
Kemudian, Ashlyn kembali melanjutkan pekerjaan dengan perasan yang lebih baik dari sebelumnya. Apalagi setelah selesai bekerja dia bisa mengunjungi rumah Luca dan bertemu dengan pria yang telah diam-diam mencuri hatinya itu.
Sedangkan Luca sendiri, saat ini sedang berhadapan dengan pembunuh bayaran yang di sewa oleh Simon.
Di tambah lagi Matt mengabaikan janji temu dengan Vinno yang membuat pemimpin organisasi pembunuh bayaran itu semakin marah. Sebab merasa di remehkan oleh seorang anak kecil seperti Luca.
Vinno mengirimkan beberapa anak buah terbaiknya sekaligus, hingga membuat Luca dan yang lainnya sedikit kewalahan.
Pasalnya tidak banyak anak buahnya yang mereka bawa ke negara itu, sehingga mereka harus berhadapan langsung dengan para pembunuh bayaran dengan kemampuan terbaiknya.
Pagi itu, Luca dan yang lainnya sudah berencana untuk mendatangi HK Group untuk melakukan pemantauan terakhir sebelum bisnis mereka di mulai di negara itu.
Namun, siapa sangka begitu keluar dari area Villa, mereka sudah di sambut oleh beberapa orang yang menghadang mereka.
Para pria yang menghadang mobil Luca, memakai pakaian seperti ninja. Mengenakan pakaian serba hitam, topi dan masker untuk menutupi wajah mereka dan beberapa senjata mematikan yang mereka bawa.
Hanya dengan sekali melihatnya, baik Luca maupun yang lainnya langsung menyadari bahwa mereka adalah pembunuh bayaran.
“Astaga mereka lagi!” gerutu Will yang sudah bosan berhadapan dengan para pembunuh bayaran yang terus datang mengantarkan nyawanya sendiri.
“Mereka yang ke berapa sampai hari ini?” tanya Felix yang bahkan sampai lupa untuk menghitung yang semalam.
“Mereka yang ke 6!” jawab Jaydon singkat.
“Hahahahaaa, … Kali ini jumlah mereka cukup banyak juga,” ujar Felix yang malah tertawa di saat seperti ini.
“Paman, apakah kita tidak bisa menghindari ini?” tanya Luca pada Will yang duduk di sebelahnya.
“Tidak! Kita harus membereskannya dan setelah itu kita akan membereskan akarnya,” jelas Will yang langsung turun dari dalam mobil dan di ikuti yang lainnya.
“Sudahlah, biarkan saja mereka yang bersenang-senang! Aku akan menunggu di sini saja,” gumam Luca sudah bosan terus berkelahi.
Trio somplak dan Duo M yang sedang bertarung untuk mengalahkan para pembunuh bayaran itu. Sedangkan Luca tetap berada di dalam mobilnya sampai menunggu semua pertarungan itu selesai.
Sembari menunggu, Luca pun teringat dengan ponselnya yang beberapa hari ini tidak dia sentuh sama sekali.
Begitu dia menyalakan ponselnya, langsung terlihat banyaknya notifikasi pesan dan panggilan tidak terjawab yang masuk selama dia tidak memainkan ponselnya. Sampai dia melihat ada banyak pesan dan panggilan Ashlyn padanya.
__ADS_1
Namun, pada saat Luca akan melihat isi pesan Ashlyn. Lucia tiba-tiba melakukan panggilan video padanya. Luca yang taju persis sifat adiknya ini sama persis dengan sifat Mamahnya, dia pun segera menerima panggilan itu sebelum Lucia murka.
“Kenapa Kakak selalu mematikan teleponnya?” cecar Lucia begitu melihat wajah Luca melalui layar telepon yang sudah terhubung.
“Kakak sangat sibuk akhir-akhir ini, Luci!” jelas Luca sekenanya.
“Ouh, … Begitu! Luci pikir Kakak sedang dalam bahaya di sana,” ujar Lucia yang akhirnya bisa bernapas lega begitu melihat dan mendengar kakak kesayangannya.
“Kakak baik-baik saja, Luci!” sahut Luca yang tersenyum gemas ketika melihat adiknya yang semakin lama semakin terlihat gemuk saja.
“Ouh, … Apa Kakak sedang berada di perjalanan?” tanya Lucia yang baru menyadari bahwa Luca sedang berada di dalam mobil.
“Iya, … Kakak akan pergi untuk melakukan pengawasan terakhir sebelum bisnis kita resmi di buka dan, _...” jelas Luca.
Praaankk, ….
Tiba-tiba ada salah satu pembunuh bayaran yang mengetahui bahwa Luca masih berada di dalam mobil.
Pembunuh bayaran itu menggunakan pipa besi untuk menghancurkan kaca jendela itu dan detik selanjutnya dia mencoba untuk membunuh Luca dalam sekali serangan.
Beruntungnya, refleks Luca sangat cepat. Sehingga dia bisa menghindari serangan mematikan itu dan segera keluar dari mobil melalui sisi yang satunya.
“Aish, … Sialan!” umpat Luca yang kesal, karena pembunuh itu muncul malah di saat dirinya sedang bicara dengan Lucia.
“Tidak bisakah kau menunggu sampai aku selesai bicara dengan adikku! Gara-gara kau dia jadi mengetahui apa yang sedang terjadi di sini!” teriak Luca yang benar-benar marah pada pembunuh bayaran yang ada di hadapannya saat itu.
“Kau ingin mati, bukan? Kemari ‘lah, dengan senang hati aku akan menjadi malaikat mautmu!” ujar Luca yang sudah tidak akan membiarkan pembunuh bayaran itu hidup lagi.
Luca pun langsung menyerang balik pembunuh bayaran itu dengan membabi buta. Dia sama sekali tidak membiarkan sedikit pun celah untuk pembunuh bayaran itu membalas setiap serangannya.
Luca yang paling anti membunuh, setelah kematian Axlyn untuk pertama kalinya dia kembali membunuh karena pembunuh bayaran itu.
Setelah menghajarnya habis-habisan, Luca segera meraih sebilah pisau yang ada di balik jas mewahnya.
Tanpa buang waktu, dia langsung saja menancapkan benda tajam itu berkali-kali pada tubuh sang pembunuh bayaran yang telah membuat Lucia mengetahui apa yang terjadi di Negara H.
“Aish, … Sialan! Lucia pasti sekarang sedang merengek pada suaminy untuk datang ke sini,” umpat Luca yang ternyata bisa menebaknya dengan benar.
__ADS_1
...****************...
Di Negara K, ….
Lebih tepatnya Mansion mewah kediaman Zaender. Lucia sedang menangis terisak menunggu kedatangan suaminya kembali dari kantor.
Begitu melihat Luca sedang dalam bahaya, dia langsung menghubungi Levi untuk segera kembali sambil menangis terisak.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu masuk Mansion itu. Begitu pintu mobil terbuka, terlihat sosok Levi dengan setelan jas mahalnya tengah turun dari mobil dan langsung berlari masuk untuk menemui istri tercintanya.
Levi langsung memeluk erat tubuh istri yang tengah berbadan dua, ketika melihat Lucia masih saja menangis terisak. Levi membelai lembut punggung istrinya sambil sesekali mengecup puncak kepalanya dengan penuh cinta.
“Ada apa, Sayang? Apa perutmu terasa sakit lagi?” tanya Levi dengan penuh kelembutan yang hanya di tanggapi dengan gelengan kepala saja oleh Lucia.
“Lalu ada apa? Kau menelponku sambil menangis dan menyuruhku untuk segera pulang. Kau tahu betapa takutnya aku saat mendengar mu menangis seperti itu?”
Levi dengan nada lembutnya mencoba menanyakan penyebab Lucia menangis seperti itu. Meskipun sebenarnya dia ingin sekali marah pada istrinya yang harus meninggalkan rapat yang sangat penting.
Namun, Levi urungkan mengingat Lucia yang tengah mengandung. Dan mengingat hormone ibu hamil memang seperti Roller coaster yang naik turun tidak menentu.
Levi kembali menenangkan istrinya agar berhenti menangis terlebih dahulu. Baru setelah itu, dia akan menanyakannya lagi.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
__ADS_1
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...