Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti

Ashlyn, Bukan Cinta Pengganti
Ketika Queen Mafia Turun Tangan


__ADS_3

“Haish, ... Anak dan Papahnya sama saja!” gerutu Julia dengan tatapan tajamnya.


“Kalian berdua berlutut sekarang dan angkat kedua tangan kalian ke atas!” perintah Julia tanpa ada bantahan.


“Ta-tapi Mah, _....”


“Tidak ada tapi-tapian! Cepat berlutut dan angkat kedua tanganmu ke atas,” sarkas Julia.


“Kau juga!” Julia tidak akan melupakan suaminya sendiri.


“Sayang, tapi aku sungguh tidak tahu apapun tentang ini! Bocah ini menjebak ku,” rengek Noland yang mengadu pada istrinya bahwa dia telah di nista kan oleh putranya sendiri.


“Tidak, Mah! Papah sudah mengetahui semuanya,” terang Rayden yang tidak ingin mendapatkan hukuman sendirian dari Mamahnya, apalagi Will dan yang lain sedang menuju ke Mansion atas perintah Zhia.


“Cepat kalian berdua berlutut dan angkat tangannya ke atas!” titah Julia tanpa adanya bantahan lagi dari kedua.


Noland dan Rayden pun terpaksa harus mematuhi titah dari Julia. Keduanya mulai berlutut dan mengangkat tangannya ke atas dengan pasrah.


Namun, tatapan tajam Noland terus di lontarkan pada Rayden yang malah senyum-senyum sendiri. Karena telah berhasil membuat Papahnya harus menemaninya di hukum.


“Haish, … Dasar bocah sialan!” umpat Noland pada putranya sendiri, karena telah menjebaknya.


“Thanks, Pah! Sudah mau menemani hukuman Cano, …” ucap Rayden yang tersenyum puas karena berhasil menjerat papahnya untuk menemaninya di hukum.


“Bocah sialan!” umpat Noland lagi.


Sembari menunggu kedatangan Will dan yang lainnya, kita beralih sebentar pada Luca yang juga harus mulai menjalankan rencananya.


...****************...


Begitu memutuskan sambungan videonya dengan Papah dan Mamahnya, Luca segera mencari keberadaan Matt dan Max untuk melakukan sesuatu.


“Max! Matt, dimana kalian?” seru Luca sembari memanggil nama Max dan Matt.


Siapa sangka kedua pengawalnya itu ternyata sedang sibuk memasak mie instan di dapur. Namun, bukan sibuk memasaknya yang membuat keduanya tidak mendengar panggilan dari Luca.


Melainkan karena keduanya sibuk berdebat satu sama lain tentang pedas atau tidaknya mie yang akan mereka buat.


“Hay, Matt! Jangan masukkan terlalu banyak bubuk cabai di dalamnya, nanti tidak enak!”


Max yang tidak suka makanan terlalu pedas mencoba menghentikan Matt yang ingin menambahkan bubuk cabai pada mie yang sudah hampir matang.


“Kenapa? Mie kalau semakin pedas, maka rasanya akan semakin mantap!” ujar Matt yang pecinta makanan pedas.


“Tapi aku tidak suka makanan yang terlalu pedas,” jelas Max.

__ADS_1


“Tapi aku menyukai yang pedas!” Namun sayangnya, Matt bersikeukeuh pada seleranya sendiri.


“Yaakh, … Kalian berdua aku panggil dari tadi, kenapa tidak ada yang menjawab satu pun, Hah?” bentak Luca begitu menemukan keberadaan Matt dan Max yang masih berdebat masalah mie instant mereka.


“Maaf, Tuan muda! Kami tidak mendengarnya, karena terlalu focus memakan mie ini,” ucap Max yang langsung meminta maaf atas tidak cepat responnya mereka terhadap panggilan dari Luca.


“Apa anda juga mau, Tuan muda?”


Matt mencoba menawarkan, siapa tahu Luca berhenti marah-marah kepada mereka setelah memakan mie buatannya.


“Apa aku terlihat masih memiliki nafsu makan sekarang?” ujar Luca dengan tatapan mengintimidasi pada Matt.


“Sepertinya tidak, Tuan muda!” sahut Matt sera menundukkan kepalanya, karena benar-benar merasa di intimidasi oleh tatapan Luca.


“Apakah ada perintah untuk kami lagi, Tuan muda?” tanya Max mengalih perhatian dan topik pembicaraan.


“Benar, kalian berdua ikutlah denganku!” perintah Luca pada Matt dan Max.


“Baik, Tuan muda!” sahut Max.


“Astaga, bagaimana dengan nasib mie ku,” gumam Matt yang tidak rela meninggalkan mie instant nya yang sudah siap untuk di nikmati.


“Hay, biarkan saja dulu! Yang penting kepala kita masih utuh agar bisa di gunakan untuk memakannya nanti,” ujar Max yang sedikit menarik paksa Matt untuk segera mengikuti Luca.


Luca tampak sedang mencari dan memeriksa sebuah dokumen jual beli dari HK Group. Dia terhenti sejenak dan menatap ke arah kedua pengawalnya itu.


“Kalian berdua mendekatlah!” perintah Luca yang langsung di laksanakan oleh Matt dan Max.


“Max, bisakah kau atur pertemuan antara aku dan seluruh anggota keluarga Leonard?” Luca menanyakan kesanggupan Max.


“Saya tidak bisa memastikannya, tapi saya akan mencobanya, Tuan muda!” jawab Max yang sebenarnya tidak yakin bisa mempertemukan Luca dengan keluarga Gustavo, apalagi setelah mengetahui kebenarannya.


“Gunakan ini sebaik mungkin! Jika bisa secepatnya kau mengatur pertemuan itu. Semakin cepat aku menemui mereka, maka akan semakin baik,” ujar Luca.


“Baik, Tuan muda! Akan saya usahakan secepat mungkin untuk mengatur pertemuannya,” sahut Max sembari menerima dokumen yang di berikan Luca kepadanya.


“Dan untukmu, Matt! Atur pertemuan dengan Vinno Adorjand, kita akan selesaikan secepat mungkin masalah yang ada di sini,” perintah Luca pada Matt.


“Baiklah, kapa anda ingin menemuinya?” tanya Matt memastikan waktu pastinya.


“Lebih cepat, maka akan lebih baik!” jawab Luca.


“Siap, dalam dua hari nanti! Silahkan anda luangkan waktu untuk menemuinya,” ujar Matt yang masalah mudah untuk melakukan perintah itu.


“Bagus! Kalian boleh kembali sekarang,” usir Luca pada dua pengawalnya itu.

__ADS_1


Setelah kepergian Matt dan Max, Luca pun mencoba membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Padahal beberapa hari yang lalu, dia bisa kembali tidur nyenyak.


Akan tetapi, berbagai masalah kembali muncul di dalam hidupnya. Hingga membuatnya tidak bisa beristirahat dengan tenang.


...****************...


Sekitar pukul 2 pagi, ….


Will, Felix, Jaydon dan bahkan Triple R harus memaksakan diri untuk menuruti panggilan Zhia dan Julia.


Dalam keadaan masih mengantuk dan nyawanya masih berada di dunia nyata dan alam mimpi, mereka akhirnya berkumpul di kediaman Xavier.


“Tuan, apa yang terjadi dengan kalina berdua! Mari saya bantu anda berdiri,” ujar Will yang terkejut ketika melihat Noland dan Rayden sedang berlutut dengan kedua tangannya yang di angkat di atas.


Bukan hanya Will saja terkejut melihat pemandangan langka itu. Jaydon dan Felix pun sama terkejutnya begitu melihat dua Tuan besar yang selalu membuat musuh bertekuk lutut di hadapan keduanya. Sekarang malah dua orang itu yang tengah bertekuk lutut di wilayahnya sendiri.


“Papah dan Grandpa pasti sedang di hukum oleh Grandma,” celetuk Regis yang baru saja tiba.


“Wow, … Baru pulang malah sudah di sambut dengan pemandangan yang sangat langka,” ujar Rayga, sedangkan Ryuga hanya diam dan menatap bingung dengan apa yang sudah terjadi di rumahnya itu.


“Anak dan cucu sama saja! Sama-sama kelakuannya,” cibir Noland yang langsung melontarkan tatapan tajamnya pada Triple R.


“Dasar anak kurang ajar,” umpat Rayden pada ketiga anaknya, terutama Rayga dan Regis.


“Kena karma kau, Cano!” ujar Noland yang akhirnya bisa melihat Rayden mendapatkan karmanya, karena telah berani menjebak dirinya.


^^^Bersambung, ....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2