
Rayden, Felix dan yang lainnya pun telah berhasil membunuh Rio dan Gery, tentunya dengan cara mereka yang sangat keji. Bahkan kelakuan Felix sama persis dengan Jaydon yang mengampuni anak buah Simon.
Dimana kenangannya saat bersama dengan Evan, di tambah Simon juga memutuskan untuk menyerah tepat sebelum pertarungan di mulai.
“Okay, … Baiklah! Bagi yang merasa berada di bawah kepemimpinan Tuan Simon segera berkumpul di sini dan bagi yang bukan tetap berada di tempat!” seru Felix memberikan arahan kepada anak buah musuh yang masih hidup.
Sedangkan Rayden hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan dari anak buahnya itu. Rayden sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, mereka adalah anak buah biasa, bukan seperti Gery dan Rio yang merupakan orang kepercayaan Joshua.
“Apakah sudah semuanya?” teriak Felix memastikan.
“Tuan, mereka bukan anak buah Tuan Simon tapi mereka malah berdiri di sini!”
Salah satu anak buah Simon memberitahu adanya orang yang bukan anak buah Simon tapi ikut berpindah di tempat yang Felix tunjuk.
Pandangan tajam Felix langsung beralih pada sekelompok orang yang dimaksud. Terlihat tubuh mereka bergetar ketakutan ketika perlahan Felix berjalan mendekati mereka.
“Ma-maafkan kami, Tuan! Ka-kami hanya ingin hidup, _....”
“Emmm, … Apakah kalian mau bergabung dengan kami?”
Bukannya memarahi atau menghukumnya, Felix malah menawarkan mereka untuk menjadi anak buahnya. Sesaat mereka terlihat ragu, tapi detik selanjutnya mereka langsung berlutut dan memberi hormat kepada Felix pertanda mereka setuju untuk menjadi anak buahnya.
“Tuan, bolehkah mereka bergabung dengan klan kita!” seru Felix meminta ijin pada Rayden.
“Haaah, … Tidak perlu! Anak buah kita sudah terlalu banyak, memangnya kau membayar mereka semua!” tolak Rayden yang tidak habis pikir dengan kelakuan Felix yang seenaknya mengangkat anak buah seolah Rayden akan selalu menyetujuinya.
“Tapi, Tuan! Lihatlah, mereka semua terlihat sangat kasihan,” bujuk Felix dengan tatapan mata memohon.
Rayden kembali menghela napas panjang dengan sikap Felix yang terkesan memaksanya di bandingkan membujuknya.
Sampai pandangan Rayden teralihkan pada tiga orang yang berjalan sambil berangkul tangan satu sama lain.
Rayden hanya bisa tersenyum bangga, melihat putra sulungnya dan putra Evan satu-satunya saling bahu membahu seperti yang dia saksikan sekarang. Melihat Tuannya yang tersenyum, Felix pun menjadi penasaran dan ikut menatap ke arah yang sedang di lihat Rayden sejak tadi.
“Wahh, … Siapa sangka Ayah mereka saling bermusuhan, tapi anaknya malah berteman sangat baik sampai saling menolong satu sama lain,” gumam Felix.
“Benar, jika saja saat itu Evan tidak muncul kembali untuk membalas dendam! Maka aku juga akan menyambut Evan sebagai temanku, apalagi berkat dia juga Zhia dan Double L hidup tanpa kekurangan apapun sampai aku menemukan mereka,” ujar Rayden.
__ADS_1
Dia sekilas membayangkan bahwa dirinya bisa berteman baik dengan Evan dan melupakan semua masalah yang pernah terjadi di antara mereka.
“Benar, tapi setidaknya anak-anak itu tidak mengikuti jejak yang salah seperti orang tuanya!” sahut Felix.
“Mereka membutuhkan Tuan baru, bukan? Maka berikan saja mereka pada Simon, sebab aku percaya Leo akan menjadi pemimpin klan yangh lebih baik di bandingkan dengan Kakeknya itu,” perintah Rayden pada Felix.
“Tentu, Tuan! Saya pun berpikir seperti itu,” sahut Felix.
Dia langsung menyampaikan keputusan Rayden pada anak buah Josh yang masih ingin bertahan hidup dan jika ada yang menolak, maka tanpa segan Felix akan memotong lehernya di tempat.
Begitu jarak mereka sudah semain mendekat, Rayden pun langsung menghampiri ketiganya melihat Leo yang sedikit kewalahan. Ternyata Leo terpaksa memapah Yuta dan Luca sekaligus, karena keduanya sama-sama terluka saat pertarungan berlangsung.
“Paman, tolong bawa putramu ini!” seru Leo begitu melihat Rayden berjalan mendekati mereka.
“Ouh, … Baiklah! Tapi apa yang terjadi dengannya?” tanya Rayden yang tidak mengetahui bahwa Luca terkena tusukan pisau, karena ingin melindungi Joana.
“A-aku tidak apa-apa, Pah!” jawab Luca sembari menahan sakit pada luka tusukannya.
“Tidak, Paman! Dia terkena luka tusukan di bagaian perutnya, karena berusaha melindungi Mamahku! Sebaiknya Paman cepat membawanya ke rumah sakit,” jelas Leo yang sebenarnya diam-diam merasa khawatir dengan keadaan penyelamat nyawa Mamahnya.
“Aish, … Dasar kau ini! Sok kuat sekali jadi anak,” geram Rayden dengan sengaja memukul pelan pada bagian baju Luca yang berdarah.
“Katanya tidak apa-apa!”
Masih sempat saja Rayden menggoda putra sulungnya di saat seperti ini. Hingga membuat Leo dan Yuta menatap bingung dengan kelakuan Ayah dan anak itu.
Sempat terlintas di benak Leo bahwa Ayahnya juga akan bersikap seperti itu, tapi seketika dia sadar bahwa itu tidak akan mungkin.
“Ouhya, … Apa kau terluka?” Tiba-tiba pertanyaan Rayden menyadarkan Leo dari lamunannya.
“Aaah, … Apa yang Paman katakan barusan?” Secara tidak langsung Leo meminta Rayden untuk mengulangi ucapannya.
“Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Coba sini, biarkan Paman memeriksanya,” cecar Rayden yang memperhatikan seluruh tubuh Leo dengan seksama.
“Tidak, Paman! Aku baik-baik saja, tapi sahabatku ini yang babak belur karena mencoba melindungi Kakekku,” ujar Leo menyimpulkan sebuah senyuman di sudut bibirnya.
“Levi, kemarilah!” teriak Rayden ketika melihat Levi yang tengah memberi arahan kepada anak buahnya untuk membersihkan lokasi pertarungan.
__ADS_1
“Iya, Pah! Ada apa?” Levi tanpa buang waktu langsung menghampiri Papah mertuanya itu.
“Bawa anak itu ke rumah sakit! Biarkan saja Felix yang mengurus sisanya di sini,” ujar Rayden memberi arahan.
“Baik, Pah!” sahut Levi.
“Berikan dia padaku,” ujar Levi yang meminta Leo untuk mempercayakan Yuta kepadanya.
“Paman, saya bisa membawanya sendiri,” jelas Leo yang merasa selalu tidak enak hati.
“Kau juga terluka, jangan memaksakan diri!” ujar Rayden menunjukan luka goresan yang cukup dalam pada lengan Leo, bahkan Leo sendiri tidak merasakannya sama sekali.
Tanpa buang waktu, Levi langsung mengambil tubuh Yuta dan langsung menggendong di punggungnya. Sedangkan Rayden menggendong Luca di punggungnya, dimana tidak ada penolakan sama sekali dari putra sulungnya itu.
Leo akhirnya hanya bisa mengikuti mereka dengan menyamakan langkahnya dengan langkah Rayden.
“Papah, sudah lama Luca tidak di gendong Papah seperti ini,” gumam Luca yang malah merasa nyaman berada di belakang punggung Papahnya.
“Kau ini sudah besar masih saja bersikap manja! Lihat saja nanti, kalau sampai encok Papah kambuh maka yang akan Papah suruh untuk memijatnya,” berang Rayden dengan kelakuan Luca yang seperti anak kecil saja.
“Kalau begitu aku akan mengadu sama Mamah dan Luci, kalau Papah membully ketika aku sedang terluka, Hehehee, ….” Ancam Luca di sertai kekehan kecilnya.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
__ADS_1
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...