingin pergi menjauh Tapi kenapa dia justru terjebak disini. Dia terikat di tempat tidur. Tangan dan kakinya diikat. Pria itu tertawa dan mencengkram dagunya. Dia menciumnya. Li Jiao ingin memberontak, tidak peimana ini tidak boleh terjadi . dia mengeralkan tangan dan kakinya tapi ikatannya terlalu kencang. Li Jiao mengigit bibirnya dengan keras untuk menghentikan ciumannya. Li Huan Rui menjauh kan wajahnya.
"Kenapa? Kau tidak lagi menyukai ciumanku tapi kau harus menerima nya"
"Jiao, kau sudah menyalakan api bagaimana mungkin kau tidak mau bertanggung jawab untuk memadamkannya?"
"Li Jiao, beraninya kau menolakku? Kenapa? Kau tidak suka permainan ku? Apa kau ingin meninggalkan ku dan kembali ke sisi si Wang Yufeng?"
Li Jiao masih tidak mengatakan apapun bahkan tatapan matanya tidak tertuji padanya. Dia tidak ingin terlibat dalam dosa ini ketika dia mengingat bahwa Helena tidak membencinya walau dia merayu tunangannya, ketika dia berlutut didepannya. Rasa bersalah itu menekan hatinya. Dia menjadi seorang penjahat yang melukai seorang gadis yang begitu baik.
"Kau bahkan tidak mau melihat ke arahku?"
Kemarahan semakin meledak dalam hatinya. Kenapa? Kenapa mata itu tidak lagi melihat ke arah nya. Ketika berhubungan tatapan mata yang biasa dingin menunjukka sedikit sinar, dia dapat merasa keinginannya untuknya tapi kenapa dia? Tidak ingin melihat nya lagi. Ada rasa sakit di dalam hati nya saat ini.
Li Jiao merasa rasa asin di mulutnya, rasa perih di bibirnya, dan rasa sakit di hatinya. Ciuman ini berbeda walau ciuman Rui tidak pernah lembut tapi dia tidak pernah sekasar ini.
***
"Kenapa kau terus menolakku? Kenapa kau menatapku dengan dingin Seperti itu? Apa kau masih ingin pergi meninggalkan ku?"
"Kau ingin aku melepaskan mu?"
Li Jiao menoleh ke arahnya.
"Apa kau akan melakukannya?"
"Kau benar-benar ingin pergi dariku?"
"Ya. Aku tidak ingin manjadi simpananmu lagi"
"Lalu, apa yang kau inginkan? Menjadi istri utama? "
"Tidak, aku bahkan tidak ingin lagi terhubung denganmu. Li Huan Rui, kau sudah punya Helena tolong lepaskan aku. Biarkan aku menjalani kehidupan ku. Kita lupakan apa yang telah terjadi. Kita bisa memulai hidup sebagai saudara dan saudari"
"Saudara dan saudari ya? Aku ingin tahu apa kau bisa menganggapku saudara setelah ini"
Li Huan Rui melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Li Jiao merasa lega, dia pikirk dia bebas. Dia hendak melarikan diri tapi Li Jiao menekan titik tekan yang membuat nya kaku. Dia tidak bisa bergerak.
"Saudari ku, biarkan saudara mu ini memberikanmu kesenangan"
"Li Huan Rui, tidak..."
***
Li Jiao duduk terdiam dengan tatapan kosong. Titik tekannya telah di cabut , tangannya tidak diikat lagi. Namun dia masih merasa kaku.
"Sekarang, apa kau masih punya alasan untuk melarikan diri? Kau bahkan tidak akan di terima oleh siapa pun. Seorang gadis keluarga kelas atas yang sudah ternoda sama seperti barang rusak. Kau tidak memiliki alasan lagi untuk melarikan diri. Jadi sayang, jangan sayang berhenti merajuk dan menurutlah denganku"
Li Huan Rui membelai wajahnya namun matanya hanya menatap kosong ke arahnya. Li Huan Rui menciumnya, tangan nya mulai berani untuk berkeliaran di atas pakaiannya.
Li Jiao tidak bereaksi apapun seolah dia adalah raga tanpa jiwa. Setelah dia kehilangan kebanggannya apalagi yang miliki dan rasa bersalah yang lebih besar semakin menekannya tidak hanya itu perlakuan Rui yang kasar padanya memperlakukan nya seperti mainan tanpa memiliki kelembutan menyakiti perasaan. Dia hanya boneka untuknya hanya mainan untuk kesenangan bukan untuk dicintai. Dia sudah tidak mengharapkan lagi cinta nya bahkan dia tidak berhak untuk bersedih. Bagaimana dia bisa mengakhiri permainan ini.
Sebuah ide terlintas di pikirannya. Hidupnya saat ini tidak lebih baik daripada kematian.
***
__ADS_1
"Jiao....Li Jiao"
Li Huan Rui menatap marah seorang gadis dengan tangan berlumur darah. Li Huan Rui segera membawa nya ke rumah sakit dan dia beruntung bahwa Li Jiao masih bisa terselamatkan.
Gadis itu, apa yang dia pikirkan. Jantung nya hampir saja berhenti berdebar melihat gadis itu hampir mati. Dia dulu membencinya, dia tidak ingin dia muncul dalam kehidupannya dan merebut semuannya tapi ketika melihat gadis itu berlumur darah, dia tidak pernah berpikir hidupnya tanpa dirimya. Kenapa? Kenapa dia bersikeras pergi darinya.
***
Li Jiao berpikir bahwa mungkin saja dia mati. Tapi surga bahkan tidak menerimanya. Dia tidak mati walaupun dia memotong nadinya dengan pecahan kaca tapi setidaknya dia bisa meninggalkan kamar itu. Li Jiao menarik infus. Dia melangkah meninggalkan bangsal.
Namun seseorang memeluk nya dari belakang.
"Kau mau kemana? Apa kau pikir bisa melarikan diri? Aku tidak akan mengijinkannya"
Pada akhirnya dia kembali ke kamar tempat penyiksaannya terjadi.
"Li Jiao,jikapun kau mati aku tidak akan melepaskan mayatmu. Kau akan selalu disisiku sampai aku bosan bemain"
***
Helena merasa ada hal yang aneh dengan Li Huan Rui yang jarang menemuinya bahkan di hari kelulusan pria itu tidak datang dan Jiao juga tidak datang. Helena mulai curiga, bukannya dia tidak mempercayai sahabatnya tapi dia tidak tahu hal lain yang membuat Li Huan Rui berubah selain sesuatu yang berhubungan dengan Li Jiao. Li Huan Rui juga menunda pesta peresemian pernikahan mereka. Helena mulai.khawatir pada akhirnya Li Huan Rui akan meninggalkannya karena menyadari perasaannya sendiri. Helena menutup matanya berpura-pura tidak menyadari perasaan Li Huan Rui pada Li Jiao. Dia tahu bahwa dibalik kebencian Li Huan Rui pada Li Jiao, dia selalu mengkhawatirkannya. Dia peduli padanya. Dia berusaha melindungi nya tanpa ragu. Namun dia bersyukur saat itu karena Li Huan Rui tidak menyadari perasaannya pada Li Jiao tapi sekarang bagaimana jika dia mulai menyadarinya. Dia tidak ingin melepas Rui. Dia mencintanya dan hanya dia yang dapat diharapkan.
"Jiao, maafkan aku tapi aku terpaksa melakukan ini"
Helena mengambil ponsel dan menekan nomer dengan ragu-ragu.
"Hallo, paman...."
***
Li Huan Rui tidak pernah datang lagi. Mungkin pada akhirnya Li Huan Rui sudah bosan dengannya. Pada akhirnya dia akan dibuang bukan? Li Jiao melihat ke arah cahaya yang masuk lewat cela cendelanya. Kenapa dia tidak pernat memikirkan ini sebelumnya. Namun bisakah dia lolos dari penjagaan. Sebuah ide terlintas. Dia harus pergi dari sini, jika dia terkurung disini dia hanya terus merasa bersalah karena menjadi roda ketiga dan mimipinya.
Li Jiao menggunakan pakaian olahraga. Dia lalu mengambil selimut dan mememparkannya ke bawah.
"Sial, ternyata lantai 3 tinggi juga"
Li Huan Rui memindahkan kamarnya di lantai tiga. Mungkin dia mempetimbangkan hal ini. Namun Jiao nekat untuk turun. Dia melompat karen selimut itu tak sampai ke bawah. Dia memejamkan mata dan melompat. Tapi dia tidak merasa bahwa dia menginjak tanah dia justru merasa bahwa dia melayang. Dia membuka matanya.
"Kau masih berusaha melarikan diri?"
"Li Huan Rui, lepaskan aku"
Li Jiao mencoba melepaskan diri dari gendongan pria itu. Memukul lengan pria itu. Li Huan Rui menahan rasa sakit. Namun dia tidak ingin melepas gadis ini.
"Li jiao, diamlah. Aku bisa memakanmu disini jika kau terus melawan"
Li Huan Rui berjalan menggendong gadis itu.
"Li Huan Rui, kenapa kau seperti ini? Biarkan aku pergi"
"Aku belum selesai bermain. Bagaimana aku membiarkanmu pergi"
Li Huan Rui membuka pintu.
"Kau masih belum selesai bermain denganku? Aku kira kau sudah punya mainan baru atau mungkin kau sudah bertaubat dan tidak ingin bermain lagi"
Li Jiao mengucapkan nya dengan nada datar.
"Jangan khawatir. Kau terlalu menarik untuk aku tinggalkan. Jiao, kau merindukanku karena tidak datang padamu"
"Tidak. Turunkan aku "
"Jika aku menurunkanmu kau akan melarikan dirikan?"
"Tidak"
"Benarkah?"
"Ya, apa kau pikir aku bisa melarikan diri didepanmu"
Li Huan Rui menatap nya dengan ragu. Namun dia akhirnya menurunkannya. Li Jiao segera mengunakan jurus karatenya. Li Huan Rui terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Namun Li Huan Rui memilili reflek yang baik. Dia dapat memangkis setiap gerakan Li Jiao. Wanita itu tidak ragu untuk menyerangnya dengan keras. Li Jiao gagal untuk melarikan diri karena Li Huan Rui mengunci gerakannya. Li Jiao juga sudah kelelahan.
"Jangan kau pikir kau bisa pergi dengan mudah. Kau pasti kehabisan tenaga bukan? Kau semakin kurus"
Li Huan Rui kembali menggendongnya. Jiao terlalu lemas untuk melawan. Dia tidak tahu sejak kapan fisik nya menjadi semakin lemah.
Li Huan Rui membawa Jiao ke ruang makan. Dia meminta semua orang pergi meninggalkan mereka berdua. Li Huan Rui duduk dan dia memposisikan Jiao duduk di pangkuannya.
"Li Huan Rui biarkan aku duduk sendiri"
"Jiao, semakin kau bergerak maka semakin berbahaya untukmu"
Li Jiao berhenti bergerak. Li Huan Rui tersenyum melihat kekasihnya yang patuh. Dia meletakkan beberapa makanan di piring lalu mengambil dan menyuapi Jiao. Gadis itu memolak"
"Haruskah aku menggunakan bibirku?"
Jiao tidak punya pilihan selain patuh. Li Huan Rui tersenyum. Dia terus menyuapi Li Jiao hingga makanan dipiring habis.
"Kau sangat patuh, itu bagus"
Li Huan Rui memandang gadis dipangkuannya.
"Biarkan aku turun"
Li Huan Rui justru memeluk pinggangnya lalu menciumnya. Li Jiao berusaha mendorong nya tapi Li Huan Rui justru menarik pinggang nya.
"LI HUAN RUI LI JIAO"
mendengar suara yang di kenal membuat Li Huan Rui melepaskan ciumannya. Dia melepaskan tubuh Li Jiao dan berdiri. Li Jiao berdiri dengan wajah menunduk.
"Papa Fan"
Li Huan Rui terkejut melihat Li Yongfan.
__ADS_1