Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Perhatian Luca


__ADS_3

Dia membuka pintu itu dengan sangat kasar, hingga menimbulkan suara keras yang yang mengalihkan perhatian mata semua orang yang berada di ruangan itu kecuali Leo yang sedang sibuk mencumbu Ashlyn.


“Bajingan sialan! Beraninya kau menyentuh dia,” geram Luca.


Kemarahannya semakin memuncak tak kala, dia melihat Ashlyn yang sedang di lecehkan tepat di hadapannya. Detik itu juga, Luca seperti melihat keberadaan Axlyn yang tengah menangis seraya menunjuk ke arah Ashlyn.


Seolah ingin mengatakan agar Luca segera menolong adiknya dari para bajingan itu.


Sontak, kemarahan Luca semakin tidak terkendali. Tanpa buang waktu dia mengamuk tanpa bisa di hentikan oleh siapapun.


Kejadiannya sama persis seperti yang telah di ceritakan di atas. Bahkan sampai sekarang kemarahan Luca masih memuncak, tetapi dia bisa menahannya karena yang paling penting kondisi Ashlyn saat ini.


Kita beralih lagi pada pembicaraan Luca dan Ashlyn, dimana gadis itu mengakui bahwa dirinya mengenal pria yang hampir saja merenggut kehormatannya secara paksa.


Luca pun terdiam, dia merasa sedikit kecewa akan jawaban dari Ashlyn. Akan tetapi, dia berusaha untuk tetap tenang dan memberikan waktu bagi Ashlyn untuk menjelaskannya.


“Boleh aku tahu bagaimana mana kau bisa mengenal bajingan seperti itu?” tanya Luca dengan nada bicara serendah mungkin dan penuh kehangatan.


“Beberapa bulan yang lalu, aku sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya cuci darah ibuku! Hiks, … Aku tidak memiliki cara lain untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam singkat,”


“Disaat yang bersamaan aku bertemu dengan Tuan Leonard, saat itu dia sangat bersahabat dan menganggap ku sebagai temannya. Dia juga meminjamkan aku uang begitu saja,” jelas Ashlyn di sela isak tangis.


“Namun, kali ini aku tidak tahu kenapa dia bisa melakukan hal itu padaku! Hiks, … Hiks, … Aku pikir kita masih berteman, karena itulah aku memberanikan diri untuk meminjam uang lagi padanya. Hiks, … Aku tidak pernah berpikir akan sampai terjadi peristiwa memalukan ini, Hiks, ….” sambungnya masih dalam keadaan menangis terisak.


“Jadi, karena itu kau sampai melakukan pekerjaan yang penuh bahaya bagi gadis cantik sepertimu! Seharusnya aku datang lebih awal agar kau dan keluargamu tidak hidup se-menderita ini! Maafkan aku, Ashlyn!” batin Luca yang kembali merasa bersalah.


“Sudah jangan menangis! Sekarang kau sudah aman bersama denganku,” ujar Luca mencoba menenangkan Ashlyn.


“Iya, Hiks, … Aku sudah tidak menangis lagi sekarang!” sahut Ashlyn yang sebenarnya masih belum bisa menghentikan tangisannya.


“Lalu ini apa? Apakah ini air hujan yang turun dari langit?” goda Luca sembari menghapus air mata di pipi Ashlyn dengan lembut.


“Aku juga tidak tahu kenapa air mata ini tidak kunjung berhenti keluar! Tapi aku sudah tidak menangis lagi, Hiks, …” ujar Ashlyn yang semakin deras saja air matanya yang turun.

__ADS_1


Luca tersenyum melihat tingkah Ashlyn yang begitu menggemaskan di matanya. Lalu Luca meraih tubuh mungil Ashlyn dalam dekapan hangatnya.


Kemudian Luca berkata, “Mulai sekarang jangan menahan masalahmu sendirian lagi. Bukankah sudah ada aku di sini yang akan selalu ada untuk membantu?”


“Jika kau membutuhkan bahu untuk bersandar, maka datang dan temuilah aku!”


“Jika sulit mendatangiku, maka panggil aku saja! Aku akan langsung datang menghampirimu,”


“Aku akan memberikan bahuku untukmu bersandar, membantumu bila kau sedang dalam kesulitan, mendengar keluh kesahmu ketika kau sudah tidak sanggup menahannya seorang diri serta menampung air matamu ketika kau ingin menangis lagi seperti ini!”


Perkataan yang di lontarkan Luca semakin membuat Ashlyn menangis kencang. Bagi Ashlyn kehadiran Luca di dalam hidupnya, bagaikan hadiah terindah yang Tuhan kirimkan untuknya.


Kini Ashlyn memiliki tempat untuk bersandar. Tempat dia bisa berkeluh kesah, menangis dan mendapatkan ketenangan setelah menghadapi kenyataan hidupnya yang selalu memaksanya untuk berputus asa.


“Terima kasih, Luca! Hiks, … Terima kasih karena kau telah hadir di dalam hidupku yang penuh dengan penderitaan ini. Hiks, … Terima kasih, karena kehadiranmu menyelematkan diriku dari rasa putus asa ini,” ucap Ashlyn yang berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Luca.


Setaip mengucapkan terima kasih kepadanya, di saat itu juga perasaan bersalah Luca kembali muncul. Karena seharusnya dia tidak bertemu dengan Ashlyn, sehingga dia juga bisa menghindari kematian Axlyn.


Luca ikut menangis bersama Ashlyn membayangkan ketika kematian Axlyn yang di sebabkan oleh dirinya di ketahui oleh gadis itu dan keluarganya.


Cukup lama Luca membiarkan Ashlyn menangis di dalam pelukannya dan dia juga menangis diam-diam. Hingga akhirnya Ashlyn merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, dia pun kembali melepaskan pelukannya pada Luca.


“Astaga, … Maaf, karena tangisanku bajumu menjadi kotor karena penuh ingus ku,” ucap Ashlyn begitu menyadari pakaian Luca basah.


“Tidak apa-apa! Ini bisa di cuci nanti,” ujar Luca yang tidak terlalu mempermasalahkan, meskipun sebenarnya dia merasa sangat rishi dan ingin berganti pakaian saat itu juga.


“Tidak, sebaiknya aku membelikan pakaian baru untukmu, _....”


“Sepertinya kau lebih membutuhkan pakaian baru,” potong Luca yang mengingatkan Ashlyn bahwa pakaiannya robek atas perbuatan Leonard.


“Aah, … Kau benar! Aku yang lebih membutuhkan pakaian baru ternyata,” gumam Ashlyn yang menutupi tubuhnya dengan jas pemberian Luca sebelum meninggalkan club.


“Ayo, kita sama-sama beli pakaian baru saja,” ajak Luca seraya menggenggam tangan Ashlyn untuk mengikutinya.

__ADS_1


Ashlyn yang terkejut dan terbawa suasana ketika Luca menggenggam tangannya erat, hanya bisa patuh mengikuti kemana pun Luca membawanya.


Setelah berjalan cukup lama, Luca akhirnya menemukan sebuah butik yang masih buka mengingat malam sudah semakin larut.


“Hanya butik ini yang masih buka! Kita beli pakaian di sini saja,” ujar Luca menyadarkan yang seketika menyadarkan Ashlyn.


“Hah? Kita beli baju di sini? Tapi sepertinya pakaian yang di jual di sini harganya sangat mahal,” bisik Ashlyn yang tidak pernah membeli pakaian di tempat mewah seperti itu.


“Tenang saja, biasanya waktu tengah malam toko seperti ini akan memberikan banyak diskon! Kau percaya saja padaku,” ujar Luca yang akhirnya berhasil membujuk Ashlyn masuk, meskipun harus sedikit membodohi.


“Apa kau yakin? Tapi sepertinya tidak mungkin ‘deh?” tanya Ashlyn yang sebenarnya sulit mempercayai perkataan Luca.


“Kau tenang saja! Percaya saja padaku,” ujar Luca kembali menyakinkan Ashlyn.


Luca kemudian membukakan pintu dan mempersilahkan Ashlyn untuk masuk terlebih dahulu. Begitu Ashlyn sedang terpesona memperhatikan setiap pakaian yang di pajang di sana. Luca diam-diam menitipkan Black Card miliknya pada sang pegawai butik tersebut.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...

__ADS_1


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...


__ADS_2