
“Kakak tidak boleh mengingkarinya, apapun alasannya harus menepati janji ini! Mengerti?” Alicia harus benar-benar memastikan Kakaknya itu tidak akan pernah melanggar janji ini.
“Iya, Kakak mengerti!” sahut Ashlyn seraya sedikit menunjukan senyumannya.
Keduanya pun kembali berpelukan satu sama lain, seolah saling menghibur dan memberi semangat satu sama lain.
Alicia memang tidak merasakan sendiri bagaimana berada di posisi Ashlyn saat ini. Akan tetapi, setidaknya Alicia sedikit bisa mengerti bagaimana perasaan Kakaknya saat ini.
“Kakak!” panggil Alicia tanpa ingin melepas pelukannya dari Ashlyn.
“Emmm, …” Ashlyn hanya menyahutinya dengan dehaman.
“Apa Kakak membenci Ayah?”
Akhirnya Alicia memberanikan diri untuk bertanya apa yang menganggu pikirannya selama ini.
Benar saja, Ashlyn hanya diam tanpa berniat ingin menjawab pertanyaan tersebut. Alicia pun bisa mengerti, sehingga dia memutuskan untuk diam dan tak menanyakan apapun lagi.
Cukup lama Ashlyn diam seakan sedang mencari jawaban yang tepat dengan apa yang di rasakan saat ini.
Kemudian Ashlyn berkata, “Tidak terlalu membencinya, tapi untuk menerima keberadaannya sekarang. Jujur saja saat ini sangat sulit untuk Kakak lakukan.”
“Apakah alasannya, karena Ayah telah mengabaikan kita selama ini? Tapi sebenarnya Ayah tidak seperti itu, hanya saja orang yang selama ini ayah percayai untuk menjaga kita secara diam-diam malah mengkhianatinya,” jelas Alicia yang tanpa sadar dirinya membela sang ayah.
“Mungkin seperti itu, tapi jujur saja Kakak tidak bisa memahami apapun alasannya sekarang! Apalagi Kak Axlyn terjebak dengan dunia mafia juga karena campur tangan ayah,” ujar Ashlyn yang kembali menampakan kesedihannya.
“Pasti Ayah juga tidak ingin semua itu terjadi. Namun, sepertinya tidak ada pilihan lain baik Ayah maupun Kak Axlyn pasti memutuskan seperti itu, karena ingin melindungi kita. Mereka tidak ingin ikut menjerumuskan kita semua dalam dunia seperti itu.”
Lagi-lagi Alicia seolah ingin mendukung keputusan dan alasan yang Vinno katakan padanya. Entah mengapa, Alicia juga menginginkan Ashlyn untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ashlyn pun akhirnya tersenyum saat menyadari bahwa adiknya menginginkan keluarga yang utuh, tidak terpecah belah seperti saat ini.
“Baiklah, Kakak mengerti! Tapi Kakak butuh waktu untuk menerima semua ini,” ujar Ashlyn.
“Aaah, … Ma-maksud Licia tidak seperti itu, Kak! Licia hanya, _....”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Kakak mengerti ‘kok maksud baik Licia!” potong Ashlyn yang tidak ingin menempatkan adiknya dalam keadaan yang serba salah antara memilih berpihak padanya atau pada kedua orang tua mereka.
“Memangnya apalagi yang Ibu dan Ayah jelaskan padamu saat Kakak tidak ada? Bisakah Licia beritahu Kakak tentang apa yang mereka ceritakan kepada Licia?”
Ashlyn bahkan meminta sang adik untuk memberitahunya juga apa yang orang tua mereka katakan.
“Emm, … Apa Kakak tidak akan marah, kalau Licia menceritakan semuanya?” tanya Alicia yang merasa ragu untuk menceritakannya.
“Tidak! Ceritakan semuanya agar Kakak bisa mempertimbangkan semuanya dengan lebih jelas lagi,” jawab Ashlyn menyakinkan adiknya.
Merasa sang Kakak tidak masalah akan cerita yang akan dia sampaikan, Alicia pun mulai mengatakan semua yang dia dengar dari kedua orang tuanya. Ashlyn tampak mendengarkan dengan seksama, meskipun pada kenyataannya di hati dan pikirannya saat itu hanya tentang Luca.
“Kenapa sekarang menjadi seperti ini?” batin Ashlyn.
“Aku sangat membencinya, bahkan dia memberitahu ibuku bahwa selama ini yang dia cintai adalah Kak Axlyn! Lalu sebenarnya aku ini berarti apa untuknya?”
“Mengapa kau mendekatiku hanya karena wajahku mirip dengan Kak Axlyn? Mengapa kau hanya menjadikan diriku sebagai seorang pengganti dari wanita yang kau cintai?”
“Sungguh, hatiku sangat sakit dan terluka mengingat bahwa aku hanya seorang pengganti di matamu! Aku tulus membuka hati untuk mencintaimu, tapi apa yang aku dapatkan sebagai balasannya. Ashlyn, hanya seorang pengganti! Dan tidak akan pernah lebih dari itu!”
Setidaknya Alicia tidak mempertanyakan bagaimana perasaannya kepada Luca saat ini. Sebab Ashlyn sendiri tidak bisa menjawabnya, karena ada kalanya dia merasa sangat membenci Luca yang menganggap dirinya hanya sebagai pengganti dari Kakaknya yaitu Axlyn.
Di satu sisi, Ashlyn merindukan keramahan dan perhatian yang selalu Luca berikan untuknya, dimana dia akan meminjamkan bahu kekarnya untuk dia melepaskan segala bentuk kegundahan hatinya.
Kini tiada lagi tempat untuk Ashlyn berkeluh kesah maupun meminta perlindungan dari sosok seorang Luca. Yang tersisa di hatinya hanya luka dan kekecewaan yang dia rasakan begitu mendalam.
Waktu pun dengan cepat berlalu, bahkan sampai hampir malam menjelang Ashlyn dan Alicia sama sekali belum kembali.
Jujur saja hal itu membuat Luca semakin merasa bersalah sekaligus khawatir dengan keadaan Kakak beradik itu yang pergi dalam keadaan marah kepadanya.
Sungguh, Luca benar-benar merasa takut hal buruk terjadi pada kedua gadis itu. meskipun untuk saat ini tidak ada pergerakan membahayakan dari Simon dan Joshua.
Sedangkan di sisi lain, Luca sendiri juga tengah merasa kegalauan dan kegundahan pada hatinya. Apa yang di katakan oleh Bu Hanna memang benar adanya. Tanpa sadar dirinya telah menyakiti begitu dalam hati Ashlyn.
Dari awal dia mendekatinya memang karena wajahnya yang begitu mirip dengan Axlyn, tapi tidak pernah sedetikpun dia menganggap Ashlyn sebagai seorang pengganti Axlyn di mata maupun hatinya.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk mendapatkan maaf darinya? Untuk menjelaskan semuanya, bahwa aku tidak pernah sekalipun menjadikan dirinya sebagai pengganti Axlyn?” batin Luca yang kalut memikirkan cara agar bisa mendekati dan bicara dengan Ashlyn seperti dulu.
“Astaga, mengapa jika berkaitan dengan Ashlyn otakku yang genius ini tidak ada gunanya sama sekali” Luca berdecak frustasi dengan cara kerja otaknya sendiri.
“Apa yang sedang kau pikirkan sampai larut malam begini, Luca?”
Tiba-tiba suara Papah Rayden mengejutkannya, dia ternyata sudah berdiri di belakangnya sejak tadi dan mendengarkan semua yang dia gumamkan dengan keadaan frustasi.
Menyadari kelakuan absurdnya di perhatikan oleh papahnya sejak tadi membuat Luca sedikit malu sampai menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Papah, …” ujar Luca yang bukannya menjawab malah hanya diam dan menundukkan kepalanya saja.
“Iya, ini Papah! Apa kau tidak berminat menjawab pertanyaan yang Papah tanyakan barusan?” desak Rayden yang sedikit kesal dengan reaksi putra sulungnya itu.
“Bukan begitu, Pah! Hanya saja Luca malu untuk mengatakannya pada Papah,” jawab Luca dengan polosnya.
“Malu kenapa memangnya? Aah, … Pasti saat ini kau sedang memikirkan cara untuk mendapatkan maaf dari Ashlyn, tapi otak geniusmu sama sekali tidak bisa di ajak kerjasama, bukan?” tebak Rayden.
Tepat, seratus untuk Papah Rayden yang berhasil menebak apa yang Luca pikirkan. Ingin sekali, Luca berseru seperti itu. Namun, apa daya dia malu untuk mengakuinya bahwa otak geniusnya sama sekali tidak berguna di saat seperti ini.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
__ADS_1
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...