Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Team Normal vs Team Abnormal


__ADS_3

“Aku sudah mengirim lokasinya padamu,” ujar felix.


“Okay, kami akan pergi sekarang!” sahut Jaydon yang langsung menarik Ryuga pergi, sebelum Felix berubah pikiran.


Sebab Jaydon sendiri juga sangat bersyukur karena Ryuga yang menjadi patner kerjanya. Sehingga darah tingginya tidak akan naik selama misi pengintaian tersebut.


Sesuai arahan Felix, Jaydon dan Ryuga bertugas mengintai markas mafia milik Simon yang berada di merangkap sebagai perusahan kecil dalam bidang hiburan malam. Padahal di dalamnya terdapat sekelompok mafia yang paling di segani di negara tersebut.


“Paman, sepertinya markas mereka berada di sekitar sini,” ujar Ryuga sembari memperhatikan sekelilingnya.


Kini Jaydon dan Ryuga telah tiba di sebuah daerah terdapat banyak bangunan club malam yang berjejer rapi.


Jaydon pun berulangkali memastikan lokasi yang di kirimkan oleh Felix sebelumnya. Karena masih ragu, dia pun membaca informasi yang berhasil di dapat oleg Regis.


“Hmm, … Sepertinya memang ini markas mereka,” gumam Jaydon yang akhirnya mengerti mengapa hanya ada beberapa Club malam saja di daerah tersebut.


“Apa kita akan masuk untuk memeriksa di dalam sana?” tanya Ryuga menunggu keputusan atau langkah yang akan Jaydon ambil.


“Tidak! Itu terlalu berbahaya, kita gunakan uang saja yang bekerja!” jawab Jaydon yang langsung dapat di mengerti olah Ryuga.


“Baiklah, aku mengerti Paman! Aku yang akan mengurusnya,” sahut Ryuga yang segera melakukan apa yang harus dia lakukan saat itu.


Benar, Ryuga mencari beberapa orang yang selalu keluar masuk ke Club tersebut bahkan sudah bisa di katakan sebagai pelanggan tetap.


Ryuga membayar orang-orang itu untuk masuk ke club dengan mengenakan alat perekam suara.


Selain itu, Ryuga memerintahkan orang tersebut untuk meletakan beberapa kamera tersembunyinya agar mereka bisa selalu mengawasi apa yang terjadi di dalam Club tersebut.


“Sudah selesai?” tanya Jaydon ketika melihat kedatangan Ryuga.


“Tentu, Paman bisa mengeceknya sekarang!” jawab Ryuga yang memposisikan duduk tepat di sebelah Jaydon agar bisa ikut mengawasi.


“Kerja bagus, Ryuga! Sepertinya kali ini kau menemukan orang yang berpengalaman,” puji Jaydo setelah memeriksa hasil pekerjaan Ryuga.


Setelah itu, Jaydon dan Ryuga hanya tinggal mengawasi melalui kamera pengawas. Sebab perintah yang di berikan Luca dan Rayden memang seperti itu. mengawasi dan mengintai apa yang di rencanakan oleh Simon dan para antek-anteknya.


...****************...


Sementara itu, Felix dan Rayga langsung menuju ke pinggiran kota. Dimana anak buah Josh membuat markas di sana.


Mengingat pasukan yang tersisa dari klan milik Luke adalah pendatang, sehingga Josh tidak ingin anak buahnya mendapat perhatian khusus dari pihak berwajib meskipun Simon menjadi backingannya.

__ADS_1


“Paman, apakah lokasinya masih jauh?” Awalnya Rayga hanya bertanya untuk memastikan.


“Kenapa sejak tadi kita tidak menemukan markas mereka berada?” Lalu berubah menjadi tidak sabaran.


“Jangan-jangan kita sudah tersesat! Astaga, bagaimana ini? Aku harus segera meminta Regis untuk memantau lokasiku!” serunya yang alhasil membuat Felix menjadi kesal.


“Aish, … Kau bisa diam tidak?” teriak Felix frustasi yang akhirnya tidak bisa focus mengemudi, karena mendengar ocehan Rayga.


“Salahmu kalau kita sampai tersesat, karejna kau yang memegang GPS nya sejak tadi! Aku tidak hanya akan menghukummua, tapi akan langsung membunuhmu jika kita benar-benar tersesat di tempat sepi kayak kuburan ini!” ancam Felix seraya melotot pada Rayga dengan sangat mengerikan.


“Hehehehee, … Mana mungkin kita tersesat, kalau Rayga sang calon detektiv kepolisian yang memberikan arahan.”


Rayga tampak tersenyum canggung setelah menatap tatapan tajam dari Felix.


“Aish, … Siapa yang tadi mengatakan kalau kita tersesat?” cecar Felix seraya memutar bola matanya malas menanggapi candaan tak bermutu dari Rayga.


“Hehehehee, … Hanya bercanda untuk memecah rasa bosan saja, Paman! Maaf, …” ucap Rayga yang masih tertawa canggung.


“Paman, belok kiri di depan!” seru Rayga memanfaatkan situasi untuk mengalihkan perhatian Pamannya yang sudah di penuhi amarah itu.


Felix pun dengan terpaksa mengalihkan perhatiannya pada tikungan dua tikungan yang berada di depannya.


“Sepertinya kita sudah tiba di tujuan kita, Paman!” ujar Rayga sembari memeriksa Gps yang memang di pegang olehnya.


“Kau benar! Kau memang calon detektif yang bisa di andalkan,” puji Felix secara tidak sadar.


“Namun, bagaimana kita bisa memastikan keadaan di dalam sana? Jika kita memanggil pasukan, maka lebih seperti menantang perang. Jika masuk begitu saja, maka kita sendiri yang cari mati,” gumam Felix sembari memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan misinya.


“Paman tenang saja! Aku sudah membawa semua persiapan sebelum kita pergi,” ujar Rayga dengan penuh percaya diri.


Lalu Rayga berusahamengambil tas besarnya yang dia lemparkan di kursi belakang dengan susah payah. Felix pun hanya memperhatikan apa yang di lakukan oleh keponakannya itu.


Hingga dia melihat Rayga yang mengeluarkan rambut palsu, komis dan jenggot yang membuatnya langsung bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


“Kau ingin memasuki tempat itu dengan cara menyamar?” tanya Felix memastikan tebakannya.


“Benar sekali!” jawab Rayga dengan penuh antusias.


“Ini untuk Paman! Lalu ini untukku!”


Rayga lalu memberikan sebuah rambut palsu dan jenggot palsu untuk penyamaran Felix. Kemudian, dia juga memakai rambut palsu dan kumis palsu yang tersisa.

__ADS_1


Sementara Rayga sudah siap dengan penyamarannya yang sempurna, Felix malah masih terdiam dengan memegang rambut dan jenggot palsu di tangannya.


“Haish, … Kenapa Paman masih belum memakainya?”


Rayga berdecak kesal melihat Pamannya yang malah diam saja seperti patung.


“Kau yakin ini aka berhasil?”


Felix mencoba kembali memastikan rencana yang di buat oleh Rayga. Sebab menurut dirinya rencana penyamaran di markas musuh sangatlah gegabah dan berbahaya. Apalagi penyamaran mereka tidak ada persiapan sama sekali.


“Paman, tenang saja! Karena Regis akan selalu mengawasi kita,” ujar Rayga masih dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi.


“Paman juga pakai jam tangan dan kalung ini, lalu anting ini juga!”


Kemudian, Rayga juga menyerahkan sebuah jam tangan dan kalung kepada Felix yang masih terlihat tidak mempercayai rencana Rayga itu.


Lalu, Rayga juga memberikan sebuah alat komunikasi jarak jauh yang berbentuk seperti sebuah anting hasil temuan dari Regis.


“Dalam jam tangan ini terdapat sebuah kamera tersembunyi yang langsung terhubung dengan Regis. Begitu pula dengan kalung ini yang terdapat sebuah alat penyadap di dalamnya. Lalu antingnya adalah alat komunikasi jarak jauh yang sudah di modifikasi oleh Regis,” jelas Rayga.


“Bagaimana? Keren, bukan?” sambung Rayga yang secara tidak langsung meminta pendapat dari Felix.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2