
“Luca yang membunuh Paman Evan! Jika, anak dari Paman Evan ingin membunuh Luca. Bukankah itu cukup adil?” ujar Luca yang tersenyum getir ketika mengatakannya.
Tanpa Rayden sadari ternyata Zhia sudah berada di ruang kerjanya sejak tadi dan mendengar semua pembicaraan antara dia dan Luca.
Kemarahan Zhia sudah tidak terbendung lagi ketika mendengar putra sulungnya siap mati untuk menebus semua rasa bersalahnya baik pada keluarga Axlyn maupun keluarga dari anak Evan.
“APA YANG KAU KATAKAN LUCA!” teriak Zhia yang segera menampakan dirinya pada layar panggilan video itu.
Sehingga Luca bisa melihat dnegan jelas bahwa Mamahnya sedang menangis karena mendengar keputusannya.
Namun, Luca tetap mencoba bertahan dengan keputusannya. Dia ingin tidak akan ada balas dendam lagi dalam dunia mafia yang akan di pimpin adik-adiknya kelak jika dia sudah tiada.
“Luca, kau memikir perasaan mereka semua orang! Tapi apakah kau tidak memikirkan perasaan orang tuamu, adik-adikmu dan semua orang yang menyayangimu?” cecar Zhia dengan berderai air mata.
“Mamah, _....”
“Tidak, Luca!” potong Zhia yang tidak membiarkan Luca beralasan kepadanya.
“Jika sampai terjadi sesuatu padamu, maka Mamah sendiri yang akan melawan mereka! Jika kau mati, maka Mamah akan ikut denganmu!” lanjutnya.
“Kau putra Mamah! Mamah yang mengandungmu selama Sembilan bulan lebih. Mamah yang telah melahirkan mu dengan mempertaruhkan nyawa dan Mamah pula yang membesarkanmu sampai sekarang. Lalu, apakah Mamah masih tidak berhak menentukan hidup dan matimu, Hah?” sambung Zhia.
“Jadi, kembali ‘lah besok! Jika tidak Mamah sendiri yang akan menyeret mu pulang!” ancam Zhia pada Luca.
“Maaf, Mah! Tapi kali ini Luca tidak bisa menuruti perkataan Mamah! Luca akan pulang begitu menyelesaikan semua masalah yang ada di sini! Jaga diri Mamah baik-baik ‘yah!” balas Luca yang langsung memutuskan sambungan panggilan videonya.
“LUCA! LUCA!” teriak Zhia begitu panggilan itu terputus.
“Zhi, tenanglah!”
Rayden pun segera memeluk istrinya untuk menenangkan. Namun, namanya seorang ibu mana bisa Zhia bisa tenang begitu mendengar keputusan anaknya yang rela mati hanya untuk menyelesaikan masalah.
Untuk pertama kalinya, Zhia sangat marah kepada Rayden. Dia mendorong tubuh suaminya itu cukup keras agar bisa menjauh darinya, hingga membuat Rayden tercengang menatapnya.
“Zhi?” panggil Rayden lirih.
“Apa? Kau ingin mencoba menenangkan aku? Jika memang itu yang ingin kau lakukan, lebih baik kau seret kembali putramu itu ke hadapanku sekarang juga!”
Zhia kembali membentak pada Rayden, hingga membuat pria itu semakin tercengang akan kemarahan Zhia yang tidak pernah dia lihat selama mereka bersama.
__ADS_1
Sungguh kemarahan Zhia kali ini benar-benar sampai membuat seorang Rayden tidak berani mendekatinya.
“Zhi, Luca sudah dewasa! Dia bisa membedakan mana keputusan mana yang tepat di dalam hidupnya. Sebagai orang tuanya kita harus menghormati keputusannya,” ujar Rayden yang berharap Zhia akan mengerti.
“Pilih salah satu! Perintahkan Will dan yang lain untuk melindungi Luca sekarang atau aku sendiri yang langsung terbang ke sana untuk menjemput Luca!”
Zhia kembali mengancam Rayden, hingga membuat pria itu diam tak berkutik. Inilah yang Rayden takutkan, jika Zhia mengetahui apa yang terjadi.
Entah apa yang akan di lakukan oleh istri kesayangannya itu lakukan, jika dia memanggil Will dan yang lainnya.
“Sudahlah, percuma saja aku bicara denganmu! Sebaiknya aku sendiri saja yang menyuruh mereka untuk datang sekarang,” ketus Zhia yang berjalan pergi meninggalkan Rayden begitu saja.
“Zhi, apa yang akan kau lakukan?” Rayden dengan cepat menghentikan Zhia.
“Memberi pilihan yang sama seperti yang aku berikan padamu!” jawab Zhia yang masih di selimuti kemarahan.
“Zhi, sudah ada Matt dan Max yang akan selalu melindungi Luca di sana! Lagi pula apa kau lupa bahwa putra kita itu sangat berbeda,” bujuk Rayden yang kembali berusaha menenangkan Zhia.
“Setelah semua yang tadi Luca katakan kau ingin aku tenang, Ray?” tukas Zhia pada suaminya.
“Tidak, Ray! Aku tidak akan bisa tenang sebelum Luca kembali!” imbuhnya menegaskan.
Noland dan Julia hanya memperhatikan dengan bingung saat mengetahui keributan yang Zhia buat. Hingga dia bertemu dengan Rayden yang hanya diam saja memperhatikan istrinya.
“Cano, apa yang terjadi dengan istrimu? Kenapa dia menyuruh Will dan yang lainnya untuk datang?” tanya Noland yang menghampiri putranya.
“Aaah, … Aku lupa memberitahu Papah tentang ini rupanya,” ujar Rayden yang baru teringat bahwa dia belum menceritakan semua informasi yang dia dapatkan pada Papahnya.
“Memangnya ada apa?” tanya Noland yang menjadi semakin penasaran.
“Papah ingat tentang Evan?” tanya Rayden memastikan sebelum dia melanjutkan ceritanya.
“Tentu, Papah tidak akan pernah melupakan orang yang telah membunuh putri Papah satu-satunya,” jawab Noland.
“Dia tenyata memiliki seorang anak! Dan sekarang anaknya itu harus berhadapan dengan Luca di negara H,” jelas Rayden yang tentu saja membuat Noland sangat terkejut begitu mengetahuinya.
“Jadi, HK Group hanya sebuah umpan saja agar kita mengirim Luca ke sana?” ujar Noland tak percaya.
“Tidak! Awalnya itu memang murni perebutan bisnis, sampai kami saling menyelidiki satu sama lain dan di temukan ‘lah fakta yang sangat mengejutkan ini,” jelas Rayden lagi.
__ADS_1
“Lalu apa kau sudah menyuruh Luca untuk segera kembali?” tanya Noland.
“Tentu, tapi Luca menolaknya dengan tegas! Selain anak Evan, Luca juga harus berhadapan dengan keluarga Axlyn. Luca mengatakan bahwa dia siap bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Dan pada saat itu, Zhia mendengar semuanya!” Rayden lanjut menjelaskan.
“Pantas saja istrimu membuat keributan di pagi-pagi buta begini! Dan sebentar lagi istri Papah pasti juga akan ketularan,” ujar Noland.
“Benarkan, padahal Luca sangat bisa di percaya untuk menyelesaikan semua masalah ini dengan baik. Meskipun aku juga sangat khawatir, tetapi aku selalu percaya pada kemampuan putraku,” gumam Rayden.
“Benar, dia cucuku yang paling bisa di andalkan! Apalagi kalau di bandingan dengan Triple R!”
Noland membenarkan penilaian Rayden.
Benar saja, terlihat Julia yang sedang berjalan menghampiri Ayah dan Anak itu dengan raut wajah penuh kemarahan. Baik Noland maupun Rayden hanya bisa menghela napas, sebelum mereka mendengar omelan dari Julia.
“Cano, kenapa kau tidak menceritakan kepada Mamah dan Papahmu adanya masalah ini, Hah?” Rayden menjadi orang pertama yang kena omelan dari Julia.
“Aku sudah memberitahu Papah,” ujar Rayden yang tidak ingin di marahi sendirian.
“Dasar bocah sialan! Kau baru saja memberitahuku, itu pun karena aku yang menanyakannya lebih dulu padamu!” seru Noland yang tidak terima ikut di salahkan.
“Yang penting Cano sudah memberitahu Papah.” Rayden membela diri.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari....
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
__ADS_1
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...