Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Melimpahkan Pekerjaan


__ADS_3

“Tidak, Alicia! Kau maupun Ibu bukanlah beban untuk Kakak, kalian berdua adalah penyemangat dalam hidup Kakak! Kakak akan pernah menyerah untuk mewujudkan cita-citamu sebagai dokter hebat. Kakak berjanji akan segera membayar semua uang sekolahmu, mengerti?”


Meskipun Ashlyn harus menjual organ dalamnya ataupun menjual nyawanya, dia tidak akan mempermasalahkannya. Ashlyn akan melakukan berbagai cara agar adiknya bisa kembali bersekolah dan meraih cita-citanya selama ini.


Alicia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Meskipun sesungguhnya dia tahu persis keuangan sang Kakak dan beban yang harus Kakaknya itu tanggung.


Namun, sesungguhnya di dalam hati kecil Alicia dia memang ingin terus belajar dan menggapai cita-citanya.


“Bersabarlah sebentar! Kakak pasti akan segera mendapatkan uangnya,” ujar Ashlyn seraya mendekap dan memeluk erat sang adik yang masih menangis sesenggukan di dalam pelukannya.


“Jika Kak Axlyn kembali, mungkin Kak Ashlyn tidak akan bekerja keras sendirian seperti ini! Kak, aku sangat merindukan Kak Axlyn! Kapan Kak Axlyn akan pulang dan bersama kita lagi.”


Seperti sebuah kebiasaan, ketika dirinya sedih Alicia pasti akan mencari keberadaan Axlyn. Sebab sebelum Axlyn meninggalkan mereka untuk mencari keberadaan ayah mereka, Axlyn ‘lah yang mengurus kebutuhan keluarganya.


“Kak Axlyn pasti akan segera kembali dengan membawa banyak uang! Dia akan mengajak Ibu dan kita berdua tinggal di rumah yang besar, membayar semua pengobatan Ibu hingga sembuh dan kita semua akan hidup bahagia tanpa kekurangan apapun lagi,” jelas Ashlyn yang tentu saja semua yang dia katakan hanya sebuah karangan belaka.


“Aku harap Kak Axlyn baik-baik saja! Itu sudah cukup untuk Ibu dan aku,” ucap Alicia yang tidak bisa di bohongi seperti anak kecil lagi.


“Kakak juga berharap seperti itu! Tidak perlu menemukan maupun membawa Ayah kembali, hanya dirinya saja yang kembali itu sudah sangat cukup.” Ashlyn membenarkan perkataan adiknya.


Luca hanya bisa menangis tanpa suara mendengar pembicaraan Ashlyn dan Alicia yang begitu menyayat hatinya.


Terlebih lagi ketika keduanya membicarakan tentang Axlyn yang telah lama tiada karena dirinya. Perasaan bersalah kembali memenuhi hati dan pikirannya, Luca kembali menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Axlyn.


“Maaf, … Hiks! Maafkan aku, … Hiks!”


“Aku ingin sekali membawa Axlyn kembali ke sisi kalian, tapi, … Hiks! Kenyataan tidak memungkinkan aku melakukan itu, Hiks, …”


“Aku ‘lah orang yang telah menyebabkan kalian harus terpisah dengan Axlyn selamanya, Hiks!”


“Hiks, … A-aku ‘lah orang yang akan mematahkan harapan kalian itu dengan kejam,”


“Jadi, … Hiks! Jadi, jangan pernah memaafkan aku meskipun aku mengatakan berjuta maaf kepada kalian. Meskipun aku bersujud memohon pengampunan pada kalian, jangan pernah mengampuniku sekalipun! Hiks, …”


“Namun, meskipun aku tidak bisa membawa kembali Axlyn kepada kalian! Tapi aku bisa menyediakan rumah besar yang kalian inginkan, membayarkan biaya sekolah Alicia hingga dia menjadi dokter hebat dan membiayai semua pengobatan rumah sakit,”


“Setidaknya dengan melakukan itu semua, aku tidak akan pernah malu ketika nanti aku bertemu lagi dengan Axlyn setelah aku mati.”

__ADS_1


Luca tidak ingin di maafkan atas kematian Axlyn, dia juga akan selamanya menanggung rasa bersalah atas kematian Axlyn selama sisa hidupnya.


Namun, dia berjanji akan melindungi dan memberikan segalanya yang di perlukan keluarga Axlyn. Ibu dan kedua adik Axlyn akan selamanya berada di bawah perlindungan dan tanggung jawab Luca Cano Xavier.


Tidak ingin berlama-lama menguping pembicaraan dua saudari itu dan sebelum sebelum ketahuan, Luca pun memutuskan untuk kembali ke dalam mini market.


Namun, siapa sangka sudah ada Max dan Matt yang sedang mencari keberadaan dirinya di sana.


“Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini?” tanya Luca dengan tatapan datar dan wajah dinginnya.


“Tuan muda, apa yang terjadi dengan anda?”


Tanpa menghiraukan pertanyaan Luca sebelumnya, Max malah menanyakan balik keadaan Luca melihat wajahnya yang memerah dengan mata sembab.


Tentu saja keduanya sangat khawatir dan panik jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Luca karena kelalaian mereka berdua.


Beruntung jika mati dengan mudah di tangan Rayden dan klan BlackSky. Tapi bagaimana kalau mereka malah di siksa sampai mati, sama saja merasakan neraka sebelum memasukinya.


Coba apakah para reader’s ada yang bisa membayangkan bagaimana kemarahan Rayden dan klan BlackSky?


Max dan Matt bahkan tidak berani, walau hanya sekadar membayangkannya saja hal itu sudah membuat mereka sangat merinding.


“Kedatangan kami hanya ingin memastikan anda baik-baik saja atau tidak, Tuan! Apalagi kami tidak menemukan anda di manapun ketika memeriksa kamar anda tadi pagi,” jelas Matt yang memahami situasinya.


“Kalian sudah melihatnya, bukan?” ujar Luca dengan nada dinginnya.


“Iya, Tuan! Kami merasa lega sekarang,” sahut Max.


“Perihal apa yang aku perintahkan semalam, apakah kalian sudah menemukan informasinya?”


Luca langsung saja menanyakan tentang informasi tentang apa yang terjadi pada Axlyn setelah pergi untuk mencari keberadaan ayahnya.


Sebab Luca tidak ingin lebih lama lagi menutupi tentang kematian Axlyn pada keluarganya. Apalagi setelah mendengar pembicaraan Ashlyn dan Alicia yang mengharapkan Axlyn kembali dengan keadaan baik-baik saja.


“Belum, Tuan! Kami selalu berujung pada jalan buntu setiap mendapat petunjuk seolah petunjuk itu hanya sebagai pengecoh agar jejak Axlyn tidak pernah di temukan,” jelas Matt, karena dia yang bertugas mencari informasi tersebut.


“Apakah benar sesulit itu?” gumam Luca antara percaya dan tidak.

__ADS_1


“Maafkan saya, Tuan muda!”


Hanya permintaan maaf yang bisa Matt sampaikan sebari membungkuk di hadapan Tuannya.


“Aku beri kau waktu sampai malam ini! Kumpulkan semua informasi yang bisa kau dapatkan dan segera laporkan padaku,” perintah Luca.


“Baik, Tuan muda!” sahut Matt menyanggupi.


“Tapi Tuan sampai jam berapa saya mengumpulkannya, apakah ada batas waktu tertentu?” tanya Matt dengan wajah ‘sok polosnya yang membuat Luca dan Max yang melihatnya menjadi darah tinggi.


“Aish, … Kau ini!” geram Max yang menginjak kaki kanan Matt sekeras mungkin.


“Auwh, … Auwh, … Kenapa kau menginjak kakiku!” seru Matt sembari memegangi telapak kakinya yang terasa sakit, tapi Max mengabaikannya begitu saja.


“Tuan, bagaimana dengan pertemuan hari ini dengan klan mafia Death Lion?”


Max lebih memilih beralih bicara dengan Luca tentang pertemuan pertama yang di laksanakan oleh klan musuhnya.


Dan tentunya pertemuan itu terkait perebutan pembelian HK Group yang kini sudah resmi di beli oleh perusahaan BLOUSHZE Group, meskipun peralihannya belum selesai di laksanakan sepenuhnya.


“Aku melimpahkan pekerjaan itu padamu! Lakukan yang terbaik saat kau menjadi aku,” jawab Luca yang secara tidak langsung menyerahkan pekerjaan itu pada Max dan bahkan mengatakan bahwa Max harus berpura-pura menjadi dirinya.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...

__ADS_1


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2