
Li Yongfan berusaha membujuk Shen Fengyin untuk membujuk Rui kecil.
"Kakak Fan, dia hanya tidak makan selama beberapa jam. Dia akan makan sendiri nanti"
"Jangan terlalu memanjakannya"
Shen Fengyin tidak ingin putranya menjadi manja dan lemah.
"Fengyin, Rui kecil masih anak-anak. Jangan terlalu tegas padanya dan juga anggap saja ini hadiah untuk ulangtahunnya"
Shen Fengyin menghela nafas. Dia akhirnya menyerah. Shen Fengyin melihat pelayan itu membujuk Huan Rui.
"Huanrui, buka pintunya"
Li Huan Rui menbuka pintu dengan cepat setelah mendengar suara ibunya. Li Huan Rui tersenyum cerah melihat ibunya.
"Mama"
Shen Fengyin mengambil nampan yang dibawa oleh seorang pelayan.
"Makan makananmu"
"Mama, bisakah kau menyuapi Rui?"
"Tidak, makan sendiri"
Shen Fengyin memberikannya pada Li Huan Rui. Li Huan Rui cemberut.
"Kalau begitu, bisakah mama menemani Rui?"
"Nanny Su akan menemanimu"
"Mama, Rui mohon"
"Mama sedang sibuk, mengertilah"
Li Huan Rui merasa kesal.
"Mama, apa pekerjaan begitu penting daripada Rui?"
"Huanrui"
Li Huan Rui menjatuhkan nampan.
"Li Huan Rui"
Shen Fengyin marah dengan sikap putranya.
"Rui tidak mau makan"
"Huanrui, jangan kekanakan"
Li Huan Rui tidak peduli, dia memutup pintu dengan kencang.
"Li Huan Rui, bagaimana kau bisa bersikap kasar seperti itu?"
Shen Fengyin semakin marah, dia tidak bisa mengendalikan diri dan menaikan nada suaranya.
"Li Huan Rui, jika kau tidak mau makan, yasudah. Tidak perlu makan"
Shen Fengyin yang terlanjur kesal.
"Tidak perlu membujuknya. Kembalilah bekerja"
"Tapi, Nyonya muda...."
"Kau ingin melawan perintahku?"
"Tidak, Nyonya"
Pelayan itu segera pergi. Dia merasa kasihan dengan tuan mudanya.
Li Yongfan hendak mengatakan sesuatu tapi Shen Fengyin mempotongnya.
"Aku sudah membujuknya bukan? Dia sendiri yang tidaka mau makan"
Shen Fengyin meninggalkan kamar itu.
Li Huan Rui berada di kamarnya, dia merasa semakin kesal. Dia merasa kecewa karena ibunya tidak khawatir sedikitpun tentangnya.
Li Huan Rui mulai berpikir, apa ibunya bagitu membencinya hingga tidak mau lama bersamanya,haruskan Rui pergi agar ibunya bahagia.
Li Huan Rui ingat tatapan ibunya yang selalu dingin kepadanya. Li Huan Rui tidak tahu kesalahan apa yang dibuatnya hingga ibunya begitu membencinya.
Shen Fengyin keluar dari ruangan saat makan malam. Dia disambut oleh seorang pelayan.
"Apa Huan rui belum keluar?"
"Ya, Nyonya"
"Apa Nyonya ingin makan di ruang makan atau saya akan membawa makanan ke atas"
"Tidak perlu repot. Aku tidak makan malam"
Shen Fengyin tidak memiliki nafsu makan karena putranya belum makan apapun jadi dia juga tidak bisa makan apapun.
Shen Fengyin sebenarnya merasa bersalah dengan putranya tapi dia tidak suka sikap manja dan egois yang dimiliki putranya. Dia tidak punya cara lain selain membiarkannya sebagai hukuman.
Li Yongfan pergi ke kamar Li Huan Rui. Dia memanggil nama putra kesayangannya itu tapi tidak ada tanggapan.
Li Yongfan menjadi khawatir. Dia mencoba membuka pintu tapi pintu kamarnya masih terkunci. Li Yongfan akhirnya mendorbrak pintu kamar Li Huan Rui.
Li Yongfan segera menghampiri Li Huan Rui yang tertidur di lantai sambil menekuk lututnya. Li Yongfan segera menggendongnya. Dia melihat wajah Li Huan Rui yang pucat dan matanya yang bengkak.
Li Yongfan meletakkan tangannya di dahi Li Huan Rui. Li Yongfan menjadi khawatir saat menyadari putranya demam.
Li Yongfan segera menghubungi dokter dan memintanya datang ke rumah. Li Yongfan keluar dan meminta para pelayan menyiapkan air hangat dan membawanya ke kamar Rui.
"Tuan, apa perlu kita memberitahu nyonya muda?"
"Tidak perlu. Jika nanti doktet datang , antarkan segera ke kamar Rui kecil"
"Baiklah, tuan"
30 menit berlalu, Li Yongfan sedikit marah karena dokter itu datang lebih lama. Dokter itu dengan gugup meminta maaf lalu dia mulai memeriksa Li Huan Rui.
Dokter itu memberikan suntikan pada Li Huan Rui dan memberikan beberapa obat juga. Lalu dia pergi.
Li Yongfan merasa khawatir melihat putranya. Melihat Li Huan Rui yang terbaring lemah membuatnya teringat dengan adiknya.
Li YongSheng memiliki tubuh yang lemah saat kecil, dia sering sakit dan demam. Namun adiknya selalu berusaha kuat karena tidak ada yang memperhatikannya orang tuanya selalu bersikap acuh pada adiknya.
__ADS_1
Li Yongfan menduga jika sikap dingin adiknya disebabkan karena hal itu. Li Yongfan tidak ingin Li Huan Rui memiliki sikap dingin dan penyendiri seperti adiknya karena itulah walaupun Shen Fengyin mengabaikannya, dia harus memberikan perhatiannya.
Shen Fengyin datang ke kamar Li Huan Rui.
"Kenapa tidak memberitahuku?"
Shen Fengyin merasa kesal karena tidak ada yang memberitahunya saat Li Huan Rui sakit. Jika dia tidak bertemu dokter dan memaksa pelayan untuk memberi tahunya mungkin dia tidak akan tahu.
"Apa kau peduli?"
Li Yongfan berusaha mengendalikan amarahnya. Walaupun dia sangat marah tapi dia tidak ingin menaikkan nada suaranya pada Shen Fengyin.
Shen Fengyin terdiam.
"Kau ingat saat sebulan lalu aku memberitahumu bahwa Rui sedang demam? Tapi kau lebih memilih bekerja daripada menemami Rui"
"Kakak Fan bukan begitu. Saat itu aku sedang diluar negri dan aku tidak mungkin meminggalkan pekerjaanku"
"Aku tahu, bagimu pekerjaanmu dan balas dendammu untuk merebut perusahaan Shen adalah yang utama bukan?"
"Kau bisa kembali bekerja, aku akan menjaga Rui kecil"
"Mama"
Rui kecil bergumah. Suaranya pelan tapi Shen Fengyin masih dapat mendengarnya.
"Dia selalu memanggilmu bahkan saat demam walaupun kau memperlakukannya dengan keras dan dingin"
Shen Fengyin meras bersalah.
"Aku akan menjaga Rui malam ini"
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya. Bukankah kau sangat sibuk?"
"Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Dokumen penting ada di kantor jadi aku akan menyelesaikannya besok"
Shen Fengyin melangkah dan mendekati Li Huan Rui yang tertidur lelap. Li Yongfan akhirnya mengalah.
Dia tahu Rui pasti ingin ditemani oleh ibunya. Jika pria kecil itu bangun, dia pasti akan sangat senang dan Li Yongfan dapat membayangkan mata Rui yang bersinar.
Li Yongfan meninggalkan ibu dan anak itu. Shen Fengyin duduk disamping Li Huan Rui. Dia mengambil kain dan mengompres Li Huan Rui.
Shen Fengyin menghela nafas, setiap dia melihat putranya. Dia selalu teringat dengan pria itu. Shen Fengyin berusaha menepis pikirannya.
Shen Fengyin hendak mengusap rambut Li Huan Rui tapi dia berhenti. Tangannya mengapung di udara.
"Huan Rui, apa kau marah pada mama? Apa kau membenci mamamu ini yang tidak memperlakukanmu dengan baik?"
Shen Fengyin memandang putranya.
"Mama tahu mama bukan ibu yang baik untukmu. Mama juga selalu sibuk dan tidak punya waktu untuk bersamamu. Maafkan mama"
Shen Fengyin akhirnya memberanikan diri untuk membelai lembut rambut putranya.
"Cepat sembuh, ok?"
Li Huan Rui membuka matanya perlahan. Kepalanya masih merasa pusing .Dia memandang ke samping, dia menghela nafas kecewa.
"Mungkinkah semalam dia bermimpi?"
Semalam, Li Huan Rui merasa merasakan tangan lembut dan hangat ibunya. Li Huan Rui berharap ketika dia bangun, dia bisa melihat ibunya tapi sepertinya kemarin hanyalah ilusinya saja.
Pintu kamar Li Huan Rui terbuka. Li Yongfan masuk dan tersenyum pada Li Huan Rui.
"Apa kau masih merasa tidak nyaman?"
"Rui, saatnya bersiap ke sekolah"
Rui merasa malas untuk ke sekolah. Apalagi dia harus melihat anak-anak yang diantar ibu mereka ke sekolah yang membuatnya merasa iri.
Namun Rui teringat jika ibunya tidak suka dia membolos. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya.
"Baiklah"
"Huanrui"
Shen Fengyin yang sudah berpakaian rapi mendekati mereka.
"Huanrui, mama membawakannu bubur"
Li Huan Rui merasa terkejut. Dia merasa aneh karena ibunya tiba-tiba perhatian dengannya, mungkinkah dia masih bermimpi saat ini.
"Makanlah, kau harus makan dan istirahat. Tidak apa-apa jika kau tidak masuk sekolah satu hari"
Li Huan Rui mengerutkan keningnya, dia merasa aneh dengan perubahan sikap ibunya yang tiba-tiba, tapi Li Huan Rui juga merasa senang. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya.
"Tidak, ibu. Rui sudah lebih baik. Ibu, bisakah ibu mengantat Rui kesekolah?"
Shen Fengyin merasa ragu.
"Ibu harus menghadiri pertemuan pagi ini"
Li Huan Rui merasa kecewa. Shen Fengyin dapat melihat kekecewaan di wajah putranya tapi dia tidak bisa membatalkan pertemuan begitu saja ataupun terlambat datang ke pertemuan.
"Bagaimana jika nanti mama yang menjemputmu pulang?"
Shen Fengyin memberikan kompensasi untuk putranya. Senyum kembali terukir dibibir putranya.
"Baiklah, sekarang kau harus makan"
Shen Fengyin menyuapi putranya. Li Huan Rui merasa senang dan makan makanannya dengan lahap. Shen Fengyin juga merasa senang walaupun ekspresi nya masih tetap dingin dan datar.
"Mama, bolehkan Rui bertanya sesuatu?"
"Apa itu?"
"Apa mama menyanyangi Rui"
"Pertanyaan macam apa itu? Huanrui, tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya"
"Jadi, mama tidak membenci Rui?"
"Tentu saja tidak"
Li Huan Rui tersenyum senang.
"Tapi, mama. Kenapa tatapan mata mama selalu dingin dan terlihat sedih saat menatap Rui"
Shen Fengyin sedikit terkejut karena Li Huan Rui dapat membaca tatapan matanya dan perasaan sedihnya.
Shen Fengyin tidak mungkin memberitahu Li Huan Rui alasannya yang sebenarnya.
"HuanRui, mama sudah terlambat"
Rui kecil merasa kecewa karena harus berpisah dengan ibunya.
"Baiklah. Rui akan makan sendiri"
Shen Fengyin berdiri dan hendak pergi. Namun Rui tiba-tiba menahan ujung pakaiannya.
__ADS_1
"Mama, Rui ingin pelukan"
Li Huan Rui mengucapkannya dengan ragu-ragu. Dia sedikit takut ketika tatapan dingin ibunya terarah padanya.
Li Huan Rui tahu ibunya mungkin memolaknya, dia hendak meminta maaf tapi siapa sangka ibunya membungkuk dan memeluk nya.
Li Huan Rui merasa senang.
"Mama, Rui sayang mama. Rui sangat menyayangi mama"
"Mama juga"
Senyuman dibibir Li Huan Rui semakin lebar.
Li Huan Rui yang biasanya cemberut sekarang selalu menunjukkan senyum cerah dan membuat para gadis terpesona dengan wajahnya yang semakin tampan.
"Henry, kau terlihat senang. Apa ada hal bagus?"
"Namaku Huanrui bukan Henry"
Li Huan Rui memprotes gadis kecil berambut pirang itu.
"Sama saja"
Li Huan Rui tidak menanggapinya dan meninggalkannya. Gadis kecil itu mengejarnya dan menggodanya yang begitu bahagia.
Shen Fengyin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar dia bisa menjemput putranya tepat waktu tapi siapa sangka ada jadwal yang tidak terduga terjadi.
"Bisakah Jenny Shen memggantikanku?"
Sekertarisnya baru saja memberitahunya tentang pertemuan dengan seorang client.
"Wakil CEO juga sudah memiliki janji"
Shen Fengyin menghela nafas, dia juga tidak mungkin membatalkan petemuan apalagi clientnya ini penting untuk nya.
"Baiklah, atur pertemuan ini"
Mungkin dia akan terlambat menjemput putranya. Shen Fengyin merasa bersalah harus membiarkan putranya menunggu.
Li Huan Rui menunggu sendirian namun senyuman masih terukir dibibir nya.
Gadis berambut pirang -Helena Si ikut duduk menemaninya.
"Helena, kau pulang saja. Aku bisa menunggu sendiri"
"Tidak...tidak, Helena ingin memani Henry"
"Sudah ku bilang, namaku Huanrui atau kau bisa memanggilku Rui"
"Aku lebih suka memanggilmu Henry"
"Terserah kau saja"
Li Huan Rui kembali mengabaikan Helena. Sebuah mobil hitam berhenti, seorang wanita cantik dengan palaian wanita kantoran keluar dari mobil.
Li Huan Rui tersenyum menghampiri wanita itu. Dia memeluk kaki wanita itu. Shen Fengyin memiliki tubuh yang tinggi , dia harus berjongkok untuk menyamai tinggi putra kecilnya.
"Maaf, mama terlambat"
"Tidak apa-apa"
Shen Fengyin menyadari ada seorang gadis yang ada di belakang Li Huan Rui.
Gadis kecil itu tersenyum.
"Hallo, bibi. Saya teman Henry"
"Namaku Huanrui"
Li Huan Rui merasa kesal. Shen Fengyin tidak melihat kekesalan putranya. Dia menyapa gadis itu dengan ramah.
"Huanrui, ajaklah temanmu pulang bersama kita"
"Tidak perlu bibi, tempat tinggal Helena tidak jauh. Sampai jumpa"
Gadis kecil itu melambaikan tangan dan segera pergi.Li Huan Rui segera masuk ke dalam mobil. Shen Fengyin juga masuk ke dalam mobil.
"Gadis itu cukup cantik"
Shen Fengyin bermaksud menggoda putranya tapi putranya bereaksi santai"
"Biasa saja"
"Apa kalian dekat?"
"Tidak terlalu. Dia sangat menganggu dan menyebalkan"
Wajah Li Huan Rui menjadi cemberut. Shen Fengyin tidak lagi menggoda ibunya.
"Apa Huanrui sudah makan?"
Li Huan Rui menggeleng.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan dulu"
"Baiklah"
Wajah cemberut Li Huan Rui berubah menjadi senyum cerah. Dia tidak pernah makan dengan ibunya sebelumnya. Li Huan Rui menjadi bersemangat.
Shen Fengyin ingin mengajak Li Huan Rui ke sebuah restoran mahal tapi Li Huan Rui justru menyarankan pergi ke KFC
Li Huan Rui makan dengan lahap. Shen Fengyin hanya memandang putranya makan.
"Mama, bisakah mama menemani Rui bermain?"
Shen Fengyin menggeleng.
"Mama, harus segera kembali bekerja"
Li Huan Rui cemberut.
"Lain kali, bagaimana jika kita pergi ke taman bermain"
"Apa mama akan menemani Rui"
"Tentu"
Li Huan Rui tersenyum. Shen Fengyin mengusap lembut rambut putranya. Dia menyadari putranya begitu menggemaskan.
Mereka berdua tidak menyadari jika seseorang mengawasie mereka. Wanita itu mengambil ponselnya dan membuka akun wikia.
Dia mengambil foto Sheb Fengyin dan pria kecil lalu mengirimkannya pada seseorang.
Setelah beberapa menit orang yang ponselnya berbunyi. Wanita itu menekan tombol jawab.
__ADS_1
"Hallo, Xiao Yue. Kau terkejut bukan?"