Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)

Arrogant Wife Forcing Marriage (Indonesia)
Chapter 43


__ADS_3

Li Huanadari keanehan kedua orang tuanya.  Sebelumnya papanya selalu perhatian pada mamanya dan ada kalanya Li Huan Rui tidak diperhatikan jika dia tidak mencari perhatian ayahnya tapi saat ini, suasanan ayah dan ibunya terkesan dingin bahkan ayahnya sering berada di kamarnya setiap malam.


Li Huan Rui tidak memgerti apa yang terjadi pada orang tuanya. Mungkinkah mereka bertengkar. Bahkan neneknya  juga menyadari hal itu tapi ayahnya mengelak dan mengatakan hubungan mereka baik-baik saja. Li Huan Rui tidak ingin terjadi perpisahan antara kedua orang tuanya lagi tapi pria kecil ini tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar mereka bersatu kembali, jadi yang bisa dia lakukan hanyalah menolak ketika ayahnya ingin tidur di kamarnya namun papanya berusaha membujuknya dengan berjanji membelikan es krim sebanyak yang Li Huan Rui mau, dan Li Huan Rui susah untuk menolaknya.




Terakhir kali Li Yongsheng masih bersikap baik padanya yaitu ketika mereka makan siang dan Li Yongsheng menyanyikan lagu untuknya dan mereka juga membicarakan tentang tawaran Shen Fengyin pada Li Yongsheng untuk bergabung dengan perusahaan Shen tapi siapa sangka Li Yongsheng menawarkan hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Dia akan membantunya untuk bekerja sama dengan perusahaan Lin dan Li Yongsheng juga memberi tahunya bahwa dia memiliki posisi wakil presiden di perusahaan Lin.  Setelah obrolan itu, saat Li Yongsheng kembali malam itu dia mulai berubah. Dia tidak mengerti, apa yang salah tentang hal itu.



Setiap kali Shen Fengyin memikirkannya dia menjadi kesal dan hal itu berimbah pada para pegawainya yang sering kena marah karena kesalahan kecil. Ketika Shen Fengyin marah dia akan menjadi orang yang begitu perfect dalam banyak hal bahkan kesalahan terkecil akan menjadi masalah besar.


“ CEO Shen, hari ini anda ada janji dengan wakil presiden Li”


Asisten Han memberi tahunya dengan gugup, sebelumnya saat Shen Fengyin bertemu dengan wakil presiden Li dia akan menjadi lebih marah dan menakutkan. 


“Baiklah”


Shen Fengyin berusaha bersikap tenang, dia dapat melihat asisten kepercayaannya menjadi begitu ketakutan.



“ CEO Shen”


Li Yongsheng menyapanya dengan senyum sopan santun, Shen Fengyin juga menanggapinya dengan formal.  Mereka bertemu disebuah cafe. Cafe ini cukup tenang dan biasanya juga sering digunakan untuk pembicaraan bisnis. Mereka berdua hanya membicarakan tentang bisnis bahkan Li Yongsheng bersikap kaku padanya.


Shen Fengyin masih berusaha bersikap tenang walaupun sebenarnya dia merasa marah dengan sikap dingin Li Yongsheng.Shen Fengyin mulai berpikir bahwa pria itu mungkin memiliki pria lain karena dia selalu pulang terlambat dan setiap pulang dia dapat mencium parfum yang dia yakin bukan milik pria itu, parfum itu menyengat seperti parfum wanita. Walaupun pria itu selalu membersihkan diri sebelum pergi ke kamar Li Huan Rui mungkin dia tidak ingin putranya tahu perselingkuhannya, Shen Fengyin merasa sakit di dalam hatinya walaupun dia berusaha menepisnya dan menganggapnya angin lalu bagaimanapun dia sudah memutuskan untuk tidak mencintainya lagi jadi seharusnya hal itu tidak menganggunya tapi kenapa dia merasa terusik dengan hal itu.


“CEO Shen, bagaimana pendapat anda?”


Shen Fengyin tersadar, dia tidak sadar jika dia terlalu fokus memikirkan sesuatu hingga dia mengabaikan penjelasan wakil presiden Li ini.


“Apa anda tidak mendenarkan saya? CEO Shen, biasakah anda serius dengan pertemuan ini? Saya tidak menyangka CEO Shen yang terkenal bisa juga tidak berkonsentrasi saat pertemuan”


Li Yongsheng mengucapkannya dengan nada datar. Shen Fengyin berusaha tetap tenang, dia menanggapi penjelasan Li Yongsheng tadi, walaupun dia sempat kehilangan fokusnya sebelumnya tapi dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu. Mereka akhirnya sampai pada kesepakatan.


“ Terima kasih CEO Shen atas kerja samanya”


“Saya juga berterima kasih karena perusahaan Lin memberikan kesempatan pada perusahaan Shen untuk bekerja sama”


Li Yongsheng mengangguk.Li Yongsheng hendak pergi tapi Shen Fengyin memanggilnya dengan sebutan yang tidak pernah dia pikirkan.


“Suamiku”


“CEO Shen, kenapa anda memanggil saya...”


“Suamiku, rapat sudah selesai dan saat ini jam makan siang kenapa kau masih bersikap formal?”


“Suamiku, duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu”


“Maaf, CEO Shen. Saya masih memiliki pekerjaan”


“Kau masih memiliki pekerjaan lain atau kau terburu-buru untuk makan siang dengan selingkuhanmu”


Shen Fengyin mengucapkannya dengan nada menyindir.  Li Yongsheng tersenyum sinis.


“Kenapa kau harus tahu tentang itu? Kau cemburu?”


Shen Fengyin hendak menanggapi tapi Li Yongsheng memotong ucapannya.


“Itu tidak mungkin bukan? Bukankah kau bilang tidaka akn memcintaiku? Dan bahkan memintaku untuk melupakan perasaanku padamu jadi bukankahkah kau seharusnya merasa senang karena saat ini hatlku teralihkan pada orang lain dengan begitu kita bisa menjalani kehidupan pernikan seperti dulu. Bukankah itu yang kau inginkan”


Shen Fengyin masih berusaha mengendalikan kemarahannya lagipula yang dikatakan Li Yongsheng memang benar, dia tidak seharusnya marah bukan. Dialah yang meminta pria itu untuk melupakan perasaannya dan menjalani kehidupan pernikahan seperti dulu. Dia juga tidak ingin terjebak dalam cinta tapi kenapa hatinya merasa sakit dan kesal.


“Ya, itu benar. Aku tidak menyangka suamiku begitu penurut dengan keinginan istrinya”


“Baiklah, suamiku. Kau bisa pergi temui selingkuhanmu itu.  Maaf sudah menunda waktumu untuk bertemu dengannya.  Oh ya, ada satu hal lagi, bahkan jikapun kau mencintai wanita lain tapi jangan berharap  kau bisa menikahinya karena tidak akan ada perceraian lagi”


Shen Fengyin lalu mendorong kursi rodanya meninggalkan Li Yongsheng. Pria itu tersenyum.


‘Aku juga tidak ingin ada perpisahan lagi, istriku’



“Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menemukan mereka?”


Mo An an berada di balkon dan berbicara dengan suara pelan.


“...”


“Kau harus segera menemukannya”


Mo An An tidak bisa lagi menahan diri, mimpi tentang putrinya selalu muncul dan membuatnya menjadi semakin mencemaskan putrinya.


“Siapa yang ingin kau temukan?”


Mo An An terkejur ketika melihat Li Yongfan berada di belakangnya. Dia merutuki dirinya karena sempat mengucapkannya dengan nada tinggi.


“Siapa yang kau cari? Bai Yuchen dan anak itu?”


“itu...”


Mo An An menjadi gugup.


“Istriku, aku sudah mengatakan padamu bukan? Aku tidak ingin kau terlibat dalam masa lalumu lagi. Lupakan mereka”


“tapi, Li Yongfan. Anak itu...”


“Istriku, aku tidak ingin bertengkar denganmu  dan aku tidak ingin kau memahas tentang anak itu ataupun mantan suamimu”


Li Yongfan mengucapkannya dengan nada marah. Dia lalu meninggalkan Mo An An yang hanya menghela nafas.  Li Yongfan tahu rencana Mo An An yang mencari putrinya tapi Li Yongfan berusaha untuk menghalanginya dan juga dialah yang meminta infroman Mo An An untuk tidak mencari keceradaan anak itu dan berbohong pada Mo AnAn. Li Yongfan berusaha menerima masa lalu Mo An An tapi dia tidak pernah berpikir untuk menerima seorang anak dari istrinya dan pria itu.



“Jadi, bagaimana? Apa rencana kita berhasil?”


“Aku tidak yakin, walaupun dia terlihat kesal tapi aku masih tidak yakin apa dia cemburu”


Li Hanyi merangkul sepupunya itu.


“Hei, sepupu. Aku yakin cepat atau lambat kakak ipar akan segera  jatuh dipelukanmu”


Li Hanyin menuangkan wine dan menawarkan pada Li Yongsheng tapi pria itu menolaknya. Dia tidak bisa minum dan membiarkan putranya mencium aroma alkohol.


“Aku harap ini tidak terlalu lama. Aku tidak tahan bersikap dingin dengan Shen Fengyin”


Li Yongsheng harus menahan rasa sakitnya saat dia harus bersikap dingin dan mengabaikan Shen Fengyin. Dia sengaja tidur terpisah karena dia tidak akan bisa menahan diri untuk memeluknya, dia juga selalu khawatir padanya ketika memikirkan mungkin saja dia melewatkan makan siang karena sibuk bekerja tapi wanita itu begitu keras kepala untuk menolak perhatian hingga Li Yongsheng tidak punya pilihan lain untuk mengikuti keinginannya sesuai dengan ide sepupunya.


“Aku harus kembali”


“Ini masih jam 9 , kau ingin kembali? Tidakkah terlalu awal?”


“Rui kecil akan kesepian jika aku tidak kembali”


“Baiklah, oh ya ini minyak wanginya. Semprotkan ke tubuhmu”


“Hari ini aku tidak ingin menggunakannya”


Li Yongsheng sebenarnya merasa mual setiap kali dia mencium aroma parfum wanita yang menyengat di tubuhnya. Dia tidak menyukai wanita yang menggunakan parfume yang menyengat seperti itu tapi itu adalah ide dari sepupunya itu untuk memancing kecemburuan Shen Fengyin tapi wanita itu tidak pernah bereaksi atau menegurnya setiap dia pulang walaupun hal ini bisa menjadi bukti bahwa dia berselingkuh tapi dia tidak ingin lagi mencium aroma parfume yang membuatnya pusing.


Li Yongsheng meninggalkan bar dan masuk ke mobil yang disediakan oleh kantornya.



“Papa, kau sudah pulang?”


Li Huan Rui yang sebelumnya merembahkan tubuh di sofa kini bangun dan memeluk papanya.


“Rui kecil, kau belum tidur? “


“Papa, mama belum pulang”


“Mamamu belum pulang?”


Li Huan Rui mengangguk.


“Mungkin mamamu sedang sibuk. Lebih baik kau kembali ke kamarmu. Papa akan menyusul setelah mandi”


“um”



Shen Fengyin berada di kantornya, dia menyibukkan diri dengan dokumennya.  Shen Fengyin biasanya akan menunda pekerjaannya dan akan mengerjakan keesokan harinya bagaimanapun dokumen ini berisi laporan project yang tidak terlalu mendesak tapi hari ini Shen Fengyin merasa malas untuk pulang dan melihat suaminya, lebih tepatnya dia tidak ingin kehilangan kedali ketika mencium parfume wanita lain dari suaminya.  Walaupun selama beberapa hari dia masih bisa menahan kemarahannya tapi dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menghindari hal itu.


Ponsel Shen Fengyin berdering, dia melihat nama yang muncul di layar ponselnya.


“Hallo, Huanrui”


“Mama, kapan mama pulang?”


“Mama tidak pulang malam ini, Huanrui, kenapa belum tidur?”


“Mama, Rui tidak bisa tidur sendirian”


“Bukankah ada papa?”


“Mama, cepat pulang ya atau Rui tidak akan tidur jika sendirian ”


Li Huan Rui mematikan sambungan begitu saja. Shen Fengyin khawatir dengan putranya. Saat ini ibunya sedang berada di A Country dan putranya sendirian, tapi dimana Li Yongsheng, apa pria itu terlalu sibuk dengan selingkuhannya hingga tidak memiliki waktu untuk pulang dan menemani putranya. Shen Fengyin tidak bisa pulang karena supir yang biasa mengantarnya pasti sekarang sedang istirahat dan dia juga tidak bisa mengendarai mobil. Shen Fengyin mencari kontak Li Yongsheng.


Shen Fengyin merasa kesal karena pria itu tidak menjawab telponnya, mungkinkah dia terlalu asik dengan selingkuhannya itu. Shen Fengyin lalu menghubungi supirnya. Supir yang disewa oleh kakaknya begitu tanggap, dia segera menjawab telpon dari Shen Fengyin dan menjemputnya.



Li Yongsheng selesai mandi, dia mengecek ponselnya sebelum pergi ke kamar Li Huan Rui. Dia mengerutkan keningnya ketika dia melihat panggilan tidak terjawab dari Shen Fengyin. Perasaan khawatir memenuhinya, karena Shen Fengyin memanggilnya malam-malam begini.

__ADS_1


“Papa”


“Rui kecil, bukankah papa memintamu untuk menunggu di kamar?”


“Papa, ayo”


Li Huan Rui meraih tangan ayahnya dan membawanya ke kamarnya.  Mereka berdua berbaring bersama. Li Yongsheng menceritakan dongeng sebelum tidur tapi saat itu tidak seperti biasanya , Li Huan Rui tidak tertidur.


“Ada apa?”


“Papa, Rui ingin tidur bertiga dengan papa dan mama”


“Rui, mamamu sedang sibuk saat ini”


“Rui tidak ingin tidur jika tidak ada mama”


Li Yongsheng  menghela nafas, dia mencium kening putranya.


“Papa akan menjemput mama untukmu”


“Benarkah? Terima kasih, papa”


Li Yongsheng keluar dari kamar Li Huan Rui dan turun ke bawah. 


“Shen Fengyin”


Li Yongsheng terkejut melihat Shen Fengyin yang berada di ruang tamu. Dia mendorong kursi rodanya menuju lift. Shen Fengyin sengaja menambahkan lift untuk membantunya berada di kamar Li Huan Rui dan juga untuk pergi ke ruang kerjanya di lantai 3.


“Li Yongsheng, kau sudah pulang?”


Shen Fengyin terkejut ketika melihat pria itu, dia pikir pria itu tidak pulang karena itulah putranya menghubunginya.


“Ya, aku tidak mungkin meninggalkan Rui kecil sendirian. Kebetulan sekali kau juga pulang. Rui kecil merindukanmu. Dia ingin tidur bersama kita”


“Kau temani saja Huanrui”


“Fengyin, dia menginginkanmu juga. Kita lupakan hal yang terjadi diantara kita dan kita harus memberikan perhatian pada Rui kecil”


“Ya, kau benar. Aku akan membersihkan diri lalu pergi ke kamarnya”


“Baiklah “



Li Huan Rui tersenyum, dia yakin rencananya akan berhasil menyatukan orang tuanya.  Li Yongsheng masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di samping Rui kecil.


“Mama sudah pulang, sebentar lagi dia datang”


Li Huan Rui tersenyum dan mengangguk.  Mereka berdua menunggu Shen Fengyin, Li Huan Rui hampir saja tertidur tapi dia beruasaha agar terjaga.


“Kau bisa tidur duluan”


“Tidak, Rui akan menunggu mama”


“Papa, apa kau mencintai mama?”


Li Yongsheng terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba. Namun dia mengangguk.


“Ya, papa selalu mencintainya”


“tapi kenapa papa bersikap dingin pada mama?”


“Bersikap dingin bukan berarti papa tidak mencintainya bukan? Bagi papa hanya mamamu, Shen Fengyin satu-satunya wanita yang papa cintai dan papa juga tidak pernah berpikir mencintai wanita lain. Papa ingin menujukkan perhatian dan cinta papa seperti pasangan lain tapi mamamu tidak suka dengan hal itu”


Shen Fengyin berada di luar, dia mendengar percakapan Li Yongsheng dan Li Huan Rui. Dia tidak yakin apa yang diucapkan Li Yongsheng itu tulus atau hanya untuk menenangkan putra mereka. Shen Fengyin perlahan menarik knop pintu.


“Mama”


Li Huan Rui tersenyum senang.  Shen Fengyin mendorong kursi rodanya menuju ke tempat tidur dan berbaring disamping putranya, Li Huan Rui meraih tangan mamanya dan papanya lalu menyatukan mereka di atas perutnya.


“Papa, mama. Li Huan Rui merindukan kehangatan keluarga seperti ini. Rui ingin kasih sayang dari papa dan juga mama”


“Huanrui, kami akan memberikan kasih sayang kami untukmu”


Li Huan Rui tersenyum.


“Mama dan papa, bolehkah Rui meminta satu permintaan”


“Tentu saja, apa itu?”


“Rui ingin memiliki orang tua yang penuh kasih sayang. Rui tidak tahu masalah apa yang terjadi dengan mama dan papa tapi Rui ingin kalian menjadi pasangan yang penuh kasih sayang. Mama, jangan marah pada papa lagi dan jangan bersikap dingin pada papa. Lalu papa, cobalah menujukkan perhatian lagi pada mama dan jangan membuat mama salah paham dengan sikap papa. Bisakah mama dan papa melakukannya?”


Shen Fengyin menghela nafas mendengar permintaan putranya.  Dia hampir melupakan bahwa selain membalas Li Yongsheng pernikahan ini untuk memberikan kebahagian untuk putranya memiliki keluarga yang lengkap. Dia tidak ingin mengecewakan putranya apalagi di masa lalu dia membuat putranya tidak bahagia jadi Shen Fengyin memutuskan untuk menurutinya dan melupakan egonya.


“Baiklah”


Li HuanRui lalu melihat ke arah papanya.


“Baiklah, papa juga akan melakukannya”


Li Huan Rui tersenyum lalu mulai memejamkan matanya. Sementara kedua orang disampingnya tidak bisa tidur karena tangan mereka masaih menyatu dan Li Huan Rui mengenggam kedua tangan mereka dengan erat Rui menyadari keanehan kedua orang tuanya.  Sebelumnya papanya selalu perhatian pada mamanya dan ada kalanya Li Huan Rui tidak diperhatikan jika dia tidak mencari perhatian ayahnya tapi saat ini, suasanan ayah dan ibunya terkesan dingin bahkan ayahnya sering berada di kamarnya setiap malam.


Li Huan Rui tidak memgerti apa yang terjadi pada orang tuanya. Mungkinkah mereka bertengkar. Bahkan neneknya  juga menyadari hal itu tapi ayahnya mengelak dan mengatakan hubungan mereka baik-baik saja. Li Huan Rui tidak ingin terjadi perpisahan antara kedua orang tuanya lagi tapi pria kecil ini tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar mereka bersatu kembali, jadi yang bisa dia lakukan hanyalah menolak ketika ayahnya ingin tidur di kamarnya namun papanya berusaha membujuknya dengan berjanji membelikan es krim sebanyak yang Li Huan Rui mau, dan Li Huan Rui susah untuk menolaknya.




Terakhir kali Li Yongsheng masih bersikap baik padanya yaitu ketika mereka makan siang dan Li Yongsheng menyanyikan lagu untuknya dan mereka juga membicarakan tentang tawaran Shen Fengyin pada Li Yongsheng untuk bergabung dengan perusahaan Shen tapi siapa sangka Li Yongsheng menawarkan hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Dia akan membantunya untuk bekerja sama dengan perusahaan Lin dan Li Yongsheng juga memberi tahunya bahwa dia memiliki posisi wakil presiden di perusahaan Lin.  Setelah obrolan itu, saat Li Yongsheng kembali malam itu dia mulai berubah. Dia tidak mengerti, apa yang salah tentang hal itu.



Setiap kali Shen Fengyin memikirkannya dia menjadi kesal dan hal itu berimbah pada para pegawainya yang sering kena marah karena kesalahan kecil. Ketika Shen Fengyin marah dia akan menjadi orang yang begitu perfect dalam banyak hal bahkan kesalahan terkecil akan menjadi masalah besar.


“ CEO Shen, hari ini anda ada janji dengan wakil presiden Li”


Asisten Han memberi tahunya dengan gugup, sebelumnya saat Shen Fengyin bertemu dengan wakil presiden Li dia akan menjadi lebih marah dan menakutkan. 


“Baiklah”


Shen Fengyin berusaha bersikap tenang, dia dapat melihat asisten kepercayaannya menjadi begitu ketakutan.



“ CEO Shen”


Li Yongsheng menyapanya dengan senyum sopan santun, Shen Fengyin juga menanggapinya dengan formal.  Mereka bertemu disebuah cafe. Cafe ini cukup tenang dan biasanya juga sering digunakan untuk pembicaraan bisnis. Mereka berdua hanya membicarakan tentang bisnis bahkan Li Yongsheng bersikap kaku padanya.


Shen Fengyin masih berusaha bersikap tenang walaupun sebenarnya dia merasa marah dengan sikap dingin Li Yongsheng.Shen Fengyin mulai berpikir bahwa pria itu mungkin memiliki pria lain karena dia selalu pulang terlambat dan setiap pulang dia dapat mencium parfum yang dia yakin bukan milik pria itu, parfum itu menyengat seperti parfum wanita. Walaupun pria itu selalu membersihkan diri sebelum pergi ke kamar Li Huan Rui mungkin dia tidak ingin putranya tahu perselingkuhannya, Shen Fengyin merasa sakit di dalam hatinya walaupun dia berusaha menepisnya dan menganggapnya angin lalu bagaimanapun dia sudah memutuskan untuk tidak mencintainya lagi jadi seharusnya hal itu tidak menganggunya tapi kenapa dia merasa terusik dengan hal itu.


“CEO Shen, bagaimana pendapat anda?”


Shen Fengyin tersadar, dia tidak sadar jika dia terlalu fokus memikirkan sesuatu hingga dia mengabaikan penjelasan wakil presiden Li ini.


“Apa anda tidak mendenarkan saya? CEO Shen, biasakah anda serius dengan pertemuan ini? Saya tidak menyangka CEO Shen yang terkenal bisa juga tidak berkonsentrasi saat pertemuan”


Li Yongsheng mengucapkannya dengan nada datar. Shen Fengyin berusaha tetap tenang, dia menanggapi penjelasan Li Yongsheng tadi, walaupun dia sempat kehilangan fokusnya sebelumnya tapi dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu. Mereka akhirnya sampai pada kesepakatan.


“ Terima kasih CEO Shen atas kerja samanya”


“Saya juga berterima kasih karena perusahaan Lin memberikan kesempatan pada perusahaan Shen untuk bekerja sama”


Li Yongsheng mengangguk.Li Yongsheng hendak pergi tapi Shen Fengyin memanggilnya dengan sebutan yang tidak pernah dia pikirkan.


“Suamiku”


“CEO Shen, kenapa anda memanggil saya...”


“Suamiku, rapat sudah selesai dan saat ini jam makan siang kenapa kau masih bersikap formal?”


“Suamiku, duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu”


“Maaf, CEO Shen. Saya masih memiliki pekerjaan”


“Kau masih memiliki pekerjaan lain atau kau terburu-buru untuk makan siang dengan selingkuhanmu”


Shen Fengyin mengucapkannya dengan nada menyindir.  Li Yongsheng tersenyum sinis.


“Kenapa kau harus tahu tentang itu? Kau cemburu?”


Shen Fengyin hendak menanggapi tapi Li Yongsheng memotong ucapannya.


“Itu tidak mungkin bukan? Bukankah kau bilang tidaka akn memcintaiku? Dan bahkan memintaku untuk melupakan perasaanku padamu jadi bukankahkah kau seharusnya merasa senang karena saat ini hatlku teralihkan pada orang lain dengan begitu kita bisa menjalani kehidupan pernikan seperti dulu. Bukankah itu yang kau inginkan”


Shen Fengyin masih berusaha mengendalikan kemarahannya lagipula yang dikatakan Li Yongsheng memang benar, dia tidak seharusnya marah bukan. Dialah yang meminta pria itu untuk melupakan perasaannya dan menjalani kehidupan pernikahan seperti dulu. Dia juga tidak ingin terjebak dalam cinta tapi kenapa hatinya merasa sakit dan kesal.


“Ya, itu benar. Aku tidak menyangka suamiku begitu penurut dengan keinginan istrinya”


“Baiklah, suamiku. Kau bisa pergi temui selingkuhanmu itu.  Maaf sudah menunda waktumu untuk bertemu dengannya.  Oh ya, ada satu hal lagi, bahkan jikapun kau mencintai wanita lain tapi jangan berharap  kau bisa menikahinya karena tidak akan ada perceraian lagi”


Shen Fengyin lalu mendorong kursi rodanya meninggalkan Li Yongsheng. Pria itu tersenyum.


‘Aku juga tidak ingin ada perpisahan lagi, istriku’



“Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menemukan mereka?”


Mo An an berada di balkon dan berbicara dengan suara pelan.


“...”


“Kau harus segera menemukannya”


Mo An An tidak bisa lagi menahan diri, mimpi tentang putrinya selalu muncul dan membuatnya menjadi semakin mencemaskan putrinya.


“Siapa yang ingin kau temukan?”

__ADS_1


Mo An An terkejur ketika melihat Li Yongfan berada di belakangnya. Dia merutuki dirinya karena sempat mengucapkannya dengan nada tinggi.


“Siapa yang kau cari? Bai Yuchen dan anak itu?”


“itu...”


Mo An An menjadi gugup.


“Istriku, aku sudah mengatakan padamu bukan? Aku tidak ingin kau terlibat dalam masa lalumu lagi. Lupakan mereka”


“tapi, Li Yongfan. Anak itu...”


“Istriku, aku tidak ingin bertengkar denganmu  dan aku tidak ingin kau memahas tentang anak itu ataupun mantan suamimu”


Li Yongfan mengucapkannya dengan nada marah. Dia lalu meninggalkan Mo An An yang hanya menghela nafas.  Li Yongfan tahu rencana Mo An An yang mencari putrinya tapi Li Yongfan berusaha untuk menghalanginya dan juga dialah yang meminta infroman Mo An An untuk tidak mencari keceradaan anak itu dan berbohong pada Mo AnAn. Li Yongfan berusaha menerima masa lalu Mo An An tapi dia tidak pernah berpikir untuk menerima seorang anak dari istrinya dan pria itu.



“Jadi, bagaimana? Apa rencana kita berhasil?”


“Aku tidak yakin, walaupun dia terlihat kesal tapi aku masih tidak yakin apa dia cemburu”


Li Hanyi merangkul sepupunya itu.


“Hei, sepupu. Aku yakin cepat atau lambat kakak ipar akan segera  jatuh dipelukanmu”


Li Hanyin menuangkan wine dan menawarkan pada Li Yongsheng tapi pria itu menolaknya. Dia tidak bisa minum dan membiarkan putranya mencium aroma alkohol.


“Aku harap ini tidak terlalu lama. Aku tidak tahan bersikap dingin dengan Shen Fengyin”


Li Yongsheng harus menahan rasa sakitnya saat dia harus bersikap dingin dan mengabaikan Shen Fengyin. Dia sengaja tidur terpisah karena dia tidak akan bisa menahan diri untuk memeluknya, dia juga selalu khawatir padanya ketika memikirkan mungkin saja dia melewatkan makan siang karena sibuk bekerja tapi wanita itu begitu keras kepala untuk menolak perhatian hingga Li Yongsheng tidak punya pilihan lain untuk mengikuti keinginannya sesuai dengan ide sepupunya.


“Aku harus kembali”


“Ini masih jam 9 , kau ingin kembali? Tidakkah terlalu awal?”


“Rui kecil akan kesepian jika aku tidak kembali”


“Baiklah, oh ya ini minyak wanginya. Semprotkan ke tubuhmu”


“Hari ini aku tidak ingin menggunakannya”


Li Yongsheng sebenarnya merasa mual setiap kali dia mencium aroma parfum wanita yang menyengat di tubuhnya. Dia tidak menyukai wanita yang menggunakan parfume yang menyengat seperti itu tapi itu adalah ide dari sepupunya itu untuk memancing kecemburuan Shen Fengyin tapi wanita itu tidak pernah bereaksi atau menegurnya setiap dia pulang walaupun hal ini bisa menjadi bukti bahwa dia berselingkuh tapi dia tidak ingin lagi mencium aroma parfume yang membuatnya pusing.


Li Yongsheng meninggalkan bar dan masuk ke mobil yang disediakan oleh kantornya.



“Papa, kau sudah pulang?”


Li Huan Rui yang sebelumnya merembahkan tubuh di sofa kini bangun dan memeluk papanya.


“Rui kecil, kau belum tidur? “


“Papa, mama belum pulang”


“Mamamu belum pulang?”


Li Huan Rui mengangguk.


“Mungkin mamamu sedang sibuk. Lebih baik kau kembali ke kamarmu. Papa akan menyusul setelah mandi”


“um”



Shen Fengyin berada di kantornya, dia menyibukkan diri dengan dokumennya.  Shen Fengyin biasanya akan menunda pekerjaannya dan akan mengerjakan keesokan harinya bagaimanapun dokumen ini berisi laporan project yang tidak terlalu mendesak tapi hari ini Shen Fengyin merasa malas untuk pulang dan melihat suaminya, lebih tepatnya dia tidak ingin kehilangan kedali ketika mencium parfume wanita lain dari suaminya.  Walaupun selama beberapa hari dia masih bisa menahan kemarahannya tapi dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menghindari hal itu.


Ponsel Shen Fengyin berdering, dia melihat nama yang muncul di layar ponselnya.


“Hallo, Huanrui”


“Mama, kapan mama pulang?”


“Mama tidak pulang malam ini, Huanrui, kenapa belum tidur?”


“Mama, Rui tidak bisa tidur sendirian”


“Bukankah ada papa?”


“Mama, cepat pulang ya atau Rui tidak akan tidur jika sendirian ”


Li Huan Rui mematikan sambungan begitu saja. Shen Fengyin khawatir dengan putranya. Saat ini ibunya sedang berada di A Country dan putranya sendirian, tapi dimana Li Yongsheng, apa pria itu terlalu sibuk dengan selingkuhannya hingga tidak memiliki waktu untuk pulang dan menemani putranya. Shen Fengyin tidak bisa pulang karena supir yang biasa mengantarnya pasti sekarang sedang istirahat dan dia juga tidak bisa mengendarai mobil. Shen Fengyin mencari kontak Li Yongsheng.


Shen Fengyin merasa kesal karena pria itu tidak menjawab telponnya, mungkinkah dia terlalu asik dengan selingkuhannya itu. Shen Fengyin lalu menghubungi supirnya. Supir yang disewa oleh kakaknya begitu tanggap, dia segera menjawab telpon dari Shen Fengyin dan menjemputnya.



Li Yongsheng selesai mandi, dia mengecek ponselnya sebelum pergi ke kamar Li Huan Rui. Dia mengerutkan keningnya ketika dia melihat panggilan tidak terjawab dari Shen Fengyin. Perasaan khawatir memenuhinya, karena Shen Fengyin memanggilnya malam-malam begini.


“Papa”


“Rui kecil, bukankah papa memintamu untuk menunggu di kamar?”


“Papa, ayo”


Li Huan Rui meraih tangan ayahnya dan membawanya ke kamarnya.  Mereka berdua berbaring bersama. Li Yongsheng menceritakan dongeng sebelum tidur tapi saat itu tidak seperti biasanya , Li Huan Rui tidak tertidur.


“Ada apa?”


“Papa, Rui ingin tidur bertiga dengan papa dan mama”


“Rui, mamamu sedang sibuk saat ini”


“Rui tidak ingin tidur jika tidak ada mama”


Li Yongsheng  menghela nafas, dia mencium kening putranya.


“Papa akan menjemput mama untukmu”


“Benarkah? Terima kasih, papa”


Li Yongsheng keluar dari kamar Li Huan Rui dan turun ke bawah. 


“Shen Fengyin”


Li Yongsheng terkejut melihat Shen Fengyin yang berada di ruang tamu. Dia mendorong kursi rodanya menuju lift. Shen Fengyin sengaja menambahkan lift untuk membantunya berada di kamar Li Huan Rui dan juga untuk pergi ke ruang kerjanya di lantai 3.


“Li Yongsheng, kau sudah pulang?”


Shen Fengyin terkejut ketika melihat pria itu, dia pikir pria itu tidak pulang karena itulah putranya menghubunginya.


“Ya, aku tidak mungkin meninggalkan Rui kecil sendirian. Kebetulan sekali kau juga pulang. Rui kecil merindukanmu. Dia ingin tidur bersama kita”


“Kau temani saja Huanrui”


“Fengyin, dia menginginkanmu juga. Kita lupakan hal yang terjadi diantara kita dan kita harus memberikan perhatian pada Rui kecil”


“Ya, kau benar. Aku akan membersihkan diri lalu pergi ke kamarnya”


“Baiklah “



Li Huan Rui tersenyum, dia yakin rencananya akan berhasil menyatukan orang tuanya.  Li Yongsheng masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di samping Rui kecil.


“Mama sudah pulang, sebentar lagi dia datang”


Li Huan Rui tersenyum dan mengangguk.  Mereka berdua menunggu Shen Fengyin, Li Huan Rui hampir saja tertidur tapi dia beruasaha agar terjaga.


“Kau bisa tidur duluan”


“Tidak, Rui akan menunggu mama”


“Papa, apa kau mencintai mama?”


Li Yongsheng terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba. Namun dia mengangguk.


“Ya, papa selalu mencintainya”


“tapi kenapa papa bersikap dingin pada mama?”


“Bersikap dingin bukan berarti papa tidak mencintainya bukan? Bagi papa hanya mamamu, Shen Fengyin satu-satunya wanita yang papa cintai dan papa juga tidak pernah berpikir mencintai wanita lain. Papa ingin menujukkan perhatian dan cinta papa seperti pasangan lain tapi mamamu tidak suka dengan hal itu”


Shen Fengyin berada di luar, dia mendengar percakapan Li Yongsheng dan Li Huan Rui. Dia tidak yakin apa yang diucapkan Li Yongsheng itu tulus atau hanya untuk menenangkan putra mereka. Shen Fengyin perlahan menarik knop pintu.


“Mama”


Li Huan Rui tersenyum senang.  Shen Fengyin mendorong kursi rodanya menuju ke tempat tidur dan berbaring disamping putranya, Li Huan Rui meraih tangan mamanya dan papanya lalu menyatukan mereka di atas perutnya.


“Papa, mama. Li Huan Rui merindukan kehangatan keluarga seperti ini. Rui ingin kasih sayang dari papa dan juga mama”


“Huanrui, kami akan memberikan kasih sayang kami untukmu”


Li Huan Rui tersenyum.


“Mama dan papa, bolehkah Rui meminta satu permintaan”


“Tentu saja, apa itu?”


“Rui ingin memiliki orang tua yang penuh kasih sayang. Rui tidak tahu masalah apa yang terjadi dengan mama dan papa tapi Rui ingin kalian menjadi pasangan yang penuh kasih sayang. Mama, jangan marah pada papa lagi dan jangan bersikap dingin pada papa. Lalu papa, cobalah menujukkan perhatian lagi pada mama dan jangan membuat mama salah paham dengan sikap papa. Bisakah mama dan papa melakukannya?”


Shen Fengyin menghela nafas mendengar permintaan putranya.  Dia hampir melupakan bahwa selain membalas Li Yongsheng pernikahan ini untuk memberikan kebahagian untuk putranya memiliki keluarga yang lengkap. Dia tidak ingin mengecewakan putranya apalagi di masa lalu dia membuat putranya tidak bahagia jadi Shen Fengyin memutuskan untuk menurutinya dan melupakan egonya.


“Baiklah”


Li HuanRui lalu melihat ke arah papanya.

__ADS_1


“Baiklah, papa juga akan melakukannya”


Li Huan Rui tersenyum lalu mulai memejamkan matanya. Sementara kedua orang disampingnya tidak bisa tidur karena tangan mereka masaih menyatu dan Li Huan Rui mengenggam kedua tangan mereka dengan erat


__ADS_2