Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Kelicikan Joshua


__ADS_3

Alasan kenapa Ashlyn kini sudah berada di tangan Rio, karena Josh sudah mulai menjalankan pengkhianatan kepada Simon.


Begitu Leo dan Yuta membawa pergi Ashlyn untuk di obati, Josh memerintah Rio untuk mengikutinya dan membereskan siapapun yang akan mengacaukan rencananya.


“Rio, ikuti mereka dan bereskan kedua bocah itu agar tidak mengacaukan rencana kita,” perintah Josh pada Rio.


“Baik, Tuan!” sahut Rio yang langsung saja menyusul, meskipun tangan dan kakinya masih terasa sakit akibat pukulan dari Leo sebelumnya.


Bahkan darah yang hampir mengering di keningnya, Rio biarkan begitu saja tanpa membersihkannya lebih dulu.


“Yakh, … Apa yang akan kau lakukan pada cucuku!” bentak Simon yang tidak akan diam saja, jika cucunya di lukai.


“Kau tenang saja! Dia hanya akan membuat cucumu yang sombong itu tidur sebentar, setidaknya sampai misi balas dendam kita ini selesai dengan memanfaatkan gadis itu,” jelas Josh yang tentunya menyembunyikan tujuannya yang sesungguhnya.


“Awas saja kalau kau berani melukai cucuku!” Simon memberikan peringatan secara langsung kepada Josh.


“Hahaha, … Bahkan bukan hanya cucumu saja yang akan aku bunuh setelah ini! Namun, kau dan putrimu juga akan aku bunuh dengan tanganku sendiri. Namun, saat ini waktunya untukku mengambil nyawa anak sulung keluarga Xavier,” batin Josh menunjukan sosok alinya.


...****************...


Beralih pada Rio yang akhirnya berhasil menyusul Leo dan pengawalnya. Rio memang sudah di berikan obat tidur sebelumnya untuk melumpuhkan Leo dan pengawalnya, tapi dia malah mengambil sebalok kayu yang cukup besar.


Kemudian langsung saja memukulkan balok kayu tersebut hingga Leo dan Yuta tidak sadarkan diri.


Tanpa buang waktu, Rio kembali mengambil alih tubuh Ashlyn untuk di laporkan kepada Josh. Disaat yang bersamaan Gery datang dengan membawa Luca, tapi tak lama kemudian terdengar suara kegaduhan dari luar Gedung.


Josh sudah memperkirakan bahwa kegaduhan itu berasal dari Luca yang mencoba memberontak.


Kembali ketika sosok Ashlyn di seret oleh Rio dalam keadaan tubuh terikat dan luka yang ada di kepalanya. Jack segera menghentikan aksi Luca yang hampir saja keluar dari tempat persembunyian mereka.


“Ashlyn!” gumam Luca tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada sosok gadis itu.


“Hay, apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau yang mengatakan sendiri kita harus mengulur waktu sampai bantuan datang,” ujar Jack menghentikan Luca yang akan keluar dari tempat persembunyian mereka.


“Apa kau tidak melihatnya? Ashlyn sedang dalam bahaya karena aku!” berang Luca yang menepis kasar pegangan Jack pada tangannya.


“Yakh, … Aku dan semua orang juga sedang dalam bahaya karena dirimu. Apa kau tidak sadar itu, Hah?” geram Jack yang ikut kesal dengan tingkah Luca.

__ADS_1


Mendengar hal itu, emosi Luca kembali menurun. Namun, terlihat jelas tatapan matanya terus tertuju pada Ashlyn yang terlihat dan berdaya dan sangat ketakutan.


Jack dapat melihatnya dengan jelas, dia tiba-tiba teringat kejadian ketika Axlyn mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Luca.


“Kemarilah, aku memiliki sebuah rencana!” ujar Jack yang menyuruh Luca untuk mendekatkan telinganya.


Namun, belum sempat Luca mendekat dan mendengarkan rencana tersebut. Joshua memberikan ancaman dengan berseru, “Luca! Keluarlah dari tempat persembunyianmu atau kau akan melihat kepala gadis ini terpisah dari tubuhnya!”


“Aku akan menghitung sampai hitungan ketiga! Jika kau tetap tidak menampakan dirimu, maka aku akan membunuh gadis ini!” sambung Josh.


Terlihat Rio sudah menempatkan sebuah golok panjang di leher Ashlyn yang hanya bisa menangis ketakutan tanpa bisa berbuat apapun. Tidak terpikirkan lagi oleh Luca tentang keselamatannya sendiri.


“Maaf, Jack! Aku tidak bisa membiarkan orang lain berkorban nyawa lagi untukku,” ujar Luca pada Jack sebelum keluar dari tempat persembunyiannya.


Jack hanya bisa menghela napas dengan berat dengan keputusan yang Luca ambil. Dia tidak bisa membiarkan Luca menghadapinya sendirian, Jack pun ikut keluar dari tempat persembunyiannya dengan sebuah senjata api yang di sembunyikan di balik ****** ********.


“Aaah, … Rupanya kau bersembunyi di situ dan ada satu tamu tak di undang lagi ternyata,” ujar Josh yang terus menunjukan senyum penuh kemenangan.


“Lu-Luca, …” lirih Ashlyn dengan deraian air mata yang kembali berjatuhan ketika melihat sosok pria yang amat dia rindukan selama ini.


“Bukankah nyawaku yang kalian inginkan! Jadi, bebaskan mereka tidak tahu apapun dengan dendam kalian.” Luca mencoba bernegosiasi dengan mengatasnamakan nyawanya sendiri.


“Lalu apa mau sekarang?” tantang Luca sekalian dari pada terus berputar-putar tidak jelas dengan perkataan yang Josh ucapkan sejak tadi.


“Berlututlah!” perintah Josh yang merubah raut wajahnya menjadi sangat serius.


Luca langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh bajingan gila itu.


...****************...


Okay, … Kita beralih sebentar pada Leo dan pengawal setianya. Dimana keduanya akhirnya mulai sadar dari pingsan mereka dan Leo langsung mencari keberadaan Ashlyn yang sudah entah berada di mana.


“Tuan, bangun! Kita harus segera mencari Nona Ashlyn sebelum hal buruk terjadi kepadanya,” ujar Yuta yang sadar terlebih dahulu di bandingkan Leo.


“Aakh, … Kepalaku sakit sekali!” rintih Leo sembari memegangi kepalanya yang terasa masih sakit akibat pukulan tersebut.


“Yuta, dimana Ashlyn? Apakah bajingan sialan itu yang membawanya?” cecar Leo yang menyadari Ashlyn sudah tidak ada di ruangan itu lagi.

__ADS_1


“Saya juga tidak tahu, Tuan! Begitu sadar tidak ada siapapun lagi di ruangan ini, kecuali kita berdua!” jelas Yuta.


“Kita harus segera mencarinya, Yuta! Kita berpencar!” perintah Leo.


“Baik, Tuan muda!” sahut Yuta.


Keduanya pun langsung berpisah. Dimana Yuta memeriksa ruang bawah tanah, sedangkan Leo memeriksa ruangan lainnya.


Di ruang bawah, Yuta tidak menemukan apapun bahkan ketiga pria yang sebelumnya di masukan di dalam penjara bawah tanah juga sudah tidak ada lagi di sana.


Sementara, Leo yang awalnya ingin memeriksa ruangan Kakeknya tiba-tiba perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara keributan dari arah luar Gedung.


Tanpa buang waktu, Leo pun segera menuju kea rah sumber kebisingan untuk memastikan apa yang tengah terjadi di sana.


Betapa terkejutnya Leo ketika melihat Ashlyn yang tengah di jadikan sandera. Di mana Rio tengah meletakan sebuah golok besar di leher Ashlyn.


Kemudian, perhatian Leo teralihkan pada sosok Luca yang berlutut seorang diri di tengah kepungan anak buah Josh dan Simon.


“Kakek, apa maksud semua ini?” tanya Leo yang menghampiri Kakeknya dengan raut wajah bingungnya.


“Tentu saja untuk membalas dendam atas kematian Ayahmu, Leo! Lihatlah, Kakek berhasil membuatnya bertekuk lutut. Maka tugasmu sekarang adalah membunuhnya dengan tanganmu sendiri,” jawab Simon sambil menunjukan seringainya.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...

__ADS_1


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2